Thanks for the review, and here's your reply~

Wulan-chan : sip, sip, ni gue udah update ^^

Yuina Valkyrion : iyep, di ceritanya Tidus benci sama ayahnya, dan di cerita ini juga... maaf kalo ga keliatan benci-nya ya ==' hoho, heroin di FF X namanya Yuna :3

ichigo4rukia : hoho, tapi saya suka cerita yang agak miris #plak hmm, mungkin bakalan kayak FF X2 kok^^ soalnya saya juga sedih banget ngeliat endingya FF X D'8 #loh? Yah, sayangnya Ginjou udah muncul disini! Dan dia cuma jadi tokoh sampingan! WAHAHAHA! #eh

Zanpaku nee : hoho, nanti gue ingin bikin art cross-over Rukia versi pake baju Yuna deh :P

.

Etto, hari Senin nanti saya UAS, so, here's the new chapter yang mengecewakan. Eniwei, ada kesalahan teknis di chapter sebelumnya, ayah Ichigo ceritanya meninggal 10 tahun yang lalu (menurut Ichigo) bukan 3 tahun yang lalu. #plak


Listen to my story. This maybe our last chance.


This is Our Story

ariadneLacie

.

BLEACH by Kubo Tite.

Final Fantasy X by Squaresoft (sekarang Square Enix)

.

Warning : Based on FF X dengan modifikasi di sana-sini , AU , OOC , abal , typo(s)? DLDR , just enjoy.


Chapter V

"The Other Miko."


Pemuda berambut oranye tersebut menggeliatkan tubuhnya dan menarik napas dalam-dalam, menghirup udara segar pagi hari. Langit yang semula berwarna hitam pekat kini sudah tergantikan oleh warna biru cerah. Angin sepoi-sepoi berhembus, menerpa rambut oranye milik pemuda tersebut.

Telinganya dapat menangkap suara canda tawa dari berbagai penjuru. Ya, suara tangisan kini berganti dengan suara canda tawa para warga desa yang sedang bekerja. Suasana desa Unagiya sudah lebih baik dari kemarin.

"Yo, Ichigo," sapa Renji sambil menepuk bahu Ichigo.

"Yo, Renji," jawab Ichigo.

"Sekarang kita akan ke kuil. Ayo, jangan membuat Rukia menunggu," kata Renji. Ichigo mengernyit heran.

"Kuil? Memangnya disini ada kuil?" gumamnya.


Berkali-kali Ichigo menengok ke arah belakang. Memastikan tidak ada yang aneh dengan jalan yang baru saja dilewatinya. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres.

"Kenapa?" tanya Renji.

"Hah? Tidak," jawab Ichigo sambil nyengir kaku. Lalu ia pun memutuskan untuk tidak memperdulikan perasaan anehnya sejak tadi.

Untuk menuju kuil Unagiya, mereka harus melewati jalan setapak di sebuah hutan kecil. Penduduk desa membuat jalan setapak dari bebatuan agar membuat para miko yang akan berdo'a di kuil tidak tersesat. Diam-diam Ichigo mensyukuri keberadaan jalan setapak ini. Karena, berada di hutan ini saja sudah membuatnya merinding. Apalagi jika harus tersesat di dalamnya.

Memang, pohon-pohon disini besar-besar, dengan jarak satu sama lain yang cukup rapat. Membuat jalan setapak yang cukup kecil ini terasa seperti sangat sempit dan mencekam. Ditambah lagi sinar matahari seperti enggan masuk ke dalam hutan ini. Hanya sedikit yang berhasil menerobos masuk melalui sela-sela dedaunan pohon.

"Hollow! Hollow!"

Rombongan mereka langsung berhenti begitu mendengar seruan tersebut. Grimmjow menatap Renji dan Renji balas menatapnya. Pandangan mereka sungguh serius. Sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi.

"A-ada apa?" tanya Ichigo.

"Sepertinya ada hollow besar yang baru saja muncul. Jarang sekali ada yang berteriak seperti itu jika bertemu denan hollow biasa," kata Rangiku.

"Ayo!" seru Renji sambil berlari duluan. Grimmjow mengikuti di belakangnya.

"Kita juga sebaiknya pergi," kata Rangiku. Lalu ia menyusul Renji dan Grimmjow. Ichigo dan Rukia pun akhirnya mengikuti.

Setelah berlari sedikit, jalan setapak yang mereka lalui mulai melebar. Jarak pohon-pohon di samping mereka yang semulanya rapat menjadi agak renggang, memperlihatkan pemandangan di seberang hutan tersebut—meskipun hanya sedikit.

