Catatan: Dasar Oda-sensei nggak mau merusak kisahnya dengan roman picisan, jadi disinilah penulis yang berotak pervert dan penggila mitologi ini memulai sebuah kisah singkat tentang Hancock dan Luffy. Sebenarnya kisah terjemahan ini pun ditulis gara-gara permintaan Eleamaya. Yaudahlah, selamat menikmati yaa! (Jiah! Emangnya hidangan arisan! Gak bisa dimakan, tahu! XD)

Disclaimer: Eiichiro Oda


No Romance Allowed


Kisah ini menceritakan tentang Hancock dan taruhannya untuk mendapatkan ciuman Luffy. Nyatanya dia mendapatkan sesuatu yang lebih berarti daripada sekedar ciuman.

.

.

.

Kisah ini berawal ketika Monkey D. Luffy sedang berlatih tempur dengan semangat baja dengan para monster-monster mengerikan di Calm Belt, tepatnya sebuah kepulauan di daerah utara Pulau Perempuan, Luscaina. Rayleigh si rambut perak telah menyuruh Luffy untuk berlatih sebaik-baiknya agar menjadi lebih kuat sehingga Luffy pun berusaha untuk mematuhi perintah tersebut. Bagi Luffy, berlatih di hutan belantara adalah perintah yang menyenangkan dan menantang. Sejauh ini, dia sangat menikmati latihan yang telah ia jalani setahun lebih di sana.

Di lain pihak, Boa Hancock selalu memikirkan Luffy tercinta di dalam pikirannya, baik keselamatan ataupun keadaan pria itu. Bahkan ketika ia berlayar dengan para pendekar bajak laut Kuja, hanya Luffy yang selalu berada dalam pikirannya. Hancock selalu berharap untuk dapat mengunjungi Luffy setiap hari, menghabiskan waktu-waktu indah bersama-sama. Hal itu membuat para krunya mengkhawatirkan keadaan Hancock, apalagi kedua saudara perempuannya. Keduanya merasa prihatin akan penderitaan Hancock yang semakin menjadi seiring berlalunya waktu. Meskipun begitu, mereka semua tidak mampu berbuat apapun karena Hancock begitu keras kepala dan nyaris tidak pernah mendengar nasihat siapapun.

Malam itu Hancock sedang berbaring di ranjang kamarnya, memandangi poster kriminal Luffy yang sekarang bernilai 400 juta berry dengan wajah murung. Apa sih yang salah dengan dirinya? Sepertinya ia adalah seorang wanita yang sangat sempurna dan menarik. Semua yang melihat ataupun mengenalnya bahkan selalu berkata bahwa dirinya adalah wanita tercantik yang pernah ada. Sialnya, Luffy tidak pernah berpikir demikian. Saat ia datang ke Luscaina, Luffy—untuk terakhir kalinya selama berbulan-bulan—kembali menolak lamarannya. Bahkan dia juga menolak untuk membicarakan hal-hal seputar pernikahan maupun pertunangan. Hancock menghela napas dalam-dalam, mengingat hari itu dengan pedih.

Sewaktu itu dia membawakan penne gorgonzola, makanan kesukaan Luffy. Hancock selalu gelisah dan grogi saat berada di dekat Luffy, jadi waktu itu ia berada paling sedikit 20 meter di bawah pohon besar, menatap Luffy yang sedang asyik memakan penne-nya dengan pandangan penuh cinta.

"Luffy, kita pasangan yang serasi bukan? Lihat, aku membawakanmu makanan dan kau memakannya dengan lahap. Mungkin kau bisa mempertimbangkanku sebagai istrimu kelak?"

"Jangan membicarakan hal itu! Aku takkan menikahimu!" Luffy menolak keras, masih sibuk mengunyah makanannya.

"Ooh, kau selalu bicara langsung ke topiknya ya, benar-benar hebat…" Hancock berkata dengan mata berbinar-binar penuh dengan kekaguman. Semburat warna kemerahan muncul di kedua pipinya, membuatnya terlihat semakin menarik. Sayangnya Luffy tidak terpengaruh sama sekali oleh pesona kecantikannya. "Ngomong-ngomong, Luffy, apa kau punya usul agar aku bisa memperbaiki diri?"

