Selamat datang

Di abad masa depan

Dimana 'membunuh atau dibunuh' menjadi landasan hidup


PLANTS V.S. ZOMBIES © POPCAPS AND MANY MORE (?)

WE ARE THE PLANTS © ME
WARNING: HUMANIZED, ABAL, TYPO TAK JAMIN, PEASHOOTERxSUNFLOWER HINTS INSIDE, DAN SEGALA YANG NISTA
My first fic in this fandom

DON'T LIKE? DON'T READ!


"Pete, Profesor memanggilmu."

"Ah iya. Terima kasih, Potee. Tolong gantikan aku jaga-jaga disini menemani Wally."

"Siap."


Rumah raksasa dengan dinding dan lantai besi

Dinding baja besar yang memutarinya, ia sebut 'pagar'

Didalamnya, terdapat medan tempur luas savanna, yang ia sebut 'halaman'—atau 'lawn'

Di bagian belakang, terdapat lagi savanna luas dengan sebuah danau—atau laut, mungkin—yang ia sebut 'backyard'


TAP

TAP


Yang merupakan satu-satunya bangunan yang masih berpenghuni di kehidupan ini


TAP

TAP


Menutupi seperdelapan daratan Amerika

Super besar bukan?


BIP

PIP

PIP

PIP

KRIEEET


Aku hidup disini

Bersama 'manusia' satu-satunya yang masih hidup

Apa?

Ya, aku memang bukan manusia


"Pete, akhirnya kau datang juga."

"Khusus untukmu, jangan panggil aku 'Pete'. Panggil aku dengan lengkap, 'Peashooter.'"

Pria besar berambut cokelat yang duduk di depan monitor besar itu tertawa. Menertawakan royalty 'Peashooter' yang terlalu tinggi. Terbahak-bahak. Brutal, memang. Namun Pete tidak ikut tertawa, bahkan segunjing senyum tak terlihat di mulut pemuda berambut hijau itu.

"Pete, kau tidak perlu seformal itu!" ia masih tertawa, "Kau bahkan boleh memanggilku 'ayah'!"

"…Tidak mau," ujarnya dingin, "Ada perlu denganku?"

Pria itu berdehem, lalu memutar kursinya, dan kembali beradu dengan keyboard digitalnya, "Aku… Sudah membuat plant baru."

"APA?" Peashooter menyambar pundak pria itu dari belakang, "Plant baru? SIAPA?"

Bapak berkacamata itu kembali tertawa, hanya saja kali ini lebih singkat, "Haha, memang tidak salah aku menciptakanmu dengan formalitas yang tinggi, dan rasa persahabatan yang hebat!"


Ya

Aku, dan teman-teman yang tadi kupanggil 'Potee'—alias 'Potato-Mine', dan

'Wally'—alias 'Wall-nut' adalah 'Plant', sebutan untuk kami

Manusia ciptaan Profesor—panggil saja ia begitu—yang mempunyai tugas untuk melindungi Profesor meski nyawa taruhannya

Dan kami diberkahi kemampuan khusus


"Dia perempuan. Dan ia dapat memproduksi energi matahari tambahan untukmu, Wally, dan Potee."

"Energi tambahan?"

"Ya, jadi kau dan yang lain tidak akan kehabisan energi di malam hari yang tidak ada mataharinya."


Tapi yang namanya manusia ciptaan Tuhan memang tak ada duanya

Kami tak akan mampu bertahan hidup tanpa matahari

Setiap helai rambut kami berfungsi sebagai 'solar cells' atau semacam 'stomata', yang dapat menangkap setiap liter cahaya matahari

Di malam hari kami tak dapat berkutik


"HEBAT!"

"Mau kepertemukan?"

"Tentu saja."

"Baiklah, Sunflower. Kemarilah, seseorang ingin bertemu denganmu."


Kami kurang memiliki emosi


"Salam kenal, senior."

