special thanks
Kuro19Usagi, shiinonome, Silence Of Fear, Akira Yasuhiro, AkemiAmaterasu, creativeactivesrs, Namika Tatsuya, amada17, sonedinda, Akihisa Funabashi, Nekuro Yamikawa, Avirin Vivie, Kie2Kei, vipTenshou, Harada Ayumi-chan, YandereHachan24
dan kamu yang tentunya udah buka halaman ini!

disclaimer
Sharing this night together adalah lagu zaman 70-an yang di buat dan dinyanyikan oleh Dr. Hook dan diaransemen ulang oleh Elliot Yamin. Versi yang dinyanyikan disini adalah versi Elliot Yamin. (baca sambil dengerin lagunya sangat dianjurkan)

warning
misteri tentang tokoh barunya disimpen dulu yah.
fluffy (gagal) Miku-Len. Yeah, persiapkan diri Anda untuk mual dengan segera!
alurnya bakalan lebih cepat lagi deh kayaknya yah. semoga semua tokoh dapat penjelasan dan peran yang pas!


berry blue
(sendok keduabelas)


Kaito duduk di beranda rumahnya, menatap rumah Miku yang gelap tanpa lampu yang dinyalakan. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi kenapa sahabatnya itu belum muncul di rumahnya?

Pemuda biru itu menghela napas panjang. Dia memang pergi ke pertandingan Miku untuk menontonnya. Dia ingat, pertandingan begitu memanas dengan skor yang sama dan Miku terdesak.

Gadis itu hampir saja menyerah karena itulah Kaito berteriak memberikan semangat.

Sesuai harapannya, Miku mencetak poin dan tersenyum lebar. Rasanya, Kaito ingin segera berlari ke tengah lapangan dan memeluk gadis itu. Namun, sesuatu menahannya. Ponselnya berdering tanda seseorang yang berada di mobil memanggilnya.

Merasa itu adalah hal mendesak, Kaito segera berlari ke tempat parkir untuk mengecek keadaan Luka. Pacarnya itu duduk dengan muka yang ditutupi tangannya. Kelihatannya habis menangis.

Rasa panik segera mengisi relung hati Kaito. "Ada apa, Luka-chan?" Dia membelai lembut rambut Luka. "Apa yang terjadi ketika aku pergi?"

Kaito memang meninggalkan Luka sendirian di mobil karena gadis itu bilang udara terlalu panas dan Luka tidak suka permainan basket. Karena itulah, dia lebih nyaman berada di kursi lembut sedan Kaito dengan AC yang menyala.

Luka masih menutupi wajahnya, tapi Kaito dapat melihat bulir air mata turun dari pipi bundarnya. Kaito mengangguk pelan. "Maaf sudah memaksamu untuk datang kesini ya."

Gadis itu tidak memberikan respon apapun. Hanya terus menangis tanpa henti. Akhirnya Kaito memasukan kunci dan mulai memutar gigi mobil. Sekilas matanya menangkap sosok biru kehijauan yang berlari-lari kecil, namun dia segera membuang pikiran itu.

Miku pasti sedang merasakan euforia kemenangannya bersama anggota tim basket yang lain... terutama dengan Len tentunya.

Kaito mendesah pelan dan mulai memundurkan mobilnya ke luar dari area itu.

Saat berada tepat di depan rumah keluarga Megurine, Luka sudah berhenti menangis, namun masih tidak ingin mengatakan apapun kepada Kaito. Gadis itu meraih gagang pintu mobil Kaito dan ketika kakinya sudah berada di luar mobil, Kaito dapat mendengarnya berbisik pelan, "maaf ya, Kaito-kun."

"Eh? Luka-chan nggak salah kok." Kaito tersenyum lembut. "Justru aku yang minta maaf karena sudah membatalkan acara kencan kita dan justru datang ke pertandingan membosankan itu."

Luka hanya tersenyum sekilas sebelum akhirnya menutup pintu mobil.

Dan di berandanya, Kaito duduk sambil menatap bintang yang ada di langit. Dulu biasanya dia akan duduk bersama Miku, menghabiskan semangkuk es krim sebagai perayaan kemenangan pertandingan. Atau mereka bisa duduk di pinggir pantai sambil tertawa lebar.

Namun, sekarang, Miku merayakannya bersama orang lain.

Tidak ada Miku-Kaito atau Kaito-Miku sekarang.

Yang ada hanyalah Miku-orang lain atau orang lain-Miku dan Kaito-tidak bersama siapapun.

.

.


.

.

Miku menghela napas panjang sambil menatap dengan penuh horor keadaan ruangan klub basketnya. Ruangan itu berantakan, dihiasi dengan berbagai macam kaleng minuman soda aneka rasa dan remah-remah makanan. Pesta kemenangan mereka memang dirayakan disana karena Leon sama sekali tidak menyiapkan tempat buat mereka, namun pembimbing klubnya telah menyediakan semua fasilitasnya.

