Sumary : Aku bisa merasakan wajahku memanas dan nafasku menjadi tidak karuan, sementara Frau hanya menatapku dengan senyum nakal yang terpampang di wajahnya. Belum lama aku menarik nafas, Frau mulai menyerangku lagi.

Warning : OOC, sedikit AU, typo, Shounen-Ai

Rate : T

Genre : Romance / Humor / Friendship

07 GHOST © Amemiya Yuki & Yukino Ichihara


Chapter 3. At Night

"Oh, kau sudah bangun, Teito," kata Fia begitu melihat Teito turun dari lantai dua.

Barsburg Mansion terdiri dari dua lantai. Begitu kita masuk ke dalam sana, kita akan langsung masuk ke ruang tamu dari mansion tersebut, ruang tamu itu cukup besar karena bisa menampung sampai 8 orang tamu. Kalau kita masuk lebih dalam lagi, maka kita akan sampai ke ruang tengah, dimana para penghuni berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas yang 'biasa' mereka lakukan. Dan biasanya ruangan inilah yang selalu diperbaiki.

Di sebelah kanan ruang tengah terdapat pintu yang akan membawa kita ke ruang perpustakaan, di sini adalah ruangan yang paling jarang di gunakan, kecuali untuk beberapa orang yang menyukai ketenangan. Buku-buku yang ada di ruangan ini bisa dibilang cukup komplit mulai dari kitab-kitab, buku militer sampai buku porno yang disembunyikan diam-diam oleh Frau.

Lalu di bagian ruangan terakhir yang terletak di bagian belakang adalah dapur dan ruang makan. Biasanya tempat ini sering digunakan oleh Haruse dan Kuroyuri, sementara penghuni lainnya hanya menggunakan ruangan ini ketika saat makan saja. Di lantai dua, hanya berisi kamar tidur dari setiap penghuni. Ada yang satu kamar berisi satu orang saja, dan ada pula yang satu kamar berisi dua orang, seperti Haruse dan Kuroyuri, Labrador dan Capella, Teito dan Hakuren. Tapi, ada juga orang yang sudah punya kamar sendiri justru malah selalu pindah atau menyeret dengan paksa orang lain untuk tidur bersamanya.

Nah, sekarang mari kita lihat apa saja yang dilakukan oleh para penghuni Barsburg Mansion.

Teito sedang duduk di sebelah Fia sambil mengamati keadaan sekitar, sementara Fia hanya diam dan berpikir tentang siapa yang memberi Teito kata itu. Haruse, Kuroyuri, Capella dan Labrador sedang ada di dapur menyiapkan makan malam, walaupun yang berkerja hanya Haruse dan Labrador saja karena Kuroyuri dan Capella asyik memakan makan malam penghuni lainnya.

Frau, seperti biasanya sedang membaca 'kitab' kesayangannya dengan senyum menegmbang. Hyuuga sedang asyik memakan permen apelnya dan mengganggu Konatsu yang sedang mengerjakan sesuatu. Sedangkan Katsuragi dari tadi bolak-balik dari perpustakaan ke lantai dua sambil membawa berkas-berkas. Ayanami, Castor, dan Bastian tidak ada di ruangan ini. Betul-betul keadaan yang tenang.

"Kamu mau kemana, Teito?" tanya Fia, melihat Teito beranjak dari tempatnya.

"Aku mau ke ruang baca," jawab Teito.

"Oh… baiklah," kata Fia dan setelah itu Teito segera pergi ke perpustakaan untuk mencari arti dari kata uke.

'Banyaknya… kira-kira ada dimana ya kamus yang berisi penjelasan kata itu,' pikir Teito begitu dia masuk ke dalam perpustakaan.

'Paman sama sekali tak mau memberitahu apa arti kata itu, makanya aku terpaksa mencarinya,' pikir Teito.

Flashback

"U.. uke? Dari mana kamu tahu kata itu?" tanya Fia mengalihkan pembicaraan.

"Dari seseorang, aku lupa namanya. Memang artinya apa sih?" tanya Teito sekali lagi.

"Uke itu…" Kata Fia yang sulit untuk mengatakannya.

"Ah, uke itu artinya yang menerima," jawab Fia.

"Menerima apa?" tanya Teito lagi.

"Umm… menerima semuanya. Ya, semuanya," kata Fia.

"Semuanya?"

"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat, nanti malam kita akan makan bersama," kata Fia mengalihkan pembicaraan.

Flashback End

'Memang paman sudah menjawabnya, tapi aku maasih ragu dengan jawaban paman,' pikir Teito yang saat ini sedang berada di atas tangga dan mencari kamus yang ia butuhkan.

"Ini dia," kata Teito begitu ia menemukannya, setelah itu dia turun mencari tempat yang nyaman agar dia bisa membaca dengan tenang.

