Yak! Aku kembali dengan fic Shugo Chara baru sebagai permintaan maaf karena fic 'A Mysterious Valentine Gift' tidak bisa kulanjutkan. Bahkan aku berencana untuk menghapus fic itu. Ada yang setuju? (Reader: "NGGAAAK!")

Ok! Setting ini ku ambil dari manga Shugo Chara! Encore! Page 28-29, di mana Ikuto kembali lagi ke Eropa dan pergi selama 4 tahun lamanya. Bagaimana kisah Amu waktu itu ya? Inilah hayalan gaje Author yang (seenak jidat) mengisahkannya.

Happy reading minna-san and here we go!

Disclaimer:

Amu milik Ikuto. Ikuto milik Amu. Dan keduanya adalah milik Author, hahaha… XD #dibandting Peach-Pit

Ugh… iya, iya, milik Peach-pit kok. =='

Pair:

Tsukiyomi Ikuto dan Hinamori Amu

Warning:

AU semi AR, gajeness, typoness, lebayness, dwwl (dan warning-warning lainnya).

.

I'm Come Back, Amu

By: Yui Hoshina

Chapter 1

.

.

"Aku janji. Kemanapun aku pergi, seberapa jauh jarak yang memisahkan kita… Aku akan kembali untukmu. Dan saat kau tumbuh dan menjadi dewasa, aku janji aku akan kembali dan mencarimu. Karena aku… akan tetap menyukaimu seperti ini."

.

DEG!

Amu terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. Wajahnya terlihat pucat karena terkejut. Ia pun mulai mengingat-ingat apa yang barusan terjadi. Ekspresi wajahnya mulai terlihat sedih begitu mengingat apa yang barusan ia alami.

"Mimpi itu lagi…" gumamnya lesu. Ya. Mimpi saat Ikuto mengucapkan janji akan kembali padanya dan mencarinya tapi…

'Kenapa? Kenapa dia belum kembali? Kenapa tiba-tiba janji itu terus terbayang hingga masuk ke dalam mimpiku? Padahal sudah 4 tahun berlalu sejak insiden itu dan… Ikuto sama sekali tidak memberi kabar sama sekali padaku. Tapi… kenapa?'

Tes!

Tanpa sadar Amu menitikkan airmatanya. Ia kembali teringat dengan janji Ikuto dulu. Padahal, ia tidak ingin menangis, tapi, kenapa? Kenapa airmatanya turun? Kejadian ini sama dengan yang dulu ketika ia menyadari bahwa ia... merindukan Ikuto. Tapi kali ini, ia benar-benar sangat merindukan sosok Ikuto. Bagaimana rupanya sekarang ya? Apakah sama seperti dulu suka menggodanya atau sudah berubah dan menjadi dewasa? Yang manapun terserah, yang diinginkan Amu hanya ingin bertemu dengan Ikuto.

"Amu-chan…" terdengar suara lembut memasuki pendengaran Amu. Amu langsung menghapus jejak airmatanya, ia menoleh dan melihat Shugo Charanya yaitu Daiya.

"Daiya… ada apa?" tanya Amu tersenyum lemah. Matanya terlihat sembab, terlihat sekali ia habis menangis.

Daiya menggeleng pelan, "Bukan apa-apa. Aku hanya merasa 'cahayamu' sedikit redup. Apa ada sesuatu?" tanya Daiya khawatir.

Amu menggeleng pelan, "Tidak apa-apa. Aku hanya bermimpi saja. Teringat seseorang yang mengucapkan janji padaku sejak 4 tahun lalu," ujar Amu tersenyum lemah.

"Apa itu… Ikuto?" tebak Daiya. Amu mengangguk.

"Tidak apa-apa. Sebaiknya kau tidur saja. Sekarang baru jam 2 pagi kan? Kau pasti masih lelah," ujar Amu.