Beberapa speaker yang sepasang dengan mic dan layar TV sudah dipinjam dari klub film sekolah. Mereka sudah siap untuk berkaraoke sepanjang malam! Dan memang itulah yang dilakukan oleh Miki serta Rin, mereka berdua segera memonopoli mic, mengabaikan teriakan protes Gacha yang ingin menyanyi.

Gumi dijemput oleh kakak misteriusnya setelah selesai bertanding dan dia berjanji akan menjelaskan segalanya pada Miku di kelas besok. Pasangan kembar Hitachiin juga langsung pulang dengan alasan mereka harus menyiapkan diri untuk pemotretan. Piko yang sebenarnya juga ingin pulang dipaksa datang ke sekolah oleh Rin, sama halnya dengan Iroha sendiri.

Kalau boleh jujur, Miku juga ingin pulang sekarang. Dia memang tidak ada seksi pemotretan ataupun kakak misterius yang datang mengunjunginya, tapi dia punya masalah lain yang menyangkut sahabat sejak kecilnya sekaligus cinta pertamanya.

Misteri tentang teriakan Kaito yang dia dengar masih belum terkuak. Sebenarnya, mudah saja untuk menanyakan hal itu. Miku tinggal meraih ponselnya dan menghubungi maniak es krim itu.

Tapi segalanya tidak semudah itu! Kalau memang itu semua bukan halusinasinya, semua akan lebih mudah. Miku tinggal tertawa sambil mengucapkan terima kasih. Masalahnya adalah bagaimana kalau itu semua ternyata cuma halusinasi Miku yang menginginkan keberadaan Kaito saat itu. Pemuda biru itu pasti akan berpikiran macam-macam dan mungkin saja si bodoh Kaito juga bisa menebak kalau Miku sudah keluar dari batas persahabatan itu, terjun bebas ke jurang bernama cinta.

Gadis itu tidak punya pilihan lain selain menunggu Kaito menceritakan kalau dia memang datang menonton pertandingan Miku.

"Kenapa menghela napas terus?"

Sebuah suara menyadarkan Miku, membuat gadis itu menoleh ke belakangnya, dan menemukan kaleng soda di pipinya yang terasa dingin. Senyuman secerah matahari segera menyambutnya. "Jangan murung tahu! Kita menang kan?"

Miku memutar bola matanya dan meraih kaleng soda itu. Dia menatap sosok di hadapannya. "Memangnya aku kelihatan murung begitu?"

"Uh-huh!" Sosok itu mengangguk pelan hingga membuat kunciran pirangnya bergerak. "Kamu berkali-kali menghela napas panjang. Tahu nggak sih, menghela napas panjang itu bisa mengurangi umur!"

"Teori bodoh, Len! Sejak kapan kau percaya pada hal-hal seperti itu?" Miku meletakkan minuman kalengnya di sebelahnya, sama sekali tidak tertarik untuk meminum cairan karbonat itu.

"Itu benar lho. Menghela napas adalah tanda ketidakbahagiaan dan ketidakbahagiaan dapat membawa seseorang ke jurang kematian lebih cepat daripada seharusnya." Len duduk di sebelah Miku dan menatap wajah manis sang gadis. "Jadi... kenapa dari tadi kau menghela napas terus?"

Miku masih diam. Dia sama sekali tidak tertarik untuk bicara dengan rivalnya sekarang ini. Paling-paling Len hanya akan membuatnya tambah sebal.

"Hei, Miku! Kau dengar aku?" Len mengibaskan tangannya di depan muka Miku. "Heeei!"

Merasa kesal, Miku segera menarik tangan Len, mencengkramnya dan memberikan tatapan setajam mungkin pada Len. "Dengar, bodoh!"

"Lantas kenapa kau sedih?" Len tersenyum. "Jangan-jangan kau malu karena poin yang kucetak lebih banyak dibandingkan kau ya?"

Miku melepaskan tangan Len dan membuang muka. "Aku nggak sedih, karena itu pergilah! Aku hanya sedang ingin sendirian!"

"Hemm... begitu ya..." Len menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti, tapi dia masih saja duduk di sebelah Miku, menatap sang gadis dalam-dalam.

"Terus kenapa kamu nggak pergi-pergi juga?" teriak Miku akhirnya.

"Oh... kamu mau aku pergi?"

Rasanya Miku ingin menjambak kunciran Len sekarang juga.

"Baik-baik... aku pergi..." Len akhirnya berdiri. Dia tidak mau membuat jarak antar dirinya dan Miku semakin lebar lagi. Kalau dia masih terus memaksa, Len yakin Miku akan benar-benar marah dan semakin membencinya.

Namun, langkahnya terhenti ketika sudut matanya menangkap ekspresi sedih kembali terbentuk di paras manis Miku.

