.

:

Ruka Ana Sixth Guns, Hikari No Haru, Meg-chan, Yami-chan Kagami, Akita Rei, gyucchi, Kujo Kazusa Phantomhive, RaFa LLight S.N, Chernaya Shapochka, chiko-silver lady, Kojima Michiyo, Aldred van Kuroschiffer, Ariefyana Fuji Lestari, Noir black pandora, Shiori Sasayanagi, evanthe beelzenef, dan silent readers.

Maaf, reviewnya belum sempat dibales. Huaduh, maaf!

Pokoknya, buat semua yang udah kritik dan saran, saya makasih banget ya… salam sayang buat semua~


.

G:

Ini absurd tingkat tinggi, oke? Jadi jangan salahkan saya jika timbul gejala-gejala aneh pada anda setelah baca chapter ini… sudah dikasih warning, huehehehe…

Dan seperti warning yang biasa… OOC, Typos, etc…

.


Dark and Light

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Chapter 7

~Know You Better~

.

.


Sebastian's Pov

Katakan aku konyol—toh aku tidak peduli juga—karena aku berpikir bahwa keadaanku dan Ciel sekarang romantis sekali. Aku berlutut di hadapannya yang sedang duduk miring di jok mobil, benar-benar seperti pemandangan pangeran yang merendahkan diri di hadapan seorang putri kan? Dia tampak agak gugup sementara aku santai saja.

"Dari mana saja! Yang penting ceritanya lengkap dan benar," seru Ciel menanggapi tawaranku sebelumnya. Aduh, dia ini lucu sekali sih kalau sedang memaksa mendapatkan keinginannya begini. Wajah memerah dan gestur keras kepala itu ternyata kombinasi yang lucu sekali ya?

"Yakin? Dari mana saja? Tidak apa-apa nih kalau aku memulainya dari saat kelahiranku di Mars…" candaku sambil nyengir lebar.

-PLAK!

"AW!"

Anak kecil ini benar-benar bisa kasar kalau dia mau. Bisa-bisanya menampar kepalaku hanya karena aku bercanda seperti tadi. Kuusap-usap kepalaku sambil merapikan beberapa helai rambut gelapku yang berantakan karena perbuatannya barusan.

"Jangan macam-macam!" ancam Ciel judes. Jangan lupa bahwa dia tetap imut dengan ekspresinya itu. Imut banget malah, catat itu. "Terserah saja kalau orang sinting sepertimu mengklaim diri lahir di Mars atau Wonderland sekalian. Hanya saja aku tidak suka orang yang menjawab tidak serius saat aku sedang serius-seriusnya…"

"Iya… iya…" Aku mengalah dan bangkit berdiri—kalau posisiku masih lebih pendek darinya, bisa-bisa dia memukulku lagi. Aku tidak mau pulang dalam keadaan benjol-benjol, oke? Jadi mungkin sudah waktunya menuruti keinginannya. "Aku ini orang yang biasa saja. Sungguh…"

"Seolah aku akan percaya dengan kata 'biasa' itu…" desis Ciel sinis dengan penekanan pada kata biasa itu.

Aku tersenyum padanya. Satu tanganku berpegangan pada pintu mobil yang terbuka sementara aku menunduk, mendekatkan diriku padanya. Kening kami bersentuhan. "Dan apa yang membuatmu tak percaya, hm…?"

Aku dapat merasakan irama nafas Ciel sesaat lebih cepat—gelisah. Aku bahkan dapat membaui aroma harum shamponya yang segar dalam jarak sedekat ini. Hm. Aku mungkin sudah terkena sindrom Ciellicious? Sindrom pencinta Ciel sampai tahap yang agak mengerikan? Oke, abaikan. Aku akui aku agak sedikit sinting jika sudah membahas masalah mengenai anak ini. Dia membuatku lebih dari tergila-gila.

"Ka-karena dari sekilas pandangan saja, kau sudah sangat berbeda. Kau tidak normal."

Kalau ini komik, maka kata-kata anak itu barusan pasti sudah seperti panah yang menembus jantungku dengan sound effect semacam 'jleb'.

"Aku tidak bilang diriku normal… hanya biasa saja… dan kurasa 'ketidaknormalan' dalam diriku adalah hal yang biasa… kau harusnya setuju soal yang satu ini, iya kan?" tuturku tenang membela diri. Walau rasanya aneh juga membela diri dengan statement 'tidak normal itu biasa'. Astaga! Sekarang aku bahkan merasa seperti sedang menampar diri sendiri supaya sadar bahwa aku ini orang aneh. Terima kasih banyak Ciel darling, sudah mengingatkan bahwa aku ini ternyata adalah pria freak.

