Disclaimer : Yana Toboso


Sebastian

Aku menemukan sosokmu yang terbaring dengan orang-orang busuk yang mengelilingimu. Aku mendengarmu berteriak, memohon, merintih, tapi tak satu pun dari mereka tersentuh untuk melepaskanmu. Aku yang terbiasa dengan segala jeritan, permohonan, dan rintihan entah kenapa terdorong untuk menolongmu. Saat kusadar, aku dan kau sudah terikat kontrak. Kontrak terkutuk itu.

Sebastian Michaelis. Nama yang kau berikan untukku sejak kita memulai 'permainan' ini. Aku yang akan menuruti semua perintahmu, bertindak sebagai pion yang akan selalu mematuhi semua perintah raja. 'Permainan' yang akan menuntutmu mengorbankan siapa saja asalkan tujuanmu tercapai. Kau tidak membutuhkan siapapun untuk menjadi sekutumu.

12 tahun. Umur yang terlalu muda untuk mengakhiri hidup dengan membuat kontrak dengan iblis. Tapi keadaan mendesakmu. Keadaan yang juga memaksamu untuk menjadi dewasa dan tidak cengeng. Membuatmu kehilangan cara tersenyum dan tertawa. Membuatmu lupa bagaimana rasanya menjadi anak-anak ataupun merasakan kebahagiaan.

.

.

.

Sudah cukup lama kita bersama. Kebersamaan kita selama ini membuatku sadar, bahwa kau memang begitu menarik. Bukan hanya menarik untuk menjadi makanan, tapi juga dalam hal lain.

Kau begitu bekerja keras, menyukai tantangan, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat, dan yang terpenting, kau pandai menyembunyikan dan mengontrol emosimu. Walau ada beberapa kejadian yang membuatmu lepas control. Tapi kau sangat pandai menyembunyikan perasaanmu. Atau bagaimana perasaanmu saat bibimu yang dikenal sebagai Madam Red meninggal. Aku tahu kau sangat terpukul olehnya. Tapi kau menekan kesedihanmu di tempat paling dalam.

Aku tahu sebenarnya dibalik semua rasa dendam dan kebencianmu kau 'masih' memiliki hati yang baik. Kesetiaanmu pada ratu, kabaikanmu membuat makam untuk korban Jack The Ripper yang tidak diketahui keluarganya, kesedihanmu ditinggal oleh orang-orang yang kau sayangi, rasa sayang untuk Lizzie yang sudah kau anggap adik kandungmu, kebaikanmu pada pelayan-pelayanmu, kesedihanmu untuk polisi bodoh yang menjadikan dirinya tameng untuk melindungimu, keraguanmu untuk membunuh orang-orang yang tidak terlibat, juga ketakutanmu akan kontrak kita.

Aku mengetahui semuanya. Sedalam apapun kau menyembunyikannya dariku, aku akan tahu. Karena entah kenapa rasa itu tumbuh tanpa izin. Seperti rumput liar yang tumbuh sekalipun tidak diinginkan. Perasaan itu…

.

.

.

"Lihat. Keadaanmu sudah seperti ini tapi kau masih setia padanya?"

"Yang kuinginkan kali ini bukan hanya sekedar jiwanya, tapi yang kuinginkan adalah dia seutuhnya." Jawabku yakin saat malaikat bodoh itu bertanya.

Aku tidak bohong. Bukankah aku pernah bilang padamu bahwa aku tidak akan berbohong padamu? Karena yang kuinginkan darimu memang bukan hanya jiwamu, tapi juga seluruh hati dan tubuhmu. Aku menginginkanmu, bukan hanya sebagai makananku, tapi menjadi milikku.

Aku sangat tahu malaikat—Angela—sangat tidak puas akan jawabanku. Terbukti dengan dia yang kembali mencambuki tubuhku, menambahkan bekas-bekas luka sebelumnya yang sudah dibuat oleh algojo idiot tadi dan cambukannya yang sebelumnya. Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang menghantamku. Sakit ini hanya menjadi bumbu renyah saja bagiku. Kesakitan bukan hal asing untuk aku yang adalah iblis ini.

Angela bodoh itu sudah pergi. Sekarang kembali algojo idiot itu yang akan 'mengeksekusi'ku. Benar-benar bodoh, lihat saja bagaimana wajahnya yang tolol itu berbinar karena akan menyakitiku. Diam dan menerima perbuatannya menjadi pilihanku. Karena ini adalah perintah Bocchan.

Algojo itu baru akan memulai lagi eksekusinya. Aku tersenyum sinis. Sayang sekali aku tidak bisa hanya tinggal diam kali ini, algojo bodoh. Bocchan sudah memanggilku.

