Yukeh: Ini semacam multichapter sequel dari fic SasoSaku saya yang judulnya Innocently Innocent. Jika ada yang belum baca, silahkan baca untuk membantu memahami jalan cerita ini dengan lebih baik. Tetapi, jikapun tidak, tak masalah karena saya sudah berusaha untuk membuat jalan ceritanya tidak serumit itu *apaan sih?*.

Happy reading

oOo

Senin, pukul enam lewat lima puluh lima menit.

Senin, lokasi halaman dari sebuah sekolah SMU swasta di Tokyo, Jepang.

Senin, dengan cuaca cerah dan matahari bersinar semangat, kontras dengan mood para siswa yang jelek karena harus mengakhiri liburan untuk kembali berjumpa dengan "kekasih-kekasih" tercinta mereka. Buku, papan tulis, teori, ulangan, dan semua rutinitas yang membosankan sebelum kami menerima tanda kelulusan suatu saat nanti.

Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan-lahan. Sangat... dan amat sangaaaattt... perlahaaaaa...nnn... lahan... Bahkan aku harus menghabiskan waktu lima menit untuk melintasi halaman sekolah. Yeah, aku tahu, perilakuku ini tampak aneh di mata semua orang yang kebetulan ada di dekatku. Tapi bodo amat. Mendapat pandangan aneh jauh lebih merupakan sebuah anugrah daripada mati dengan tubuh tercecer di selokan atau tempat pembuangan sampah.

Aku memasukkan kedua tanganku di saku samping dari jumper hitam milikku. Kepalaku yang tertutupi tudung jumper, kutundukkan dalam-dalam. Alih-alih ingin menghindari tatapan orang, tapi well yeah, aku malah tampak semakin mencurigakan! Sekalipun kedua mata hijau emeraldku tersembunyi di balik kacamata hitamku, aku sama sekali tak berani untuk melirik-lirik, takut jika-jika –mungkin saja!- kacamataku retak dan mataku terekspos oleh yang lain.

Ya Tuhan... aku ini murid sekolahan atau teroris yang diburu semua dunia dengan harga jutaan dolar?

Aku menghela nafas lelah.

Mengapa semua ini harus kulakukan? Aku yang biasanya berangkat sekolah dengan ceria, dengan langkah lebar, dengan senyum riang dan sapaan ceria, dan abakadabra! Sekarang aku harus menyamar hanya untuk ke sekolahku sendiri!

Dan bodohnya, aku tak pandai dalam penyamaran! Sekalipun kepalaku tertutupi tudung jumper, kedua mataku terlindungi kacamata hitam, dan rambutku telah kuikat rapi ke belakang hingga tak terlihat dari lindungan tudung jumper, tapi tetap saja, aku tampak lebih mencurigakan daripada maling amatiran!

Dan kalian heran, mengapa aku harus repot-repot berdandan ribet begini hanya untuk menghadiri sekolah selama beberapa jam ke depan?

Biar kujelaskan.

Akar dari permasalahan ini sesungguhnya adalah karena aku telah memiliki pacar. Bukan, aku bukanlah gadis populer yang saking populernya, maka tiap lelaki akan rela untuk saling lomba menculikku karena patah hati saat tahu aku telah memiliki pacar. Namun, terlebih dikarenakan nasibku yang terkadang kupikir sangat beruntung, namun jika berada dalam situasi begini, aku yakin sepenuh hati bahwa hidupku jauh dari kata beruntung.

Hey, aku memang beruntung akhirnya memiliki pacar seorang cowok yang lama telah kucintai, bahkan sejak pandangan pertama di hari pertama kami bertemu. Tapi yang membuatku tidak beruntung adalah, OH TUHAN! PACARKU SEORANG PANGERAN KECIL DI SEKOLAHKU INI!

Ya, Pangeran Kecil. Bukan kecil dari arti fisik atau umur. Tapi kecil di sini maksudnya adalah dia sangat berharga, dia sangat disayang dan dipuja demikian banyak orang, terutama para siswi, bahkan guru dan petugas cleaning service perempuan!