Len menarik napas panjang. Dia tidak suka melihat ekspresi sedih di wajah cantik Miku. Miku lebih cocok tersenyum dari pada cemberut seperti itu. Dengan memberanikan diri, Len kembali berdiri ke sebelah Miku. Gadis rivalnya itu tentu saja sadar dengan keberadaannya. Kerutan di dahinya semakin bertambah. "Mau apa lagi?"

Untuk beberapa saat, Len hanya diam memandangi wajah Miku yang duduk di hadapannya, hingga akhirnya dia tersenyum dan mulai menyenandungkan sebuah nada. Dia mulai bernyanyi. "You're looking kinda lonely girl... would you like someone new to talk to?"

Ekspresi Miku berubah heran. Kenapa pula Kagamine Len mendadak harus menyanyi di sebelahnya?!

"Oh yeah... Alright!"Len membentuk jarinya dengan lambang 'OK' sambil tersenyum lebar. "I'm feeling kinda lonely too if you don't mind... can I sit down here beside you..." Si pirang dikuncir itu berjongkok di sebelah Miku dan menunggu respon dari Miku, namun sang gadis hanya diam memandanginya. Dia hanya tersenyum dan kembali bernyanyi, "Oh yeah... Alright!"

"Len!" seru Miku. "Berhenti bernyanyi, bodoh! Suaramu bisa membunuhku!" Namun, kapten tim basket putra itu hanya tersenyum dan masih terus bernyanyi.

"If I seem to come on too strong, I hope that you will understand. I say these things 'cause I'd like to know if you're as lonely as I am... and if you mind... Sharing the night together..."

Len mengulurkan tangannya dan meraih jemari Miku. "Woah, yeah! Sharing the night together... Woah, yeah! Sharing the night..." Dia menarik tangan Miku, memaksa gadis berkuncir dua itu berdiri dari tempatnya. Tangan kiri Len mengenggam tangan kanan Miku sementara tangan kanan Len melambai ke udara seolah dia sedang melakukan nyanyian konser. "We could bring in the morning girl if you want to go that far... and if tomorrow finds us together right here... the way we are..." Si pirang tersenyum dan melepaskan tangan Miku. "Would you mind..."

Dia menundukkan badan dan melambaikan tangan kanannya seolah dia adalah pangeran yang ingin mengajak dansa putri kerajaan. "Would you like to dance with me and hold me, you know I want to be holding you!"

Mata Miku melebar tak percaya, namun dia akhirnya tertawa juga. "Len, kau bodoh sekali!" Meskipun berkata seperti itu, Miku meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanan Len.

Si pirang langsung melanjutkan kembali nyanyiannya. "Oh yeah... Alright! 'Cause I like feeling like I do and I see in your eyes that you're liking it too!" Len mengenggam jemari Miku sambil tersenyum. "Oh yeah... Alright!" Dia menarik Miku ke dalam gerakan lingkaran dan mereka berdansa. Bukan dansa romantis berdekatan, hanya tarian asal dengan langkah kaki tak beraturan. Apapun jenis tariannya, mereka melakukannya dengan senyum dan tentunya kedua mata yang tidak bisa lepas dari mata sosok di hadapannya.

" I'd like to get to know you better... is there a place that we can go... where we can be alone together and turn the lights down low... and start..."

Mereka berdua masih melanjutkan dansa bodoh mereka dengan senyuman. "Sharing the night together... Woah, yeah! Sharing the night together... Woah, yeah! Sharing the night..."

Len melambatkan langkahnya hingga mereka berdua benar-benar berhenti sekarang. "We are sharing the night together..."

Miku tertawa pelan. Tangannya masih digenggam erat oleh Len, tapi dia tidak keberatan soal itu sekarang. Entah kenapa, berada di dekat Len saat ini terasa begitu nyaman... begitu menenangkan...

Akhirnya, gadis berkuncir dua itu menarik tangannya dan tersenyum pada Len. "Suaramu itu ya... benar-benar deh!"

"Kenapa?" Len menatap Miku dalam-dalam. "Merdu?"

"Oh, yang benar saja, Len! Kalau yang seperti itu disebut merdu, aku sama sekali nggak bisa bayangin pujian untuk Elliot Yamin yang nyanyi lagu itu barusan!"

Mereka tertawa pelan. Rasanya benar-benar aneh. Beberapa hari yang lalu, mereka masih saling meneriakkan kata benci, tapi sekarang mereka bisa tertawa bersama.

Apakah itu artinya mereka berdua sudah menembus batas 0,00001 mili itu sekarang?

"Jadi, apa kau sudah merasa baikan sekarang?"

Tawa Miku terhenti. Gadis itu diam menatap sosok pirang yang masih saja tersenyum dengan sorot mata lembut. "Arigatou, Len."

