Author Note : hay hay! Sudah update! Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa update lagi sebelum fanfiction akan diblok oleh pemerintah. Saat ini sudah menjadi isu panas, karena sudah beberapa operator memblokir situs ffn. Dari kabar yang kudengar, nanti tahun 2015 seluruh operator akan memblokir sepenuhnya situs ffn dan tidak bisa diakses lagi oleh pengguna internet Indonesia. Oh well, semoga saja isu ini tidak sampai terjadi ya!

Your Other Life

Chapter 50 : Second Key

Kami segera berlari mendekati Silent Wind begitu Tornado cukup jauh darinya. Entah mengapa, aku merasa kecepatan lari sepertinya lebih cepat, sehingga aku mendapatkan kesempatan menyerang pertama.

Huh? Tidak biasanya Silent Wind tidak menyerang setelah aku menyerangnya. Mungkinkah seluruh magic power-nya habis saat memanggil tornado tadi? Jika iya, baguslah! Aku jadi tidak perlu repot-repot lagi menghindari serangannya dan bisa focus menyerang.

Meski begitu, perasaan waspada mulai kutingkatkan begitu tornado menghilang. Silent Wind masih belum kehabisan HP. Nii-san bilang tinggal sedikit, tapi mungkin seranganku terlalu lemah, sehingga membuat jumlah HP Silent Wind berkurang begitu pelan.

Setelah melemparkan ether, kugunakan sebuah skill. Serangan skill memang lebih kuat dari serangan biasa, sehingga lebih cepat mengurangi jumlah HP Silent Wind.

"Roxas!" seruku saat mengajaknya menyerang bersama.

Roxas memberi anggukan dengan senyuman. Aku memperhatikan aba-abanya yang bersiap menggunakan sebuah skill.

"Take this! Upper Cut!" Keyblade Roxas yang berada di bawah, mengenai rumput, memukul vertical ke atas dengan sekuat tenaga. Silent Wind terlempar, tapi tidak sampai di sana saja. Skill kedua akan digunakannya. "Light Spear!" Roxas melompat diagonal dan menusuk Silent Wind secepat kilat.

Di bawah, aku sudah bersiap menyerang dengan menembakan energy. "Azure Strike!" Sebuah cahaya merah meluncur dan menghantam Silent Wind. Skill kedua langsung kugunakan. "Tempest Strike!" Aku meluncur sambil memutar 180 derajat secara vertical menuju Silent Wind, setelah menghantamnya sebanyak tiga kali, kutendang Silent Wind hingga terjatuh ke atas rerumputan.

Saat aku mendarat, aku tersenyum bangga pada Roxas karena damage yang berhasil kami hasilkan di atas 5000 dengan total 7 hit. Meski begitu, tetap saja damage yang Roxas berikan lebih banyak dibandingkan damage yang kuberikan.

Nii-san memberitahukan kami bahwa jumlah HP Silent Wind sudah di bawah 5 persen. Dia meminta Roxas mundur dan aku pun menatapinya dengan bingung. Mengapa dia dan Roxas harus mundur dan membiarkanku sendiri melawannya? Mengapa harus aku yang mengalahkannya?

"Aku akan menjelaskannya nanti." Nii-san mengerti apa yang kurasakan.

Aku mengangguk dan siap menggunakan skill. Serangan biasa tidak bisa membantuku mengalahkannya selama regenerasinya berjalan. Aku harus menggunakan skill yang kuat dan memiliki jumlah hit yang cukup panjang. Kuputuskan Sonic Trust menjadi pilihanku.

"Haaaaaaaaaaaa …!" Aku berlari mendekatinya, lalu berseru, "Sonic Trust!" Dengan Keyblade melintang di depanku, sebuah tusukan kuat mengenai Silent Wind. Tidak hanya sekali, aku kembali berbalik dan menusukan keyblade-ku sekali lagi, lalu kembali berbalik dan melakukan hal yang sama untuk yang terakhir kalinya.

