Untuk gadisku yang kusayangi tanpa batas.

Untuk wanitaku yang kucintai tanpa batas.

Untuk pengantinku yang kusakiti tanpa batas.

Untuk cintaku yang kubunuh tanpa batas.

Untuk semua yang ada pada dirimu yang kulukai dan kugilai tanpa batas.

.

Tanpa Batas

Naruto by Kishimoto-sensei

Endless Night by Agatha Cristie

This story purely mine.

SasuSaku's fanfic for Kira Desuke :D

Enjoy it!

.

.

Naruto menghisap rokoknya lebih lama dari sebelumnya. Ia menjerit frustasi. "Harusnya kau lihat itu Sai! Kau lihat! Sakura tak pernah melihatku ketika pria itu tiba di sampingnya. Ketika pria itu di sampingnya, tak ada tempat untukku. Semua gravitasi seolah berpusat pada pria itu," katanya. "Aku kalah Sai, aku kalah bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaanku!"

Jeda cukup lama sebelum Naruto berkata pelan, "aku mencintainya, Sai. Aku benar-benar mencintai Sakura."

Sai membuang rokok di mulut Naruto dengan paksa. "Dia sudah memiliki suami, Naruto. Harusnya kau paham! Kau tidak punya kesempatan!"

Sai tahu perkataannya kejam. Namun ia tak ingin melihat Naruto terus seperti ini. Naruto harus menyerah. Wanita itu, Sakura terlalu mencintai suaminya. Ia tak ingin Naruto terusa menerus memendam cinta yang salah itu.

"Aku sakit, karena aku paham, Sai," bisik Naruto lirih. "Karena aku paham, aku tidak akan pernah menang dari Uchiha Sasuke."

.

Tanpa Batas

Bagian Empat

.

Suara detik-detik jam dinding memenuhi kamar Sakura dan Sasuke. Wajah Sakura pucat pasi. Wanita beriris kehijauan itu berbisik lirih, "aku takut—Sasuke-kun."

Sasuke menatap penuh perhatian kepada Sakura, ia menepuk pelan bahu istrinya itu. "Ada aku," kata Sasuke.

Sakura mengangguk pelan, meski hatinya masih gelisah. Bukan memikirkan pria paruh baya yang baru saja mengutuknya dengan kematian. Tetapi ada sedikit ketakutan tentang sesuatu, sesuatu yang dirasakannya akhir-akhir ini. Rasa takut akan kehilangan sesuatu.

"Kau tenang saja, kujamin, pria itu tidak akan lagi mengancammu. Aku bisa membuat pria itu menyesal melakukan hal itu padamu," kata Sasuke lagi.

Sakura menggelengkan kepalanya. Ia meremas jemari kekar Sasuke yang berada di sampingnya. Pandangan Sakura melemah ketika berkata, "tidak Sasuke-kun. Jangan lakukan itu. Aku tidak apa-apa."

Sasuke nampak akan membantah sebelum melihat wajah Sakura yang terlihat memohon.

"Tch! Kau terlalu baik, Sakura. Pria itu harus diberi pelajaran, dia harus—"

"—Sasuke-kun."

Sasuke membuang wajahnya ke arah lain. Kini ia berdiri menghadap jendela kamar mereka. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin Sakura masih saja membela pria yang baru saja menyumpahinya dengan segala kata-kata kasar—bahkan menyumpahinya... mati.

Sakura memeluk tubuh tegap Sasuke dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Sasuke, menyembunyikan ketakutannya di sana. "Bukan kematian yang menakutkanku," kata Sakura pelan. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Tapi kehilanganmulah yang menakutkanku, Sasuke-kun," bisiknya lirih.

Sasuke memejamkan matanya. Ia berpikir. Seandainya... ya, seandainya dia yang meninggalkan Sakura. Apa jadinya wanita itu?

Sakura melepaskan pelukannya, ia membalikkan tubuh Sasuke menghadapnya. "Ne, Sasuke-kun, bagaimana harimu? Ceritakan padaku, apa kau sudah mendapatkan pekerjaan?" Sakura duduk di tepi ranjang mereka, ia menyisakan tempat di sebelahnya untuk diduduki Sasuke.

Sasuke duduk di sebelahnya. Ia hanya diam. Sakura dapat melihat dengan jelas raut kekecewaan dari wajahnya. Nampaknya hari ini tidak terlalu berjalan mulus bagi Sasuke. "Aku belum mendapatkan pekerjaan," kata Sasuke. "Maaf mengecewakanmu."

Sakura sedikit menyesal menanyakan hal ini pada Sasuke. Jujur, ia sama sekali tidak mempermasalahkan status Sasuke yang masih belum mendapatkan pekerjaan. Sebagai seorang istri, ia mahfum akan ego seorang suami yang selalu ingin lebih dari istrinya, termasuk kali ini. Ia tersenyum menenangkan Sasuke. "Tidak apa, masih ada hari esok, Sasuke-kun."