Dan mereka berpikir bahwa Pangeran Kecil mereka itu tidak pantas disandingkan dengan budak hina sepertiku!

Sebulan sudah jalinan kasih ini terjalin di antara kami. Tujuh bulan sudah rasa ini telah ada di hatiku. Dan satu minggu sudah aku menjadi lebih buruk dari sekedar buronan internasional.

Aku sangat bahagia.

Tentu saja, siapa yang tak bahagia jika menjadi pacar dari Akasuna no Sasori? Dia memiliki semua sifat yang membuat lelaki bisa dengan mudah meluluhlantakkan hati seorang perempuan. Apalagi perempuan yang baru patah hati sepertiku, yang baru putus dengan Uchiha Sasuke, beberapa minggu sebelum pertemuan pertama kami.

Dia amat polos. Dia amat manis. Dia amat tampan. Dia amat pandai. Dia amat baik dan ramah. Dan dia, amat sangat memesona. Jadi, jangan heran jika nyaris seluruh penghuni sekolah ini tahu siapa Akasuna no Sasori. Jangan tanyakan kenapa tiap gadis sering sengaja untuk berdekatan dengannya, pura-pura tanya PR-lah, pura-pura lihat dia di jalan saat hari kemarin, hanya untuk mendapatkan kesempatan ngobrol dengannya lah, bahkan ada yang pura-pura pinjam uang!

Dan jangan tanyakan kenapa, jika sekarang aku merasa bahwa pergi sekolah sudah seperti pergi ke tiang gantungan.

Aku bisa kapan saja mati jika mereka melihatku! Cukup sudah aku mendapati dua ekor binatang terburuk dan menjijikkan, katak, di lokerku saat hari pertama gosip hubunganku dengan Sasori tersebar. Ya, terimakasih pada takdir yang dengan sengaja dan seenaknya, mendatangkan Ino saat kami hendak berciuman di sebuah kafe.

Dan terlebih lagi, puji syukur pada kepolosan Sasori untuk langsung saja terus terang pada Ino saat dia menanyakan apa hubungan kami sebenarnya.

Dan sejak hari itu, namaku tertulis di urutan pertama dari black list Sasori fansgirl, sekalian the most wanted dari mereka.

Aku mencoba melirik ke samping, mencoba mencari-cari, siapa tahu di dekatku ada salah satu dari penggemar cowokku yang kelewat fanatik. Dan aku bisa langsung kabur begitu ia mengeluarkan samurai dari balik punggungnya.

Dan nyatanya, yang kulihat bukanlah seorang atau kumpulan cewek, namun sebuah kertas yang tertempel di mading.

Dan jika itu hanya kertas mading biasa –yang berisikan puisi, cerpen, bahkan dari hal paling tidak penting, yakni pengumuman nilai ulangan dari suatu mata pelajaran (aku benci sikap mempublikasikan keburukan orang di depan umum begini!)-, maka aku tak akan berhenti dan menatap kertas itu lama-lama.

Dan aku tercekat.

Di kertas itu ada namaku yang tercantum, dengan tulisan tangan dengan font yang dibentuk mirip tetesan darah, dengan tinta merah, dengan gambar wajah seorang cewek dengan rambut merah muda dan berantakan, hidung mengeluarkan ingus, mata menatap sayu, tersenyum layaknya idiot, dan lalat beterbangan di sekeliling kepalanya. Dan jika tidak ada namaku yang tertulis disitu, aku pasti mengira bahwa itu adalah karikatur untuk orang lain!

Hey! Aku tidak segembel itu, ya!

Dan aku menelan ludah dengan sulitnya saat membaca tulisan di bawah gambar itu.

Kill this Idiot! Save Sasori-kun from being Idiot!

Aku sweatdropped.

Apa? Memangnya aku punya penyakit kebodohan yang menular, apa?

"AWAS KALIAAAAAAAAANNNN!" teriak batinku jengkel dan empet.

