Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Terima kasih buat para komentator!

shiho Nakahara : Nggak apa. Wah, harus tega, soalnya rugi kalau nggak baca lanjutannya. He he he.

SherryHeartfilia : Poor Shiho harus menghadapi Shinichi yang gila. He he he.

Aiwha Katsushika : ShinShi FTW!

moist fla : Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Roger that!

amu-san : Aku harap tidak. But if my perverted brain want to do something, well...

Kongming-san : Aku harap akibatnya adalah akibat yang menyenangkan.

Nachie-chan : Memang nama fesbukmu apa?

poyo-chan : Wah, dia harus ikut campur soalnya dia kan pacarnya Shinichi. XD

conanlovers : Nggak apa. Kalau kenapa Shinichi jatuh cintanya sama Shiho, itu karena obat itu mengandung DNA-nya Shiho.

Atin : Sabar, sabar.

ShinShihoLover : Dia nangis soalnya dia takut jadi itu cuma kesan. Aslinya dia nggak sepolos itu. He he he.

Ralilac : Oke!

Fujita-san : Sepertinya selamat. XD. Good luck buat tugasnya.

airin aizawa : He he he.

shihoCool'n : Oke!

3aboOorah : But she have to. XD

aichanluphkaito : Harus ada dong. XD

Ringkasan :

Setelah di chapter sebelumnya Shinichi dengan sukses menakuti Shiho, sekarang Shiho harus mencegah Shinichi yang ingin putus dengan Ran.

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 2 – Kekasih Gelap

"Kalau begitu aku akan menemui Ran sekarang dan menyelesaikan urusanku dengannya," ucap Shinichi setelah Shiho menjelaskan tentang penemuan terbarunya yang tidak sengaja diminum Shinichi sehingga Shiho menatapnya dengan tajam.

"Kau sama sekali tidak mendengarkanku ya?" tanya Shiho.

"Aku dengar. Aku minum penemuanmu sehingga aku jadi jatuh cinta padamu, ya kan?" jawab Shinichi.

Sementara itu, Yukiko sudah kembali ke rumahnya sendiri untuk memberi kesempatan pada Shinichi dan Shiho membicarakan masalah mereka berdua.

"Kalau kau sudah dengar, kenapa kau masih mau putus dengan Ran-san?" tanya Shiho dengan kesal.

"Bukankah itu sudah jelas?" ucap Shinichi sambil tersenyum seperti saat dia berhasil memecahkan kasus. "Apapun alasannya, aku mencintaimu dan hanya itu yang penting," lanjutnya.

Kalau saja Shiho tidak tahu kalau Shinichi ada di bawah pengaruh obat, dia pasti akan terkesan dengan ucapan Shinichi barusan. Namun sayangnya dia tahu dengan jelas bahwa Shinichi berada dalam pengaruh obat LOVE4869 sehingga dia hanya bisa facepalm.

"Aku harus membuat penawarnya secepatnya," gumam Shiho pada dirinya sendiri.

"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Shinichi sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Tunggu!" seru Shiho sambil berdiri dan meraih lengan Shinichi yang sudah mulai melangkah pergi sehingga Shinichi langsung bereaksi. Dia berbalik dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Shiho dan menarik Shiho mendekat.

"Kenapa? Apa kau tidak bisa jauh dariku sedetik pun?" tanya Shinichi sambil nyengir sehingga Shiho memutar bola matanya.

"Bukan begitu," ucap Shiho sambil melepaskan diri dari pelukan Shinichi. "Aku tidak mau kau putus dengan Ran-san," lanjutnya.

"Tapi aku mencintaimu dan aku ingin bersamamu," ucap Shinichi.

"Aku tidak peduli. Kalau kau memutuskan Ran-san, aku tidak akan bicara lagi padamu. Apalagi kau juga sudah menghancurkan laptopku," ucap Shiho.

"Shiho, aku benar-benar tidak sengaja. Tolong maafkan aku. Aku janji aku akan membelikanmu laptop baru," ucap Shinichi dengan nada memohon.

"Tapi semua data penelitianku dan tugas kuliahku ada di situ dan kau tidak akan bisa menggantinya," ucap Shiho dengan sinis.

"Itu...," ucap Shinichi.

"Karena itu, jangan membuat kesalahan lagi dengan memutuskan Ran-san, karena aku tidak akan memaafkanmu," ucap Shiho datar.