Luffy menjawab dengan cepat, "coba memasak masakan ini! Rasanya benar-benar enak!"

Baiklah, jadi apa yang sekarang akan diperbuat oleh sang ratu bajak laut yang cantik itu?

Kalau tebakan kalian adalah Hancock yang mulai belajar untuk Luffy, maka jawabannya tepat! Jadi di sanalah Hancock berada, setelah langsung beranjak dari ranjangnya dan pergi tergesa-gesa ke arah dapur. Dapur yang besar itu terlihat sepi dan dingin. Tidak ada seorangpun di sana selain limpahan stok makanan yang menjulang tinggi. Hancock mencari resep masakan penne gorgonzola dengan penuh semangat. Namun setelah tiga jam pencarian tanpa hasil, ia mulai putus asa. Hampir saja semua stok makanan dibekukan oleh Hancock jika kedua mata birunya tidak melihat buku resep masakan yang sebenarnya berada di laci sebelah kiri dirinya.

"Penne gorgonzola dengan daging ayam… ah! Yang ini!" teriak Hancock dengan gembira. Matanya menyusuri bahan-bahan yang dibutuhkan dengan cepat. "Oke, satu pon pasta penne, satu pon dada ayam tanpa tulang yang dipotong menjadi dua bagian (gunakan ayam kampung), satu sendok makan minyak olive, bawang putih, daun jeruk (satu atau dua lembar), seperempat gelas anggur, satu gelas krim, seperempat gelas kaldu ayam, dua mangkuk keju gorgonzola yang sudah dijadikan serpihan…"

Hancock tidak pernah memasak penne sebelumnya. Terlebih lagi, dia sama sekali tidak ada pengalaman memasak makanan. Oleh karena itu nyaris seperti keajaiban apabila Hancock memutuskan untuk memasak masakan di dapur, mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan satu persatu dengan membuka mata lebar-lebar. Yah, sebenarnya sih membuka mata lebar-lebar itu karena dia sama sekali tidak tahu bahan yang mana yang sebenarnya diperlukan. Yang lebih parah, Hancock tidak paham bentuk, bau, dan segala hal mengenai keju gorgonzola yang merupakan bahan utama.

"Hmmm? Jadi masakan ini disebut penne gorgonzola karena memakai keju gorgonzola, ya! Ah, yang mana kejunya?" Hancock melihat semua bahan makanan dengan ekspresi jijik, antara bingung dan bercampur marah. Ada beragam jenis keju di ujung tumpukan sana. Semuanya memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi keju yang ia cari. Pada akhirnya, Hancock nekad mengambil sembarang keju dari rak terdekat.

"Semua keju 'kan sama saja," ucap Hancock asal bicara.

Hari itu masih sangat pagi untuk semua penghuni istana Kuja, Amazon Lily saat mereka mendengar keributan dari arah dapur. Dengan langkah terbirit-birit, mereka semua berlari menuju arah suara yang cukup menghebohkan itu. Mereka semua yang berkumpul di dapur menunjukkan wajah syok dan terkaget-kaget melihat sang Putri Ular yang menyibukkan diri dengan bahan masakan. Hal itu benar-benar di luar pikiran mereka.

Rambut hitam panjangnya yang lembut tertutup putihnya tepung terigu, yang sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali di dalam daftar bahan. Wajahnya menghitam dan kotor gara-gara ledakan oven. Dari sisa-sisa debu dan kotoran yang bertebaran di dapur, sepertinya sang putri sudah beberapa kali meledakkan oven yang bernasib malang tersebut. Piyamanya tidak lagi terlihat seperti semula. Kini piyama tersebut terlihat seperti seragam pemulung, compang-camping, bau, dan dekil.

"Ya ampun kak… kakak ngapain sih?" Marigold bertanya dengan penasaran, meneliti semua kerusakan dalam hitungan detik. Mata kecilnya menyipit dengan curiga, "Oh, tidak mungkin! Jangan bilang kalau kakak sedang memasak!"

"Memang kakak sedang memasak kok," ujar Sandersonia sambil tersenyum. Jemarinya menunjuk ke arah masakan di atas piring perak. "Ini membuatku penasaran, siapa sebenarnya yang mau kakak bunuh dengan masakan mengerikan itu?"

