.:oOo:.

Naruto (c) Masashi Kishimoto.

Uchiha Yuki-chan (not so) proudly presents...

Still Innocently Innocent (c) Uchiha Yuki-chan

Rate: T.

Genre: Drama / Romance / Humor

Warning: What do you expect from my fics? Of course, OOC-ness here and there. Include the using of Bahasa anak gaoehl. Plot kurang ngena. Romance minim. And lebayisme here and there.

I ain't gaining any commercial advantage by publishing this fic. Thank You.

.:oOo:.


"...ra."

Suara itu terdengar lirih di telingaku. Aku semakin memejamkan kedua mataku dan memeluk guling tidurku, menyamankan diri dalam tidur siangku yang sempat terganggu.

"...ra."

Bodo amatlah.

"...kura."

Zzzzzz

"SAKURAAAAAA!"

"Mamaa...," gumamku jengkel campur ngantuk campur kaget sembari ogah-ogahan membuka mata. Kudapati sosok wanita yang selama tujuh belas tahun selalu kupanggil Mama itu, kini tengah berdiri di samping ranjangku dengan berkacakpinggang.

Dan jangan lupakan wajah sangarnya yang menandakan ia tengah marah, yang mampu membuat bahkan Papa ketir-ketir saat melihatnya.

"Kau ini, wanita macam apa yang tidurnya susah sekali dibangunkan?"

Aku menguap lebar, tanpa merasa perlu untuk menutup mulut dengan telapak tangan, dan menggumam, "Sakura ngantuk. Lima menit lagi, y– "

"Tidak bisa!"

Aku menggeram saat merasakan selimut hangatku tertarik paksa dari tubuhku, membuatku merasa kedinginan akan hawa dingin musim semi yang baru datang menjelang.

"Cepat bangun. Sasori-kun datang, tuh. Udah lama dia nungguin kamu di ruang tam—"

"Apa?!" potongku sembari langsung membelalak lebar dan bangkit terduduk dari tidurku. Aku menatap Mama dengan pandangan tidak percaya, "Sasori-kun datang?"

Mama memutar bola mata sebelum menjawab dengan sinis, "Itu yang Mama katakan terus sejak membangunkanmu tadi. Cih. Kasihan sekali suamimu nanti punya istri tukang tidur sepertimu."

Tak kuhiraukan sindiran Mama tersebut, dan aku langsung menekuk muka dan memanyunkan bibir sembari kembali menidurkan tubuh lagi.

"Hei! Apa yang kau lakukan? Cepet temuin!"

"Gak mauuuuu!" aku malah semakin menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

"Tidak sopan! Sasori sudah datang di saat hujan-hujan begini, Sakura!"

"Siapa yang menyuruhnya datang? Suruh pulang saja, sana!"

"Hei!"

"Gak mauuuuuuu!"

Beberapa menit kemudian...

Aku terduduk dengan memasang tampang jutek abis. Di sampingku terduduk pula seorang cowok yang akhir-akhir ini selalu membuatku merasa uring-uringan tak jelas. Kami duduk di sofa yang sama, tetapi berjauhan. Aku di ujung kanan, dan ia terduduk di ujung kiri.

Aku memutar bola mata dengan kesal, dan menghembuskan nafas keras hingga meniup kecil beberapa helai yang terjatuh di dekat dahiku.

Kuakui, akhir-akhir ini hubunganku dengan Sasori kurang baik. Aku yang menjauhi dan menghindarinya. Kami sudah jarang pulang sekolah bersama. Dan aku juga sudah jarang mengiriminya pesan atau email. Saat bertemu di sekolahpun, aku hanya menyapanya seperlunya dan berpura-pura harus segera pergi karena ada urusan yang lain, tak peduli sekalipun ia memanggilku untuk kembali dan memberinya kesempatan untuk bicara.

Hahh... Salahkan saja sifatnya yang terlalu ramah pada semua orang, terutama pada seorang wanita. Dan salahkan juga pada sifat cemburuku yang jelek banget gak ketulungan, hingga membuatku selalu berpikir negatif akan setiap kebaikan yang dilakukan oleh cowokku sendiri.

