Maaf, ceritanya ada sebagian yang saya edit :D


Hembusan angin malam bercampur serbuk-serbuk pasir yang berterbangan dari padang pasir Sograt menyelimuti kawasan kota Morroc yang makin sepi. Aku menghela nafas. Sudah tak ada penginapan yang masih berdiri ataupun buka di tempat ini. Ingatanku melayang menuju kenangan pertama kali aku menginjak kota para thief ini, hiruk pikuk para Merchant dan pembelinya memenuhi gendang telingaku, anak kecil yang berlarian kesana kemari dan banyak orang yang mencari kelompok untuk berburu di kediaman Osiris. Sekarang? Morroc hanya tinggal nama. Kota persinggahan yang sangat ramai itu kini dikenal sebagai tempat bangkitnya Satan Morroc. Sungguh tragis.

Aku melangkahkan kakiku dengan malas ke daerah oase Morroc dulu, yang sekarang telah berubah menjadi lubang besar yang mengaga lebar. Mungkin kalau bukan perintah dari atasan, aku tidak akan berada disini, kedinginan, letih, dan tidak mempunyai tempat tidur yang hangat. Dengan ogah-ogahan aku berjalan di pinggir lubang tersebut, gelap gulita. Aku menghela nafas untuk yang kesekian kalinya hari ini, sebaiknya besok saja aku kemari lagi, tubuhku berontak untuk berbaring sejenak.

Srakk...

Aku menangkap bayangan seseorang di kejauhan, berlutut di lubang besar itu. Aku segera bersembunyi dibelakang salah satu puing-puing yang ada, untuk berjaga-jaga. Semoga ia tidak menyadari kehadiranku. Berani taruhan, orang itu pasti sedang menjalankan misi guildnya juga atau apalah, memang siapa yang ingin kedinginan di tempat ini kalau tidak terdesak?. Aku menahan napas melihat rupanya. Seorang Assasin Cross wanita. Rambutnya yang putih berkibar lembut ditiup terpaan angin, tubuhnya yang ramping terlihat seksi dalam balutan kostum para pembunuh itu. Ah, bukan, aku bukan orang mesum yang seperti kalian bayangkan. Ia memakai sebuah topeng yang menutupi bagian mata hingga hidungnya. Ukiran indah mengelilingi pinggir-pinggir topeng tersebut. Yang kutahu, topeng itu salah satu topeng yang akan dibeli dengan harga tinggi oleh para kolektor topeng. Odin's Mask. Ia mengambil segenggam pasir di tanah yang ia pijak, dan membiarkannya hilang sedikit demi sedikit terbawa angin. Assasin Cross tersebut lalu berdiri dan diam ditempatnya, seperti merenungkan sesuatu.

Pelan-pelan kutarik napasku, bergumpul di paru-paruku dan kukeluarkan lagi. Aku memicingkan mataku agar dapat melihat raut mukanya dengan jelas. Setetes air mata mengalir pelan menuruni kedua pipinya. Tetapi wajahnya masih datar tanpa ekspresi. Ah? Air mata? Apa aku tidak salah lihat?

Karena penasaran, aku hendak maju perlahan-lahan untuk memastikan benar tidaknya apa yang telah kulihat tadi.

Klotakkk...

Ouch... Dasar batu sial. Sepertinya wanita itu sadar akan kehadiranku sekarang... Great... Alasan apa yang harus kugunakan kini? 'Maaf, aku sedang numpang tidur disini.' Yang benar saja... Tanpa sadar aku memutar bola mataku. Well... Segera kuputar otakku, mencari-cari alasan yang paling masuk akal sambil melangkah keluar dari belakang puing-puing.

Ekspressi wajahnya tidak terbaca, tapi aku tahu ia pasti tidak suka aku berada disini, menganggu privasinya. Aku berusaha agar tidak terlihat seperti tersenyum canggung, tapi kurasa aku gagal. Dari sudut mata, aku bisa melihat tangannya dengan perlahan meraih sepasang katar yang tergantung di pinggangnya.

"Maaf mengganggu, apa kau tahu ada penginapan di sekitar sini yang masih buka?"

Ekspresinya masih datar, namun aku bisa merasakan pandangan tidak suka terpancar dari matanya.