Tapi aku juga tidak mau jadi normal jika aku harus melupakan perasaan yang kumiliki untuk Ciel ini.

Aku mencintainya setengah mati! Itu tak diragukan lagi, oke?

"Iya juga… aku lupa soal itu…" Ciel membenarkan perkataanku. Oke, bayangkan ada palu karet raksasa menghantam kepalaku kali ini karena pembenarannya atas statement-ku sendiri barusan. Statement bunuh diri. Aku ternyata cukup bodoh untuk sedikit berharap bahwa dia akan oposisi dengan pendapatku bahwa aku yang tidak normal itu biasa.

"Ah, mulai dari keluargamu saja…" usul Ciel.

"Oke. Ibuku direktur Michaelis Group sekaligus model terkenal di masa mudanya dulu. Kau kenal Victoria Michaelis? Dan ayahku, Albert Michaelis, adalah pemilik firma hukum terkenal di dunia depan. Di dunia belakang dia… pembuat surat-surat illegal… kalau kau paham maksudku… dan yah, setelah menikah dengan ibuku, dia bukannya tobat dan malah menyeret ibuku ke beberapa bisnis gelap lain…"aku geleng-geleng kepala sendiri. Hahaha… jujur saja, kenyataan bahwa orangtuaku adalah partner yang luar biasa kompak di dunia bisnis gelap memang lucu menurutku.

Kupandangi ekspresi Ciel. Dia bengong. Harusnya sekarang alasan mengapa aku bisa jadi tamu VIP di Dark and Light sudah terbongkar jelas. Aku anak dari dua kriminal di bidang intelektual. Dan keduanya cukup professional di bidangnya. Ibuku sekarang bahkan merambah sebagai trader senjata gelap.

"Ibumu… bisnis gelap apa?"

"Perdagangan gelap. Terutama informasi. Dan sekarang sepertinya senjata deh… walau begitu, mereka menghindari gembong narkotik dan human trafficking… soalnya terlalu beresiko dan tidak sesuai dengan pribadi mereka yang manusiawi…"

Ciel begong. Lagi. Kukecup singkat dahinya. Chu~!

"HEI!"

Wajah Ciel memerah dengan spontan. Persis seperti kepiting rebus. Kontras sekali dengan kulit aslinya yang putih pucat seperti orang kekuarangan pigmen. Dan benar kan kecupanku berefek? Bisa menarik Ciel kembali ke kenyataan seperti halnya pangeran Philip membangunkan putri Aurora di dongeng Disney. Atau mungkin seperti di kisah Snow White? Ah, yang mana sajalah…

"Hahaha…" aku hanya tergelak. Lucu melihat wajahnya berekspresi begitu.

"Kau ini kenapa sih suka banget cari-cari kesempatan?" Nada Ciel bicara sangat judes tapi ia juga tampak malu-malu di saat bersamaan.

"Ingat materi terakhir yang kuajarkan di kelas matematika, Ciel? Kalau tidak salah kita belajar tentang 'peluang'… bukankah itu menjelaskan kenapa aku melakukan itu… sebagai guru yang baik kurasa aku harus memberi contoh tentang 'peluang' ,iya kan?"

Peluang dan kesempatan? Memang dua kata yang bersinonim kan?

"KAU TAHU ITU BEDA! JANGAN SOK POLOS DEH!"

"Hahaha…"

.

.

Mobilku meluncur mulus di jalan. Ciel duduk di sisiku—di sisi bangku pengemudi. Hujan gerimis turun perlahan membasahi kaca jendela mobil sebelum akhirnya hujan deras seolah menjadi tirai yang melingkupi London. Ciel menyesuaikan pengatur suhu mobil sebelum kami berbelok ka arah apartemennya.

"Wah, kacau!" seruku spontan sambil memukul sisi setir pelan. Ada sesuatu yang baru kuingat sekarang, Jalannan macet dan hujan. Ini benar-benar serangan ganda.

"Kenapa?" tanya Ciel.

"Di dekat apartemenku sedang ada proyek galian pipa ledeng. Aku tidak yakin mereka mengizinkan mobil lewat kalau hujan deras begini. Potensi kecelakaan. Kau tahulah… Kemarin malah Nenek Sommers—salah satu tetanggaku—terperosok ke lubang galian karena saat pulang malam, penglihatannya memang sudah tak begitu bagus sih..."

"Tidak ada jalan alternatif apa?"

