Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Cinta Segi Banyak © Yoshida Kei

Genre :

Romance / friendship

Rated :

T

Warning :

AU, Hinata remaja rada OOC tapi hanya sedikit berani saja kok ;) #plak di chapter ini, kebanyakan SasoHina *pundung di pojokan* *dihajar massa*

A/N :

Gara-gara tugas numpuk dan ulangan menanti, saya selaku author minta maaf tidak update sesuai jadwal. Gomen gomen gomen (_ _)/

xXx

Pagi yang sunyi menyelimuti suasana sarapan. Seperti kematian di bulan Maret. Hanya suara dentingan piring dengan garpu. Bahkan beberapa maid yang berada di ruang makan tak berani bergerak.

"Nii-san, aku berangkat," kata Hinata yang berpamitan kepada Neji.

"Kau berangkat dengan Sasori?" tanya Neji sebelum Hinata melenggang pergi.

"Tidak. Ah, a-aku naik bus," kata Hinata.

"Bus?"

"Iya, naik bus. Aku mau jadi orang biasa. Bukan putri Hyuuga," kata Hinata.

"Bagaimana jika ada preman?" tanya Neji khawatir.

"Aku sudah menguasai karate selama 10 tahun, jadi tak usah takut," kata Hinata. "Aku berangkat," sambungnya yang kemudian dia melenggang meninggalkan ruang makan dan meninggalkan istana Hyuuga.

Hinata keluar dari istananya. Dia berjalan dengan santai. Dari kejauhan, tampak mobil yang mendekat dan seseorang dalam mobil tersebut menyapa Hinata.

"Hinata," sapa seseorang berambut merah. Hinata menoleh ke arah mobil tersebut dan mendapatkan wajah Sasori yang masih dengan luka lebamnya sedang memandanginya dari jendela mobilnya.

"Hai," sapa Hinata balik. Dia berhenti berjalan dan menghadap seseorang yang berada di dalam mobil, Sasori.

"Masuklah," kata Sasori.

"Tapi aku tadi bilang kepada kakak bahwa aku akan naik bus," kata Hinata polos.

"Berbohong sekali-sekali tak apa, kan?" kata Sasori santai. "Masuklah. Neji tak akan membunuh kita," sambungnya. Tanpa babibu, Hinata berjalan menuju pintu mobil Sasori dan membukannya. Dia duduk di bangku penumpang sebelah bangku pengemudi.

"Kau kemarin selamat, kan?" tanya Sasori seraya menjalankan mobilnya.

"Iya," jawab Hinata lesu. Terbayang kejadian saat berjalan pulang ke rumahnya. Sasuke terkapar duduk. Hinata pun mendekat. Sasuke memanggil namanya beberapa kali.

'Hinata,' terdengar suara Sasuke pada malam itu. Tiba-tiba Sasuke memeluknya. Pelukan hangat tapi menyayat hati. Dia ingat bagaimana dia menangis saat memeluk Sasuke. Dia ingat bagaimana dia membelai rambut Sasuke.

'Hinata, kenapa kau menangis?'

"Hinata, kenapa kau menangis?" Tiba-tiba Hinata tersontak kaget saat menyadari bahwa itu bukan suara Sasuke melainkan Sasori.

"Ha? Apa? Aku menangis? Enggak kok, mataku hanya sedikit pedih," kata Hinata sambil menghapus air terjun buatan di pipinya.

"Tidak, aku melihatmu menangis," kata Sasori.

"Enggak. Tuh kan, udah. Tenang, aku gak nangis kok," kata Hinata dengan senyum manisnya. Tiba-tiba Sasori menghentikan laju mobilnya.

"Kau pandai berpura-pura. Kusarankan kau masuk theater," kata Sasori yang menghadapkan tubuhnya ke arah Hinata. "Dengar, apa yang mengganggumu?" tanya Sasori.

"Tidak ada," kata Hinata dengan sedikit bergetar.

"Hinata, bibirmu mengatakan tidak tapi matamu memancarkan ada yang mengganggumu," kata Sasori. "Apa ini tentang Neji? Atau Sasuke?"

"Tidak ada," kata Hinata sekali lagi.

"Baiklah. Mungkin kau tak mau membicarakannya," kata Sasori yang mulai menjalannya mobilnya kembali.

Keheningan menyelimuti. Hinata tak bicara karena dia memikirkan Sasuke sedangkan Sasori memikirkan apa yang dipikirkan Hinata. Intinya, mereka memikirkan hal yang sama, Sasuke.

"Sasori, untuk hari ini aku ingin menyendiri. Jadi, jangan temui aku ya?" pinta Hinata kepada Sasori yang berkonsetrasi dalam mengendarai mobilnya.