"Kalau ada sesuatu yang membuatmu murung, jangan pernah ragu untuk menceritakannya padaku! Apapun yang terjadi, aku akan menolongmu!"

"Memangnya kau siapa? Pahlawan bertopeng, eh? Konyol, ah!"

Len membusungkan dadanya. "Aku bisa jadi apapun yang kau mau! Aku bisa jadi pahlawan bertopeng, mutant dengan kekuatan khusus, superhero dengan kekuatan ajaib... macam-macam!"

"Oh ya? Kalau begitu, apa kelemahanmu, wahai pahlawan super? Batu crypton?"

"Kau."

"Eh?"

"Kau adalah sumber kekuatan dan kelemahanku."

Dahi Miku berkerut. Gadis itu membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu...

"Itu romantis sekali!"

Len dan Miku yang sedari tadi bertatapan segera menoleh ke arah pintu klub basket mereka. Disana Rin berdiri dengan mata berbinar-binar, diikuti oleh Miki-Iroha yang menyeringai jahil, Gacha yang tertawa sambil memegangi perutnya, dan Piko yang tersenyum.

"Apa yang kalian lakukan disini?!" seru Len. Dia menatap semuanya dengan tajam.

"Memangnya kau sendiri sedang melakukan apa, Len?" Piko malah bertanya. "Merayu Kapten putri, eh?"

Miki menepuk pundak Piko sambil mengacungkan jempolnya. "Nice, Piko!"

"Aduuh, Len..." Kali ini Rin yang bicara. "Kamu so sweet banget deh!"

Len meremas jemarinya. Dia kesal setengah mati, tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa sekarang. Lagipula, dari kapan orang-orang bodoh itu memperhatikannya?!

Tapi, yang paling ditakutkan oleh Len adalah Miku. Bagaimana kalau gadis itu marah padanya... tolong... dia tidak mau melangkah mundur kembali ke batas gelembung tipis itu lagi!

Dengan takut-takut, iris birunya melirik sosok di sebelahnya. Miku berdiri dengan ekspresi datar, seolah dia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja disampaikan oleh anggota klubnya. Apakah itu berarti Miku terlalu lambat?!

"Ah, Rin, aku mau pulang sekarang. Boleh tidak?" Hanya itu yang diucapkannya. Diam-diam, Len mendesah lega.

"Sekarang, Miku? Tapi kau belum memberikan jawaban!" Si pirang itu menatap sosok kembarannya dan sahabatnya bergantian.

"Jawaban atas apa?"

Semua anggota klub basket saling berpandangan. Meskipun Len tadi tidak mengatakannya secara benar-benar langsung, tadi itu juga salah satu bentuk pernyataan kan?

"Miku-tann," sahut Iroha cepat. "Kalau kamu kayak begini terus, kasihan Len-senpai!"

"Kasihan?" Miku menoleh ke Len. "Kasihan kenapa? Memangnya aku melukaimu?"

Len menggeleng pelan sambil tersenyum. "Nggak ada apa-apa kok. Umm... kamu mau pulang sekarang? Kuantar ya."

"Nggak perlu! Aku bisa naik bis kok!" Lagi-lagi penolakan yang sama.

"Mou!" Rin meletakkan tangannya di pinggang. "Kamu boleh pulang sekarang asalkan Len mengantarmu!"

"Aku beneran nggak apa-apa pulang sendirian!"

"Udah, Miku!" Miki tersenyum. "Manfaatin aja Len sepuasnya! Selama dia sendiri yang mau nganter kamu pulang, nggak masalah kan?"

Miku menatap Len dan menghela napas panjang. "Baiklah, tapi ingat ya, aku nggak manfaatin kamu."

"Aku tahu kok." Len mengangguk pelan. "Aku tahu."

Rin kemudian memberikan tas Miku dan Len pada masing-masing orangnya. Si pirang berbando itu tersenyum dengan lebar kepada adik kembarnya. "Manfaatkan momen ini sebaik-baiknya ya!"

Len memutar bola matanya sambil tertawa. "Aku tahu kok."

"Tahu apa?" tanya Miku tiba-tiba.

"Nggak ada apa-apa!" Rin mendorong Miku dan Len barengan. "Udah, kalian pulang saja secepatnya! Pokoknya kalau ada hal yang seru, ingat untuk selalu memberitahuku! Oke? Bye, Miku. Bye, Len." Mata birunya masih mengikuti calon pasangan itu hingga menghilang saat berbelok ke koridor yang lain.

"Beneran deh, aku sama sekali nggak nyangka Len-kun se-agresif itu! Padahal dulu dia nggak pernah mendekati Miku-chan segencar itu kan?" sahut Nekomura pelan.

"Yah, mungkin juga karena Miku lagi kosong sekarang ini. Dulu kan ada sahabat sejak kecilnya itu yang selalu mendampinginya. Kurasa dulu Len belum punya keberanian, tapi entahlah." Miki tersenyum. "Yang jelas, kalau mereka jadian, kita pasti akan ditraktir kan?"

