. Warn: AU, OOC, EYD gak bener.

Disclaimer: Chara belongs to Masashi Kishimoto.

.

.

My Lovely Teddy Sabaku

.

.

Sinopsis:

Ada satu hukum yang jelas-jelas berlaku dalam fic ini. Kalau Gaara sedang jatuh cinta, gak ada pembeda antara angan dan logika. Termasuk memimpikan gadis yang ia suka meski tak pernah mau mengakuinya.

.

-:- 11

Epilogue

.

.

.

Ketika genggaman itu melemah, Gaara seakan terbangun. Sengatan kecil imajiner menembus tengkuknya, membuat kesadaran muncul bersama dengan ketakutan dan perasaan lain yang menambah beban. Dia mundur, lalu menyadari ketiadaan dari tubuh di depannya.

Dia panik, kemudian berteriak hingga beberapa perawat dan dokter datang.

Ketika tubuh Hinata dibawa keluar, Gaara membiarkan tubuhnya limbung dan jatuh.

Apa ini salam perpisahan?

.

.

Bertahun-tahun setelah kisah itu, sebuah hari dimulai kembali. Diawali dengan kemunculan matahari, embun yang menggantung di helaian daun ilalang, juga burung kecil yang terjaga. Kesibukan dimulai lagi.

Di sebuah rumah berpagar rendah di pinggir kota, kebahagiaan pagi dinikmati sebagai berkat yang patut disyukuri. Seorang wanita pirang dan suaminya, serta anak mereka yang menggemaskan, berkumpul di halaman belakang. Memutar lagu riang, mereka mulai mengajak bocah laki-laki berambut merah itu untuk bergerak.

"Senam pagi baik untuk kesehatan," wanita pirang itu berkata ketika kembali dari dapur dan menghidangkan teh di teras rumah.

Suaminya mendekat dan menyambar cemilan kecil. Duduk dan mengamati anaknya yang masih bersemangat bergoyang mengikut musik. Tak lama, dia terkekeh. "Menggemaskan," katanya.

"Yaah, dia manis kan? Unyu." Isterinya menyahut, matanya mengerling ke arah sang Suami, sementara ingatannya berputar ke masa lalu. "Siapa dulu ayahnya?" dia hampir tertawa, tapi batal karena aura suram dari sosok di sebelahnya.

"Jadi kamu mau bilang kalau aku itu unyu?" suaminya langsung nyahut dengan nada gak suka, "Aku itu keren, ganteng, macho." Alisnya berkerut dalam, "Dari sekian banyak kata yang bisa deskripsiin aku, kenapa malah milih unyu?" kakinya mulai menendang-nendang kerikil imajiner yang tak kasat mata.

Ino nepuk jidatnya.

Bertahun waktu berlalu, semuanya datang dan pergi, tapi Sasori gak berubah. Selalu aja mempermasalahin masalah yang sama; unyu.

Kan gak ada salahnya kalo seorang bapak dari anak yang unyu itu juga unyu.

Iya, kan?

"Aku rindu Hinata," keluh Ino di antara omelan panjang Sasori.

.

.

"Marry me, Hanabi."

"Nooo!"

Hanabi berlari di koridor kampus untuk menghindari seorang pemuda berambut mangkok yang ngebet untuk ngajakin nikah.

Rambut coklatnya yang panjang berayun brutal mengiringi langkahnya. Dia menikung, menuruni tangga, kemudian kembali berlari. Si Udon –cowok yang ngajak nikah itu –masih setia ngejar dia. Hanabi sesak juga lemas, sementara Udon masih bisa berlari. Puteri bungsu Hiashi itu hampir aja nyerah.

Tapi semuanya berbalik saat dia merasakan tarikan seseorang dan mengajaknya bersembunyi di balik tong sampah besar yang berdempet dengan dinding. "Diam," suara itu bilang begitu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Hanabi nurut pada orang selain Hiashi maupun Hinata.

Udon lewat dan berlalu tanpa memperhatikan mereka.

Hanabi bernafas lega.

"Thanks."

"Gak masalah," kata orang itu sambil nyengir.

Hanabi tak bergerak.

"Udon memang berlebihan," katanya pelan sebelum dia pamit dan pergi. Ketika dia berlari, rambut jabrik hitam itu bergerak ringan.

Hyuuga Hanabi memerah.

Kayaknya, dia lagi jatuh cinta.

"Aku jadi mirip Hinata-nee," gumamnya pelan.

.

.

Sementara itu, di salah satu taman kanak-kanak di kota yang sama, seorang pria sedang obral death-glare gratis ke murid tk laki-laki yang mendekati seorang bocah perempuan di tengah ruangan. Alisnya berkerut tak senang, bibirnya menipis.

"Ne, Neji-kun?"

Isterinya meraih lengan Neji, mengajaknya untuk segera pergi dan membiarkan puteri mereka untuk berteman. Tapi Neji bertahan, tak bergerak sesenti pun.

