"Kau tahu apa arti dari mawar biru?"

"Eh? Hm… tidak. Memangnya apa arti dari mawar biru?"

"Mawar biru itu… melambangkan ketidakmungkinan…"

.

V.B. Rose/V[ベルベット]B[ブルー]・ローズ

© Banri Hidaka

Mawar Biru—

[Yang tidak mungkin menjadi mungkin]

© Michi626

.

Ageha Shiroi memandang rintik hujan yang turun dari balik jendela kamarnya. Hari ini ia tidak kerja sambilan di V.B.R, karena gaun yang dipesan oleh seorang klien untuk waktu dekat ini sudah selesai, dan ia baru akan kembali bekerja minggu depan.

Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sehingga rambut merah muda panjang bergelombang miliknya tergerai indah di atas kasur empuk dengan sprei bewarna kuning gading itu. Ageha mendesah pelan. Pikirannya melayang pada pembicaraannya beberapa hari yang lalu dengan Yukari Arisaka—orang yang kini mengisi hatinya.

"Kau tahu apa arti dari mawar biru?"

"Eh? Hm… tidak. Memangnya mawar biru melambangkan apa?"

"Mawar biru itu… melambangkan ketidakmungkinan…"

Ketidakmungkinan, ya?

'Apa… kisah cintaku dengan Arisaka… juga akan seperti mawar biru?' batinnya. Jujur saja, Ageha cemas. Ia memang memiliki perasaan suka—ralat—cinta pada pemuda berusia 25 tahun itu. Tapi… bagaimana dengan Arisaka?

Bagaimana perasaan Arisaka padanya?

Pertanyaan itu berputar memenuhi kepala Ageha. Ia menghela nafas panjang, lalu berbalik dari posisi tidurnya menjadi menyamping ke kanan. Ia melirik setangkai mawar merah di dalam vas di atas meja kecil di samping ranjangnya. Mawar merah, ya? Sudah biasa. Seandainya mawar biru itu memang ada. Ingin sekali Ageha mengisi vas itu dengannya.

"Ayahku… menamai toko ini Velvet Blue Rose. Mawar biru. Ia ingin menjadikan ketidakmungkinan itu menjadi mungkin. Saat ini para peneliti berusaha menciptakan mawar biru, karena itulah, aku… juga akan berusaha mewujudkan keinginan ayahku."

Ageha tersenyum. "Jadi… birunya kemungkinan, ya?"

Ageha mengambil posisi duduk. Sebuah pemikiran melintas di otaknya. Benar juga! Kalau Arisaka saja mau berusaha mengubah ketidakmungkinan itu menjadi mungkin, kenapa ia tidak?

Ia tersenyum. Tekadnya sudah bulat. Ia akan berusaha mendapatkan cinta Arisaka. Tak peduli kalau nanti akhirnya ia akan menelan kekecewaan. Toh setidaknya, ia sudah berusaha mewujudkan kemungkinan itu.

'Mawar biru… bisakah aku mengubah maknamu menjadi sebuah kemungkinan?'

.

.

.

おわり

.

Hm, pendek, ya?

Tahu, kok. :D

Fic ini hanya sebuah drabble iseng sebagai pertanda Michi keluar dari WB mengerikan. =="

Oke, Mind to RnR?

Berikanlah komentar walau sedikit. :)

Terima kasih sudah membaca.

Michi.