"Kau nanti pulang bagaimana?" tanya Sasori.

"Aku naik bus," jawab Hinata.

"Kau berani?" tanya Sasori.

"Iya," kata Hinata.

"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, telepon aku," pesan Sasori.

"Iya," kata Hinata mengiyakan pesan Sasori.

Mobil Sasori pun terparkir di halaman sekolah elit. Mereka keluar dari mobil dan berjalan secara terpisah. Mereka menuju kelas masing-masing. Satu hari penuh Hinata tidak bicara kecuali membicarakan hal yang penting. Terkadang pikirannya juga tak fokus. Membuat sekitarnya bingung.

xXx

Para siswa berteriak girang saat bel sekolah tanda pulang berbunyi. Suasana ramai seusai sekolah itulah momen terindah saat jadi pelajar.

"Neji, aku boleh ke rumahmu?" tanya Sasuke yang berjalan beriringan dengan Neji.

"Kapan?" tanya Neji balik.

"Nanti jam sembilan," jawab Sasuke.

"Ada keperluan apa? Bertemu Hinata?" tebak Neji. Mereka berjalan menuju mobil Neji yang kebetulan parkir di sebelah mobil Sasuke.

"Iya. Ada yang aku ingin kutanyakan," kata Sasuke.

"Sasuke, bisa aku meminta sesuatu padamu? Anggap saja ini permohonan," kata Neji.

"Apa itu?" tanya Sasuke penasaran. Neji memajukan badannya. Dia membisikkan sesuatu pada Sasuke.

"..."

"Akan kucoba. Dengan senang hati," kata Sasuke dengan senyum sumringahnya.

"Kau harus bisa, Sas," kata Neji.

"Wish me luck," kata Sasuke yang berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu mobilnya.

"Ya, wish you luck. Semoga ingatanmu kembali," kata Neji yang sontak membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.

"Dari mana kau tau?" tanya Sasuke.

"Itachi. Itachi menceritakannya padaku. Itachi ingin membantu Hinata tetapi dia tidak tega memberi tau Hinata," jelas Neji.

"Apa yang ingin dia katakan pada Hinata?" tanya Sasuke. Neji membalas dengan senyuman ramah.

"Berusahalah, Sasuke. Hinata menyukai Sasuke kecil," kata Neji yang kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya dan mobilnya pun melaju.

Mobil itu meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di depan pintu mobilnya. Dia meraih ponsel yang ditaruhnya dalam saku. Mencari sebuah nama di kontak nama di ponselnya dan menelpon seseorang.

"Sai, kau dimana?" tanya Sasuke pada seseorang yang berada di seberang telepon.

"..."

"Bisa kita bertemu? Ada sesuatu yang mau kubicarakan."

"..."

"Baiklah."

xXx

Tiga pemuda duduk di sebuah meja kafe elit di Tokyo. Satu berambut raven dengan gaya acak-acakan, satunya lebih mirip dengan pemuda sebelumnya hanya rambunya berwarna hitam dan rapi serta kulitnya lebih putih. Satu yang lainnya berambut kuning jabik yang mirip dengan kulit durian. Betapa elitnya gaya rambut mereka. Mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang juga elit.

"Ih, perasaanmu mendalam sekali sih," kata Sai.

"Mulai deh jiwa seninya," celetuk Naruto yang hanya mengamati kedua orang di depannya.

"Mungkinkah itu?" tanya Sasuke.

"Mungkin iya. Satu hal yang kau maksud itu tidak bisa diartikan dalam kata-kata. Hanya kau yang dapat mendefinisikannya sendiri," kata Sai.

"Tapi bukannya Sasori itu pacar Hinata?" kata Naruto yang mengalihkan pandangannya anehnya pada Sai. Dia memberi kode kepada Sai.

"Oh, iya. Katanya mereka sudah berciuman," kata Sai dengan antusias.

"Apa? Ciuman?" kata Naruto yang seolah kaget.

Jleb

"Iya. Ciuman pada bibir lagi," kata Sai.

Jleb jleb

"Waw. Bagaimana rasanya ya? Hinata itu manis, apalagi bibir mungilnya itu," kata Naruto sembari menahan tawa.

"Tau gak sih. Kurasa adegan Sasori menyelamatkan Hinata itu perlu diabadikan," kata Sai. "Itu adalah seni alami yang datang dalam hati," sambungnya.

Jleb

"Ah, kurasa cinta mereka bisa jadi seperti Romeo dengan Juliet. Tapi mungkin dengan akhir bahagia," kata Naruto.

"Bingo! Kau benar juga. Oya, kau tau. Di blog sekolah sudah ada puluhan tentang cerita fiksi tentang mereka. Kalau media tau pasti gempar," kata Sai.

