.

Title: The Rhapsody

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto,

La Corda D'oro belongs to Kure Yuki

Pair: SasukeXHinata

Warning: AU, OOC, crack pair, miss type, dll

Ini memang terinspirasi dari La Corda D'oro, tapi saya buat berbeda kok… ^^

.

.

Happy reading ^^

.

Opus 1:

Little Violinist

.

'Music is the soul of language'

-Max Heindel-

.

.

Musik karangan Mozart yang diberi nama Violin Concerto in D Major terdengar sangat merdu dari salah satu gedung pertunjukan teater terkenal di Tokyo. Alunan merdu dan indah itu berasal dari gesekan dawai biola yang dimainkan oleh seorang anak laki-laki rupawan ber-tuxedo hitam. Anak laki-laki tersebut memiliki kulit terang, rambut hitam serta manik gelap. Anak yang terlihat tampan.

Para penonton yang didominasi orang dewasa itu terlihat menitikkan air mata, terhanyut oleh nada-nada sedih yang mengalun begitu indah dari dawai-dawai instrumen musik gesek tersebut. Anak laki-laki berambut raven itu tampak begitu menghayati permainan biolanya.

Seluruh penonton yang hadir segera berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah segera setelah anak laki-laki itu menyelesaikan permainannya. Permainan yang sangat mengagumkan untuk anak berusia 7 tahun. Musik dengan nada-nada rumit berhasil dimainkan dengan memukau. Lalu, pemuda kecil tersebut membungkukkan badan dan berjalan ke belakang panggung.

Ia disambut oleh senyuman bangga dari kedua orangtua dan kakaknya.

"Luar biasa Sasuke!" kata sang ibu senang sambil memeluknya.

"Ibu aku malu," si anak telihat meronta, berusaha melepaskan pelukan ibunya. Namun sang ibu hanya terkikik geli.

"Aku tak menyangka adikku sehebat ini, eh," ujar sang kakak seraya mengacak-acak rambut anak bernama Sasuke tersebut dengan gemas.

"Kau membuat ayah bangga, Sasuke," seorang laki-laki dewasa yang terlihat tegas, berujar dengan tenang, disertai sebuah senyum tipis.

"Ayah, Ibu, Itachi… terima kasih."

Mendengar pujian dari keluarga yang disayanginya membuat anak itu tak bisa menanhan senyum. Apalagi dari ayahnya yang sangat jarang memuji. Mereka berempat kemudian segera kembali menuju tempat duduk VIP yang disediakan, sementara peserta lain bersiap tampil ke atas panggung.

.

.

The Rhapsody

.

.

"A-aku tak yakin bisa mengalahkan anak laki-laki yang baru saja tampil, Ibu. P-permainannya hebat sekali," ujar lirih seorang gadis cilik yang tampak gundah. Gadis kecil bermata lavender dan berambut biru gelap, yang terlihat sangat imut nan cantik.

"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Hinata! Permainan biola Hinata juga tak kalah hebat dari anak itu," sementara sang Ibu, yang secara fisik sangat mirip dengan si anak, berusaha menenangkan putrinya.

Anak perempuan bernama Hinata itu tetap menunduk, sembari memainkan jemarinya.

"Kau harus percaya diri, Hinata. Aku percaya kau bisa." Kalimat yang bermaksud menyemangati itu berasal dari seorang anak laki-laki yang lebih tua, yang tak lain adalah sang kakak. Ia mengusap pelan kepala Hinata, berharap adiknya mendapatkan kepercayaan diri lagi.

"Ibu, Ayah, Neji dan Hanabi percaya padamu, Hinata. Kau tidak mau mengecewakan kami, kan?" ujar sang ibu seraya mengecup kening putrinya lembut. Hinata kemudian menatap satu persatu keluarganya dengan mata besarnya. Ada ayahnya yang menatapnya dengan hangat, ibunya yang tersenyum manis, kakaknya yang tersenyum meyakinkan serta adiknya yang sedang berada di gendongan ibunya. Keluarganya yang menyayangi Hinata dan mendukungnya sepenuh hati.

"B-baiklah, Ibu. Aku akan mengalahkannya!" seru gadis kecil itu sembari mengangguk mantap. Tampaknya semangatnya telah kembali.