Mahluk Hawa yang pertama kali dilihat oleh Peashooter. Rambutnya bergelombang kuning keemasan sebahu, memakai baju terusan lengan pendek berwarna hijau, parasnya cantik dan manis, tampaknya keibuan, tapi juga ceria. Di lehernya terdapat kalung dengan bandul besar, berbentuk matahari. Benar-benar membuat tekanan dada pemuda itu naik, "Sa-salam kenal juga, Sun…flower?"

"Iya, kak Peashooter."


Setidaknya, sampai aku bertemu dengannya


"Pete, bagaimana kalau kau mengajaknya berkeliling? Mumpung sekawanan mayat hidup itu tidak datang."

"Baik," Pete mengangguk, "Ayo, Sunflower."

Gadis itu mengikutinya dari belakang setelah sempat membungkuk pada 'ayah'nya. Jalannya sedikit canggung, maklum, ia bagai bayi yang baru lahir. Hanya saja begitu membuka mata, ia sudah bersosok dewasa, telah di program, dan siap untuk hidup yang sudah digariskan.


.

.

Ah, benar juga

Aku belum menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi


Peashooter dan Sunflower berjalan menyusuri lorong besi yang sempit, secuil cahaya hanya tampak dari fentilasi di ujung sana. Tujuan Peashooter yang pertama adalah 'halaman depan', dimana ada teman-temannya Wally dan Potee yang sedang berjaga.

"Butuh waktu 7 hari untuk mengelilingi tempat ini. Jadi hari ini aku mengajakmu ke tempat-tempat terdekat dulu."

Sunflower tersenyum, "Aku sih, terserah senior saja."

Pete menghentikan langkahnya, menoleh pada gadis itu, "Stop panggil 'senior' atau 'kak'. Panggil saja aku dengan 'Pete' seperti yang lain lakukan."

Sunflower melongo, "Eh… Aku sudah tahu kok kalau umur para plant takkan bertambah! Tapi kakak kan lebih senior!"

Peashooter menyipitkan mata, mendekatkan wajahnya dengan wajah Sunflower, "Rupanya Profesor menyelipkan sifat kolot padamu, ya."

Sunflower mendorongnya pelan, "Begini saja! Aku memanggilmu 'Pete' tapi kau juga harus memanggilku dengan nama panggilan baru!" tukas Sunflower dengan semangat. Peashooter menganga.

"Nama panggilan?" ia berpikir sejenak, "Kau mau nama 'Sunny'?"

"Bagus juga."


Tiga puluh tahun lalu, evolusi alam terjadi

Tolong, jangan buat aku menjelaskan tentang apa itu 'Global Warming'—

Presiden Negara adidaya memerintahkan seseorang yang saat itu dianggap 'lebih jenius dari Einstein' untuk membuat sesuatu untuk mencegah evolusi membahayakan itu

Orang itulah ayahku—Profesor

Bahkan Presiden sudah memberikan imbalan sebuah rumah sekaligus laboratorium pribadi raksasa untuknya, lengkap dengan dinding baja yang kuat dan sistem keamanan paling mutahir pada Profesor, yang penting nyawa seluruh umat manusia dapat terselamatkan


Peashooter dan Sunflower sampai di halaman depan. Padang rumput itu kelihatan sunyi dan damai, tidak seperti biasanya.

Wally menyambut kedatangan keduanya, "Oh, new face?"

"Ya, namanya Sunflower, alias Sunny," jawab Peashooter.

Pria mungil berambut coklat panjang, dengan sehelai rambut yang mencuat keatas seperti antena, mendekati Sunny, "Namaku Potato-Mine, tapi biasa dipanggil Potee. Dan pemuda jangkung agak botak disana itu Wall-nut, panggil saja Wally."

"Hei, aku dengar itu!" seru Wally kesal dengan kata-kata 'agak botak'. Meskipun itu kenyataan.

"Salam kenal," kata Sunny.

NGUUUUNG NGUUUUNG NGUUUUNG

Sunflower menoleh kekiri dan kanan, kaget dengan suara sirine yang sangat keras, "Su-suara apa itu?"

