Hermione menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, entah mengapa hatinya terasa sangat perih, padahal baru kemarin ia merasa terbang tinggi ke langit saat Draco tiba-tiba absen mengomentari penampilannya. Tidak ada ejekan, tidak ada kutukan, dan tidak ada lagi seorang pria bernama Malfoy yang setiap hari memberikan seringai -anehnya- menurut Hermione.

Ya, pria itu ada di dekatnya tapi keberadaannya terasa jauh.

Hermione terus melontarkan cacian dan makian dalam hati. 'Hei, seharusnya yang bersikap cuek itu aku, bukan kau!'

Hermione melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya yang sembab.

Keh, seorang Hermione Granger menangis?

Ya, harus Hermione akui, kali ini ia benar-benar menangis. Bukan karena ejekan seorang Malfoy ataupun peringkatnya yang tiba-tiba turun, tapi karena sikap egois dan semaunya Malfoy yang berhasil membuat kedua pipi Hermione Granger merona merah.

Huh? Memangnya apa yang telah seorang Malfoy lakukan pada orang yang ia anggap seorang darah lumpur?

.

.

.

~Muggle In Love~

By: Yuiki Nagi-chan

Disclaimer: Always J.K Rowling, I Don't Own anything...

Pairing: Chap kali ini benar-benar DraMione!

Warning: Semi-Canon, miss typo, typo's, EYD kurang beraturan, etc...

Setting di tahun ketujuh Hermione & Draco di Hogwarts setelah perang Hogwarts terjadi. Lucius, Bellatrix, dan Voldemort tewas dalam perang, Narcissa hidup tenang di Malfoy Manor, Harry & Ron mengikuti pelatihan Auror yang ditawarkan kementerian, Draco berhenti menjadi pelahap maut setelah perang, dan akhirnya menyisakan kisah cinta Hermione/Malfoy di tahun ketujuh mereka di Hogwarts -kicked-

.

XxxxXxxxXxxxXxxxX

.

.

.

Hermione menaruh secangkir teh hangat diatas meja ruang rekreasi ketua murid sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari keberadaan 'ferret' yang bisa saja mengganggu waktu istirahatnya(lagi) malam ini. Menyadari Draco tidak berada di ruang rekreasi membuat Hermione menghela nafas lega. Setelah semua cemilan siap, Hermione langsung merebahkan dirinya diatas sofa, ditemani setumpuk buku tebal yang salah satunya buku sejarah Hogwarts, buku yang Hermione tahu telah ia baca sebanyak tiga puluh lima kali.

Dengan senyum mengembang, Hermione meresapi teh miliknya dengan pikiran tenang dan rileks.

"Merindukanku, Granger?"

BYURRRRRR!

Hermione menyemburkan teh miliknya dengan mata terbelalak kaget.

'Apa maunya ferret ini?'

"Sekali darah lumpur tetaplah darah lumpur! Lihat penampilanmu yang menjijikkan itu! Berusaha menarik perhatian lelaki, eh?"

Hermione merasakan hatinya berhenti berdetak saat Draco menghinanya dengan kalimat kasar yang berbeda dari biasanya.

Penuh dengan kebencian.

"Apa pedulimu Malfoy? Kau tidak bermaksud untuk menggodaku malam ini, kan?" sindir Hermione yang entah mengapa membuat Draco membuang mukanya. Dan Hermione kali ini menganggap kalau 'Malfoy' sedang menahan amarahnya.

'Sejengkel itu, kah?'

"Teruslah bermimpi, Granger! Gadis sepertimu tidak akan mungkin pantas untuk ku goda! Kau pikir kau siapa?"

Hermione menatap datar Draco sambil menaikkan sebelah alisnya. "Baguslah kalau begitu, karena diganggu olehmu juga tidak memberikanku keuntungan apapun," Hermione berkata sambil berdiri dari sofa, bersiap pergi dan menyelesaikan perdebatan 'panas' yang kembali terjadi malam ini.

BRAKKKK!

"Jangan mengacuhkanku saat aku tengah berbicara denganmu, Hermione!"

Hermione terkesiap saat Draco memanggilnya bukan dengan sebutan 'Granger' ataupun 'Darah lumpur', tapi 'Her My Own'.

Draco semakin menghimpit tubuh Hermione ke dinding.

"Katakan! Katakan padaku alasanmu mengubah penampilan!" desis Draco tajam. Hermione bersumpah melihat tatapan liar seperti Basilisk di kilatan lensa abu-abunya.

"Untuk apa kau kuberitahu? Kuberitahupun kau pasti tak akan peduli," jawab Hermione berusaha tenang. Entah mengapa wajahnya semakin lama semakin terasa panas saat merasakan hembusan nafas Draco yang menggelitik wajahnya.

