「俺たちの貴重な巴」のSPECIAL PAGE!

~サクラの 誕生日の ために~

"Untukmu, Sakura: Zutto Arigatou'tte"

©Andromeda no Rei

.

Standard Disclaimer Applied

.

.

.


Sebuah kisah sederhana—yang diawali dengan berakhirnya musim dingin di awal tahun, hangatnya sinar matahari yang menyemangati setiap tunas untuk tumbuh dan bersemi—memekarkan setiap kuncup yang tertidur, hingga mengembangkan senyum setiap penduduk.

Konohagakure no Sato. Desa ini amatlah tenang sejak beberapa tahun terakhir—seperti halnya awal musim semi tahun ini. Kicauan burung gereja menemani langkah kaki-kaki kecil anak-anak akademi yang hendak menjalankan tugas harian mereka sebagai telur ninja yang sedang berkembang—yang kelak melanjutkan tugas mulia tetuah-tetuah untuk melindungi desa dan negaranya.

SREET

Seorang anak perempuan berambut spiky pendek—Uchiha Satsuki—melingkari salah satu angka dalam kalender bulan Maret dengan spidol merah.

"Hari ini ulang tahun kaa-san dan kita belum persiapkan kado apa-apa." Seorang di belakang Satsuki, Tsuyoshi, memulai obrolan. Ia melipat tangannya di depan dada dan mendesah kecil.

"Ini semua salahmu, ingat?" Satsuki membalik badannya dan menatap bocah laki-laki yang lebih muda 5 menit darinya.

"Apa? Kau menyalahkanku?" protes Tsuyoshi dengan suara melengking. "Memangnya siapa duluan yang terus-terusan ngajak latihan jurus bunshin? Kau sih ambisus banget."

"Aku tidak!" balas Satsuki sengit.

"Berikan itu padaku!" Tsuyoshi merampas spidol merah di tangan Satsuki dan maju selangkah mendekati kalender yang tertempel di tembok bercat krem itu. "Mulai tanggal ini..." Tsuyoshi melingkari angka 20 kemudian membuat garis lurus sampai angka 27 dan melingkarinya juga. "...sampai tanggal 27 kemarin, mestinya kita sudah persiapkan kado untuk kaa-san."

"Tidak usah sok strategis gitu," ucap Satsuki sambil merampas kembali spidol merahnya. Gadis kecil bermata viridian itu kemudian mencoret angka-angka yang ditandai Tsuyoshi. "Kau bahkan belum kepikiran kita harus memberi hadiah apa tahun ini, 'kan?"

"Kau benar." Tsuyoshi menundukkan kepalanya. "Jadi... bagaimana?"

Satsuki mengangkat bahunya sebagai jawaban. Hening menyelimuti keduanya, lengkap dengan aura kegalauan yang menari-nari pada atmosfer sekitar mereka.

"Hei, kalian dua bocah Uchiha tengik~"

Sebuah suara baritone dengan nada kecewekan terdengar dari belakang Uchiha bersaudara itu. Keduanya menoleh bersamaan, mendapati Hachiko-jichan—pemilik kedai yang setengah banci itu tengah men-deathglare mereka dengan sebuah spatula teracung di udara.

"Aa, konnichiwa, Hachiko-jichan," sapa Tsuyoshi sambil sedikit membungkukkan badan mungilnya.

"Sopan sekali~" puji Hachiko dengan suara parau. "Tapi kalian tahu tidak? —BAHWA MENCORAT-CORET PROPERTI DI KEDAIKU SAMA SEKALI TIDAK SOPAAANN~!"

"Whuaaaaa~~~"

"Lariiiiii~~~"

"Kembali kaliaaaannn~~! Dasar bocah-bocah kurang kerjaaaaannn~~!"

.

.

...xxXO0Oxxx...

.

.

"KADO?"

"Iya! Nii-san bakal ngasi kado apa untuk kaa-san?" Tsuyoshi memajukan wajahnya, tampak antusias menunggu jawaban sang kakak.