"Wah, wah," Wally berdiri dari tempatnya.

Potee menyabukan segelintir dinamit dan granat pada pinggang dan punggungnya, "Sepertinya debut pertama Sunny akan dimulai."

"De-debut?" Sunflower kelihatan bingung. Peashooter menepuk pundaknya.

"Itu sirine tanda para zombie sudah berada pada radius 10 meter dari balik dinding ini. Singkat kata, waktunya peperangan."


Demi mewujudkan amanat Presiden itulah, Profesor menggunakan sebuah energi maha dahsyat yang baru-baru ini ditemukan

Ia menamakannya 'Neo-Nuclear'

Namun bukannya menyelamatkan seluruh umat manusia, Neo-Nuclear malah meledak diluar rencana, dan ledakannya membawa efek sampai ke seluruh dunia

Ledakan yang tidak menimbulkan suara secuil pun, juga tidak memiliki cahaya seberkas pun. Tapi radiasinya sanggup merobek semua sejarah dunia berkeping-keping

Seluruh mahluk yang hidup di permukaan maupun dalam tanah pun mati serempak. Anehnya bangunan-bangunan masih berdiri kokoh

Keadaan yang paling mengenaskan dialami oleh umat manusia, mayat-mayat mereka membusuk dan bergelimpangan di setiap sudut dunia

Di luar dugaan Profesor masih hidup. Saat ledakan terjadi, ia sedang berada dalam pangkuan akar sebuah pohon besar yang tumbuh dalam rumahnya, tertidur. Begitu sadar apa yang sudah terjadi, belakangan ia tahu bahwa tidaklah semua evolusi alam membahayakan

Evolusi yang terjadi pada pohon ini begitu menakjubkan. Setiap helai daunnya tidak hanya memproduksi oksigen, tapi juga zat baru yang dapat menangkal radiasi sebesar apapun

Karena tertolong oleh sebatang pohon, ia bersumpah untuk selalu melindunginya. Dan menamainya 'Tree of Wisdom'—karena belakangan ia juga tahu bahwa tiap kali ia berteduh disana, seperti ada suara ajaib yang membisikan kalimat-kalimat bijak


Wall-nut berdiri di barisan paling depan sebagai defender. Di belakangnya berdiri Peashooter dengan Pea Gun-nya—bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, yang membedakan hanya pelurunya yang sebesar bola ping-pong, berwarna hijau, dan mirip kacang polong—Ia berdiri sebagai penyerang. Selanjutnya ada Potato-Mine yang sekarang sedang membenamkan bom-bom dalam tanah. Paling belakang ada Sunflower yang masih belum terbiasa.

"Tu-tunggu… Di lapangan sebesar ini hanya ada kita berempat?"

Peashooter berkomentar, "Sebelum kau datang, hanya ada kami bertiga."

"A-Ah…" Sunflower speechless.

"Sudah, kerjakan saja tugasmu sebagai produsen energi matahari," seru Peashooter, "Satu lagi, hati-hati dengan gigitan mereka. Mereka mahluk yang haus akan darah dan daging manusia. Terutama otak."

Sunflower kembali bertanya, "Lho? Bukankah kita bukan manusia? Tidak masalah dong."

"Masalah tahu," sela Potee yang sudah siap dengan ranjau-ranjaunya.

Pete berdehem, sambil mengisi ulang misil Pea-nya, "Tak satu pun dari mereka mengincar kita. Profesor-lah yang mereka incar. Tapi tak menutup kemungkinan mereka juga akan menggerogoti habis seluruh tubuh kita."

"Kalian semua, bersiap. Mereka sudah datang!" Wall-nut memperingatkan dengan suara beratnya.

Tampaklah dari ujung dinding sana segerombol mahluk berwarna hijau—coklat berbau busuk datang mendekat. Tanpa sehelai rambut tumbuh di kepala mereka. Gigi-gigi mereka tanggal. Beberapa bagian tubuh pun sudah jatuh berserakan, rapuh bagai padi. Namun jangan lupa, merekalah manusia-manusia yang dulu hidup di atas permukaan bumi. Dan mereka datang untuk menagih makan malam mereka.