.

.

.

PLAK

Aku terpaku. Bocchan baru saja menamparku. Pipiku memang sedikit memerah, tapi aku tidak merasa itu sakit. Rasa sakit itu terasa di tempat lain. Menyedihkan. Bocchan menamparku karena polisi bodoh itu. Padahal polisi itu saja yang berkeinginan untuk menjadikan dirinya tameng.

Aku memandang datar pada tubuh tak bernyawa yang sedang diratapi oleh Bocchan. Albertain. Polisi idiot yang sudah menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Bocchan. Ini salah satu hal yang paling kubenci. Belum lagi perasaan lain yang menyelinap melihat kesedihan Bocchan untuk orang itu. Aku kesal melihat Bocchan memperhatikan orang lain.

.

.

.

"Lupakan semuanya."

"…"

"Semoga kau mimpi indah… Bocchan. Oyasumi."

Aku menutup pintu perlahan. Bocchan. Baru pertama kali perpisahan dengan orang yang mengikat kontrak denganku dengan cara ini dan terasa seperti ini. Mungkin karena kau special? Mungkin.

Perpisahan. Ya. Aku dan Bocchan telah terlepas kontrak. Karena hati 'kotor' Bocchan mulai luntur. Tidak mungkin bagiku bersama seseorang yang tidak memiliki perasaan benci di hatinya. Terbukti dengan sikap Bocchan siang tadi. Pertempuranku dengan pengawal ratu yang ternyata adalah seorang Angel. Bocchan tidak membiarkan siapapun terluka dan lagi… Bocchan membebaskan ratu—yang menjadi alat Angel dan telah menghancurkan hidupnya—kabur, padahal dia telah memberi perintah untuk menghabisi mereka. Sudah tidak ada alasan lagi untukku bersama Bocchan. Karena orang yang ingin dia bunuh telah ia lepas begitu saja.

.

.

.

"Bocchan," gumamku tanpa sadar ketika melihatmu berjuang untuk kembali ke London seorang diri. Sebenarnya aku tidak tega melihatmu seperti orang ling-lung begitu. Tapi apa boleh buat, hatimu yang dipenuhi dendam dan kebencian perlahan mulai luntur. Hal itu membuat kontrak kita menghilang. Aku yang sekarang tidak memiliki tuan hanya bisa memperhatikanmu. Memperhatikan tanpa bisa berbuat apapun.

Sebenarnya aku senang, dengan begitu kesempatanmu untuk pergi ke surga terbuka. Tapi ini menyedihkan. Aku tidak bisa lagi berada di sisimu. Tidak bisa menyentuhmu. Aku memandang nanar padamu yang meringkuk di pinggir jalan itu. Kau pasti lelah dan kelaparan, juga kedinginan.

"Bocchan."

.

.

.

Aku memandang datar pada London yang saat ini sedang terbakar. Aku tidak akan berbuat apapun dan tidak bisa berbuat apapun. Karena aku bergerak sesuai perintah tuanku, dan aku yang sekarang ini tidak memiliki tuan. Maka hanya ini yang bisa kulakukan. Melihat.

Aku mendengar kepakan sayap dan melihat butler ratu—yang ternyata adalah Malaikat berdiri di sana dan mulai berbicara tidak jelas. Aku hanya diam dan memandang datar tiga pelayan bodoh yang sedang berusaha 'mengembalikan' Pluto—Anjing Iblis yang sudah tidak tahu lagi siapa dirinya. Tindakan yang sia-sia. Tidak lama kemudian, aku terkejut, tapi masih memasang wajah datarku.

Bocchan. Dia berhasil kembali ke London rupanya. Apa yang akan kau perbuat sekarang Bocchan?

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan itu menarik perhatianku kembali pada Malaikat yang sudah selesai berbicara sendiri itu.

.

.

.

"Sebastian…"

"Seperti kata anda, Bocchan. Anda tidak akan berakhir di sini."

Aku kembali padamu. Karena 'tekad'mu telah kembali. Maka, sekali lagi kontrak itu tercipta. Aku dapat melihat kilat ketidakpercayaan di mata biru indah itu. Aku segera menggendong tuan kecilku itu keluar. Menghentikan perdebatan kami.

"K—Kau… bukan manusia…?" Ucap pengawal yang tersisa dan melihat serta mendengar semua dialogku dan Bocchan. Langkahku terhenti dan aku berbalik.

"Tidak. Aku hanyalah seorang butler biasa." Dan segera mengajak Bocchan untuk menyelesaikan ini semua.

.

.

.

