Catatan: maaf banget baru update, soalnya sampai akhir tahun lalu mendadak tidak ingin melanjutkan cerita ini, dan berfokus sama berbagai kisah lain. Tapi entah kenapa lanjut juga, ehehehe. Baru-baru ini ada pendapat yang bilang kisah terjemahan seharusnya tidak boleh ditulis, tapi tidak pernah merasa begitu tuh. Plagiat/asal tempel/sedikit edit plot buat memperbanyak cerita itu yang tidak boleh, tapi kalau bikin terjemahan kayaknya nggak apa deh. Oi, terima kasih banyak untuk yang terus mengikuti dan membaca kisah ini, ya! Kisah ini takkan berlanjut tanpa dukungan kalian, loh! Selamat membaca~!

Disclaimer: Eiichiro Oda


No Romance Allowed part 5


Kisah ini bercerita mengenai Hancock yang terancam bahaya saat seseorang membuka masa lalunya.

.

.

.

"Apa yang telah kau lakukan dengan Boa Hancock, Luffy, adalah cara membuat bayi. Dan kalau kau cukup beruntung, saat ini kau mungkin telah memiliki bayi." Robin berkata dengan tenang, seolah-olah menghamili Ratu Bajak Laut bukanlah persoalan yang besar. Dengan kepribadian yang serupa dengan anak-anak, wajar saja jika Luffy tidak pernah memperhitungkan roman masa muda, pernikahan, seks, ataupun masalah asmara lainnya sebelum meraih impiannya. Sebenarnya Robin agak sangsi juga, kemungkinan besar setelah meraih mimpinya Luffy belum tentu memedulikan masalah percintaan dan sebagainya. Itulah mengapa reaksi Luffy mengenai persoalan bayi dan hubungannya dengan Hancock merupakan hal yang amat ditunggu-tunggu oleh wanita berambut hitam panjang itu. Ya, reaksi Luffy pasti sangat menarik.

Luffy terlihat agak sedikit tidak nyaman.

"Kemungkinan seseorang untuk menjadi hamil pada hubungan seks pertama kali sebanyak 11 persen, sementara kehamilan akibat satu kali hubungan seks saja sekitar 3-5 persen." Robin sengaja memaparkan fakta-fakta seputar kehamilan. Ia penasaran sekali dengan reaksi Luffy. "Apabila umur si ibu sudah berumur atau sekitar 45 atau lebih, kemungkinan memiliki anak kembar bisa lebih besar lagi. Sekalipun tanpa fakta-fakta ini, kau adalah orang yang sangat beruntung, Luffy."

Luffy benar-benar tidak paham apa maksud Robin.

"Singkatnya, kau mungkin telah menjadi seorang ayah," Robin menekankan kata terakhir. "Luffy, kemungkinan besar kau telah menjadi ayah dari sepasang bayi kembar."

Tentu saja, hal itu hanyalah sebagian dari analisis Robin. Boa Hancock kemungkinan tidak pernah mengandung bayi Luffy dan Luffy bukanlah ayah dari bayi manapun. Semua yang telah ia katakan hanyalah kebohongan belaka.

Sebenarnya, arkeolog yang satu itu sangat menikmati situasi yang sedang terjadi di bawah laut sana.

Pada saat yang sama, Franky masih terus saja menyimak seluruh percakapan Robin dan Luffy lewat Den Den Mushi yang masih aktif di Shark Submerge. Kedua matanya seketika membelalak dengan amat sangat tidak wajar sewaktu mendengar kata ayah yang meluncur dari mulut Robin. Mulutnya seketika terbuka lebar, menarik perhatian semua kru kapal.

"ROBIN SEDANG HAMIL DAN LUFFY AYAH DARI BAYI MEREKA!"

DOOOOOONGGG!

"SIALAN!" Sanji berteriak frustrasi, tidak sengaja membanting pintu dapur dengan kemarahan yang tidak dapat dikendalikan lagi. Hatinya sangat jengkel, heran bagaimana bisa Luffy bisa melakukan semua hal yang ingin sekali ia lakukan. "MASA LUFFY LAGI?"

"Apa yang barusan kau katakan, Franky?" Nami menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. "Oh, jangan bilang kalian mempercayai semua itu!"