"Bagaimana, ya," Ken merapihkan kunai dan shuriken yang dari tadi ia gunakan untuk berlatih. Cowok tampan bermata viridian itu menghela napas kemudian menyandarkan punggungnya pada batang pohon, menerawang entah ke mana. "Sebenarnya nii-san tidak ingat kalau hari ini ulang tahun kaa-san."

"Nii-san hidoii!" seru Tsuyoshi sambil melempar dedaunan kering ke arah Ken.

"Ahaha, hei—jangan ngambek gitu." Ken terkekeh kecil dan menjangkau kepala Tsuyoshi yang menggembungkan pipinya kesal, mengacak-acak rambut sewarna permen karetnya.

"Nii-san sih..."

"Lagipula kaa-san bakal pulang larut hari ini," lanjut Ken tenang. Ia kembali menyandarkan punggungnya dan menerawang berkas-berkas sinar matahari yang menembus celah dedaunan.

"Eh? Hontou ka?" kali ini Satsuki bersuara.

Ken menatap adik perempuannya itu dengan segaris senyum tipis. "Un," angguknya pelan. "Baru saja kaa-san ngirim pesan lewat tsubame. Kaa-san pasti sibuk banget."

"Sokkana..." air muka Tsuyoshi berubah murung.

"Oh ya, setelah bikin makan malam nanti, nii-san bakal langsung berangkat misi dengan beberapa jounin lain ke Kumogakure." Ken berujar sambil mengemasi katana dan kantung senjatanya. "Kalian tolong jaga rumah sampai tou-san pulang, ya."

"Misinya penting?" tanya Tsuyoshi sembari menelengkan kepalanya.

"Ini misi tingkat A pertama nii-san setelah dilantik sebagai jounin minggu lalu—tentu saja penting, Tsuyoshi," jawab Ken dengan nada geli. Ia beranjak dari posisinya dan membersihkan belakang celananya dari rerumputan yang menempel.

"Nii-san tidak akan pulang sampai...?" suara Satsuki mengambang. Entah mengapa ia tidak ingin melanjutkan pertanyaannya.

"Gomen ne, Satsuki, Tsuyoshi." Ken tersenyum lembut menatap kedua adiknya yang berwajah kusut. "Nanti kalau kaa-san sudah pulang, sampaikan maafku juga, ya."

Satsuki dan Tsuyoshi masih menatap sang kakak dengan tatapan tak percaya, sebelum akhirnya cowok berambut raven jabrik itu melesat pergi diiring dedaunan yang beterbangan.

.

.

.

"Kita tidak mungkin mengharapkan tou-san."

"Sou, ne. Dia bahkan lebih sibuk dari Hokage."

"Lalu bagaimana?"

"Kau punya uang berapa?"

"Uang sakuku tinggal segini."

"Punyaku segini."

"Bagaimana menurutmu?"

"Kita coba saja."

"Un."

.

.

...xxXO0Oxxx...

.

.

"Sakura-san, tolong pasien di ruang operasi 303!"

"Sakura-san, tolong bantu transfusi chakra di ruang ICU 04!"

"Sakura-san, bagaimana kondisi Watanabe-sama?"

"Sakura-san, terima kasih banyak!"

"Sakura-san, otsukaresama!"

"Sakura-san—"

"Sakura..."

"Saku..."

Sakura memperhatikan jam digital di meja kerjanya dengan begitu intens. Dan ia benci mengapa angka-angka itu berubah dengan begitu cepat, membuat hari yang begitu melelahkan ini terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Padahal ia ingin menghabiskan malam ini di rumah bersama anak-anak dan suaminya tercinta, Uchiha Sasuke. Hari ini ulang tahunnya, Sakura ingat itu. Karena itulah ia ingin masak besar-besaran di rumah dan berkumpul bersama keluarga. Tapi lagi-lagi keadaan selalu tidak memungkinkan.

'Aku bukan istri dan ibu yang baik...', batinnya sambil menjedotkan dahi lebarnya pada meja. Sakura mendesah pelan dan mengangkat kepala merah mudanya. Diliriknya kalender yang menunjukkan tanggal 28 Maret hari itu. Raut muka kecewa terpancar jelas pada wajahnya yang semakin menunjukkan kedewasaan.