Sasuke merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menutup matanya. Bibirnya menggumamkan perkataan pelan, "harusnya kita tidak menikah secepat ini. Aku bahkan tidak memikirkan bagaimana cara menghidupi anak dan istriku sendiri."

Sakura ikut berbaring di sebelah Sasuke. Wanita berambut merah jambu pucat itu memalingkan wajahnya ke arah Sasuke. "Jangan berkata seperti itu, Sasuke-kun. Aku sama sekali tidak menyesal menikah denganmu. "

Sasuke membuka kedua matanya. Ia menatap kosong ke arah langit-langit kamar mereka. Ada segaris senyum tipis terlukis di sudut bibirnya. "Terima kasih, Sakura."

Sakura tersenyum mendengarnya. Ia menyentuh lengan Sasuke, mendekap erat lengan itu. "Sasuke-kun, tadi arsitek rekomendasi Ino sudah datang."

Sasuke memalingkan wajahnya menatap Sakura. "Apa saja katanya?"

"Aku tidak begitu paham hal-hal semacam itu. Daridulu, Inolah yang paling cakap mengurusi hal-hal seperti ini," kata Sakura sambil tersenyum mengingat sahabatnya. "Maka aku memintanya datang lagi besok agar kau yang menemuinya dan membicarakan hal-hal mengenai pembangunan pondok," tambah Sakura.

Sasuke memandang Sakura penuh tanya. "Dia tidak menggodamu?"

"Eh?" Sakura meyakinkan dirinya bahwa pendengarannya tidak salah. Sedetik kemudian ia tersenyum. "Kau tidak sedang cemburu kan, Sasuke-kun?" tanyanya.

Sasuke mendengus pelan. "Aku hanya bertanya, Uchiha Sakura."

Sakura tidak membalas ucapan Sasuke. Wanita yang kini resmi bernama Uchiha Sakura itu malah memperpendek jarak di antara wajah mereka sebelum mengecup pelan bibir suaminya. "Aku hanya mencintaimu, Sasuke-kun."

.

.

Kakashi Hatake memandang tunangannya dengan wajah bosan. Tak henti-hentinya gadis yang menjadi tunangannya itu menanyakan hal yang sudah dijawabnya ratusan kali.

"Kakashi, kau yakin pamanmu akan menerimaku? Maksudku, aku bukan gadis yang pintar mengambil hati orang tua, aku tidak pandai memasak, ya, kalau masak ramen sih, aku bisa," katanya sambil terkekeh kecil. "Tapi, kau tahu kan, aku sama sekali bukan tipe gadis rumahan yang umm... pandai mengurus rumah." Ayame mengakui hal itu dengan sedikit malu.

Kakashi mengacak-acak rambut panjang Ayame sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya. "Sudah beratus-ratus kali kubilang, pamanku itu bukan orang tua yang selalu ikut campur mengenai hal-hal semacam itu. Siapapun gadis yang kupilih, dia pasti menerimanya dengan tangan terbuka."

Ayame memandang Kakashi dengan lekat, gadis itu menyunggingkan seulas senyum di sudut bibirnya. "Terima kasih, Kashi," katanya tulus. Ia bersyukur akhirnya kebahagiaan datang menghampirinya setelah apa yang terjadi padanya dan Itachi dulu.

Kakashi balas tersenyum ke arah Ayame.

"Omong-omong, tadi kau bilang, kau punya saudara di sana, siapa?"

"Keluarga Namikaze. Aku sudah menghubungi Bibi Kushina. Setelah bertemu dengan pamanmu, aku akan menginap di rumah mereka," kata Ayame. Tangan gadis itu menghidupkan tape di mobil Kakashi. Alunan musik country memenuhi mobil Kakashi.

Kakashi bersenandung kecil mengikuti irama lagu 'I want' yang mengalun dari tape. "Sepertinya aku kenal mereka," katanya.

"Eh? Kau mengenal mereka?" tanya Ayame sedikit terkejut. "Bagaimana bisa?"

Kakashi terkekeh kecil. "Aya, Aya, desa di perbatasan itu bukan tempat besar seperti Tokyo. Hampir seluruh penduduk di sana mengenal satu sama lain."

"Tapi kan, kau tidak tinggal di sana," bela Ayame sambil mendelik kesal ke arah Kakashi yang masih terkekeh menertawakannya.

"Pamanku tinggal di sana," kata Kakashi. "Lagipula aku tinggal bersama pamanku sejak kecil. Anak keluarga Namikaze itu bernama Naruto, kan?"

Ayame mengangguk. "Ya, dia sepupuku," katanya. "Oh ya, Kakashi. Umm... aku lupa, nama pamanmu itu... err..."

"Orochimaru," kata Kakashi. "Pamanku bernama Orochimaru."

"Ya, Paman Orochimaru."

.

.