"Beritahu aku atau kau akan menyesal!"

"MEMANG APA PEDULIMU?" teriak Hermione dengan wajah yang sangat memerah, di dorongnya dada bidang Draco sekuat tenaga, membuat Draco mundur dengan mata terbelalak kaget.

"Kau akan menyesal!" Draco kembali mendesis tajam.

"Tidak akan pernah!" balas Hermione yang langsung berlari ke kamarnya.

Andai Hermione mau menoleh biar hanya sedetik, ia pasti akan melihat tatapan sendu Draco yang juga diikuti guratan kecemasan. "Sial!"

Dan akhirnya semua terjadi. Sejak pagi Draco belum sekalipun menghina Hermione seperti biasa. Kalaupun berpapasan, Draco pasti membuang muka ataupun berpura-pura melihat kerah lain, bersikap seolah-olah Hermione tidak pernah ada.

Ucapan adalah doa, dan harus Hermione akui, kini ia benar-benar merasa menyesal. Sangat amat menyesal. Padahal jelas-jelas yang salah adalah Draco, tapi hati kecilnya menjerit marah kalau sebenarnya semua ini adalah salahnya.

Jadi, sebetulanya siapa yang salah?

Draco, kah? Atau Hermione?

.

.

.

Hermione menatap kearah pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang sembab benar-benar terlihat buruk, mau tak mau Hermione tersenyum kecil pada dirinya sendiri, menganggap kalau otaknya yang jenius sudah kelewat gila. Saat pandangan Hermione bertemu dengan sebuah gunting, ia menyeringai. Ini ide buruk tapi paling tidak bisa membuatnya tenang.

Cekress...

Dan inilah penampilannya yang baru.

.

.

.

Saat masih berada di dunia muggle, Hermione pernah mendengar sebuah kebudayaan dari Jepang yang sempat ia anggap bodoh. Kebudayaan, dimana orang yang sedang patah hati akan memotong rambutnya sebagai pelampiasan sakit hati.

Jadi, seorang Hermione Granger sedang patah hati?

Entahlah, Hermione sendiri tidak mengerti perasaan apa yang sekarang bergejolak di hatinya. Yang ia tahu setiap ia melihat Draco bersama Pansy, Daphne dan Astoria, ia merasa ingin menghajar seseorang. Hatinya bergejolak marah, tapi pikirannya menentang tindakan bodohnya itu.

Buat apa merasa kesal?

Hermione Granger, salah satu siswi terpintar di Hogwarts tentu tahu apa yang ia rasakan. Berbeda dengan kekesalannya saat melihat Ron dan Lavender berciuman, yang ini bahkan lebih seperti melihat Draco dan gadis-gadis itu berada di sebuah ranjang. Demi Merlin, bahkan kedua mata Hermione melihat dengan jelas kalau Draco hanya sekedar mengobrol dengan mereka, bukan bermesraan, berciuman, apalagi hal menjijikkan yang barusan terlintas di otaknya.

Apa ini suatu pertanda kalau ia merasa cemburu?

.

.

.

Hermione kembali berjalan menyusuri koridor Hogwarts, menuju aula besar untuk segera sarapan bersama Ginny, Lavender, dan Luna yang kemarin mengajaknya untuk sarapan bersama.

Kali ini pun sosoknya kembali menjadi perhatian para lelaki, rambut Hermione yang kini pendek malah terlihat segar dan -ehem- seksi dimata mereka.

Memutuskan untuk tidak menghiraukan siapapun, Hermione mempercepat langkahnya.

Ya, Hermione yang memutuskan untuk memendekkan rambutnya. Tidak ada rambut bergelombang panjang. Tidak ada buku yang ia bawa. Kini Hermione berjalan dalam dunia yang baru, dimana ia merupakan seorang gadis jenius yang tidak akan pernah patah hati untuk ketiga kalinya.

Ketiga kalinya, huh?

Yeah, yang pertama tentunya dengan Ron, dan yang kedua?

Lupakan, Hermione tidak akan pernah mau mengungkitnya kembali.

.

.

.

Ginny menganga lebar, kedua mata Lavender juga terlihat ingin keluar dari tempatnya. Hanya Luna yang masih berusaha tenang sambil melempar senyum kecil pada Hermione. "Terjadi sesuatu lagi, Mione?"

Mendengar cerita Lavender kemarin membuat Luna menyadari sikap aneh Hermione belakangan ini, dan senyum misterius itulah tandanya. Tanda kalau Luna menyadari rahasia Hermione yang bahkan Hermione sendiri tidak tahu artinya.

"Well, udara semakin panas dan leherku rawan pada kelembapan, jadi...beginilah," kilah Hermione yang mendapat respon pekikkan kaget Lavender.

