Wah, udah chapter tiga ya? Yey! Selesainya masih lama kok… Um, mC-chan nggak bisa memperkirakan sampai chapter berapa, tapi masih panjang kok. Ok, mulai!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: T

Warning: GaJe, abal, Typo, dkk

Chapter 3: The Four Season – Winter, Vivaldi

"Ah.. A-Ano.. Tadi ada kenalanku yang mau masuk ke ruangan sebelah." Kata Sakura sambil nyengir dan menggaruk-garuk pipi kanannya.

"Eh.. Tadi.. Tadi aku seperti melihat kenalanku, tapi ternyata bukan." Sasuke berkata datar seraya mengeluarkan keringat dinginnya.

Kedua kakak itu hnya mengangguk di dalam dua ruangan yang berbeda.

Di dalam ruangan Sasuke,

Sasuke meletakkan biola miliknya di atas meja panjang yang berhiaskan bunga mawar tiruan. Sasuke berjalan ke samping tempat tidur bibinya. Ia menggenggam tangan bibinya itu. Penyakit yang dialami bibinya itu sama sekali tak mudah. Orang yang terbaring lemas itu juga menderita asma.

"Semoga bibi cepat sembuh." Sasuke mencium tangan sang pasien dan ia membuka kulkas kecil yang ada di ruangan itu. Mengambil satu kopi kaleng dan meminumnya.

"Sasuke, terlalu banyak minum kopi itu tidak baik loh." Sang kakak memperingatkan adik kecilnya yang sedang meminum kopi. Sasuke hanya diam dan terus meminum. Diliriknya biola yang tergeletak manis di atas meja. Sasuke membuang kopi kalengan itu ke tempat sampah dan meraih biola itu.

"Kakak, aku mau jalan-jalan sebentar." Ijin Sasuke sebelum kakaknya membalas perkataannya. Pintu ditutup dengan pelan agar tak membangunkan orang yang sedang berada dalam tahap penyembuhan itu. Itachi tersenyum melihat adiknya.

Di ruangan Sakura,

"Oh." Komentar Sasori setelah mendengar jawaban Sakura.

"Kakak, bagaimana kabar ibu?" tanya Sakura cemas. Sasori hanya mengatakan bahwa ibu hanya pingsan karena terlalu lelah setelah membersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah mereka. Sakura mencium kening ibunya den berkata,

"Kakak, aku ke toilet sebentar ya." Sakura berlari keluar sebelum kakaknya membalas perkataannya.

Sasuke berjalan tak tentu arah. Ia melewati kamar-kamar pasien dan melihat orang-orang membawa bingkisan atau barang sejenisnya ke dalam kamar pasien. Ia melewati toilet, kantin rumah sakit, penjual mainan untuk orang-orang sakit, ia juga melihat beberapa suster dan dokter sedang berjalan terburu-buru.

Sakura berjalan ke dalam toilet perempuan. Ia memebenarkan rambut panjangnya yang daritadi ia biarkan berantakan karena menangis –walau hanya menangis, itu dapat membuat rambut seseorang menjadi ebrantakan. Ia melihat matanya yang sudah tidak sembab lagi. Ia tersenyum ke arah cermin dan langsung keluar toilet.

Sasuke melihat beberapa orang bermain alat tiup, biola, celo dan piano di setiap sudut jalan. Ia berjalan ke arah salah satu pemain dan meminta agar dirinya dapat bermain sebentar saja dengan biola yang ia bawa. Pemain itu mengijinkan. Sasuke sudah lama tak latihan biola, tapi ia tahu bahwa ia masih bisa memainkannya. Ia mengeluarkan biola dan bow-nya dari dalam tempatnya. Ia meletakkan biolanya diantara dagu dan bahunya –dengan sedikit ke atas dan lurus. Ia mulai menggesekkan bow biola itu.

"Wah, lumayan juga anak ini." komentar salah satu pemain yang sedang duduk –beristirahat—di samping Sasuke. Pemain lain mengangguk.

Sakura berjalan kembali ke kamar ibunya. Di tengah jalan, ia mendengar suara biola. Siapa yang bisa memainkan lagu sebagus ini?, pikir Sakura. Melodi dan nada-nada lagu itu mengelilingi Sakura, menggodanya untuk mencari tahu siapa yang sedang bermain.

Sakura berjalan mengikuti aliran musik itu hingga ia menemukan siapa yang tengah memainkan nada-nada itu. Seseorang yang Sakurakenal beridiri memainkan biola yang ia bawa dari rumah. Setau Sakura, ia hanya bisa memainkan piano. Ternyata perempuan itu belum banyak tahu tentang laki-laki itu.

Mata onyx yang ditatap menatap balik ke arah sang emerland. Seketika, yang mempunyai mata onyx menghentikan permainannya.

.

Emarland dan onyx bertemu

.

"Sasuke? Kenapa berhenti?" tanya Sakura tersnyum manis. Sasuke hanya diam tak tahu harus menjawab apa.

