"Selena, sebagai abdi setia keluarga Felix, aku harus menyelamatkan mereka. Kau pergilah ke pelabuhan bersama yang lainnya."

Aku tahu, aku tahu, Tuan Syricuse. Tapi…

"Tidak!" aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. "Aku akan menunggumu, di sini…. Kalau kau ingin hidup, kembalilah padaku."

Aku melihat ada raut kegetiran di wajahmu. Lalu aku merasakan kedua tanganmu memegang pundakku. Kau memalingkan wajahmu. "Mungkin aku tidak akan kembali…" suaramu terdengar begitu lirih di telingaku.

Dengan penuh keyakinan, kucoba untuk tersenyum lembut. Walau hatiku takut dan pikiranku kalut. "Kalau begitu, aku juga tidak akan hidup sedetik lebih lama di dunia ini," ujarku pelan. Kuusahakan agar suaraku tidak bergetar.

Kau tampak tertegun. "Selena…" kau menyebut namaku lalu memelukku. Susah payah aku menahan tubuhku agar tidak gemetar.

"Aku akan kembali, tunggulah di sini," ujarmu. Sampai akhirnya kau berlalu. Berlari sekencang-kencangnya menembus kegelapan malam. Aku hanya bisa menatap punggungmu yang semakin menjauh. Tak terasa, setetes air mata mengalir di pipiku.

Aku meremas kedua tanganku untuk menghilangkan ketakutan ini. Kukuatkan hatiku untuk tidak beranjak seinchi pun dari tempat ini. Meski kegelapan ini terasa begitu menyesakkan. Hawa panas rasanya mulai menguliti kulitku. Tapi aku tak peduli, akan tetap menunggu. Di sini.

Aku yakin kau akan kembali.

.

Benarkah?

Atau itu hanya rasa optimisme yang ditarik paksa dari dasar hati?

.

Ng Life Mizuho Kusanagi

.

Hopeless

Oleh Michilatte626

.

Aku tidak tahu, sudah berapa lama aku tetap berdiri di sini. Meski otakku menyuruhku untuk segera pergi dari sini, tapi—tidak, aku tidak mau. Aku sudah bersumpah bahwa aku akan menunggumu, apapun yang terjadi.

Suara riuh orang-orang terdengar menggema di telingaku. Suara teriakan kesakitan dan ketakutan yang dalam. Api tampak mulai menjalar di pemukiman wilayah penduduk, tinggal menunggu waktu akan sampai di tempat ini. Apakah… waktuku hanya sampai di sini?

Menelan ludah, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dari tempat aku berdiri. Gelap. Dihiasi dengan kobaran api dimana-mana. Jujur, aku takut.

Tapi, aku yakin kau akan kembali.

Kau akan kembali, untuk menjemputku di sini.

Kau akan kembali, untuk menyelamatkanku dari sini.

.

—Atau… aku hanya memaksakan diri untuk meyakini hal itu?

Setetes air mata kembali turun di pipiku.

.

Aku akan tetap berdiri di sini. Walau di sudut kecil hatiku, aku tahu—dari awal—kau tidak akan kembali. Dari awal, aku tahu kalau penantianku ini akan sia-sia. Dari awal, aku tahu kalau senyum itu adalah senyum terakhir yang bisa kulihat. Dari awal, aku tahu kata-kata itu adalah kata-kata terakhirmu yang bisa kudengar.

Tapi, aku hanya ingin mempercayaimu. Maka dari itu aku hanya bisa berharap. Walau aku tahu itu semua sia-sia.

Api dan lahar mulai menjalar ke tempat aku berdiri. Aku hanya bisa tersenyum getir. Untuk yang terakhir, aku ingin berharap. Semoga harapan ini juga tidak sia-sia.

"Bila aku dilahirkan kembali nanti, aku ingin melihatmu tersenyum sekali lagi. Aku ingin merasakan pelukanmu sekali lagi. Aku ingin… bisa bersamamu, sekali lagi…."

Seketika semuanya berubah gelap.

.

.

.

.

A/N: Sebuah fic tentang perasaan Selena ketika ditinggalkan oleh Syricuse. Gomen, Michi baru baca komiknya sampai vol. 7.

Boring? Bahasanya berbelit-belit? Hahaha, tahu kok. Maaf ya, kalau fic ini banyak kekurangan di sana-sini. Ne, berilah sedikit komentar kalian tentang fic ini.

Review, please?

Terima kasih sudah membaca. :)

.Michi.