"Ayolah, kita harus kerja," bujuknya hampir putus asa.

"Ten, aku rasa tk ini bukan tempat yang bagus untuk Maki." Kata Neji pada akhirnya. Matanya menatap tajam sosok kecil berambut pendek yang duduk dan tersenyum pada puteri mereka, "Lihat para laki-laki ini. Mereka akan mengkontaminasi pikiran puteriku yang masih suci, memisahkan kita darinya."

God… Tenten memutar matanya bosan. "Neji, mereka masih anak-anak."

Neji merengut, lalu menoleh dengan tatapan yang tak bisa didefenisikan. "Ya. Mereka masih anak-anak. Tapi kita harus ingat Ten, cuma butuh sekitar lima belas tahun lagi untuk mereka jadi pria dewasa yang sudah memiliki KTP. Dan saat itu tiba, mereka akan membawa puteri kita pergi."

"Pikiranmu udah terlalu jauh," Tenten berkomentar, "Daughter-complex."

Gak sama Hinata, gak sama anaknya, Neji tetaplah Neji; sosok yang selalu jadi penghalang untuk para pria yang naksir sama orang-orang kesayangannya.

.

.

Beda Neji, beda juga sama Kiba.

Cowok pecinta anjing yang dulu getol banget buat ngajakin Gaara gabung di klub sepak bola sekolahnya ini telah bertransformasi jadi pemain terkenal di Jepang. Dia, yang dulunya susah banget dapet pacar, sekarang dikerubungi oleh gadis-gadis muda yang jadi fans setia. Hidupnya simpel dan bahagia, sempurna.

Sekarang, Kiba dan penampilannya juga telah berubah. Mulai dari garis dewasa yang muncul di wajahnya, atau senyumnya yang mulai terlihat berkharisma. Bahkan cengirannya yang dulu terkesan bodoh berhasil jadi magnet kuat yang ngebikin para hawa tak berdaya.

Kabar terakhir menyebutkan, Kiba akan melamar seorang gadis sebentar lagi.

"Apa yang bisa kulakukan, aku hanya pria biasa," dia tertawa, "Usia begini, aku memang sudah saatnya menikah, kan?" jawabnya ketika seorang paparazzi bertanya.

Kiba yang sekarang, adalah Kiba yang berdiri di sebuah tempat yang terang.

Sunny Place.

Kenapa tiba-tiba jadi ingat Hinata?

.

.

"Sasuke-kun?"

"Sakura-chan?"

"Apa?" Sakura mendesis malas.

"Bisahkah kalian diam?" Sasuke berdiri dan meninggalkan bukunya begitu saja di atas meja perpustakaan. Sakura berlari mengejar pangerannya, sementara Naruto ikut untuk mengejar Sakura.

Tak peduli sejauh mana waktu membawa mereka pergi, ketiganya selalu terperangkap dalam kisah cinta segitiga yang tak ada habisnya.

"Kenapa dirimu tiba-tiba menghilang, Hinata?" Sasuke bertanya pada rumput yang bergoyang.

.

.

Bertahun setelah kisah itu, semuanya dimulai kembali. Di awali dari kemunculan mentari, lalu semangat yang membanjiri hati.

Di sebuah kamar yang cukup besar Gaara terbangun dalam kesendirian ketika matahari menyapa lewat celah tirai yang sediit terbuka. Pemuda itu bangkit, memakai kembali t-shirt merah yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan keluar.

Dapur adalah destinasinya. Di sana, telah menanti secangkir kopi pekat yang masih hangat.

Gaara berdiri di depan jendela, melihat ke arah taman kecil yang mulai berbunga. Suara derap kaki yang pelan membuat Gaara berbalik.

"Darimana?"

"Aku baru memetik mawar," katanya sambil menunjukkan vas kaca yang telah terisi bunga. Dia berkedip, dan saat kembali membuka, Gaara telah berdiri di depannya.

"Jangan pergi diam-diam seperti itu."

"Aku hanya ke halaman belakang."

"Jangan pergi, Hinata." Gaara tak memberinya kesempatan. Pemuda itu maju dan memeluknya. Seharusnya Hinata tahu, setelah semua ketakutan dan hal mengerikan yang pernah terjadi, pemuda itu tak akan pernah bisa merasa tenang ketika dia tak tahu di mana isterinya berada. "Jangan pergi," Gaara bicara lagi.

Tiba-tiba Hinata tertawa. Geli.

"Kenapa?" Gaara bertanya, well, sedikit marah.

"Ada beberapa hal yang kusuka dari Gaara." Dia memberi jeda sejenak, "Ada banyak yang kusuka darimu. Tapi ada satu hal yang paling aku suka." Hinata berhenti, menyediakan teka-teki.

"Apa?" Gaara memilih untuk bertanya.

"Aku suka genggamanmu yang hangat. Rasanya nyaman juga aman. Aku jadi seperti anak kecil yang ketakutan saat melihat badai. Sementara Gaara-kun adalah Tedy bear yang selalu memberikan pelukan hangat saat aku ketakutan."