"Nah, sekarang naiklah ke atas panggung. Tunjukkan kehebatanmu, sayang!"

Hinata melangkahkan kaki kecilnya menaiki panggung. Tepuk tangan penonton mengiringi langkahnya. Ia membungkuk memberi salam, kemudian menganggat bow serta memosisikan biola kecilnya. Tak lama setelahnya, Hinata menggerakkan jari-jarinya dengan lembut pada alat musik kesukaannya itu. Alunan biola yang dimainkan gadis kecil berbalut gaun putih itu mampu menghipnotis seluruh penonton yang menghadiri kompetisi. Terlihat dari kini semua penonton terfokus pada penampilan si gadis cilik.

Bahkan anak laki-laki yang bermain sebelumnya pun terpukau dengan melodi yang membahana namun terdengar lembut di gedung teater itu.

.

.

The Rhapsody

.

.

Kompetisi musik telah memasuki puncak acara, yaitu pengumuman pemenang. Terlihat sudah ada satu orang yang telah menempati podium, yaitu sang juara ketiga yang baru saja diumumkan. Kompetisi ini adalah kompetisi biola umum, dengan batasan umur dari tujuh hingga duapuluh tahun. Sehingga, peserta kompetisi pun beragam. Mulai dari anak SD hingga sekolah tinggi.

Kini tiba saatnya membacakan juara pertama dan kedua. Seluruh penonton tampak tegang, begitu pula dengan para kontestan.

Hinata meremas-remas gaunnya, ia benar-benar gugup. Berharap bisa mendapatkan juara pertama sehingga ayahnya akan bangga padanya. Tapi, Hinata juga sadar bahwa permainan biolanya belumlah sempurna. Apalagi kalau dibandingkan dengan anak yang bermain sebelum dirinya.

Sementara Sasuke tampak tenang, namun jantungnya berdetak tak karuan. Ia juga berharap bisa mendapat juara pertama. Ia ingin membuat keluarganya bangga. Karena keluarga Uchiha, adalah keluarga para jenius dengan segala prestasinya.

Dua anak dengan harapan yang sama, namun hanya ada satu yang akan menjadi juara.

"Juara kedua dipegang oleh…"

Suara MC yang menggelegar tiba-tiba berhenti, membuat suasana semakin tegang. Hinata dan Sasuke sama-sama berdoa agar namanya tak disebut.

"Gadis kecil yang cantik, Hyuuga Hinata dengan permainan biola yang anggun mendapat juara kedua. Mari naik ke panggung, sayang." Sang MC langsung berjalan untuk menyambut Hinata. Dengan langkah malu-malu, Hinata naik ke panggung, menuju podium tempat juara kedua. Ada sedikit perasaan kecewa di hati gadis cilik tersebut, namun Hinata tetap bersyukur.

"Dan juara pertama…" kembali pembawa acara membuat jantung para kontestan berdebar-debar, " … jatuh pada anak laki-laki tampan dengan permainan yang menakjubkan, Uchiha Sasuke!"

Suara tepuk tangan meriah mengiringi langkah master kecil itu menaiki panggung. Dengan percaya diri, Sasuke naik ke atas podium. Dari sana, ia melirik ke arah keluarganya, yang menatapnya dengan puas. Perasaan hangat pun menyelimuti dada Sasuke.

Sesaat kemudian, para juri naik ke panggung untuk penyerahan piala. Satu-persatu vilonis cilik tersebut menerima piala dan hadiah masing-masing. Tepuk tangan terus saja terdengar, applause dari para penyuka musik klasik, dengan harapan calon violinis-violinis cilik itu akan menjadi violinis hebat di masa depan.

Acara kompetisi pun berakhir, ditutup dengan sesi foto, bagi penonton yang ingin berfoto dengan para kontestan maupun juara. Dan ketika acara benar-benar berakhir, Hinata terlihat berjalan pela menuju seseorang.

"A-ano… se-selamat ya, atas kemenanganmu. Kau hebat," ucap Hinata malu-mau. Ia ingin memberi selamat pada Sasuke. Ia kagum pada Sasuke, meskipun juga kecewa.

Sasuke menoleh, lalu mengangguk. Ada senyum tipis yang menghiasi wajahnya. "Hn… Kau yang mendapat juara kedua, kan?" tanya Sasuke.

