Dark End Park

By The Fallen Kuriboh

Inazuma Eleven © Level-5

Shaman King © Hiroyuki Takei

Rated: T

Genre: Horror, Mystery, Tragedy, Friendship

Featured: Crossover, Gore fic, Alternate Universe

Chapter 2

Sliced Little Wolf

Atsuya's POV

"Hiks... Hiks..." Ia menangis. Shirou, kakak kembarku yang selalu diganggu oleh teman-teman sepermainan kami karena tubuhnya yang lemah.

"Anak payah! Kau pasti dibuang orang tuamu karena bertubuh lemah, makanya mereka tak pernah mengunjungi anak-anak mereka ke asrama!" Dahiku berkerut kesal. Segera kuhentikan permainan sepak bolaku. Lalu berjalan menghampiri mereka dengan segenap emosiku.

"Apa yang kalian lakukan pada Shirou! Dasar bodoh, lagipula kami juga tak butuh orang tua!" ucapku dengan kasar sembari menatap tajam pada dua bocah perusuh itu.

"Bodoh katamu? Kau mau mengajak berkelahi ya!" Aku menyeringai ketika mendapat sinyal 'undangan' itu.

"Boleh. Siapa takut? Kalian cuma dua bocah berlemak yang jago omong saja kan?" Kujulurkan lidahku, membuat emosi dua bocah sial itu memuncak.

"SIALAN KAAU!"

Dan pertempuran yang jelas hasilnya itu kami mulai.

"...Atsuya."

"Hei, Atsuya."

"Apa?" jawabku dengan anda malas. Karena aku tahu hal apa yang akan ia ucapkan sebentar lagi.

"Berkelahi itu tidak baik." ucapnya dengan nada bicara khawatir. Tentu ia tahu bahwa aku tidak akan berhenti karena kata-katanya itu.

"Tapi aku menang kan?" Aku tersenyum lebar. Ia menghela napas, lalu mengulurkan tangan padaku yang tengah duduk bersila di atas tumpukan dua 'korban aniaya'ku. Kuraih tangan kecil dari kakak kembarku yang selembut salju itu.

"Terima kasih karena telah melindungiku."

"Hn, karena Shirou adalah orang yang paling berharga bagiku!"

"Atsuya..."

"...Atsuya"

"Woi, Atsuya! Ayo bangun!"

Aku terjungkal ketika mendengar suaranya yang menggema sampai ke dalam telingaku. Satu jingkatan penuh kejutan dan aku terjatuh dari ranjangku. Ranjang susun kalau kau mau tahu. Dan aku terjatuh dari tingkat dua. Bayangkan betapa sakitnya tulang-tulangku saat ini.

"Shirou!" Aku memandangnya dari bawah sini, mengusap kepalaku yang sakit luar biasa akibat mencium lantai dan mulai berargumen.

"Kalau bangunin orang itu hati-hati! Pakai cara yang normal dong, tak perlu berteriak di telingaku segala!" Yah, meskipun suaranya tergolong pelan, namun tetap saja kalau berteriak tepat di telinga akan menimbulkan dampak besar.

"Sudah setengah jam aku berusaha membangunkanmu dan tidak berhasil." jawabnya dengan nada suara datar. Mata biru kehijauan miliknya itu menatap padaku dengan ekspresi polosnya.

"Lagipula tadi pola tidurmu heboh sekali. Apa kau bermimpi tentang sesuatu?"

"Yah, sepertinya mimpi nostalgia tentang masa kecil kita." jawabku sembari asyik mengusap kepalaku yang sepertinya mulai benjol akibat terjatuh tadi.

"Begitu? Ngomong-ngomong, kau bisa terlambat bila tak segera bersiap." Ia tersenyum, senyuman lembut yang menjadi ciri khasnya.

"Memangnya sekarang jam berapa?" tanyaku dengan malas. Paling-paling juga masih pagi.

"Jam delapan kurang sepuluh menit." ucapnya polos sambil memberikan jawaban yang terdengar sangat horror di telingaku.

Segera saja aku melesat ke kamar mandi. Menghabiskan waktu hanya tiga menit untuk mandi dan memakai seragamku dengan acak-acakan hanya dalam waktu dua menit. Great, masih ada waktu lima menit lagi dan sekarang kita harus berangkat—

"Memangnya kau mau pergi kemana dengan seragam sekolah yang berantakan itu?" Kembaranku yang rambutnya putih kelabu itu tertawa kecil.

"Tentu saja ke sekolah. Kita bisa terlambat kalau tidak segera..." Tunggu, sepertinya ada yang salah di sini. Oh, jangan bilang kalau sekarang...

"Ini hari minggu, Atsuya."

Sial, kenapa aku bisa lupa kalau ini hari Minggu?

Aku menggaruk kepala dengan canggung, lalu meleaps seragamku dan melemparkannya dengan asal. Kemudian aku merangkak kembali menuju ranjangku.

"Oke, kalau begitu aku tidur lagii."

"Hari ini memang tak ada kegiatan sekolah, namun siapa tahu kalau kau lupa bahwa hari ini kita ada latihan eskul sepak bola?" Oh shit, aku lupa lagi. Benar juga, untuk apa Shirou membangunkanku bila hari ini tak ada kegiatan sama sekali?

Aku adalah Atsuya Fubuki, dan yang berambut kelabu tadi adalah kakak kembarku. Ya, kami kembar namun sangat berbeda sifat. Aku ini tipe orang yang enerjik dan lincah, sedangkan Shirou itu tipe yang kalem.

Aku nakal, dia disiplin. Aku jago berkelahi, dia jago berargumen. Aku punya banyak teman sesama preman, dia dicintai banyak fangirls. Aku jago olahraga, dan dia pandai di bidang akademis. Jika aku adalah matahari yang penuh kekuatan, maka ialah sang bulan yang redup dan tenang dalam peraduan.

Singkatnya, kami sama sekali berbeda dalam hal sifat. Satu-satunya hal yang sama-sama kami gemari adalah sepak bola. Tak usah maklum karena aku jago olahraga, namun bagaimana dengan Shirou? Entahlah, aku juga heran mengapa dia bisa ikut ke eskul sepak bola. Tapi kuakui bahwa ia adalah defender yang hebat (by the way, aku menjadi forward di timku).