Shinichi menundukkan kepalanya sejenak sehingga Shiho tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Ketika Shinichi menegakkan kepalanya lagi, dia menyeringai kepada Shiho dan seringaiannya itu membuat Shiho menjadi tidak nyaman. Lalu Shinichi kembali melingkarkan lengannya di pinggang Shiho dan menariknya mendekat.

"Aku tidak mengerti kenapa kau bersikeras supaya aku tidak putus dengan Ran," ucap Shinichi.

"Ran-san adalah cinta dalam hidupmu, bukan aku. Kau jatuh cinta padaku hanya karena pengaruh obat. Makanya aku tidak mau kau putus dengannya," ucap Shiho sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Shinichi tapi kali ini Shinichi tidak melepaskannya dengan mudah.

"Sudah kubilang kaulah cinta dalam hidupku, bukan Ran. Kenapa kau tidak mengerti juga sih?" ucap Shinichi dengan kesal.

"Kau yang tidak mengerti. Sudah kubilang ini semua karena pengaruh obat LOVE4869," ucap Shiho datar sehingga Shinichi menghela nafas.

"Kalau begitu begini saja. Aku tidak akan memutuskan Ran asal kau tidak menolak cintaku," ucap Shinichi.

"Apa? Aku tidak akan pernah melakukan hal itu," seru Shiho.

"Ya sudah, kalau kau tidak mau, aku akan memutuskan Ran sekarang juga dan setiap hari aku akan terus merayumu sampai kau menerima cintaku," ucap Shinichi kemudian dia melepaskan Shiho lalu berbalik dan mulai melangkah pergi.

"Sejak kapan dia jadi licik begini? Biasanya aku selalu bisa membaca jalan pikirannya tapi sekarang aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di kepalanya. Sepertinya akal sehatnya tidak akan kembali sebelum aku memberinya penawar obat LOVE4869. Terpaksa aku harus melakukan ini untuk mencegah kekacauan yang lebih besar," pikir Shiho dengan cepat.

"Tunggu!" seru Shiho ketika Shinichi sudah melangkah sejauh tiga langkah.

Shinichi menyeringai penuh kemenangan kemudian berbalik untuk menatap Shiho.

"Baiklah, aku setuju. Aku akan menerima cintamu asal kau tidak putus dengan Ran-san," ucap Shiho.

Shinichi menghampiri Shiho dan langsung memeluknya dengan erat.

"Aku tahu kau tidak akan bisa menolakku," ucap Shinichi dengan senang sehingga Shiho memutar bola matanya.

"Itu karena kau mengancamku," ucap Shiho sinis.

"Terserah," sahut Shinichi sambil tertawa kecil. "Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita saling menghangatkan diri?" tawar Shinichi.

"Dasar laki-laki mesum satu ini," ucap Shiho dalam hati.

"Maaf, tapi aku tidak tertarik. Aku sudah janji akan pergi belanja bersama ibumu jadi lebih baik sekarang kau lepaskan aku dan pulang ke rumahmu karena aku harus siap-siap," ucap Shiho.

"Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut kalian. Aku harus membelikanmu laptop baru," ucap Shinichi.

"Yah, terserah kau saja. Sekarang lepaskan aku," ucap Shiho.

"Sebentar lagi. Kau begitu hangat dan lembut. Aku suka sekali," ucap Shinichi sehingga Shiho kembali memutar bola matanya.

Shiho sudah berniat akan melepaskan diri ketika sebuah pemikiran melintas di benaknya.

"Baiklah, tapi sebagai gantinya kau harus setuju dengan peraturan yang kubuat untuk hubungan kita, oke?" ucap Shiho dengan lembut.

"Apapun, Sayang," sahut Shinichi sehingga Shiho menyeringai puas.

"Sepertinya ini tidak sesulit yang kubayangkan," ucap Shiho dalam hati.

XXX

"Aah, ini sungguh menyenangkan. Sudah lama aku tidak belanja bersama Shin-chan dan memilihkan baju untuknya," ucap Yukiko dengan riang sementara Shiho hanya tersenyum.

Shinichi hanya menggerutu sendiri karena satu-satunya alasan dia mau ikut belanja bersama ibunya adalah supaya dia bisa jalan dengan Shiho. Pergi belanja bersama ibunya merupakan salah satu kegiatan yang paling tidak disukainya sejak dia masih kecil karena ibunya pasti akan menyuruhnya mencoba baju yang aneh-aneh dan dia juga harus membawa semua belanjaan mereka. Shiho juga tidak membantunya dan memihak ibunya.

"Jadi apa kita sudah selesai?" tanya Shinichi dengan nada malas.