"Baiklah. Tapi, kalau ada masalah, kau bisa cerita pada kami, Shugo Charamu. Kami tidak ingin melihat Amu-chan sedih," ujar Daiya mewakili yang lain.

Amu tersenyum lembut, "Terima kasih, Daiya. Sebaiknya kita tidur saja dan tolong… rahasiakan pada yang lain. Aku tidak mau mereka terlalu mengkhawatirkanku," pinta Amu.

"Ng…" Daiya menatap telur Ran, Miki, dan Suu sebentar dan kembali menatap Amu, "Baiklah."

"Terima kasih," ucap Amu sebelum ia tidur kembali.

Hening sejenak, Daiya masih tidak berkutik dari posisinya. Ia menatap ketiga Shugo Tama itu. Begitu situasi cukup tenang, Daiya memanggil Ran, Miki, dan Suu.

"Ran, Miki, Suu, keluarlah. Aku tau kalian sudah bangun dari tadi," ucap Daiya. Bersamaan itu, ketiga telur itu terbuka dan menampilkan sosok kecil berwarna pink, biru dan hijau.

"Kau tau kami sudah bangun?" tanya Ran mendekati Daiya diikuti oleh Miki dan Suu. Daiya mengangguk.

"Ya. Sejak percakapanku dan Amu-chan dimulai. Kenapa kalian tidak keluar?" tanya Daiya.

"Kami… hanya tidak berani keluar. Sepertinya Amu-chan sangat merindukan Ikuto. Wajahnya terlihat sedih sekali," ujar Miki.

"Apa Amu-chan baik-baik saja, desu~?" tanya Suu khawatir.

"Daijobu. Amu-chan baik-baik saja, Suu. Hanya saja emosinya sedikit labil," hibur Daiya.

"Begitu ya… Ikuto, kapan kembali ya? Aku tidak mau melihat Amu-chan terus bersedih seperti ini," ujar Ran.

Tanpa mereka sadari, Amu mendengar semua percakapan Shugo Charanya. Ia tidak benar-benar tidur.

'Ternyata… sia-sia saja aku menyembunyikan hal seperti ini dari mereka. Gomen ne Ran, Miki, Suu, Daiya, karena telah membuat kalian khawatir,' batin Amu dan tanpa sadar ia kembali menitikkan airmatanya.

.

.

Keesokan harinya…

"Ohayou, Amu-chan," sapa Ran yang baru bangun tidur.

"Ohayou, Ran," sahut Amu tersenyum lembut.

Amu sudah memakai seragam Seiyo High Schoolnya dan bersiap-siap pergi. Ya. Kini Amu sudah berumur 16 tahun dan itu berarti sudah 4 tahun Ikuto pergi keluar negeri meninggalkan sebuah janji pada Amu. Rambut pink Amu yang dulu sebahu, kini sedikit lebih panjang hingga punggungnya. Tak lupa jepit rambut 'X' bertengger di poni sebelah kirinya. Ia kini sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolah.

"Ohayou, Amu-chan. Kau sudah siap-siap berangkat, desu~?" tanya Suu yang juga baru saja bangun.

"Ya."

"Tumben sekali kau cepat hari ini, Amu-chan. Biasanya telat," ledek Miki disela-sela telurnya yang sedikit terbuka.

"Oi, apa maksudmu, Miki? Jangan meledekku!" protes Amu sedikit kesal.

"Sudah, sudah, jangan berkelahi di pagi hari. Amu-chan, ayo kita berangkat. Mama sudah memanggil," lerai Suu.

"Haahh.. baiklah. Tapi, Daiya belum bangun ya? Tumben sekali ia telat bangun," ujar Amu heran menatap Shugo Tama-nya yang bermotif diamond.

"Tenang saja, Amu-chan. Aku sudah bangun dari tadi, hehehe…" Daiya tertawa kecil sambil keluar dari telurnya.

"Yosh! Semuanya sudah berkumpul! Ayo kita pergi!" seru Amu.