Sabaku Gaara memarkir Chevrolet putihnya di depan pondok sewaan pasangan Uchiha. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu berjalan menuju serambi pondok. Di sana ia melihat Sakura sedang duduk bercengkrama dengan seorang pria berambut hitam yang dipikirnya pastilah suami dari Sakura, Uchiha Sasuke. Gaara merasa pernah melihat pria itu entah di mana, ia sendiri tidak begitu mengingatnya dengan pasti. Sakura yang melihat kedatangan Gaara segera berdiri dan mempersilakan Gaara duduk bersama mereka di serambi pondok.

"Ah, Gaara-san. Perkenalkan, ini suamiku, Uchiha Sasuke," kata Sakura. "Sasuke-kun, ini Gaara-san, arsitek yang kuceritakan semalam," katanya.

Gaara mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Sabaku Gaara," kata Gaara. Sasuke balas menjabat tangan itu. "Uchiha Sasuke."

"Nah, aku permisi sebentar, aku akan membuatkan minuman dulu untuk Gaara-san," kata Sakura.

"Tidak perlu, Sakura-san. Maksudku, lebih baik aku berangkat sekarang dengan Sasuke-san. Lagipula cuaca sudah cukup mendung, rasanya lebih baik kami pergi sekarang meninjau lokasi pembangunan."

Sakura melirik Sasuke, menunggu tanggapan dari suaminya itu.

"Dia benar, Sakura. Lebih baik kami pergi sekarang."

Sakura mengangguk kecil. "Baiklah. Hati-hati, Sasuke-kun," katanya penuh perhatian. Sasuke balas mengangguk kecil. "Hn."

"Bagaimana jika ke sana dengan mobilku?" tawar Gaara. Sasuke mengangguk. "Baik."

Selama perjalanan menuju tempat pembangunan pondok, tak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu. Gaara merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan Sasuke. Lagipula nampaknya, Sasuke bukan tipe orang yang menyukai pembicaraan panjang lebar. Menurut Gaara, Sasuke adalah tipe orang yang lebih mengutamakan tindakan dibandingkan perkataannya. Sedikit bicara, banyak bertindak. Ia seperti melihat dirinya sendiri pada diri Sasuke.

Sesampainya di tempat tujuan, Gaara langsung meninjau kondisi serta struktur tanah yang akan dijadikan tempat pembangunan pondok. Struktur tanah di sini rawan longsor, tanahnya gembur, kemiringannya pun sedikit membahayakan untuk pondok yang nanti akan dibangunnya. Ia menyampaikan gagasan untuk menambal tanah di sini dengan tanah dari daerah lain, menutupi kemiringan tanah serta memperkuat struktur tanah itu agar bisa dibangun pondok di atasnya. Sasuke hanya menggumamkan kata 'hn' sebagai persetujuannya atas gagasan Gaara.

Tanpa terasa langit hampir senja ketika survei lapangan yang dilakukan Gaara selesai. Ia berkata pada Sasuke bahwa tinggal mengurus tukang yang akan membantu pelaksanaan pembangunan pondok, maka pembangunan bisa segera dilakukan. Untuk rancangan bangunannya sendiri, Gaara sudah mendapatkannya dari Ino. Ino bilang Sakuralah yang merancang gambar pondok itu. Sedikit banyak Gaara memuji rancangan Sakura.

"Nah, Sasuke-san. Saya rasa, kunjungan kali ini cukup. Mungkin lusa, pembangunan akan segera dilaksanakan."

"Baiklah. Terima kasih," kata Sasuke singkat.

"Mmm... Sasuke-san, boleh saya mengatakan sedikit hal yang bersifat pribadi."

Sasuke menaikkan sedikit alisnya. Ia tidak mengerti mengapa pria yang baru saja dikenalnya berani mengajaknya berbicara tentang hal pribadi. "Hn."

Gaara sedikit ragu, apa ia harus mengatakan hal ini. Ia sendiri tidak begitu yakin apa yang kemarin dilihatnya itu benar. Ini bukan sesuatu yang besar. Tapi entah mengapa nuraninya merasa tidak rela jika ia membiarkan hal ini begitu saja. "Saya rasa, saya pernah melihat Anda sebelum ini."

Sasuke semakin tidak mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Gaara. Pria itu masih menunggu perkataan Gaara selanjutnya.

"Saya pernah melihat Anda bersama... Nona Yamanaka di hotel kemarin."

Sasuke merasakan tangannya mulai mengepal erat. Pria bernama Gaara ini harus diawasi. Ada sedikit rasa takut menyelimuti hati pria beriris sekelam malam itu.

"Kau salah orang," kata Sasuke datar.

Gaara tersenyum pelan. Ia tahu pria di hadapannya ini sedang berbohong. Gaara dapat melihat tangan Sasuke yang sudah mengepal erat. Sesama pria, ia seperti bisa merasakan ketakutan Sasuke. Maka ia tersenyum sebelum berkata, "aku tidak akan memberitahukan hal ini pada Sakura-san. Hanya saja, Anda mempunyai seorang istri yang baik."