Lamunanku terbuyar ketika kepalanya menyembul dari samping ranjangku.

"Ayo pergi, Atsuya. Nanti pelatih marah kalau kita terlambat," ajak Shirou seraya tersenyum lembut padaku. Kubuang muka ke arah yang berlawanan dari sisinya, membuat saudara kembarku itu khawatir. Ya, aku bisa menebaknya meski aku tak melihat wajahnya. Ayolah, aku menghabiskan 14 tahun waktuku hidup dengan aniki yang imut ini, tak heran bila kami bisa saling memahami.

"Atsuya, kau marah?" tanya Shirou dengan tone suara yang terdengar merasa bersalah. Aku mendengus kesal, lalu berbalik menghadap aniki-ku yang selembut salju itu.

"Iya, iya! Ayo kita pergi!" Shirou tersenyum ketika aku berbalik menghadap wajahnya. Meski ekspresiku masih terlihat kesal, ia tahu bahwa aku tidak benar-benar marah padanya.

Tralala... Pembatas Cerita

Kami tiba di Hakuren, tepat waktu. Nyaris saja aku dimarahi pelatih sial itu, huh. Kami segera disambut oleh teman-teman kami, yang entah kenepa kurasa mereka itu terlalu baik pada kami. Huh, beginilah kalau kau jadi orang keren! Selalu dipuja orang-orang meski kau tak menginginkannya.

Aku dan Shirou adalah dua anak kembar yang yatim piatu. Orang tua kami meninggal karena terkena longsoran salju, itu terjadi sepuluh tahu yang lalu. Kemudian kami tinggal di panti asuhan, sampai akhirnya suatu hari Shirou memenangkan kebebasan kami melalui sebuah persidangan. Kini kami hidup berdua dalam sebuah apartemen (mewah) yang aku sendiri tak tahu darimana Shirou mendapatkan uang untuk membayar seluruh kebutuhan hidup kami.

Dulunya Shirou adalah anak yang lemah sekali. Yah, bukannya aku bermaksud menghina tapi itulah kenyataannya. Ia sering dijahili oleh anak-anak sesama penghuni panti asuhan. Ketika ia menangis, maka aku akan menolong dan melindunginya. Tipikal dan klise, begitulah kehidupan kami saat masih kecil.

Namun begitu kami kelaur dari panti asuhan semuanya mulai berubah. Shirou menjadi cepat populer di Hakuren Gakuen ini. Bagaimanapun, ia kembaranku. Aneh kalau ia tidak populer. Kami ikut eskul sepak bola dan dengan cepat menduduki posisi ace. Aku ace striker dan dia ace defender. Dan beginilah kami, jauh dari kata 'kesepian' yang dulunya selalu menghantui.

"Semuanya, kita harus semangat berlatih hari ini! Minggu depan akan ada pertandingan persahabatan dengan SMP Raimon, jadi kita harus bersiap!" ucap kapten tim kami dengan suara lantang. Oh, aku mungkin tak perlu mengenalkannya, tapi namanya adalah Ryuugo Someoka. Dia orang aneh yang perangainya seperti orang darah tinggi (cepat marah) dan dengan ekspresi yan sangar. Hanya saja kepala plontosnya yang berambut pink itu sangat tidak mendukung wajahnya. Entah ia sebenarnya tipe yang girly hingga mengecat rambutnya dengan warna pink, atau karena rambut itu memang bawaan sejak lahir. Aku? Hei, rambutku ini tidak berwarna pink, ini warna pastel kau tahu!

...Baiklah, mungkin dekat dengan warna pink. Namun tetap saja ini bukan warna pink mencolok seperti kepala si om-om garang itu!

"Someoka-kun,"

Ah, lagi-lagi Shirou mengobrol dengan kepala pink itu. Kenapa ia senang sekali berada di dekat makhluk aneh itu? Kenapa ia tersenyum manis padanya? Kenapa ia...

Kenapa bukan aku?

"Shirou-kun~"

"Hei, Shirou!"

"Kyaa! Hari ini pun dia terlihat manis!"

Aku berdecak kesal, dengan alis yang tertaut dan wajah yang merengut. Berisiki sekali, selalu seperti ini tiap kali kami berjalan di lorong. Aku tahu Shirou memang imut, tapi kalian tak punya hak untuk mendekatinya, kalian tahu!

...Tunggu. Kenapa Shirou berjalan ke arah mereka? Kenapa peduli pada sekumpulan orang tak penting itu? Jangan! Jangan, Shirou! Jangan pergi dari teritori kita...

Jangan meninggalkanku.

Kenapa?

Bukankah dulu aku tak pernah meninggalkan sosokmu? Meski dulu kau selalu menangis dan meringkuk tak berdaya. Apa kau lupa? Bahwa akulah yang selalu melindungimu di hari-hari itu? Bukankah aku yang selalu berada di sisimu saat kau membutuhkanku?

Bukankah kau yang berkata,

"Jangan pergi..."

Namun kini malah kau yang mulai menjauh. Begitu hm, Shirou?

Ah, pengkhianat...

Normal POV

"Devil's Child kali ini telah ditentukan..."

Sang Tuan Invitor berucap, mengakibatkan terbelalaknya beberapa mata dan tersedaknya beberapa shaman yang sedang menikmati sarapan paginya dalam sebuah meja bundar di dalam dimensi Dark End Park.

"Uhuk ohok!" Contohnya saja Horo-Horo dan Chocolove, yang mana sampai terbatuk-batuk karena potongan daging yang mengganjal kerongkongan mereka.

"Baka," Disambut dengan 'pujian manis' dari Ren, yang kemudian memberikan sebuah gelas berisi air putih pada Horo-Horo. Sayangnya hanya Horo, tak ada kebaikan yang diberikan bocah tongari untuk Chocolove.

"Siapakah korban yang 'beruntung' kali ini?" tanya Lyserg, dengan sedikit aksen khusus pada kata 'beruntung'. Ia memang tipe yang cukup serius dalam bekerja.