"Kurasa Mione belum bisa cerita pada kita," kata Luna sambil menoleh kearah Ginny dan Lavender. "Ia masih perlu waktu."

Hermione tersenyum mendengar kata-kata Luna yang mengerti dirinya. "Thanks, Luna."

Blaise menutup mulutnya, menahan tawa saat melihat ekspresi Draco yang terlihat horor saat menatap Hermione. Dari munculnya ia di depan pintu aula besar, sampai ia duduk dan bergabung bersama sahabat-sahabatnya. Parahnya lagi, Draco menatap Hermione sambil menganga lebar yang sukses membuat Blaise terbahak-bahak.

Draco menaikkan sebelah alisnya. "Lucu sekali, Zabini."

"Yeah, lucu sekali!" ucap Blaise disela-sela tawanya. "Ekspresimu benar-benar luar biasa, mate."

Draco tidak menghiraukan lagi tawa Blaise saat melihat Hermione yang menatapnya dengan pandangan aneh.

"Berhenti tertawa atau ku bunuh kau sekarang!" ancam Draco pada Blaise yang masih terus tertawa.

"Huh, memangnya ada apa?"

"Si darah lumpur itu melihat kemari, bodoh!" desis Draco yang terlihat panik.

Blaise menaikkan sebelah alisnya sebelum kembali tertawa terbahak-bahak.

Draco menggerutu. "Oh, lupakan."

.

.

.

"Kau serius mau kembali kesana sekarang? Kalau ketahuan bagaimana?" tanya Blaise sambil mengucek-ngucek matanya, diliriknya jam weker diatas meja, pukul 2 dini hari. 'Apa Malfoy junior ini sudah gila?'

"Kau lupa? Aku ini ketua murid!" protes Draco.

"Bukan itu, tapi Granger! Kalau kau ketahuan mengendap-ngendap kembali ke sana setelah menginap dari asrama Slytherin, apa yang akan kau lakukan?"

"Akan kucium dia sampai berhenti bicara."

"Kau serius?" tanya Blaise dengan sedikit nyengir.

"Mungkin."

Blaise kembali terbahak-bahak.

"Sudahlah, aku mau segera kembali!" kata Draco yang langsung beranjak dari sisi ranjang Blaise.

"Yeah, sampai besok, mate."

.

.

.

Langkah Draco bergema di seluruh penjuru ruang rekreasi ketua murid. Entah mengapa jantungnya terasa berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya, padahal ruangan ini adalah ruang rekreasi ketua murid, tempat istimewa yang diperuntukkan bagi ketua murid sepertinya. Jadi, untuk apa khawatir kalau memang ini termasuk ruangannya juga?

Saat akan menuju kamarnya, Draco menghentikan langkahnya, tepat di depan pantri kecil khusus ketua murid yang sepertinya diterangi sebuah cahaya. Hasratnya menyuruh Draco untuk mengintip sebentar sedangkan hati kecilnya menyuruhnya kabur.

'Huh, kabur dari siapa? Dari si Granger?'

"Akan kucium dia sampai berhenti bicara."

Wajah Draco entah mengapa sedikit merona merah saat mengingat ucapannya barusan.

'Mencium Granger? Apa kau sudah gila Draco?'

Draco kembali menenangkan detak jantungnya. Mungkin besok ia akan pergi ke Madam Pomfrey untuk mengecek kesehatannya. Jantung berdetak kencang dan wajah memerah, sering salah tingkah...

Hei, bukankah itu juga salah satu gejala penyakit keras?

Kriettt...

Terdengar bunyi kecil dari pantri tersebut membuat Draco menaikkan sebelah alisnya.

'Apa mungkin itu kucing Hermione?' pikir Draco saat mendengar beberapa bunyi lainnya yang cukup keras.

BRUKKKK!

"Aww!"

Nah, itu jelas bukan suara kucing.

Draco menimbang-nimbang keputusannya. Apa lebih baik ia segera kabur ke kamar, atau menolong orang yang mungkin Hermione?

Draco menampilkan seringainya.

'Untuk kabur itu urusan belakangan, mungkin saja si Granger itu membutuhkan bantuan. Dan kalau dia kembali protes...' Draco memperlebar seringainya.

'...Aku akan benar-benar menciumnya.'

.

.

.

To Be Continued

.

A/N: Ah, akhirnya Update juga...maaf semua, sepertinya fic ini bakal jadi multichap...*nyengir lebar*

Entah mengapa melihat model rambut Emma Watson membuatku ingin memasukkan ke fic! Jadi, bagi yang penasaran gimana model rambut Hermione di fic ini, tinggal bayangin aja Emma Watson dengan model rambut pendeknya!

Thanks for Reading!

Want to Review?

30/Juli/2011

~Yuiki Nagisha~

.