"Dan kalian! Akan menjadi budak-budakku! Hai, cowok-cowok lemah!" Clara berkata dengan tegas sambil menunjuk mereka berdua yang masih shock di tempat mereka. "Bersiaplah kalian!"

Chapter 2

Phobia problem

"...she is a weird girl," ucap Skye, sok bahasa inggris.

"Siapa? Claire maksudmu?" Cliff menoleh pada sepupunya itu. Pagi ini mereka sedang duduk di meja Inn dan memakan makanan favorit mereka berdua, curry. Entah kenapa mereka bisa menyukai makanan favorit yang sama. Apa karena mereka punya hubungan darah? Oke, itu tidak ada hubungannya dan tidak penting sama sekali. Kembali ke cerita.

"Iya, siapa lagi? Seumur hidup baru kali ini aku dihajar cewek, memalukan!" ujar Skye, kesal sambil memukul-mukul meja. "Untung saja dia cewek, kalo bukan pasti sudah kubalas beribu kali lipat lebih sadis." Ia menyilangkan tangannya di depan dadanya sambil menghela nafas.

Cliff hanya tersenyum menanggapi curhatan(?) Skye tadi, ia tahu kalo Skye tidak mungkin setega itu. Hanya pedas di mulut saja.

Ia menyuapkan currynya ke mulutnya, sedangkan Skye masih sibuk melanjutkan curhatannya pada Cliff mengenai kejadian kemarin dan hanya memainkan sendok currynya.

"Menurutmu ia gadis yang aneh kan?" Skye melontarkan pertanyaan yang mirip dengan pernyataannya di awal curhatannya tadi.

Cliff terdiam sejenak, menghentikan gerakannya kemudian menoleh ke arah Skye, "Maksudmu?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya, bingung.

"Yah, coba lihat saja sikapnya saat pertama kali bertemu kita." Skye menambahkan.

Cliff memiringkan kepalanya dan mengingat-ingat lagi kejadian kemarin.

Mulai dari Kai yang ditampar Claire di pantai, Claire yang terlihat pendiam dan tidak merespon saat ia mencoba berbicara dengannya dan saat Claire menumbangkan tiga orang pria hanya dengan jentikan jari (?).

"Ooh, yang itu? Bukankah itu hal biasa? Mungkin dia hanya malu karena berada di lingkungan yang tidak ia kenal. Makanya dia jadi pendiam dan agak canggung," Cliff melanjutkan.

"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku. Tapi, saat Claire tiba-tiba berubah wujud dan memperkenalkan diri sebagai Clara. Kalau soal Kai ditampar cewek sih sudah biasa...," kata Skye lagi sambil mengayun-ayun garpunya di udara sambil bertopang dagu.

"...Right, itu memang sedikit tidak wajar." Cliff meletakkan sendoknya setelah suapan terakhirnya barusan dan meminum minumannya.

"Bukan sedikit lagi, sangat tidak wajar. Apalagi dia menumbangkan tiga pria sekaligus... Padahal kelihatannya dia cewek yang sangat lemah." Skye meletakkan garpunya lagi dengan sedikit dibanting di mejanya.

"Iya, itu karena dia menderita sebuah phobia yang jarang ada." Sebuah suara muncul di tengah2 Cliff dan Skye, membuat mereka terkejut dan langsung berpose lebay(?) melihat kehadiran Jack di tengah-tengah mereka dengan senter yang diarahkan ke mukanya, layaknya seorang yang sedang bercerita cerita horror. Skye hampir jatuh dari kursinya, saking kagetnya.

Woi, jack! Mukamu yang biasa aja sudah bikin mual dan kejang-kejang! Apalagi digituin! Orang yang nggak biasa liat mukamu pasti langsung jantungan.

Ann menyambar senter tersebut dari Jack, "Jangan mainin senter Inn dong!" Kemudian Ann langsung ngeloyor pergi sambil mengendus kesal. Jack hanya memonyongkan bibirnya sambil melihat ketika Ann pergi.

Cliff yang sweatdropped, menjauh sedikit dari Jack karena insiden mengerikan(?) tadi. Oke, lebay.

"Err... Jadi apa maksud ucapanmu itu tadi, Jack?" Cliff memulai percakapan lagi.

"Oh, betul juga! Memang sejak kemarin aku mau cerita pada kalian, tapi kemarin aku dan Claire masih sibuk membereskan barang-barang," cetus Jack sambil menggebrak meja.

"Apalagi kemarin, si Doggie minta diajak jalan-jalan dengan mata memelas. Tentu aku yang memiliki perasaan terpenda- ehem! Maksudku, perasaan sayang sebagai majikan pada Doggie tak kuasa dapat menahan diri dari tatapannya yang menggod- ehem, ehemm! Ralat, tatapannya yang menggemaskan! Dan akhirnya..."

"Langsung ke 'point'nya saja, Jack." Skye langsung menyela omongan Jack yang mulai melantur ke 'perasaan terlarang'(?) Jack pada anjingnya. Cliff sweatdrop lagi.

"Oh, oke. Hehehe. Maaf, maaf. Nggak sengaja malah curcol." Jack langsung nyengir gak jelas. "Jadi, Claire itu sebenarnya menderita phobia yang langka..." Jack mulai berwajah serius.

"Hmm... Lalu apa phobianya?" Skye ikut-ikut serius.

"Phobia ketinggian? Serangga? Kegelapan?" Cliff menyebutkan satu-persatu kemungkinan phobia Claire.