"Bocah ini..." Yoh menjentikkan jarinya, memunculkan sebuah gambaran maya yang merekam sosok berambut pastel.

"Namanya Atsuya Fubuki. Dia bocah busuk yang pamrih dan seenaknya menuduh kembarannya sebagai pengkhianat. Tak pantas untuk hidup di dunia..."

Hao terkesiap ketika mendengar ucapan Yoh. Meninggalkan sebuah jejak keingintahuan pada shaman yang lain, dan menyisakan sebuah pandangan kosong yang dikirimkan sang Tuan Invitor.

"Ada apa, Hao?" tanya Yoh, dengan ekspresi datar dan kosong. Tidak terisi oleh senyuman yang biasanya selalu tersungging di bibirnya.

"...Tidak." jawab Hao, yang kemudian berdiri dari kursinya dan berlalu.

—Membawa sebuah dilema lama yang kini lukanya kembali ternganga.

Atsuya's POV

Hakuren Gakuen

Detik-detik waktu berjalan dengan sangat lambat. Aku menyangga wajahku, menatap malas ke luar jendela kelas. Rumus-rumus kimia di papan tulis bukanlah hal yang asyik untuk diperhatikan. Lebih baik melihat awan biru yang bertengger di dahan sana...

Dan bel istirahat berbunyi.

Hampir seluruh murid menghambur ke luar kelas, tak peduli pada sang guru kimia yang sejak tadi hanya melihat ke arah papan. Guru itu bahkan tak menyadari bahwa bel sudah berbunyi dan nyaris seluruh siswa pergi menghiraukannya. Entah orang ini tuli atau buta. Atau mungkin hanya kurang peduli saja...

Dan aku pun juga tak ingin menunggu waktu, lebih baik bergegas membeli roti kari sebelum kehabisan stok di kantin. Aku berdiri, beranjak ke luar dari bangku dan memanggil namanya.

"Shirou!"

"Ya?"

"Aku mau beli roti. Kau ada titipan tidak?"

"Umm, roti vanila kalau begitu." Aku tersenyum kecil. Vanila memang rasa kesukaannya.

"Oke, tunggu di sini ya!"

Dan aku pergi dari kelas, menyempatkan diri untuk menjulurkan lidah pada sosok Guru tidak jelas yang masih asyik dengan rumus-rumus kimia yang terpatri di papan. Dasar Guru tidak peka!

Di tengah perjalanan aku melamun. Menghiraukan beberapa panggilan dan seruan yang dikumandangkan teman-teman gengku ketika berpapasan.

Hingga akhirnya sebuah kelompok membicarakan hal yang menarik perhatian telingaku.

"Hoi Someoka, katanya belakangan ini kau dekat dengan bocah kelas satu yang namanya Shirou Fubuki kan?" Cih, ternyata si kepala botak dan teman-temannya. Dan lagi, apa maksudnya itu?

"Bocah itu kan manis, kau bisa menjadikannya pacar dan memanfaatkannya! Misalnya melakukan..."

'BUAK!'

Belum selesai orang sialan itu melanjutkan kalimatnya, wajahnya hancur duluan karena pukulanku. Tak peduli akan teriakan histeris para siswa, aku terus memukuli orang kurang ajar itu. Berani-beraninya ia merendahkan Shirou!

"Woi, Fubuki! Hentikan!" Si Ryuugo bodoh itu berusaha menghentikanku. Kukibaskan lenganku hingga ia terpukul mundur beberapa langkah. Kemudian tak ada lagi gangguan yang datang. Maka terus kuhancurkan orang sialan yang bahkan tak kukenal itu. Menghiraukan segala tangisan mohon ampun yang diteriakkan pria cengeng itu. Ia menyedihkan.

"Atsuya!" Sontak, aku menoleh ke arah asal teguran itu. Shirou, berdiri di belakangku dengan wajah kecewanya. Di sebelahnya ada si botak pink. Sial, pasti dia yang memanggil Shirou ke ini.

"Kenapa...?" Kh, aku tak bisa menjawab satu kata yang ia lontarkan itu.

"Tunggu dulu Shirou! Orang ini..."

"Kenapa kau selalu saja menyakiti orang lain!" Aku terhenyak. Baru kali ini Shirou berbicara padaku dengan nada suara meninggi.

Apa maksudmu, Shirou? Kau mau menyalahkanku? Menyalahkanku yang melakukan ini semua untuk melindungimu? Jadi kau tidak membutuhkanku, begitu?

Pengkhianat. Tidak hanya orang tua kita saja rupanya. Kau pun mengkhianatiku.

"Kau pikir untuk apa aku melakukan ini semua? Aku bertengkar dan bertarung, semuanya demi melindungimu! Karena kau lemah, kau payah! Tapi apa balasanmu? Kau sama sekali tak pernah mempercayaiku! Dia, Ryuugo Someoka itu hendak memanfaatkanmu! Tapi kau malah lebih percaya padanya daripada aku!" Aku berteriak, menerjang dan melompat ke arah Shirou. Mendorongnya hingga terjatuh di atas lantai.

Wajahnya... Ia ketakutan. Huh, itu imbalan pantas yang ia dapatkan setelah berkhianat padaku.

"Kau pengkhianat... Shirou." Aku tersenyum sinis. Tanganku mulai terulur, siap untuk mencekik leher kembaranku...

"Hentikan!"

—Hanya untuk terdorong dan menabrak dinding koridor kelas. Lagi-lagi Ryuugo. Cih, dia benar-benar menyebalkan. Kenapa orang itu selalu mengganggu!

"Apa yang kau lakukan! Dia itu saudaramu sendiri!" sergah si botak pink itu.

Kemudian pandanganku beralih menuju kakak kembarku. Ia memandangku dengan tatapan sedih, sekaligus takut. Kepalanya tersembul di balik si Ryuugo. Terus berlindung, seolah takut bila aku akan membunuhnya. Huh, jadi sekarang dia malah takut padaku? Lebih senang berlindung pada Ryuugo kah?

Pengkhianat.