"Tidak apa-apa.. Hanya kaget melihatmu di sini." Kata Sasuke yang akhirnya menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.

"Sasuke, kukira kau hanya bisa bermain piano." Seru Sakura berjalan ke arah Sasuke. Pemain-pemain yang tadi sedang istirahat sedang pergi ke kantin rumah sakit yang ada di lantai satu. Sakura duduk di bangku sebelah Sasuke bermain.

"Tidak, aku latihan biola sejak kecil. Cukup lama tak memegang ini." Sasuke berdiri mematung di tempat ia berdiri. Tak tahu harus berbuat apa. Sakura yang menyadari bahwa Sasuke mematung meminta,

"Nee.. Sasuke. Mainkan lagi." Sakura tersenyum lebar dan merapatkan kedua tangannya di depan dadanya. Sasuke yang mendapat request dari Sakura ternganga. Menurutnya, permainannya sekarang tak sampai di atas Sakura, bahkan di bawah gadis itu. Tidak untuk Sakura, ia berpikir bahwa permainan Sasuke jauh di atasnya.

"H-Hn.." Sasuke kembali dalam posisi menarik bow. Bow ditarik, bunyi melengking yang indah terdengar.

Lagu ini cepat. Sakura tak mengetahuinya, mungkin Sasuke asal main. Dengan tersenyum Sasuke memainkan nada-nada itu, tersenyum pula Sakura yang mendengarnya. Suara biola itu hangat, lembut dan mungkin bisa terdengar seluruh rumah sakit karena pada jam seperti ini semua jendela –luar atau dalam—dibuka. Jika benar, keadaan rumah sakit akan menjadi seperti ini,

Pasien-pasien yang mendengar ini akan tersenyum senang dan melupakan penyakit mereka. Dokter-dokter yang sedang kelelahan akan tersenyum dan bangkit kembali. Suster-suster yang sedang merawat pasien akan tersenyum lebar. Pengunjung-pengunjung yang sedang menjenguk kerabat, orang tua atau teman mereka akan tinggal lebih lama di dalam rumah sakit ini. Pegawai-pegawai rumah sakit yang sedang membersihkan rumah sakit akan membersihkan ruangan sesuai irama musik ini, cepat tapi lembut. Juga pemain-pemain yang biasa bermain di setiap sudut akan merasa bahwa mereka ingin bermain musik klassik selamanya.

Bermain musik klassik selamanya ya? Sakura tak terpisahkan oleh biolanya.

Sasuke memainkan piano untuk melampiaskan kemarahan akan ayahnya yang tak tahu diri juga masa lalunya yang pahit.

Suara musik itu terputus dengan dua nada handphone yang sama,

"Ah." Kata mereka berdua seraya mengambil telepon genggam yang ada di kantong baju dan celana masing-masing.

"Halo? Ah, iya kak. Aku ke sana sekarang."

"Hn? Baiklah."

Bisa ditebak mana yang Sasuke dan Sakura. Sakura yang atas dan Sasuke yang bawah. Mereka berdua bertatapan.

"Hei, nada handphone-mu yang tadi.." ucap Sasuke ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya seraya menaruh biola itu pada tempatnya. Sakura terkikik perlahan.

"Sasuke juga suka vivaldi?" tanya Sakura.

"Ya.. begitulah. Terutama semua karya Four Season miliknya." Sasuke mengangkat tas biola itu dan berkata bahwa ia harus pulang. Begitu juga Sakura, waktu besuk sudah lewat pada batasnya.

.

.

.

.

"Ohayou, Ino, Hinata!" sapa Sakura sambil melambaikan tangannya dari kejauhan. Ino dan Hinata membalas lambaian tangan itu. Dengan cepat, Sakura erada diantara kedua orang itu. Hari ini hari Senin dan sudah pasti mereka akan ke kelas masing-masing.

Sakura berpisah dengan Hinata yang akan menuju kelasnya bersama Naruto –dan Hinata bisa dipastikan memerah mukanya—dan Shikamaru. Sakura duduk di sebelah Ino. Seorang guru masuk, setelah guru itu masuk, semua menjadi diam. Guru itu membawa satu kotak yang dilubangi bagian atasnya.

"Baiklah.. Anak-anak! Saya akan mengumumkan bahwa minggu depan kalian akan mengadakan okestra. Semua kelas mengadakannya. Saya minta satu dari kalian mengambil satu kertas yang sudah digulung di dalam kotak ini yang berisikan lagu yang akan kalian mainkan." Kelas menjadi berisik. Sibuk terkaget-kaget atas pemberitahuan itu.

"Okestra? Wah, keren!" seru Sakura pada Ino. Ino mengangguk setuju. Hanya mereka dan beberapa anak lainnya –yang masih sopan dan waras—yang menyukai okestra. Yang lain biasanya menyukai solo atau malah tak menyukai musik –dipaksa orang tua atau semacamnya.

Satu perwakilan maju, Temari. Ia memasukkan tangannya dan mengambil satu gulung kertas kecil. Dibukanya kertas itu dan dibaca, ia tersenyum-senyum sendiri yang membuat orang-orang tegang. Susah, atau mudah?