Sebenarnya, aku sudah harap-harap cemas kalau seranganku tidak akan langsung menghabisi HP-nya yang tersisa. Untungnya, semua kekhawatiranku bisa segera berakhir. Serangan terakhir berhasil mengalahkannya. Sosok Silent Wind menghilang perlahan, tapi herannya, lagi-lagi aku melihatnya tersenyum.

Riku muncul setelah sosok Silent Wind menghilang. Dia muncul tepat di mana Silent Wind menghilang. Sebelum mengatakan sesuatu, dia mendesah seperti tidak begitu senang.

"Kunci kedua. Selamat, Sora," ucapnya dengan datar.

"Um … thanks?" Aku bingung harus membalas apa.

Nii-san maju tanpa basa-basi. Sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu pada Riku mumpung dia belum menghilang.

"Riku, mengapa hanya Sora saja yang dapat melepaskan data-data dari Legendary Monster setelah dikalahkan?

"Bukankah sudah kukatakan bahwa Sora adalah kunci?" Riku bertanya ulang dengan heran.

"Yeah, I remember." Nii-san mengangguk. "Yang ingin kutanyakan, Sora sudah membuka kuncinya untuk menghilangkan unlimited HP, tapi mengapa masih harus dikalahkan dan harus dia juga yang menghabisinya?"

"Karena Legendary Monster mempunyai dua kunci," jawab Riku sambil menunjukan angka dua menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. "Kunci pertama berfungsi untuk membuka kunci kedua, tapi syarat membuka kunci kedua adalah menghabisi HP Legendary Monster dan serangan terakhir dilakukan oleh Sora. Setelah kedua kunci terbuka, maka data-data yang tersimpan dalam Legenday Monster akan terbuka."

"Tidak heran jika data dari Dark Shadow tidak keluar saat kami yang kalahkan," gumam Nii-san sambil berpikir.

"Um, Riku." Aku menatapinya.

"Hm?" Riku langsung menatapiku. Mendadak dia tersenyum setelah menatapi Nii-san dengan wajah tidak bersahabat.

"Tadi, Silent Wind tersenyum padaku. Mengapa dia tersenyum?" Aku sungguh penasaran dan berharap Riku dapat memberikan sebuah jawaban.

"Ah, aku juga kurang tahu, tapi Silent Wind memang di-setting seperti itu," jelasnya.

"Oh …" Aku kecewa mendengarnya.

"Dan mengapa Silent Wind tidak terlihat?" Roxas ikut bertanya.

"Karena namanya Silent Wind," jawab Riku.

"Maksudnya?" tanyaku dan Roxas bersamaan. Kami sama sekali tidak mengerti apa maksud Riku.

"Silent Wind berarti angin diam. Tidak dapat dilihat, tapi hanya bisa dirasakan." Sekali lagi RIku tersenyum. "Kau sering bermain bersamanya dulu, Sora."

"O-oh …" Kini aku kehilangan kata-kata. Yang Riku maksud mungkin pengguna Sora yang sebelumnya. Aku menghela napas. Seandainya saja dia masih ada, tentu aku tidak akan sebingung ini.

"Masih ada pertanyaan?" Riku bertanya setelah hening beberapa saat.

Aku menatapi Nii-san sebelum menjawab. Dia menggeleng, menandakan tidak ada yang ingin ditanya lagi untuk sementara waktu.

"Tidak."

"Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Sampai jumpa, Sora." Riku pun menghilang setelah mengatakannya.

Aku mengangguk. Setelah dia menghilang, aku melihat sebuah benda. Kudekati dan kuambil. Hm? Apa ini? Batu, tapi bentuknya aneh. Seakan-akan batu ini memiliki bagian lain. Roxas mendekatiku dan melihat apa yang kuambil. Dia tidak berkata apa-apa. sepertinya dia juga tidak tahu benda apa yang kuambil ini.

"Ini apa, Nii-san?" Kutunjukan batu yang kupungut tadi.