Hei, Shirou. Kurasa kau tidak membutuhkanku lagi. Dan aku sendiri dari awal memang tak pernah membutuhkanmu.

Jadi, kenapa aku tidak pergi saja dari tempat ini?

Kemudian aku berlari, berlari, dan berlari. Menerobos kerumunan orang dan jalan-jalan hingga aku tak dapat melihat apapun.

Segalanya terus berputar di kepalaku. Aku benar-benar ingin membuangnya, membuang perasaan muak ini. Huh, jadi seperti ini ya rasanya dikhianati itu? Menyesakkan dan menyebalkan. Bahkan kini tak ada seorang pun yang percaya padaku. Menyebalkan—

Eh? Benda merah apa itu yang jatuh di tengah jalanan ini?

Penasaran, kuputuskan untuk meraih benda itu. Ah, ia hanya kertas biasa. Sebuah... tiket?

Seketika pemandangan di hadapanku berubah. Langit menggelap hingga berubah hitam sempurna. Panorama di hadapanku lenyap tak berbekas, berganti dengan sebuah taman ria yang luar biasa besar.

'Selamat datang,' Aku mengadahkan kepala untuk melihat sosok misterius yang berdiri tepat di depan pintu gerbang taman bermain itu. Ia tersenyum santai padaku, perlahan melepas hood yang ia kenakan untuk mengekspos rambut cokelat sebahunya. Ia cantik, pikirku.

'Hihihi, jangan bergitu. Aku ini bukan perempuan,' ujarnya sambil tertawa kecil. Ah, apa ia bisa membaca pikiranku?

'Hei, Atsuya Fubuki,' Kali ini aku dibuat terkejut lagi saat ia memanggil namaku. Bagaimana anak ini bisa mengetahui namaku?

'Selamat datang di Dark End Park, tempat di mana kau akan bersenang-senang dalam keabadian.'

Kemudian ia menghilang. Ah, kemana perginya anak itu?

Bimbang, kuputuskan untuk melangkah masuk ke dalam taman ria yang ramai tapi beratmosfir aneh ini. Ketika sampai di gerbang, seorang samurai yang kuyakini sebagai seorang penjaga loket hobi cosplay meminta tiket merahku. Kuberikan saja, toh itu juga bukan barang berharga.

Kuamati seluk-beluk taman bermain ini. Wah, luas juga tempat ini. Bianglalanya berputar dengan cantik, berbagai permainan seperti roller coaster yang ada di sana juga sepertinya menarik. Ah, ada wahana kereta hantu juga. Lupakan, aku tidak terlalu menyukai hal-hal menyeramkan seperti itu.

Ah, aku ingat. Sebelum orang tua kami meninggal, biasanya kami sekeluarga sering berekreasi ke taman ria seperti ini. Menyenangkan sekali saat-saat itu.

...Shirou.

"Hei, sedang apa melamun sendirian di sini?" sapa seseorang sembari menepuk punggungku. Kutolehkan wajahku, untuk menatap sepasang mata obsidian milik seorang pemuda. Hm, kelihatannya ia seumuran denganku. Rambut jabriknya berwarna biru muda, sedangkan kulitnya putih, tapi tidak pucat. Senyumnya lebar dan ia terlihat ramah sekali. Ia bahkan meruntuhkan bad mood-ku, membuatku angkat bicara padahal biasanya aku tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang asing.

"Eh, kau siapa?" tanyaku. Masih agak terpana atas terguran barusan.

"Namaku susah diucapkan, jadi panggil saja aku Horo-Horo!" jawab pemuda ceria itu. Ia mengulurkan tangannya, bermaksud untuk menjabat tanganku sebagai tanda perkenalan.

"Atsuya Fubuki." Tanpa sadar, aku jadi ikut mengenalkan diri juga. Kusambut uluran tangannya.

"Eh, kalau kulihat-lihat sepertinya kau tadi terbengong sambil memandangi wahana kereta hantu yang di sana itu. Kau pasti ingin menaikinya kan? Wahana itu cukup populer lho, di sini!" ujar pemuda yang baru kukenal itu. Eh, yang benar saja? Aku tidak suka dengan hal-hal menyeramkan macam begitu!

"Bukan—"

"Oke, aku akan menemanimu naik wahana itu!"

Sialnya, tanganku keburu ditarik oleh tangan Horo-Horo. Ia membawaku berlari, tidak menghiraukan ucapan protesku. Tanpa kusadari, kini kami telah ada di kereta hantu itu. Gawat, aku harus segera turun sebelum kereta ini mulai berjalan!

"Mau ke mana, Atsuya?" Gerakakan berontakku terhenti ketika ada suara dingin yang mengalir di sebelah kananku. Itu suara Horo-Horo. Ah, tapi kenapa rasanya ada yang berbeda dari tone suara itu?

"Ah, kau harus memasang sabuk pengaman lho! Bahaya kalau jatuh dari kereta ini. Bisa mati tersengat aliran listrik." ujar Horo-Horo, dengan nada bicara ceria seperti sebelumnya. Dipasangkannya sabuk pengaman itu di sekitar tubuhku. Oh tidak...

'CKLEK!'

"Sabuk pengamannya tidak akan lepas sebelum kita menyelesaikan wahana ini. Jadi jangan berontak ya?" Dan sang pemuda biru itu sempat-sempatnya menasehatiku dengan wajah cerianya. Sial, terpaksa aku harus bertahan untuk menaiki wahana yang sepertinya bakal menyeramkan ini.

Tak apa, toh ini Cuma wahana biasa.

Ya kan?

"Ahahaha, keretanya akan segera berangkat lho, aku jadi tidak sabar!" Sialan orang ini. Bisa-bisanya ia tertawa dalam kondisi macam ini.

Tapi benar saja, dua detik kemudian keretanya mulai bergerak. Suasana menjadi hening. Hanya bunyi suara mesin kereta saja yang terdengar. Penumpang di depan dan belakang kami hanya terdiam membisu. Gelap, aku tidak bisa melihat ekspresi mereka. Namun anehnya, Horo-Horo yang tadinya tertawa kini malah ikut terdiam.

