Terinspirasi setelah baca komik jadul mengenai pahlawan. Cerita gaje yang langsung ditulis ketika mendapat ilham. Aya Harukawa`s fic.

Disclaimer:

Om Masashi Kishimoto *sok akrab*

Genre:

Humor/Friendship

Rated:

T

Warning : Gaje, OOC sangat sepertinya, typo, dan kesalahan yang luput dari editan Aya.

.

Keterangan:

Deidara, Suigetsu, Kabuto, dan lainnya 15 tahun.

Kiba & Shino 18 tahun.


Akatsuki The Hero!


.

"Sial. Semakin lama kejahatan semakin meningkat!" kata Tsunade frustasi saat melihat daftar panjang keluhan dari masyarakat.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Shizune was-was.

"Cepat temukan temukan pahlawan yang dapat membrantas mereka semua!" kata Tsunade.

"Baik!" jawab Shizune dan langsung keluar kantor Hokage untuk membahas tentang hal ini dengan yang lainnya.

Yang terbayang di kepala Tsunade adalah sekumpulan tentara yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Yang terbayang di kepala Shizune adalah sekumpulan anak-anak hebat. Dia terlalu banyak menonton film sepertinya.

Well, sepertinya dalam memberi perintah kita harus lebih detail.

.

Chapter 1 : Recruit for Deidara

.

"Ayo terus Deidara! Ayo!" orang-orang pada rame menyoraki Deidara yang sedang ikut lomba.

"Ribut banget sih? Gak tau apa, kalau lomba begini butuh ketenangan?" gerutu Kabuto sebal.

Habisnya, orang-orang itu sepertinya butuh otak tambahan atau malah ketika pembagian otak mereka tidak datang? Makanya jadi bego kayak gitu. Masa lomba membentuk tanah liat kayak gini malah menyorak sih? Bikin konsentrasi pecah aja.

"Ayo, Kabuto~chan!" teriak seorang ibu-ibu yang dandanannya terlalu tebal.

Kabuto menoleh dengan senyum yang dipaksakan. Bibir kanannya naik 3 cm dan mata kirinya memicing. Sebenarnya Kabuto mau bikin pose muka keren. Apa daya mukanya gak mendukung langit pun mendung. Bisa bayangin gak? Kalo gak bisa jangan dipaksain. Haha..

"Itu enyak kamu, un?" tanya Deidara yang posisinya berada di sebelah Kabuto.

"Bukan!"

Deidara menoleh kaget, "Masa sih?"

"Itu bukan enyakku. Tapi bapakku!"

"Hiiiee!" Deidara teriak lebay yang langsung dihadiahi upil dari Kabuto.

"Awas lo kalau berani ngejek bapakku!" ancam Kabuto.

Deidara cengo. Dia langsung ngeliatin muka bapaknya Kabuto alias Orochimaru yang udah ganti nama dengan Orochiwati Nan Cantik Seperti Bunga Mawar di Pagi Hari.

Deidara lmelirik secara bergantian Kabuto dengan bapaknya. Kabuto. Bapaknya. Kabuto. Bapaknya. Kabuto. Bapaknya. Kabuto? Deidara langsung merasa perutnya mules.

Duh, gara-gara liat bapaknya Kabuto perut gue mules, un! Memangnya bapak Kabuto pakai apaan sih dimukanya, sampe bikin perut gue mules, un? tanya Deidara dalam hati dengan bahasa gue-elonya.

Dengan semangat `45 Deidara tetap membentuk tanah liat miliknya. Rata-rata peserta lain membuat guci. Itu yang paling sering orang buat kalau dari tanah liat kan? Deidara tersenyum penuh kemenangan. Karena dia sekarang sedang membuat tanah liat berbentuk dirinya yang sedang menaiki burung raksasa.

Pruuueett

Sebuah suara halus nan menjijikkan terdengar. Sontak semua peserta menoleh kepada Deidara. Cowok berumur 15 tahun itu nyengir-nyengir gaje ketika orang disekelilingnya menutup hidung mereka. Ternyata dia baru saja mengeluarkan gas beracun miliknya yang super bau.

Waduh, perut gue makin mules nih, un! teriak Deidara dalam hati.

"Jorok amat sih lo," ujar Suigetsu yang duduk di depannya dengan guci tanah liat yang bisa dibilang lebih mirip toilet duduk.

Waduh, kenapa si Suigetsu malah ngebentuk toilet sih, un! Makin mules, un! erang Deidara dalam hati.