"Aku mendengar dengan telingaku sendiri bahwa Luffy telah menjadi seorang ayah…" Brook datang mengambang dari arah dek atas. "Padahal aku sama sekali tidak punya telinga, yohohoho… skull joke!"

"ITU SEMUA BOHONG!" Usopp menjatuhkan dagunya dengan dramatis, setengah berlari mendatangi Franky. "Kau sedang bercanda, bukan?"

"ITU KENYATAAN! COBA SAJA KALIAN DENGAR HAL INI!" Franky mempertahankan beritanya, menaruh Den Den Mushi di atas meja dan memperdengarkannya ke semua kru kapal. Tanpa banyak cakap mereka semua mendekati meja, sayup-sayup mendengar suara-suara ribut yang dipenuhi kebahagiaan di bawah sana, jauh di antara gua-gua bawah Laut Habanera. Wajah mereka semua tampak berbeda, masing-masing memiliki pendapatnya sendiri.

.

.

"AYAH!" Luffy berteriak ribut, menggoncang kapal selam mungil itu. Wajahnya dipenuhi oleh kebahagiaan. "AKU AYAH DARI SEPASANG BAYI KEMBAR!"

"Tentu saja, tapi hal itu benar terjadi bila Boa Hancock telah melahirkan anakmu—"

"WOAAAHHHHH! AKU TELAH MENJADI AYAH!" kapten muda itu berteriak kesetanan, senyum lebar melintas di wajahnya. Suaranya begitu riang, dipenuhi kegembiraan. "WOOOAAAHHHH!"

"Luffy, dengar, itu hanya asumsiku—"

"WOOOOAAAAHHHHH…!"

Usopp menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Jadi itu sebabnya mengapa Robin selalu mendukung Luffy dalam kondisi apapun. Dulu dia pernah mengatakan bahwa Luffy bertanggung jawab atas dirinya, seumur hidupnya karena telah menyelamatkan Robin dari reruntuhan di Arabasta. Aku tidak bisa menyalahkan Luffy, kalau begitu persoalannya. Robin wanita dewasa yang sangat seksi dan juga cerdas. Jika diberi kesempatan yang sama, aku akan melakukan tindakan yang sama seperti Luffy, mencium dan meraba—"

Sanji mimisan, membayangkan perkataan Usopp.

"Berhenti bicara omong kosong!" Zoro memotong penjelasan Usopp yang mulai mengarah ke pembicaraan mesum, mendongkol. "Tidak mungkin wanita satu itu bisa dihamili oleh Luffy, atau siapapun, kalian dengar itu?"

"Jangan semarah itu, Zoro!" Usopp dengan cepat membalas protes Zoro barusan. Ia berbisik ke telinga Nami, "ada apa dengan orang itu, seperti Robin kekasihnya saja. Kalau aku tidak kenal dia sejak dulu, pasti aku berani bertaruh kalau dia sangat cemburu."

"Aku masih mendengarmu." Zoro mengerutkan kedua alisnya, membuat Usopp menelan ludah susah payah, berbisik meminta maaf dengan suara yang amat sangat pelan.

"GYAAAHHHH! INI BENAR-BENAR TIDAK ADIL!" Sanji berkomentar dengan sejuta kekesalan di dadanya. Si koki berambut pirang satu itu merebut Den Den Mushi dari atas meja. "Kemarikan Den Den Mushi sialan itu! Aku akan menanyai mereka! Bagaimana bisa mereka…"

"Fufufu… itu hanya kesimpulan yang kubuat," Robin akhirnya melepaskan tawanya yang anggun. Dia benar. Reaksi Luffy sangat menyenangkan. "Kau boleh berhenti berteriak seperti itu, Luffy. Hancock tidak benar-benar hamil dan kau—belum tentu menjadi ayah."

"WOOOOAAHHHH!" Luffy masih terus berteriak sementara otaknya perlahan mencerna apa yang sebenarnya sedang dijelaskan oleh Robin.Hancock tidak benar-benar hamil dan kau—belum tentu menjadi ayah. "EEEEEEEEEEEEEEEEEHHH?" Luffy akhirnya sepenuhnya menyadari apa yang Robin katakan. Robin tengah mempermainkan perasaannya!