Kerumunan kecil itu seketika tertawa gaduh. Mereka sepenuhnya sadar sang putri tidak pernah memasak. Penampilan Hancock yang hancur-hancuran ditambah masakannya yang jauh lebih hancur lagi patut diabadikan dengan kamera, pikir mereka. Hancock menyadari hal itu sepenuhnya.

Sang Putri Ular langsung naik darah mendengar komentar adiknya dan ekspresi mengejek para penghuni istana, "akan kubunuh siapa saja yang menertawakan penampilan ataupun masakanku!"

Rasanya hampir mati menahan tawa, pikir para penghuni istana saat melihat Hancock dan masakannya yang hancur-hancuran. Meskipun demikian, mereka lebih memilih hidup lebih lama ketimbang tertawa singkat yang membawa kematian. Dengan susah-payah mereka menyembunyikan tawa, bahkan sampai menggigit bibir bawah mereka.

"Huh, Enishida! Panggil seseorang untuk mengajarkanku bagaimana memasak penne gorgonzola menyebalkan ini."

"Ya, tuan putri," jawab gadis berambut panjang itu. Dengan cepat dia menghilang di balik pintu, tertawa terbahak-bahak dengan lepas. Hancock mencibir kesal mendengarnya. Dengan segera dicuci wajahnya yang kotor dengan air. Ia baru saja mencoba memasak penne itu selama empat kali, dan keempat-empatnya gagal total. Semuanya hancur berantakan dan rasanya benar-benar seperti masakan neraka.

"Pennye Gorgonyzola. Apa anyda mencoba memasak untuk si topi jerami?" seorang wanita tua masuk ke dalam kastil, mencoba sedikit penne di atas piring. "Maaf tuan putri, tapi makanyan anjing saya terasa lebih enyak dibanding masakan anyda."

"Kau tidak punya anjing, Nenek Nyon," Hancock membalas komentar itu dengan sebal. "Dan rasanya aku tidak pernah mengizinkanmu untuk masuk ke dalam istanaku! Kenapa kau selalu saja bisa menyelinap ya?"

"Rasanya anyda menyempatkan si topi jerami terlalu besar di dalam diri anyda…" komentar Nenek Nyon. "Sekarang ini ia hanya memenytingkan egonya untuk menjadi lebih kuat, tuan putri. Anyda takkan pernah bisa memiliki hatinya."

"Terus saja bicara, aku tidak akan mendengarkanmu. Suatu hari nanti dia akan menikahiku." Hancock berkata dengan mata berbinar-binar. "Dia hanya terlalu pemalu untuk menunjukkan perasaannya padaku, Nenek Nyon."

"Yah, terus saja bermimpi, tuan putri… saya sudah mengatakan kenyataan yang ada, dan anyda tetap tidak mempercayai saya." Nenek Nyon dengan tega mengatakan fakta yang pahit itu kepada Hancock. "Mengenai penyerangan di Blue…"

"Kalau aku bisa membuktikan bahwa Luffi mencintaiku, apa yang dapat kau berikan, huh?" Hancock bertanya tidak sabaran, memandang Nenek Nyon yang telah menjaga dia sedari kecil dengan tatapannya yang bengis. "Apa yang bisa kau tawarkan?"

Marigold terlihat khawatir. "Kak, tidak ada gunanya berdebat dengan Nenek Nyon… lihat, Enishida sudah datang dengan membawa koki 'kan? Lebih baik kakak mempersiapkan diri untuk memasak penne…"

Nyala api tergambar jelas dalam mata wanita tua itu. "Baiklah, saya akan membersihkan istana ini selama tiga minggu bila anyda bisa membuktikan bahwa si topi jerami mau mencium anyda sebagai tanda cintanya. Ambil kamera ini dan berikan fotonya pada saya."

Nenek Nyon memberikan kamera tuanya kepada Hancock, yang mencibir ke arahnya seraya menambahkan, "selama tiga minggu bersihkan istana ini dengan lidahmu, itu perjanjiannya."

Baik Sonia maupun Mari langsung terlonjak kaget, "KAKAK!"