"Setuju soal itu!" Gacha mengangguk bersemangat. "Oke, sekarang... aku mau nyanyi!" Dia segera berjalan cepat—bahkan hampir berlari—ke ruang klub yang diikuti oleh teriakan protes oleh Iroha dan Miki.

Rin sama sekali tidak punya minat untuk bernyanyi. Dia justru ingin pulang secepatnya sekarang. Piko yang masih berdiri di depan pintu menatapnya dalam-dalam dan mulai bicara.

"Kamu nggak apa-apa?"

"Maksudmu?" Rin berbalik, menatap wajah Piko dengan lurus. Dia bahkan memaksakan diri tersenyum.

"Kalau Len beneran jadian sama Miku, kamunya gimana?"

"Apanya yang gimana? Tentu saja aku senang kan?"

Piko menyentuh bagian kepalanya, membiarkan rambut peraknya berantakan. "Sepupuku juga ada yang kembar cowok-cewek seperti kalian dan aku tahu betapa mereka saling bergantung dengan kembaran mereka yang lain. Kalau seandainya Len pacaran dengan Miku nantinya, apa kamu nggak merasa kesepian?"

Rin menatap Piko dalam-dalam. Sesuatu dalam dirinya membenarkan ucapan Piko barusan, tapi sesuatu yang lain juga dalam dirinya menyalahkan hal itu mati-matian.

"Apa yang kau bicarakan, Piko?" Rin tetawa pelan. "Aku nggak akan merasa kesepian kok."

"Hemm... begitu ya..." Piko menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Kau tahu, sebelum aku dekat denganmu dan Len, aku sering dengar gosip tentang kalian. Katanya kalau mau pacaran dengan Len harus lewat persetujuanmu dulu. Beberapa mantannya Len bahkan berpikir kalau kau adalah orang pertama yang ingin mereka putus. Kupikir kau semacam nggak rela kalau Len seolah direbut dari sisimu karena yah, kalian memang selalu bersama sejak kecil kan?"

"Maksudmu... aku terlibat kasus incest begitu?"

"Bukan! Bukan... maksudku bukan itu!" Piko kelihatan kesulitan menyampaikan pendapatnya. "Umm... perasaan yang kumaksud itu... perasaan seperti ditinggalkan sendiri. Bukankah kalau Len punya pacar, dia akan selalu bersama dengan pacarnya itu, terus kamunya gimana?"

Rin tertawa pelan. "Akan kuklarifikasi ya, Piko. Pertama, masalah gosip itu. Aku memang selalu bersikap seperti itu karena aku mau Len pacaran dengan cewek yang baik. Aku nggak ingin Len pacaran dengan cewek cuma karena si ceweknya menganggap Len keren, pintar, atau sebagainya. Itu artinya dia sama sekali nggak serius. Aku kakak Len, wajar bukan kalau aku ingin melindunginya?"

"Lalu kau setuju kalau Len sama Miku?"

"Aku kenal Miku dari SMP dan kesan pertama yang kupikirkan adalah: Miku sangat manis. Aku suka dia dan aku ingin Len bahagia." Rin menatap Piko sambil tersenyum. "Karena itulah aku selalu ingin menjodohkan mereka berdua karena kupikir mereka pasti cocok sekali!"

"Kalau begitu Len suka sama Miku karena kamu yang menjodohkan mereka dong?"

Jeda sejenak dan kemudian Rin menggeleng pelan. "Kurasa tidak. Len itu bukan tipe yang bisa dipengaruhi, jadi aku yakin perasaannya pada Miku memang benar-benar karena dia menyukai Miku. Bukan karena pengaruhku." Rin berjalan maju hingga dia tepat berada di depan Piko. "Lalu, masalah kedua yang kau katakan tadi..."

Jeda sejenak. Piko menunggu Rin melanjutkan, tapi gadis itu hanya tersenyum.

"Ah... kau marah karena aku menanyakan hal itu ya?"

Rin menggeleng dengan senyuman di bibirnya.

"Umm... nggak usah kau jawab deh kalau gitu." Piko membalikkan badan, namun tangan Rin menahannya. Kembaran sahabat baiknya itu menatapnya dalam-dalam hingga membuat wajah Piko memerah. "Aa—aku nggak memaksamu untuk menjawab kok. Lagipula maaf karena aku sudah menanyakan hal itu."

"Aku akan baik-baik saja kok kalau pun Len sudah menemukan orang yang dia sukai. Selama Len bahagia, aku juga akan bahagia," sahut Rin pelan.

"Umm... baguslah kalau begitu." Piko mengangguk cepat. Wajahnya masih memerah. Dia mencoba menarik tangannya, tapi Rin masih menahannya.