"Beruang?"

Hinata tertawa lagi, "Yah, Beruang. Meski aku lebih suka panda, sih."

"Ekhem!" suara batuk maksa dari Hiashi merusak momen mereka. Gaara buru-buru berbalik dan berpura-pura sibuk dengan gelas kopinya, sementara Hinata meletakkan vas bunga di atas meja.

.

.

Jadi, inilah akhirnya.

Happy ending yang tersedia untuk semua orang.

Meski kita gak tahu siapa cewek beruntung yang akan dilamar Kiba, atau cowok yang ngebikin Hanabi jatuh cinta, kita tahu satu hal; Hinata ternyata masih hidup dan tinggal bersama Gaara.

Bahagia?

Kalau Hiashi, pasti bakal langsung jawab, "Iya." Karena, meskipun dia cuma nyempil sedikit di adegan GaaHina, dia tahu puteri tersayangnya gak jadi pergi. Baginya yang seorang ayah, itu udah cukup. Yah, meski dia gak keberatan untuk dapat tambahan scene yang sedikit panjang dan lebih lama dari satu kedipan mata.

.

.

Tamat.

.

.

A/n: Author memutuskan untuk mengapdet fiksi ini dua chapter sekaligus untuk menghindari beban atas banyaknya fiksi di akun seorang Marine yang berpotensi akan ditelantarkan karena mulai kembali sibuk dengan masa-masa kuliah setelah selama lebih dari dua bulan berstatus pengangguran.

Semoga tidak mengecewakan.

.

Special Thanks:

God

My Imagination

Drama Korea yang aku jadikan inspirasi untuk fiksi ini; Secret Garden, Pasta, The Greatest Love, Scent of a Woman, dan yang lainnya.

Lagu-lagu yang jadi penyemangat untuk ngelanjut fiksi ini.

Dan big thanks plus hug buat teman-teman yang bersedia meninggalkan jejak;

Uchihyuu nagisa, SasyaTazkiya Lawliet, Hyu-Chan, lonelyclover, chibi tsukiko chan, OraRi HinaRa, Hikari Shourai, Yuuaja, Nerazzuri, Sabaku no meli, mayu masamune, azalea ungu, realuri imedi, minatsuki heartnet, mayraa, Clo, Mery chan, Zae-Hime, sasuhina-caem, y. I, Kaarasu Ga Login, minsun, anna chan, Himeka Kyousuke, lupalope, makinami, Tsukishiro Suzumi-Ga Login, chibi beary, Kertas Biru, Animea Lover Ya-ha, Evil (Yups, thanks buat concritnya, aku memang author yang paling gak bisa nerima 'serangan' mendadak tanpa ada kejelasan), Mizuki Kana, Kirika Sakuragi, Yue Hazen, ayuzawa shia, Guest, eurekabigail, ara-chan, demikoo, Sabaku Hinata, bubbles, Aiza-chan kim, Kutu salto, Ye Eun Jung, IndigOnyx, Mamoka, Ivory Fay, Yamanaka Emo, Hakkuna Matata, Guest, Mauree-Azure, Guest, Micon, , Guest, Lin Hekmatyar (unfortunately, I'm not Sakura-san, hehe… ^^V, peace).

Terima kasih juga bagi mereka yang telah memfavoritkan serta mengalert fiksi ini.

Terima kasih~

(_ _)

.

.

Omake:

"Hai."

Senyumannya terkembang cantik, menyambut jiwa yang kembali hidup. Kelegaan terlepas, bergulung-gulung seperti ombak di pantai.

"Selamat datang."

Operasinya berhasil.

Sambutan hangat, juga tangan yang terbuka lebar. Pelukan erat disertai suasana haru memenuhi kamar rawat. Ada juga rasa rindu yang terpancar, menyatu bersama isak juga tawa serta helaan nafas yang lega.

"Aku pulang," Hinata menyahut lemah dalam pelukan ayahnya.

Hiashi tertawa, juga menangis. Hanabi yang baru mengetahui keadaan Hinata berlari dan menerjang kakaknya. Neji berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat dan lengan bersilang. Dia tersenyum miring; selamat datang kembali, senyum itu bilang.

Hinata mengintip dari balik bahu ayahnya.

Ino berdiri dengan tisu basah di tangannya. Sasori sendiri ada di sampingnya. Kiba bersandar di salah satu jendela, membuatnya terlihat seperti bayangan di tengah cahaya. Di sebelahnya, ada Gaara.

Pandangan mereka terkunci selama beberapa saat. Hinata enggan berpaling, Gaara betah melihat wajah bulat itu berlama-lama.

Dari arah Hinata, Gaara dan rambut merahnya terlihat sempurna.

Dari sudut pandang Gaara, Hinata yang wajahnya merona benar-benar indah.

Dari perspektif Ino, mereka berdua adalah tokoh sempurna untuk sebuah romansa.