"Hmm, aku rasa ini sudah cukup," jawab Yukiko sambil memandangi tas belanja yang semuanya dibawa oleh Shinichi.

"Kalau begitu sekarang kita ke toko laptop," ucap Shinichi.

"Baiklah, kalian bisa pergi ke sana berdua saja kan? Aku sudah minta Yusaku untuk menjemputku karena kami akan kembali ke Amerika nanti malam," ucap Yukiko.

"Apa?" seru Shiho.

"Huh? Ada apa Shiho-chan?" tanya Yukiko dengan bingung namun Shiho menyadari sesuatu saat dia menatap mata Yukiko.

"Tidak ada apa-apa," jawab Shiho.

"Begitu? Baiklah, aku akan membawa semua belanjaan ini pulang supaya tidak mengganggu kalian," ucap Yukiko sambil mengambil semua tas belanja dari Shinichi. "Selamat bersenang-senang," lanjutnya dengan riang kemudian dia melangkah pergi.

Setelah Yukiko pergi, Shiho merasakan Shinichi melingkar di bahunya sehingga dia menatap Shinichi dengan kesal.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Shiho.

"Kenapa? Ibuku kan sudah pergi," jawab Shinichi.

"Tapi ini kan di depan umum, kau masih ingat kan pada peraturan yang kubuat?" tanya Shiho.

"Ingat. Tapi aku tidak tahan," jawab Shinichi sambil nyengir sehingga Shiho menatapnya dengan tatapan membunuhnya. "Jangan melihatku seperti itu dan jangan terlalu paranoid. Semua orang tahu kita adalah teman baik," ucapnya sambil berusaha menghalau rasa merinding yang dirasakannya.

Shiho akhirnya berhenti menatap Shinichi dan menghela nafas.

"Ayo kita pergi," ucap Shinichi kemudian mereka berdua mulai melangkah menuju toko laptop. "Kau tahu, sebenarnya aku sudah ingin melakukan ini sejak tadi," ucapnya saat mereka berjalan bersama.

"Jadi kau juga menyadari kalau ibumu sama sekali tidak percaya pada kebohongan kita bahwa kau sudah kembali normal?" tanya Shiho.

"Maksudmu kebohongan kita kalau aku sudah kembali menjadi tidak normal lagi kan?" Shinichi balik bertanya sambil menyeringai.

"Terserah," ucap Shiho sehingga Shinichi tertawa.

"Tapi itu benar. Aku tidak pernah merasa senormal ini sebelumnya," ucap Shinichi.

"Kau sungguh melelahkan, Kudo-kun," ucap Shiho.

"Kau juga. Oh, dan mulai sekarang kau harus memanggilku Shinichi," ucap Shinichi.

"Dan kenapa aku harus melakukannya?" tanya Shiho.

"Karena aku ingin kau melakukannya," jawab Shinichi.

"Aku tidak mau," ucap Shiho.

"Hei, kenapa begitu? Kau memberiku peraturan dan aku tidak boleh memberimu peraturan," ucap Shinichi.

"Kau kan sudah mendapat pelukan sebagai gantinya. Lagipula kau juga melanggar peraturan yang kubuat. Jadi aku tidak punya alasan untuk setuju pada peraturanmu," ucap Shiho.

"Baiklah, kali ini aku akan mundur. Tapi suatu saat nanti aku pasti bisa membuatmu memanggilku Shinichi," ucap Shinichi.

"Benarkah? Aku jadi tidak sabar menunggu saat itu," ucap Shiho dengan nada mengejek sehingga Shinichi menatapnya dengan kesal.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di toko laptop.

XXX

"Jadi kenapa kau membeli laptop itu? Memang apa bagusnya?" tanya Shiho saat mereka sudah duduk di salah satu meja yang ada di foodcourt sambil menikmati makanan mereka.

"Aku kan bukan pelayan toko laptop jadi aku tidak bisa menjelaskannya padamu," jawab Shinichi dengan kesal sehingga Shiho tersenyum.

"Kau masih marah?" tanya Shiho.

Shinichi tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya dari Shiho.

"Tapi kau memang terlalu banyak bicara. Kalau aku membiarkanmu, kau benar-benar akan merebut pekerjaan pelayan toko laptop itu," ucap Shiho.

"Tapi aku hanya ingin membuatmu terkesan," ucap Shinichi tanpa menatap Shiho.

"Kudo-kun, kau tidak perlu melakukannya. Bahkan sebelum kita berkenalan pun, aku sudah tahu kalau kau detektif hebat," ucap Shiho.