"Kenapa kau menanyakan hal itu, Piko?"

Piko masih mencoba menarik tangannya, tapi tidak bisa. "Aku hanya ingin memberitahumu kalau kamu nggak sendirian. Ada banyak orang di sampingmu. Lagipula, aku yakin Len tidak akan pernah meninggalkanmu. Biar bagaimana pun, kau adalah saudara kembarnya, belahan jiwanya yang terlahir di saat bersamaan ke dunia ini."

"Hee... Ucapanmu manis sekali, Piko!" Rin menatap Piko dalam-dalam, membuat pemuda perak itu semakin memerah. "Boleh kuklarfikasi sedikit ucapanmu barusan?" Gadis pirang itu mengedipkan sebelah matanya. "Mungkin, maksud kamu itu aku nggak akan pernah merasa sendirian karena ada kamu yang akan selalu mendampingiku, begitu?"

Iris perak Piko melebar dan dia membuang muka. Bahkan Rin bisa melihat rona merah hingga telinganya. Benar-benar menggemaskan, tapi sudah cukup dia menggoda Piko sekarang.

Gadis pirang itu melepaskan tangan Piko dan tersenyum. "Terima kasih karena sudah peduli padaku ya!"

Wajah Piko benar-benar merah seperti buah tomat. "Aku nggak—Aaah! Terserah kau saja lah!" Dia membuang muka dan berjalan masuk ke dalam ruangan klub, meninggalkan si gadis pirang itu sendirian.

Rin masih tersenyum.

"Kamu nggak sendirian."

"Aku tahu itu kok!" bisiknya pelan sambil menutup kedua matanya. "Aku tahu."

.

.


.

.

Miku berjalan mengikuti Len menuju tempat parkir. Dia tidak tahu kenapa, tapi sosok rivalnya itu sekarang sudah menjadi begitu normal baginya. Seolah-olah perasaan benci yang dipendam Miku selama ini menguap begitu saja.

Itu aneh, tapi Miku sendiri juga tidak mengerti kenapa dia berpikiran begitu sekarang. Apakah karena Len sudah berkali-kali mengantarkannya pulang? Entah kenapa, keberadaan Len sekarang jadi begitu mirip dengan keberadaan Kaito.

Ketika Miku membutuhkannya, Len selalu ada di sampingnya. Mendampinginya dan mendukungnya—walaupun kadang bahasa yang digunakannya tidak terlalu bersahabat.

Kalau Miku ingat lagi, Len memang selalu begitu dari awal. Bersikap dingin, namun perhatian. Apakah itu salah satu hal yang membuat para fans Len memujanya?

Yah, itu memang salah satu sikap yang lumayan manis, Miku harus mengakui hal itu.

"Kenapa tersenyum?"

Tiba-tiba suara itu mengusik pikiran Miku. Gadis itu bahkan tidak sadar bibirnya membentuk cekungan ke atas.

"Aku menertawakan kebodohanmu!"

"Hah?"

"Habisnya, kalau kamu terus-terusan nganter aku pulang, fansmu bakalan marah lho! Mereka nggak akan suka lagi sama Kapten basket yang katanya keren itu!"

Len tersenyum. "Pertama, aku nggak begitu peduli dengan perasaan suka fansku, karena aku memang nggak mengharapkan itu. Aku cuma butuh satu orang spesial saja untuk balas menyukaiku, nggak butuh yang lainnya. Dan kedua, aku memang keren!"

"Narsis!" seru Miku.

Len tertawa.

Lihat... mereka berdua begitu santai seolah masa-masa permusuhan mereka tidak pernah terjadi. Apakah ini karena rasa lelah yang mereka rasakan setelah bertanding sehingga otak mereka berdua tidak mampu berpikir secara normal?

Len mendadak berhenti dn merogoh sesuatu dari tasnya. "Miku, ada sesuatu yang ingin kukembalikan padamu."

"Apa?" Gadis berkuncir dua itu menatap tangan Len yang masih sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.

"Aneh... rasanya aku selalu membawanya deh... umm... ah... ini dia!" Pemuda pirang itu tersenyum sambil mengangkat tangannya.

Bahkan tanpa sinar lampu hanya disinari oleh bulan di atas sana, Miku dapat mengenalinya. Itu adalah gelang... gelang yang pernah diberikan oleh Kaito, oleh-oleh dari Kyoto. Gelang yang katanya adalah lambang persahabatan mereka.

Kata friends forever yang terpahat di bandulnya membuat hati Miku sesak.

"Ketinggalan di UKS waktu kau pingsan dulu. Maaf karena aku lupa mengembalikannya."

Gelang yang mewakili persahabatan mereka.

Kenapa gelang itu justru muncul lagi sekarang? Apakah itu semua untuk menyadari Miku kalau dia telah bersalah karena telah melanggar batas persahabatan itu?