Kereta mulai berjalan, pemandangan di sekitar kami berganti menjadi lika-liku arena yang berbau horor. Beberapa patung terlihat cukup mengerikan. Ada potongan-potongan tubuh yang ditata acak sepanjang arena. Bau darah terasa anyir di lorong ini. Aduh, kenapa belum-belum saja sudah seseram ini ya? Dan anehnya...

Pemandangan itu semua terasa nyata? Bahkan sampai ada bau darah segala. Trik apa yang digunakan wahana ini ya?

Kereta masih berjalan pelan, dan aku menoleh kanan dan kiri untuk mengamati pemandangan mengerikan di sekitarku. Semoga tidak ada setan yang muncul, semoga tidak ada hal aeh yang muncul, semoga—

"GYAAAA!" Aku berteriak kencang ketika pundak kiriku diraba oleh sesuatu. Setelah berjingkat, kuberanikan diriku untuk menoleh—

"HUWAAA!" Sial, setan macam apa itu tadi! Wajahnya sangat hancur! Kenapa make up-nya bisa sedetail itu sih? !

Kemudian, berbagai hantu jadi-jadian lainnya mulai muncul. Tentu saja aku terus berteriak hingga tenggorokanku terasa seolah patah. Seram sekali. Hantu dan setan-setan itu benar-benar terlihat nyata dan sangat menyeramkan. Oh tidak, ada satu lagi—

"AAAAAA!"

Tunggu dulu. Rasanya ada seuatu yang masuk ke dalam mulutku. Rasanya seperti besi, asing. Benda ini terasa cari namun kental. Aneh.

Penasaran, akhirnya kuangkat kepalaku untuk melihat langit-langit ruangan ini.

Langit-langit...?

Ah, bukan.

Puluhan... ratusan kepala buntung tergantung di atas sana, menggantikan eksistensi langit-langit ruangan ini.

Darah kembali menetes, makin lama tetesannya makin deras.

"AAAARGH!"

"Eh? Ada apa Atsuya?" tanya Horo-Horo. Tanganku yang gemetaran kupaksa untuk menunjuk ke arah atas, ke tempat di mana kepala-kepala itu menggantung di langit-langit wahana ini.

Horo-Horo turut mengadahkan kepala, pandangannya bertemu langsung dengan ratusan kepala itu. Ah, mungkin itu ribuan. Anehnya, tidak ada perubahan ekspresi yang berarti pada rautnya. Ia hanya diam , sambil menatap lurus pada kumpulan kepala tak bernyawa yang tergantung di atas sana.

"Kau, kenapa—"

Ah, ada yang jangggal di sini.

Ditambah lagi, kenapa sejak tadi hanya aku saja yang berteriak ketakutan?

"Kau ingin aku menampakkan ekspresi seperti apa? Ikut ketakutan sepertimu, hm?"

Ah, ini hanya sebuah wahana biasa kan?

Iya kan?

"HAHAHAHAHA!" Ia tertawa, Horo-Horo tertawa lantang. Tawanya terdengar gila di telingaku, tak terkendali.

"Kau lucu sekali! Lihatlah ekspresi takutmu itu! Permainannya bahkan baru dimulai!"

"HAHAHAHAHAHA!"

Tawa-tawa lain mulai terdengar, makin lama frekuensinya makin bertambah hingga memekakkan telinga. Orang-orang itu... mereka yang tadinya diam kini ikut tertawa bersama Horo-Horo.

Sungguh, rasanya ini semua benar-benar tidak beres—

Ah, tunggu dulu. Orang-orang itu... badan mereka tidak utuh?

Ke mana perginya sebelah mata itu? Ke mana hilangnya isi perut itu? Ke mana perginya sebelah tangan itu? Kenapa ada lubang yang besar pada daging yang mulai membusuk itu? Kenapa ada kepala yang hilang dari tempatnya? Kenapa mereka—

"UWAAAAAAAAA!"

"AHAHAHAHAHAHA!"

"HENTIKAN! HENTIKAN KERETA INI! BERHENTI TERTAWA! AKU MAU KELUAR DARI SINI!" pekikku, tak kuasa menahan kegilaan yang terjadi di tempat ini.

"As your wish, little wolf." Horo-Horo berbisik di teligaku, masih dengan seringainya yang mengerikan.

Siapa saja... tolong aku.

Shuuya's POV

Kunikmati istirahat siangku di taman samping sekolah yang sangat sepi. Tak ada orang lain selain aku dan kotak bekalku. Hanya pepohoan rindang dan beberapa hewan kecil yang entah kenapa bisa bermain di sini dengan bebasnya. Ya, yang penting aku sendirian.

Tiga minggu berlalu sejak insiden waktu itu. Yuuka tetap tak ditemukan. Aku sudah mengatakan segalanya pada pihak polisi dan orang tuaku, tapi tak ada yang percaya. Dark End Park, tak ada yang bisa kembali setelah melangkahkan kaki ke tempat itu. Hanya orang-orang yang dipilih yang bisa masuk ke sana— untuk dibunuh. Waktu itu aku sudah diundang, tapi aku lolos dari maut. Yuuka menyelamatkanku. Menukar nyawanya dengan nyawa busukku.

Ah, mungkin mereka akan kembali memanggilku lagi ke dalam taman kematian itu.

"Atsuya... Atsuya!"

Lamunanku terbuyar ketika kudengar sebuah teriakan. Dari balik pagar sana terlihat sosok siswa smp Hakuren yang memanggil-manggil nama seseorang dengan wajah gelisah. Ah, ada-ada saja smp sebelah itu. Mengganggu waktu heningku.

"Atsuya, kau ada di mana?"

Berisik sekali.

'Sayang sekali ya, saudaranya kini berada di Dark End Park. Tinggal menunggu waktu untuk eksekusinya.'

Dia? Orang yang waktu itu mengundangku ke Dark End Park?

"Ma, mau apa kau!" Aku berjingkat. Berusaha menjauh dari figur misterius berambut cokelat itu.

'Tenang saja, kali ini aku tidak ada masalah denganmu.'