Nii-san mengambilnya dan diamati. "Aku tidak tahu. Benda ini belum pernah kulihat dan tidak terdaftar dalam sistem YOL. Mirip batu biasa, tapi dari bentuknya seperti memiliki bagian lain yang terpisah. Yang pasti, batu ini bukan item yang di-drop oleh monster saat dikalahkan," jawabnya.

"Oh …" Mungkin aku akan bertanya pada Riku saat ketemu dia di lain waktu.

Kusimpan batu tersebut.

"Hey …"

Aku langsung menoleh dan melihat Leon sudah kembali. Dia kembali sendirian. Kemana temannya?

"Berhasil?" Dia menanyakan kondisi pertarungan.

"Yeah!" ucapku dengan senyuman lebar.

Leon dan Nii-san langsung berdiskusi setelah dia memberi senyuman kecil padaku. Roxas ikut menempel dekat-dekat dan menyimak apa yang mereka diskusikan dengan wajah penasaran, seakan-akan dia sedang mendengarkan seminar ilmu pengetahuan. Yang pasti, diskusi mereka sudah diluar kemampuan otakku.

Aku mendesah. Sepertinya diskusinya akan sangat … lama. Sebaiknya aku pergi hunting saja deh.

"Neh, Roxas," ujarku sambil menarik lengan bajunya. "Aku pergi hunting di sekitar sini, ya?"

"Oh, okay. Bagaimana kalau disekitar Pride Land? Brave Heart terlalu penuh dengan Player Killer," sarannya.

Aku mengangguk. "Kabari aku jika kalian selesai diskusi."

"Kay."

Kutinggalkan mereka bertiga dan menuju Pride Land. Entah mengapa, aku merasa mereka sangat senang berdiskusi. Sekali berdiskusi, kurasa bisa sampai berjam-jam, bahkan sehari juga bisa berlalu dan belum tentu juga mereka selesai. Dasar, rasanya seperti sedang bergosip, tapi diskusi membicarakan hal benar, bukan hal yang tidak pasti.

Panas menyengat dan cahaya menyilaukan mata menjadi hal umum ketika tiba Pride Land. Batu-batu kecokelatan dan kekuningan di mana-mana. Pasir kuning bagaikan pantai, tapi masih terdapat rumput kekuningan seperti kekurangan air. Monster-monster di sini cukup banyak dan sebagian besar bersembunyi di padang rumput yang tingginya sekitar 1 meter. Sebelum memulai perburuan, aku mengecek quest yang belum kuselesaikan. Siapa tahu salah satu quest yang kumiliki mengharuskanku memburu salah satu monster di sini.

"Aw man, tidak ada quest di sini," kataku sambil mendesah kecewa.

Aku begitu kaget ketika sebuah peluru melesat melewatiku. Peluru tadi hampir mengenaiku, sehingga aku langsung meningkatkan kewaspaanku. Apakah peluru tadi memang ditujukan padaku atau itu peluru nyasar.

Mata ini langsung menangkap seorang player dengan rambut pink. Dia sedang bertarung dengan monster dalam jumlah banyak. Hebatnya, aku baru memperhatikannya beberapa menit, dia sudah berhasil mengalahkan semua monsters yang ada.

Hum … sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi di mana ya? Selama berpikir, kusilangkan tanganku dan menelusuri ingatanku. Sayang, aku tidak ingat di mana.

"Hey, apa yang kau lakukan di sini, Sora?"

Seseorang menanyaiku ketika aku konsentrasi berpikir. Suaranya familiar. Aku segera menoleh dan mendapati orang yang kukenal.

"Huh? Axel? Apa yang kau lakukan di sini?" Aku menanyakan hal yang sama.

"Well, mengontrol pekerjaan," jawabnya dengan senyum. "Kau?"

"Aku? Sedang menghabiskan waktu selama Nii-san berdiskusi dengan Leon. Kami sudah mengalahkan Silent Wind dan membuka data yang terkunci."

"Ah, memang lebih baik mereka ditinggal atau kau akan mati bosan menunggu mereka." Axel mendukung tindakanku.

"Di sini sudah selesai."

Aku menoleh pada player perempuan dengan rambut pink. Dia mendekati Axel dan sepertinya berbicara dengannya.