"Miku?" Suara Len menyadarkannya. "Ini punyamu kan? Atau jangan-jangan aku mengambil barang punya siswi lain lagi."

"Punyaku kok," sahut Miku pelan, tapi rasanya dia tidak ingin mengambil gelang itu. Benda itu seolah punya perjanjian untuk menjaga agar hubungan Miku-Kaito hanya sebatas persahabatan. Karena itulah, sudah tugas gelang itu untuk menyadarkan Miku sekarang!

Seharusnya, Miku sadar. Dia bahkan sudah mengatakan pada Gumi kalau dia ingin menyerah, tapi tetap saja, sesuatu di dasar hatinya meminta lebih. Dia ingin memiliki Kaito untuk dirinya sendiri, walaupun Miku tahu itu salah, dia tetap tidak bisa menghentikan hal itu.

Len tersenyum dan meraih tangan Miku. "Kenapa? Kau lupa caranya pakai gelang?" Dia tertawa pelan dan membuka pengait pada gelang itu. Jemarinya menyentuh lembut permukaan kulit Miku saat dia memasangkan gelangnya. "Lihat... cantik sekali kan?"

Miku menatap pergelangan tangannya dengan tatapan kosong, terutama pada bagian bandul biru kehijauannya yang bertuliskan friends forever. Mendadak kata berbahasa Inggris itu menjadi sebuah mantra kutukan baginya.

.

.


.

.

Kaito hampir saja tertidur ketika kemudian dia mendengar deru motor dari depan rumahnya. Mata birunya menatap penuh waspada ke motor sport putih yang membawa dua penumpangnya. Tanpa perlu melihat wajahnya, Kaito sudah bisa menebak siapa dua sosok itu.

Salah satunya adalah sahabat kecilnya yang sudah dikenal Kaito dengan baik dan merupakan objek dari rasa resah yang dirasakannya beberapa hari terakhir. Sosok lainnya adalah penyebab dari semua rasa resah Kaito.

Pemuda biru itu segera bangkit dari tempatnya begitu motor sport putih itu menghilang di kegelapan malam. Dia bahkan hampir tersandung saat berlari ke depan pintu pagarnya.

"Miku!" panggil Kaito, tepat sebelum Miku melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Gadis itu menoleh ke arahnya dan seketika Kaito lupa dia harus mengatakan apa.

"Hai... Kaito." Miku melambaikan tangannya, namun Kaito tidak dapat melihat ekspresi yang terbentuk di wajahnya.

Kaito menarik napas panjang. Dia harus mengatakan segalanya pada Miku. "Aku minta maaf!"

Jeda sejenak sampai akhirnya Miku bicara kembali. "Karena kau tidak datang ke pertandingan?"

"Ya... maksudku..." Suara Kaito melemah. "Aku datang sekitar lima detik... lalu..."

Ucapan Kaito terputus ketika pintu tetangga depan rumahnya terbanting. Miku sudah masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun.

Kengerian memenuhi dada Kaito. Pemuda biru itu segera berlari ke depan rumahnya, bahkan tanpa mengenakan alas kaki. Dia berlari hingga mencapai pintu rumah Miku, menempelkan kepalanya di pintunya dan berteriak, "Miku! Miku dengar, aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf!"

Namun, di dalam rumah, Miku terisak sendirian di balik pintu. Jadi, suara itu memang hanya halusinasinya saja. Kaito memang tidak datang ke pertandingan itu. Dia sendiri kan yang mengatakannya?

Apakah aku semenyedihkan itu hingga harus memohon agar kau datang melihatku?!

"Miku!"

Miku bisa merasakan keberadaannya dari balik pintu, tapi dia tidak bisa membuka pintu yang memisahkan mereka berdua itu. Dia tidak bisa menunjukkan wajahnya pada Kaito karena jika pemuda itu melihatnya, semua perasaan Miku pasti akan terbongkar.

Padahal Miku bersumpah dia akan menyerah terhadap Kaito.

"Miku... kau dengar aku kan? Miku... aku minta maaf... aku... aku terlalu bodoh, Miku. Aku terlalu bodoh dan terlalu mengecewakanmu... aku minta maaf... aku..."

"Nggak..." sahut Miku dari dalam. Tidak. Dia tidak boleh begini terus karena Kaito pasti akan terus-terus menyalahkan dirinya sendiri. "Kamu nggak salah, Kaito."

"Tapi aku nggak datang nonton kamu dari awal! Sudah pasti aku salah kan?"

"Nggak..." Aku yang salah karena sudah berharap lebih darimu!

"Miku... aku janji! Aku akan selalu datang menonton pertandinganmu! Aku janji!"

Aku terlalu banyak memanfaatkan kebaikanmu!

Miku mengigit bibir bawahnya dan menghapus air matanya. Saat itulah, dia menyadari rasa dingin saat bandul gelang yang dia gunakan menempel di kulit wajahnya.