Sasuke tersenyum sinis. "Terima kasih atas nasehatnya, Gaara-san. Tapi perlu kau tahu, aku sama sekali bukan pria yang kau maksud."

Sasuke meninggalkan pria itu sendiri. Ia memilih jalan kaki melewati hutan menuju pondok ketimbang kembali bersama Gaara dengan Chevroletnya.

.

.

Naruto membuka pintu rumahnya lebar-lebar ketika memandang dua sosok yang kini berdiri tepat di ambang pintu rumahnya. "Hey, Aya. Sudah lama aku tidak melihatmu—dan, astaga! Letnan Kakashi?" seru Naruto tak percaya. Ia nampak berpikir, sejurus kemudian ia terbelalak. "Aya, jangan bilang tunanganmu yang kaukatakan semalam itu..." Naruto membiarkan kata-katanya menggantung.

Ayame tertawa pelan. "Iya. Tunanganku itu Kakashi."

Naruto menepuk dahinya sambil memasang wajah seolah menderita. "Kurasa, aku tidak akan dibuatkan ramen lagi olehmu."

Ayame nyaris memukul kepala Naruto jika tidak melihat pria lain yang muncul di belakang Naruto.

"Ada tamu ya?"

Kakashi dan Ayame tersenyum kecil kepada pria berambut hitam yang berdiri di belakang Naruto demi kesopanan.

"Ah, perkanalkan, ini Sai—sahabatku. Dia sedang menginap di sini," kata Naruto. "Nah, Sai, mereka adalah Ayame—sepupuku, dan Letnan Kakashi—dia letnan di kantor kepolisian desa. Juga tunangan Ayame," tambah Naruto.

Mereka saling memperkenalkan diri sambil berjabat tangan. Naruto mempersilakan Kakashi dan Ayame masuk. Tetapi Kakashi menolaknya dengan sopan, ia hanya mengantar Ayame. Setelah itu Kakahi pamit undur diri kepada semuanya. Ayame menyerukan perkataan hati-hati sebelum ikut masuk ke dalam pondok bersama Naruto dan Sai.

Ayame dan Sai kini sedang berbincang-bincang mengenai keadaan di Tokyo. Ditemani dua cangkir teh hangat dan rintik hujan yang terdengar di luar merupakan waktu yang tenang untuk sedikit berbincang-bincang di ruang tengah. Naruto sendiri memilih duduk di sisi jendela sambil mengamati keadaan pondok Sakura yang tak jauh dari rumahnya.

"Sepertinya Naruto daritadi terus memandang pondok itu, ada apa?" tanya Ayame pada Sai.

Sai hanya menghela napasnya sebelum berkata, "aku tidak tahu." Ia merasa tidak tepat jika harus menceritakan perihal cinta Naruto kepada Ayame meski gadis itu adalah sepupu Naruto.

Belum semenit setelah Sai mengatakan hal itu, Ayame melihat seorang gadis berambut merah jambu pucat keluar dari pondok itu, menyambut seorang pria berambut hitam kelam yang baru saja datang di serambi pondok. Napas Ayame tercekat ketika menyadari sosok pria itu. 'Bukankah, itu... Sasuke?'

"Sai, apa kau mengenal pria dan wanita itu?" tanya Ayame hati-hati, Jangtungnya berdegup ribuan kali lebih cepat. Apa mungkin itu memang Sasuke?

Sai mengangguk lemah. "Ya, aku tahu. Mereka adalah pasangan Uchiha."

Ayame sangat terkejut mendengar penuturan Sai. "Pasangan?" tanyanya hati-hati.

"Ya, mereka adalah Sasuke Uchiha dan Sakura Uchiha—istri Sasuke."

Dan Ayame kini paham, mengapa pepatah seringkali berkata dunia itu sempit.

.

.

"Astaga Sasuke, apa yang terjadi?" seru Sakura khawatir saat mendapati Sasuke pulang dengan baju basah kuyup. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju tempat Sasuke. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa."

Sakura menggeleng kuat. Ia mengambil handuk kecil di kamar mereka sebelum kembali menuju tempat Sasuke di ruang tengah. Digosokkannya handuk itu pada rambut Sasuke yang basah akibat guyuran hujan di luar. "Beristirahatlah, aku akan memasakan air hangat untukmu mandi," kata Sakura.

Sasuke menangkap pergelangan tangan Sakura sebelum wanita itu beranjak lebih jauh dari tempatnya kini. "Katakanlah, Sakura. Apa kau memercayaiku?" tanya Sasuke. Bayangan Sakura yang meninggalkannya dan kecewa padanya berputar-putar di benak Sasuke.

Sakura menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Sasuke. Namun ia tetap menjawabnya dengan senyuman. "Aku percaya padamu, Sasuke-kun."

Sasuke mendesah lega. Ia melepaskan pegangannya di pergelangan tangan Sakura. "Terima kasih," katanya.

Sakura tersenyum. "Nah, beristirahatlah dulu, aku akan memasakan air untukmu mandi. Setelah itu, berjanjilah akan memberitahuku apa yang terjadi sampai kau basah kuyup seperti ini, Sasuke-kun."

