Ehm. Akhirnya nachan buat fict di fandom kuroshitsuji ini! nyaaaaaaa~ senangnya XD nachan suka banget sama mereka berdua! Sebastian yang keren dan perfect sama Ciel yang imut dan tsundere! Fufufu.

Dan lagi, fict ini dibuat karena kegelisahan(?) nachan dengan ending versi animenya kuroshitsuji! Ending yang buat nachan nangis sampai mata bengkak (lebai) dan juga kesal! Kesal! Kesal! Ga tau kenapa pokoknya setiap ingat endingnya pasti nachan kesal! Ehm. Endingnya sebenarnya bagus sih, bagus banget malah buat nachan, tapi... rasanya tuh KESEL! Kesel! Makanya, nachan buatlah fict ini sebagai pelampiasan(?) keganjalan(?) yang tersimpan di hati dan pikiran(?) ini.

Well, jadinya fict ini berdasarkan animenya ya. Karena nachan belum tahu tamat di manganya. Hahaha. Lagipula, fict ini berisikan perasaan Sebastian dan Ciel, jadi tidak akan ada dialog dan juga menitikberatkan pada endingnya (karena kekesalan nachan terletak pada endingnya). Mungkin akan membosankan sih. Tapi, silahkan coba dibaca aja.

Ehm. Sebelum nachan curhat lebih panjang lagi, lebih baik kita mulai saja ceritanya. Semoga para senpai yang lebih dulu menempati fandom ini menyukainya. Juga tak lupa para readers sekalian. Silahkan dinikmati(?)


"Apakah ini akan sakit?"

"Ya. Sedikit. Aku akan membuatnya selembut mungkin…"

"Jangan!"

"…"

"Buatlah sesakit yang kau bisa."

"… Yes, My Lord."


Disclaimer : Yana Toboso

Genre : Tragedy(?)

Pair : SebasCiel

Warn : fict pelampiasan, OOC, gaje, sho-ai, sedikit perubahan dengan setting asli animenya, typo(s), fict ini mungkin akan membosankan dengan tidak adanya dialog.


Ciel

Iblis. Itulah dirimu. Iblis yang datang di saat yang tepat hingga aku berhasil terikat kontrak denganmu. Gagak hitam adalah wujud pertama yang kau perlihatkan pada hari 'perjanjian' kita. Aku memberimu perintah untuk membunuh semua orang yang telah menyiksaku saat itu. Selesai dengan tugas pertamamu, kau menunjukkan sosok manusiamu.

Menawan. Adalah kata pertama yang terlintas di benakku. Sosok tinggi nan rupawan yang dapat memikat siapapun tanpa perlu usaha sedikit pun. Aku tersenyum miris. Tentu saja, kau adalah iblis. Menawan sudah menjadi ciri khasmu bukan? Memangnya bagaimana lagi kau akan membujuk manusia untuk mengikuti jejakmu?

Janji untuk selalu bersamaku sampai 'akhir' nanti kau ucapkan. Sampai saat itu tiba, kau berjanji untuk selalu berada di sampingku, tidak membohongiku, tidak berkhianat, dan akan selalu menuruti perintahku. Aku adalah raja dan kau adalah pionnya. Sampai saat itu tiba…

.

.

.

Entah sejak kapan rasa itu muncul. Saat sadar, semuanya sudah terlambat. Aku sudah mencintaimu terlalu dalam hingga begitu takut kehilanganmu. Itulah alasan sebenarnya aku tidak ingin Angela menulis ulang kisahku, itulah sebabnya aku begitu kalut saat kau pergi meninggalkanku di Paris, itulah sebabnya kenapa aku tidak pernah bisa memiliki perasaan yang lebih terhadap Lizzie kecuali rasa sayang terhadap adik, dan itulah sebabnya aku begitu kesal ketika kau 'tidur' dengan wanita itu.

Aku takut. Bukan takut karena kau akan memakan jiwaku, tapi takut jika jiwaku tidak 'dimiliki' olehmu. Takut ketika Undertaker memberitahu bahwa aku akan meninggal saat akan kembali ke London. Takut. Karena itu berarti aku akan meninggal secara 'normal', sedangkan jiwaku adalah milikmu.

.

.

.

"Lupakan semuanya."

"…"

"Semoga kau mimpi indah… Bocchan. Oyasumi."

Pandangan matamu, senyummu, kata-katamu saat itu, semuanya membuatku takut. Gelisah dan tidak tenang menyelimutiku. Ingin rasanya memanggilmu dan menyuruhmu menemaniku hingga pagi kembali menyapa, tapi tidak juga panggilan itu keluar dari mulutku.

Apa maksud dari pandangan matamu? Apa arti senyumanmu itu? Apa yang ingin kau sampaikan dari kata-katamu yang mengganjal itu? Apa? Rasanya begitu lama sampai akhirnya mataku tertutup dan aku terlelap.