"Iya. Sayang identitas Hyuuga Hinata putri seorang Hyuuga Hiashi hanya diketahui orang sekolah saja," kata Naruto.

"Dan kau tau tidak, bahwa Hinata menemani Sasori saat di UKS seusai berkelahi dengan Neji di atap," kata Sai.

"Benarkah? Wah, UKS kan sepi. Apa yang dilakukan playboy itu ya?" kata Naruto dengan ekspresi sedang membayangkan.

"KALIAN INI SENGAJA YA?" teriak Sasuke yang kesal dengan ulah kedua sahabatnya seraya menggebrak meja. Sontak semua pandangan orang tertuju pada Sasuke.

"Sas, kau tak usah segitunya, kan?" kata Naruto yang ketakutan. Sedangkan Sai meminta maaf pada pengunjung lain dengan berbungkuk-ria.

"Aku pulang. Aku harus memui Hinata," kata Sasuke dengan wajah yang sudah kembali netral. "Oya, setelah ini, kalian akan mendengar berita Hinata berpacaran denganku," sambungnya yang kemudian pergi meninggalkan kedua sahabatnya.

"Huahahahahahaha," Sai dan Naruto tertawa lepas saat Sasuke sudah hilang dibalik pintu.

"Kita berhasil membuatnya panas," kata Naruto disela-sela tertawanya.

"Benar! Kita harus dapat bayaran yang besar dari Hinata," kata Sai yang masih tertawa sampai dia mengeluarkan air mata.

"Ehehem," seseorang berdehem di belakang mereka.

"Oh tidak," kata Naruto polos.

"Jangan kembali lagi ke sini!" teriak seorang pegawai yang menendang mereka berdua keluar dari kafe elit tersebut.

xXx

"Dasar mereka berdua itu sama saja. Tidak menghiburku malah memanas-manasi aku," kata Sasuke pada dirinya sendiri. Sasuke berada dalam mobilnya. Berkonsentrasi pada jalanan Tokyo. Ponselnya berbunyi pertanda ada sebuah panggilan masuk.

"Halo?"

'Sasuke, kau dimana?'

"Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu," kata Sasuke yang berkonsentrasi pada jalanan.

'Hinata, belum pulang dan ponselnya tidak aktif,' kata Neji. Sontak Sasuke menginjak rem mobilnya. 'Seharusnya dia langsung pulang tadi. Tak ada jadwal jam tambahan hari ini,' sambung Neji.

"Kau jangan khawatir. Aku akan menelpon Sasori dulu. Mungkin Hinata bersamanya," kata Sasuke yang langsung menutup telponnya dan menelpon seseorang yang ada di daftar kontaknya.

"Halo? Sasori, Hinata bersamamu?" tanya Sasuke yang sudah mendapat firasat Hinata tak bersama Sasori.

'Tidak.'

"Jadi dimana Hinata sekarang?"

'Dia belum pulang?'

"Neji menelponku. Hinata belum pulang dan ponselnya tidak aktif," kata Sasuke.

'Katanya dia pulang naik bus,' kata Sasori.

"Sasori, bantu aku mencarinya di halte. Mungkin saja dia nyasar," kata Sasuke.

'Kau ke sekolah saja. Aku ada firasat buruk. Aku akan tanyakan pada Sakura,' kata Sasori.

"Baiklah," kata Sasuke mengakhiri dialog bersama Sasori melalui telepon.

Sasuke menginjak gasnya dan mobilnya melaju dengan kencang. Entah apa yang merasuki dirinya. Dia hanya bertingkah seperti ini kepada satu gadis. Pada gadis yang dilupakannya.

Tak lama kemudian dia sampai di halaman sekolah. Dilihatnya Sakura sedang menangis di pojokan. Tanpa babibu Sasuke turun dari mobilnya dan berlari ke arah Sakura.

"Sakura, Hinata dimana?" tanya Sasuke yang ngos-ngosan.

"Bersama Karin di gudang belakang sekolah," jawab Sakura dengan sesenggukkan. "Sasori sudah ke sana," sambungnya sambil menunjuk jalan ke arah gudang.

Sial. Aku kalah start, pikirnya.

Tanpa babibu, dia berlari ke arah gudang belakang. Dia melihat Sasori baru akan memasuki gudang.

"KARIN! HENTIKAN!" teriak Sasori yang berada di ambang pintu.

"Sasori," Karin kaget melihat Sasori dan diikuti Sasuke.