Pertarungan dengan Angel Angela telah selesai. Sekarang kita akan menuju tempat terakhir kita—kau. Kita berbicara terus selama perjalanan ini dan aku tetap mendayung. Aku melihatmu memperhatikan perairan di bawah kita. Semua memorimu selama kau hidup terputar. Seperti rol film yang biasa keluar saat shinigami mencabut nyawa seseorang. Emosimu selama kau hidup yang menjelma menjadi cahaya-cahaya yang beterbangan layaknya kunang-kunang begitu indah. Kau begitu terkesima.

Aku mendekat padamu. Melihat apa yang kau pungut dari air. Bunga biru. Aku memintanya, mencoba membuat bunga itu seperti cincin. Seperti cincin keluargamu. Tapi aku tidak bisa.

"Maaf. Aku hanya ingin menjadi butler yang sempurna sampai akhir."

"Tidak apa-apa. Ini bukan hal besar."

Aku memandangmu. Makhluk terindah yang pernah kulihat. Rupamu seperti malaikat, tapi kebencianmu membuatmu seperti iblis. Karena kau telah membuat kontrak terkutuk ini.

.

.

.

Aku mendudukkan Bocchan pada satu-satunya tempat duduk di sana. Kontrakku dan Bocchan hampir usai. Tinggal menyelesaikan tugas akhirku saja.

Tugas terakhir yang entah sejak kapan tidak ingin kulakukan tapi tetap harus kulakukan. Karena inilah 'perjanjian' kita. Ikatan di antara kita hanya seperti ini. Ikatan antara tuan dan pelayan. Kontrak yang menyatukan kita, juga yang akan memisahkan kita.

Bocchan. Sudah beberapa kali kau diberi kesempatan untuk melepas kontrak ini. Tapi kau bersikukuh mempertahankan ini. Entah kau ini bodoh atau baik. Kau berbeda kau tahu. Manusia pasti akan mengambil kesempatan itu. Tapi kau tidak. Aneh.

"Apakah ini akan sakit?" Suaramu terdengar datar seperti biasa. Tidakkah kau takut?

"Ya. Sedikit. Aku akan membuatnya selembut mungkin…"

"Jangan!"

"…"

"Buatlah sesakit yang kau bisa." Tidak. Hal terakhir yang kuinginkan saat ini adalah menyakitimu. Tapi, kenapa kau justru meminta hal itu Bocchan? Aku tahu kau sangat keras kepala. Mungkin kepala batu. Ini adalah tugas terakhirku. Dan ini adalah permintaan terakhirmu. Maka…

"… Yes, My Lord."

Aku melepas sarung tanganku dan mulai berjalan ke tempatmu duduk. Seandainya saat ini tidak akan datang. Sungguh. Aku sangat tidak ingin hal ini terjadi. Kenapa kau terlihat sangat tenang? Matamu bahkan tidak memantulkan hal lain selain bayanganku. Kenapa? Apa kau tidak takut?

Tanganku yang telah terlepas sarung tangan membelai wajahmu. Wajah yang selalu kukagumi sekaligus yang tidak akan pernah kutemui selamanya sebentar lagi. Karena aku. Ini adalah kontrak dan ini sudah menjadi peraturan mutlak yang sah. Tidak ada satu hal pun yang bisa melanggar kontrak ini.

Ini merupakan tugasku yang terakhir. Rasanya menyakitkan kau tahu? Tanganku yang membelai wajahmu mulai melepas penutup mata yang setia menyembunyikan lambang kontrak itu. Setelah aku dapat melihat kedua bola matamu, aku mendekatkan diri padamu. Dapat kulihat memang hanya bayangan diriku saja yang terpantul di sana. Tidak ada emosi sama sekali.

Sekeras apapun aku ingin menolak tugas ini. Tapi, tidak bisa. Rasanya aku tidak bisa bersamamu lebih lama lagi. Karena aku hanyalah seorang pengecut, yang tidak berani mengatakan…

…Aku mencintaimu…

.

Sebastian/Fin

.


Huah. Ini yang terakhir. Benar-benar tamat disini. Semoga tidak mengecewakan. Nachan merasa ada yang ganjal. Tapi tidak menemukan apa. mungkin readers ada yang bisa menemukannya? Kasih tahu nachan ya? ini kayaknya juga sedikit alternatif nih, soalnya nachan memasukkan beberapa imajinasi nachan di sini.

Hum. Semoga fict pertama ini tidak mengecewakan dan tidak jelek-jelek amat untuk bisa bertahan disini. Jikalau fict ini memang tidak layak, nachan akan menghapusnya.

Oke. Nachan minta pendapat, saran dan kritiknyaaa~

Review?