Awalnya mungkin aku bisa tahan, namun lama-lama aku merasa jengkel juga. Dan pertanyaan-pertanyaan semacam apa benar Sasori mencintaiku dengan tulus, semakin terngiang jelas di otak dan benakku. Membuatku meragukan semua ketulusan yang selama ini ia tampakkan di depanku.

Seperti sekarang.

Aku masih menjauhinya. Duduk berjauhan dengan orang kucintai seperti ini, bukanlah hal yang wajar kulakukan.

Aku teringat, setiap kali Sasori-kun datang ke rumahku, aku pasti akan langsung menyambutnya dengan teriakan ceria macam "Kyaaa! Sasori-kuuuuunnn!" dan berakhir dengan aku yang duduk mendempet dan memeluknya erat, sementara ia dengan gugup berusaha terlepas dari cengkeramanku.

Namun lihatlah, sekarang aku bahkan belum menatap kedua matanya.

Aku sedikit terlonjak saat mendengar ia berdeham, mencairkan kesunyian yang sempat terasa, dan kemudian berbicara lirih, "Apa salahku?"

Aku terdiam baik secara lisan atau gerakan, mencoba menantangnya secara tersirat untuk meneruskan ucapannya.

"Maaf jika aku berbuat salah," lanjutnya lirih, "... dengan atau tanpa aku sadari, hingga membuat kamu tersakiti begini..."

Dan imanku yang dari awal memang lemah banget saat dihadapkan dengan Sasori dan segala sifat tulusnya, membuatku menghela nafas dan berujar santai, "Tidak. Aku hanya sedang ada masalah."

Jawaban separuh bohong. Tentu aku ada masalah. Tapi aku tidak ingin menuduhnya tepat di depan mukanya bahwa sumber masalahku adalah dirinya.

"Benarkah?" responnya segera, "Habisnya... Aku takut sekali jika tanpa sadar aku menyakitimu. Apakah benar kau tidak sedang marah padaku, Sakura?"

Aku terdiam sesaat, sedang mengalami dilema batin.

Sisi malaikatku mengatakan: Sudah, berdamai saja. Toh ini semua bukan salahnya seratus persen. Dan meski begitu dia sudah minta maaf dan bela-belain datang kesini demi dirimu. Bukankah itu tandanya dia peduli padamu?

Dan sisi iblisku yang berkata: Huh. Acuhkan. Ingatlah, dia itu tidak bisa dewasa. Dia tidak bisa mengira bahwa tindakannya itu telah menyakitimu. Sampai kapan kau akan lemah oleh daya pesonanya, heh? Emansipasi, Sakura! Women rules!

Namun, yah, sekali lagi, imanku memang lemah. Dan sisi malaikatku lebih menang dari sisi iblisku jika menyangkut soal Sasori. Alih-alih marah padanya, mendengar kalimatnya tadi aku sudah merasa gemas dan tidak tahan untuk tidak 'menyerangnya' di sofa saat ini juga.

Nah. Aku mesum.

Dengan perlahan aku menggeleng, memberi jawaban tersirat atas pertanyaan Sasori barusan.

"Oke. Begini saja. Mulai sekarang, kamu bilang ya, kalau aku salah? Aku 'kan suka gak ngerti, Sakura?"

Ugh! He's too damn innocent!

Aku gak kuaaaaaaatttt!

Dan untungnya, Sasori 'terselamatkan' saat Mama muncul di depan kami sembari tersenyum dan berkata, "Mama keluar sebentar ke mini market, ya? Persediaan makanan habis."

Aku hanya mengangguk singkat, begitu juga dengan Sasori. Bedanya, ia juga berkata, "Hati-hati, Tante."

Mama tersenyum sembari mengangguk dan kemudian melangkah pergi.

Dan kami kembali sendiri.

