Disclaimers: Kishimoto Masashi


Yamato menyeruput tehnya, lalu mendesah, menikmati sensasi cairan hangat yang mengaliri tenggorokan dan melegakan dadanya. Kepenatan yang ia rasakan sedikit berkurang dan ia siap untuk menyelesaikan berkas-berkas yang diletakkan di meja kerjanya.

Kebanyakan rekan kerja Yamato sudah meninggalkan kantor kepolisian Konoha, meskipun sebagian lagi masih bertahan karena harus menangani kasus. Malangnya, Yamato termasuk salah seorang di antara polisi yang harus lembur malam itu.

Detektif muda itu mengamati foto-foto seorang korban pembunuhan sambil berdecak kesal. Mengapa ia harus menangani kasus yang lebih besar lagi sebelum ia berhasil menyelesaikan sebuah kasus? Hanya dalam tiga jam, ia harus menghadapi dua kasus besar. Satu kasus percobaan pembunuhan dan yang satu lagi kasus pembunuhan. Bayangkan itu.

Foto-foto di tangan Yamato tersebut adalah foto-foto tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan terhadap Mizuki, saksi kunci terhadap kasus percobaan pembunuhan—tabrak lari—yang menimpa Umino Iruka, guru SMA Konoha. Mizuki ditemukan tewas dengan sembilan luka tusukan saat polisi sedang mencarinya untuk dimintai keterangan mengenai insiden yang menimpa Iruka.

Hal yang semakin membuatnya tampak berkaitan dengan insiden yang menimpa Iruka, pembunuhan sadis ini terjadi di rumah Mizuki. Sebelum Mizuki ditemukan tewas, sebuah mobil—mobil yang sama dengan mobil yang menabrak Iruka—tampak terparkir di seberang rumah Mizuki. Polisi—dalam hal ini adalah Yamato—menduga bahwa pembunuhan ini adalah upaya pihak lain untuk menutup mulut Mizuki agar tidak berbicara mengenai kasus tabrak lari yang menimpa Iruka.

Tapi mengapa? Apa yang pihak lain tersebut sembunyikan hingga harus mencabut nyawa seseorang?

Yamato berharap bahwa Iruka tidak akan diganggu lagi selama dirawat di rumah sakit karena kepolisian sudah menempatkan anggotanya di rumah sakit untuk menjaga Iruka. Mencegah kemungkinan Iruka mendapatkan serangan berikutnya yang barangkali kelak akan benar-benar mengakhiri hidupnya.

Dengan demikian, Yamato dapat memusatkan perhatiannya pada kasus yang menimpa Mizuki. Sebab, ia yakin bahwa dengan menemukan pembunuh Mizuki, maka kasus yang menimpa Iruka juga akan terpecahkan.

Yamato mengambil gelasnya, hendak menyeruput tehnya lagi. Ia berharap, sedikit kehangatan akan membuat konsentrasinya tidak terpecah. Apalagi, saat ini ia mendengar ribut-ribut dari ruang kerja atasannya.

Sang atasan, Namiashi Raidou, sedang menenangkan ayah angkat dari seorang remaja korban penculikan yang dilakukan oleh teman sebayanya. Yamato tidak mengenal korbannya, namun ia pernah melihat wajah ayah angkat korban penculikan tersebut di media massa. Kalau tak salah, ayah angkat remaja tersebut adalah seorang pengusaha yang namanya cukup terkenal. Namun karena juga dikenal tertutup dan juga eksentrik, maka tak banyak yang mengenali wajahnya.

Namun, bicara mengenai apakah kau mengenal seseorang atau tidak, maka malam itu juga, akhirnya Yamato bertemu dengan seseorang yang—baru saja—ia kenal. Ia melihat seorang pria jangkung yang sebelumnya ia temui di rumah sakit—Hatake Kakashi—menghampiri ruang kerja Raidou dan langsung terlibat pembicaraan serius dengan Raidou dan ayah korban penculikan. Sementara sang korban sendiri—seorang remaja tampan dengan wajah tanpa ekspresi—tampak lesu di salah satu sudut ruang kerja Raidou. Seorang pemuda berkaca mata menemaninya sambil sesekali mengusap punggung remaja tersebut.

Tak lama kemudian, seorang remaja—dengan tangan diborgol ke belakang—tampak melintas di depan ruang kerja Raidou. Seorang polisi berseragam memeganginya.

Melihat remaja yang tengah ditahan tersebut, Kakashi dan korban penculikan segera menghampirinya. Wajah mereka tampak cemas. Prihatin, juga menyesal.

"Naruto…. A-a-aku…." ucap sang korban penculikan, tersendat.

Remaja tahanan yang ternyata bernama Naruto tersebut memandang remaja korban penculikan itu. Wajahnya yang kini sendu menunjukkan bahwa ia sangat sedih dengan keadaan ini.

"Kuharap kau akan baik-baik saja untuk seterusnya, Teme. Cobalah untuk lebih berani, jangan mau disetir lagi oleh mereka," kata Naruto dengan nada ditekan agar tidak meledak.

Kata-kata Naruto membuat semua yang dapat mendengarnya tersentak. Ayah sang korban penculikan tampak tak senang mendengarnya.

Kakashi menghembuskan napas perlahan, lalu menyentuh pundak Naruto. Naruto menoleh, menatap gurunya.

"Aku berusaha sekuatnya untuk mengeluarkanmu dari masalah ini. Tabahlah. Orang tuamu sedang menuju ke mari. Jadi, jangan khawatir," kata Kakashi menenangkan Naruto.

Naruto tak menjawab. Ia membiarkan dirinya dibawa pergi menuju sebuah pintu. Kakashi dan Sasuke hanya dapat menatap dengan nanar kepergian remaja berambut pirang itu.

"Dia akan dibawa ke mana?" tanya sang korban penculikan pada Raidou.

"Malam ini dia akan diinapkan di sini. Tapi besok pagi, dia akan dipindahkan ke tempat lain. Kurasa kalian semua sudah tahu apa yang aku maksud," jawab Raidou lugas.

Sang korban penculikan segera menoleh pada ayah angkatnya.

"Ayah, tolonglah Naruto! Dia tidak menculikku! Aku yang ikut dengannya secara sukarela!" sergahnya.

"Dia membawamu pergi dari rumah kita secara diam-diam. Sasuke, dengan kondisimu yang seperti ini, membawamu pergi sama saja dengan menculikmu," jawab ayah dari sang korban yang ternyata bernama Sasuke.

"Kondisiku yang seperti apa, Ayah? Aku ikut dengannya secara sukarela."

Ayah Sasuke menggeleng dan berkata, "kau masih mengikuti terapi. Kau ingat itu, bukan? Itu artinya, kau tidak mampu untuk memutuskan sendiri apa-apa yang terbaik bagimu. Kau mengikuti Naruto dalam keadaan seperti itu"

"…ya. Tapi Ayah juga harus ingat, aku juga ikut mengurus perusahaan keluargaku."

"Itu bagian dari terapimu. Kesibukan akan membuat perhatianmu teralih dari keinginanmu untuk bunuh diri."

Melihat perdebatan antara ayah dan anak itu meruncing, Raidou segera menengahi.

"Pak Orochimaru, Sasuke, saya harap kalian tenang. Kasus ini dapat ditangani dengan cepat atau sesuai prosedur. Itu bergantung pada keputusan Anda sebagai pihak yang menuntut Naruto, Pak Orochimaru. Jika melihat keadaan putra Anda yang labil, memang benar, dia tidak bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Tapi Anda juga bisa mengambil keputusan berupa langkah mudah untuk mengakhiri kasus ini."

Semua pasang mata—termasuk Yamato yang menyimak dari mejanya—memandang Orochimaru, menunggu keputusannya. Namun hanya mata Sasuke dan Kakashi yang menatap tajam penuh harap akan mendengar keputusan yang menenangkan hati mereka. Sebab, kemerdekaan Naruto berada di tangan Orochimaru, ayah sang korban penculikan!

"Saya tidak bisa lagi membiarkan Naruto mengusik kehidupan anak saya, terlebih lagi seluruh keluarga saya," jawab Orochimaru datar.

Orochimaru memandang Kakashi, seolah memberi peringatan pada guru Naruto tersebut. Kakashi balas menatap tanpa menyembunyikan kegeramannya.

Sasuke menatap tak percaya. Hanya pemuda berkacamata—yang sebelumnya menemani Sasuke—yang tersenyum tipis. Dari meja kerjanya, Yamato ikut menyesal. Sebab, meskipun tak mengikuti dengan jelas duduk persoalannya, Yamato bisa melihat bahwa masalah ini sebenarnya bisa diselesaikan di luar ranah hukum.

"Nah, Sasuke, sampai kapan kau akan berdiam diri? Jangan berpikir bahwa kau mengorbankan dirimu dengan menutup mata hati dan mulutmu. Tindakanmu yang senantiasa berdiam diri hanya akan membawa kesengsaraan bagi orang-orang yang mencoba menolongmu, termasuk Naruto," kata Kakashi menahan emosinya.

Sasuke terperangah. Untuk beberapa saat, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhnya mulai bergetar. Makin lama getarannya semakin kuat hingga pada satu titik, Sasuke berteriak sekuatnya. Menumpahkan—barangkali—sebagian ganjalan yang menghimpit dadanya.

Mereka yang tersisa di kantor polisi tentunya dapat mendengarkan teriakan pilu Sasuke, tak terkecuali Yamato. Namun tak ada yang menutup kuping karena teriakan itu bukanlah teriakan yang mengganggu indera pendengaran. Teriakan itu memang mengganggu, namun hanya menyerang mata hati manusia….

Orochimaru dan si pemuda berkaca mata bertindak dengan cara segera meninggalkan kantor polisi. Tentu saja dengan membawa Sasuke. Sasuke meronta, mencoba melawan. Namun sia-sia. Ia berhasil diseret menjauh dari hadapan Kakashi, Raidou dan tentu saja, Yamato yang masih bertahan di balik meja kerjanya.

Setelah ditinggalkan oleh Orochimaru sekeluarga, Kakashi terlibat pembicaraan serius dengan Raidou, membuat Yamato menunggu lebih lama. Padahal, ia ingin berbicara dengan Kakashi mengenai… kasus Iruka. Ya, kasus Iruka. Tentu saja begitu.

Rupanya penantian Yamato tak sia-sia. Segera setelah beranjak meninggalkan kantor Raidou, Kakashi menyadari keberadaan Yamato dan melambaikan tangan. Yamato tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menghampiri Kakashi.***


Sasuke belum berani menampakkan dirinya di sekolah lagi. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan barunya atau karena ia memang belum cukup sehat karena berkali-kali mencoba bunuh diri. Atau, karena Orochimaru melarangnya.

Bukan.

Rasa bersalah. Itulah alasan Sasuke yang sebenarnya. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan Naruto dituduh menculiknya. Juga, merasa bersalah karena hingga saat ini, tak mampu membuka mulut dan bertindak berani seperti halnya Naruto.

Oleh sebab itu, daripada segera bersiap berangkat ke sekolah, Sasuke malah memilih untuk tetap berbaring di tempat tidurnya.

"Aku tidak bisa seperti dirimu, Dobe…." bisik Sasuke.

Sasuke memeluk kedua kakinya lalu membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Ia melakukan hal itu bukan karena merasa kedinginan, melainkan karena saat ini, hatinya sedang diliputi oleh berbagai macam perasaan yang ia sendiri tak tahu bagaimana cara menerangkannya.

Mengapa begini jadinya?

Naruto harus mendekam di penjara justru karena hendak menolongnya. Ini tak dapat diterima, namun nyatanya terjadi. Dan saat ketidakadilan ini terjadi, Sasuke—seperti biasa—tak dapat berbicara banyak. Membela dirinya sendiri saja ia kesulitan, bagaimana mau membela Naruto?

Naruto—dengan segala kekurangannya—telah berkorban sangat besar demi Sasuke. Perbuatan yang sangat mulia. Namun di sisi lain, tidak dapat dipahami oleh Sasuke.

"Mengapa harus iri padaku, Naruto? Sebenarnya, dengan keberanianmu itu, akulah yang merasa iri padamu," bisik Sasuke lagi, mengingat kembali percakapannya dengan Naruto sesaat sebelum Naruto ditangkap oleh kepolisian Konoha.

"Kamu punya segalanya, Teme. Sebelum kecelakaan itu, kamu punya keluarga yang hebat dan terpandang. Kamu juga dikenal pintar dan terkenal di sekolah. Semua orang menyukaimu. Berbeda denganku yang hidup sendirian, dikenal bodoh dan hamper tak punya teman. Dulu, jika aku melihatmu, rasanya aku ingin membenamkan diriku ke dalam tanah agar aku tidak perlu lagi melihatmu dan merasa iri lagi," tutur Naruto.

Sasuke tercengang. Namun ia menunggu kalimat Naruto berikutnya.

"Kuakui, dulu aku ingin sekali menggantikan tempatmu. Bahkan setelah kamu kehilangan hampir semua anggota keluargamu, aku tetap merasa iri. Kamu dengan cepat menemukan keluarga baru. Sementara aku, yah, aku masih menjadi seorang anak yang hidup sendirian. Semuanya terlalu sunyi hingga aku sampai pada kesimpulan bahwa bagi dunia, tidak ada bedanya jika aku masih berada di dunia ini atau tidak…."

Sasuke terhenyak dan dengan ragu-ragu bertanya, "jadi kau…."

"Ayah angkatku menemukan aku sedang termangu di tepi sebuah jembatan. Tidak jauh berbeda dengan apa yang sering kamu lakukan akhir-akhir ini…. Yah, waktu itu aku sudah sangat putus asa dan berniat mengakhiri perasaan itu."

Sasuke kini tertegun. Jadi Naruto juga pernah mencoba… bunuh diri?

"Tapi tenanglah. Itu cerita lama. Waktu itu hampir tidak ada yang ayahku lakukan untuk mencegahku bunuh diri. Mungkin, beliau sendiri tidak tahu niatku. Tapi dari perhatiannya padaku, aku jadi merasa bahwa dunia ternyata masih bias ramah padaku. Sebelum ayahku menghampiriku, tidak seorang pun peduli padaku. Bahkan, kupikir jika aku jadi melompat, barulah mereka akan menaruh perhatian padaku."

"Lalu…?"

"Beliau mengajakku pulang bersamanya. Seperti dalam cerita anak-anak, aku diterima dengan baik oleh ibu angkatku. Tidak lama kemudian, mereka mengadopsiku. Memasukkan aku ke sekolah yang sama denganmu dan membuatku memiliki kesempatan mengenal orang-orang baik seperti Pak Kakashi dan Pak Iruka."

"Aku juga mengenal Pak Kakashi dan Pak Iruka, tapi…."

"Itu karena kamu tidak membuka hatimu pada mereka! Pada kami!" sergah Naruto sambil mengguncang bahu Sasuke.

Sasuke terperangah.

Dan kini, Sasuke tampaknya masih membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir….***


Pagi itu para penghuni penjara Konoha dibuat tersentak dengan bunyi sirene yang sangat nyaring. Mereka yang sedang berkumpul di lapangan tengah usai apel pagi, segera mendekati pagar berkawat yang cukup tinggi. Menunggu sebuah peristiwa yang terbilang lazim namun selalu menarik perhatian mereka : kedatangan penghuni baru penjara tersebut.

Dari sekian banyak narapidana dan tahanan yang menunggu di balik pagar, hanya segelintir yang memilih melihat dari kejauhan. Mereka enggan berdesak-desakan untuk menyaksikan kedatangan para penghuni baru tersebut. Dua orang di antaranya adalah Itachi dan Kisame.

"Bagaimana sidang pembebasan bersyarat-mu?" tanya Kisame tanpa melepaskan pandangan dari pemandangan di depan pagar.

"Kau juga tahu kapan sidang itu akan dilaksanakan. Padahal aku ingin cepat-cepat keluar dari sini agar bisa membantu adikku," jawab Itachi, juga tanpa memandang Kisame.

"Kurasa mereka akan berpegang teguh pada vonis pengadilan. Dengan jumlah orang yang terbunuh olehmu, memang sebaiknya kau tinggal di sini lebih lama sampai masa hukumanmu usai," balas Kisame dengan nada mengejek.

Itachi mendengus. Kesal, tapi tak dapat berbuat apa-apa.

"Kau masih belum menjawab pertanyaan-pertanyaanku, Kisame," kata Itachi lagi.

"Aku berhak untuk diam, bukan?" balas Kisame, lagi-lagi dengan nada mengejek, "lagipula, kau punya bukti apa mengenai apa yang aku lakukan terhadapmu di dalam sel tempo hari?"

Itachi tak menjawab. Sambil memendam emosinya agar tak meledak, ia memandang ke luar pagar kawat.

Mobil tahanan merambat masuk ke lingkungan penjara setelah gerbang utama dibuka dan berhenti tak jauh dari pintu masuk ke bangunan utama penjara. Tak lama kemudian, satu per satu para penumpangnya turun. Tangan dan kaki mereka diborgol sehingga tidak berdaya.

Melihat para calon penghuni penjara tersebut, sebagian besar tahanan dan narapidana mulai berbuat iseng. Dari balik pagar kawat, mereka mengganggu para pendatang baru itu dengan ejekan dan godaan yang memuakkan. Kebanyakan berupa perkataan cabul dan tak senonoh, namun mengundang gelak tawa di antara mereka.

Itachi tak pernah menyukai humor ala penghuni penjara tersebut. Oleh sebab itu, ia bertahan di tempatnya, melihat keadaan dari kejauhan. Namun, hal itu tak berlangsung lama.

Saat penumpang terakhir mobil tahanan tersebut turun, Itachi terbelalak. Tak percaya pada penglihatannya sendiri. Oleh sebab itu, ia bergegas mendekati pagar kawat, menembus kerumunan tahanan dan narapidana yang sedang 'menyambut' para penghuni baru. Kisame hanya mengamati tingkah Itachi tanpa berusaha mencari tahu penyebab Itachi bertingkah demikian.

Itachi akhirnya mendapatkan tempat untuk melihat para pendatang baru tersebut dengan lebih baik. Kini, ia harus meyakini penglihatannya sendiri.

"Naruto…? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Itachi berdesis.

Namun, tentu saja Naruto tak dapat mendengar pertanyaan Itachi. Keriuhan suasana membuatnya tak dapat mendengar dan menyadari keberadaan Itachi di dekatnya. Remaja itu tampak cemas dan tak percaya diri. Ngeri saat menyadari bahwa nasib telah membawanya ke dalam penjara yang akan merenggut sebagian hidupnya. Kebebasannya. Juga, barangkali, sebagian kemanusiaannya….

Itachi tak melepaskan pandangan dari Naruto hingga rombongan penghuni baru tersebut memasuki sebuah lorong. Menyesali sedalam-dalamnya karena kelak harus melihat Naruto dalam balutan seragam penjara yang kusam.

Sosok Sasuke terbayang di pelupuk mata Itachi. Naruto adalah 'penghubung' antara diri Itachi dengan Sasuke. Jika kini Naruto harus ikut mendekam di penjara, lantas bagaimana lagi cara Itachi 'berhubungan' dengan Sasuke?

Itachi tertunduk lesu. Semakin menyesali keadaan ini.***

TBC-cough-


A/N:

Scene Naruto pas pertama kali tiba di penjara Konoha sy contek dari scene di The Shawshank Redemption. Di scene itu Red pertama kali ngeliat Andy yang nantinya akan jadi sahabatnya. Tapi sy ga asal copas kok. Soalnya, cerita fic ini kan beda banget dengan cerita film fave sy itu.