"Thanks, Lightning," balas Axel.

Jadi, namanya Lightning? Hm …

"Kenapa?" Lightning sadar aku memperhatikannya.

"Uh … apakah kita pernah bertemu?" tanyaku.

"Di field Halloween Town, saat event one thousand Haunted Ghost," jawabnya.

"Ah! Kau benar!" Aku berseru keras saat mengingatnya. "Tunggu, kau mengenal Axel? Berarti …"

"Ya, dia GM." Axel menjawab rasa penasaranku.

"Huh?" Tentunya mengejutkanku. "Bukankah GM tidak diizinkan ikut serta?"

"Memang tidak boleh, tapi dia bertugas mengantisipasi kejadian-kejadian di luar dugaan, seperti sistem error atau failure di dalam event. Jika player dalam jumlah banyak berkumpul dalam satu tempat, kemungkinan terjadi error atau sistem failure sangat besar, mengingat keterbatasan sistem server yang bisa saja di-hack saat event berlangsung," jelas Axel dan aku tidak begitu mengerti. Sistem? Error? Failure? "Lagipula, jikalau GM itu menang, maka hadiah yang akan diberikan tidak ada isi, alias kosong. Bagi kami, GM, uang virtual sama sekali tidak memiliki arti karena kami memiliki unlimited munny." Axel tersenyum sinis.

Mulutku langsung menganga. Tidak heran Nii-san jarang berkunjung ke took item. Kuyakin stok item yang dimilikinya pasti sangat banyak.

"Apakah masih ada tugas lain?" Lightning bertanya.

"Sebentar." Axel memanggil menunya. Aku pun mengintip menunya dan rupanya menu GM berbeda dari menu player normal. "Semua wilayah sudah tertangani dengan baik, terserah kamu saja mau membantu field manapun yang masih dalam proses."

"Roger." Lightning langsung pergi. Dari arahnya, sepertinya Halloween Town.

Sebuah bunyi singkat terdengar. Bunyi message masuk. Isinya, "Nii-san dan Leon sudah selesai diskusi," dari Roxas.

"Aw man! Aku belum sempat hunting sama sekali," keluhku yang menyayangkan Nii-san diskusi lebih cepat dari yang kuduga. "Tidak biasanya selesai secepat ini …"

"Cloud sudah selesai?" Axel bertanya dan aku mengangguk. "Tumben." Ternyata tidak hanya aku saja yang heran.

Aku pun mengangkat bahu dengan wajah bingung. "Aku harus kembali. Bye, Axel."

Axel mengangguk.

Ketika aku kembali, aku langsung mengkerutkan dahiku dan merasa begitu heran.

"Kau bilang mereka sudah berhenti diskusi," kataku kepada Roxas dengan wajah cembetut.

"Tadinya begitu, tapi ketika menunggumu kembali, mereka jadi membahas ulang," jelasnya sambil menghela napas. "Nii-san!" Roxas memanggil Nii-san.

Pembicaraan merekapun terhenti. Mereka langsung menatapi kami.

"Bisa tidak Nii-san tunda diskusinya sebelum Sora kabur lagi?" Roxas menegurnya.

Kini mereka menatapku dan membuatku kebingungan dan canggung. "Um, apa?" Aku tidak tahu harus berkata apa.

"Ah, sorry. Waktu kalian tersisa 5 jam lagi. Bagaimana kalau kita kembali hunting Legendary Monster lagi?"

"Huh? Lagi? Baiklah …" Aku mengangguk dengan ragu.

To be Continued …

Author Note: chapter kali ada 6 halaman kurang, semoga cukup memuaskan kalian sedikit. XP oh ya, maaf jika ada typo :v aku tidak cek kedua kali.

To a reviewer name Xinon : hehehehe Silent Wind memang salah satu monster legendary yang special bagi YOL Creator, tapi apa yang membuatnya special tidak akan kukasih spoiler :D hohohohoho…

To a reviewer name Kyu-ru.25: -_- mohon lain kali baca author note baik-baik.