.

.

.

"Sebastian," namamu yang pertama kusebut saat pagi menyapa. Tapi sosokmu tak juga muncul. Ini aneh, sangat tidak biasa untukmu tidak menanggapi panggilanku. Aku mulai cemas dan rasa takutku bertambah. Secepat kilat aku meniggalkan kasur empuk yang membuatku bangun agak siang dan mulai berkeliling untuk mencarimu. "Sebastian?"

Tidak ada. Sosokmu tidak ada dimanapun. Kemana kau? Bukankah seharusnya kau segera berada di hadapanku saat kupanggil bahkan jika jarak kita berada begitu jauh? Aku tahu kau selalu terlambat, tapi kau juga selalu datang di saat yang tepat. Takut. Rasanya aku ingin menangis mengetahui kali ini kau tidak terlambat, tapi memang tidak akan datang.

Sebisa mungkin aku mengganti pakaianku. Aku tahu penampilanku akan sangat berantakan, karena biasanya ini adalah tugasmu untuk mempersiapkan semuanya untukku. Aku tidak peduli. Yang kuinginkan saat ini adalah mencarimu dan menemukanmu, kemudian akan kumarahi kau karena tidak segera menemuiku saat kupanggil.

Tidak ada yang tahu keberadaanmu, bahkan kau tidak juga muncul. Rasa takut dan cemasku berubah menjadi kekesalan. Kesal karena kau mengacuhkanku.

"Aku bisa kembali ke London sendiri," tekadku.

Tekadku memang kuat. Tapi ternyata di dunia ini tekad dan keyakinan saja memang tidak cukup. Tidak satupun yang mau menuruti kemauanku seperti kau menuruti semua keinginanku. Menyedihkan. Bahkan kucing pun mencakarku. Makhluk yang paling kau sukai di dunia ini. Mengingatnya semakin membuatku sedih.

"Sebastian."

.

.

.

"Kau… akan mati…"

Aku akan mati? Dimana? Di kapal inikah? Atau di London? Undertaker hanya memberitahukan kalau aku akan mati. Bagaimana? Apakah itu berarti aku mati… secara 'normal'?

Tidak! Tidak! Bukankah aku berjanji akan memberikan jiwaku pada Sebastian? Lalu… kenapa Undertaker tahu aku akan mati sebentar lagi? Bagaimana?

Aku berlari. Mencari nahkoda atau siapapun yang bertugas di kapal ini.

"Apa yang kau lakukan? Aku harus kembali ke London!" Nahkoda bodoh! Kenapa dia berputar menjauhi London yang sudah ada di depan mata? Apa karena kebakaran itu?

"Turunkan sekocinya! Aku harus kembali ke London!"

"Sekoci? Hanya untuk anak kecil sepertimu? Memang kau punya uang berapa heh anak kecil?"

"Apa? Memangnya kau tidak tahu siapa aku? Aku harus segera kembali ke London—"

London? Kenapa aku harus kembali ke sana? Kenapa? Memoriku kembali saat dulu Angela nyaris berhasil menulis ulang kisahku. Bukankah saat itu aku tidak ingin hal itu terjadi karena dengan hilangnya dendam dan kebencianku 'Ciel' sama saja tidak ada? Lalu… siapa 'Ciel' yang berdiri disini… sekarang ini? Siapa?

"Khu… Hahahaha." Pria di hadapanku terlihat bingung denganku yang tiba-tiba tertawa. Secepatnya kulepas cincin keluargaku, cincin yang menandakan aku adalah kepala keluarga Phantomive dan menunjukkannya pada Pria di hadapanku.

"Cepat turunkan sekocinya!"

.

.

.

"Bukankah kau punya peluru yang asli, Bard?" Kulihat ketiga pelayanku yang sebenarnya bertugas sebagai pelindung mansion rumahku terkejut. "Lihat matanya. Pluto sudah tidak tahu lagi siapa dirinya. Keadaannya yang sekarang jauh lebih menyedihkan daripada mati."

Mereka terlihat merenung sebentar kemudian segera bersiap. Mereka telah menetapkan hati mereka walau air mata mengucur deras dari mata mereka. Kulihat mereka mulai bergerak, ini juga menjadi kesempatanku.

Aku harus pergi. Ya. Aku harus pergi. Karena aku akan mati. Aku bisa melihat istana ratu yang semakin dekat. Sampai di depan halaman, aku meloncat turun dari kuda yang tadi kutumpangi dan segera menghadap pengawal yang berjaga.

"Earl of Phantomive. Ciel Phantomive." Tidak ada jawaban. Aku melangkahkan kakiku masuk.

"Waktunya terhenti. Sepertinya ini jebakan ya," kakiku terus melangkah menuju kamar ratu. Dalang yang menyebabkan kebakaran di mansion Phantomive yang mengakibatkan keluargaku terbunuh dan membuatku melakukan kontrak dengan iblis.