"Yo, kuso gaki," kata seseorang di kegelapan dan Teito tahu betul siapa orangnya.

"Kuso gaki janai, orang mesum," jawab Teito marah.

"Apa yang sedang kamu baca?" tanya Frau sambil berjalan mendekat ke arah Teito.

"I… ini…. Wah, kamu hebat juga ya, bisa menemukan buku ini dengan mudah," kata Frau bangga begitu melihat buku yang Teito bawa.

"Ini kan kamus jadi…. WUAAAA! INI BUKU APAAN?" kata Teito begitu membuka buku yang ia bawa dengan wajah memerah.

"Ini namanya buku porno. Bacalah, semua orang dewasa membutuhkannya," kata Frau yang semakin mendekatkan buku yang Teito baca ke wajahnya.

"Berhenti menyiksa anak kecil, Frau," kata Castor lalu menaruh kakinya yang indah itu ke atas kepala Frau dengan sangat 'lembut'.

"Ha… hu… haha hemhanhuha hehahi hehaha hohang. Hahit hashor!" kata Frau yang saat ini wajahnya sedang mencium lantai dan kaki indah Castor berada di atas kepalanya sambil menekan kepala Frau untuk lebih dalam mencium lantai. (Baca : A… ku… hanya membantunya menjadi lelaki dewasa doing. Sakit Castor!)

"Apa? Aku tak bisa mengerti apa yang kamu katakan," kata Castor sambil menekankan kakinya lebih kuat lagi.

"HEHASHAN HAHU HASSSSTOOR!" kata Frau yang jengkel dengan perlakuan Castor.

"Baiklah," kata Castor lalu melepaskan kakinya dari kepala Frau, tapi begitu Frau bangun dan hendak protes Castor segera menendang Frau yang berakibat meja di perpustakaan itu hancur.

"Jangan menodai anak kecil yang polos ini dengan hobimu yang aneh itu," kecam Castor.

"Nah, Teito, berikan buku itu kepadaku," kata Castor ramah setelah ia membalik badannya menghadap Teito.

"Ini," kata Teito sambil memberikan buku yang ia bawa.

"Kenapa kamu membaca sebuah kamus? Apa yang ingin kamu cari?" tanya Castor.

"Aku ingin tahu apa artinya uke," jawab Teito polos. Mendengar hal itu, Frau segera bangkit dan bersemangat untuk menjelaskannnya, maklum dia kan ingin bocah sasarannya itu berpendidikan dalam hal itu sehingga melakukan prakteknya gampang.

"Teito, uke itu…." Belum selesai menjawab, Frau segera di lempar dengan buku yang Castor bawa yang membuatnya jatuh tersungkur lagi.

"Siapa yang memberimu kata itu?" tanya Castor.

"Aku tidak ingat siapa namanya, tapi tadi dia ada di ruang tengah," jawab Teito.

"Baiklah, kalau begitu kita ke sana dan tunjukan siapa orangnya," kata Castor lalu membawa Teito keluar dari perpustakaan yang meninggalkan Frau sendirian.

"Dia orangnya, yang memakai kacamata hitam," kata Teito sambil menunjuk Hyuuga ketika dia berada di ruang tengah.

"Dia. HYUUGA!" panggil Castor.

"Ada apa?" tanya Hyuuga dengan nada seperti biasanya, dan jangan lupa tambahkan efek background bunga-bunga di belakang Hyuuga.

"Tadi, apa yang kamu katakana pada Teito?" tanya Castor.

"Aku hanya menawarinya menjadi uke-nye Aya-tan," jawab Hyuuga tanpa rasa bersalah.

"KAU…" belum selesai Castor berbicara, dia langsung dipotong oleh seorang anak kecil.

"Kyaa! Benarkah Teito-nii bakalan jadi uke-nya Ayanami-sama?" tanya seorang anak keci berambut pink dengan mata berbinar-binar.

"Itu…" kata Teito yang kesulitan menjawabnya.

"Ada apa ribut-ribut?" tanya Ayanami yang berada di belakang Hyuuga.

"Ah, Aya-tan~" kata Hyuuga dengan nada manja.

"Ayanami-sama, kata Hyuuga Teito-nii bakalan jadi uke Ayanami-sama ya?" tanya Kuroyuri dengan mata yang berbinar-binar.

"Hyuuga," panggil Ayanami dengan nada rendah.

"Glup, iya Aya-tan," jawab Hyuuga yang sudah mulai ketakutan.