"Oh ya, kamu punya masalah apa?" tanya Sasori sepeninggal Mama.

Aku menoleh ke arahnya dan melihat kedua matanya menatapku dengan pandangan penasaran dan khawatir.

Ah... dia mengkhawatirkanku?

Mendapat pemikiran demikian, kurasakan pipiku memanas.

Aku berdeham sebelum berbicara, "Masalahku adalah karena ada beberapa hal yang belum kau ketahui tentang etika berpacaran," ujarku layaknya seorang profesor –dengan menutup mata sejenak dan mengacungkan telunjuk kanan-.

Saat aku membuka mata, kulihat dia memandangku dengan pandangan seolah-olah aku telah menjadi gila.

Tapi aku tak memedulikannya karena dari awal aku memang sudah tak normal saat berjumpa dan jatuh cinta kepadanya.

"Hal pertama, kau tak boleh terlalu dekat dengan gadis lain selain aku. Bukan berarti aku melarangmu untuk punya teman cewek, lho. Hanya saja, mulai sekarang kau harus lebih tegas pada fansgirlmu. Tegaskan bahwa kau sudah tidak sendiri lagi dan sudah menjadi cowokku," ujarku memberi kuliah gratis kepadanya, "Mengerti?" sambungku dengan nada lebih pelan, sembari dengan tiba-tiba aku mendekatkan diri kepadanya dan menarik kerah kemejanya. Kudekatkan wajahku dengan wajahnya, hingga hidung kami bersentuhan. Dan bibir kamipun akan bertemu jika jarak beberapa sentimeter itu kami hapuskan.

Kulihat wajahnya berubah warna menyaingi warna rambutnya, setetes dua tetes keringat dingin mulai muncul di dahinya.

"I-i-iyy-ya," jawabnya tergagap.

Aku tersenyum licik. Menyukai bagaimana efek tindakanku ini terhadapnya.

Kudekatkan bibirku ke ujung bibirnya, dan kucium lembut daerah di sana, "Bagus," bisikku di telinganya, "Jadi, gak boleh ada yang cubit pipi kamu selain aku. Gak boleh lagi ada yang peluk kamu selain aku. Dan yang bisa bersandar di dada kamu hanyalah aku. Mengapa? Karena aku ini adalah pacarmu dan berhubung aku ini cemburuan, kamu harus bisa jaga perasaanku," lanjutku sembari menjelajahkan ujung jari kananku dari dagu, leher, hingga ke dadanya.

Aku semakin terkikik geli dalam hati saat melihat di ujung mataku bahwa mukanya semakin memerah dan nafasnya semakin memburu. Bahkan telunjukku yang menempel di dadanya bisa merasakan kuatnya detakan jantung yang ada di balik sana.

Dan keusilanku terganggu saat kami berdua mendengar suara deringan. Dan dengan kecepatan mengalahi kilat, Sasori mengambil HP-nya tersimpan di saku celananya dan seketika berdiri dari sofa, mundur beberapa langkah dari tempatku yang masih terduduk menatapnya.

Sigh.

Aku pasti telah menakutinya.

Ia menatap layar HP-nya sebentar, untuk kemudian menatapku sembari berkata, "A-aku harus pulang. Ada tamu keluarga di rumah," ujarnya gugup dan tanpa menunggu balasanku, dia segera berlari dan melangkah sembari berucap, "Sampai jumpa di sekolah, Sakura."

Aku hanya terbengong melihatnya keluar dengan jalan yang agak cepat. Dan aku tak kuasa menahan tawaku saat melihat Sasori berlari cepat-cepat ketika melewati halaman, seolah ingin jauh-jauh dari apa yang ditakutinya.

Aku tersenyum.

Hah... kalau begini, aku bisa makin ketagihan untuk menggodanya.

-oOo-

Semenjak kejadian di ruang tamu rumahku waktu itu, hubunganku dengan Sasori-kun kembali membaik seperti sedia kala. Tentu saja aku senang. Selama berminggu-minggu menjauhi dan menghindarinya tentu merupakan hal yang menyiksa bagiku. Namun apa daya, egoku terlalu tinggi untuk meminta maaf terlebih dahulu.