Full of Innocence Uchiha Yuki-chan

Naruto Masashi Kishimoto

Rate: T to be safe

Main starring: Akasuna no Sasori and Haruno Sakura

Genre: Humor/Romance? Not sure -_-

Aku menyobek kertas itu dari mading. Dengan gemas, aku lipat-lipat dan remas-remas dengan kuat, hingga telapak tanganku menampakkan otot yang kentara jelas.

Niat ingin membanting kertas itu di lantai dan menginjak-injaknya, hilang saat tatapan mataku tak sengaja mengarah pada tembok di samping kiri.

Lalu ke tembok di samping kanan.

Lalu tembok beberapa meter ujung koridor sana.

#$!&*!

Kertas jelek ini ada di mana-mana!

Oh Tuhan, memangnya aku sudah mem-bom kota mana? Hingga aku diperlukan layaknya teroris buronan Amerika Serikat begini!

"Aku akan merobeknya semua!" gumamku semangat dan mulai melangkah.

Ya, tak akan kubiarkan kertas laknat ini masih tertempel di sini dan memperbesar kemungkinan Sasori akan melihatnya.

Atau jangan-jangan di sudah melihat? Karena sejak hari-hari penuh teror ku dimulai dan lebih-lebih sejak hari penyamaran merepotkan ini kumulai, kami memang sudah jarang, bahkan nyaris tak pernah lagi berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Memang sih, memberatkan bagiku karena aku tak bisa pamer pada cewek-cewek yang hatinya dongkol dan iri akan kemenanganku. Tapi... yah, sudahlah. Daripada tubuh terpotong jadi enam!

"Eh, lihat ini!"

Langkahku terhenti seketika begitu nyaris menabrak dua orang gadis yang sama-sama hendak menuju ke arah kertas yang hendak kurobek dari dinding.

"Ini... kayak pernah tahu deh," ujar si rambut coklat sembari menempelkan telunjuk di dagunya.

"Ah... ini kan Haruno Sakura!" ujar si rambut hitam keriting, "Pantesan, kok rasanya pernah kenal."

Hei! Memangnya wajah asliku mirip banget, ya, ama gambar murahan itu?

"Ckckck... Dia jadi buron fansgirl Sasori-kun."

"Salah sendiri, cari maut, udah bosen idup, kali."

"Lagipula, salah Sasori-kun juga. Milih cewek kok mengecewakan begitu."

Hello? 'cewek mengecewakan' yang sedang kalian omongin sekarang ada tepat di samping kalian, lho!

"Tapi kalo Sasori-kun emang dasarnya suka, gimana?"

"Mana mungkin, sih! Ngaco! Sasori-kun itu polos sekaliii... Pasti Sakura udah ngajarin dia yang enggak-enggak dan brainwashing dia hingga dia mau menerimanya."

"Iya, sih. Atau jangan-jangan Sasori-kun cuma jadi pelarian dia, aja, dari sakit hati akibat putus ama Sasuke-kun?"

"Hih! Awas aja! Dia pacaran ama Sasori-kun aja rasanya mau kucincang! Kalau ketahuan dia nyakitin Sasori-kun, nggak hanya kucincang, kukasih dagingnya ke anjing jalanan dekat rumahku!"

Aku menelan ludah dengan sulit.

Hei, apakah Sasori betah mempunyai fansgirl berdarah dingin demikian?

Dan aku terlambat untuk melangkah pergi saat salah satu dari mereka menyadari kehadiranku.

Shit.

Ya Tuhan, jangan biarkan mereka curiga dan jangan biarkan aku membuat mereka curiga! Aku masih cinta pada oksigen!

"Hei, kau."

"..." rasanya tenggorokanku sudah terpotong oleh dua kata cewek itu tadi.

"Menurutmu bagaimana? Kau suka Sasori-kun juga pastinya, kan?"

Hah! Tentu saja! Aku kan ceweknya! Idiot!

Aku hanya mengangguk kaku. Kedua tanganku dalam saku jumper meremas kain jumper ku kuat-kuat.

"Kalau seandainya kau bertemu Sakura, apa yang akan kaulakukan?"

Heh?