"Eh?" ucap Shinichi sambil menatap Shiho dengan terpana.

"Kau tahu kan? Fotomu sering muncul di surat kabar dengan julukan meitantei dari timur sebelum tubuhmu mengecil," ucap Shiho.

"Oi! Oi!" ucap Shinichi dengan kesal sementara Shiho tertawa kecil.

"Lalu apa yang harus kita lakukan tentang orang tuamu?" tanya Shiho.

"Kalau mereka tidak mengatakan apapun, kita juga tidak perlu mengatakan apapun," jawab Shinichi.

"Ya, kau benar," ucap Shiho.

"Nanti aku akan menjelaskan pada Bibi Yukiko kalau aku melakukan ini agar Kudo-kun tidak memutuskan Ran-san sementara aku membuat penawarnya," pikir Shiho.

"Nanti aku akan menjelaskan pada Ibu kalau aku melakukan ini agar Shiho menerima cintaku dan aku akan segera putus dengan Ran setelah Shiho menerimaku sepenuhnya," pikir Shinichi.

"Lebih baik kita pulang sekarang. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," ucap Shiho setelah makanan mereka habis.

"Kau harus berhenti menjadi workaholic. Santailah sedikit," ucap Shinichi.

"Yah, sebenarnya aku sangat ingin bersantai," ucap Shiho sehingga wajah Shinichi menjadi cerah. "Tapi setelah seseorang menghancurkan laptopku, aku jadi tidak punya pilihan lain," lanjutnya sehingga wajah Shinichi berubah menjadi kesal.

"Baik, baik. Kita pulang sekarang," ucap Shinichi dengan bibir manyun.

XXX

"Hei, menurutmu apa yang akan terjadi?" tanya Yukiko saat dia dan suaminya berada dalam pesawat yang menuju Amerika malam harinya.

"Itu tergantung dari kemampuan mereka masing-masing. Siapa yang lebih cepat mencapai misinya, Shinichi yang ingin membuat Shiho menerimanya sebagai kekasih atau Shiho yang akan membuat penawar secepatnya," jawab Yusaku.

"Tapi aku selalu yakin kalau Shiho-chan memang menyukai Shin-chan jadi aku rasa ini akan mudah bagi Shin-chan," ucap Yukiko.

"Menurutmu begitu? Kalau menurutku ini tidak akan mudah bagi Shinichi. Mungkin kau bisa yakin kalau Shiho menyukai Shinichi tiga tahun lalu, tapi kalau sekarang aku pikir kau tidak bisa seyakin itu," ucap Yusaku.

"Lihat siapa yang bicara? Justru kau yang seharusnya tidak yakin dengan pendapatmu. Kau kan tidak pernah memahami perasaanku jadi mana mungkin kau bisa memahami perasaan Shiho-chan," ucap Yukiko dengan nada menggerutu sehingga Yusaku tersenyum.

"Kalau begitu lebih baik kita tidak melihatnya dari sisi perasaan tapi dari fakta yang sudah terjadi. Meskipun tiga tahun lalu Shiho menyukai Shinichi, dia tidak pernah berniat memiliki Shinichi karena dia menganggap bahwa Shinichi dan Ran adalah pasangan yang sudah ditakdirkan untuk bersama. Jadi kalau sekarang Shinichi menyatakan cinta padanya dalam pengaruh obat, apakah menurutmu dia akan berubah pikiran?" ucap Yusaku.

"Aku rasa tidak," ucap Yukiko dengan muram.

"Tepat sekali. Sementara Shiho sudah pasti akan bisa membuat penawarnya cepat atau lambat. Bahkan kupikir dia pasti bisa menyelesaikan penawarnya dengan sangat cepat," ucap Yusaku.

"Haah, padahal aku saja bisa melihat bahwa Shin-chan mencintai Shiho tapi Shin-chan sendiri tidak sadar. Wajah Shin-chan selalu terlihat cool ketika dia bersama Ran-chan sementara wajahnya begitu penuh ekspresi kalau sedang bersama Shiho-chan. Dia terlihat sangat hidup. Sayang sekali kalau dia melewatkan wanita dalam hidupnya hanya gara-gara dia tidak menyadari perasaannya sendiri," ucap Yukiko.

"Yah, setidaknya kita bisa berharap satu hal dari kejadian ini," ucap Yusaku.

"Apa?" tanya Yukiko.