"I-iya…"

"Selama ada aku, kau tak akan bisa menjadi juara pertama," kata Sasuke penuh percaya diri. Dididik dalam keluarga Uchiha, sedikit banyak memengaruhi tingkah laku Sasuke. Sasuke memang suka meniru perilaku ayah maupun kakeknya yang cenderung sombong.

"Huh?" Hinata kaget mendengar ucapan anak di depannya itu. Ia tidak mengerti ucapan Sasuke.

"Kau selalu akan jadi nomor dua," kata Sasuke lagi.

Hinata makin terbelalak. Ia tidak menyangka, akan mendapat jawaban yang membuat hati kecilnya kesal. "A-aku… aku bisa mengalahkanmu!" seru Hinata tidak mau kalah.

"Tidak… kau takkan bisa!" balas Sasuke sambil mengeluarkan seringainya. Dalam hati ia mengakui kalau permainan Hinata itu lumayan hebat. Tapi, tentu saja Sasuke tidak akan mengatakannya.

Hinata memberengut. "B-bisa! A-aku pasti bisa kalau berusaha."

Sasuke bersedekap, lagi-lagi meniru ayahnya. "Benarkah? Kalau begitu tunjukkan di kompetisi selanjutnya, Hyuuga!" tantang Sasuke. Padahal, sebenarnya itu adalah ungkapan kalau Sasuke ingin bertemu lagi dengan Hinata. Entah kenapa ia merasa menggoda Hinata itu menyenangkan.

Hinata sudah mau menjawab lagi, tapi tidak jadi. Kepalanya menunduk dan wajahnya berubah murung. "T-tapi… keluargaku akan pindah ke luar negeri."

Kini giliran Sasuke yang terbelalak. Dan muncul perasaan tidak menyenangkan di dadanya. "Berapa lama?" tanya Sasuke.

"A-aku tidak tahu…"

Sasuke menghela napas khas anak kecil. "Kalau begitu akan kutunggu… sampai kau bisa mengalahkanku." Perkataan Sasuke sukses membuat Hinata mendongakkan wajahnya lagi.

"H-hai!" ucap Hinata sambil mengangguk mantap. Bagi Hinata, ini berarti Sasuke mengakui dirinya sebagai saingan. Dan Hinata menjadi semakin bersemangat untuk belajar biola.

Hinata menawarkan senyum manisnya, yang tanpa disadari membuat Sasuke terpana. Tapi Sasuke buru-buru menutup wajahnya dengan lengannya, agar wajahnya yang memanas tidak ketahuan.

Hinata yang polos tentu tak sadar. Gadis kecil itu lalu membungkuk pamit, kemudian berjalan menuju keluarganya yang telah menunggu.

Sasuke memandang punggung Hinata yang menjauh, masih terpesona oleh senyum manis gadis kecil itu. sayang sekali entah kapan mereka bisa bertemu lagi. Tapi Sasuke berjanji, dalam hati, ia tidak akan melupakan Hyuuga Hinata.

"Adik kecilku, kau melihat apa?" tepukan pelan Itachi di pundak Sasuke membuyarkan lamunannya.

Sasuke yang tersadar langsung berjalan menghampiri ayah dan ibunya. " Tidak ada. Ayo pulang."

Mata Itachi menyipit, kemudian mengikuti arah pandangan adiknya tadi. Ia menyeringai kecil saat tahu apa yang dilihat Sasuke. "Baka otouto," gumamnya.

.

.

The Rhapsody

.

.

10 tahun kemudian

Akademi Musik Konogaoka

Langkah kaki yang beradu dengan lantai terdengar menggema di lorong Akademi Musik Konogaoka. Akademi Musik Konogaoka adalah sekolah swasta yang dikhususkan bagi murid-murid yang ingin mempelajari musik lebih dalam. Sekolah yang terbilang cukup elit, karena yang belajar di sana kebanyakan adalah penerus keluarga pemain musik yang terkenal. Akademi Musik Konogaoka juga telah melahirkan banyak musisi. Serta banyak lulusan AMK yang bisa melanjutkan belajar di Austria, negara surga musik klasik.

AMK tampak sepi, karena sekarang sudah memasuki jam belajar aktif. Seorang remaja perempuan tampak berlari-lari kecil menyusuri lorong. Kedua manik berwarna lavender miliknya memeriksa tiap papan kecil yang terletak di atas pintu tiap ruangan yang dilewatinya. Gadis itu sedikit menyesal karena bangun kesiangan di hari pertamanya sekolah. Ia juga sedikit kesal karena kakaknya tidak mau membangunkannya dan malah langsung berangkat kerja.

Yang paling menyedihkan, karena jam pelajaran sudah dimulai, tidak ada guru yang bisa mengantarnya menuju kelas. Kepala sekolah hanya memberitahu bahwa ia akan masuk kelas 2-B. Hanya berbekal pengetahuan itulah ia mencari kelasnya di sekolah yang baru pertama kali ini ia datangi.

2-B

Akhirnya gadis berambut indigo panjang itu menemukan kelas yang dimaksud. Ia mengembuskan nafas lega. Menghirup nafas dalam-dalam, untuk mengurangi kegugupannya. Berharap semoga guru yang mengajar di kelas ini bukanlah tipikal guru killer yang akan menghukum murid yang terlambat dengan lari mengitari lapangan sepuluh kali. Sekali lagi gadis itu menghirup nafas dalam-dalam, dan bersiap mengetuk pintu.

Tok tok tok

"Masuk."

Terdengar suara wanita dewasa menyuruh gadis itu memasuki ruang kelas. Sang gadis pun membuka pintu perlahan-lahan, kemudian melangkahkan kakinya memasuki kelas.

"Murid baru… Hyuuga Hinata?" tanya seorang guru cantik berambut hitam sambil menghampiri gadis itu.

"I-iya," jawab sang gadis gugup.

"Ah… baik. Selamat datang Nona Hyuuga. Saya Kurenai," kata guru tersebut, sembari menghela si murid baru masuk ke dalam kelas. Pandangannya lalu beralih ke seluruh murid di kelas. "Anak-anak, ini teman baru kalian. Silahkan memperkenalkan diri."

Perhatian seluruh murid beralih kearah gadis berambut indigo yang bernama Hyuuga Hinata tersebut. Merasa semua mata tertuju padanya, wajah gadis itu pun memerah. Mati-matian ia mencoba untuk tidak telalu gugup.

"P-perkenalkan, saya Hyuuga Hinata. Salam kenal… dan mohon bantuannya." Hinata membungkuk untuk mengakhiri perkenalannya.

"Hinata, silahkan duduk di antara dua anak perempuan disana," kata Kurenai seraya menunjuk salah satu bangku kosong yang terletak di antara gadis berambut pink dan gadis berambut pirang yang diikat ponytail.

Hinata mengangguk dan segera menuju ke tempat duduknya.

"Baiklah anak-anak… seharusnya pagi ini kita ada tes…" Terlihat banyak anak yang menghela nafas dan mengeluh. "…tapi Sensei harus menghadiri rapat. Jadi, untuk dua jam kedepan kalian bisa belajar sendiri."

Terdengar sorak sorai murid-murid yang senang karena mereka tidak harus berkutat dengan soal-soal yang bisa dibilang cukup membuat frustasi itu. Walaupun Kurenai bukan guru yang galak, namun guru tersebut tidak akan pernah memberikan soal yang mudah pada murid-muridnya.

"Jangan terlalu ribut, oke? Selamat pagi," kata Kurenai kemudian berlalu meninggalkan kelas.

Setelah guru cantik tersebut meninggalkan ruangan, berbagai suara langsung terdengar. Sementara Hinata hanya diam dan menundukkan kepalanya. Ia masih merasa asing di lingkungan baru ini.

"Hai…" kata seseorang. Hinata mendongak dan mendapati gadis berambut merah dengan mata hijau tersenyum padanya. Itu adalah gadis yang duduk di sebelahnya.

Hinata membalas dengan senyuman lembut. "H-hai juga…"

"Aku Haruno Sakura… senang berkenalan denganmu. Boleh aku memanggilmu Hinata-chan?" kata gadis itu sangat ramah.

"A-aku Hyuuga Hinata… i-iya… boleh, Haruno-san. S-senang berkenalan denganmu juga," balas Hinata.

"Tidak usah formal begitu, Hinata-chan… panggil saja aku Sakura," kata Sakura lagi.

Hinata terlihat ragu, namun tetap menuruti teman barunya itu. "B-baiklah Sakura-san…" jawab Hinata.

"Sakura-chan," kata Sakura lagi membenarkan.

"Aa… iya, Sakura-chan,"

"Hei… aku Yamanaka Ino. Panggil saja Ino," gadis berambut blonde di samping Hinata ikut memperkenalkan diri. Hinata mengangguk sambil tersenyum.

"Kami dengar kau pindahan dari luar negeri. Benarkah itu, Hinata?" tanya Sakura yang sekarang sudah duduk di depan Hinata.

"Aaa… b-bisa dibilang begitu…"

"Darimana memangnya?" Ino ikut bertanya.

"Korea."

"Berapa lama kau di sana?" tanya Sakura antusias.

"Aku dan keluargaku tinggal di Korea selama kurang lebih sepuluh tahun. Namun karena kakakku harus mengurus perusahaan di Jepang, jadi kami kembali kesini. Adikku juga ingin melihat Jepang itu seperti apa," jelas Hinata. Pandangannya menerawang, membayangkan kakak serta adiknya.

"Hei, kau sudah tidak gagap. Baguslah!" kata Ino yang menyadari Hinata bisa berbicara dengan lancar sekarang.

"Itu karena aku gugup," jawab Hinata pelan. Ya, kalau gugup pasti kegagapan Hinata akan kambuh. Pada dasarnya Hinata memanglah gadis pemalu. Dan Hinata merasa beruntung karena menemukan dua teman baru yang sangat ramah dalam waktu dekat.

"Oh ya… kau pegang alat musik apa Hinata-chan? Aku clarinet, sedangkan Sakura vokalis," tanya Ino lagi. Di Akademi Musik Konogaoka, semua murid wajib fokus pada satu alat musik atau vokal. Meskipun sekolah tetap mengajari alat musik dasar seperti piano, dan setiap murid diperbolehkan mempelajari alat musik lain.

"Aku memainkan… piano." Wajah Hinata mendadak sedikit muram, namun ia tak mau menunjukkan pada teman-teman barunya ini. Ia segera tersenyum lagi.

"Ooohh…" ujar Sakura dan Ino bersamaan.

"Eh kau mau ikut kami ke kantin? Kami belum sempat sarapan tadi," tanya Sakura seraya berdiri.

"Aaa… t-tidak. Aku disini saja."

"Baiklah… sampai jumpa nanti ya, Hinata-chan!" kata Ino. Sambil berlalu, Sakura serta Ino melambaikan tangan. Sementara Hinata melihat kepergian dua gadis itu dengan wajah sendu.

Piano… ya, Hinata sekarang memainkan piano.

.

.

The Rhapsody

.

.

Hinata bermaksud untuk berkeliling sekolah. Karena kedua temannya sedang makan dan tidak ingin mengganggu mereka, akhirnya ia pergi sendiri. Hinata pun berjalan menuju lantai paling atas, ia dengar dari teman sekelasnya di sana adalah ruang-ruang untuk berlatih musik.

Hinata berjalan menaiki tangga, menuju lantai tiga. Saat Hinata melangkahkan kaki menyusuri koridor lantai tiga, sayup-sayup ia mendengar alunan biola yang sepertinya tidak asing. Ia merasa pernah mendengar permainan seperti ini. Hinata pun kemudian mendekati ruangan asal suara tersebut. diikutinya suara sayup-sayup yang makin lama terdengar semakin jelas.

Hinata menyusuri lorong, yang di kanan-kirinya merupakan ruangan-ruangan untuk berlatih musik. Akhirnya, Hinata sampai di tempat yang menjadi sumber suara biola indah tersebut. Itu adalah sebuah ruang musik yang letaknya ada di paling ujung.

Karena pintu dilengkapi oleh kaca, ia bisa melihat seorang pemuda berseragam sama dengannya sedang memainkan biola. Didorong rasa penasaran yang besar, akhirnya Hinata memberanikan diri untuk mengintip. Ia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci perlahan-lahan.

Dan kini indra pendengarannya dapat menangkap musik yang mengalun dengan sangat jelas. Musik yang begitu indah. Hinata menatap dengan seksama, sang pemuda yang tengah membelakanginya tersebut. Mata lavender-nya mengamati bagaimana bow itu menggesek senar-senar biola dengan begitu lincah.

Oh… Hinata benar-benar merindukan biola.

Namun sayang, ada suatu keadaan yang membuat Hinata tidak bisa memainkan alat musik kesayangannya dan harus berpindah ke piano.

Irama yang mengalun begitu lembut namun sedih, membuat Hinata terbawa suasana. Tanpa sadar, ia yang semula hanya mengintip kini bergerak memasuki ruangan tersebut. Hinata sepenuhnya berada di dalam ruang musik, bersama sang pemuda yang masih fokus pada biolanya.

Pemuda itu memiliki rambut raven dengan gaya yang terbilang cukup aneh, karena bagian belakang rambutnya dibuat model spike. Hinata tidak dapat melihat wajah pemuda itu karena ia berdiri membelakangi Hinata. Namun entah kenapa, Hinata merasa tidak asing dengan sosok itu.

Paganini—Violin Sonata

Hinata menggumamkan kata tersebut tanpa sadar, dirinya seakan terhipnotis oleh permainan biola sang pemuda berambut raven yang membelakanginya itu.

Alunan nada-nada itu tiba-tiba terhenti. Membuat Hinata tersadar, lalu dengan cepat menoleh ke arah sang pemuda yang kini menatapnya dengan tajam. Laki-laki muda itu sudah berada di hadapannya, dengan raut wajah yang tidak bisa dibilang ramah.

"Siapa?" tanya pemuda itu dengan nada dingin.

"E-eh?" Hinata yang terkesiap, akhirnya malah bingung menjawab apa.

"Kau siapa?" ulang sang pemuda lagi masih dengan nada dingin.

"A-aku murid baru… t-tadi sedang berkeliling… d-dan tidak sengaja… m-mendengar suara biolamu," jawab Hinata dengan gugup. Pandangan tajam pemuda di depannya ini benar-benar membuatnya merasa terpojokkan.

"Tch. Mengganggu!" ucap pemuda itu lagi.

"Go-gomen…" Hinata lalu membungkuk dalam-dalam, merasa bersalah karena memang dirinya dengan seenaknya masuk ke ruang latihan tanpa izin penggunanya.

"Pergi! Aku tidak membutuhkan pendengar untuk latihan!"

Hinata berjengit kaget. Galak sekali, pikirnya dalam hati. Namun Hinata tidak menyuarakanya. Ia tidak mau cari masalah.

"I-iya… se-sekali lagi… go-gomen…" Hinata bergegas membalikkan badan dan berjalan keluar. Namun langkahnya terhenti karena sebuah suara.

"Tunggu!"

Hinata membalikkan tubuhnya, melihat pemuda yang kini berjalan kearahnya. Mata onyx pemuda itu memandang tajam pada lavender Hinata.

"Kau—"

Tengtengteng

Belum sempat pemuda itu melanjutkan kalimatnya, bel tanda masuk bergantinya pelajaran berbunyi. itu artinya Hinata harus segera masuk ke kelas.

"Aaa… go-gomen… a-aku harus pergi…" kata Hinata sambil bergegas pergi, ia tidak mau telat untuk kedua kalinya.

Pemuda itu menatap kepergian Hinata, ekspresi wajahnya tampak sedikit terkejut. Namun kedua manik gelapnya tampak melembut.

"Dia… kembali…" gumamnya pelan.

.

.

The Rhapsody

.

.

Meeting room K.M.A

"Kakashi… bagaimana bisa kau memilih anak yang bahkan belum sehari berada di sekolah ini? Kau bercanda!" ujar seorang laki-laki pucat berambut hitam panjang. Semua orang yang berada di ruang pertemuan kini menatap pria tersebut.

"Aku menemukan bakat pada anak itu…" sahut seorang laki-laki berambut perak yang bernama Kakashi. Pria tersebut memiliki rambut silver, dengan wajahnya yang tertutupi masker. Nada bicaranya tenang namun tegas.

"Kau tidak bisa seenaknya begitu!" kata laki-laki berkulit pucat itu bersikeras. Beberapa peserta rapat lain mengangguk setuju.

"Apa kau tahu, Orochi-sensei, sepuluh tahun lalu ada kompetisi biola di Tokyo? Dimana dua anak berumur tujuh tahun berhasil merebut juara pertama dan kedua…" Kakashi berhenti sejenak, mata hitamnya menatap semua orang yang hadir di ruangan itu. "… tentu saja kita tahu juara pertama adalah Uchiha Sasuke. Tapi yang mendapatkan juara kedua… kau tahu siapa?"

"Hyuuga… Hinata?" kata Kurenai ragu-ragu.

"Benar… dialah Hyuuga Hinata." Kakashi tampak tersenyum di balik maskernya. Semua peserta rapat terlihat terkejut. Mereka semua tahu, kompetisi biola sepuluh tahun yang lalu benar-benar fantastis karena pemenangnya justru anak kecil. Dua anak jenius, yang bermain biola sangat mengesankan.

"Tapi kalau kulihat datanya… sekarang ia memainkan piano. Dan kau memilihnya untuk bermain biola?" tanya Kurenai.

"Tidak. Aku akan membuatnya memainkan biola lagi," ucap Kakashi yakin. Semua peserta rapat tampak berbisik-bisik, namun mereka mengangguk-angguk. Kakashi memang terkenal akan kejeliannya dalam melihat bakat musik seseorang.

"Terserah kau saja. Kami serahkan kompetisi ini padamu, Kakashi," kata Tsunade, sang kepala sekolah mengakhiri rapat.

.

.

The Rhapsody

.

.

Bel tanda sekolah usai berbunyi nyaring. Murid-murid pun bergegas segera merapikan buku dan peralatan sekolah mereka. Pulang sekolah, memang menjadi saat favorit bagi pelajar normal seperti mereka.

"Aku benar-benar berharap bisa terpilih di kompetisi musik tahun ini," ujar Ino sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Ah… aku sih tidak mungkin terpilih," sahut Sakura lesu, sambil memasukkan perlatan sekolahnya ke dalam tas.

"K-kompetisi?" tanya Hinata heran. Ia bingung dengan hal yang dibicarakan teman-temannya.

"Ya. Ah iya, kau anak baru jadi tidak tahu, ya?" jawab Sakura sambil menjentikkan jari. Hinata hanya menggelengkan kepalanya.

"Tiap setahun sekali akan diadakan kompetisi musik. Pesertanya dipilih oleh pihak sekolah," Ino menjelaskan.

"Besok pengumuman siapa-siapa yang menjadi kontestan, semoga kau terpilih Ino," seru Sakura menyemangati sahabatnya.

"I-iya… semoga terpilih, Ino-chan," ujar Hinata, ikut memberikan semangat. Lalu berpaling menatap Sakura. "Tapi, kenapa Sakura-chan tidak mungkin terpilih?"

"Karena aku tidak memainkan instrumen, Hinata," jawab Sakura sambil mengibaskan tangannya.

"Kalau begitu, kami pulang dulu Hinata-chan… Kau dijemput, kan? Jaa ne!" seru Sakura dan Ino sambil melambaikan tangan.

"Jaa…" sahut Hinata. Ia merapikan buku-bukunya lalu bergegas menuju gerbang sekolah, menunggu sang kakak tercinta datang menjemput.

.

.

The Rhapsody

.

.

Hari berikutnya, Akademi Musik Konogaoka

Sebuah mobil sedan Lancer berwarna putih berhenti tepat di depan gerbang Konogaoka Music Academy. Tak berapa lama, tampak seorang gadis berambut indigo keluar dari mobil.

"Terimakasih kak Neji… sampai jumpa…" kata gadis itu sambil membungkuk, melihat ke dalam mobil.

"Hn. Aku pergi dulu, Hinata. Baik-baiklah di sekolah," sahut sang kakak yang bernama Neji tersebut.

Hinata melambaikan tangannya, menunggu hingga mobil sang kakak menjauh, kemudian bergegas memasuki gerbang AMK. Melihat dua satpam sekolah yang berjaga, Hinata segera menyapa mereka dengan ramah.

"Pagi Izumo-san… Kotetsu-san…" sapanya sambil tersenyum lembut.

"Pagi Hinata-chan," sahut mereka bersamaan seraya membalas senyum Hinata. Rupanya mereka berkenalan saat Hinata menunggu jemputan di hari pertamanya sekolah kemarin.