"Di bagian timur kota ini, kurasa."

"Terima kasih." Aku berpikir sejenak, apa yang dilakukan seorang Assasin Cross disini? Wanita pula. "Boleh kutahu apa yang sedang kau lakukan disini?Mungkin aku bisa membantu."

Aku berusaha senyum dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Setidaknya aku ingin tahu tujuan sebenarnya, bisa saja ia juga mencari jejak Satan Morroc. Kurasa ia taakan menjawabnya.

"Kau tidak perlu tahu."

Ia menjawab dengan nada datar dan dingin. Ouch, sesuai dengan perkiraanku. Oke, aku ingin tahu tentang tujuan wanita ini lebih banyak lagi, tetapi badanku sudah mengigil kedinginan. Waktunya aku angkat kaki dari tempat ini. Sebelum aku undur diri dengan sopan padanya, ia sudah terlebih dahulu berjalan menjauh dariku. Langkah kakinya tidak terdengar, begitu halus, begitu anggun, tapi juga begitu berbahaya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik... Entah mengapa, aku tidak ingin ia pergi.

"Hei nona, kenapa tadi kau menangis?."

Ia membalikan badannya sedikit menghadapku, pandangan benci bercampur sebal sangat terasa walau tertutup topeng aneh itu. Duh, aku dan mulutku yang lancang. Kadang aku memang tak bisa mengontrol mulutku ini, ingin kujahit rasanya.

"Mungkin kau salah lihat."

Ia berbalik menuju arah yang berlawanan denganku. Tanpa pikir panjang aku mengulurkan tanganku dan menarik pundaknya, mencoba menghentikannya kabur dari situ. Dan dalam sekejap mata, ujung belati miliknya sudah tertempel di leherku.

"Jangan sentuh aku."

"Whoa, tak perlu sampai mengangkat senjata seperti itu nona."

Pandangan kami saling beradu. Ia menatapku lekat-lekat. Dan raut wajahnya berubah, mulutnya terbuka sedikit. Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku? Ingin sekali aku mengaca saat ini. Raut wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi campuran emosi-emosi yang tak beraturan. Antara sedih, senang, marah, rindu, dan kaget. Wow, hal apa yang bisa menyebabkan orang sedingin ini jadi bereaksi? Ujung belati yang semula siap merobek kerongkonganku, kini mulai mengendur. Lengannya jatuh terkulai lemas kesamping.

"Hei, kau tidak apa-apa nona?"

"..."

Dalam sekejap ia melompat mundur kebelakang dan berlari kearah pintu barat Morroc, menjauhi puing-puing bersejarah kelam tersebut. Aku menghela nafas, percuma mengejarnya sekarang, siapa yang dapat menyaingi kecepatan lari seorang Assasin? Baru sedetik pergi saja ia sudah menghilang dari pandanganku. Sekarang yang kuinginkan hanyalah tempat tidur yang hangat dan empuk. Kakiku mulai melangkah kearah Timur kawasan Morroc tersebut, mungkin ada penginapan yang masih buka.

Disepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah bangunan yang retak dan berdebu maupun hancur, Wow... Sepertinya Satan Morroc berbuat keonaran yang cukup parah ya? Tujuanku kesini untuk menyelidiki jejak-jejak kebangkitan monster menyeramkan itu. Setelah puas memporak-porandakan Morroc, ia kabur begitu saja, dan kini ia membuatku harus bermain petak umpet dengannya. Benar-benar merepotkan.

Kakiku berhenti otomatis ketika aku melihat sebuah bangunan -walaupun sudah usang dan kelihatannya mau rubuh- yang lampunya masih menyala. Dan dugaanku benar, itu sebuah hotel. Oh betapa bersyukurnya aku saat ini, ternyata perkataan Assasin Cross tadi benar. Aku segera mengeluarkan sekantung uang yang isinya hanya cukup untuk berkelana seminggu, mengambil beberapa keping Zeny dari sana dan memberikannya pada resepsionis hotel. Resepsionis yang sudah setengah baya itu memberikan sebuah kunci dan menunjuk kearah lantai 2. Hmmm, kamar 205. Aku segera melangkahkan kakiku menaiki tangga kayu yang berdecit-decit dan lapuk. Mataku jelalatan mencari-cari kamar yang barusan kusewa. Dan aku segera menemukannya. Aku mengamati keadaan dalam kamar itu, tak terlalu buruk sih. Sebuah ranjang normal dengan seprei putih, guling dan bantal dengan warna senada, sebuah meja kayu kecil dan kursinya. Kamar mandinya sudah agak tua, semoga showernya masih menyala. Oh, aku tak ingin mengamati lebih lama lagi. Aku segera menjatuhkan badanku diatas kasur yang empuk dan hangat tersebut, lelap kedalam dunia mimpi.