Guru itu mempersilahkan temari untuk membacakan hasilnya.

"Baiklah… Kita akan menampilkan," Temari berhenti sebentar menatap semua orang. Lalu ia melanjutkan, "Vivaldi-Four Season, Winter."

Semua orang tersenyum senang. Lagu itu gampang, tapi yang susah adalah bagian viola concerto. Maka, pemain-pemain viola tetap tegang. Tak terkecuali Sakura. Ino hanya menghembuskan nafas lega.

"Baiklah.. Temari, kau boleh pilih satu orang pemain viola untuk memainkan bagian concerto." Kata guru itu lagi. Temari langsung saja menunjuk Sakura yang telah dipercaya dan dibuktikan sangat mahir dalam bermain biola.

"A-Apa? Saya?" tanya Sakura sambil menengok kanan-kiri dan menunjuk dirinya sendiri. Sakura diam ditempat, ia menerawang ke depan. Dia menjadi pemain concerto?

"Keberatan Sakura?" tanya Temari menyeringai kepada Sakura. Seringai itu menampakkan tantangan. Sakura hanya tersenyum lebar dan berdiri.

"It was my pleasure ma'am." Sakura tersenyum manis dan langsung duduk kembali. Ini kesempatan untuk menunjukkan bakatnya di depan semua orang.. juga Sasuke.

.

.

.

.

"Waw, selebaran ini bagusss sekali…." Seru Sakura sweetdrop saat melihat selebaran yang memuat tentang pertunjukkan okestra di sekolah itu dan terdapat foto siapa saja yang menjadi pemain bagian concerto dan lagu yang dimainkan.

Foto Sakura dengan tulisan 'Vivaldi-Four Season, Winter' tertera di selebaran itu.

Foto seluruh kelas Shikamaru, Naruto dan Hinata. Tak ada concerto. Dengan lagu Vivaldi-Four Season, Summer.

Foto Sasuke.. Tunggu, Sasuke menjadi konduktor? WHAT THE—? Lagunya.. 'Vivaldi-Four Season, Spring.

"Um… Kau tahu Sakura? Ini lebih mirip festival Vivaldi daripada konser biasa." seru Ino berdiri sambil memandangi selebaran itu. Sakura hanya melihat foto Sasuke dan dirinya. Bagaikan mimpi hanya ada fotonya dan Sasuke di selebaran itu. Dan yang Sakura heran.. Sasuke.. Konduktor?

Sasuke berdiri di samping Sakura. Akhir-akhir ini ia sering mengobrol dengan perempuan berambut pink itu.

"Sasuke, kau tak pernah memberitahuku kalau kau bisa menjadi konduktor." protes Sakura kepada Sasuke yang ada di sebelahnya. Sasuke menyeringai jahil.

"Haruskah? 'Sejak kapan kita pacaran' hingga aku memberitahumu semua keahlianku?"

Wajah Sakura memerah. Ino menepuk pundak Sakura menandakan ia harus pergi ke ruangannya. Sama halnya dengan Shikamaru, Hinata dan Naruto. Mereka pergi meninggalkan Sakura dan Sasuke berdua. 'Kubunuh mereka kalau bertemu lagi.' Pikir Sakura masam.

.

A/N: Akh! Internet diputus? TIDAK! Yah, paling tidak masih ada modem –harus hemat-hemat nih~~. Jadi, seperti pemberitahuanku di atas, kayaknya bakalan jarang update. Yah.. dua minggu sekali *Lamanya keterlaluan*. Maaf ya bagi yang setia mengikuti fic ini… Nantikan kelanjutannya kalau ayah masih berbaik hati menyerahkan modem itu =_=" Daddy…

Parapluei De fleurs: Iya, diupdate kok! Tapi maaf kalau kedepan update nya lama. Maklum.. Males belajar tapi pinter *Pinter?* Ok, ok… Ikutin terus ya~~ Thx for the review!

blue sakuchan: Sasuke bisa semua jenis alat musik~ Juga konduktor ^.^ Eh? Lagunya apa aja sih? *Plak* Oh, Liebestraum No.3 itu karyanya Franz Liszt. Gimana cara jelasinnya yak? Terus, Arabesque itu karyanya Debussy. Biasanya aku gunain buat tidur, lagunya enak deh^.^ Begitulah.. tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata =_=". Sankyuu review-nya~

Salamance Tree Hiddle: Wee… Enggak bacot kok. Saya malah suka yang reviewnya panjang-panjang, enak bacanya. Thx undah baca fic saya yang GaJe ini. Di sekolah jarang yang kenal fanfic, jadi.. ya, begitulah. Fic saya terkapar dengan review yang sedikit *Apa urusannya?* Btw, thx udah review!

Saya ngerjain malem-malem, nanti tengah malem internetnya diputus… HUA!

Typo? Pasti banyak! *Bangga! PLAK!*

RnR please…

With joy,

MonnaC