"Lewat udara… kau mau pinjamkan Heli…?"

Ciel memukul pelan pundakku. "Aku serius…"

Aku tertawa. "Ada, tapi aku tidak bisa lewat situ…"

"Kenapa?"

"Terlalu jauh… aku tidak yakin bensinku cukup kalau harus dari mengemudi dari apartemenmu ke apartemenku lewat sana… dan pompa bensin terdekat ada dekat sekolah yang artinya… aku harus putar-putar lagi… Benar-benar pemborosan yang tak perlu. Bisa memperparah global warming lagipula..."

"Aku bisa paham kalimat-kalimat awalmu, Michaelis… tapi tolong tarik kata-kata soal global warming itu. Tidak pantas tahu. Kau sadar tidak sih kalau wajahmu itu condong pada wajah-wajah perusak alam dibanding seorang pemeduli lingkungan?"

Aduh, aduh, Ciel. Bagaimana bisa sih kau begitu imut sekaligus menyebalkan di saat yang berbarengan?

"Yah sudahlah. Bagaimana kalau kau menginap saja hari ini?" tawar Ciel padaku. Dengan wajah sedikit memerah saat mengatakannya. Dia tampak agak enggan sepertinya.

"Hah?" Kalau dia memang tak suka mengapa menawariku, coba?

"Hitung-hitung aku bayar hutang pernah menginap di apartemenmu, oke? Dan kau di sofa. Jangan coba-coba masuk ke kamar karena aku akan tahu…"

"Dengan kebiasaanmu tidur seperti mayat, mustahil kau sadar, Ciel…"

Hahaha… satu angka balasan untukku. Senang rasanya bisa balas meledeknya.

"Jangan sampai aku menarik tawaranku lagi, bodoh…"

Aku mengulum senyum puas sebelum berujar penuh determinasi, "Yes, My Lord…"

.

.

"Kau tahu, rasanya baru dua hari yang lalu aku membereskan semua kekacauan yang seperti akibat sapuan topan itu. Kenapa sekarang begini lagi?" tanyaku dengan ekspresi sedatar mungkin.

Ruangan Ciel hanya sedikit lebih baik daripada yang sebelumnya kubereskan. Grr… padahal sudah kubereskan sampai rapih sekali, kenapa sih kaus kaki itu sudah terbang lagi ke atas buffet tv? Dan kenapa kepingan-kepingan DVD itu bisa berserakan lagi di tempat semula sebelum aku membereskannya? Apakah ada semacam praktik poltergeist di sini, hah?

"Suka-suka aku dong mau buat kekacauan di sini, toh ini rumahku sendiri…"

Aku geregetan sekali kali ini. Kucubit pipinya pelan.

"Bandel juga ada batasnya, Tuan muda Ciel… dan mengerjai saya juga ada batasnya. Mentang-mentang saya tidur di sofa… sengaja sofa anda buat berantakan, begitu?" ujarku sinis sekaligus gemas.

"Hei, kedatanganmu ke sini kan tidak direncanakan sebelumnya… Iya-iya… lain kali akan kucoba untuk rapi…" Ciel mendengus kesal. Aku tahu sih dia tidak suka diatur-atur. Tapi ini mulai keterlaluan. Ckckck… susah ya punya pacar yang manja…

Ciel berlalu ke dapur dengan gaya cuek dan tak peduli yang sudah sangat khas dirinya. Kulihat dia mengambil sebotol susu di kulkas dan meminumnya tanpa menawariku sedikitpun. My… my

"Hei, kalau kau mau serius denganku, bahkan sesudah lewat dari masa pacaran coba-coba ini, aku tidak keberatan datang kesini tiap hari untuk bersih-bersih… sekalian belajar jadi suami yang baik…"

Dan pemandanganku berikutnya setelah mengucapkan itu dengan spontan adalah Ciel yang menyemburkan susunya lalu terbatuk-batuk. Aku mendekatinya sambil menyodorkan sekotak tissue yang ada di meja pantry Ciel dengan prihatin. Tidak kusangka kalimat 'semi' lamaran-ku itu akan menggagetkannya sedemikian rupa.

"Ke—uhuk—napa kau bicara begitu sih?" tanya Ciel dengan suara yang serak. Aih, jadi merasa bersalah membuatnya seperti itu. Ah, ya sudahlah.

"Memang kenapa? Itu kan jujur…?" tandasku dengan nada semanis mungkin.

"Kau tidak perlu pakai kata 'suami' kan?" tanya Ciel berapi-api. Emosi anak ini benar-benar parah.