Yah, tapi itu adalah masa lalu. Sekarang semua kembali seperti biasa.

Aku melangkahkan kakiku pagi-pagi itu, melintasi halaman sekolah. Entah apa yang terjadi, pengejaran fansgirl Sasori terhadapku secara drastis menurun frekuensi terjadinya. Meski keusilan mereka tak benar-benar secara total hilang, namun aku bersyukur akan mengurangnya tindakan brutal mereka terhadapku.

Heh? Apakah Sasori yang melakukan semua ini untukku? Apakah dia telah berbicara pada fansgirlnya tersebut? Jika iya maka, Ah! SO SWEET BANGET!

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.

Namun kebahagiaanku seketika pecah saat mendapati sebuah tangan menutup mulutku dari arah belakang.

Aku membelalakkan mata terkejut dan mencoba berteriak, namun apa daya, tak ada suara yang keluar sekecilpun dari mulutku karena tangan ini mendekap mulutku dengan kuat. Aku mencoba menendang ke belakang, namun gagal saat aku terburu di seret paksa oleh mereka menjauh dari tempatku semula.

Aku tentu saja memberontak. Tapi ternyata usahaku tidak berhasil karena kurasakan yang menculikku –kuanggap ini tindakan penculikan- ini lebih dari satu orang. Terlihat dari adanya dua tangan lain yang mengikat erat kedua tanganku di belakang punggungku.

Aku memasuki taman belakang sekolah. Sekolah yang masih sepi karena waktu masih menunjukkan pukul setengah enam, tentu saja membuat tindakan penculik ini lebih lancar karena tak ada yang melihat kami. Apalagi di taman belakang yang jarang dikunjungi siswa dikarenakan rumor hantu penghuni taman yang beredar di sekolah.

"Duh!" aku mengaduh sakit saat merasakan tubuhku terdorong paksa ke depan, membuatku terjatuh bersimpuh di tanah dengan kasar dengan lutut yang berdarah karena tergores keras dengan tanah.

Aku berbalik dengan cepat, siap menumpahkan amarah pada siapapun yang berani melakukan tindakan sebrutral ini kepadaku.

Dan aku tidak begitu kaget jika mendapati Shion-chan dengan dua orang temannya yang kini tengah berdiri berkacakpinggang di depanku sana.

"Apa yang kalian lakukan, hah?!" bentakku setelah aku mampu berdiri dan menatap lantang pada mereka. Rasa jengkel dan rasa sakit yang bercampur jadi satu, membuat rasa gentarku seketika menghilang dan tumbuhlah rasa berontak yang selama ini terpendam.

Shion-chan mendengus sembari menatapku dengan heran, "Aku tak tahu, apa yang dilihat Sasori-kun padamu, cewek bodoh."

"Lihat saja, rambutmu itu bahkan terlalu aneh untuk menjadi rambut manusia," ujar temannya yang berambut coklat bergelombang.

Aku menggeram dan mengepalkan kedua tanganku sembari berkata lirih dan penuh penekanan di tiap kata, "None of your concern, bitches!"

PLAK!

Aku perlahan mengangkat tangan dan mengelus pipiku yang terasa nyeri dan panas akibat tamparan keras yang baru saja kuterima. Aku memejamkan mata sembari menggeram, sebelum akhirnya perlahan aku menolehkan lagi kepalaku yang secara paksa terpalingkan ke samping akibat tamparan tadi.

PLAK! PLAK!

Beli satu, dapat dua!

Aku menyeringai puas saat melihat Shion-chan memegangi kedua pipinya yang kini telah memerah, dengan setitik darah di ujung bibir kirinya. Ia dan kedua temannya menatapku dengan pandangan terkejut dan tak percaya pada awalnya, namun berubah menjadi pandangan marah dan geram pada akhirnya.

"Beraninya kau!"