Hening.

'Kasihan sekali ya bocah yang di sana itu? Ia mencari-cari saudaranya yang menghilang. Sayangnya kembarannya itu tak akan pernah kembali.'

'Oh, atau siapa tahu nantinya bocah kelabu yang di sana itu berhasil membuat keajaiban dan berhasil menyelamatkan saudaranya? Seperti adikmu tempo hari itu~'

"Cukup!" bentakku. Sayangnya sama sekali tak berpengaruh pada sang invitor.

'Kematian sedang menghantuinya... juga menghantuimu, hihihi.'

Dan ia menghilang. Kutolehkan kepalaku untuk mencari sosok siswa Hakuren yang tadi, tapi sialnya ia juga ikut menghilang dari tempat ini.

Sial, aku harus menemukannya!

Atsuya's POV

"Di mana.. ini?" Kubuka mataku, mendapati diriku yang sedang berada di tengah-tengah ruangan yang serupa dengan tenda sirkus yang sangat besar. Kedua pergelangan tangan da kakiku terasa berat, susah digerakkan. Eh, rantai...?

"Selamat datang di acara eksekusi-MU, Atsuya Fubuki~"

Eksekusi? Acara apa itu?

"Eksekusi. Acara yang rutin kami lakukan untuk melenyapkan keberadaan anak-anak yang berhati busuk sepertimu. Dengan kata lain kau akan segera mati!" ujar seseorang yang ada di atas sana. Ah, suara ini... Horo-Horo?

"Yang tadi itu sangat menyenangkan ya, Atsuya?" Ia tersenyum riang, seolah tak terjadi apa-apa.

Hei, yang benar saja. MATI katamu?

"Hihihi, mari kita mulai saja acara eksekusinya."

Seiring dengan ucapan yang dilontarkan pemuda cokelat yang tadi memberiku tiket merah itu, para hadirin yang ada di sana mulai berteriak kesetanan dengan riuh-rendahnya. Ah, mereka... makhluk-makhluk tak utuh yang tadi?

"Jangan memasang ekspresi ngeri begitu, nantinya kau juga akan jadi bagian dari mereka kok." ujar seorang pria dengan rambut pirang dan wajah pucat. Entah siapa pun dia, aku tidak terlalu menyukai sosok yang terlihat seram itu.

"Faust, kau ingin membacakan sin scrool milik Atsuya?" tawar sosok cokelat yang duduk di tengah singgahsana itu. Tanpa ada jawaban berupa suara, pria pirang itu segera memindahtangankan sebuah gulungan yang disodorkan padanya.

"Atsuya Fubuki, kau telah memendam rasa dengki pada saudara kembarmu. Kau hancurkan hubungan kasih sayang kalian, mengubahnya menjadi sebuah karma dan bencana. Kau rakus, berusaha memonopoli saudara kembarmu seolah kau adalah pemiliknya. Anak yang tidak manusiawi macam dirimu... akan dicabik-cabik hingga tak ada tubuh yang bersisa."

"Eh? Dicabik? Itu artinya ini giliranku ya?" tanya seorang pemuda berambut afro kepada rekannya yang lain.

Dicabik-cabik, huh?

"Silahkan saja." jawab seorang lagi yang berambut cokelat. Kalau kuperhatikan, rasanya ia mirip dengan si cokelat yang satunya. Ah, mereka kembar?

"The Flamer, kau bantu The Clawer." Perintah sosok yang berambut cokelat pendek. Pemuda cokelat satunya hanya menunjukkan ekspresi kaget.

"Tapi Yoh—"

"'The invitor' menginginkan agar 'the flamer' turut serta membantu the clawer. Ada masalah?" Dan sang pemuda berambut cokelat panjang itu tersentak. Ia terdiam untuk beberapa saat.

"Baiklah." jawabnya kemudian. Ia bersiap turun ke arena tempatku diikat—dirantai.

"Hao-kun!" sergah seorang pemuda berambut hijau. Dari sini aku dapat melihat adanya raut kekhawatiran di wajahnya.

"Daijoubu," jawab sang pemuda cokelat yang ternyata bernama Hao itu. Tangannya berpindah untuk menepuk singkat kepala sang pemuda hijau. Kemudian ia turun, tepat di hadapanku.

"Kalian juga anak kembar ya?" tanyaku. Hao terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaanku.

"Jadi itu kata-kata terakhirmu sebelum mati?" ucapnya. Sarkastik.

"Aku... hanya bermaksud untuk melindungi Shirou." jawabku.

"...Chocolove, cepat turun dan kita bunuh dia sekarang!"

"Kau... sebaiknya kau lindungi kembaranmu itu dengan baik, agar kau tidak berakhir seperti aku."

"Oke, aku siap!"

"Ah, andai aku bisa minta maaf pada Shirou..."

"...Langsung jadikan jantungnya sebagai sasaran."

"Eh? Tidak apa-apa nih? Biasanya kan disiksa terlebih dahulu?"

"Lakukan saja!"

"Eh? Ba, baik!"

"Heh, kau baik juga ya. Hao..."

"Jangan seenaknya memanggil namaku," jawabnya, ketus.

"Sampaikan maafku pada Shirou."

SLASH!

Normal POV

Hening. Tidak ada lagi sedenting suara pun. Namun hal ini hanya berlangsung selama beberapa detik. Kemudian terdengarlah suara riuh rendah para penonton yang bersuka cita atas kematian sang Atsuya Fubuki.

Bagaimanapun, Hao hanya terdiam dengan tatapan kosong yang tertuju pada sosok –kini mayat- Atsuya Fubuki.

"Kusampaikan... tapi tidak janji."

Normal POV

"Atsuya? Atsuya kau di mana?" Shirou terus saja mencari. Tak peduli bahwa langit sudah berubah warna menjadi oranye, ia tak peduli. Ia harus menemukan Atsyua dan pulang bersama-sama.

Tapi...

Di mana pun juga, ia tak menemukan sosok Atsuya.

Tidak lagi.

"..." Sebulir air mata mulai menetes dari mata kelabu milik Shirou. Ia terdiam, memandangi rerumputan di Inazuma river bank. Ia sendirian, lagi...