"Kalau tidak begitu nanti kau menganggapku butler dong? Lebih parah lagi, housemaid, mungkin? Mengingat sifatmu yang nge-bos, itu bukannya tidak mungkin…"

"Well, kau jadi butler-ku saja deh. Amit-amit banget punya suami sepertimu… mesum, monster, malu-maluin, muka genit… Hih!" Ciel berkata sambil membalikan badan memunggungiku. Meskipun dia berkata begitu, aku bisa lihat wajahnya memerah sampai ke kuping. Aih, benar-benar tidak jujur dia ini.

Dan…

Hei! Dia mulai berani melawanku begitu. Benar-benar deh. Anak ini rasanya semakin hari semakin tidak takut saja padaku. Atau jangan-jangan wibawaku yang berkurang ya? Aargh… tapi dia benar-benar tidak membosankan. Rasanya bahkan seumur hidup itu kurang lama untuk mencintainya.

Lagipula, aku sendiri bertanya-tanya kapan kiranya dia baru akan jujur pada dirinya sendiri? Siapapun yang melihat eksperesinya sewaktu kukecup dahinya tadi juga pasti akan langsung tahu dia sudah terpikat padaku. Hei bahkan keyakinanku tembus angka seratus persen untuk kali ini. Dua ratus persen. Boleh taruhan deh…

"Hei, kau lupa aku juga punya kualitas yang oke. Mempesona, manis, menggoda, dan mencintaimu apa adanya…" balasku sambil memeluknya dari belakang dan mencium belakang daun telinganya. "Dibanding semua kekuranganku, rasanya empat faktor itu sudah membuatku sempurna berada di sisimu. Terutama point terakhir itu…"

Ciel berontak dari pelukannku. "Ih, sudah ah. Lepaskan aku, Sebastian! Ini perintah tuan rumah…"

"Tidak mau…" aku merajuk manja. "Kau kan sedang bayar utang padaku… jadi tidak ada yang namanya otoritas tuan rumah malam ini, oke?"

"Ada tidaknya otoritas tuan rumah, itu aku yang tentukan. Lagipula ini teritori-ku. Wilayah kekuasaanku…"

.

.

"Terima kasih buat pinjaman bajunya, Ciel…" kataku setelah keluar dari kamar mandi dalam keadaan benar-benar segar dan seolah seperti habis baterai yang di-charge ulang. Setelah aktivitas melelahkan seharian ini dan ditambah ekstra kerja untuk membenahi sedikit rumah Ciel lagi, mandi benar-benar terasa seperti surga. Untungnya kamar mandi Ciel adalah perkecualian dari area sapuan topan di apartemen itu. Seperti semua kamar di apartemen itu, kamar mandinya cukup bersih, yang membedakannya hanya kerapiannya saja. Mungkin satu-satunya bagian rumah yang ia ingat untuk jaga kerapiannya hanya kamar mandi itu.

Mungkin karena tidak mungkin meletakan buku, DVD, dan benda-benda lain di kamar mandi ya makanya kamar mandinya rapi?

Ciel meminjamkan kaus dan celana ayahnya. Untung ukurannya pas. Dokter Vincent memang punya postur yang bagus sih. Sama sepertiku. Walau hanya celana training dan kaus putih polos—Ciel terlalu malas mencari di kotak baju mana piyama ayahnya berada—pakaian bersih sehabis mandi memang oke. Dan untungnya di bawah apartemen Ciel ada minimarket sehingga aku bisa mempersiapkan keperluan menginapku seperti, sikat gigi, pakaian dalam, dan beberapa camilan sebagai sogokan supaya tuan rumahku ini bisa bersikap sedikit manis padaku.

Karena menggunakan shampoo dan sabun yang sama dengan Ciel, sekarang aku merasa seperti tengah memeluknya. Hm. Wangi yang memanjakan hidung. Sabun dengan wangi mint ini memang khas Ciel sekali. Shampoonya juga. Mengingat aku tidak menemukan kondisioner di kamar mandinya, aku agak heran, darimana ia bisa mendapatkan rambut sehalus bulu-bulu kucing itu.

"Ciel…" kupanggil ia sekali lagi sementara mataku mencari ke seluruh penjuru apartemen.

"Di sini…" sahutnya dari balik sofa. Hm, pantas saja aku tak melihat dia. Dia kan pendek. Jadi tertutup sandaran sofa deh.

Ciel sudah membereskan sofa bed itu dan membuatnya nyaman dengan penambahan beberapa bantal dan juga selimut. Sekarang malah dia yang keasyikan duduk di sana sambil menonton TV di channel yang sedang menampilkan acara musik. Ia bergelung nyaman di dalam selimut putih yang malah tampak seperti mantel pembungkus saat ia duduk dan memakainya menutupi seluruh badan.