Merasa dikerjai, Luffy merengut kesal. "Kau menyebalkan, Robin!"

"APA? LUFFY MENGATAKAN BAHWA KEHAMILAN ROBIN MENYEBALKAN!" Sanji berteriak tidak rela. "AKU BERSUMPAH SI KARET TOLOL ITU AKAN MERASAKAN TENDANGAN PALING MAUT DAN AKAN KUPOTONG-POTONG DIA NANTI!"

"Kau bilang kau mau bicara dengan mereka, alis keriting!" Zoro merampas Den Den Mushi dari tangan Sanji. "Hoi! Luffy! Luffy! Kau mendengarku? Bangsat! Aku nyaris tidak mendengar apa-apa!"

"Apa yang salah?" Nami mendekati Zoro, penasaran juga dia. "Tak bisa menghubungi mereka?"

"Mereka menyelam terlalu dalam di bawah gua. Aku akan menarik mereka dengan segera!" Franky angkat bicara, lantas sibuk menekan berbagai tombol pemanggil otomatis Shark Submerge.

.

.

"Aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu, tapi mengenai menjadi ayah itu hanyalah asumsiku, pendapatku saja. Hancock tidak mungkin hamil hanya dengan satu kali hubungan seks, paling tidak beberapa kali agar pembuahan bisa terjadi. Walau untuk beberapa kasus, hal itu bisa saja terjadi." Robin terdiam sesaat, lalu ia menanyai Luffy. "Apa yang akan kau lakukan memangnya bila Hancock benar-benar mengandung anakmu?"

"Aku tidak mau menjawab!" Luffy masih merengut kesal. "Kau benar-benar—"

Robin sama sekali tidak tersenyum, suaranya sangat serius. "Luffy, apa yang akan kau lakukan bila Hancock mengandung anakmu?"

"Tentu saja menikahinya!" Luffy menjawab tanpa berpikir. "Memangnya apa lagi?"

Jawaban khas Luffy, begitu sederhana dan lurus. Itulah Luffy yang selama ini ia kenal. Robin kembali tersenyum. "Fufufu, kau benar-benar menarik, Luffy."

"Jadi di mana naga yang enak itu? Aku sudah tidak sabar menunggu!"

Dengan hati-hati Robin mengecek posisi mereka. Sejauh ini mereka sudah memasuki berbagai gua bawah laut, hanya butuh beberapa saat sebelum mereka tiba di tujuan semula, dasar laut berair hangat. Kedua mata Luffy membelalak saat ia melihat berbagai stalagtit dan stalagmit dengan berbagai warna yang sangat indah. Arus air perlahan menjadi tenang, namun itulah yang aneh. Terlalu banyak ikan dan belut, padahal di dasar gua yang dalam dan dingin, mereka tidak dapat hidup. Robin mengecek temperatur air. Itulah jawabannya. Prediksinya tepat.

"Kau menemukan sesuatu?" Luffy menunggu dengan tidak sabaran di samping Robin. Sepintas ia melihat bayangan besar berkelebat di balik hitamnya karang. "Apa?"

"Kau akan menikmati Naga Air Habanera, Luffy."

.

.

Ketika Hancock membuka matanya, perasaannya menjadi semakin buruk. Belakangan ini ia jarang tertidur sepulas biasanya, memikirkan mimpi buruk yang beberapa saat lalu kembali muncul dan mengganggu ketentramannya. Benar-benar aneh, pikirnya masam. Ingatan terpendam yang selama ini ia sembunyikan semasa ia menjadi budak dulu kembali terngiang di otaknya. Suara tawa penuh ejekan, perlakuan tidak manusiawi para bangsawan, dan tangan-tangan menjijikkan yang menghina dan menggoreskan luka di tubuh dan hatinya berulang-ulang muncul dii benaknya, membuatnya muntah beberapa kali.

Air mata mengalir perlahan dari kedua mata birunya yang indah.

Wanita tercantik di seluruh samudra itu melengkungkan bibirnya dengan kesal, heran kenapa masa kelam itu kembali hadir di hidupnya yang sekarang, ingatan yang ingin ia hapus. Apa boleh buat, masa lalunya sebagai budak Naga Langit tidak bisa ia pungkiri, dan tak bisa ia ubah selamanya. Tato naga mencakar langit di punggungnya adalah bukti nyata semua itu, begitu juga kebenciannya terhadap semua laki-laki.