Sasuke mengangguk kecil. "Hn." Kini ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia harus melakukannya sebelum semuanya terlambat. Tidak, dia harus melakukannya dengan cepat. Sebelum Sakura meninggalkannya. Ia harus bergerak sebelum kehilangan Sakura. Ia tidak ingin kehilangan wanitanya.

.

.

Ayame berguling di atas tempat tidurnya dengan tidak tenang. Ia gelisah. Meski ia hanya sekilas melihat sosok Sasuke dari jauh, ia tahu ada sesuatu yang salah dengan pria itu. Jika itu Sasuke, tak mungkin pria itu telah memiliki seorang istri. Tidak—itu tidak mungkin. Sasuke yang ia kenal tidak akan mau mengikat hubungan dengan seorang wanita, apalagi dalam sebuah pernikahan. Ayame memutar tubuhnya ke kanan. Lima detik kemudian ia kembali memutar tubuhnya ke kiri. 'Apa yang harus kulakukan?'

Sasuke Uchiha. Mengapa nama itu selalu muncul di hidupnya yang dikiranya akan baik-baik saja. Sama seperti kemunculan pria itu dulu, tiba-tiba datang mengacaukan impiannya dengan Itachi. Meski malu untuk mengakuinya, ia sadar, ia pun ikut andil dalam bencana yang menimpa dirinya sendiri. Ia terpikat pada pesona Sasuke.

Harusnya ia menolak ketika Itachi mengenalkannya pada Sasuke. Harusnya ia tidak termakan bujuk rayu palsu Sasuke yang mengatakan mencintainya. Harusnya... harusnya... Itachi tidak meninggal. Karena dia... ya, karena dialah Itachi meninggal. Karena pengkhianatannya dengan Sasuke, Itachi meninggal. Perasaan bersalah kembali merongrong hatinya. Kalau saja malam itu ia dan Sasuke tidak mabuk. Kalau saja malam itu...

Ayame bangkit dari posisi tidurnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Maafkan aku, Itachi-kun," bisiknya lemah.

Sasuke... Sasuke... Sasuke...

Nama pria itu terus berputar-putar di benak Ayame. Gadis berambut panjang itu memejamkan matanya. Ia berharap mampu mengusir bayang-bayang Sasuke dari hidupnya. Ayame membuka kedua matanya secara perlahan. Ia tidak boleh terus seperti ini. Ia harus menghadapi Sasuke. Ya, dia tidak boleh terus menghindar dari masalah ini. Dia harus menghadapi Sasuke.

.

.

Kakashi menuju kantor kepolisian desa dengan tergesa-gesa. Berita yang didapatnya dari kantor membuatnya tak bisa tenang. Ini kasus pertama yang akan ditanganinya di desa perbatasan ini. Mayat seorang pria baru saja ditemukan di dalam sebuah mobil di tikungan jalan. Nampaknya pria itu mengalami kecelakaan ketika mobilnya menabrak sebuah pohon besar yang berada di sisi jalan tikungan tersebut. Mobil yang menjadi kendaraan pria naas itu adalah Chevrolet putih yang bernomor polisi G 417A S.

"Bagaimana kondisi korban saat ditemukan, Kabuto?" tanya Kakashi pada Kabuto, sepupunya sekaligus polisi jaga yang sudah melihat kondisi mayat korban.

Kabuto menggeleng pelan. "Malang sekali pria itu. Sepertinya remnya tidak berfungsi dengan baik. Mobilnya menabrak pohon, tidak ada hal ganjil di lokasi kejadiaan. Seperti murni kecelakaan biasa."

"Seperti?" tanya Kakashi tertarik.

Kabuto mengangguk pelan. "Ya, memang seperti kecelakaan murni. Hanya saja..."

"Hm?"

"Ada yang aneh dengan noda di kepala korban. Saat ditemukan, posisi kepala korban jatuh di atas kemudi, ada noda darah kering di sekitar luka itu. Yang aneh, meski samar, aku bisa mencium bau kayu di luka itu."

"Kau yakin?"

"Ya. Aku yakin. Bau itu seperti bau kayu bercampur darah," jelas Kabuto.

Kakashi memicingkan matanya, menandakan ia sedang berkonstrasi atas apa yang ditemukan Kabuto. Ia menghela napas pendek. "Itu berarti pria itu sudah meninggal sebelum kecelakaan itu terjadi."

Kabuto menganggukkan kepalanya. "Kau bisa mengeceknya lagi. Aku sudah memerintahkan agar tidak ada yang memindahkan segala sesuatu di TKP sebelum kau datang."

"Siapa yang berjaga di sana?"

"Ibiki dan Idate."