Dan akhirnya mereka sampai di ujung jalan setapak. Di ujung jalan setapak terdapat tangga batu lebar yang pendek. Sepertinya mereka sudah sampai di halaman kuil. Dengan tergesa-gesa mereka menaiki undakan tangga tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Halaman kuil cukup luas, dan berbentuk bundar. Lantainya terbuat dari batu yang berwarna abu-abu. Dan di tengah halaman tersebut terdapat suatu makhluk yang aneh. Makhluk tersebut bertopeng putih dengan ekspresi menyeringai. Badannya seperti badan singa, tetapi punggungnya mempunyai banyak tentakel yang sepertinya akan siap membelit kapan saja. Ichigo melihatnya dengan ngeri.

Grimmjow menyeringai. Ia pun mengeluarkan pedangnya dan berlari melesat menuju hollow tersebut.

Grimmjow tampaknya sangat lihai dalam bertarung. Ia berhasil menghindari seluruh serangan monster tersebut, bahkan hampir melukainya. Tetapi akhirnya Renji turun tangan ketika Grimmjow terpukul oleh salah satu tentakel hollow tersebut dan terlempar beberapa meter.

"Heaah!" seru Renji sambil melempar sesuatu. Bentuknya bulat, seperti bola. Bola tersebut ia lempar dalam jumlah yang cukup banyak, dan bola tersebut meledak ketika mengenai hollow tadi. Sepertinya bola itu adalah bom mini.

"Ice!" seru Rangiku sambil mengayunkan tangannya. Seketika hollow tersebut terselubung oleh es. Rangiku menyeringai senang melihat serangannya berhasil.

"Yosh!" Grimmjow bangkit dan melompat. Ia mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi. Tetapi tiba-tiba es Rangiku pecah dan hollow tersebut melecutkan tentakelnya menuju Grimmjow dan Renji. Grimmjow terbelalak, sementara Renji menghindar.

Di luar dugaan, tentakel yang hendak menyerang Grimmjow terpotong. Seperti baru ada sesuatu yang tak terlihat memotongnya.

"Kau tidak apa-apa?" kata Ichigo sambil nyengir. Pedang hitamnya berlumuran sedikit darah. Sepertinya yang tadi itu Ichigo.

Grimmjow mendarat dengan mulus. Ia memandang Ichigo dengan agak kesal melalui ekor matanya. "Uhh... ya, terima kasih," kata Grimmjow akhirnya. Lalu ia berbalik dan hendak melanjutkan pertempurannya, ketika Rangiku berteriak panik.

"Awas!" teriak Rangiku. Ternyata hollow tadi sudah dengan kecepatan penuh bersiap menerjang mereka. Ketiganya hanya terdiam menunggu sesuatu yang terburuk terjadi ketika sesuatu yang berwarna hitam berkelebat di depan mereka.

"Summon, Schiffer."

Sesuatu yang berwarna hitam itu mengeluarkan sabit besar berwarna hitam, dan dalam sekejap menebas hollow tersebut. Hollow itu pun menghilang menjadi sebuah bola cahaya seperti arwah kemarin.

Masih dalam keadaan tercengang, mereka akhirnya menyadari bahwa sesuatu yang berwarna hitam itu memiliki bentuk. Bentuknya seperti manusia, dan ia memakai jubah putih panjang, bersayap kelelawar besar, dan berwajah dingin. Itu adalah zanpakuto yang dipanggil Rukia waktu di Rukongai dulu.

"Kalian tidak apa-apa kan?" seru Rukia sambil berlari kecil kearah mereka. Rangiku pun mengikuti.

"Y...ya..." jawab Renji.

"Fiuh, kau tepat waktu, Rukia," kata Grimmjow sambil mengelap keringat di dahinya.

Rukia tersenyum lalu beralih pada zanpakuto yang baru saja dipanggilnya. Ia terlihat membisikan sesuatu, lalu zanpakuto tersebut mengangguk, dan menghilang seperti bayangan yang terbang ke langit, dengan menimbulkan angin yang cukup kencang.

"Ternyata kau benar-benar keren ya," komentar Ichigo. Rukia nge-blush.

"Ahaha...! B-biasa saja kok!" serunya sambil garuk-garuk kepala.

"Hei kalian, terima kasih ya! Dengan ini kuil akan aman..." seru seseorang sambil berlari ke arah mereka. Ia mengenakan kimono yang terlihat seperti kimono pendeta. Mungkin ia adalah penjaga Kuil Unagiya.

"Ya, sama-sama, tuan pendeta!" seru Rukia sambil membungkuk sedikit. Lalu pendeta tersebut berlari kecil meninggalkan rombongan mereka.

"Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan sekarang," kata Grimmjow sambil memasukan pedangnya kembali ke dalam sarungnya.

"Tunggu! Sebenarnya yang tadi itu, apa?" tanya Ichigo. Renji menghela napas mendengar pertanyaan Ichigo.

"Yang tadi itu hollow. Hollow bisa saja dari arwah yang berubah menjadi monster, atau bagian dari menos yang berubah menjadi monster seperti tadi. Oh ya, dan tugas kitalah sebagai pelindung untuk melindungi miko dari makhluk-makhluk seperti tadi!" jelas Renji.

"Hhh... kalau begitu menjadi pelindung itu melelahkan ya," kata Ichigo. Kini giliran ia yang menghela napas sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

"Tapi kurasa kau cukup berbakat loh!" kata Renji sambil menepuk bahu Ichigo. Ichigo menoleh ke arah Renji dengan tatapan terkejut.

"Baiklah, ayo kita pergi!" seru Rangiku sambil berjalan duluan. Dan rombongan itu pun mulai melanjutkan perjalanannya menuju kuil.


Ichigo's PoV

Aneh. Disaat aku bertarung melawan hollow tadi... entahlah. Kenapa aku bertarung? Apakah aku bertarung untuk melindungi Grimmjow? Atau untuk melindungi Rukia?

Dan, apa maksud Renji mengatakan bahwa aku cukup berbakat? Apakah itu berarti aku akan menjadi pelindung Rukia kelak?

Tetapi, disaat Renji mengatakan hal itu tadi, sebenarnya disaat itu aku berpikir bahwa aku memang benar-benar akan menjadi seorang pelindung.

End of Ichigo's PoV


Kuil Unagiya tidak jauh berbeda dari Kuil Rukongai. Hawanya mistis,bagian dalamnya adalah ruangan bundar dengan penerangan obor yang remang-remang. Terdapat beberapa orang yang sedang berdo'a di dalamnya, dan juga pintu utama yang terletak di atas tangga kuil.

"Wow, lihat siapa ini. Seorang miko?"

Rukia langsung menengok ke arah sumber suara tersebut. Ia melihat sesosok perempuan sedang berjalan sambil tersenyum ke arahnya. Perempuan tersebut mengenakan rok terusan selutut berwarna hitam. Badannya langsing, dengan kulit putih dan rambut berwarna merah marun. Rambutnya yang panjang dan terurai di belakang melambai-lambai seiring ia berjalan mendekati Rukia. Sementara di belakangnya terdapat seorang laki-laki bertubuh tegap dengan jaket hitam, seperti seorang pelindung. Mungkin perempuan itu adalah seorang miko juga. Tapi sebenarnya penampilannya tidak terlihat seperti seorang miko.

"Ya, namaku Kuchiki Rukia, dari desa Rukongai. Maaf, anda siapa?" tanya Rukia sopan. Perempuan tersebut menaikan sebelah alisnya.

"Perkenalkan, namaku Riruka. Dan ini Ginjou, pelindungku. Aku juga seorang miko," kata perempuan yang ternyata bernama Riruka tersebut. Ternyata ia memang seorang miko.

"Oh, salam kenal ya," kata Rukia sambil membungkuk. Sementara Riruka hanya mengangguk.

"Hmm, hmm, kau pasti anak dari Kuchiki Byakuya kan? Miko terdahulu itu? Wow, kau memiliki banyak sekali pelindung ya. Kudengar Tuan Byakuya hanya memiliki dua orang pelindung," kata Riruka dengan nada mengejek. Rukia mengerutkan dahinya. "Lihatlah kualitas daripada jumlah, nak. Lihatlah, pelindungku hanya satu. Ginjou."

"Maaf, tapi menurutku pelindung adalah orang yang dapat dipercaya oleh sang miko sepenuh hati. Dan aku mempercayai mereka dengan seluruh hidupku. Jadi, Nona Riruka, bisakah anda meninggalkan kami dengan damai?" kata Rukia. Nadanya terdengar biasa saja, tetapi jelas dari perkataannya bahwa ia agak tersinggung. Riruka berdecak kesal.

"Yah, kalau begitu, aku pergi dulu. Mungkin kita akan bertemu lagi di kuil selanjutnya, ya," katanya sambil berlalu, meninggalkan Rukia dan juga rombongannya. Sementara itu, Ichigo merenung. Apakah Rukia mempercayai dirinya dengan seluruh hidupnya?

Setelah Riruka dan Ginjou menghilang di balik pintu kuil, Rangiku menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rasanya miko itu sombong sekali," katanya. Sementara Rukia hanya tertawa kecil.