"Itu yang kau dapatkan!" balasku keras, "Selama ini... Selama ini aku selalu diam, kan? Tapi semua ini sungguh keterlaluan dan aku tak tahan lagi! Aku tak mengerti apa yang ada di otak kalian, hingga berpikir untuk menjadikan Sasori-kun layaknya barang publik yang wajib dimiliki bersama! Hadapi kenyataan bahwa dia milikku dan berhentilah mengganggu kami!" teriakku menumpahkan unek-unek yang selama ini kupendam.

Sesaat mereka terdiam, menatapku dengan pandangan terkejut.

"Haruno, kami minta kau segera berpisah dengan Sasori-kun," ujar teman Shion-chan yang lain, "Kami sebenarnya tidak ingin melakukan ini padamu, tapi kami juga tidak rela jika pacar Sasori-kun adalah cewek sepertim–."

"Dan kalian pikir Sasori-kun lebih pantas mendapatkan cewek binal dan brutal seperti kalian?" potongku segera, "Hah. Mana mau Sasori-kun bersama 'cewek plastik' seperti kalian?!"

BRUKH!

Aku kembali mengaduh saat tubuhku kembali terdorong ke tanah. Belum sempat aku menghilangkan rasa sakitku, ketika kedua mataku terbelalak terkejut melihat si cewek berambut coklat bergelombang mengangkat tinggi-tinggi sebuah balok kayu dan mengarahkannya padaku.

"Mati kau!"

"GYAAAAAAA!"

Aku memejamkan mata dengan erat. Perasaan takut seketika menyergap tubuhku dan menjadikannya beku bahkan untuk menghindar. Dengan pasrah dan gentar, aku menunggu rasa sakit yang akan terasa akibat pukulan tersebut.

BRUKH.

Namun, setelah beberapa saat aku memejamkan mata, rasa sakit itu tak kunjung datang juga.

Maka, dengan perasaan heran campur terkejut, aku perlahan membuka mata dan kedua mataku tersebut langsung terbelalak lebar saat melihat seseorang tengah terduduk bersimpuh sembari mencondongkan tubuhnya ke arahku.

Sasori-kun.

Aku membelalak ngeri mendapati kenyataan bahwa ia baru saja melindungiku. Ia menerima hantaman balok dari teman Shion-chan dan menyelamatkanku.

Dan sebagai gantinya, ia yang harus merasakan sakit. Aku bisa melihatnya memejamkan mata dengan erat. Tubuhnya bergetar. Mulutnya menggeram. Dan... dan... darah. Darah merah kental yang mengucur dari kepalanya. Menetes membentuk semacam jejak merah yang menuruni pelipis dan pipinya, kontras dengan warna wajahnya yang pucat.

"S..Sa..Saso...," aku tak pernah sempat meneruskan kalimat itu karena suaraku keburu hilang tertelan isak tangis yang mendadak keluar. Air mata seketika mengalir deras membasahi wajahku. Kedua mataku menatap ngeri dan sakit melihat wajah Sasori di depanku sana.

Tidak.

Bukankah harusnya aku yang seperti itu?

Aku masih menangis saat melihat perlahan Sasori membuka mata, untuk kemudian mendekatikan dan memelukku dengan erat. Sebelah tangannya mengelus lembut rambutku, dan ia berbisik lirih dan letih, "Kau baik-baik saja?"

Dan isak tangisku semakin keras. Bahkan di saat seperti ini ia masih mengkhawatirkanku? Bukankah ia yang sakit? Bukankah ia yang berdarah? Mengapa ia tidak mencemaskan dirinya sendiri? Mengapa ia malah menanyakan keadaanku di saat yang sama, semua tahu bahwa aku baik-baik saja?

Beberapa saat kami terdiam demikian. Dengan ia masih memelukku dan aku masih menangis di dadanya, sembari tanganku mencengkeram lemah kemeja seragamnya. Sampai pada akhirnya perhatian kami teralihkan saat mendengar suara lain yang menandakan bahwa kami tidak sendiri di sana.