Semua pria itu memuakkan kecuali Luffy. Hanya Luffy yang membuatnya bertahan melalui hari-hari yang suram ini, Hancock mendesah. Ia mengambil poster buron Luffy dari sisi tempat tidurnya, dan ia menyusuri wajah Luffy di sana dengan jemarinya. Ia sangat merindukan Luffy, orang yang paling dikasihinya. Pria yang paling penting sealam semesta. Luffy tengah tersenyum dalam foto, Hancock merasakan wajahnya merona. Ah, Luffy selalu tersenyum ceria.

Senyuman itu telah berkali-kali menyelamatkannya, membuat semua kegundahannya menghilang hanya dengan menatap senyuman dalam poster buron itu. Hancock menutup matanya, berusaha mengingat saat-saat ia bersama dengan Luffy.

"Berhenti memanggilku calon suamimu!"

"Dengar! Aku takkan menikahimu!"

"Aku takkan menikahimu! Terima kasih atas makanannya!"

Brengsek, mengapa semua penolakan itu kembali terngiang? Dengan frustrasi Hancock melemparkan bantalnya ke dinding. Ekspresinya mengerikan, dipenuhi oleh kemarahan yang tak berujung."Dia hanya malu, kalian dengar itu? Luffy hanya tidak mau mengatakannnya di hadapan banyak orang!"

Tidak ada jawaban.

Berteriak sendirian di tengah malam sepertinya benar-benar menyedihkan. Hancock menghela napas dalam-dalam dan kembali menutup matanya, memikirkan saat-saat terindahnya bersama Luffy di Luscaina. Mungkin saja Luffy sama sekali tidak mengingat malam itu, pikirnya gundah. Kala itu Luffy menciumnya dengan intens, penuh hasrat dan menggebu-gebu, seakan tidak mau melepasnya. Hancock tersenyum dengan wajah memerah. Perlahan ia menyentuh bibirnya, teringat bibir Luffy yang hangat dan basah, semua sentuhan pemuda itu di seluruh tubuhnya. Itulah saat terindah dalam hidupnya. Luffy..., bisik Hancock dengan pelan, lalu tersenyum. Oh, semuanya sangat indah. Semuanya begitu menakjubkan. Luffy, andai saja kau tahu betapa aku merindukanmu…

.

.

Siluet panjang yang berasal dari pria bertubuh tinggi besar itu perlahan melintasi koridor besar dan mewah yang berwarna merah bata yang menghubungkan antara ruangan demi ruangan dalam rumah peristirahatnya yang terletak di sebuah pulau tropis di Grand Line. Sambil tersenyum puas pria itu meminum anggur putih kesukaannya. Ia suka aroma pekat yang segar dari anggur yang dulu pernah dibawakan bawahannya Disco dari Red Line. Rasanya tidak tertandingi, gumamnya pelan. Di hadapannya terpampang foto seorang wanita yang amat cantik dengan rambut hitam tebal dan lekuk tubuh yang begitu sensual menggoda. Ia bertemu wanita itu di Marineford, saat berperang dengan awak kapal Whitebeard. Tidak salah lagi.

Itu sudah pasti perempuan itu.

Ia pernah melihat wanita itu sebelumnya, dulu sekali sewaktu ia mengecek rumah gadainya, tempat penjualan berbagai budak dari berbagai ras. Dulu wanita itu masih sangat muda, liar, dan kasar. Dia sempat menjualnya beberapa kali. Terlalu liar dan nakal, sampai-sampai para pembantunya sering mengutarakan kekesalan mereka terhadap perlakuan liarnya. Siapa yang akan percaya bahwa bocah kecil satu itu telah bertransformasi menjadi wanita teranggun, tercantik , sekaligus kuat? Sekarang dia salah satu Shichibukai, Boa Hancock, sang Ratu Kuja? Donquixote Doflamingo memperlihatkan senyumannya yang mirip dengan iblis kala menemukan mainan baru. Yah, apa yang bisa lebih menyenangkan daripada menyiksa si cantik itu?

