At Least, It's Cube

Ueki no Housoku / The Law of Ueki ©Fukuchi Tsubasa

'At Least, It's Cube' fic ©Signy Siv Stivlana, 2011

Dibuat untuk [FFC] I Must Write Fics di Infantrum oleh Dani-nii. Tanpanya mungkin fic ini nggak bakal kepublish u_u

/*//*//*//*/

"Tugas seni rupa itu… terkadang menyebalkan," gadis berambut sewarna cyanobacteria itu menggerutu untuk yang kesekian kalinya, "Bukan terkadang, deh. Selalu." Ia bergumam sendiri, meralat ucapannya sendiri. Matanya tertutup, dagu bertopang pada sebuah kanvas yang berdiri tegak di pangkuannya—dan masih belum tercoret apapun. Hela nafas berat terdengar.

"Hmm? Kenapa? Menggambar itu menyenangkan, lho," respon pemuda di hadapannya. Tangan kanan memegang kuas, meliuk di atas permukaan kanvas di pangkuannya. Berbanding terbalik dengan si gadis. Visualnya terfokus pada kanvas di hadapannya.

Kelopak mata anak hawa terbuka, menatap pemuda itu, "Menyenangkan, kalau saja Seika-sensei tidak menyuruh kita melukis dengan gaya Picasso! Aku saja tidak tahu lukisannya seperti apa sampai membuatnya terkenal seperti itu. Paling-paling lukisan abstrak, 'kan?" terdengar keluhan yang terlontar untuk yang kesekian kalinya.

Hal ini sukses membuat Kousuke, pemuda itu, berpaling dari kanvasnya, "Lhoo? Kau pasti tidak baca buku kesenian, ya? Picasso itu 'kan pelukis yang menganut aliran kubisme."

Kali ini, sepertinya otak sang tokoh utama sedang waras.

"Meskipun kau bilang begitu, memangnya kau mengerti aliran kubisme itu gambarnya seperti apa?" tanya Ai, nama gadis itu, dengan nada merendahkan.

"Tentu saja aku mengerti. Buktinya, aku sedang mengerjakannya," jawab Kousuke yakin.

"Coba kulihat…" Ai mulai tertarik.

"Sebentar—ini goresan terakhir—yosh!" Sebuah senyum sumringah (senyum orang bodoh, menurut Ai). Ai pun mendekati pemuda berambut hijau nyentrik itu—

—Dan beberapa kerutan di dahi sang gadis pun muncul begitu ia melihat apa yang digambar sahabatnya.

"Eng… Anu, Ueki... Itu gambar apaan?"

"Ini apa?" Kousuke memperhatikan gambar yang dibuatnya sendiri. Setelah merasa tidak ada yang aneh dengan hasil karyanya, ia pun menjawab, "Ini dunia langit yang kugambar dengan gaya kubsime!"

"Ha—haah?" Ai kebingungan dengan jawaban yang terlontar.

"Dunia langit, lho. Dunia langiiit!"

Gambarnya sederhana, memang. Selain latar belakang biru muda pucat yang mencerminkan warna langit, hanya terdapat tiga buah 'awan kubistik' berwarna putih yang meramaikan kanvas sang pemuda polos.

Selebihnya, tidak ada apapun. Ya, hanya itu yang tertangkap oleh visual seorang Ai Mori.

"Auw!" Sebuah tinju 'pelan' melayang ke pelipis si bocah rambut hijau lumut, "Apaan sih? Aku 'kan sudah memperlihatkan hasil karyaku padamu—kenapa tiba-tiba marah?"

"HAH. Kalau tahu begini, seharusnya tadi kugambar saja kacamataku!"