"Kalau aku, begitu aku melihatnya, tak sampai semenit, aku akan melempar batu terbesar yang ada di dekatku, ke arah kepalanya. Atau menceburkannya sekalian ke kolam sekolah. Atau menendangnya dari lantai tiga gedung sekolah ini. Fufufufu..." ujar si rambut coklat dengan tawa khas seorang maniak, "Kalau kau?"

"Hah? A-aku?" aku menunjuk diriku sendiri. Kedua gadis itu mengangguk dan menatapku, menunggu jawaban dariku.

Dan aku terpaksa memberikannya, "A-aku… A-ku akan… um… menamparnya! Hahahaha! Ya! Tamparan yang sangat keras dan kuat...," aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku, dengan bibir tersenyum licik.

Palsu!

"Menampar saja, hei?" tanya si rambut hitam, "Dia butuh lebih dari sekedar tamparan!"

"Ah? Oh... maksudku, setelah menamparnya, aku akan membenturkan kepalanya yang idiot itu keras-keras ke tembok, hingga darahnya bercucuran dan mengeluarkan otaknya yang mirip otak keledai itu!"

Ya Tuhan, aku secara terpaksa merancang pembunuhan berencana bagi diriku sendiri!

"Hahaha… bagus!" si rambut hitam mengacungkan jempol dan mengedipkan sebelah mata.

"Hahahaha….," aku hanya tertawa kaku.

Dan aku terselamatkan oleh bunyi bel masuk, tanda jam pertama pelajaran akan dimulai.

"A-aku permisi," aku membungkukan badan dengan sopan, dan dengan agak kelewat terburu-buru, aku berbalik dan berlari pergi menuju kelas.

Baru kali ini aku sadar, menjadi pacar Sasori adalah sebuah tindakan kriminal tingkat berat!

-oOo-

Di sekolah, kelas adalah salah satu tempat aman bagiku, selain toilet.

Di kelas, aku bisa menjadi Haruno Sakura yang biasa. Melepas segala perlengkapan menyamarku yang akhir-akhir ini seolah menjadi nafasku. Karena tanpanya, aku dipastikan akan ditemukan di selokan dalam keadaan mati.

Bukannya di kelas ini tak ada yang membenciku. Di kelas inipun, tak kurang gadis yang termasuk anggota Sasori fansgirl. Dan aku pun tak jarang mendapatkan pelototan mata atau sumpah serapah dan hinaan dari mereka. Tapi hanya sebatas itu karena mereka tak bisa mengeluarkan benda tajam untuk menghabisiku karena guru akan selalu ada di kelas. Dan tak ada, kan, pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja di depan tiga puluh delapan murid dan dua orang guru?

Ada jika yang melakukannya adalah orang tidak waras.

Dan oh, aku baru ingat, semua Sasori fansgirl tidak akan berbuat sejauh ini dengan menerorku jikalau saja kondisi psikis mereka dalam keadaan waras!

Dan jika kebetulan jam kosong, aku akan segera kabur, dengan membawa peralatan menyamarku. Jika istirahat telah datang, begitu pula yang terjadi. Dan begitulah kehidupan akan berlanjut entah sampai kapan.

"Hahahaha."

Aku melirik sebal, sembari melepas ikatan di rambutku –dan membuat rambutku kembali jatuh terjuntai, pada Hinata, teman sebangkuku.

"Apanya yang lucu?" tanyaku sewot padanya yang mukanya memerah karena menahan tawa.

Hinata menggeleng, "Aku hanya geli saja dengan sikapmu, Sakura."

Aku memutar bola mata muak, "Ya, lalu? Kau mau aku bersikap biasa saja dan langsung terbunuh seketika?"

"Bu-bukan begitu!" Hinata menggerak-gerakkan telapak tangannya dengan panik, namun masih tetap menahan tawanya, "Hanya saja... Tidakkah lebih baik kau hadapi mereka dengan berani, Sakura?"