Tulisan friends forever itu terasa seperti mantra.

Mereka berdua—dia dan Kaito—memang dari awal ditakdirkan hanya menjadi teman. Karena itulah, Kaito memilih Luka dibandingkan dirinya. Tidak ada yang salah soal itu karena mereka memang ditakdirkan untuk berteman saja.

Tidak ada yang salah. Miku hanya berhalusinasi tentang perasaan cinta itu. Ya... dia dan Kaito hanya teman... sahabat biasa... tidak akan pernah lebih dari itu.

Miku menarik napas panjang dan berdiri. Dia tidak boleh menyusahkan Kaito dengan perasaan berlebihannya itu. Dia harus melangkah mundur kembali ke batas itu. Apapun yang terjadi, dia harus kembali melangkah mundur.

Gadis itu menarik grendel pintunya, merasakan udara malam saat pintunya terayun terbuka. Dia bisa melihat Kaito dengan wajah sedihnya.

Lihat, kau bahkan membuat sahabat baikmu berwajah sedih!

Miku menatap Kaito dalam-dalam dengan senyuman tipis. "Kaito, aku minta maaf."

Namun, si pemuda seolah tidak mendengarkannya. Dia balas menatap Miku dengan ekspresi keras dan sorot mata pernuh permohonan. "Nggak! Aku yang harus minta maaf!"

"Bukan begitu." Miku menggeleng pelan dan meraih tangan Kaito. "Aku janji aku tidak akan menyusahkanmu lagi! Aku janji aku nggak akan melewati batas itu lagi! Aku janji!"

"Hah? Apa yang kau bicarakan? Batas apa yang kau maksud barusan?"

"Batas persahabatan kita!" Miku tersenyum semakin lebar. Dia tahu dia harus menahan rasa perih di dadanya mati-matian. "Dan soal pertandingan tadi, aku menang lho! Hebat kan?"

Sorot mata Kaito masih sedih. "Maaf aku hanya datang di detik—"

"Nggak perlu minta maaf!" potong Miku cepat, bahkan dia tidak menyimak sama sekali ucapan Kaito barusan. "Cuma segitu aja nggak akan membuatku marah padamu!"

Mata biru laut Kaito mulai berbinar. "Benarkah?"

"Benar!" Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan yakin, membuat kuncir duanya bergoyang. "Traktir aku di Baskin Robbins, semuanya beres!"

"Aah, Miku!" Kaito menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku sayang padamu!"

Pupil mata Miku melebar, tapi kemudian dia tersenyum. Tidak... itu hanya ucapan sayang yang disampaikan oleh seorang sahabat.

"Ya..." sahut Miku pelan. "Aku juga sayang padamu, sahabat."

Miku menutup mata dan balas memeluk Kaito. Apapun yang terjadi nanti, Miku tidak akan pernah menyerah untuk kembali melangkah mundur. Apapun yang terjadi, dia akan tetap memaksa menyusup masuk ke dalam lapisan gelembung tipis itu kembali!. Terasa menyesakkan di awal, tapi dia yakin, dia pasti terbiasa akan segala hal menyakitkan ini.

Di sisi lain, pemuda biru itu tersenyum lebar. Sesuatu di dalam dirinya terasa mendesak keluar, memaksanya untuk tetap mendekap Miku di dalam lengannya untuk lebih lama lagi. Dia tahu tidak seharusnya dia merasakan hal ini, tapi sesuatu itu mendorongnya, memaksanya untuk melanggar batas persahabatan itu.

Walaupun Kaito tidak mengerti apa sesuatu itu disebut, selama Miku bisa berada di pelukannya, dia akan melakukan apapun juga.

Kaito mengeratkan pelukannya dan berbisik pelan di telinga Miku. "Aku sayang padamu, Miku."

.

.

.bersambung


a.n.
untuk seluruh ujian yang telah saya hadapi, semoga kalian memberi saya dampak ip yang bagus ya! :)
tolong Tuhan!

akhirnya muncul juga peran buat gelang yang seolah nggak penting itu. berasa agak norak sih sebenarnya, tapi yaudahlah. haha. yang kepikiran pas awal cerita berry blue cuman itu, harusnya diganti aja jadi gantungan ponsel atau apalah. maless~

maaf atas keterlambatan update, kesibukan sungguh tidak bisa ditolerir lagi. bahkan di hari libur kayak gini masih ada tugas yang harus diselesaikan.. T_T

saya buat cerita oneshot dengan judul Better than you, Worse than me. yang menceritakan awal pertemuan Len dan Miku disini. yang berminat untuk baca, silahkan cek profil saya yah. hehe. promosi!

yah, silahkan buat yang berminat mengisi kolom di bawah ini. sampaikan semua hal yang kamu inginkan disini! :)

:2005-2012: