New Year Party of 2014

Source : Shin Megami Tensei Persona 4

Disclaimer : ATLUS own Persona 4.

Author's Note : Okeeeeee! Ini part 2, silakan membaca *bow*

~ Chapter 2: Back with Friends ~

Part 2

Location: JUNES - 20m distance from I.T-

Naoto berusaha berlari secepat mungkin menuju lokasi yang telah ditentukan, Food Court. Ia terkejut saat melirik jam tangannya dan melihat waktu, "Ya ampun, aku benar-benar terlambat!" Ia pun berusaha menambah kecepatan larinya.

HYUNG~ Tiba-tiba Naoto merasa kehilangan keseimbangan. Ia berpegangan pada tembok agar tidak terjatuh. "Ah… mungkin ini karena aku belum sarapan… hosh… hosh… aku akan beli makan siang nanti," lalu sepertinya ia kembali mendapatkan keseimbangannya, "Sebaiknya aku jalan saja…" dan ia mulai berjalan.

Location: JUNES – Food Court-

'Distance: 5m'. Sebentar lagi. Aku harus minta maaf pada mereka karena membuat mereka menunggu lama," ucap Naoto pelan.

Naoto dapat melihat Souji yang sedang celingukan dan tersenyum saat mata mereka bertemu. "Naoto!" teriak Souji. Semua aggota I.T pun menoleh ke arah Naoto.

"Oh, akhirnya kau datang juga," kata Chie.

Naoto sudah berdiri diantara Souji dan Yukiko, "Ah, iya… maafkan aku. Sebenarnya aku bisa tiba jauh lebih cepat kalau saja jam tangan ini tidak ketinggalan," balasnya sambil menatap jam biru di pergelangan tangan kirinya.

"Jadi kau kembali ke rumah hanya untuk mengambil jam tangan?" tanya Kanji. Naoto mengangguk.

"Apa tidak capek lari-lari dari JUNES-rumah-JUNES?" tanya Rise.

"Hmm… tentu saja aku capek," Naoto menghela nafas. "Tapi kalau aku pakai jam tangan ini aku jadi bisa tahu dimana Souji senpai berada," jawabnya, lalu menoleh ke Souji, yang dibalas dengan senyuman tulus.

"Alright. Kalian berdua romantis sekali ya. Ini Naoto, kursinya," timpal Yosuke sambil mengambil kursi dari meja sebelah yang kosong.

Naoto mengucapkan terima kasih lalu duduk. Mengingat dirinya belum sarapan maupun makan siang, maka Naoto yang paling pertama menyarankan untuk memesan makanan. Yang lain setuju dan beranjak dari kursi. Saat mengantri, Souji bertanya.

"Hei, ada yang lihat Teddie?"

"Oh, kau akan melihatnya sebentar lagi," jawab Yukiko.

Dan benar saja apa kata Yukiko tadi. Saat Souji akan memesan, ternyata pelayan yang dihadapannya itu adalah seorang pria-cantik berambut kuning pirang dengan mara biru laut, ya Teddie.

"Selamat siang~" sapanya sambil tersenyum ceria. "Mau pesan a—" kalimatnya terputus saat ia membuka mata dan terkejut melihat pria dihadapannya itu.

Souji tersenyum, "Lama tak jumpa, Teddie."

Mata Teddie semakin melebar, tidak percaya kalau Sensei nya yang hampir dua tahun ini tidak pernah ia lihat sedang berdiri dihadapannya. Tidak lama kemudian mata Teddie sudah dipenuhi air mata yang bisa tumpah kapan saja. Lalu ia membalikkan papan yang berada di depan mesin kasirnya menjadi 'To the next cashier, please' untungnya saat ini Food Court sedang sepi pengunjung. Teddie melangkah mundur, lalu berlari ke pintu belakang. Tidak lama, ia sudah melompat dari arah kiri untuk memeluk Souji. "SENSEIIIII!" teriaknya dengan keras sambil memeluk erat Souji. Souji tidak bisa apa-apa, dan yang lain pun tampaknya tidak berminat untuk melepaskan beruang yang kesepian itu dari sahabat pertamanya seumur hidup.

Akhirnya Teddie mengambil jam istirahat dan memutuskan untuk ikut makan siang bersama I.T. awalnya Teddie ingin duduk di tempat Yosuke, tapi Yosuke malah membentaknya dan menyuruhnya untuk mengambil sendiri kursinya. Teddie menyerah dan memilih duduk diantara Rise dan Kanji.