Suasana di sekolah pagi ini terasa lebih ramai dari kemarin, membuat Hinata penasaran. Ia melayangkan pandangannya, mencari-cari sumber keramaian itu, yang tampaknya berasal dari kerumunan murid yang mengelilingi papan pengumuman. Hinata ingat, kalau tidak salah hari ini pengumuman kontestan untuk kompetisi musik atau semacamnya. Mata lavender-nya lalu menangkap sosok kedua temannya, Sakura dan Ino, yang juga sedang mengerumuni papan pangumuman tersebut. Hinata pun menghampiri keduanya.

"Sakura-chan… Ino-chan," sapa Hinata begitu sampai di dekat kerumunan murid-murid.

Berangsur-angsur, semua langsung diam begitu mendengar suara Hinata. Kini perhatian kerumunan siswa itu berpindah pada Hinata, semua menatap kearahnya. Ada pandangan heran, kesal, kagum, terkejut, dan lain-lain. Merasa menjadi pusat perhatian, wajah Hinata pun langsung memerah.

"A-ada a-apa?" tanya Hinata kebingungan dan gugup.

"Kau jahat Hinata!" tiba-tiba Ino mendekatinya dan berteriak. Wajahnya memerah dan terlihat kesal. Marah.

"A-apa? A-aku tidak m-mengerti Ino-chan," sahut Hinata yang masih kebingungan.

"Ino, tenang dulu," kata Sakura berusaha menenangkan.

"Bagaimana mungkin anak baru sepertimu bisa terpilih mengikuti kompetisi?!" teriak Ino lagi. "Kau curang Hinata! Seharusnya aku yang terpilih!"

Lavender Hinata melebar. Ia yang masih bingung, kini tambah tidak mengerti. Apa yang barusaja Ino katakan? Terpilih?

"A-aku terpilih? T-tapi aku… aku ti—"

"Aku membencimu!" Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, Ino sudah menyela. Setelah mengatakan itu Ino lalu berlari menjauh, meninggalkan Hinata yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Hi-Hinata… maafkan Ino. Dia hanya terlalu syok karena tidak terpilih mengikuti kompetisi," ucap Sakura kemudian berlalu menyusul Ino. Mata hijaunya menyiratkan penyesalan.

Hinata menghela nafas, ini terlalu membingungkan. Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu. Hinata mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan menemukan kerumunan murid tadi sekarang sedang berbisik-bisik sambil menunjuk dirinya. Hinata merasakan matanya memanas, namun ia berusaha menahan airmatanya keluar. Mengabaikan semua tatapan yang tertuju padanya, perlahan-lahan ia melangkah menuju papan pengumuman. Dan irisnya pun membelalak terkejut melihat tulisan di depannya.

Intraschool Music Competition. Candidates:

Himura Sai. Flute. 3-E

Uzumaki Naruto. Saxophone. 2-C

Nara Shikamaru. Cello. 3-A

Mitsashi Tenten. Clarinet. 1-D

Sabaku Gaara. Piano. 1-A

Uchiha Sasuke. Violin. 2-A

Hyuuga Hinata. Violin. 2-B

Hinata menutup mulut dengan kedua tangannya. Kini ia tahu penyebab Ino begitu marah kepadanya.

"Ti-tidak mungkin… a-aku… biola…?"

.

.

~~~TBC~~~

.

.

Akhirnya selesai juga chap 1 ini… kyaa saya suka sekali music klasik .

Liat anime LCD jadi inget sasuke, mirip bgt sifatnya ama Len. Belagu gitu *digetok entong*

Tapi di fic ini, gak saya buat harem. Ntar yg suka Hinata cukup 2 orang aja. hahaha

Pengen banget bisa main biola apa piano, tapi apa daya… bisanya cuma seruling (=_=). Itupun sekarang sudah lupa. Kekeke *plakk* . gomen malah curcol ….

Baik… langsung saja… teman-teman… senpai-senpai… mohon kritik saran konkrit atau sekedar komennya .

Saya masih newbie jadi butuh banyak masukan. Dan supaya saya tau fic ini lebih baik dilanjutkan atau ditiadakan. ^o^

Atau kalo mau ngeflame,, ya gapapa. Asal jangan dengan kata yg kasar… dan tolong diperhatikan warningnya . (^^)v

Akhir kata,,, gomen kalau banyak kesalahan di fic ini.

Silahkan tinggalkan jejak anda dengan review. *plak*

Jaa matte ne~~~~ annyeong~~~