-Amatsu, Land of Destiny-

-Joezette POV-

Tarik. Tahan. Hembuskan.

Tarik. Tahan. Hembuskan.

Aku menghirup udara segar Amatsu pagi hari yang masih bersih, membiarkannya menari-nari di paru-paruku lalu menghembuskannya lagi. Aku meregangkan badanku dan melihat sekeliling. Kota Amatsu diselimuti guguran bunga Sakura , cahaya matahari masuk melalui celah-celah dedaunan, menerpa kulitku. Sungguh hari yang cerah. Siluet seseorang muncul dari arah Timur pelabuhan, oh, aku mengenali siluet itu. Aku melambaikan tanganku kearahnya dan tersenyum kecil.

"Pagi Claire, kemana saja kau kemarin?"

Assasin Cross berambut putih perak itu membalas sapaanku dengan tatapan datar. Aku mengerjapkan mata, sepertinya ada yang aneh dengan Claire... Memang ekspresinya selalu datar sih, tapi kali ini dia lebih muram.

"Pagi."

Oh, dugaanku benar... Ada sesuatu yang menganggu pikirannya saat ini. Aku sudah lama mengenalnya, jadi aku hafal semua tingkahnya. Ia berjalan lalu, menuju base guild kami yang terletak dibelakang tempatku berdiri sekarang.

"Ada kejadian apa semalam?"

Aku bicara blak-blakan saja, tak ada gunanya berbasa-basi dengan orang ini. Ia yang semula sedang berjalan kini menghentikan langkahnya dan berdiri disampingku. Ia menyerengit. Berusaha mencari alasan rupanya.

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu apa yang kumaksud."

"... " Ia menghela nafas. "Tidak ada apa-apa. Aku mau beristirahat sebentar."

"Kau tahu, bila ada yang ingin kau ceritakan, kau bebas bicara padaku kapan saja."

"Tentu."

Aku tersenyum padanya dan ia menghilang ke dalam base guild kami. Aku berjalan kearah kedai sushi yang berada tak jauh dari tempatku berdiri tadi. Langkahku terhenti saat suara seorang laki-laki memanggil namaku. Aku segera menoleh ke sumber suara yang sudah sangat akrab ditelingaku itu.

"Joezette."

"Oh, pagi Vlad."

Ia berjalan kearahku dan setelah itu kami berjalan bersama ke kedai sushi tersebut. Paladin berambut putih itu tersenyum lebar sambil melemaskan otot-ototnya. Aku memesan beberapa piring sushi untuk sarapan kami berdua dan dua gelas Ocha hangat. Vladimir mengetuk-ngetukan jarinya di meja sambil bertopang dagu.

"Kau tahu, Kurasa ada yang aneh dengan Claire."

"Mmhm... Kau juga menyadarinya?"

"Tentu, kita kan sudah lama saling mengenal."

Aku terdiam sebentar. Sebenarnya kami bertiga teman sejak kecil. Aku mengenal Vladimir lebih dahulu. Tak lama kemudian aku bertemu Claire dan orang itu... Aku mengenyahkan pikiranku. Memfokuskan pikiranku lagi pada pertanyaan Vlad.

"Entahlah, dia bilang tidak ada apa-apa."

"Dia bohong."

"Tentu saja."

Pembicaraan kami terhenti sebentar. Sepertinya Vlad sedang memikirkan sesuatu. Mata hijau zamrudnya menatapku tajam.

"Dia... Sampai kapan mau memakai topeng itu..."

"..."

Mungkin selamanya, batinku. Aku sedang tidak ingin membahas tentang topeng yang tak pernah lepas dari wajah Claire sejak hari itu...

Hari dimana Claire kehilangan tujuan hidupnya...