Karin membawa pisau di tangan kanannya. Di sana tak hanya karin. Ada beberapa siswi yang membantunya bersenang-senang. Ponsel Hinata hancur dan tergeletak tak beraturan di lantai. Tubuh Hinata diikat di sebuah bangku dengan tangan di belakang dan kaki yang juga terikat, mulutnya pun dilakban. Wajah Hinata penuh sayatan pada wajahnya dan pada tubuhnya. Ada darah mengalir di hidungnya. Rambutnya tak karuan, bajunya juga compang-camping.

"Hinata," ucap Sasuke lirih dan berlari ke arah Hinata. Dia mengambil pisau yang ada di lantai. Memotong tali-tali yang meliliti tubuh Hinata dan membuka perlahan lakban pada mulut Hinata. Dia memeluk Hinata layaknya memeluk bonekanya yang hilang. Dan dengan lemas Hinata membalasnya.

"Sasuke-kun, arigatou," kata Hinata. Hinata memanggilnya dengan embel-embel kun. Sasuke menggendong di belakang punggungnya.

Sasori berjalan mendekati Karin dan mengambil pisau yang dibawanya. Dia ngelus-eluskan pisaunya pada pipi Karin.

"Sepertinya ada wajah yang siap di operasi," kata Sasori. "Dan beberapa yang lain," sambungnya dengan sedikit bentakan saat menengok kepada penindas lainnya dan bentakkan Sasori membuat mereka terlonjak.

"Sasori, tak ada gunanya," kata Sasuke.

"Dengan ini, karena gadis ini," Sasori mengarahkan pisaunya ke pada Hinata. "Karena Hyuuga Hinata, perkumpulan para penggemarku dibubarkan! Aku tak ingin adanya penindasan. Terlebih lagi pada orang dekatku," kata Sasori yang disusul dengan melemparkan pisau yang dipegangnya melewati Karin.

Klang tlang

Pisau yang dilempar Sasori menabrak tembok dan jatuh ke lantai.

"Sasori," gumam Hinata lirih sambil mengeratkan penggangannya pada leher Sasuke.

"Tidak ada yang namanya penggemar Sasori! Dan untuk kalian yang menindas Hinata, ada dua pilihan. Keluar dari sekolahan ini dengan terhormat atau dikeluarkan dengan hina!" teriak Sasori.

"Sasori, simpan tenagamu," kata Sasuke.

"Pikirkan itu," kata Sasori mengakhiri adegan teriak-teriaknya di gedung.

Sasori dan Sasuke meninggalkan gedung itu dan berjalan menuju tempat Sakura menunggu.

Cahaya apa yang ada di mata Sasori? Apa Sasori menangis? Untuk apa dia menangis? Sasuke, kenapa dia masih pakai seragam sekolah? Apa dia tak pulang? pikiran Hinata campur aduk. Hinata mengeratkan pelukannya pada leher Sasuke.

"Hinata!" pekik Sakura dari kejauhan. "Apa kau tak apa?" tanya Sakura yang berlari mendekat. Sasori dan Sasuke berhenti berjalan.

"Hinata tak apa," kata Hinata lemas seraya tersenyum di balik punggung Sasuke.

"Maaf, ya. Aku terlalu takut dengan mereka. Harusnya aku melindungimu," kata Sakura menyesal.

"Tak apa, senang kau ada niat untuk menolongku," kata Hinata. "Cepatlah pulang ini sudah malam," sambungnya.

"Baiklah. Ini tas Hinata. Jaa," kata Sakura yang berlari kecil bergegas untuk pulang setelah Sasori menerima tas Hinata yang dibawanya. "Tolong jaga Hinata baik-baik," pesan Sakura pada kedua pemuda yang bersama Hinata.

"Aku akan bawa Hinata pulang," kata Sasuke.

"Jaga baik-baik," pesan Sasori pada Sasuke yang kemudian dia mengalungkan tas selempangan Hinata ke leher Sasuke dan pergi meninggalkan Sasuke yang masih menggendong Hinata.

Sasuke berjalan mendekat ke arah mobilnya. Dia membuka pintunya dan mendudukkan Hinata di bangku penumpang depan. Dia menutup pintu dan berjalan ke sisi mobil lainnya. Sasuke duduk di bangku pengemudi sebelah Hinata.

Keheningan menyelimuti. Sasuke masih belum berajak untuk menjalankan mobilnya. Hinata memandang lemah wajah Sasuke. Keheningan ini terasa menusuk seperti dingin malam di badai salju pada musim dingin. Bukan. Badai tak hening. Seperti keheningan malam di musim dingin yang menusuk. Rasanya ada yang tercekat pada tenggorokan Sasuke yang membuat dia tak berbicara.

Sasuke mencari sesuatu di saku celananya. Dia mendapatkan sapu tangannya. Dia mencondongkan tubuhnya pada Hinata. Sasuke membersihkan darah di wajah Hinata.