Padahal sang Hokage, Uzumaki Naruto—yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, telah memberinya libur seharian penuh. Tapi tetap saja medic-nin asuhan Godaime Hokage itu bersikeras ingin menyelesaikan tugasnya di rumah sakit, tidak ingin menelantarkan pasien-pasien yang benar-benar membutuhkan uluran tangannya demi mempertahankan nyawa.

Ah, tipikal Sakura.

Jam digital yang bertengger manis di meja kerja Sakura kembali mengeluarkan bunyi 'pip' pelan, menandakan kini telah lewat tengah malam. Rumah sakit telah sepi sejak beberapa menit lalu, dan Sakura masih belum ingin pulang. Ia hanya ingin menenangkan otot-ototnya yang sedikit menegang. Ia terus menelungkupkan wajahnya di antara lipatan lengannya di atas meja.

Sepi... hanya suara-suara jangkrik dan hewan-hewan malam yang terdengar dari luar jendela yang terbuka.

"Haah... bagaimana keadaan di rumah, ya..." gumam Sakura dengan sisa suara kecilnya. "Apakah Satsuki-chan dan Tsuyoshi-kun makan banyak...? Apakah Ken-kun sudah berangkat menjalankan misi tingkat A pertamanya...? Apakah Sasuke-kun sudah pulang...? Apakah—"

"Apanya yang apakah?"

Bola mata viridian Sakura terbelalak sempurna. "SASUKE-KUN!" serunya seraya beranjak dari posisi telungkupnya.

"Hn, kau capek," respon Sasuke yang masih tak mengubah posisinya; berdiri pada frame jendela ruang kerja Sakura yang terbuka, menampakkan siluet tubuh tegapnya.

Sakura berdiri dan berjalan pelan menghampiri suaminya. "Kenapa Sasuke-kun tidak langsung pulang saja?"

"Kita pulang sama-sama," jawabnya pelan.

Dengan senyum lebar terkembang di wajah manisnya yang hanya diterangi cahaya bulan, Sakura mengangguk antusias. Ia menyambut uluran tangan Sasuke dan mereka menghilang dalam waktu sepersekian detik.

.

.

.

"WAAA~I! Bintangnya penuh! Ara, Sasuke-kun—mite! Lihat, itu bima sakti..."

"Kau bertingkah seperti Tsuyoshi empat tahun, Sakura," ujar Sasuke menanggapi ocehan kecil Sakura dalam perjalanan pulang mereka. Kondisi desa yang sudah gelap memang membuat langit tampak lebih terang dari bumi—menampakkan jutaan kerlip bintang, membuat Sakura tidak henti-hentinya berdecak kagum. "Kau pasti sangat kelelahan."

"Tidak, Sasuke-kun—aku serius!"

"Hn, baiklah, bintangnya memang bagus." Sasuke melirik Sakura sekilas. Ah, ia jadi ingat sesuatu sekarang.

"—deshou? Coba Satsuki-chan dan Tsuyoshi-kun juga bisa melihatnya sekarang, yaa..."

"—Sakura." Sasuke manghentikan langkahnya, membuat Sakura turut berhenti dan menatapnya bingung.

"Doushita no, Sasuke-kun? —ada apa?"

"Aku tidak tahu harus memberi kado apa," lanjut Sasuke sambil mengusap tengkuknya. Ia tidak berani menatap sang istri saat itu.

Hening lama. Sakura masih tidak merespon. Dan ketika Sasuke kembali melihat bagaimana reaksi wanita di sampingnya, ia sedikit terkejut menatap Sakura yang tengah memperhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Untuk ulang tahunmu... hari ini."

"Pffftt... ahahahahahaha~" tawa Sakura meledak seketika, membuat Sasuke sedikit kesal dengan muka memerah karena keseriusannya ditanggapi seperti candaan. Hei, Sasuke beneran serius ingin memberi kado, tapi ia bingung!

"Sakura..."