Suigetsu bengong saat mendapati Deidara sedang melototi guci yang sebenarnya mirip toilet miliknya dengan muka horor.

"Dei, lo kenapa sih?" tanya Suigetsu.

Suigetsu ini anak gahol alias anak gaul, jadi gaya bicaranya gue-elo. Sekedar info tambahan yang tidak penting.

"A-ano, un! Kamar mandi!"

Deidara lari terbirit-birit ke kamar mandi. Karena lari dengan terburu-buru, ia pun tidak melihat orang yang berada di depannya hingga cowok berambut pirang itupun menabraknya dengan keras.

"Aduh, un!" Deidara jatuh terduduk dengan tangan yang memegang perut dan wajah yang semakin memutih. Padahal sebentar lagi dia akan masuk ke dalam toilet.

"Oh, maafkan saya," kata laki-laki berkacamata hitam yang ditabrak Dei.

"Harusnya saya yang meminta maaf, un!" kata Deidara dengan sedikit sesal dan berharap orang itu cepat-cepat menyingkir. Isi perutnya berteriak minta dikeluarkan. Sementara para toilet dihadapannya sedang memanggil-manggil dirinya.

"Permisi, un!" kata Deidara cepat. Perutnya terasa sangat mulas.

"Oh, tunggu sebentar," kata laki-laki berkacamata hitam itu sambil menarik lengan Deidara, "Saya ini bukanlah orang jahat atau orang yang mencurigakan. Nama saya Shino."

Deidara dan kali-laki yang dipanggil Shino itu saling bertatapan.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Dekat sekali.

Hingga Deidara dapat merasakan napas Shino di wajahnya. Ah, tapi sayangnya ini bukan cerita percintaan. Sayang sekali. Jadi bukan kalimat romantis yang akan terjadi berikutnya.

"Apa yang kalian lakukan saat bulan puasa seperti ini? Dasar Shino mesum!" teriak seorang lelaki bertato segitiga di pipinya yang baru saja keluar toilet.

"Aku tidak mesum, un!" teriak Deidara.

"Yang kubilang Shino. Bukan kau! Apa kau bernama Shino juga?"

"Bukan, un!"

Kiba menoleh pada Shino yang -walaupun tadi ketahuan akan berbuat mesum- masih memasang wajah datar.

"Kau ini, jangan berbuat mesum sembarangan!" teriak Kiba.

"Aku tidak melakukannya," balas Shino datar.

"Hei, orang bodoh pun tahu kalau yang tadi kalian lakukan adalah hal yang tak patut dilakukan! Apalagi ketika bulan puasa seperti ini!"

"Berburuk sangka juga termasuk tindakan tidak terpuji. Kau tahu? Apalagi kalau dilakukan di bulan puasa seperti ini," kata Shino sambil mengembalikan kata-kata Kiba.

JLEB! Rasanya sebuah panah kecil menancap di kepala Kiba. Hingga ia hanya bisa mematung saja.

"Bolehkan aku pergi, un?" tanya Deidara yang semakin mulas. Apalagi melihat perdebatan tidak keren dari dua orang dihadapannya.

"Oh, tidak bisa," kata Shino mendadak berubah jadi Sule.

"Tapi ini sangat mendesak, un!"

"Sebentar saja. Kami ingin memberitahumu sesuatu. Kami ini bukanlah orang jahat ataupun orang yang mencurigakan," kata Shino sambil berbisik ke telinga Deidara.

"Tapi, wajahmu itu mencurigakan, un!" kata Deidara setelah mengamati wajah Shino dari jarak yang amat sangat dekat. Jarak anatara wajah mereka hanya tinggal 1 cm saja.

Kiba menatap Shino dan Deidara yang seperti sedang melakukan hal mesum. Namun dia diam saja, karena tidak mau dianggap berburuk sangka. Dia kan tidak mau menambah dosa. Apalagi ini bulan puasa.

"KYAA! Ada yang homo!" teriak seorang berambut pink yang baru saja lewat di depan mereka. Gadis itu segera berlari dengan wajah ketakutan.

Kiba melotot. Shino dan Deidara membeku ditempat. Untungnya tempat itu lumayan sepi.

"Sudah kubilang, bukan?" tanya Kiba dengan raut wajah kemenangan.

"Tolong minggir, un!" teriak Deidara. Ia butuh toilet.

"Tunggu dulu. Kami ini," kata-kata Shino terpotong oleh teriakan keras dari Deidara yang seperti ingin menangis.

"Iya aku tahu, un! Kalian bukan orang jahat atau mencurigakan! Cepat katakan ada apa?"