"Lihat wajahmu. Sangat kacau," kata Sasuke.

"Gomen, baju dan sapu tanganmu kotor gara-gara aku. Gomen, Sasuke—," kata Hinata.

"Sasuke-kun," kata Sasuke tiba-tiba seraya membersihkan wajah Hinata. "Kau memanggilku dengan sebutan itu tadi," sambungnya yang sontak membuat wajah Hinata memerah. Sasuke berhenti membersihkan darah karena sudah tak ada darah yang harus dibersihkan dari wajah manis Hinata. Sasuke menatap wajah Hinata dengan tatapan seorang kekasih. Mungkin.

"Be-benarkah?" tanya Hinata pura-pura tak tau.

"Waktu itu... itu kau, kan?" tanya Sasuke yang masih menatap mata Hinata. "Kenapa kau menangis?"

Apa dia ingat? pikir Hinata.

"Waktu kapan?" tanya Hinata penasaran.

"Saat aku mabuk. Kau menangis, kan?" tanya Sasuke balik. "Kau bilang Sasuke... mamamu akan selalu di hatimu. Mamamu akan selalu... berada di sampingmu. Memperhatikan anaknya tumbuh... iya... kan?" kata Sasuke. Dia berbicara secara putus-putus. Mata tajamnya menatap Hinata dengan tatapan lembut. Begitu lembut untuk dimakan. Seperti puding.

"A-a-ano... a-a-aku... a-ano..." Hinata tak tau harus menjawab apa. Dia gugup akan tatapan Sasuke yang tak pernah dilemparkannya padanya. Itu bukan tatapan Sasuke kecil. Mungkin begitulah sekarang menatapnya.

"Aku hanya ingin jawaban iya atau tidak," kata Sasuke singkat.

"Iya," jawab Hinata akhirnya dengan nada menyerah. Sasuke mencondongkan lagi tubuhnya. Dia memeluk Hinata dengan pelukan yang hangat. Sangat hangat tapi menyesakkan. Karena pelukkannya begitu erat. Bukan. Karena tergores sakit yang sangat perih pada pelukkannya. Hingga hatinya begitu sakit.

"Aku senang itu adalah kau," kata Sasuke dengan nada yang bisa dibilang lembut. Tapi ekspresi wajah yang tak bisa dilihat Hinata adalah ekspresi sedih.

"K-k-k-kenapa?" tanya Hinata. Sudah dapat dipastikan wajahnya sekarang semerah tomat.

"Aku senang. Hanya senang. Tak tau apa yang membuatku senang," kata Sasuke yang masih dengan ekspresi menyedihkan. "Biarkan aku memelukmu begini. Untuk beberapa saat," sambungnya. Sasuke menikmati setiap kehangatan yang dia dapatkan. Hinata memberanikan diri membalas pelukan Sasuke. Sasuke tersenyum tipis.

"Kau tau. Jika aku bisa menghentikan waktu setidaknya membuatnya lebih lama, aku akan menggunakannya pada saat ini. Sayang aku bukanlah seorang Kronos sang Titan si Penghenti Waktu," kata Sasuke mencoba menggombal. Mungkin.

"Haha, itu bukan sifat Sasuke," kata Hinata sambil mendorong tubuh Sasuke hingga pelukannya terlepas.

"Bagaimana kau tau aku?" tanya Sasuke dengan ekspresi kaget. "Kau pasti sudah sangat mengenalku," sambungnya.

"Eh?"

"Iya, kan?" tanya Sasuke menegaskan. Dia membelai rambut halus Hinata. Mengarahkan ke belakang kepala Hinata agar tak menutupi pandangan Hinata.

"Ah, bagus. Hinata, Sasuke dan Sasori wajahnya jelek semua. Turun pamor deh kita," kata Hinata untuk mengalihkan perhatian. Wajahnya menatap ke depan. Lurus ke depan. Pundaknya bergetar pelan. Seperti menahan tangisan.

"Please, I'm begging you, Hinata," kata Sasuke pelan.

"Please, I'm also begging you. Jangan memaksa," kata Hinata dengan isak tangis. Pundak yang tadi bergetar hanya pelan, sekarang getaran di pundaknya terlihat jelas. Dia menangis. Ya, sudah kujelaskan tadi.

"Sorry, Hinata," kata Sasuke menyesal. Dia menundukkan kepalanya sedih. "Maaf," katanya lagi.

"Daijoubu," kata Hinata sambil menghilangkan kristal-kristal bening di matanya.

"Kau suka melihat bintang, kan?" tanya Sasuke memastikan. Hinata mengangguk pelan. "Mau melihat bintang bersamaku?"