"Bagaimana jika anyda kalah? Saya ingin anyda yang membersihkan tempat tinggal saya selama sebulan," tawar Nenek Nyon. Rumah si nenek sangatlah kotor dan jorok karena dia jarang membersihkannya. "Sangat membanggakan bila yang mulia paduka membersihkan rumah saya nantinya."

"Aku tidak akan membuat taruhan yang membuatku kalah," jawab Hancock dengan sombongnya. Dia akan membuktikan kepada wanita tua itu bahwa Luffy mencintainya. Dengan kamera butut itu, Hancock akan membuktikan perkataannya. Dia menolehkan kepalanya ke arah Enishida dan koki itu seraya berkata, "aku akan mengganti pakaianku terlebih dulu. Ajarkan padaku bagaimana memasak penne itu."

Sonia dan Mari menggelengkan kepala mereka dengan putus asa, tidak tahu harus berkata apa. Mereka ingin mengatakan bahwa Luffy sama sekali tidak memiliki perasaan dengan kakak mereka. Sayangnya keduanya tidak memiliki keberanian yang cukup. Sementara itu Nenek Nyon tertawa tergelak-gelak dan keluar dari dapur istana dengan riang gembira. "Selamat memasak tuan putri. Persiapkan diri anyda untuk membersihkan rumah saya, nyehehehe…"

.

.

Langit hampir gelap saat Hancock tiba di kepulauan Luscaina dengan paket besar sake dan gorgonzola di dalamnya. Sebuah rencana terpancang di otaknya. Dia akan membuat Luffy mabuk, lalu mengambil foto saat Luffy menciumnya. Menurut Hancock, Luffy terlalu pemalu untuk mencium dirinya dalam kondisi normal, jadi ia akan membuat pemuda itu mabuk terlebih dahulu. Si nenek tua itu akan membersihkan dapurku! Luffy ' kan mencintaiku! Tunggu dan saksikan saja!

Baru berjalan sebentar, Hancock tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang mengikuti dirinya dari belakang. Ia berlari dengan kencang dan makhluk itu masih mengikuti di belakangnya, siap menelannya hidup-hidup. Hancock sama sekali tidak merasa ketakutan. Yang ia khawatirkan adalah bekal di punggungnya. Dengan terpaksa ia berputar untuk menendang makhluk yang besarnya menyerupai kapal yang biasa ia tumpangi itu. Baiklah, hitung-hitung olahraga setelah turun dari kapal, pikirnya singkat.

"Tendangan berputar!" seru Hancock, mengeluarkan sebelah kakinya yang indah dari baju cheongsam merahnya. Monster yang maha besar itu pun jatuh tersungkur. Biasanya Hancock membekukan musuhnya dahulu baru menendangnya. Apabila musuhnya terhitung ringan ia langsung memberi tendangan telak, seperti yang telah ia lakukan.

Hancock memutar bola matanya dengan bosan. Sama sekali tidak menantang, pikirnya. Ia harus secepatnya menemui Luffy. Dia harus secepatnya menemukan Luffy dan mengambil foto mereka berdua. Dengan pikiran seperti itu Hancock terus berjalan menyusuri hutan.

Hancock tidak tahu seberapa jauh ia telah berjalan, tetapi ia mulai merasa lelah dan tenaganya seperti telah terkuras habis. Karena ia membenci bau keringat—padahal ia sudah terlalu banyak mengeluarkan keringat—maka ia memutuskan untuk segera mencari sungai terdekat. Hancock dengan cepat menaruh bekal makanan yang ia bawa di tempat yang aman dan membuka pakaiannya.

Malam itu bulan bersinar dengan terang di atas sungai. Sinarnya membuat air sungai terlihat seperti jutaan pecahan permata, berkilauan dengan gemerlap. Air yang dingin dan segarnya tanaman yang ia ambil sebagai pengganti sabun membuat perasaan Hancock menjadi jauh lebih baik. Pasti ia akan menemukan Luffy nantinya, katanya meyakinkan dirinya sendiri. Yang ia butuhkan hanyalah sedikit waktu.

Kunang-kunang sering berkumpul di sisi sungai, dan itulah yang sedang terjadi pada malam terang bulan itu. Para kunang-kunang berkerumun dan membuat sinar hijau yang berkilauan cantik di antara kerimbunan semak-semak. Hancock yang melihat semua itu ingin sekali membagi apa yang ia lihat dengan Luffy. Biasanya ia membenci hal-hal yang lucu dan indah selain dirinya sendiri, tetapi sejak ia menyukai Luffy, perasaan itu perlahan-lahan mulai menghilang.