"Bukan. Kami adalah bawahan hokage yang disuruh untuk mengumpulkan pahlawan," kata Shino.

"Cepat, un!"

Kiba memukul kepala rekannya dengan keras karena terlalu banyak mengulur waktu. "Begini, Pirang. Apa kau mau menjadi penyelamat dunia?"

"Penyelamat dunia? Kau mau membuat ajaran sesat, un?"

"Bukaaaaan. Bukan seperti itu. Ini lebih seperti pahlawan. Apa kau mau jadi pahlawan? Orang yang dielu-elukan oleh seluruh dunia. Apa kau mau?" tanya Kiba.

Dikepala Deidara langsung tergambar sebuah wajah. Justin Bieber. Orang yang dielu-elukan oleh seluruh dunia. Terutama para wanita. Seakan lupa dengan mulesnya, Deidara memasang tampang berbinar. Ia memegang tangan Kiba dengan semangat seakan setuju dengan perkataan Kiba. Padahal Kiba belum mengatakan maksudnya.

"KYAAA! Homo!" teriak gadis berambut pink yang tadi memergoki Shino dan Deidara. Entah kenapa gadis itu mondar-mandir di depan toilet.

Refleks, Kiba dan Deidara langsung melepas pegangan tangan mereka. Bulu kuduk mereka merinding.

"Aku normal tahu!"

"Aku normal, un!" teriak mereka bersamaan. Namun, gadis tadi ternyata sudah menghilang. Teriakan mereka menjadi sia-sia.

"Begini, siapa namamu?" tanya Shino yang bingung memanggil Deidara.

"Deidara, un!"

"Ya, Deidara. Jika kau tertarik. Datanglah ke alamat ini pada Minggu depan. Kami akan mengadakan audisi untuk menentukan siapa yang benar-benar berminat dan sanggup untuk menjadi pahlawan," ujar Shino tanpa memperhatikan raut wajah Deidara yang sudah mulai berubah.

Hidung Kiba bergerak-gerak. Sepertinya ada sesuatu yang mengusik hidungnya.

"Hei, Shino. Kau mencium sesuatu yang busuk tidak?"

Shino mengangguk horor, sepertinya dia sudah mengetahui bau apa itu.

"A-ano, un," kata Deidara dengan wajah pucat pasi persis seperti habis melihat hantu.

Mereka berdua menoleh ke arah Deidara. Sedetik kemudian wajah mereka ikut-ikutan pucat pasi.

"Se-sepertinya isi pe-perutku sudah," Deidara tak sanggup melanjutkan.

Karena tanpa perlu Deidara jelaskan dua orang dihadapannya sudah mengerti. Dia terlalu terpesona dengan kata-kata pahlawan tadi dan tidak menyadari bahwa sebagian isi perutnya sudah keluar dengan paksa hingga membuatnya malu setengah mati.

Mereka bertiga terdiam di tempat. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Sial, un! Aku BAB di celana, un!

Tanpa perlu dijelaskan pun kita semua tahu siapa yang sedang berteriak di dalam hatinya.

To be continue

Owari

"Hei, Sakura. Kau ini dari tadi pucat sekali. Ada apa?" tanya Sasuke saat melihat Sakura kembali dari toilet.

"Ti-tidak apa-apa," ujar Sakura masih dengan wajah pucatnya.

"Hn. Ya, sudah," ujar Sasuke pendek.

"Sasuke," panggil Sakura hingga membuat pacarnya itu menoleh.

"Apa? Perutmu masih sakit? Lain kali jangan makan makanan yang aneh-aneh lagi."

Sakura menggeleng, "Bukan itu."

"Hn… Jadi apa? Kau masih ingin lihat lomba membentuk tanah liat itu? Lupakan saja. Sepertinya sudah selesai. Juara satunya berhasil membuat orang yang sedang berdiri diatas burung raksasa. Tetapi anehnya dia malah menghilang sampai akhir lomba," kata Sasuke yang tumben mau ngomong panjang lebar.

Sakura menggeleng lagi. Sasuke mengerutkan keningnya.

"Sasuke tadi ketika mau ke toilet dan keluar toilet aku melihat maho*," ujar Sakura pelan yang masih kaget mendapati pemandangan tidak biasa.

"Apa? Macho?" tanya Sasuke yang kumat budeknya. Mungkin sudah 3 tahun tidak sempat korek kuping.

Keheningan terjadi diantara sepasang kekasih itu.


A/N : Akhirnya chapter 1 selesai juga. Fyuh. Mohon reviewnya ya.. :D