"Apakah Nii-san tidak marah jika aku pulang malam?" kata Hinata mempertimbangkan.

"Tenang saja. Aku sudah meminta ijin Neji, kok," kata Sasuke. Dia menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya.

Sepanjang perjalanan tanpa sadar Hinata memandang Sasuke terus-menerus. Pertama kali aku satu mobil dan hanya berdua dengan Sasuke, pikir Hinata.

"Oya, apa kau tak lapar?" tanya Sasuke di tengah-tengah perjalanannya.

"Tidak," jawab Hinata yang diikuti dengan suara kruyuk-kruyuk. "Eh, maksudku iya," sambung Hinata dengan linglung.

"Hehe, kau mencoba berbohong ya?" kata Sasuke seraya mengacak pelan poni Hinata. Dia tersenyum lepas dan melemparkan senyuman itu kepada Hinata. "Kau mau makan apa?" tanya Sasuke.

"Eh, terserah apa katamu," kata Hinata.

"Aku tak lapar. Sebelumnya aku sudah makan bersama Sai dan Naruto," kata Sasuke.

"Jadi, aku saja yang makan?"

"Iya, Hinata," kata Sasuke yang lagi-lagi tersenyum kepada Hinata.

"Ah, aku lapar tapi gak nafsu," kata Hinata lesu.

"Bagaimana kalau pancake dan ice cream?" saran Sasuke.

"Boleh," kata Hinata setuju.

"Eh, Hinata," panggil Sasuke.

"Ya?"

"Eh, lupakan. Aku lupa mau tanya apa," kata Sasuke. Aku takut kau menangis, lebih baik aku diam, batin Sasuke.

"Ayo, kita sudah sampai," kata Sasuke setelah memarkirkan mobilnya. Mereka keluar dari mobil kemudian berjalan ke arah sebuah kafe es krim. Mereka mencari tempat dan akhirnya mereka memilih tempat dekat jendela. Dari tempat mereka duduk bisa dilihat kesibukkan kota di malam hari.

"Bagaimana sekolah di sini?" tanya Sasuke di tengah menunggu pesanan mereka.

"Yah, sekolah hanya begitu-begitu aja," jawab Hinata dengan menatap mata tajam Sasuke.

"Tampaknya kau tak suka sekolah," kata Sasuke yan memandang lurus ke dalam mata Hinata.

"Menurutku sekolah hanya penghubung untuk ke perguruan tinggi," kata Hinata. "Pelajaran yang diajarkan tak semua digunakan saat bekerja nanti," sambungnya.

"Jadi, menurutmu kita hanya butuh pelajaran membaca, menulis dan menghitung, ya?" tanya Sasuke.

"Tidak juga," jawab Hinata. "Sekolah, apalagi di masa SMA itu sangat berarti. Di masa inilah kita mempelajari lebih dalam arti tentang kehidupan remaja seperti persahabatan dan cinta," sambungnya.

"Persahabatan dan cinta," kata Sasuke mengulang.

"Ya. Sahabat adalah orang yang membuat kita menjadi orang yang lebih baik dan dengan mereka kita merasa nyaman," kata Hinata yang memandang ke arah jari jemarinya yang sedang bermain.

"Dan cinta. Apa itu?" tanya Sasuke.

"Cinta adalah hal yang sangat rumit. Hal yang membuat kita bertingkah aneh, jantung kita berdegup kencang dan terkadang kepada seorang itulah kita bisa berubah 180 derajat," jelas Hinata yang mengangkat kepalanya sehingga pandangannya dengan Sasuke bertemu.

"Benarkah itu?" tanya Sasuke.

"Entahlah. Tapi itulah yang dirasakan oleh tokoh disebagian buku yang kubaca," kata Hinata.

"Kau suka baca buku? Buku apa yang paling kau suka?" tanya Sasuke.

"Aku paling suka buku Romeo and Julia karya Shakespeare. Menandakan cinta itu tak dibatasi oleh apapun. Tak terbatasi oleh pertentangan dan kematian. Tragis, Romeo mengira Julia sudah meninggal dunia," kata Hinata dengan kristal yang mengalir keluar. "Ah, gomen. Aku terlalu dramatis," sambungnya seraya mengusap air matanya.

"Tak apa," kata Sasuke sambil tersenyum menatapnya.

"Aku merasa cinta mereka sangat mendalam," kata Hinata.

"Maaf telah menunggu lama," tiba-tiba seorang pelayan meletakkan pesanan Hinata di atas meja.

"Terimakasih," kata Hinata sambil tersenyum kepada sang pelayan.

"Sama-sama, nona Manis," balas pelayan dan kemudian pelayan itu pergi.