"KYAAAA!" Teriakan itu terdengar dari belakang saat aku masih terpaku melihat ratu—yang terlihat jauh lebih muda dari usianya karena perbuatan Angel, sekarang ini tak lebih dari seonggok mayat. "Tsk." Aku segera berlari keluar kamar ratu dan berusaha keluar dari istana. Dekat pintu keluar, langkahku terhenti dan aku telah terkepung.

"Siapa yang telah berani membunuh ratu?"

"Aku Earl of Phantomive. Ciel Phantomive."

"Anjing Penjaga Ratu? Bagaimana?" Aku dapat mendengar nada tidak percaya dari mereka. aku mencoba memberitahukan mereka kalau aku bukanlah pembunuh ratu, tapi mereka terlihat tidak percaya.

"Aku tidak akan berakhir di sini—"

Aku merasakan sesuatu menembusku. Peluru pengawal itu mengenaiku dan aku melihat darah kemudian aku roboh. Tidak. Apakah aku memang akan mati disini? Tidak. Bukankah jiwaku adalah milik iblis itu?

Saat kupikir aku benar-benar akan tamat di sini. Seseorang melindungiku. Mataku terbuka perlahan.

"Sebastian."

.

.

.

"Tunggulah di sini Bocchan."

Menunggu? Tidak. Tidak akan. Dia akan melawan Malaikat obsesian itu di atas jembatan sana sementara aku harus menunggu di sebelah perahu yang kami gunakan untuk sampai ke sini? Tentu tidak!

"Tidak! Aku ikut!"

Akhirnya kami naik ke atas dan melihat Angel bodoh itu di sana.

"Tunggulah di sini Bocchan. Tidak ada tempat terbaik lagi untuk menonton." Aku menurut.

.

.

.

Akhirnya pertarungan itu selesai. Semuanya selesai. Kontrakku dengannya pun akan berakhir. Kulihat pulau yang akan kami datangi. Tibanya di sana, Sebastian menggendongku menuju tempat terakhir kami—aku lebih tepatnya.

"Apakah ini akan sakit?" Aku tidak akan berbohong kali ini. Aku sedikit takut. Ini saat terakhirku bersamamu.

"Ya. Sedikit. Aku akan membuatnya selembut mungkin…"

"Jangan!"

"…"

"Buatlah sesakit yang kau bisa." Agar aku bisa mengingat setiap perbuatan buruk yang kulakukan selama hidupku yang singkat. Agar aku bisa merasakan semua sakit mereka. Kulihat kau membungkuk seperti hal yang biasa kau lakukan saat menerima perintahku.

"… Yes, My Lord."

Kau berdiri. Melepaskan sarung tanganmu dan mulai melangkah maju. Inikah 'waktu'nya. Saat terakhirku. Ya. Ini adalah 'akhir' yang kau katakan bukan. Ketakutanku memudar seiring langkahmu yang semakin dekat. Sebastian. Apa ini akan menjadi akhir kita bersama?

Tanganmu yang tadi sudah terbebas dari sarung tangan mulai membelai wajahku. Sebastian. Inilah waktunya. Aku tahu. Mana yang akan lebih sakit? Saat jiwaku dimakan olehmu… atau hatiku saat ini? Penutup mataku terbuka. Sudah semakin dekat. Akhirku… Akhir kebersamaanku denganmu.

Mata biruku dapat melihatmu mendekatkan dirimu padaku. Waktuku telah tiba. Sebastian. Inikah akhir kebersamaan kita? Inikah akhirku dan akhir kisah kita? Ternyata kita memang tidak ditakdirkan bersama. Tentu saja. Kau adalah iblis dan aku manusia. Kita terikat karena kontrak. Dan ini saat kita mengakhirinya. Seandainya aku berani mengatakan ini padamu. Sebastian…

…Aku mencintaimu…

.

Ciel/Fin

.


nachan tahu kok ini aneh banget. gaje pula. tau deh ini gagal. tapi pengen banget nachan publish, jadilah nachan publish. bagaimana? Aneh kah? Semoga ini tidak menjadi sampah di fandom ini. ini diambil dari versi animenya. Karena memang nachan baru tahu tamatnya versi anime. Manganya belum. Udah gitu sebenarnya ini dibuat sebagai bentuk kekesalan nachan pada endingya. Emang bagus, tapi ada yang buat nachan kesel banget. Kalau ingat rasanya kesal. Tapi gak tahu juga sih kenapa. Mungkin karena endingnya yang terasa damai ya?

Oke. Karena nachan langsung mengapdet chapter2nya juga. Silahkan dibaca juga jika berkenan. Chapter2nya menceritakan dari sudut pandang Sebastian. Kalau berkenan silahkan dibaca juga chapter2nya.

Silahkan di-review, atau mungkin saran dan kritik? Silahkan silahkan.