Siang itu pun mereka semua makan siang bersama-sama, seperti yang biasa mereka lakukan dua tahun lalu. Mereka saling bertukar cerita mengenai kehidupan mereka selama dua tahun terakhir.

Yosuke kuliah di Universitas Inaba dan mengambil jurusan seni musik, "Oh yeah! Aku akan jadi musisi terkenal dan bukan menjadi manager JUNES!" Chie kuliah di Universitas yang sama namun ia mengambil jurusan olah raga, "Aku akan menjadi master Kung Fu wanita terhebat di dunia!" Yukiko semakin serius belajar untuk menjadi manager Amagi Inn, "Aku melakukannya dengan senang hati kali ini." Kanji semakin ahli menjahit, "Ha—habisnya tidak ada Senpai rasanya jadi sepi, akhirnya aku malah menjahit!" Rise tinggal di Tokyo karena saat ini Risette kembali naik daun dan datang ke Inaba untuk berlibur, "Risette sudah kembali bersinar!" Dan Naoto sang 'Detective Prince' semakin dikenal banyak orang, "Ini semua karena kira berhasil memecahkan misteri Serial Kidnap-Murder Case bersama."

Mereka sudah selesai makan, dan meja pun kembali bersih. Karena merasa belum bercerita, Teddie menambahkan, "Oh, oh! Dan Teddie bekerja di JUNES! Teddie senang sekali karena Nana-chan sering main untuk menemaniku~"

"Aku yakin Souji udah tahu hal itu," batin semua anggota I.T.

"Oh iya, bagaimana keadaanmu di Tokyo senpai?" tanya Naoto, mengalihkan perhatian ke Souji.

"Ow… padahal Rise juga di Tokyo tapi tidak pernah dapat kesempatan untuk mengunjungimu senpai…," nada suara Rise terdengar kecewa.

Souji tersenyum, "Tidak masalah Rise. Aku tahu kau pasti sibuk," diam sebentar lalu ia melanjutkan, "Yah, kehidupanku disana baik-baik saja. Otto-san dan Okka-san bilang mereka sangat merindukanku karena berpisah selama setahun, dan rasa rindu mereka baru mereda sekitar seminggu yang lalu…," Souji menghela nafas dan tertawa, diikuti yang lainnya. "Aku senang mereka menyayangiku, tapi aku merasa seperti anak kecil disana. Hahaha… oke, aku kuliah di Universitas Tokyo jurusan hukum. Dan selama aku disana…," ia menoleh untuk melihat sepasang bola mata biru berkilau disampingnya, "Aku merindukanmu." Wajah Souji memerah, begitu pula Naoto.

"Wow Souji-kun, aku tidak tahu ternyata kau sangat romantis," komentar Chie.

Pembicaraan pun terus berlanjut. Semuanya tampak sangat menikmatinya. Tiba-tiba Teddie mengusulkan untuk berpiknik ke Dunia TV besok. Semuanya setuju dan Yosuke menyarankan untuk berkumpul pukul 08.00 pagi. Mereka tampak sangat senang dan ingin rasanya esok hari segera tiba, terutama Rise.

Entah sejak kapan pembicaraan menjadi mengenai 'Naoto versi feminin.' Naoto sudah berulang kali berusaha mengganti topic pembicaraan, namun selalu gagal. Tampaknya semua anggota I.T penasaran mengenai hal ini. Naoto masih berusaha mengalihkan pembicaraan sampai sebuah pertanyaan keluar dari mulut Rise.

"Hmm… apa Souji senpai juga belum pernah lihat Naoto-kun mengenakan pakainan perempuan? Maksudku, senpai dan Naoto kan berpacaran."

Naoto diam. Sebenarnya ia pernah mengenakan seragam perempuan Yasogami High di hadapan Souji saat Christmas Eve, tapi itu pun tidak berlangsung lebih dari lima manit. Wajahnya memerah saat mengingat kejadian itu, dan ia pun bingung harus membalas pertanyaan Rise dengan apa. Tiba-tiba Souji angkat bicara.

"Pernah kok." Dan satu kalimat itu dapat membuat anggota I.T semakin penasaran dan bertanya kapan. "Kapan? Hmm… sekitar dua tahun lalu, saat malam Natal," jawabnya santai.

Naoto hanya diam membatu. "A—apa? Aku tidak percaya Senpai semudah itu membocorkan rahasiaku?" teriaknya dalam hati.

"Hei, pakaian seperti apa yang ia kenakan?" tanya Yosuke antusias.

