Sumary : Teito Klein, yang berasal dari Raggs City terpaksa pindah ke Barsburg Town untuk membatu pamannya mengurus Mansion keluarganya, yang sekarang menjadi sebuah tempat tinggal bersama khusus para lelaki.

Warning : OOC, sedikit AU, typo, banyak pont Shounen-Ai

Rate : T

Genre : Romance / Humor / Friendship

Desclaimer :

07 GHOST © Amemiya Yuki & Yukino Ichihara

Barsburg Village © Stellar Alerion


Chapter 1. Barsbrug Mansion

Teito's House at Ragg City, 3 days ago

"APA? Aku tidak mau chichi! Tidak mau! Walaupun tinggal bersama paman, tapi aku tetap tidak mau!" teriak Teito.

"Kamu tetap harus ke sana! Bantulah pamanmu, kasihan dia harus mengurus Mansion sebesar itu," kata Weldeschtein, ayah Teito

"Iya, aku tahu, tapi kana da penghuni lainnya yang bisa membantu paman," bantah Teito.

"Ini juga untuk kebaikanmu sayang, agar kamu bisa bersosialisasi dengan orang lain," kata Weldeschtein.

"Haha, tasukete," kata Teito kepada ibunya dengan wajah memelas.

"Maaf Teito, tapi kali ini haha setuju dengan pendapat chichi. Ini untuk kebaikanmu," jawab ibu Teito.

"Tapi haha… aku tahu kalau ini untuk kebaikanku, tapi aku gak mau tinggal bersama orang-orang yang gak aku kenal," jawab Teito masih dengan nada memelas.

"Tenang saja, ada Fia di sana," kata Weldeschtein.

"Aku tahu chichi, tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian. Besok kamu berangkat," kata Weldeschtein.

Barsburg Village, present

-Teito P.O.V-

Hah~ chichi keterlaluan, mengirim anaknya yang imut ini ke tempat dimana banyak orang yang tidak aku kenal. Kalau aku terjadi sesuatu denganku gimana coba. Walaupun ada paman di sini tapi tetap saja, mereka tidak khawatir denganku.

Bicara tentang paman, dia ada dimana ya? Kok sampai sekarang dia belum datang, apa dia lupa kalau hari ini aku ke sini? Tidak, dia tak mungkin lupa. Tunggu sebentar, chichi bilang begitu aku sampai di sini aku di suruh membaca surat ini.

Hai keponakanku sayang, ini pamanmu tersayang. Begitu kamu membaca surat ini pasti saat ini kamu sudah ada di Barsburg Village. Maaf, paman tidak bisa menjemputmu. Tapi, kamu bisa pergi sendiri ke mansion paman, mengingat dulu kamu sering ke tempat ini. Kalau kamu lupa, paman sudah memberikan petanya. Sampai bertemu di mansion.

Ok, begitu aku membaca pesan dari paman hal yang aku lakukan adalah meremas surat dari pamanku dan berteriak karena kesal. Padahal kupikir bisa bertemu paman lebih cepat.

Barsburg Mansion, at the same time

-Normal P.O.V-

"Hehehe…" terdengar suara tawa mesum dari seorang pemuda berambut blonde dan bermata biru.

"Kamu sexy sekali, seandainya aku bisa bertemu denganmu," lanjut pemuda itu.

"Hihihi…. Kamu punya nice body, Mira…. ARGH!" teriak pemuda blonde kesakitan karena seseorang dengan sengaja memukul kepalanya.

"Apa yang kamu lakukan?" teriak si korban terhadap pelaku pemukulan kepalanya yang berambut merah dan berkacamata.

"Apa yang aku lakukan?" tanyanya balik.

"Berhenti membaca buku pornomu di ruang tengah! Terlebih lagi berhenti membaca dengan raut wajah seperti itu, lihat Capella sampai ketakutkan melihat wajahmu," lanjut si pelaku.

"Iya iya, aku mengerti. Tapi bisakah kamu berhenti memukul kepalaku, kacamata!" balas si blonde.