"Baiklah, mari kita masuk ke dalam sekarang," kata Rukia sambil berjalan duluan menaiki tangga kuil.

"Lagi?" gumam Ichigo. Ia pun mengikuti Rukia menaiki undakan tangga.

"Tunggu!" seru Grimmjow sambil menahan Ichigo. Ichigo mengernyit heran ke arah Grimmjow.

"Ada apa?" tanyanya.

"Kau kan bukan pelindung! Berarti kau tidak boleh masuk!" kata Grimmjow. Ia menyeringai penuh kemenangan. Sementara Ichigo agak tersentak. Dalam hati ia mengiyakan pernyataan Grimmjow.

Karena Ichigo hanya terdiam, akhirnya Renji angkat bicara. "Baiklah, kau tunggu saja dulu disini. Kita tidak akan lama kok," katanya sambil menepuk bahu Ichigo.

"Baiklah, kami pergi dulu!" seru Rukia sambil melambai pada Ichigo yang diam mematung di ujung tangga. Ichigo hanya bisa nyengir kaku.


Baru lima menit Ichigo menunggu, tetapi ia sudah gelisah. Dari tadi ia mondar-mandir di depan pintu utama kuil, berusaha memutuskan akan masuk atau tidak. Sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk bahunya, membuatnya terperanjat sampai hampir jatuh.

"Kenapa kau tidak masuk?" tanyanya. Ichigo menoleh untuk melihat suara siapa itu.

"O-oh... kau yang tadi. Mengagetkanku saja, Riruka," kata Ichigo sambil mengelus dadanya. "Hmm... kenapa aku tidak masuk? Mudah saja, karena aku bukan pelindung," lanjut Ichigo. Dalam hati ia berpikir bahwa ia sangat ingin masuk. Tapi Riruka juga adalah seorang miko, yang pasti mengetahui aturan bahwa yang bukan seorang pelindung tidak boleh masuk ke dalam.

"Hah? Bodoh, kau masuk saja. Lagipula kau terlihat seperti pelindungnya!" seru Riruka. Membuat Ichigo terkejut. Padahal tadi baru saja ia berpikir bahwa Riruka akan memakinya habis-habisan karena diam di depan pintu utama kuil. "Ginjou, buka pintunya!"

"Ya,ya," dengan agak ogah-ogahan Ginjou membuka pintu. Lalu dengan agak kasar Riruka mendorong Ichigo masuk ke pintu tersebut. Ichigo hampir saja terjatuh disaat masuk ke dalam. "Nah, selamat melakukan perjalanan! Semoga kau tidak tersesat!" seru Riruka sambil nyengir. Lalu pintu kuil tersebut pun tertutup.

"HEI!" seru Ichigo sambil bangkit. Ia berniat membuka pintu tersebut kembali, tetapi pandangannya beralih ke lorong panjang di depannya. Lorong yang sama seperti waktu di Rukongai. Tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, di dinding lorong tersebut terpasang obor yang memancarkan api berwarna biru.

Perasaan bimbang menghantui Ichigo. Di antara memuaskan rasa penasaran dan juga rasa mematuhi aturan. Tetapi, bukan Ichigo namanya jika ia tidak senang membangkang. Dan dengan perasaan yang amat tidak karuan Ichigo pun melangkahkan kakinya memasuki lorong kuil lebih dalam. "Aku harap ini tidak menjadi hal yang buruk," gumamnya.


Dengan hati yang lega, akhirnya Ichigo selamat sampai ke ruang gelap tempat para pelindung menunggu miko selesai berdo'a. Dan dengan wajah tanpa dosa Ichigo masuk dan menghampiri mereka semua.

"Hei!" serunya.

Ketiga orang yang sedang serius menunggu tersebut terkejut dengan kehadiran Ichigo. Terlebih lagi Grimmjow.

"Apanya yang 'hei'! Kenapa kau ada disini?" tanyanya kesal.

"Err... sebenarnya tadi aku didorong masuk kemari oleh Riruka... jadi...ya begitu," kata Ichigo sambil garuk-garuk kepala. "Dimana Rukia?" tanyanya.

"Aku disini," kata Rukia pelan. Ia baru saja keluar dari pintu kecil tempat miko seharusnya berdo'a. Wajahnya penuh dengan keringat dan tampak lelah. Tetapi ia tersenyum. "Dan aku berhasil!"


Berbeda seperti saat di Rukongai, tidak ada penyambutan berlebihan ketika mereka baru keluar dari kuil. Paling tidak, ada dua-tiga orang penjaga kuil yang mendekati mereka dan mengucapkan selamat serta berdo'a untuk Rukia.