Wall-nut membuat sebuah cengiran, "Show time."


Beberapa hari setelah kematian massal itu

Profesor mulai menyadari dampak dari radiasi itu. Yang tidak hanya mematikan semua mahluk hidup

Tapi juga

Menghidupkan 'mayat-mayat' yang mati itu

"Hidup kembali? Bagus dong, berarti kehidupan kembali seperti semula"

Tolong jangan lupakan bahwa yang 'hidup kembali' itu adalah mayat. Mereka bukan lagi manusia yang hidup dulu. Sudah berbeda. Dan yang pertama kali dilakukan oleh orang-orang itu adalah

Memakan sesamanya

Tak lama, sekawanan zombie tiba-tiba datang menyerang rumah Profesor

Sepertinya insting mereka untuk menemukan 'makanan' berkembang hebat. Sialnya berkembang dalam hal jelek

Buru-buru Profesor memasang sistem keamanan yang diberikan Presiden dulu, sehingga para zombie bagaimanapun caranya takkan bisa menembus dinding super tebal itu

Sang Profesor pun berpikir, "Apa ada cara untuk membunuh para zombie itu?"


DUAK!

CRAT

Wall-nut menendang pecah kepala seorang zombie sehingga ia lumpuh dan jatuh. Memang begitu caranya mengalahkan mayat-mayat itu, menghabisi kepala mereka. Sadis? Memang. Jadi jangan memaksakan diri untuk membaca cerita ini.

DOR DOR DOR

Peashooter menembaki zombie-zombie yang bergumam "brains" itu. Dengan beberapa kali tembakan, sebuah(?) zombie dapat ia putus habis kepalanya. Satu belum cukup, ia masih harus menghabisi beberapa puluh zombie lagi di belakangnya. Ini masih belum ada apa-apanya, dulu ia pernah melawan ratusan zombie yang kelaparan.

ZBOOOM

Sebuah ranjau baru saja meledak dan mencincang dua zombie yang lolos dari garis Peashooter. "Itu ranjau terakhir, sedangkan matahari mulai terbenam," Potee member laporan pada Peashooter.

"Huh," Pete mendengus, "Hei, Sunny, lakukan tugasmu. Aku juga mulai kehabisan tenaga," perintahnya sambil membidik zombie dan melempar isi kepalanya keluar.

Sunflower memasang tampang kikuk, "E-Eh… Baiklah."

Ia pun mulai berkonsentrasi penuh, kedua tangannya di taruh di depan dada, memusatkan kekuatannya pada sang bandul kalung.


Maka, ia memutuskan untuk menciptakan sesuatu untuk bertempur

Dengan tumbuhan hijau sebagai inspirasinya

Berkat modal ilmu biologi dan pengetahuannya yang hebat, meski sering gagal dalam percobaannya,

Akhirnya ia berhasil menciptakan sesosok senjata hidup seri pertama

Peashooter—Aku

Yang diberi kemampuan untuk membidik dan menembak dengan keakuratan 100%

Selanjutnya, ia membuat Potato-Mine, yang bisa dibilang 70% tubuhnya adalah bahan peledak. Dan ia dapat meledakan bom terdekat sesukanya.

Yang ketiga ada Wall-nut. Diberkahi ilmu bela diri dari seluruh dunia sehingga ia jago berkelahi dan cocok ditempatkan di barisan defense.

Dan yang terakhir—


"HAAAA!"

Seberkas cahaya menyilaukan keluar dari bandul kalung gadis itu. Kemudian dengan gerakan tangannya, ia membimbing bola-bola cahaya itu meluncur ke tempat Potato-Mine, Peashooter, dan Wall-nut. Rambut-rambut ketiganya langsung menyerap cepat cahaya yang dikirim Sunflower. Dan semuanya terkesima.