"Cepat kemari!" perintah lelaki itu, menatap wanita yang terlihat susah payah mengatur napasnya yang berat. Pakaian bercorak macan tutul wanita itu kotor dan dipenuhi oleh darah yang sudah mengering, wajahnya sayu dan pucat. Akan tetapi, di balik sebagian rambut yang menutupi wajah kuyu wanita itu, sinar keberanian khas Kuja masih tersimpan dari mata biru tajamnya. Doflamingo bertanya dengan nada sopan. "Bagaimana perjalananmu?"

"Biasa sa-saja." Wanita itu menjawab takut-takut, menggigit bibirnya yang kering. "Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, termasuk—"

"Termasuk mengirimkan surat undangan itu?" Doflamingo tidak bisa menyembunyikan tawanya, melambaikan sebelah tangannya dengan senang. "Menyenangkan sekali bila aku bisa melihat wajah terkejut dia, apalagi nanti, setelah menikmati tubuh—"

Doflamingo berhenti sejenak, menatap wanita Kuja itu dengan liar. "Seperti aku menikmati dirimu."

"Hentikan omong kosong ini! Cepat lepaskan putriku! Aku sudah melakukan semua yang kau mau!" wanita itu berteriak dengan suara parau. Hatinya hancur menyadari apa yang telah ia lakukan sejauh ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Putri tunggalnya berada dalam bahaya, dan ia rela melakukan apa saja demi nyawa putrinya itu. "Cepat lepaskan dia! Kau sudah berjanji!"

"Kau sama sekali tidak berhak memberiku perintah, pelacur sampah!" Doflamingo membalas tanpa ampun. Ekspresinya yang tadinya penuh senyum kini berganti oleh wajah dingin yang kejam, kebrutalan terlintas di wajahnya. Sekalipun ia tersenyum, senyumnya itu begitu bengis, menyisakan rasa kengerian yang mendalam untuk siapa saja yang memandangnya.

Wanita itu menunduk, takut dengan apa yang kini ia lihat. Doflamingo tersenyum lagi, bertanya dengan suara kasar, seolah mengejek. "Di mana ratu tercintamu ketika kau membutuhkannya?"

"Berhenti memanggil Putri Ular seperti itu!" wanita itu marah, membalas tatapan Doflamingo tanpa sedikitpun rasa takut. Ia menyayangi ratunya dengan sepenuh jiwa, dan tidak sudi nama Hancock dijelek-jelekkan begitu rupa. "Aku sudah memberitahukanmu semua yang aku tahu! Aku sudah memberikanmu kapal Kuja! Sekarang cepat lepaskan putriku!"

"Kau akan menemui anak kesayanganmu, segera…" Doflamingo berkata dengan nada dingin, menggerakkan jemarinya dengan cepat, membuat gerakan aneh yang berirama. Bermain dan mengoyak-ngoyak para manusia lemah salah satu permainan yang paling ia sukai.

"Hen-hentikan! Apa yang kau… AARRGGHHHHH!"

Dia tak bisa menghentikannya, kenikmatan saat para korbannya menjerit tanpa bisa berontak sedikitpun membuatnya begitu ketagihan.

"… di neraka."

"ARGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

.

.

"Tapi…"

"Bagaimana bisa kau…"

Robin tertawa pelan, sulit mempercayai apa yang baru saja ia dengar dari krunya sendiri. Mereka semua memang benar-benar lucu, pikirnya riang dalam hati. Bagaimana mereka berpikir kalau Luffy bisa menghamiliku? "Dengar, aku tidak hamil—dan Luffy bukanlah ayah dari anak yang tidak kukandung."

DOOOOOOONGGGG

"Huh…" Zoro mencibir di pojok sana, seperti lega atau apa. "Kau dan semua tuduhanmu yang tidak masuk akal…"

"Kepala lumut, kau bagian dari semua ini juga~!" Sanji terdengar sangat lega, dan bahagia. "Syukurlah kau terbebas dari monster testosteron terkutuk itu…"

"Kaulah monster testosteron yang sesungguhnya, Sanji-kun." Nami mendesah kesal, menggelengkan kepalanya. Sejak kapan Luffy peduli dengan wanita? Lagipula, hanya Sanji yang tergila-gila dengan para wanita dan ingin memiliki mereka semua, tanpa kecuali, rutuknya lagi. "Hmmph, jadi kita semua dibodohi oleh gosip konyol Franky?"