"Sudah aku bilang, jangan berkata yang aneh-aneh ke Teito," kata Ayanami lalu segera mengencangkan sarung tangannya dan dengan penuh perasaan dia menyentuh perut Hyuuga dengan kepalannya. Begitu kepalan tangan Ayanami menyentuh perut Hyuuga, tubuh Hyuuga langsung berubah menjadi bintang di langit yang menerangi malam yang gelap ini.

'Akhirnya aku bisa bekerja dengan tenang,' pikir Konatsu.

"Jangan dipikirkan perkataan Hyuuga barusan," kata Ayanami lalu masuk ke dalam perpustakaan.

"Hiks… hiks…"

"Aduh, jangan menangis Kuroyuri-kun," kata Teito berusaha menenangkan hati Kuroyuri yang kecewa.

"Habis… hiks… kalau Teito-nii tidak jadi… hiks… ukenya Ayanami-sama… hiks… aku gak bisa main sama Teito-nii… hiks…" kata Kuroyuri.

"Kita bisa main sama-sama kok, tenang saja," jawab Teito sambil mengelus-elus kepala Kuroyuri.

"Benarkah?" tanya Kuroyuri dengan mata berbinar.

"Tentu," jawab Teito. Begitu mendengar hal itu, Kuroyuri segera mencium pipi Teito dan pergi menuju dapur.

"Ah, aku juga ingin menciumnya," kata seseorang dari balik pintu perpustakaan.

Teito P.O.V

Hah… mansion ini benar-benar luar biasa hebohnya. Malam ini benar-benar indah sekali, penuh dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit. Mikage, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Aku kangen sama kamu. Sudah lama semenjak kejadian itu, kita tak pernah bertemu lagi. Maaf, aku sudah meninggalkanmu sendirian, tapi aku tak punya pilihan lain.

"Kalau kamu terus-terusan berada di taman ini kamu bisa masuk angin."

"Diam kau, orang mesum."

"Namaku Frau bukan orang mesum. Kamu masih memikirkan apa arti dari uke ya?" tanya Frau yang saat ini sudah duduk di samping Teito.

Uke. Ya, benar, uke. Satu kata yang bisa membuat penghuni mansion ini berubah.

"Memang apa artinya? Paman sudah memberitahuku, tapi aku tetap tidak yakin dengan jawaban paman," jawabku sambil memandangi wajah Frau yang cukup tampan ini.

"Memang Fia-san menjawab apa?" tanya Frau.

"Katanya orang yang menerima semuanya."

"Fia-san tidak salah, tapi itu bukan arti sebenarnya dari kata uke," kata Frau yang sedari tadi manatap langit.

"Kalau begitu apa arti sebenarnya?"

"Kamu mau tahu?" tanya Frau yang kini menghadap ke arahku.

"Iya," jawabku mantap.

"Baiklah, kalau kamu begitu penasaran. Tutup matamu," kata Frau dengan senyum yang mesum.

"Eh?"

"Aku bilang tutup matamu," kata Frau lagi lalu aku menutup mataku.

Aku tidak tahu dengan maksudnya, tapi tak lama setelah aku mentutup mataku aku bisa merasakan ada hembusan nafas yang menyentuh wajahku dan setelah itu aku bisa merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirku. Refleks, aku segera membuka mataku untuk melihat apa yang menyentuh bibirku.

Begitu aku membuka mata, yang kulihat adalah wajah Frau yang sangat dekat dengan wajahku, aku bahkan bisa melihat bulu matanya yang panjang itu. Aku bingung harus bertidak apa. Aku putuskan untuk memanggil namanya. Namun begitu aku membuka mulutku, aku merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutku dan menjelajahi semua isi mulutku. Itu adalah lidahnya, lidah Frau yang menjelajahi isi mulutku.

Karena kesal dan jijik, aku menggunakan lidahku untuk mendorong lidahnya keluar dari mulutku. Tapi ternyata hal itu justru membuat dia semakin tidak mau keluar dari mulutku. Setelah beberapa lama aku berusaha yang hasilnya selalu gagal, aku pun menyerah dan menutup mataku, membiarkan dia menjelajah mulutku. Tak berapa lama kemudian dia melepaskan bibirnya dari bibirku.

Aku bisa merasakan wajahku memanas dan nafasku menjadi tidak karuan, sementara Frau hanya menatapku dengan senyum nakal yang terpampang di wajahnya. Belum lama aku menarik nafas, Frau mulai menyerangku lagi. Hanya saja kali ini belum sempat dia menciumku, ada sebuah kursi melayang yang tepat mengenai kepala Frau. Saat aku akan memeriksa Frau, ada seseorang yang menarikku. Orang yang menarikku adalah dia…


TBC


A/N : kyaaa.. .

Itu pertama kalinya saya menulis french kiss, saya harap tidak aneh…

Makasih ya buat yang sudah membaca maupun yang sudah mereview…

See you next chapter ^^