"Ahaha, baik, baik, gomen na, Sasuke-kun," ujar Sakura sambil menghapus setetes air mata di ujung matanya. Setelah sedikit mengatur napas, wanita berambut merah muda sebahu itu berdiri tegak dan sedikit mendongak menatap Sasuke. "Daijoubu da yo ne, Sasuke-kun—tidak apa kok, sungguh." Tangan kanan Sakura bergerak, menjangkau kepala raven Sasuke dan mengelusnya pelan.

Sasuke memang tidak merespon apa-apa, namun perubahan ekspresi wajahnya yang semakin kebingungan membuat Sakura kembali ingin tertawa.

"Sasuke-kun ingat hari ini ulang tahunku saja, aku sudah sangat senang," lanjut Sakura masih memperhatikan rambut Sasuke yang dibelainya. "Sebenarnya hari ini aku berniat masak besar-besaran—hitung-hitung merayakannya bersama kalian. Tapi sepertinya memang tidak mungkin, ya," lanjutnya sambil tersenyum kecut. Ditatapnya sepasang onyx di hadapannya. Kemudian ia berjinjit kecil dan mengecup singkat bibir dingin di depannya. "Gomen ne, Sasuke-kun..."

"Sakura—" saking terperangahnya dengan ungkapan dan aksi dadakan sang istri, suara Sasuke seolah tercekat di tenggorokannya. Ia memutuskan untuk diam saja, memperhatikan Sakura yang kembali menengadah menatap langit berbintang di atas mereka.

"Ano ne, Sasuke-kun ingat tidak?" ujar Sakura yang masih menatap ke atas. "—waktu kita genin dulu, waktu pergi misi bersama Kaka-sensei dan Naruto, kita bermalam di sebuah tanah lapang. Tidur di bawah hamparan langit berbintang seperti ini. Kerei datta—saat itu benar-benar indah."

"Hn..."

"Iya, 'kan?" kali ini Sakura mengalihkan pandangannya dan menatap Sasuke. Onyx dan viridian kembali bersirobok, sampai akhirnya Sakura kembali memutuskan pandangan dan menatap langit. "Lalu... suatu hari, ketika Sasuke-kun akan pergi dari desa... malam itu sebenarnya juga—langitnya sangat indah. Hanya saja..." Sakura menurunkan pandangannya, menatap kosong jalanan sepi di depannya. "...hanya saja saat itu kita berdua terlalu sibuk untuk urusan lain."

"..."

"S-sou ne, itu sudah lama sekali." Sakura melanjutkan dengan nada riang yang bergetar—menahan tangis. "... Sasuke-kun pasti tidak i—"

"Oboeteru yo—aku ingat."

Sakura tersentak kecil. Kedua tangannya yang sedari tadi mengepal kini terkulai di samping tubuhnya. Air mata yang dari tadi ditahannya, sudah tak lagi terbendung—merembes deras dari pelupuknya yang menghangat.

Sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum tulus.

Tidak sakit, kok. Hatinya tidak sakit—seperti saat itu. Entah mengapa rasa bahagia meluap-meluap begitu hebat. Sampai-sampai ia ingin meneriakkannya, memamerkannya pada setiap hewan malam saat itu—pada bulan dan bintang saat itu, pada langit, pada pepohonan.

Terima kasih...

Terima kasih karena selalu menjaga dan melindungiku...

Terima kasih, telah bersedia menerimaku dengan segala kekurangan ini...

Terima kasih— tidak pernah melupakan kenangan kecil di suatu waktu yang telah jauh berlalu...

telah jauh berlalu...

Sejak dulu...

... sekarang pun...

zutto arigatou.

.

.

...xxXO0Oxxx...

.

.

Hal pertama yang ditangkap indra penglihatan Sasuke dan Sakura ketika mereka memasuki rumah adalah: Satsuki dan Tsuyoshi yang tertidur meringkuk dengan selimut tebal menutupi tubuh mereka sebatas dagu—di lantai ruang tengah, dengan potongan-potongan kertas bekas dan bunga-bunga liar bertebaran di lantai.