"Seragam Yasogami High. Naoto tampak sangat manis saat itu, bahkan ia melepas topinya," Souji mengingat-ingat kejadian itu, "Tapi itu tidak lama. Lima menit kemudian Naoto sudah minta ganti baju menjadi baju yang biasa," ia tersenyum ke arah Naoto, dan mendapati gadis itu sedang menunduk.

"Oh man, rasanya aku juga jadi ingin lihat," seru Yosuke sambil mengedipkan sebelah mata.

"Aku setuju denganmu Yosuke senpai!" tambah Kanji.

Chie dan Rise diam-diam mengeluarkan aura membunuh dari dalam tubuh mereka, "Apa tadi kau bilang..?" Yosuke dan Kanji tak bisa apa-apa.

"Uh, Naoto-kun… ada apa?" Yukiko mulai khawatir karena melihat tubuh Naoto bergetar.

"Naoto?" tanya Souji, "Kau tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa? Bagaimana bisa aku tidak apa-apa saat orang yang kupercaya sepenuhnya malah membongkar rahasia?" teriak Naoto dalam hati. Tubuhnya semakin bergetar.

"Nao-chan? Apa… kau marah?" semua anggota I.T pun terdiam mendengar pertanyaan Teddie.

Naoto sudah tidak kuat lagi dan mulai bicara, "Senpai… itu kan seharusnya… rahasia…," ia masih membenamkan ekspresinya. Suaranya pelan, sepelan hembusan angin saat ini.

"Naoto?"

Naoto berdiri dan menaikkan suaranya, "Senpai! Bukankah waktu itu aku sudah bilang kalau ini rahasia? Kenapa Senpai malah begitu santainya membongkar rahasia?" tangannya memukul meja dengan keras. BRAK! "Kalau Senpai pikir itu lucu, tidak bagiku. Aku permisi." Naoto yakin, ia dapat merasakan matanya panas karena menahan air mata.

Semua orang yang melihat kejadian tadi hanya bisa terkejut. Tak pernah sebelumnya Naoto terlihat benar-benar penuh emosi seperti itu.

"Na—naoto… aku—" kalimat Souji terpotong saat ia melihat air mata jatuh dari pipi Naoto. Sedetik pemandangan sedih itu, rasanya berjuta-juta jarum menusuk hatinya bila benar sekarang Naoto sedang menangis.

"Naoto-kun…," ucap Rise pelan. Semuanya masih terdiam karena kejadian tadi.

"Naoto…," Souji menundukkan kepalanya lebih dalam. Ia merasa bersalah, sangat bersalah.

To be continue…

Author's Note: Horeeeee! Chapter 2 selesai juga! Naoto terkesan kekanakan ya? Maaf OOC ya *sujud minta maaf* Habisnya entah kenapa rasanya lucu kalau Naoto dibikin kekanakan sedikit kayak gitu~ Hehehe… *di Tempest Slash* Gimana ending yang ini? Mudah-mudahan chapter ini setidaknya aku ada perkambangan. Karena itu, saya butuh review senpai semua. Mohon review nya lagi ya. Dan semoga mau baca chapter 3 nanti~

Author : "Oke, ada yang mau complain disini?" *siapin notes*

Nanako : "Aku, aku!" *ngacung*

Author : "Oh ya, ada apa?"

Nanako : "Kok aku munculnya cuma sedikit sih?"

Author : "Hmm… ya itu belum jatahmu aja. Yak, selanjutnya?" XD

Naoto : "Aku."

Author : "Kyaaaaaa! Chara fave-ku! *pingin peluk Naoto tapi gak bisa* Ehem… ada apa?"

Naoto : "Sejak kapan aku alergi dingin? Dan kenapa aku kenakakan gitu?"

Author : "Ohohoho…" *ketawa ala Yamabuki Saaya* "Sejak aku niat bikin fanfic ini~ Biar kita mirip gitu, aku juga alergi dingin soalnya. Next?" *curhat* XD

Yakushiji : "Saya… kenapa deskripsi saya abstrak sekali?"

Author : " Itu karena aku gak tau kamu kayak gimana" *dihajar*

Teddie : *tiba-tiba muncul* "Author-san, kenapa Teddie munculnya cuman sedikiiiiiit?"

Author : "Ehehe… sebenernya aku sempet lupa lho kalau di I.T itu ada kamu~ Ya, bersyukur sajalah aku sempat ingat kamu sebelum chapternya tamat. Oke, sesi komplen selesai! Ja ne~"