"Atsuya! Atsuya! Atsuya! Kau ada di mana?" Frustasi, Shirou mulai berteriak sekencang yang ia mampu. Tak peduli bahwa kini pita suaranya seolah akan putus, ia meneruskan teriakannya. Ia tak peduli, meski kini air matanya mengalir makin deras.

"Ah, kau di sini rupanya!" Shirou menolehkan kepalanya, mencari sumber suara. Kini, di sebelahnya terdapat sosok pemuda yang menghampirinya. Napasnya terengah-engah, nampaknya ia baru saja berlari. Kedua kelabu itu terus memandang sepasang onyx yang nampak kepayahan itu.

"Hah... hah... lama aku tidak berlari segila ini," gumam sang pemuda bermata onyx, yang kita ketahui sebagai sosok Shuuya Gouenji.

"Kau... siapa?" tanya Shirou.

"Dengarkan aku..."

"..."

"..."

Kemudian air mata itu mengalir makin deras. Tangisan itu berubah menjadi sebuah isakan. Makin lama makin menjadi. Tubuh Shirou sampai terduduk lemas karena terpukul oleh kenyataan pahit yang baru ia dengar. Sedangkan Shuuya hanya terdiam, sambil menggenggam kedua tangan mungil yang kini gemetaran itu.

'Orang yang kau cari tak akan pernah kembali...'

'Ia lenyap, jiwanya dimakan oleh Dark End Park...'

Dua kalimat itu terus saja terngiang-ngiang dan berputar dalam benak Shirou.

Hakuren Gakuen, few days after...

Bel tanda istirahat berdentang nyaring, kebanyakan siswa langsung berhambur ke luar kelas dengan riang gembira. Hari-hari damai seperti biasa, kecuali bagi seseorang. Terlalu hampa...

Shirou Fubuki, melamun sambil memandang awan yang berarak di balik jendela.

'Atsuya...'

"Ah, lebih baik aku segera beranjak. Ia pasti sudah menunggu," gumam Shirou. Ia berdiri dari bangkunya dan meregangkan badannya sejenak, kemudian mengambil kotak bekalnya dan bergegas menuju 'tempat itu'.

Namun dalam perjalanannya di lorong sekolah, sesosok orang yang tak ia harapkan bertemu jalan dengannya. Ryuugo Someoka.

"Ah, Fubuki—"

"Jangan sentuh." Tangan itu ditepis dengan dinginnya. Kemudian Shirou berlalu. Seolah tdai tidak terjadi apa-apa.

"..." Sementara Ryuugo hanya terdiam sambil memandang khawatir pada punggung kecil Shirou.

Meanwhile, Raimon Gakuen...

Bel tanda istirahat berbunyi, disambut dengan sorakan suka cita dari para murid yang tengah suntuk belajar. Suasana sekolah menjadi lebih ramai. Beberapa murid saling berkerumun dan mengobrol dalam kelompoknya masing-masing. Kecuali satu orang. Shuuya Gouenji.

Pemuda berambut bawang itu beranjak dari bangkunya, berjalan dengan langkah yang cepat dan pasti, ke taman bagian barat sekolah tentunya.

Shuuya terus berjalan, tiada menaruh peduli pada siapa pun yang berpapasan denganya. Toh kebanyakan teman-teman sekolahnya sengaja menjaga jarak dengannya. Karena insiden hilangnya Yuuka saat itu sudah menyebar di seluruh pelosok sekolah.

"..." Bahkan ia tak menyadari, ketika sepasang mata cokelat menatap intens pada sosoknya.

"Hoi, Mamoru! Ayo cepat!"

"I, iya! Tunggu aku Ichirouta!"

Sekilas, kemudian mata itu berpindah pandang.

Pemandangan indah dari taman yag ditinggalkan terhampar di hadapan Shuuya. Damai, seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja ada sesuatu yang baru di tempat ini.

"Ah, Shuuya-kun!"

"Maaf Shirou, aku terlambat. Apa kau menunggu lama?" Sang pemuda bawang itu tersenyum lembut. Senyuman pertamanya di hari ini.

"Tidak, aku baru sampai kok. Tadi ada gangguan sedikit di perjalanan, hehe." ujar Shirou sembari balas tersenyum manis pada Shuuya. Kemudian sang bocah berambut kelabu itu menerobos ke Raimon Gakuen melalui lubang pada pagar pembatas kawat yang ternyata sudah sengaja mereka buat.

"Hari ini Shuuya-kun bawa bekal apa?" tanya Shirou, kini mereka berdua duduk bersebelahan di atas hamparan rumput, dilindungi rimbunnya pepohonan.

"Seperti biasa. Ada acar kesukaanmu juga. Kau mau?" tawar Shuuya.

"Mauuu!" jawab Shirou penuh semangat.

"Buka mulutmu," perintahcoret himbau Shuuya. Tentu saja Shirou menurutinya dengan senang hati. Kemudian Shuuya menyuapkan sesuap acar ke dalam mulut Shirou.

"Asaaaam~" ucap Shirou, dengan wajah yang terlihat girang.

"Aku tidak mengerti kenapa kau bisa sangat menyukai acar." Shuuya tersenyum geli saat melihat ekspresi Shirou.

"Tapi Shuuya-kun, acar itu rasanya unik!" sahut Shirou dengan penuh semangat. Bila dipikir, baru kali ini bocah kelabu itu bersemangat seperti ini. Menanggapi respon itu, Shuuya hanya tersenyum lembut sambil menepuk kepala Shirou.

Kini mereka berdua masih sedang berbahagia, setelah kehilangan orang yang berharga bagi mereka.

Paling tidak untuk saat ini.

"..."

"Goenji..."

Putaran kegelapan itu masih terus berlanjut.

To be Continued

A/N: Mari lanjut dulu ke bonus story sebelum saia ntar curcol gaje berkepanjangan di A/N ini.

DEP, Bonus Story

Ruangan yang gelap. Hanya Yoh dan Hao yang ada di dalamnya. Sang Invitor masih sibuk 'membenahi' mayat Atsuya Fubuki, sementara Hao hanya terdiam sambil melihat kegiatan Yoh.