"Oh, Luffy, andai saja kau ada di sini." Hancock berkata dengan sedikit sesal yang membuncah di dadanya. "Aku tidak tahu bahwa menemukanmu kali ini bisa menjadi sangat sulit…"

"ITU KAU!"

Seruan lantang terdengar dari sisi belakang Hancock. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya. Hancock terperanjat saat kedua matanya menatap pria yang selama ini ia cari-cari. Luffy berdiri di sana, berkeringat dan tersenyum lebar. Wajahnya memang tidak pernah lepas dari senyuman. "Senang sekali bisa bertemu kau di sini! Eh? Kok tidak memakai pakaian?"

Hancock tidak bisa menghentikan wajahnya yang terus memerah. Ia berkata dengan grogi, "aku sedang mandi di sini. Ah, aku membawakanmu banyak makanan, Luffy! Ambil saja langsung dari pohon oak yang ada di sana. Aku menaruhnya di cabang ketiga dari bawah."

Luffy segera bergegas mengambil makanannya, melompat tinggi-tinggi dan mengambil bekal itu dengan riang. "Baunya enak sekali. Apa kau mau ikut makan?"

Hancock menyembunyikan wajahnya malu-malu mendengar tawaran Luffy. "Kalau terus kau memaksa, Luffy, baiklah… tunggu saja nanti aku akan datang."

Dalam hitungan menit, Hancock sudah selesai mandi. Ia tersenyum saat menyadari bahwa wajah Luffy memerah karena sake. Hancock memang sengaja memilih sake paling keras di Kuja, berharap Luffy langsung mabuk dengan segera. Pada kenyataannya Luffy memang sudah mabuk berat.

"Bagaimana sakenya?"

"Luarrr biasa, hik!" Luffy mulai cegukan, melihat Hancock dengan mata setengah terbuka. "Coba saja sendiri… hik!"

Hancock mulai mendekati Luffy dengan perlahan, masih tidak berani untuk menatapnya langsung. Ia mengambil setengah gelas sake dan kembali menatap Luffy, tetapi masih menghindari tatapan langsung yang dapat membuatnya berdebar-debar. "Luffy, apa kau menyukaiku?"

"Aku takkan menikahimu…" tegas Luffy. "Terima kasih atas makanannya, tapi gorgonzola-nya terasa berbeda… biasanya rasanya jauh lebih enak…"

"Uhhmm, sebenarnya itu masakanku. Maafkan bila rasanya kurang enak…" jelas Hancock dengan wajah memerah. "Aku sedang belajar memasak belakangan ini…"

"Aku mengantuk…" Luffy mendesah.

Hancock melihat Luffy dengan pandangan penuh dengan gairah. Ia sadar itu adalah kesempatannya. Dia akan terus mencium Luffy terus-menerus sampai Luffy membalas ciumannya. Pada saat itu ia akan mengambil gambar mereka berdua. Beranikan dirimu, Hancock! Jangan jadi pengecut!

Tubuh Hancock bergetar. Dia tidak pernah mencium seseorang sebelumnya. Rasanya jutaan tahun telah berlalu sampai pada akhirnya ia berani mendekati Luffy. Luffy sedang tidak sadar dan pandangannya sama sekali tidak fokus. Hancock memberanikan dirinya, maju ke arah Luffy. Hancock, apalagi yang kau tunggu?

"Sepertinya aku harus segera tidur… eh?"

Mulut Hancock sudah menempel di atas bibirnya ketika ia menutup matanya yang benar-benar terasa berat. Luffy kembali membuka matanya lagi dengan cepat, memberontak dari dekapan Hancock. Ia tidak mau terus dicium seperti itu. Akan tetapi, ciuman itu terasa enak. Luffy tidak pernah mengira bahwa ciuman bisa terasa seenak itu. Tubuh Hancock menimpa tubuhnya, membuatnya sulit bergerak.

"Hei, pergi dariku…"

Ciuman Hancock yang selanjutnya tidak bisa ia tolak. Rasanya sangat basah, tetapi ia tidak bisa menjelaskan perasaan aneh yang kini menjalari sekujur tubuhnya. Luffy tidak bisa mengerti kenapa ia tidak bisa menolak ciuman Hancock, maupun menghentikan apa yang diperbuat oleh wanita itu. Tentu saja ia bisa dengan mudah menghentikan Hancock, tetapi ia tidak mau. Ia mulai menikmatinya.

Hancock mulai menyusuri leher Luffy dengan ciumannya, membuat pria itu mendesah berkali-kali. Luffy mulai merasakan sensasi aneh yang perlahan membakar tubuhnya. Lagi-lagi Ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi instingnya mulai mengambil alih. Ia memeluk tubuh Hancock, dan mulai menyentuh dada wanita itu. Rasanya lembut dan empuk, pikirnya. Ia sangat ingin menyentuh semuanya. Rasanya pakaian mereka membuatnya terganggu. Ia ingin menyingkirkan semuanya yang membatasi dirinya dan Hancock.

Jemari Luffy menyelusup di balik pakaian Hancock. Hancock kaget saat menyadari pakaiannya terlepas dari tubuhnya. Ia menjadi sulit bernapas. Detak jantungnya berdentum-dentum tidak beraturan. Ini sudah terlalu jauh, pikirnya. Ia sama sekali tidak mempersiapkan dirinya untuk itu. Tetapi ciuman Luffy dan setiap sentuhan pria itu membuatnya ingin lebih dan lebih.

Keduanya berusaha melepaskan pakaian mereka tanpa merobeknya. Nafsu sudah mengambil alih tubuh mereka. Hasrat membara yang sama sekali tidak pernah menampakkan diri mendadak menguasai semuanya. Wajah Hancock memerah setiap Luffy menyentuh dirinya. Kulit Luffy terasa panas dan membakar, namun terasa lembut dan nyaman. Rasanya Hancock ingin terus merasakan perasaan itu untuk selamanya.

Luffy membalikkan tubuhnya dengan penuh gairah, mengambil alih. Tubuh pria itu berada di atasnya, terus menciumnya dengan gairah yang kian membara. Hancock tidak bisa berpikir lagi saat Luffy kembali menciumnya, merasakan manisnya bibir mereka saat saling berpagut dan menjelajah satu sama lainnya. Luffy… Luffy… Luffy…

Hancock berteriak saat Luffy mulai memasuki tubuhnya, bergerak semakin dalam. Tekanan dan semua perasaan membara itu membuat Hancock sulit bernapas. Luffy bergerak semakin cepat, menusuk dirinya.

"Luffy—" desah Hancock kesakitan, "aah!"

Luffy menunduk sejenak, menutup bibir Hancock dengan bibirnya. Ia tidak ingin melihat Hancock terluka. Ia tidak ingin melihatnya tersiksa. Tapi tubuhnya tidak mau berhenti.

"Luffy—"

Hancock terus menjerit sampai akhirnya ia merasakan dirinya tertembus. Rasanya sakit, pikirnya. Sakit sekali.

"Luffy, hentikan…"

Tetapi Luffy masih terus bergerak. Pria itu terus bergerak dalam irama yang membius, membuat Hancock melupakan rasa sakitnya. Hancock kembali mendesah pelan, dan Luffy menciumnya lagi.

Mendadak Hancock kembali menjerit. Namun untuk perasaan yang benar-benar berbeda. Ia merasakan kenikmatan luar biasa saat Luffy terus bergerak di dalam dirinya, menciptakan suatu sensasi yang asing, yang tak pernah ia rasakan. Sulit sekali untuk diungkapkan oleh sekadar kata-kata. Hancock mulai menikmati semua itu. Ia menikmati semuanya. Kenikmatan akan penyatuan tubuh mereka benar-benar tidak bisa dibayangkan. Hancock mendesah lagi saat ia merasakan Luffy tengah menyemburkan sesuatu di dalam tubuhnya, begitu basah dan memabukkan.

Hancock menjerit pelan saat ia mencapai puncaknya. Kedua tangannya memukuli apa saja yang berada di sekitarnya sampai semua buku jarinya memutih. Di atasnya Luffy tersenyum dan menggigit bibirnya sendiri, berusaha mengendalikan tubuhnya untuk sesaat. Rasanya sangat menakjubkan, luar biasa. Rasanya melelahkan…

Luffy melepaskan pelukannya dan berbaring di sebelah Hancock. Ia benar-benar sangat lelah. Lelah sekali.

Butuh beberapa menit sampai akhirnya Hancock menyadari apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua. Mereka baru saja bercinta.

Hancock membuka mulutnya lebar-lebar, tidak percaya apa yang telah ia dan Luffy lakukan. Hal itu di luar rencananya. Dia… dia sama sekali tidak memiliki niat untuk… niat untuk bercinta dengan Luffy. Dengan cepat ia bangun dan menyadari bahwa ada sesuatu yang terasa asing di antara kedua kakinya, dan begitu basah. Hancock terkejut melihat banyaknya darah yang mengalir dari sana. Oh, Tuhan…

Dia benar-benar merasa harus pergi.

Hal ini benar-benar gila. Ini benar-benar tidak ia harapkan.

Hancock segera mengenakan pakaiannya dan segala peralatan yang ia bawa bersamanya. Ia baru akan pergi saat ia menyadari Luffy tidak mengenakan apa-apa. Ia bergegas mengambil dan memakaikan pakaian untuk Luffy. Pria itu masih tertidur dengan pulas. Jangan sampai masuk angin ya, Luffy. Sampai nanti…

Semua itu hanyalah mimpi belaka. Itu hanyalah khayalannya semata, tidak lebih dari itu!

.

.

Sekembalinya Hancock ke istana Kuja, Amazon Lily, Hancock tidak menyinggung perihal taruhannya ataupun malam yang telah ia habiskan bersama Luffy. Ia memerintahkan Enishida untuk mengutus beberapa dayang agar membersihkan rumah Nenek Nyon. Nenek Nyon tentu saja marah dan kecewa atas perlakuan tidak adil yang ia dapatkan dari ratunya. Hancock sama sekali tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah bagaimana melupakan kebersamaan mereka yang singkat…

Ia tengah berpikir tentang Luffy lagi saat Nenek Nyon datang. Ah, apalagi yang mau diperbuat oleh nenek sihir tua itu…

"Tuan putri, anyda benar-benar licik. Tahukah anyda?" Nenek Nyon berkata dengan tajam. "Anyda mengingkari janji anyda."

"Memangnya kenapa kalau aku mau ingkar janji?" kata Hancock pongah. "Aku bisa membuat ribuan janji dan mengingkari semuanya kalau aku mau dan tidak akan ada yang marah terhadapku, karena aku begitu cantik…"

Taman penuh mawar seketika mengelilingi Nenek Nyon, membuatnya melupakan baik taruhan ataupun kecurangan Hancock. Tuan putri sangatlah imut untuk menjadi seorang penjahat. Dia kan… Tak lama Nenek Nyon sadar bahwa ia tengah dimanipulasi. "Jangan licik tuan putri! Datang dan bersihkan rumahku. Kau telah kalah taruhan!"

CRANG!

Jendela seketika pecah dan Nenek Nyon terlempar keluar. Sang putri kembali menghela napas dengan putus asa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkinkah ia harus melupakan segalanya? Ya, mungkin jalan terbaik adalah melupakan semuanya. Ia harus memulai semuanya dari awal. Malam itu tidak harus dipikirkan, sama sekali tidak boleh dipikirkan. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.

.

.

"Sudah dua tahun berlalu, ya?" pemeran utama kita mengambil topi jerami dengan senyum di wajahnya.

"Tidak usah khawatir Luffy… Aku sudah mempersiapkan kapal yang dipenuhi oleh makanan kesukaanmu! Itu sudah membuktikan bahwa aku memiliki semua yang kau inginkan sebagai istri yang baik 'kan!"

"Aku tidak menikahimu! Terima kasih untuk makanannya!" Luffy menjawab dari kejauhan.

"Ahhh…! Begitu kejam, tetapi sangat berwibawa….!"

Kemudian, Luffy segera meninggalkan pulau perempuan untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Hancock sangat khawatir dan menyiapkan segala yang bisa ia persiapkan untuk pria yang sangat ia cintai itu. Bahkan ia menyiapkan sebuah topeng lucu dengan kumis untuk Luffy agar ia sulit untuk dikenali. Dirinya sudah sepenuhnya melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka berbulan-bulan yang lalu. Luffy sendiri tampak cuek-cuek saja.

Tanpa kehadiran Luffy, semuanya terasa membosankan bagi Hancock. Hari-harinya dihabiskan untuk mendesah, melamun, menggambar-gambar wajah Luffy di tembok dan hal-hal tidak berguna lainnya. Kondisi hatinya selalu tidak baik. Belakangan ini kondisi tubuhnya pun turut memburuk. Berkali-kali ia muntah di kamar mandi. Tunggu sebentar, benarkah?

"Kak, apa ada yang terjadi saat kakak berkunjung empat bulan yang lalu ke Luscaina? tanya Mari penasaran. Dia sadar bahwa kakaknya mulai berubah sikap sekembalinya ia dari Luscaina. Hancock tetap berbaring tanpa banyak bergerak di ranjangnya, menunggu dokter tiba untuk memeriksa kondisinya. Wajahnya yang pucat menyiksa Mari dan semua penghuni istana belakangan ini.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya datang untuk mengantar makanan untuk Luffy."

"Ah! Sudah tiba!" teriak Sonia, bangun dari kursinya. "Cepat diperiksa. Apa kakak baik-baik saja?"

Wajah sang pemeriksa bahkan lebih pucat daripada wajah Hancock setelah semua pemeriksaannya selesai. Belladonna menggigit bibirnya pelan, takut salah mengatakan sesuatu. Dia tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya di depan banyak orang.

"Bisa kita bicara berdua saja, tuan putri?"

"Belladonna, apa yang ada di dalam pikiranmu?" tanya Hancock, memerintahkan yang lain untuk segera meninggalkan kamarnya. Apakah kondisinya sangat parah sehingga Belladona tidak bisa mengatakannya di hadapan yang lain?

"MENJAUH DARI PINTU ATAU AKAN KUKUTUK KALIAN SEMUA MENJADI BATU!"

Baik dokter dan pasiennya mendengar derap langkah kaki yang kian menjauh. Dasar orang-orang yang suka ikut campur, maki Hancock dalam hati. Ia melanjutkan, "apa kondisiku parah?"

Belladonna tersenyum samar-samar, lalu mengatakan, "tidak tuan putri, kesehatan anda sempurna. Masalahnya bukan… bolehkah saya menanyai anda sesuatu?"

"Silahkan," Hancock menutup wajahnya. Rasa tidak menyenangkan kembali menyelimuti tubuhnya. Dia benar-benar membenci kondisi tubuhnya belakangan ini. Apa sih penyakitnya?

"Apa masalahnya?"

"Apakah anda… maafkan kelancangan saya, tuan putri. Apakah anda pernah bermalam dengan seorang pria? Anda mengerti maksud saya kan?" Belladonna bertanya dengan sedikit ragu, lalu dia melanjutkan. "Saya tahu saya mungkin tidak waras, mana mungkin anda… sayangnya tanda-tanda yang ada demikian jelas."

Wajah Hancock seketika merona. Malam yang ia habiskan bersama Luffy kembali muncul di dalam ingatannya. Ia berkata dengan pelan, "ya, aku pernah tidur dengan seseorang."

Belladonna tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "hah? Eh… maaf?"

"Memangnya kenapa?" tanya Hancock sebal. Apakah bercinta dengan Luffy hal yang mustahil?

Belladonna merasa bahwa tebakannya tepat. Ini benar-benar situasi yang sulit. Akan tetapi ia harus merasa yakin terlebih dahulu. Dia tidak ingin membuat kesalahan apapun. Kasus ini sangat penting dan menyangkut masa depan kerajaan perempuan. "Sudah berapa kali anda tidak mendapatkan menstruasi, tuan putri?"

"Kalau tidak salah sudah empat kali. Kenapa kau menanyakan hal itu?"

Dokter berwajah panjang itu memaksakan diri untuk tersenyum. "Tuan putri, sekarang ini anda tengah mengandung."

Hancock tidak mampu berkata-kata lagi. Oh,Tuhanku… aku—aku sedang mengandung bayi Luffy?

.

.


Terima kasih sudah membaca ya!