"Jadi... Phobia Claire itu..." Jack memberi jeda di perkataannya.

"Ya? Ya?" Skye mulai penasaran. Begitu juga Cliff yang sedari tadi berwajah tegang.

"Phobia Claire itu... Diaa... Terkena phobia..."

"Cepetan!" Skye menggebrak meja, kesal dengan tingkah Jack.

"Hehehe..." Jack cuma terkekeh, senang menggoda sahabat-sahabatnya itu. Cliff sweatdrop lagi melihat tingkah mereka berdua sekaligus kasihan pada meja yang sedari tadi menjadi korban 'gebrakan'(?).

"Claire itu... Phobia laki-laki," ucap Jack, kali ini langsung to the point, sambil mengacungkan jarinya.

Siinggg...

Hening. Tak ada yang bergerak di antara ketiga pemuda itu.

"Apa?" Skye angkat bicara sambil memasang muka tidak percaya. "Jangan bercanda dong."

"Serius. Duarius malah!" Jack mengacungkan tanda peace. "Mungkin dia begitu karena sejak kecil dia selalu hanya berada di rumah, teman bermainnya pun hanya saudara-saudara perempuannya. Entah apa yang mereka katakan tentang laki-laki, yang pasti berkat saudara-saudara perempuan Claire itu, Claire jadi sangat ketakutan pada makhluk yang namanya laki-laki. Apalagi saat masuk sekolah dasar ia sering diganggu anak-anak cowok, kalian tahu lah. Anak-anak suka menggoda cewek yang disukainya," kata Jack panjang lebar. "Kelihatannya Claire selalu dinasehati macam-macam seperti, 'Cowok itu menakutkan, mereka beringas, sadis dan kejam', 'Jangan dekat-dekat cowok, mereka itu nakal. Kelakuannya mengerikan.' Atau semacamnya, aku membayangkan mereka pasti mengatakan hal lain yang lebih menakutkan lagi pada Claire yang waktu itu masih di bawah umur."

"Kelihatan seperti cuci otak... Cewek memang mengerikan." Skye sweatdropped.

"Mungkin? Yang pasti sekarang ini Claire hanya bisa berinteraksi denganku atau ayahku." Kini Jack ikut sweatdropped. "Setiap kali ia berinteraksi dengan laki-laki, ia hanya kelihatan gugup, pendiam, ketakutan dan semacamnya. Jadi aku tidak terlalu memusingkannya waktu itu. Hanya saja beberapa bulan ini atau lebih tepatnya tiga bulan ini..." Jack menjeda perkataannya, "Clara muncul menjadi kepribadian lain dari Claire jika rasa takutnya mencapai puncak. Entah dari mana asal Clara sebenarnya, mungkin ia memang adalah pribadi yang terbentuk karena rasa takut Claire tadi," jelas Jack dengan pengetahuannya yang minim.

'Jadi... Claire phobia pada laki-laki? Sayang sekali, padahal ia cantik dan ia benar-benar tipeku,' pikir Cliff sambil melamun, ia pun tersadar. Mukanya memerah dan ia langsung menggelengkan kepalanya, 'Apa sih yang aku pikirkan? Tapi, andai saja ia tidak phobia pada laki-laki. Aku ingin mendekatinya...,' Sekali lagi Cliff terkejut dengan kata batinnya dan menggeleng-geleng kepalanya dengan muka merah.

Skye terdiam, berpikir sejenak. Kemudian tiba-tiba ia berkata, "Bagaimana kalau kami membantu untuk menyembuhkan phobia Claire?"

Cliff langsung tersentak dengan ide Skye barusan, ia benar-benar 100% setuju dengan ide yang menurutnya brillian itu. Karena baru saja ia ingin mengatakan hal yang sama dengan Skye hahaha.

"Ya, mungkin itu ide yang bagus. Demi kebaikan Claire juga. Tapi sebenarnya keberadaan Clara cukup menguntungkan, karena setiap saat ada cowok yang mau mendekati Claire. Clara lah yang menggantikanku melindungi Claire, aku jadi bisa tenang hahaha..." Jack hanya tertawa-tawa santai, dengan perkataannya itu bisa dibuktikan mungkin Jack mengidap sister complex.

"Terserahlah, yang penting kau sudah setuju kalau kami membantu menyembuhkan phobia adikmu. Oke? Deal? Deal!" Skye langsung menyalami Jack dengan menggebu-gebu, Jack menyambutnya dengan muka polos alias sedikit nggak 'connect' dengan keadaan saat ini.

Sebenarnya Cliff cukup tertarik dengan ide ini. Dan ia mengetahui mengapa Skye begitu bersemangat soal ini. Tentu saja karena ia dendam dikalahkan oleh Clara kemarin. Makanya saat ini matanya berkobar-kobar.

"Baiklah, mari kita susun strategi!" Ucap Skye dengan mata berbinar dan mengangkat tangan Cliff. Cliff sweatdropped lagi.

'Yah, biarlah. Mungkin dengan begini, aku masih punya sedikit kemungkinan untuk dekat dengan Claire...," pikir Cliff, tersenyum kecil, tidak lagi menghiraukan kedua temannya yang heboh bersorak-sorak di sampingnya itu.

To be continued


Author's note:

Yaakk, fanfic labil(?) yang setelah sekian lama akhirnya aku lanjutin lagi ~ maaf ya, hol :'( gk sesuai harapan, pairingx jg belom kelihatan. Mohon bersabar utk chapter berikutnya. Ini aja saya lanjutin karena kebetulan ada mood nulis hehehe.