"Franky?" Robin penasaran, ingin tahu apa yang telah mereka bicarakan di atas sana. Dengan senyum sejuta misteri ia bertanya, "Franky, apa hubunganmu dengan semua ini?"

Tapi, Ro-robin kau tadi bilang—" Franky tergagap. Dengan sigap ia melangkah mundur, tersenyum malu-malu ke semua orang. "Ah, kurasa aku harus memperbaiki Den Den Mushi di Shark Submerge…"

"FRANKKYYYYYYYYY!" nyaris semua kru berteriak, mengejar sumber semua kesalahpahaman itu. "BISA-BISANYA KAU!"

Sanji menendang Franky keras-keras, membuat cyborg mesum itu terbang ke udara. Semua kru terpana melihat hal itu, tapi tidak ada yang mengatakannya. Franky pantas mendapatkan tendangan atas semua keributan yang telah terjadi. Gara-gara ulahnya semua heboh mengkhawatirkan Luffy dan Robin. Ya, semuanya gara-gara Franky dan isu kehamilan Robin.

"Yohohoho… masa muda sangat menyenangkan, bukan?" Brook berkomentar di samping Usopp, yang sedang sibuk membetulkan peralatan biji-bijian terbarunya.

"Aku ini masih muda, Brook! Berhenti berbicara seolah-olah aku seumuran denganmu!" Usopp protes, mulutnya sampai maju beberapa senti saking marahnya. "Eh, bisa ambilkan obeng di dekat kakimu?"

"Tulangku bekerja lebih baik daripada obeng," Brook menjawab dan memberikan salah satu tulangnya kepada Usopp. "Yohohoho… skull joke!"

"Yang benar saja!" pemuda berhidung panjang itu meneriaki Brook yang kini berlari dengan sangat kencang, melompat-lompat di atas berbagai benda. "Hei, cepat kembalikan—"

"Luffy, bisa tidak kau berhenti mengunyah monster itu!" Nami meneriaki kaptennya, yang sepenuhnya mengabaikan semua yang telah dituduhkan kepadanya, dan terus saja menelan daging naga yang telah ditemukan oleh Robin dan dirinya. Sejak mereka muncul ke permukaan, satu-satunya yang menjadi pusat perhatiannya hanyalah daging naga, yang telah ia tangkap dan habisi. "Kau 'kan akar permasalahan semua ini!"

"Hah? Akar apa?" Luffy bertanya dengan mulut penuh. "Bisa dimakan, tidak?"

"Lupakan saja!" Nami menggelengkan kepalanya, berjalan menuju dek dan mengambil koran hari itu. Dia selalu mengecek berita, mencari perkembangan terbaru yang mungkin saja berguna untuk perjalanan mereka. Gadis berambut merah yang cantik itu perlahan membuka halaman demi halaman, membaca setiap artikel yang menarik. "Banyak sekali pertumpahan darah dan perebutan wilayah sejak kematian Whitebeard… ehhh… tidak mungkin…"

"Nami-swan, makanan apa yang kau inginkan untuk… EHHHHHHHHHHHH~?" Sanji seketika berhenti bernapas ketika matanya menangkap apa yang tertulis di berita utama itu. "MUSTAHIL!"

.

.

Kebenaran yang Terselubung Mengenai Wanita Tercantik Selautan, Boa Hancock sang Shichibukai.

Melarikan diri dari Red Line bertahun-tahun lalu, sukses mencapai posisi terhormat sebagai Ratu Kuja di Pulau Nyoga, Pulau Perempuan.

Dia yang dulunya budak, selamanya budak.

.

.

"Luffy, kau tahu Boa Hancock, bukan?" Nami bertanya, wajahnya berubah pucat. Dia sulit mempercayai berita yang disebarkan di Koran. Dengan penuh rasa ingin tahu Nami kembali mengulang-ulang kata-kata dalam artikel itu. Dia yang dulunya budak, selamanya budak. Apakah Ratu Bajak Laut itu dulunya budak? "Apa arti dari berita ini?"

"Hah?"

.

.

.


Terima kasih sudah membaca, ya~!

Kalau sempat bisa tinggalkan pesan, komentar, atau apapun~!