"Ah, dasar pelayan pembohong," celetuk Hinata yang akan memulai memakan pancake-nya. "Wajah penuh sayatan kaya gini dibilang manis," sambungnya.

"Pelayan itu gak bohong, kok," kata Sasuke.

"Eh? Pelayan tadi itu sedang mengejek," kata Hinata yang telah melahap satu suapan pancake.

"Tidak. Meskipun wajahmu begitu tetap saja. Kau seperti punya kharisma kecantikan sendiri," kata Sasuke.

"Ah, aku lupa bahwa kau teman satu kelas Sasori. Bahkan sebelahan," kata Hinata yang berkutat dengan pancake-nya.

"Eh? Apa hubungannya?" tanya Sasuke heran.

"Sasori itu kan penggombal sejati pasti kau sudah tertular," kata Hinata.

Kau sangat tau aku ya. Jika tidak kau tidak akan bicara begitu, pikir Sasuke.

"Maybe," kata Sasuke.

Sepanjang Hinata menyantap pesanannya Sasuke menatap lembut ke arah Hinata. Seakan tak ada objek yang lebih indah untuk dipandang. Aku ingin tau apa yang sedang dipikirkan.

Dilihat darimana saja kau tetap manis. Meski dengan sayatan di wajahmu. Benar-benar seperti boneka. Rambutnya, alisnya, matanya, bulu matanya, hidungnya, bibirnya, telinganya. Kenapa ada orang sesempurna dirimu. Perasaan ini, apa benar ini cinta? Aku hanya bisa tersenyum kepadamu. Berubah 180 derajat. Aku hanya banyak bicara saat denganmu. Melihatmu menangis membuatku terpukul. Seperti jutaan anak panah menusuk dadaku. Dan perutku seperti ditarik-tarik. Mungkin ini cinta, pikir Sasuke selama memandangi Hinata yang serius dengan pesanannya.

"K-kenapa kau menatapku begitu?" tanya Hinata yang selesai manyantap pesanannya.

"Ih, sapa bilang aku menatapmu," kata Sasuke dengan tertawa lepasnya seraya mengacak lembut poni Hinata.

"Ah, oh," Hinata tertunduk malu.

"Oya, apa cinta itu selalu menyakitkan?" tanya Sasuke pada Hinata.

"Cinta itu memang menyakitkan. Tapi itu yang membuat hidup lebih hidup," kata Hinata.

"Apa Hinata sudah pernah merasakan cinta?"

"Kupikir iya. Aku menyukai orang ini dari kecil. Saat aku jauh dengannya, aku selalu mendapat informasi kegiatannya dan foto terbarunya dari orang terdekatnya," kata Hinata. "Apa Sasuke pernah jatuh cinta?" tanya Hinata.

"Aku tak tau," jawab Sasuke. "Aku bayar dulu," kata Sasuke setelah keheningan menyelimuti beberapa saat.

"Eh, a—ku aja yang bayar," kata Hinata tetapi Sasuke sudah berjalan menuju kasir.

"Ayo, kita lihat bintang," kata Sasuke sambil menarik pelan tangan Hinata.

Hinata dan Sasuke masuk ke dalam mobil kembali. Sasuke pun menjalankan mobilnya.

"Ini jalan ke rumah, kan?" tanya Hinata yang mengenali jalan yang mereka lalui.

"Memang. Di dekat rumah itu ada bukit kecil. Jika lihat bintang di situ akan terlihat sangat jelas," kata Sasuke.

"Bukit itu," gumam Hinata.

"Kau sudah pernah ke sana?" tanya Sasuke.

"Belum," jawab Hinata bohong.

"Nah, ini dia tempatnya," kata Sasuke yang sedang memarkirkan mobilnya.

"Lama tak ke sini," gumam Hinata.

"Apa?" tanya Sasuke yang mendengar samar apa yang diucapkan Hinata.

"Eh, tidak. Bukan apa-apa," jawab Hinata.

"Ayo! Kita naik," ajak Sasuke yang menarik lengan Hinata.

Sekarang ada bangkunya, pikir Hinata.

"Kau suka?" tanya Sasuke yang duduk di bangku di atas bukit.

"Iya. Katanya orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang," kata Hinata yang memandang langit dari bangku bukit itu.

"Iya. Ayahku bilang begitu," balas Sasuke.

Ayah?

"Hai, Bu. Apa kau baik-baik di surga? Aku sangat merindukanmu. Ibu, akhir-akhir ini ayah memikirkan ibu. Dia pasti sangat merindukanmu. Bisakah kau meminta Tuhan untuk mengirimkan seseorang untuk ayah? Agar ayah tak kesepian," ucap Hinata yang berbicara dengan langit luas.