"Wa-waaah! ini sih lebih hebat daripada cahaya matahari aslinya!" seru Potato-Mine bahagia.

Peashooter tersenyum, "Benar, kekuatanku meluap."

Secara mengejutkan Potato-Mine berlari meninggalkan garisnya, dan sekarang berdiri berjejer dengan Peashooter, "Aku akan membantumu, Pete."

"Terima kasih."

Peashooter melanjutkan tembak-menembaknya, kali ini lebih cepat dan kuat. Di bantu dengan lemparan granat dari Potee yang tersimpan di kantung celananya. Tak kalah beraksi, Wally memberi kabar bahagia, "Teman-teman, ini tiga zombie terakhir, kita bagi tiga ya?"

Pete dan Potee menjawab dengan penuh birahi, "Roger!"

Sementara itu Sunflower memberi semangat, "Berjuanglah!"

Namun sesosok zombie tiba-tiba melompat dari sisi lain lapangan, ia berhasil menyelinap dan lolos dari pengawasan Peashooter. Dan ia mendekati Sunflower, "Roar…"

Tak ada waktu untuk lari. Tak ada waktu memekik. Tak ada waktu untuk berlindung. Tak ada waktu—untuk melotot.

"AWAS!"

BAM!

Sebuah tembakan akurat melubangi kepala zombie itu, padahal jaraknya lumayan jauh. Zombie itu jatuh bersimbah darah dengan kondisi menjijikan. Tepat di depan Sunflower yang memegangi kepala sambil meringkup, ketakutan.

"Huft," Wally membuang nafas, "Selesai," ia pun mengumpulkan barang-barang yang dibawa oleh zombie-zombie itu, seringnya adalah uang beberapa keeping.

Kembali pada barisan belakang, Peashooter berlari kencang ke tempat Sunflower. Menendang mayat—bukan mayat hidup lagi—itu jauh-jauh. Dan duduk dan mengusap kepala gadis yang menangis itu, menenangkannya. Sejujurnya, sambil melakukan itu, ia bertanya-tanya; "Padahal kami para Plant emosinya kurang bisa diperlihatkan. Tapi kenapa dia… bisa menangis?"

"Aku… Aku… Hiks hiks," ia menitirkan air mata. Membuat Peashooter makin kebingungan; 'Bagaimana cara menghentikan orang menangis? AAAKH!' ia panik sendiri.

SRUT

Dan reflek memeluknya.

"A… Aku nggak begitu paham bagaimana caranya menghentikan orang menangis, tapi… kau tidak perlu takut," Pete meenepuk-nepuk punggungnya, "Ada aku, Potee, dan Wally yang akan melindungimu. Mulai sekarang, kau jadi plant yang akan kami lindungi dengan nyawa kami sendiri."

"…Janji?"

"Janji."


Sunflower, menjadi Plant yang paling dan harus aku—ehem—kami lindungi.


THIS IS THE END OF THE 'WE ARE THE PLANT' STORY

BUT NOT THE END OF SUNFLOWER AND PEASHOOTER LOVE STORY…*slap*I MEAN, THE PVZ STORIES


A/N: Selamat siang para reader sekaliaaaan. Ini fanfic pertama saya di fandom ini, jadi maaf kalau masih jelek~ Yap, kemunculan para plant disini emang beda sama di game-nya. Kalau di game-nya, harusnya yang muncul Sunflower dulu baru Potato-Mine dkk, tapi disini Potato-Mine dulu baru Sunflower ^^; Untuk image Prof, silakan membayangkan cowok umur 50 tahunan jangkung dan gagah, dengan kumis dan rambut warna cokelat tua… Dan bagi yang sulit membayangkan para plant versi manusia, bisa diintip ke deviantART kok. Banyak yang bikin disana~ Dalam waktu dekat saya mungkin juga bakal bikin versinya =D

Sekian, mungkin orang Indonesia jarang yang main kesini ya, jadi bagi yang baca fanfic (spam) ini, saya tunggu reviewnyaaa~ =DD

Review?