Kakashi mengangguk. Ia dan Kabuto segera menuju lokasi kejadiaan. Seperti yang dikatakan Kabuto. Memang segalanya nampak seperti kecelakaan biasa. Korban ditemukan tewas di dalam mobil yang menabrak pohon di tepi tikungan. Luka yang ditemukan di tubuh korban hanya berada di kepala bagian depan yang nampaknya diakibatkan karena benturan kencang pada safety glass mobil. Bagian depan luar mobil pun ringsek akibat menabrak batang pohon. Namun Kakashi pun menyadari ada yang aneh pada luka di kepala korban. Jika Kabuto mencium bau kayu yang bercampur darah pada luka itu. Kakashi lain lagi, ia melihat serpihan halus kayu di ujung sepatu pantovel yang dikenakan korban. Apalagi serpihan kayu itu hanya menempel pada ujung sepatu kanan korban—sama seperti luka korban yang berada di kanan kepalanya. Sepatu kiri korban bersih dari serbuk kayu, hanya ternodai lumpur yang wajar, mengingat kemarin sore hujan turun dengan lebat. Satu lagi, meski samar, Kakashi dapat melihat noda merah kehitaman yang berada di ujung kuku jari tangan kanan korban. Dugaannya, pria ini dibunuh sebelum mobilnya ditabrakkan ke pohon. Pertanyaannya, siapa pelaku pembunuhan ini? Apakah pelaku adalah salah satu dari penduduk desa atau orang asing yang kebetulan melakukan aksi pembunuhan di desa ini?

"Ibiki, apa ada barang-barang pribadi korban?"

"Ya. Ada ponsel dan beberapa lembar US dollar pecahan 100 di dompet korban," kata Ibiki.

Kakashi mengambil ponsel korban dengan menggunakan sarung tangan. Dilihatnya panggilan masuk dan keluar dari ponsel tersebut. Panggilan masuk terakhir dari nomor tak dikenal sekitar pukul 10 malam. Jika dugaan awal Kakashi benar, berarti korban meninggal antara pukul 10 malam sampai dengan pukul 4 pagi di saat korban ditemukan pertama kali oleh beberapa penduduk yang berangkat kerja menuju peternakan Namikaze.

Kakashi membuka dompet korban. Ada sebuah kartu tanda pengenal dengan nama Sabaku Gaara. Pekerjaan yang tertera di kartu itu adalah arsitek.

.

.

Sakura sedikit terkejut ketika mendapati sosok Sasuke tidak ada di sampingnya ketika ia membuka matanya pagi ini. "Pukul 6 pagi," gumamnya. Sakura bergegas mandi sebelum beranjak ke ruang tengah mencari Sasuke. Ia tidak menemukan Sasuke di mana-mana.

Ketika wanita yang kini memakai kemeja lengan panjang dengan celana bahan kaus berwarna hitam itu membuka pintu pondoknya, ia dikejutkan oleh pria yang sedari tadi dicarinya.

"Sasuke-kun, dari mana?"

Sasuke masuk melewati Sakura ke ruang tengah. Ia mendudukan dirinya di kursi sambil berkata, "hanya jalan-jalan pagi seperti biasa."

Sakura menghampiri Sasuke dan berdiri di hadapan pria itu. Matanya memicing khawatir ketika melihat ada luka gores di lengan kanan Sasuke. "Lenganmu..."

"Hanya tergores ranting pohon tadi sewaktu aku berjalan-jalan di hutan."

"Astaga, Sasuke-kun!" seru Sakura nampak cemas. "Tunggu di sini, aku akan mengambilkan obat untuk lukamu."

Sasuke menahan lengan Sakura. "Sudahlah, aku tidak apa-apa. Tadi sudah kucuci dengan air keran di depan pondok," kata Sasuke.

Sakura menggelang. "Tidak Sasuke-kun, luka ini harus disterilkan. Aku akan mengambil obat sebentar di kotak P3K, kau tunggulah di sini," kata Sakura bersikeras untuk mengobati luka di lengan Sasuke.

Sasuke hanya diam dan menerima ketika Sakura mulai membersihkan lukanya dan mengobatinya sebelum membalut luka itu dengan kain kassa dan perban.

"Terima kasih," kata Sasuke singkat.

Sakura mengangguk kecil. "Sama-sama. Lain kali, berhati-hatilah. Berbahaya berjalan di hutan tanpa memperhatikan sekeliling, Sasuke-kun," cermah Sakura.

Sasuke menyeringai. "Kau seperti seorang Ibu yang sedang menceramahi anaknya."

Sakura menggembungkan pipinya dengan kesal. "Aku tidak sedang bercanda, Sasuke-kun."

Suara ketukan di pintu pondok mengalihkan perhatiaan Sasuke dan Sakura. Sakura bergegas menuju pintu depan dan membukakan pintu bagi tamu mereka. Seorang wanita berambut coklat panjang sedang berdiri tersenyum di ambang pintu pondoknya.

"Ah, apa aku datang terlalu pagi, err... Nyonya..."

"Uchiha, namaku Uchiha Sakura," kata Sakura memperkenalkan dirinya.

"Ah, iya, Uchiha-san, atau..."