"Idemu bagus juga. Berbicara dengan bintang," kata Sasuke.

"Teman kecilku yang mengajarinya," kata Hinata seraya tersenyum ke arah Sasuke.

"Hei, Ma. Apa kabarmu? Kau lihat, sebelahku ada gadis manis yang menemaniku. Apakah kau bertemu dengan ibunya di surga? Jika kau mengenalnya kirimkan salamku padanya ya," kata Sasuke. Hinata tertawa anggun saat mendengar apa yang diucapkan Sasuke. "Dan juga ini, Ma. Minta tolonglah kepada Tuhan agar Tuhan mengirimkan jodoh aniki secepatnya. Agar aku terlepas dari siksaannya," sambung Sasuke.

"Hihi, memang Itachi-niisan suka menyiksa?" tanya Hinata dengan tawa manisnya.

"Iya. Ngomong-ngomong, ibumu juga sudah meninggal?" tanya Sasuke.

"Iya, dia meninggal saat melahirkanku. Untung aku tak dibuang oleh ayah karena itu," kata Hinata sambil tertawa hambar.

"Mana mungkin. Bagi ayahmu pasti kau ini adalah hadiah terindah dari ibumu," kata Sasuke.

"Mungkin karena itu ayah sangat menyayangiku," kata Hinata.

Mereka berdua memandang jutaan bintang yang terlihat dari tempat mereka berada. Di bukit, tidak ada penerangan sehingga jika kau menghadap ke atas akan terlihat berjutaan bahkan bermilyaran bintang.

"Kau tau, ibuku/mamaku yang itu," kata keduanya bersamaan dan menunjuk bintang yang sama. Bintang paling terang.

Hening.

"Ahahaha," tawa keduanya keluar.

"Kau mengikutiku," kata Sasuke yang masih dengan tawa lepasnya.

"Kau yang mengikutiku," kata Hinata yang tak mau kalah.

"Ahaha, dasar," kata Sasuke sambil mengacak poni Hinata pelan.

"Ah! Bintang jatuh!" pekik Hinata seraya menunjuk bintak yang terjun ke bumi.

Mereka tertegun saat melihat langit yang indah bertaburan bintang dengan kilatan-kilatan indah lainnya.

"Ah, hujan meteor!" pekik Sasuke. Detik berikutnya dia terpaku.

"Ada apa?" tanya Hinata.

"Aku merasa pernah mengalami ini. Deja vu?" kata Sasuke.

Mungkin kau mulai mengingatnya, pikir Hinata. Dia tersenyum ke arah Sasuke.

"Ah, ayo buat permintaan!" kata Hinata.

Mereka menundukkan kepala dan membuat permintaan dalam hati mereka.

Tuhan, kirimkan aku cinta sejatiku.

Jangan Kau ambil orang yang kucintai.

"Amin," kata keduanya bersamaan.

"Apa yang kau minta?" tanya Sasuke.

"Rahasia. Aku tak akan memberitahukannya," kata Hinata.

"Ih, jahat," kata Sasuke. "Sudah puas melihat bintang?" tanya Sasuke.

"Mau pulang?"

"Kau mau tinggal di sini terus?" tanya Sasuke.

"Ah, sebentar. Ada yang aku bicarakan dengan ibuku," kata Hinata. "Ibu, maafkan Hinata ya. Kalung berliontin violin milik ibu hilang saat Hinata akan pergi ke New York dulu. Maaf kan Hinata kecilmu dulu," kata Hinata yang memandang bintang dengan tangan seperti minta maaf.

"Sudah?" tanya Sasuke.

"Yep," jawab Hinata.

"Ayo."

Hinata dan Sasuke berjalan menuruni bukit itu.

"Kalung milik ibumu hilang?" tanya Sasuke.

"Iya. Kalung dengan violin sebagai liontinnya. Hilang saat umurku enam tahun di taman kota," kata Hinata.

"Liontin violin, umur enam tahun, di taman kota?" tanya Sasuke memperjelas. Dia berhenti beberapa meter dari mobilnya. Dia merasakan darahnya mengalir ke telinganya. Serasa keluar asap dari telinganya. Kepalanya agak pusing.

"Iya. Ada apa?" tanya Hinata ketika melihat ada yang tak beres.

"Apa ada ukiran tulisan VG di situ?"

xX Bersambung Xx

Ken : terasa tegangnya gak yang terakhir? *berharap*

Kei : Huweeee.. *berharap sambil nangis*

Ken : Reviewnya *bungkuk-bungkuk*

Kei : Like, favo, and subcribe! *bungkukin badan bolak-balik (emang fotocopy bolak-balik?)*

Ken : Arigatou!

REVIEW

V

V

V