"Sa-Sasori-kun? Ma-maaf. Ak-a-aku tidak bermaksud," teman Shion-chan yang tadi mengangkat balok kayu, berkata lemah, mirip cicitan tikus yang menghadapi kucing kelaparan. Balok kayu telah otomatis terlepas dari tangannya untuk kemudian menghantam tanah.

Dengan perlahan, Sasori mengajakku untuk berdiri dari posisi terduduk kami. Ia menggenggam erat tangan kananku dan meremasnya lembut, mencoba menenangkanku dan mengatakan secara tersirat bahwa semua akan baik-baik saja.

Kulihat wajah tiga cewek itu begitu pucat. Mereka menatap horor pada kami dan bahkan Shion-chan telah menitikkan air mata. Tubuh mereka gemetar, mungkin oleh rasa takut dan tidak percaya bahwa mereka telah melukai orang yang sama sekali tak pernah ingin mereka sakiti.

"Sa-Saso—"

"Aku hanya mengucapkan ini satu kali, selamanya," Sasori memotong ucapan Shion-chan. Nada suaranya pelan dan penuh penekanan. Akupun sampai dibuat terkejut dan tak mampu berbicara saat melihat ia menatap ketiga gadis di depannya dengan pandangan geram. Wajahnya yang teraliri darah, semakin membuatnya terlihat menciutkan keberanian bersamaan dengan tatapan matanya yang tajam. Giginya gemeretak dengan rahang terkatup rapat, membuatnya semakin terlihat menakutkan.

Aku nyaris tidak percaya.

Sasori-kun yang begitu inosen itu bisa berubah sedemikian menakutkan seperti ini jika sedang marah.

"Kutegaskan," lanjutnya dengan nada yang masih pelan dan penuh tekanan, "Aku mencintai Sakura dan Sakura mencintaiku. Ini semua sudah cukup keterlaluan dan jangan pikir aku tak akan bisa melakukan hal yang lebih menyedihkan terhadap kalian, tak peduli kalian cewek atau bukan," ia berhenti untuk menggeram dan kemudian kembali berkata dengan jauh lebih keras, "ENYAHLAH!"

Dan semua itu cukup untuk membuat Shion-chan dan yang lain tersentak kaget, untuk kemudian mereka berlari menjauh terburu-buru setelah sebelumnya mengucapkan berulang kali kata maaf.

Sepeninggal mereka, aku kembali menatap Sasori dengan pandangan tak percaya campur terkejut.

Benarkah ini dia?

Sekalipun tadi ucapan dan tatapannya terlihat menakutkan, tapi... sungguh...

Dia terlihat keren...

"AW! ADUH! SAKIT BANGET!" jeritnya tiba-tiba, secara sadis menghancurkan pesona kerennya yang sempat terlihat tadi.

Ia langsung jatuh terduduk dan memegangi kepalanya sembari terus mengaduh. Aku tentu saja panik dan dengan insting, langsung mengambil sapu tangan dan botol berisi air dingin yang ada dalam ranselku.

"Coba kubersihin," ujarku sembari terduduk di sampingnya.

Kupegang kepalanya dan kusandarkan dengan lembut di bahu kananku. Sementara itu, aku langsung membasahi sapu tanganku dengan air dingin sebagai bekalku itu, lalu mengusapkannya secara perlahan ke bagian kepalanya yang terluka.

"Aw, sakit," desisnya lirih.

"Tahanlah," ujarku pelan sembari sebelah tanganku mengusap lukanya dengan sapu tangan, dan tanganku yang lain membelai lembut helai merahnya, "Air es akan cepat membantu menutup lukamu."

Sesaat kami isi dengan kesunyian tanpa kalimat yang terucap. Hanya terdengar sesekali guyuran air pada sapu tanganku dan suara desisan kesakitan dari Sasori.

Setelah beberapa saat, barulah aku membuka suara, "Kenapa kau lakukan ini? Kau bisa mati, tauk!"