"Oh Hinata! Demi Tuhan! Lokerku mereka isi dengan katak! Sepatu olahragaku mereka kasih ke tukang sampah untuk dibakar! Mereka menulis surat cinta palsu pada Orochimaru-sensei atas namaku hingga sekarang aku ngeri tiap ketemu Orochimaru-sensei karena dia selalu mengedipkan sebelah mata padaku! Nah, jika aku bertindak berani seperti yang kau minta, maka, good bye, Hinata. Nice to be your friend!" ujarku panjang lebar.

Aku memasang muka cemberut.

Berani... berani... enak aja! Aku sanggup datang ke sekolah ini sudah termasuk sikapku yang paling berani, tauk!

"Sakura," kata Hinata. Kali ini kudengar suaranya melembut, "Aku yakin, tak perlu semua penyamaran ini. Karena, jika kau dan Sasori-kun memang saling mencintai, aku yakin, semua akan baik-baik saja."

Mendengar ucapan Hinata, aku terdiam dan merenung.

Baik-baik saja? Benarkah?

Semua tak seindah yang kukira.

-oOo-

Aku menyandarkan punggung dan menempelkan kedua telapak tanganku lekat-lekat di tembok di belakangku, sembari menghela nafas lelah dan ngos-ngosan, efek dari lari maraton yang baru saja kulakukan saat aku dengan idiotnya, lupa menguncir rambutku sehingga menyebabkan fansgirl kalap itu mengetahui identitasku lewat rambut depanku yang terjuntai melewati tudung jumperku.

Dan yah... Aku kabur sebelum mati.

Aku melongokkan kepalaku ke tepi tembok, melihat ke arah belakang, dan menghela nafas lega dan mengucapkan puji syukur dalam hati, saat melihat beberapa cewek berlarian dengan meneriakkan namaku, menuju dan berbelok ke koridor lain di ujung sana.

Selamat... Selamat...

Perasaan lega karena baru saja terlepas dari incaran maut, meluap di hatiku. Hingga membuat rasa takut ini untuk sementara hilang, dan dengan semangat aku meraih HP dalam sakuku.

Aku sudah menjalani masa layaknya dikejar Bull Dog, apa salahnya jika aku sekarang aku mendapatkan 'hadiah'?

Fufufu...

"Halo?"

Dan perasaan hangat dan nyaman selalu kurasakan tiap mendengar suaranya. Membuatku sejenak melupakan semua teror dan ketakutan yang kurasakan di sekolah. Membuatku rasanya lupa akan rasa capek yang masih terasa.

"Sasori!"

Aku langsung membekap mulutku rapat-rapat saat menyadari bahwa aku baru saja menyebut namanya dengan suara agak keras.

Hei, mungkin saja fansgirl-nya punya telinga macam kelelawar yang bisa mendengar bunyi dari jarak lebih dari seratus meter?

Kulirik kanan, kiri, depan, belakang.

Aman...

"Sasori...," ujarku dengan suara melirih.

"Iyap?"

Dan aku benci mendengar gaya bicaranya seolah-olah ia masihlah anak lulusan TK!

"Aku ha-hanya... hosh... hosh... Ha-hanya...," sial! Capek banget aku! Lama-lama aku pasti bisa jadi atlet lari maraton nasional jika begini terus!

"Hei? Kau kenapa? Habis pelajaran olahraga?"

Kyaaaa! Dia perhatian sekaliiii!

Ya, aku tahu, aku norak. Tapi bodo amat, siapa yang tak suka diperhatikan olehnya, heh?

"Le-lebih buruk... Hahaha," ujarku jujur dengan separuh bercanda

"Hah?"

"Aku dikejar-kejar lagi," ujarku dengan nada setengah merajuk.

"Dikejar siapa?"

Dan mentalku langsung down.

Tak ingatkah dia bahwa ceweknya sekarang ini adalah seorang 'kriminal'?

Sudahlah.

"Eh... hosh... nant-nanti jadi pulang bareng kan? Hosh.. hosh..." tanyaku mengalihkan topik.

"Iyaaa... Nanti ketemuan di tempat biasa aja," dan dia adalah tipe orang yang mudah dipengaruhi untuk mengalihkan topik.