"Yoh," panggil Hao, mengakhiri kebisuan dalam ruang itu.

"Hmm?" sahut Yoh. Pandangannya masih tidak beralih dari 'mainan barunya'.

"Aku ingin bertanya." Tidak ada jawaban. Kebisuan itu berubah menjadi hal yang statis. Tangan yang tadinya bergerak itu kini terdiam, mencengkram mayat tiada bernyawa itu dengan sangat kuat, hingga kulit busuknya kembali tercabik. Sementara Hao, tak peduli akan kebisuan yang tertahan dalam tempat itu.

"Mengapa kau mengeksekusi Atsuya Fubuki? Dosanya masih belum mencapai taraf yang harus ditangani kita bukan?" tanya Hao. Matanya menatap lurus-lurus ke arah Yoh, yang sayangnya sang kembaran enggan untuk sekedar membalas tatapan itu.

"Hahaha, kau benar. Masalahnya, aku agak sensitif dengan problematika anak kembar." jawab Yoh. Kali ini ia berbalik, matanya menatap lurus ke arah Hao. Ditariknya tangan sang kakak kembar hingga mereka sama-sama terduduk di lantai ruangan.

"Yang paling menyebalkan adalah ketika kau dikhianati oleh belahan jiwamu. Iya kan, Hao?" Tangan Yoh merayap menuju belakang kepala Hao. Direngkuhnya perlahan, menjadikan wajah mereka makin mendekat. Satu senti lagi, hingga akhirnya Yoh memotong jatak di antara mereka dengan sebuah kecupan yang panjang.

Kecupan yang panjang dan terasa dingin.

'Blam!'

Sosok Hao keluar dari kamarnya, kamarnya dan Yoh. Pemuda berambut panjang itu menghela napas panjang, kemudian berjalan menyusuri lorong kediaman para eksekutor ini.

Hingga matanya menangkap keberadaan sosok itu.

Lyserg.

Tubuh mungilnya bersandar frustasi di dinding. Kepalanya tertunduk lesu, mata emerald-nya terlihat seolah akan menangis. Bibirnya terkatup rapat. Rambut hijaunya bahkan terjatuh lemas.

"...Lyserg."

Kemudian mata emerald itu kembali bersinar tatkala wajahnya terangkat, mengikuti asal suara yang ia sudah tahu milik siapa.

"Hao-kun."

Kedua pasang mata itu saling bertemu. Kebisuan kembali terjadi. Bibir itu terbuka, ingin mengucap sesuatu. Namun tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir mereka.

"Ba-bagaimana? Apa terjadi sesuatu dengan Yoh-kun? Apa kalian bertengkar?" tanya Lyserg. Nada bicara gugup jelas terdengar dari suaranya.

"Aku baik-baik saja," ucap Hao. Sedikit tersenyum simpul, "Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku."

Kedua insan itu kembali membisu, terlarut dalam keindahan mata masing-masing. Sebelum akhirnya mereka saling meminimalisir jarak dan menyatukan bibir mereka.

Ciuman yang hangat dan manis, namun terasa seperti sebuah dosa besar.

Sementara Ryu, sang pemegang kontrak atas Lyserg yang tanpa sengaja melihat adegan itu langsung berlari meninggalkan TKP dengan air mata berlinang yang membanjiri jalan.

"Uhuhuhuhuuu!" Dan Ryu yang patah hati masih terus berlari.

"...Itu tadi Ryu kan?" tanya Ren, yang entah kenapa sekilas tadi merasakan adanya sesuatu yang baru saja lewat.

"Masa? Aku tidak lihat ada siapa-siapa tuh." jawab Chocolove.

"Sudahlah, ayo kita main ke real world!" ajak Horo-Horo, tersenyum riang seperti biasa.

"..." Sementara Ren hanya menatap intens pada sosok pemegang kontraknya itu.

"Nee, doushite Ren-chan?" tanya Horo-Horo, senyumnya tetap tak lekang dari bibir itu.

"Bareng Chocolove juga?" tanya Ren, masih menatap intens pada sosok Horo-Horo.

"Eh? Tentu saja kan?" Horo-Horo tersenyum garing sambil menaikkan sebelah alisnya. Sementara Ren menggembungkan pipinya.

"Oh." Sahut Ren, singkat.

"Lho? Kau kenapa?" tanya Horo-Horo.

"...Ayo berangkat," ajaka Ren.

Akhirnya ketiga orang itu pergi ke luar bersama. Seperti biasa.

'Rasanya belakangan ini aku dan si bodoh itu tidak pernah keluar berdua saja.' batin Ren sambil cemberut.

Ah, ternyata begitu ya?

Cinta, dosa terbesar yang pernah dipendam makhluk hidup. Bahkan berlaku pada anggota Dark End Park sekalipun.

End of Side Story

A/N: Bentar, rasanya kok Hao jadi kayak playboy tukang selingukh gini ya? Sumpah awalnya hubungan Hao dan Lyserg kan nggak kayak gini ya? Mana ada adegan kissu dua kali pulak! HoroRen aja belum! Yah, anggap saja Hao dan Lyserg begituannya kalau pas nggak ada yang tahu, oke?

Untuk adegan pembunuhannya sendiri, maaf kalau kurang sadis. Saia mencoba lebih mengekspresikan feel Atsuya di chapter ini. Bicara tentang Atsuya... AKHIRNYA SAIA BISA NAMPILIN DIA JUGA! KYAAAA! XDD

Oke. Shuuya's arc selesai di dua chapter ini. Hmhmhm... selanjutnya masuk ke siapa dulu ya? Ufufufu~

Dan minna-san, mohon maf atas keterlambatan update. Dan sia juga lagi nggak bisa balas reviewnya satu-persatu di sini. Kenapa? Karena ntar bakal kepanjangan fic-nya. Ini aja udah 5k+ haha. DEP memang selalu panjang. (plak!)

Nee, at last RnR pleaseee?

Last dimension will come

The Fallen Kuriboh