"Panggil saja aku, Sakura, Nona," kata Sakura ramah.

"Mmm... Baiklah, Sakura. Namaku Ayame Teuchi. Aku keponakan dari Kushina Namikaze," kata wanita itu memperkenalkan dirinya. Ia mengulurkan tangannya yang dijabat oleh Sakura.

"Ah, ya. Aku pernah bertemu dengan Nyonya Namikaze. Silakan masuk, Ayame—ah, boleh aku memanggilmu begitu?"

Ayame tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Tentu. Panggil saja aku Ayame. Oh ya, maaf mengganggumu pagi-pagi. Aku hanya ingin berkenalan saja. Kudengar dari Sai, kau pasti sudah mengenalnya—"—Sakura mengangguk. "—ada penyewa baru di pondok ini. Maka kuputuskan untuk berkunjung sekalian berkenalan."

Sakura tertawa kecil. "Tak usah merasa tak enak hati seperti itu, Ayame. Aku malah senang kedatangan pengunjung. Daerah perbatasan ini cukup sepi, paling-paling tamu yang berkunjung ke sini hanya Naruto dan Sai," katanya dengan senyum terlukis di sudut bibirnya.

Ayame ikut tertawa kecil. Ia merasa Sakura adalah wanita yang baik.

"Siapa yang datang, Sakura?"

Sakura menolehkan wajahnya melihat Sasuke yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Perkenalkan Sasuke, ini Ayame, keponakan dari Nyonya Namikaze."

Sasuke menatap tamu yang sedang berdiri di ambang pintu pondoknya. Ia terkejut ketika menyadari siapa wanita itu. 'Ayame."

Ayame tersenyum kikuk. "Senang berkenalan dengan Anda, Uchiha-san," katanya.

Sasuke menatap Ayame dengan pandangan bingung. Ayame bersikap seolah tak mengenalnya. "Hn," kata Sasuke datar.

"Ah, ayo masuk, Ayame. Tidak enak jika mengobrol di depan pintu seperti ini," kata Sakura mempersilakan Ayame masuk ke dalam pondoknya.

Ayame melirik ke arah Sasuke sekilas sebelum tersenyum ke arah Sakura. "Terima kasih, Sakura. Tapi sebaiknya aku kembali dulu ke rumah Bibi Kushina. Aku belum bilang jika ingin bertamu ke sini, aku takut beliau dan Naruto malah mengira aku tersesat di hutan jika tidak segera kembali. Lain kali, aku pasti akan berkunjung lagi ke sini," tolak Ayame halus.

Sakura mengangguk kecil. "Baiklah. Sampaikan salamku pada Nyonya Namikaze."

Ayame tersenyum kecil. "Tentu."

Sasuke dan Sakura memandang kepergian Ayame dalam diam. Punggung gadis itu masih terlihat dari pintu pondok mereka ketika Sasuke mengajak Sakura kembali masuk ke dalam pondok mereka.

"Ayo masuk, Sakura."

"Hm."

Pikiran Sasuke sedang tidak tenang. Pertemuannya dengan Ayame membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Ia takut Ayame akan membeberkan segala keburukannya di masa lalu kepada Sakura. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Hal itu tidak boleh terjadi. Sasuke tidak ingin kehilangan Sakura. Sakura tak boleh sampai mengetahui aib Sasuke di masa lalu. Ia memutar otaknya, bagaimana cara agar Ayame tidak membeberkan semuanya kepada Sakura. Dan ia menemukan jawabannya. Ia harus menemui Ayame dan berbicara mengenai masalah ini dengan gadis itu.

.

.

Kakashi menapakan kedua kakinya dengan pasti di depan serambi pondok sewaan pasangan Uchiha. Ia mengetuk tiga kali pintu pondok itu sebelum seseorang membukakan pintu untuknya. Seorang wanita berambut merah muda muncul di balik daun pintu. Kedua alisnya bertaut menyiratkan ketidaktahuannya atas kedatangan pria berambut keperakan itu di depan pintu pondoknya.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Kakashi tersenyum tipis. "Ah, Anda pasti Nyonya Uchiha?"

Wanita itu mengangguk kecil. "Ya, saya Uchiha Sakura."

"Perkenalkan, saya Letnan Kakashi."—Sakura semakin bingung saat Kakashi memperkenalkan dirinya. Untuk apa seorang letnan berkunjung ke pondoknya? "Apa benar, Nyonya mengenal dan menggunakan jasa Tuan Sabaku Gaara sebagai arsitek untuk pembangunan pondok?"

Sakura menganggukkan kepalanya lagi. "Benar, tapi apa hubungannya dengan kedatangan Anda ke sini?"

Kakashi melirik kursi dan meja di serambi pondok. Sakura yang menyadari maksud Kakashi segera berkata. "Maaf, silakan duduk dulu, Kakashi-san."