Setelah beberapa penjaga kuil tadi pergi, dua orang serba hitam yang mereka temui tadi mendekat. Rukia menatap kedua orang tersebut dengan heran.

"Hei, nona Kuchiki. Kau berhasil?" tanya Riruka sinis.

"Baiklah, baiklah, sebenarnya apa maumu? Kenapa dari tadi kau terkesan mengganggu Rukia?" Rangiku bertanya balik dengan wajah yang agak kesal. Sepertinya kelakuan Riruka agak mengganggunya.

"Tidak. Aku kan hanya bertanya saja. Apa salahnya?" balas Riruka. Lalu ia pun mengalihkan pandangannya dari Rangiku. "Sampai jumpa, nona Kuchiki!" katanya dengan wajah berseri-seri. Lalu ia pun berbalik dan melambaikan tangan. Sementara Rukia hanya terdiam. Sepertinya ia tidak berniat membalas perkataan Riruka.

"Huh, aku benci orang seperti itu. Dia seperti ayahku, menyebalkan," kata Ichigo. Rukia langsung menengok ke arah Ichigo dengan ekspresi yang mengatakan aku-tidak-setuju.

"Tetapi, Tuan Isshin bukanlah orang seperti itu! Dia adalah orang yang baik... dan ramah!" timpal Rukia. Sementara Ichigo balas memandang Rukia dengan ekspresi yang lebih heran. Lalu ia pun tersenyum kecut.

"Yah, orang seperti itu bukanlah Isshin-ku," kata Ichigo.


Kedua kristal hazel tersebut memandang sosok yang tengah menikmati angin malam di dek. Matanya seperti tidak pernah lepas dari sosok tersebut. Sosok yang mungil dan rapuh, tetapi mengemban tugas yang sangat berat.

Di tengah keheningan malam—dan juga ritualnya melihat Rukia—Ichigo samar-samar mendengar Renji dan Rangiku sedang berbicara serius. Lebih mengejutkan lagi ia mendengar namanya disebut-sebut. Dengan penasaran Ichigo pun perlahan mendekati pintu tempat suara tersebut terdengar paling jelas. Ia pun memejamkan kedua matanya, mencoba mendengar lebih jelas lagi.

"Jadi kau menyalahkanku karena membawa Ichigo kemari?" samar-samar suara Renji terdengar.

"Yah, untuk apa kau membawa dia ikut bersama kita?" timpal Rangiku. Suaranya terdengar kesal.

"Karena kupikir lebih baik membawanya daripada meninggalkan dia di Rukongai..." kata Renji. Suaranya tampak melemah. "Lagipula, mungkin ia akan menemui seseorang yang ia kenal di Seireitei."

"Jadi, setelah itu kau akan meninggalkannya di Seireitei?"

Setelah itu hening. Tampaknya Renji sedang berpikir. Tetapi sebelum Renji sempat menjawab, terdengar lagi suara Rangiku.

"Kau tahu, yang lebih menyulitkannya lagi, Rukia ingin menjadikannya pelindung," kata Rangiku.

"Memangnya kenapa?"

Ichigo menghela napas. Ternyata ia memang akan dijadikan seorang pelindung. Sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan, tetapi entah kenapa ia sangat ingin kembali ke Karakura. Semakin ia memikirkan hal itu, rasanya ia akan meledak.

Ichigo pun memutuskan untuk menjauh dan mencari udara segar. Tepat ketika itu, ia menemukan bola sepak tergeletak di dek kapal. Pikirannya langsung melayang ke ayahnya. Ya, tendangan andalan Ichigo adalah tendangan Isshin juga. Bahkan bisa dibilang sama.

Perasaan usil muncul di hati Ichigo. Ia ingin mencoba tendangan itu sekarang. Mungkin akan membuat pikirannya lebih baik.

Hup. Ya, lambungkan bolanya... tunggu setinggi lutut... dan tendang sekuat tenaga...DUK!

Bola tersebut melesat dengan kecepatan luar biasa, membelah lautan. Dan akhirnya berhenti dan tenggelam ke dasar laut di kejauhan sana. Diam-diam Ichigo berdo'a semoga pemilik bola tersebut tidak marah.

"Hei, itu kan Isshin Shot ya?"

Ichigo menengok kaget ke arah sumber suara tersebut. Kenapa ia bisa tahu? Tunggu, yang mengatakan hal itu... "Rukia? Kenapa kau bisa tahu?"


To be Continued


Thank you. How was it? Mind to Review?