Kudengar ia terkekeh pelan, lalu semakin menyamankan kepalanya untuk bersandar di bahuku dan berucap lirih, "Karena kau cewekku. Dan bukankah aku pernah bilang bahwa aku akan melindungimu?"

"Tapi kau terluka," bantahku cepat.

"Asal kau baik-baik saja, tak apa."

Aku hanya terdiam. Terlalu terharu mendengar ucapannya barusan.

Asal aku baik-baik saja?

Tak kuasa menahan rasa haru ini, aku langsung memeluknya dengan erat. Mendekapnya kuat seolah aku tak ingin melepaskan dan kehilangannya. Air mata yang baru saja terhenti, kini mulai mencair lagi dan lagi-lagi kemejanya kembali basah oleh cairan bening asin milikku itu.

"Maafkan aku, Sasori-kun. Gara-gara aku, kamu terluka seperti ini. Tidakkah aku merepotkan? Jangan-jangan benar ucapan mereka, aku tak pantas untukmu," ujarku lirih dan tertekan di sela isak tangisku.

Menyesali semua keadaan ini. Menyesali sikapku yang sempat meragukan ketulusannya. Dan mengutuk diriku sendiri yang selama ini hanya menudingnya sebagai sumber dari semua masalah yang kuterima.

"Aku juga minta maaf," bisiknya hangat di telingaku. Ia semakin merapatkan pelukannya saat berkata, "Aku selalu sibuk dalam duniaku sendiri, tanpa tahu bahwa kamu berjuang mempertahankan hubungan kita. Dikejar di sana-sini, diancam, diteror, sekolah pake penyamaran segala. Kau tahu? Kau kuat sekalipun semua orang membenci hubungan kita," kurasakan dahiku tersentuh oleh sesuatu yang lembut yang kupikir adalah bibirnya, "Kau hebat. Aku mencintaimu."

Sejenak aku terhenyak.

Semua kata-kata itu... apakah benar semua itu ia yang mengucapkannya? Apa aku tak salah dengar?

Dia... menghiburku?

Dan... dia bilang... dia mencintaiku?

Aku tersenyum. Sebuah perasaan lega dan indah tiba-tiba menyeruak kuat di dalam sini. Untuk pertama kalinya, aku mendengar kalimat itu terucap langsung dari bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia menyatakan perasaannya kepadaku dengan kata-kata secara lisan.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa begitu bahagia.

"Sasori-kun!" teriakku gemas sembari menerjangnya dengan pelukanku, hingga kini ia terbaring di tanah dan tertindihi olehku, "Kata-katamu tadi dewasa sekali! Kau tahu? Aku mencintaimu! Sangatsangatsangatsangat mencintaimu!"

"Sa-sa—"

Aku tak memberi kesempatan untuknya untuk selesai bicara karena mulutnya langsung terbungkam saat secara tiba-tiba aku menciumnya. Bibir, dahi, pipi, hidung, mata secara bertubi-tubi.

Bodo amat apa kata orang.

Aku hanya tengah dilanda rasa bahagia dengan orang yang kucintai.

Itu saja.

"Tu-tunggu, Sakura."

Dan oh ya, aku pernah bilang 'kan, kalau aku suka menggodanya? Apalagi jika wajahnya memerah demikian.

Hm.

TamaT


Well, ini sejatinya sudah saya ketika dari jaman kapan tauk. Dan saya baru nyadar bahwa saya belum update fic ini. Berhubung sekarang kuliah saya sudah memasuki 'masa-masa neraka' yang sangat ekstra meminimalisir waktu saya untuk ber-FFn ria, saya update dan sekalian tamatin fic ini.

There might be a sequel or omake, but I am not sure I could give it a shot. Saya akan berusaha untuk membuatnya—entah kapan; can't promise :/

Berhubung ini chapter terakhir, mohon untuk kesediaan lebih untuk mereview :3

Critism and comment are whole-heartedly appreciated.

Thank you.


March 9, 2013

~yukeh~