"Mungkin saja setelah kekacauan ini selesai, dia akan menyadari perasaannya yang sebenarnya," jawab Yusaku.

"Ya, aku harap juga begitu," ucap Yukiko.

XXX

Malam itu, Shinichi berbaring di tempat tidurnya sambil merenung. Sudah beberapa hari ini, dia jarang bertemu atau sekedar melihat Shiho sejak mereka membeli laptop bersama. Shinichi mendengar dari Profesor Agasa kalau Shiho sibuk di laboratorium kampusnya sehingga Shiho setiap hari berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam. Setiap Shinichi menelepon atau meng-SMS Shiho untuk mengajaknya bertemu, Shiho selalu menolak dengan alasan sibuk. Shinichi juga tidak bisa mengantar atau menjemput Shiho karena Shiho membawa mobil sendiri. Lagipula dia juga harus mengantar jemput Ran jika Ran membutuhkannya.

"Aah, dia benar-benar membuatku stres," seru Shinichi. "Padahal sebelumnya dia tidak pernah sesibuk ini. Apa jangan-jangan dia sengaja menghindariku?" gumamnya.

Kemudian Shinichi melihat jam di dinding yang menunjuk angka tujuh. Dia terdiam sejenak untuk berpikir lalu bangkit dari tempat tidur, menyambar jaket dan tasnya lalu bergegas ke garasi. Dia mengendarai mobilnya keliling kota dengan harapan perasaannya akan menjadi lebih baik. Namun setelah satu jam berkendara, tidak ada perubahan yang terjadi sehingga dia langsung mengarahkan mobilnya ke apartemen Heiji yang ada di dekat Universitas Tokyo. Dia, Heiji dan Sera kuliah di jurusan yang sama di Universitas Tokyo yaitu jurusan psikologi kriminal. Heiji dan Sera tinggal di bangunan apartemen yang sama dan apartemen mereka saling berhadapan. Eisuke juga tinggal di bangunan apartemen itu tapi di lantai yang berbeda. Eisuke sendiri masuk jurusan manajemen di Universitas Tokyo, sama seperti Ran dan Sonoko. Sementara itu, Shiho masuk jurusan kedokteran dan Makoto masuk jurusan teknik mesin, juga di Universitas Tokyo dan Kazuha kuliah di Osaka karena ayahnya tidak mengijinkannya kuliah di luar kota.

Shinichi memarkir mobilnya di tempat parkir apartemen lalu melangkah ke lift. Beberapa menit kemudian, dia sudah sampai di depan pintu apartemen Heiji lalu mengetuk pintu. Saat ini, dia benar-benar membutuhkan seseorang untuk mencurahkan perasaannya sehingga dia tidak peduli walaupun dia harus melanggar peraturan yang dibuat Shiho yaitu tidak memberitahu hubungan mereka pada siapapun.

Tak lama kemudian, Heiji muncul dari balik pintu dan agak terkejut melihat Shinichi.

"Kudo, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Heiji, tapi sebelum Shinichi sempat menjawab, Heiji membuka mulutnya lagi. "Sudahlah, ayo masuk, kita bicara di dalam," ucap Heiji kemudian dia berbalik dan melangkah kembali ke dalam apartemennya. Shinichi mengikutinya setelah menutup pintu di belakangnya.

Mata Shinichi langsung terbelalak begitu dia sampai di ruang tengah apartemen Heiji karena dia melihat Shiho duduk di situ dengan laptop di depannya.

"Siapa tamunya, Hattori-kun?" tanya Shiho tanpa mengalihkan wajahnya dari laptop.

Belum sempat Heiji menjawab, Shinichi sudah membuka mulutnya duluan.

"Oh, jadi begitu? Kau selalu bilang kau sibuk kalau aku ingin bertemu denganmu tapi kau punya waktu untuk berduaan dengan Hattori. Kau benar-benar keterlaluan," seru Shinichi dengan marah sehingga Shiho menoleh kepadanya dengan wajah terkejut.

"Kudo-kun, apa yang...," ucapan Shiho langsung dipotong oleh Shinichi.

"Padahal kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, tapi kau memperlakukanku seperti ini. Asal kau tahu saja, dia tidak akan bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu. Selamat malam," seru Shinichi kemudian dia bergegas pergi dari situ.

Heiji hanya berdiri di tempat sambil memandang Shinichi dengan bingung sampai Shinichi hilang dari pandangannya lalu dia mengalihkan pandangannya ke Shiho.

"Err... ada apa ini, Miyano?" tanya Heiji.

Bersambung...