Kakashi tersenyum tipis. Ia duduk di kursi diikuti Sakura yang duduk menghadap ke arahnya. Kakashi menarik napas perlahan sebelum berkata. "Nyonya Uchiha, subuh tadi mayat Tuan Sabaku Gaara ditemukan di dalam mobilnya."

Sakura terkejut mendengar penuturan Kakashi. Wajahnya pucat pasi mendengar kabar berita kematiaan Gaara, Rasanya tidak mungkin. Baru kemarin wanita itu bertemu dengan Gaara di serambi pondoknya.

"Maaf jika kabar yang saya bawa mengejutkan Anda, Nyonya. Saya hanya ingin sedikit bertanya seputar pertemuan Anda dengan Tuan Sabaku kemarin siang. Menurut buku agenda korban yang kami temukan di penginapan tempat korban menginap di Konoha, kemarin sekitar jam 2 siang, korban mengagendakan pertemuaan dengan Anda untuk membahas pembangunan pondok. Apa itu benar?"

Sakura mengangguk. "Ya, kemarin Gaara-san datang ke sini untuk mengadakan survei lokasi pembangunan dengan suami saya. Lalu..."

"Ya?"

Sakura menggangtung perkataannya. Ia memang tidak tahu lagi kejadiaan selanjutnya. Karena setelah berangkat dengan Sasuke kemarin, Gaara tidak muncul lagi untuk menemui Sakura. Bahkan Sasuke kembali ke pondok tanpa ditemani Gaara. Sakura ingat, kemarin Sasuke pulang sendiri dengan keadaan basah kuyup. Sasuke belum menjelaskan alasannya. Kemarin Sakura terlalu khawatir dengan keadaan Sasuke sampai lupa menanyakan kembali mengapa Sasuke pulang dengan keadaan seperti itu. Apa terjadi sesuatu di antara Sasuke dan Gaara. Tidak, Sakura berusaha menepis kecurigaannya.

"Aku tidak tahu apa-apa lagi, Kakashi-san. Setelah itu, Gaara-san tidak muncul lagi ke sini."

"Suami Anda? Bukankah tadi Anda bilang, suami Anda pergi bersama Tuan Sabaku menuju lokasi pembangunan?"

"Ya, tapi setelah itu suami saya pulang sendiri tanpa ditemani oleh Gaara-san," kata Sakura.

Kakashi menatap Sakura dengan serius. Ia rasa wanita di hadapannya ini tidak berbohong. Kalau pun wanita ini berbohong, maka wanita itu adalah seorang aktris ulung yang mampu menyembunyikan sesuatu dengan baik. "Apa saya bisa menemui suami Anda?"

Sakura menggeleng lemah. "Maaf, Kakashi-san. Tapi suami saya sedang tidak ada di sini. Ia sedang ada urusan ke kota. Mungkin sekitar senja ia baru kembali."

Kakashi mengangguk kecil. "Baiklah. Terima kasih telah menjawab pertanyaan saya dengan cukup jelas. Nah, sepertinya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan di sini. Kalau begitu saya pamit dulu. Mungkin setelah senja, saya akan kembali lagi ke sini." Kakashi bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kediaman Sakura.

Sakura mengangguk pelan. "Ya. Sama-sama, Kakashi-san."

Setelah Kakashi pergi, Sakura segera masuk ke dalam pondoknya. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding kayu pondoknya. "Sasuke-kun, kuharap ini semua tidak ada hubungannya denganmu," bisiknya pelan.

.

.

To be continue

Yuhuu~~ selesai ujian langsung ngetik lanjutannya. :P

Maaf kalau chapter ini panjang dan membosankan #pundung sambil mandangin Kakashi telanjang dada. #dor XD

Duh, asa ga tega euy bikin Gaara meninggal di chapter ini. Tapi apa daya, dari awal plotnya sudah aku siapkan, Dan meski masih ragu endingnya apa akan dibuat setragis mungkin atau... tergantung nanti ah. Hehe... #dilemparduit :P

Trims banget loh sama semua yang udah setia nungguin lanjutan fic ini. #pedegila hehehe.. Pada banyak yang nanya, Sasuke itu baik atau jahat sih? Err... gimana ya ngejelasinnya? Gini, manusia itu punya sifat buruk dan baik kan? Jadi ga selamanya orang baik itu ga jahat, dan orang jahat itu ga baik. Aduh, kok omongan gue malah ngaco ya? Hehehe... abaikan aja lah,:P Nanti lama-lama terungkap kok.

Dan untuk chapter-chapter ke depan. Err... mungkin bakalan ada yang meninggal lagi. #digampar Kishimoto-sensei gagara ngebunuh karakter buatannya seenak udel. :P

Buat Kira Desuke: maap, kayanya ga ke keep deh lima chapternya.:( tapi aku usahakan ga akan lebih dari 10 chapter. #nyengir kuda

Dan terkahir~~ #ditembak gagara kebanyakan bacot. Hehe... Terima kasih sudah membaca. Review yak?:D

PS: Gue naik semester 5~~~ #ga penting:p

Aya,19072011