"Apa kau bilang? Dasar mesum," ejek si kacamata.

"Maniak boneka."

"Sudah dong kalian berdua, kalian justru membuat Capella semakin takut, Castor, Frau," lerai seseorang berwajah manis dan kalem, sementara di belakang pemuda itu ada seorang anak kecil yang sedikit ketakutan.

"Maaf, Labrador dank au juga Capella," kata pemuda berkacamata yang bernama Castor.

"Iya, maaf ya Capella," kata pemuda blonde, Frau, sambil tersenyum dan mengelus kepala Capella. Sayangnya, senyum di wajah Frau justru malah membuat Capella takut.

BRUAGH!

Yup, itu adalah suara kepala Frau yang membentur lantai akibat kepalanya diinjak oleh Castor.

"Kamu membuatnya tambah ketakutan, idiot," kata Castor dengan santainya, sementara Labrador justru malah tersenyum lembut melihat mereka berdua.

"Kau, berhenti…"

"Huwaaaaaaaaaa..." sebuah teriakan atau lebih tepatnya tangisan dari seorang anak kecil berambut merah muda, memotong ucapan Frau.

"Aku mau cake, Haruse. Huweeee," tangis anak itu.

"Tapi di sini tidak ada cake," jawab seseorang yang bernama Haruse.

"Tapi… tapi… AKU MAU CAKE!" tangisnya makin keras, yang mengakibatkan semua yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke anak kecil yang digendong oleh Haruse.

"Kuroyuri-san, kumohon berhentilah menangis," kata Haruse berusaha menenangkan anak kecil yang ada digendongannya.

"Akan aku belikan," kata seseorang berkacamata hitam dan itu membuat Kuroyuri berhenti menangis.

"Benarkah Hyuuga-nii," jawab Kuroyuri berbinar-binar.

"Yup, aku juga mau membeli permen," jawab Hyuuga lalu pergi menuju pintu depan.

"Tunggu!" kata Frau.

"Aku ikut, aku mau membeli majalah," lanjut Frau lalu menyusul Hyuuga menuju pintu depan. Namun begitu ia akan sampai ke pintu depan, sebuah bantal melayang ke arah Frau. Beruntungnya, Frau tidak terkena lemparan maut tersebut. Malangnya, seseorang yang baru saja mau masuk ke dalam mansion itu terkena lemparan maut dan langsung pingsan di tempat.

"Teito!" panggil seseorang.

Barsburg Mansion, 5 menit sebelum lemparan maut

-Teito P.O.V-

Ok, aku sampai di tempat tujuan. Hanya saja, aku merasa ragu dengan tempat ini. Seingatku Barsburg Mansion sama sekali tidak memiliki tanaman sebanyak ini, selain itu, rasanya mansion ini jadi lebih besar dari semenjak terakhir kali aku kemari. Lebih baik aku bertanya pada pemuda itu.

"Permisi,"

"Ya," jawab pemuda berambut putih sedikit keriting dan memiliki bola mata berwarna ungu.

"Ini Barsburg Mansion milik Fia Kreuz?" tanyaku.

"Iya, benar. Anda siapa?" tanya pemuda itu.

"Oh, aku Teito. Teito Klein, keponakan paman Fia," jawabku.

"Jadi kamu Teito, Fia-san sudah bercerita pada penghuni mansion ini kalau keponakannya akan datang. Oh, namaku Ayanami," kata pemuda itu.

"Masuk saja, sebentar lagi Fia-san pulang," lanjut Ayanami.

Aku hanya menganggukkan kepala kepadanya lalu membuka pintu. Begitu aku membuka pintu, yang kulihat adalah sebuah bantal melayang ke arahku dan setelah itu semuanya gelap, namun aku bisa mendengar kalau Ayanami memanggil namaku.


TBC


A/N: karena ini cerita fanfic 07-GHOST ku yang pertama, jadi harap maklum kalau jelek. Dan terima kasih sudah membaca.