Oke! Halo! Akhirnya kesampean juga bikin ni fic! XD

Ketahuilah, bahwa saya juga seorang gamer (?) dan fic ini terinspirasi dari game Final Fantasy X, (jalan ceritanya juga sama, sih). Mengalami kesulitan dalam pembuatan chapter ini karena saya ga suka bola. Bagi yang ga main Final Fantasy, ini bukan cerita tentang bola, kok. Ini sejenis prolog! Yosh, happy reading, and please review!^^

Warning : AU, OOC, ga jelas, abal, de el el.


Listen to my story. This maybe our last chance.


This is Our Story

by : ariadneLacie

.

BLEACH

by Tite Kubo

.

Final Fantasy X

by Squaresoft (sekarang Square Enix)


Chapter I

"Disaster."


Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Kurosaki Ichigo, seorang pemain di sebuah tim sepak bola di Karakura. Ya, hari ini adalah pertandingan final antara tim-nya, Karakura Rangers dengan Karakura Attack.

Pertandingan kali ini diadakan malam di Karakura Stadion, stadion paling besar di Karakura. Wajar saja, karena ini adalah pertandingan yang sangat penting.

Suasana di sekitar stadion sudah sangat ramai. Ichigo pun memutuskan untuk mengendap-ngendap melalui kerumunan orang tersebut, dan berniat mengambil jalan belakang.

"Lihat! Itu Ichigo-samaa!" seru salah seorang perempuan yang kebetulan melihat Ichigo yang baru saja berniat menghindari kerumunan.

"M-manaa?" seru perempuan yang lain. Mereka pun buru-buru menengok ke arah yang ditunjuk perempuan tadi.

"Kyaaa! Ichigo-samaa!" setelah mereka melihat sosok Ichigo di bawah sebuah pohon beringin, mereka pun segera meninggalkan gerbang dan berlari menuju Ichigo. Ichigo sweatdrop.

"Hei, hei!" seru Ichigo sambil berlari menghindari kejaran para fans-nya itu.

Ya, Ichigo adalah anggota tim yang paling terkenal dibanding yang lainnya. Wajar saja, Ichigo memiliki wajah yang sangat tampan, dan badan yang atletis. Ditambah lagi warna rambutnya sangat unik, oranye. Dikejar-kejar fans-nya sebelum masuk ke stadion adalah hal yang biasa sebelum pertandingan.

Setelah berlari sekitar lima menit, akhirnya Ichigo sampai ke pintu tersembunyi di belakang stadion. Ia pun segera masuk.

Ichigo langsung berlari kecil untuk mencari ruang ganti tim-nya. Ia menyusuri koridor berlantai pualam sambil melihat kanan-kiri. Dan akhirnya ia menemukan pintu yang bertuliskan 'Karakura Rangers'. Ia pun segera membuka pintu tersebut dan melihat ke dalam.

Ruang ganti itu berisi sebuah lemari besar yang hampir memenuhi satu bagian dinding. Di tengah ruangan terdapat meja kayu besar berbentuk persegi empat, dikelilingi dengan kursi panjang. Di sebelah kiri ruangan terdapat pintu kecil. Sepertinya itu kamar mandi. Di salah satu sudut ruangan juga terdapat pot tanaman.

"Yo! Ichigo! Kau lama sekali," sapa Keigo. Ia langsung menarik Ichigo masuk ke dalam.

"Yo, Keigo. Tadi aku sempat dikejar-kejar dulu," jawab Ichigo sambil meletakan barang bawaannya di atas meja.

"Ayo cepat ganti baju," kata Ishida sambil menunjuk lemari.

"Baik, baik." Ichigo pun berjalan menuju lemari yang terbuka dan mengambil seragam tim-nya. Ia pun pergi ke kamar mandi.

Lima menit kemudian, Ichigo sudah selesai berganti baju. Ia mengenakan kaus putih, celana jeans berwarna hitam, dan sepatu kets berwarna hitam juga. Tetapi, berbeda dengan yang lainnya, ia memakai jaket bertudung berwarna hitam dengan garis abu di pinggirannya.

"Kenapa kau selalu memakai jaket itu setiap pertandingan, sih? Kau jadi beda sendiri, tau," protes Mizuiro.

"Ini kenang-kenangan dari ayahku, tak mungkin aku tinggalkan kan?" kata Ichigo.

Ayah Ichigo, Kurosaki Isshin, adalah seorang pemain sepak bola juga dulunya. Ia adalah pemain yang legendaris. Tetapi, tiga tahun yang lalu ia menghilang tanpa jejak. Ichigo yang sudah ditinggal oleh ibunya menjadi sebatang kara.

Dan, pertandingan pun dimulai. Tim Ichigo bermain dengan sangat baik. Bahkan mereka sudah mencetak 1 gol.

"Yosh, kalau seperti ini terus… kita pasti menang!" seru Ichigo. Keigo pun mengacungkan jempol dan mengoper bola pada Ichigo.

"Masukan langsung! Ichigo!" seru Keigo.

Ichigo menerima operan tersebut. Lalu ia melambungkan bola tersebut setinggi dadanya, dan memasang kuda-kuda, bersiap untuk menendang. Dan begitu bola tersebut sampai ke dekat lututnya, Ichigo menendangnya sekuat tenaga.

Bola tersebut melesat sangat cepat, melewati beberapa pemain yang berjaga, dan juga melewati kiper… GOL!

"Yeah!" seru Ichigo sambil mengacungkan jempolnya pada tim-nya di belakangnya. Tetapi, Ichigo tersentak begitu melihat pemandangan di belakangnya.

Langit sudah hampir tertutupi oleh suatu monster aneh. Monster tersebut berbentuk seperti naga berwarna hitam. Kedua sayap hitamnya membentang lebar. Wajahnya tertutupi oleh sebuah topeng putih. Ichigo dapat melihat topeng tersebut menyeringai. Dan perlahan membuka mulutnya.

"A…a…" Ichigo sangat kaget dengan kemunculan makhluk aneh tersebut. Ia sampai tidak menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya sudah berlarian keluar dari stadion.

"…go!"

Sekarang di depan mulut monster tersebut ada sebuah gumpalan cahaya berwarna hitam. Sepertinya monster tersebut akan menembakan gumpalan cahaya tersebut.

"Ichigoo!" seru seseorang sambil mencengkram bahu Ichigo. Ichigo yang baru tersadar dari kaget-nya langsung menengok ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Toushiro?"

"Ayo segera pergi dari sini!" seru Toushiro. Toushiro tampak kacau dan kotor. Sweater biru tua-nya penuh debu, begitu juga dengan celana jeans hitam-nya. Ia seperti baru menerobos bangunan runtuh. Tetapi, Ichigo melihat Toushiro membawa sebuah benda aneh di punggungnya.

"Kemana? Dan apa itu?" tanya Ichigo.

"Ikuti saja aku!" kata Toushiro. "Oh iya, kau bawa ini!" Toushiro pun memberikan sebilah pedang berwarna hitam pekat.

"A-apa ini?" tanya Ichigo heran. Kenapa Toushiro tiba-tiba memberinya pedang?

"Ini untuk bertahan hidup. Karena setelah ini… hal pasti akan menjadi rumit dan sulit." Toushiro pun berlari menuju pintu keluar stadion.

"Hah? Apa maksudnya?" Ichigo pun akhirnya menyusul Toushiro. Meskipun ia belum mengerti apa yang sedang terjadi.

Setelah sampai di luar stadion, Ichigo mendengar suara ledakan dari dalam stadion. Ia pun dapat melihat banyak makhluk-makhluk aneh beterbangan dari dalam stadion. Sepertinya monster tadi sudah menembakan gumpalan cahaya hitamnya.

Ichigo pun melihat sekeliling. Ia dapat melihat bahwa kota Karakura sudah hancur. Bangunan-bangunan hancur. Banyak mayat dan orang terluka di depannya.

"Ichigo, waspada," kata Toushiro sambil mengayunkan pedangnya ke samping Ichigo. Nyaris mengenai Ichigo. Tetapi ternyata Toushiro baru saja menebas makhluk yang mirip monster tadi, hanya saja versi kecil.

"Sebenarnya… apa itu?" tanya Ichigo.

"Itu namanya Menos, kalau yang kecil-kecil itu namanya Hollow," jelas Toushiro.

"Lalu?" tanya Ichigo.

"Pokoknya sekarang kita harus bertahan hidup," kata Toushiro. "Ayo, ikuti aku."

Tanpa pikir panjang, Ichigo pun mengikuti Toushiro. Mereka terus berlari sambil sesekali berhenti untuk menebas hollow. Dan akhirnya mereka sampai di sebuah bukit.

Pemandangan dari atas bukit sungguh mengerikan. Setengah bagian kota sudah terbakar. Ichigo dapat melihat kepulan-kepulan asap dari gedung-gedung yang hancur. Dan, ia dapat melihat monster yang menjadi biang keladi kejadian ini di langit. Tubuhnya yang berwarna hitam hampir menyatu dengan gelapnya langit malam.

"Toushiro, kau tahu sesuatu tentang ini?" tanya Ichigo.

Toushiro hanya diam. Angin malam yang dingin berhembus melewati mereka. Dan perlahan menos mulai berbalik arah dan menghadap mereka berdua.

"T-Toushiro!" seru Ichigo panik.

Monster tersebut membuka mulutnya. Kali ini muncul gumpalan cahaya berwarna putih. Cahaya tersebut menyerap segala hal yang berada di sekitarnya. Bahkan Ichigo dan Toushiro juga.

"Toushiro! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ichigo panik. Ia berpegangan pada sebatang pohon besar. Sementara Toushiro terlihat tidak bergeming.

Toushiro pun menarik Ichigo. Lalu ia mendorong Ichigo dari bukit. Karena kehilangan keseimbangan, Ichigo langsung melayang menuju monster tersebut, tertarik oleh serapan cahaya putih.

"TOUSHIROOO!"


To be Continued


Review?