Aku beringsut ke sofa bed itu untuk bergabung dengan Ciel. Dia tidak protes. Matanya terpaku pada layar kaca di hadapannya.

"Kalau memang kedinginan, atur suhu AC-nya saja…" aku memberi saran.

"Tidak ah, aku lebih suka berada di suhu sangat dingin sambil bergelung di bawah selimut… rasanya nyaman."

"He…? Kebiasaanmu mirip orangtuaku. Kurasa kalian akan cocok sebagai mertua dan menantu…"

—plak!

Kepalaku ditampar lagi.

"Jangan bicara seolah besok kita mau menikah!" tukasnya judes.

"Iya… iya… itu kan bercanda yang hanya setengah serius… aku tahu, memang ada beberapa orang yang suka sepertimu begitu kok…"

"Ngomong-ngomong…" Kali ini perhatian Ciel teralih dari acara TV. "Kau belum ceritakan lengkap tentang siapa dirimu…"

"Kau masih mau membahas ini?"

"Kau sudah janji mau cerita. Jangan protes!" perintahnya dengan nada yang mengisyaratkan bahwa dia tak ingin dilawan.

Dapat kulihat di sorot matanya, Ciel sungguh-sungguh penasaran ingin mengetahui tentang keluargaku. Aku sih tidak keberatan. Walau mungkin sebagian orang akan merasa malu punya orangtua dengan profesi yang 'tidak biasa', aku sih santai saja. Habis, kenyataannya memang begitu kan? Dan jika para sesama 'penerus' sepertiku, baik mafia ataupun semua yang lebih parah, bisa merasa biasa saja terhadap pendahulu mereka, kenapa aku tidak? Iya kan? Toh, tidak biasa itulah yang membuat hidupku sedikit banyak lebih menarik daripada kebanyakan orang.

"Aku anak tunggal dari Albert dan Victoria Michaelis, Ciel. Dan aku sudah ceritakan padamu tentang pekerjaan mereka. Apalagi yang mau kau tahu?" tanyaku lagi.

"Apa sajalah. Tapi cerita yang benar. Aku tidak mau dengan soal mars atau negri antah berantah…"

"Hm, baiklah. Kau tahu kan dulu aku pasien ayahmu? Aku ini mengalami kebutaan sejak lahir dan akhirnya setelah sekian tahun menunggu, aku mendapatkan donor mata… dan aku juga jadi mengenalmu karena itu…"

"Oh… bicara tentang masa kecil, aku tidak ingat pernah lihat orangtuamu pernah mendampingimu di rumah sakit… Padahal kalau aku pernah lihat, pasti aku ingat soal orangtuamu. Dua-duanya kan terkenal…"

"Jelas kau tidak akan ingat. Mereka jarang bisa datang. Saat mereka ada, kaunya tidak ada…" kataku tenang. Memang dari kecil, aku sudah biasa ditinggal sih. Aku tidak bisa banyak menuntut. Aku tahu sekali keduanya orang sibuk. Namun begitu, mereka tidak pernah lupamelimpahiku dengan kasih sayang. Untuk yang satu itu aku sangat bersyukur.

"Kau pasti kesepian sekali…" ujar Ciel pelan. Baru kusadari Ciel memiliki perasaan yang teramat halus walau ia telihat tidak peduli pada orang lain.

"Memang. Tapi mereka sayang padaku. Dan kurasa itu cukup…"

"Oh… ya, kurasa itu sisi positif mereka…" Ciel mengangkat bahu. "Tapi bukan berarti aku setuju dengan orangtua yang begitu… kurasa yang namanya waktu bersama itu harus ada…"

"Bukankah ayahmu dokter yang sibuk ya, Ciel? Aku yakin aku lebih sering menghabiskan waktu bersamanya saat aku di rumah sakit dibanding denganmu yang di rumah terus…" komentarku sambil memerhatikan air muka Ciel yang tampak datar-datar saja. Ada saat-saat Ciel seperti sebuah buku yang isinya ditulis dengan bahasa yang tak kukenal. Sulit sekali ia dibaca dan dipahami. Aku hanya bisa menebak-nebak.

"Kan ada Ibuku…" sahut Ciel cuek. "Tapi sekarang aku sudah terbiasa hidup sendiri sih, haha…"

"Hm, aku kagum padamu. Padahal kau lengket sekali dengan orangtuamu. Tapi kau masih bisa tabah…" aku memuji dengan tulus. Sama sekali bukan untuk mendapatkan simpatinya. Aku memang kagum padanya. Ditinggal kedua orangtuanya di usia muda, bekerja sebagai penari di club paling booming saat ini di Inggris dengan menyembunyikan umurnya, dan sudah bisa hidup mandiri. Bukan hidup yang mudah.

"Semua juga bisa sepertiku jika terpaksa, Sebastian…"

Kuperhatikan, Ciel akan menyebut namaku jika pembicaraan kami cenderung santai. Ia akan memanggilku Michaelis jika ia sedang ingin menyindirku atau sedang kesal. Hm, berarti pembicaraan ini biasa saja baginya, ya?

"Sekarang giliranku yang tanya ya…" kataku sambil bertopang dagu. "Kau kenal dance gambling sejak kapan sih?"

"Bukankah aku pernah bilang? Dua tahun lalu…" jawabnya cuek.

"Bagaimana kau bisa mengenal Lau?" aku memang tidak tahu. Aku tahunya hanya, pada suatu waktu dulu, aku mampir ke Dark and Light dan voila! Aku menemukan cinta pertamaku di sana. Menari dengan kostum kebesaran untuk menyamarkan tubuh ringkihnya dengan hoddie menutupi wajah manisnya. Membuatku terpesona. Aku tidak mungkin salah mengenalinya saat itu. Walaupun tariannya sudah berbeda dengan yang dulu, jiwa yang sama masih terbaca di gesturnya.

Dia alasanku menari. Tidak mungkin aku lupa pada tariannya 'kan? Seberbeda apapun da sejauh apapun dia berkembang. Tariannya selalu membuatku tertarik.

"Aku tadinya menari hanya untuk hobi saja. Dulu aku sudah muncul dengan nama Light di daerah East End. Kau tahu daerah yang agak rawan itu kan? Dulu, street dance sangat populer di sana dan aku juga banyak belajar dari para penari senior. Awalnya Alois yang menemukanku di sana dan menawariku bekerja untuk sepupunya yang sedang mencari free style dancer handal untuk dijadikan petarung di arena gambling."

"Dan kau langsung setuju?"

"Kalau bisa menjadikan hobiku sebagai sumber uang, kenapa harus menolak coba? Aku sudah lama ingin kerja sambilan…"

"Bibimu kan masih bisa membiayaimu? Dia dokter yang sangat terkenal…"

"Aku tidak mau membuatnya repot. Warisan orangtuaku masih cukup sampai aku kuliah. Dan jangan bilang kau lupa aku ini penerima beasiswa dengan indeks prestasi sempurna. Siapa tahu aku dapat kesempatan kuliah gratis…" kata Ciel dengan gaya angkuhnya yang biasa.

Iya juga. Beberapa saat ini aku sering lupa bahwa bocah ini—oposisi dengan betapa cuek dirinya—adalah salah satu yang terpandai di kelasnya. Bahkan mungkin dia bisa dikategorikan jenius. Bukan hanya di kelas. Tapi di seluruh sekolah. Aku pernah melihatnya menemani salah satu guru yang sudah agak tua bermain catur sebelum ini. Dan dari permainannya aku tahu kepandaiannya itu bukan hanya masalah laporan akademik. Ciel luar biasa cerdas.

"Ngomong-ngomong soal kuliah, kau akan ambil jurusan apa, Ciel?" tanyaku penasaran. Walau dia belum akan lulus dalam waktu dekat, kurasa penting untuk membicarakan ini. Walau aku yakin, ia tidak mungkin ditolak oleh pihak universitas manapun yang dipilihnya.

"Mungkin ekonomi atau kedokteran. Aku belum memutuskan…" Ciel menjawab sambil mengangkat bahunya.

Acara musik di TV sudah terabaikan begitu saja seiring dengan betapa mengalirnya percakapan kami. Aku suka sekali momen seperti ini. Bicara berdua. Mengenal satu sama lain lebih jauh. Kekosongan selama sekian tahun kami berpisah memang hanya bisa diisi dengan yang seperti ini kan?

"Hukum saja. Nanti kau jadi juniorku. Aku mau jadi tutor-mu…"

"Terima kasih, tapi kurasa nilaiku bisa hancur deh kalau diajari oleh pelanggar hukum sepertimu."

Entah kenapa dia ini suka sekali sih menghancurkan atmosfer manis yang sedang kubangun dengan cara bicaranya yang pedas itu? Hah? Dasar bocah! Tidak punya sense romance. Tapi itu juga sih yang membuatnya lucu. Reaksinya selalu segar dan tidak membosankan setiap kali kugoda. Jujur saja, sebelum ini pun aku sudah punya beberapa kekasih. Namun kebanyakan dari mereka membuatku bosan dengan cepat. Mungkin karena sebenarnya, di dalam hatiku, aku hanya mengharapkan Ciel sejak dulu ya? Makanya tidak pernah ada hubunganku yang berjalan lama.

Dan, yah… Aku akui, kadang aku menerima pernyataan seseorang hanya karena butuh teman mengisi kebosanan. Begitu mereka sudah membosankan lagi seperti yang lain, ya kutinggalkan. Bukannya aku jahat, tapi buat apa coba mempertahankan sesuatu yang kau tahu tidak akan berakhir bagus? Semakin cepat dibereskan semakin baik.

"Hei, begini-begini, aku warga negara yang teladan tahu. Paling tidak, aku masuk ke sebuah club saat aku sudah cukup umur…" aku meledek dengan sindiran halus.

"Tidak usah menyindir begitu deh…"

Ciel memalingkan wajahnya kembali ke arah acara musik di layar kaca yang tadi sempat ditinggalnya. Ah, dia asyik sendiri lagi.

"Hei, mau ngemil? Ada popcorn nih…" kataku menawari sambil membukakan sebungkus besar popcorn yang tadi sempat kubeli di mini market di bawah apartemen Ciel.

"Boleh…"

"Kalau begitu, jangan setel acara musik. Popcorn itu paling asyik untuk teman nonton horor…" kataku seraya merebut remote control TV. "Hari ini ada jadwal film horor yang bagus, kalau aku tidak salah ingat…"

"Boleh juga. Aku lebih suka horor daripada film romantis yang seringkali tidak realistis…" Ciel mengambil posisi nyaman dan mulai melahap popcornnya.

"Kalau soal romantis, tidak usah nonton film. Aku dan kau saja yang jadi lakonnya… romantis dan realitis," kataku jahil. Aku tertawa lepas sambil mengelak dari lemparan bantal Ciel beberapa saat kemudian.

"Kalau sama kau, lebih baik kita jadi bintang film thriller saja! Kalau perlu gore sekalian!" sahutnya dengan nada kesal. Wajahnya judes, cemberut tapi bersemu pink sedikit.

Aku hanya tertawa pelan. Lagi. Dan Ciel mengabaikanku. Yah sudahlah. Sudah waktunya kami belajar mengisi kebersamaan dengan keheningan yang tidak membuat canggung. Jujur saja, aku merasa nyaman jika berada bersama orang yang tidak membuatku merasa tak enak jika aku tidak membuka percakapan atau apa. Kadang ada kan beberapa yang seperti itu? Membuat kita merasa tak enak dalam diam dan terpaksa mencari-cari topik yang akhirnya terkesan tetap memaksa juga.

Tak berapa lama, perhatian kami tersita—nyaris—sepenuhnya oleh film yang diputar. Film klasis 'Sleepy Hollow' yang tidak penah membuatku jemu untuk menontonnya. Cara sang sutradara membangun atmosfer gelap dalam gaya penceritaannya membuatku kagum.

Sesekali sih aku masih mencuri pandang ke arah Ciel yang asyik saja menonton.

Kupikir-pikir, tampaknya Ciel mulai terbiasa dengan kehadiranku di sisinya dan sudah menerima itu. Dia sudah tidak terlalu defensif seperti dulu. Ini pertanda bagus bukan? Kebersamaan kami terasa sangat alami. Seolah kami ini adalah dua bagian yang saling melengkapi seperti puzzzle. Tidak berlebihan kalau kukatakan mencintainya sama mudahnya seperti bernafas bagiku. Sama pentingnya dan sama berartinya. Tanpa mencintainya aku tak mungkin hidup.

Mungkin bisa, tapi itu hanya berlaku jika aku tidak mengenalnya. Dengan mengenal Ciel dalam hidup ini saja, sudah menjadikan semuanya berbeda. Ciel adalah keping mimpiku yang menjadi kenyataan. Seluruh realitasku sekarang adalah mencintainya. Hanya dirinya.

Aku beharap ia akan segera mengakui—jika dia belum sadar, aku ingin dia menyadari—bahwa dia juga mencintaiku. Bahwa aku juga adalah bagian dari angannya yang menjadi nyata. Sosok yang ada untuk memberinya cinta setelah ia kehilangan kasih dari orangtuanya.

Ciel memang pandai. Tapi untuk hal semacam ini… aku tidak banyak berharap. Bagaimanapun dia tipe yang—jelas—akan menolak habis-habisan gagasan bahwa dia menyukaiku—sejelas apapun itu terbaca dari sikapnya—karena keangkuhan dan gengsinya itu.

Tapi untuknya sih aku tidak keberatan menunggu. Sampai kapanpun…

.

.

Hm…

Kapan semalam aku jatuh tertidur? Aku tidak ingat.

TV masih menyala dan sekarang sedang menyiarkan berita pagi. Aku menggeliat bangun dari pembaringanku dan mengerjapkan mata beberapa kali sampai akhirnya aku ingat bahwa aku sedang di rumah Ciel. Aku bangun pagi sekali. Tampaknya di luar sana matahari belum muncul sama sekali. Atau karena gedung ini menghadap ke Barat ya?

Kulihat jam di sisi kanan bawah layar TV dan ternyata memang masih sangat pagi. Hm… Nah, mana Ciel pagi-pagi begini? Pasti dia masih tidur nyenyak di ka…

—ah.

Dia tertidur di sofa juga—di sisiku. Berarti semalam kami bersama lagi? Haha… entah apa reaksinya kalau dia mengetahui ini. Pantas tidurku nyenyak sekali. Dia ini memang lebih baik dari guling berkualitas tinggi manapun. Aku bahkan tidak yakin ada zat sedatif yang bisa membuatku terlelap nyenyak senyaman jika ia berbaring di sampingku—menemaniku. Dia memunggungiku. Dapat kuperhatikan betapa mungil bahunya. Dan betapa putih kulit di belakang lehernya yang tertutupi helaian kelabunya yang halus.

Kurengkuh pundak kecil itu pelan dan kukecup kulitnya yang putih mulus dan terekspos piyama longgar yang ia pakai tidur. Namun agaknya, gerakanku itu membuatnya sedikit bereaksi. Padahal aku sudah bergerak sehalus dan selembut mungkin.

Ciel memutar badannya pelan. Berbalik arah dari yang semula memunggungiku; kini dia menghadap ke arahku.

Kuperhatikan wajah tidurnya yang polos. Manis sekali. Bahkan memandanginya saja tidak membuatku bosan. Dia pasti memang pasangan yang ditakdirkan untukku. Aku yakin, masalah kebosanan yang seringkali menjadi bom waktu dalam kehidupan cinta banyak orang tidak akan terjadi pada kami.

Aku mengusap pelan kepalanya; membiarkan helaiannya menyapu telapak tanganku—meninggalkan jejak sensasi yang membuat damai.

Hm, ini bahkan lebih baik dari mengelus kucing.

"Nngh…"

Ah! Dia terbangun.

"Pagi, Ciel…"

Ciel mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum tersentak.

"Kau…"

"Ini di ruang tamu lho. Aku tidak menyalahi peraturanmu untuk tidak masuk ke area pribadi…" kataku sambil mengangkat kedua tanganku dan mengedikan bahu—sambil nyengir lebar.

Ciel mengedarkan dua orbs biru mempesonanya ke seluruh ruangan dan mengidentifikasinya.

"Oh…"

"Hm, ini masih terlalu pagi untuk ke sekolah lho… sebaiknya kau tidur lagi sebentar, matamu masih kelihatan ngantuk tuh. Aku akan buatkan sarapan…"

Aku bangkit berdiri dan mengacak rambutnya pelan. Kubujuk dia untuk kembali rileks berbaring dan yah… tak sampai lima menit sampai ia kembali mendengkur seperti kucing. Senangnya hari ini tidak ada amukan singa di pagi hari. Tidak seperti waktu itu. Haha…

.

.

~To Be Continued~

.

.


Ini… Sebenernya saya nulis apa ya? *plak*

Finally, update! Ya, ampun… Ini beneran telat tingkat tinggi deh… maafkan saya, teman…

Dan di sini Sebastiannya… Kayaknya OOC banget… Astaga, lama ga ngurus fic ini, jadi agak susah rasanya…

Well, tinggal satu atau dua chapter lagi sebelum ending… mungkin juga tiga… Hm, kita lihat nanti… saya juga masih bimbang…

Dan… Walau ini sempat agak nyerempet rate M (di beberapa chapter awal), saya ga akan bikin lemon… haha…

Karena saya nggak bisa… dan yah, saya mencoba harus mengurangi intensitas fangirling BL begini…

See you in next chapter, guys! (Walau saya nggak tahu bakal kapan diupdate)

Salam manis,

-Yuki-