YOHOHOHO! Saya telah kembali dengan sebuah translated fic setelah bertapa di bawah air terjun ide! (ngarep banget ada)

Kali ini fic saya dibikin dengan bantuan the-pyro-princess13, yaitu minta ijin men-translate fic-nya yang berjudul Straw hat question corner, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda.

Supaya ga kelamaan, kita mulai aja, oke? (kita?)

ASK THE STRAWHATS

A One Piece fanfic made by NekoLover-nyan

Disclaimer : Eiichiro Oda selamanya yang punya One Piece.

Genre : Humor, Parody

Caution : Ga jelas, typo, dan lain lain.

Rating : T (bisa naik tergantung pertanyaan)

Siang itu, di perairan Grand Line yang tenang, di sebuah kapal bajak laut bernama Thousand Sunny... Para kru bajak laut Mugiwara sedang mengadakan rapat yang sangat penting.

Suasana rapat tersebut sangatlah serius, hingga sang kapten Luffy pun tak berani berbicara untuk memecah keheningan yang telah terjadi selama beberapa menit tersebut. Yang bertampang santai disini hanyalah Robin (yang mengerti permasalahannya) dan Zoro (yang tidak peduli apapun permasalahannya).

Keheningan terus berlanjut sampai Nami membuka mulut.

"Kondisi keuangan kita sangat tipis. Kalian tahu sebabnya?" Nami beranjak, dan berjalan menuju Luffy yang bermandikan keringat dingin. Nami mencubit pipi sang pria karet tersebut hingga melar. Luffy yang sebegitu takutnya pada Nami pun sampai tidak bisa berteriak kesakitan.

"Luffy. Dialah sebabnya. Kapten kita yang seperti kalian ketahui sangatlah rakus ini penyebab habisnya uang kita. Untuk membayar makanannya yang sekali makan bisa mencapai 8 porsi lebih, bisa mencapai 100.000 beri per minggunya. Dan kali ini, KALIAN harus bertanggung jawab." jelas Nami panjang, dengan tetap memasang aura setannya. Luffy menelan ludah, dan ia benar-benar bersih karena mandi keringat. Suasana di rapat itu bukan lagi serius, tetapi sudah mencapai tahap 'mencekam'.

Nami melepas cubitannya pada Luffy, membuat Luffy terjengkang ke belakang, berhelinding lalu menabrak barel yang sudah kosong. "l-l-lalu... Apa yang harus kami lakukan, Nami...?" tanya Luffy, dengan wajah dan tubuh terbalik diatas salah satu barel. Yang lain menatap Nami juga.

"hal itu sudah kusiapkan, jadi tak usah khawatir." walaupun ia berkata begitu, tetap saja tidak mengusir rasa khawatir di hati para kru. Nami segera mengeluarkan sebuah koran Grand Line, tanggalnya yang tertulis menandakan koran itu berasal dari kemarin sore. Nami mencari halaman yang telah ditandainya, dan meratakannya di hadapan seluruh kru, sehingga mereka dapat melihat artikel yang dimaksud oleh Nami dengan jelas.

Artikel itu bertuliskan, 'DICARI PENGISI KOLOM WAWANCARA KOTA GRAND LINE! SATU PERTANYAAN BERNILAI 5 BERI! YANG BERMINAT SILAHKAN HUBUNGI : 02XXXXXX.'

Para kru memandangi artikel tersebut dengan menyipitkan mata. Mereka mencerna paragraf yang tertulis, lalu memandang Nami dengan wajah bingung.

"ini ide bagus bukan? Mudah sekali menghasilkan uang, hanya dengan menjawab pertanyaan! Walaupun agak lama... Tetapi pasti kalau banyak pertanyaan, uangku- maksudku, uang kru kita pasti akan melimpah!" kata Nami bersemangat. Yang lain hanya menghela napas, beberapa hanya menganggukkan kepala dengan pasrah.

"kalau begitu, cepatlah telepon, Navigator-san. Sebelum ada peminat lain." saran Robin, yang tampaknya tertarik untuk mengikuti pembicaraan.

Nami mengangguk antusias, dan segera mengambil den-den mushi kapal. Ia segera memasukkan nomor telepon yang tercantum, dan selang beberapa detik, orang di seberang pun menjawab.

"dengan bagian editorial koran Grand Line, ada yang bisa saya banting- maksud saya, bantu?" kata orang tersebut.

"ehm... Ya, kami ingin mendaftar untuk mengisi kolom wawancara koran Grand Line." kata Nami, sedikit sweatdrop dengan kesalahan pengucapan orang tersebut.

"baiklah, silahkan sebutkan nama para narasumber. Ah, sebelum itu, nama saya Joko." pinta orang tersebut, yang telah diketahui bernama Joko (apaan? Namanya ga elit!).

"baik... Monkey D. Luffy, Roronoa Zoro, Nami, Usopp, Sanji, Tony Tony Chopper, Nico Robin, Franky, dan Brook." kata Nami, mengucapkan satu-persatu nama kru Mugiwara.

"ya... Baik, tunggu seben- KALIAN KRU BAJAK LAUT MUGIWARA?" teriak Joko shock, tetapi terdengar sangat senang. Nami sedikit kaget dengan reaksinya, tetapi berhasil menjawab dengan tenang. "ya, kami kru Mugiwara."

Suara Joko berikutnya tampak sangat gelagapan. "a-u-suatu kehormatan dapat menerima narasumber seperti kalian! Kami akan dengan senang hati memasukkan wawancara kalian dalam koran kami!"

"hm, sama-sama. Mohon bantuannya, Joko-san. Dan saya mengharapkan kerjasama dari anda untuk tidak membocorkan informasi apaun tentang kami pada angkatan laut, oke?" kata Nami lumayan (baca : amat sangat) mengancam.

Joko, yang berada di seberang telepon, menyadari bahwa pembicaraan ini sudah menjurus ke arah yang berbahaya. "ten-tentu saja nona... Jaminannya adalah nyawa saya, kalau sampai kami membocorkan informasi tentang kalian pada angkatan laut..." jawa Joko gugup, sadar bahwa ia mempertaruhkan lehernya sendiri pada kelompok bajak laut yang terkenal kejam itu.

Pembicaraan pun selesai. Nami mengembalikan den-den mushi ke tempatnya semula. Ia berbalik badan, menghadap teman-temannya, dan tersenyum cerah.

"dengan ini, kita seharusnya dapat memproduksi banyak beri."

- tsudzuku -

Myaaahahahaha~~.. Yaah, kira-kira begitulah prolognya. Seperti yang telah dibaca, para kru Mugiwara sedang mepet di dompet.

Mereka sedang kena kanker, sodara-sodara! KANTONG KERING! *apaan sih, garing ih*

Mereka membutuhkan banyak duit, yang berarti mereka membutuhkan banyak pertanyaan!

Oleh karena itu, kalau tidak mau dicekek Nami- ah, maaf... Kelepasan.

Oleh karena itu, kalau tidak mau kru Mugiwara gelar tikar jadi bajak laut, silahkan berikan para kru pertanyaan lewat tombol REVIEW dibawah ini!

Ingat! KRU MUGIWARA BISA DAPET DUIT KALO READERS PENCET TOBOL DIBAWAH INI! *maksa*