"Oke!" ujarku semangat, merasa tak sabar untuk mendengar bunyi bel pulang sekolah, untuk kemudian pulang dan menikmati saat terindah di tiap hariku yang sekarang bagai tengah di neraka ini, "Tap-"

"Sasori-kun! Telpon siapa, sih? Ini, kau belum jelasin tentang hukum relativitas ini, lhooo."

Aku tercekat.

Suara cewek...

Ada cewek yang berada di dekat cowokku.

"Oh, oke. Tunggu bentar, ya," jawab Sasori tanpa merasa perlu untuk mengeluarkan nada gugup karena menyadari kemungkinan aku mendengar suara cewek tadi.

Dan sebelum aku atau Sasori sempat berkata apa-apa, sambungan terputus.

Dan voila!

HP lobet...

Aku menghela nafas lelah sembari kembali memasukkan HP ke saku kemejaku.

Dia lah Sasori.

Sasori-ku yang baik. Sasori-ku yang ramah. Sasori-ku yang polos.

Dia pasti tengah membantu salah seorang teman dalam hal pelajaran. Karena dia baik.

Dia juga sering menerima teman untuk mencurahkan keluh kesah dan mendapat saran darinya, atau hanya sekedar mendapatkan 'tong sampah' untuk curhat. Karena dia ramah.

Namun, tetap saja, dia cowokku. Dan kuakui, sifat pencemburuku jelek sekali dan sifat itulah yang membuatku putus dengan Uchiha Sasuke dulu.

Salahkah aku merasakan perasaan ini? Merasa takut kehilangan. Merasa takut berpisah. Merasa bahwa hanya aku yang berhak untuk mendapat perhatiannya? Merasa bahwa tak adil jika ia berada bersama cewek lain selain aku?

Karena aku begitu mencintainya. Karena dalam waktu yang sama, tak hanya aku saja yang begitu mencintainya.

Aku hanya...

Aku hanya takut dia akan mengalihkan pandangannya dariku dan memandang yang lain.

Aku menghela nafas dalam-dalam. Mencoba menghilangkan perasaan jelekku ini, berlatih untuk menerima Sasori dengan segala sifatnya, dan meyakinkan diriku bahwa, apapun, pokoknya fakta telah berbicara bahwa Haruno Sakura adalah kekasih Akasuna no Sasori!

Aku hanya mengada-ada dan semua pikiranku tadi tak beralasan.

Aku harus menerima semua sifat Sasori itu.

Apa yang salah dengan niat membantu teman dalam pelajaran? Karena Sasori baik.

Apa yang salah untuk menjadi tempat untuk berkeluh kesah? Karena Sasori dari awal memang ramah.

Dan apa yang salah untuk mempercayainya? Untuk meyakini bahwa ia memang akan selalu di sampingku? Dan tak akan pernah berpaling dariku.

Karena dia polos.

Aku tersenyum saat mendapat pemikiran demikian.

Sepolos cinta pertamanya padaku.

"Sakura!" seseorang menepuk pundakku dari belakang, dan membuatku sedikit terlompat kaget dan nyaris mempraktekan salah satu pululan tangan dari ekskul karate yang dulu sempat kuikuti, jika aku tak keburu sadar bahwa yang ada di depanku adalah Hinata, "Hei, Sakura. Kenapa kau ada di sin…"

Baik aku dan Hinata, langsung terdiam beku dan saling tatap dengan ekspresi horor.

"Sakura?"

"Jadi itu Sakura, ya?"

"Ternyata kau di sini, hei!"

"Awas kau!"

Terimakasih teman, atas 'peti mati' yang kau hadiahkan!

"Ma-maaf, Sakura... Aku tak sadar," Hinata menggumam lirih sembari mengerutkan kening dan memejamkan mata, pertanda takut dan menyesal.

Dan beberapa saat kemudian, aku kembali berlari maraton mengelilingi sekolah diiringi teriakan-teriakan menyebut namaku dari beberapa cewek di belakangku sana.

My life isn't as innocent as I thought

-oOo-

Critism and comment are whole-heartedly appreciated.

August, 2011

Uchiha Yukeh-chan