"Apa yang—" kalimat Sakura terhenti ketika ia melihat makhluk lain teronggok di ruangan itu. Ken—menelungkupkan kepala di antara lengannya pada kotatsu di sebelah Satsuki. Bahunya naik-turun pelan, menandakan ia telah benar-benar terlelap. Di depannya terdapat tart kecil dengan hiasan setengah jadi bertuliskan kanji otanjoubi omedetou kaa-san—selamat ulang tahun, kaa-san.

Tunggu. Bukankah Ken ada misi tingkat A malam ini? Bukankah ia seharusnya tidak di rumah? Ah, Ken-kun...

Sebuah kotak berukuran sedang, pita merah maroon, dan beberapa clay mentah berserakan di hampir penjuru ruangan itu.

Sakura berlutut di sebelah Tsuyoshi dan merapikan selimutnya. Ia kemudian beralih pada Ken dan mengusap-usap rambut jabrik cowok itu. Mata Sakura menangkap secarik kertas dengan coretan-coretan warna-warni di sebelah tart kecil Ken. Ia mengambilnya, dan tersenyum membacanya.

Kaa-san daisuki!—kami sayang kaa-san!

Sakura menggigit bibir bawahnya, sekali lagi—menahan air mata yang tiba-tiba ingin segera meluap.

Kaa-san, arigato'!—makasih ya, kaa-san!

Tidak bisa. Pada akhirnya air mata Sakura memang tidak pernah bisa dibendung.

Kaa-san, ganbatte!—berjuanglah, kaa-san!

Berbagai memori berputar dalam kepalanya. Wajah penuh cengiran rubah khas Naruto, senyum jahil Kakashi-sensei di balik maskernya, senyum nakal Ino, Hinata yang tersipu malu, teman-teman rookie dua belas, wajah ceria penduduk Konoha...

Wajah tegang shinobi-shinobi saat perang...

Wajah sedih, isak tangis, air mata, ketika kehilangan segala yang berharga...

Punggung Sasuke...

Ah, Sasuke... Uchiha Sasuke—dengan setiap ekspresi anehnya...

Tertawanya...

Jengkelnya...

Senyum sinisnya...

Kelahiran pertama, Uchiha Ken yang kritis...

Si kembar Satsuki-Tsuyoshi yang bandel...

Semuanya...

Sudah berapa kali Sakura tertawa? Berapa kali Sakura menangis? Berapa kalipun, siklus itu akan terus berputar dalam kehidupan. Setiap kesedihan, setiap kebahagiaan—tidak akan terlupakan. Karena dengan melalui semua itulah ia terus berkembang. Terus... menjadi kuat.

Sakura tidak membutuhkan hadiah kejutan hebat dari siapa pun.

Dulu, kemarin, hari ini, esok—serta jauh jauh hari di masa depan nanti, bersama Sasuke dan anak-anaknya—adalah kado yang tak ternilai dalam hidupnya.

'Kaa-san, arigtou!'

'Sakura... arigatou...'

Terima kasih...

telah menemaniku melukis

sebuah kisah luar biasa

tentang hari-hari penuh warna

bersama orang-orang yang sangat kucintai

Terima kasih...

telah menghapus jejak air mata

pada diriku yang cengeng,

memberi kekuatan

pada diriku yang rapuh dan lemah,

dan tersenyum penuh ketulusan hati

untukku seorang.

.

.

.

SPECIAL PAGE

"Untukmu, Sakura: Zutto Arigatou'tte"

おしまいだよ!


Author's Note:

Kotatsu : meja rendah yang biasa ada di ruang tengah rumah jepang, juga berfungsi sebagai penghangat saat musim dingin.

chapter spesial seri TIGA TOMOE untuk ulang tahun Sakura-chan yang telat beberapa hari. Hweeeee~~ gomen-nasaaaaaiii, Sakura-chwaaaannn~~! (TT~TT) hampir gak ada waktu nih. Ide aja muncul tiba-tiba. Ngetiknya tengah malem, padahal besoknya ada kuis! DX

Ah, pokoknya 誕生日おめでとう、サクラちゃん! サクラちゃん 大好き!! (^0^)semoga sukaaa~~

Salam,

Al-Shira Aohoshi

a.k.a Andromeda no Rei