"YAYY! (desu~)" teriak ke-4 shugo charanya.

.

.

Tap!

Sebuah langkah kaki terhenti di Bandara Narita dan memperlihatkan sosok pria tampan dengan rambut berwarna biru gelap dan mata deepblue yang menghipnotis setiap orang yang melihatnya. Wanita-wanita yang berada didekatnya berbisik-bisik centil menatap pria itu. Pria itu menenteng sebuah tas yang sudah dipastikan berisi biola karena dilihat dari bentuk tas itu juga sudah ketahuan. Ia tersenyum lembut menatap langit di luar jendela bandara tersebut membuat para wanita didekatnya dari berbagai kalangan dari yang kecil sampai dewasa terpesona (bahkan sampai nosebleed) melihatnya.

'Amu… aku kembali. Sesuai janjiku padamu.'

.

DEG!

Jantung Amu tiba-tiba berdebar-debar saat memasuki kelasnya. Aneh sekali, apa yang terjadi dengannya?

"Ohayou, Amu-chan," sapa pemuda pirang yang sedang duduk dibangkunya yang tak lain adalah Tadase.

"Ohayou, Tadase-kun," balas Amu. Ia pun berjalan menuju bangkunya yang berada dekat jendela.

"Ohayou, Amu," sapa Rima dibelakangnya.

"Ohayou, Amu-chan," sapa Nagihiko disamping bangku Rima.

"Ohayou, Rima, Nagihiko," sahut Amu tersenyum lembut.

Ia meletakkan tasnya disamping mejanya dan mulai duduk.

"Kau kenapa, Amu-chan? Kau terlihat lesu," ujar Nagihiko khawatir.

"Aku tidak apa-apa, Nagi. Mungkin hanya kurang tidur saja," jawab Amu pelan.

"Apa sebaiknya kau tidak usah ikut pelajaran pertama, Amu? Wajahmu terlihat pucat," ujar Rima khawatir.

"Aku tidak apa-apa, Rima. Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja," kata Amu mengelak. Jujur. Sejak insiden pagi tadi, ia benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Kepalanya terasa pusing sejak tadi tapi ia paksakan untuk berangkat sekolah.

"Amu-chan, benar kata Rima, sebaiknya kau istirahat saja," pinta Ran diikuti anggukan dari Miki, Suu dan Daiya.

"Minna, aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku," ujar Amu tersenyum paksa.

"Tapi…"

"Ah~ Sensei pasti sebentar lagi datang. Nanti saja kita bicarakan ya?" pinta Amu berusaha mengalihkan perhatian.

Rima dan Nagihiko saling berpandangan dengan tatapan khawatir.

"Haahh.. baiklah. Terserah kau saja, Amu-chan," ujar Nagihiko mengalah.

"Terima kasih, Nagi," ucap Amu. Rima hanya diam saja.

Sebenarnya dari tadi Tadase mendengar pembicaraan antara Amu antara Rima dan Nagihiko, tapi ia tetap diam saja tanpa ingin mengikuti pembicaraan itu karena ia yakin bahwa hal itu sia-sia.

'Amu-chan… jangan-jangan kau…'

.

Baru seperempat jam pelajaran dimulai, penglihatan Amu mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa pusing sekali dan rasanya ia tidak sanggup lagi untuk melihat ke papan tulis.

"Amu-chan, kau tidak apa-apa?" tanya Daiya khawatir melihat kondisi Amu yang terlihat memprihatinkan.

"Aku tidak apa-apa, Daiya. Aku hanya merasa pu-…" belum sempat Amu melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Amu mulai hilang keseimbangan dan…

"AMU-CHAN!" Nagihiko dengan sigap menangkap tubuh Amu yang hampir terjatuh dari posisinya. Guru dan murid yang lain langsung menoleh pada arah keributan.

"Amu, daijobu?" Rima terlihat khawatir.

Amu sedikit membuka matanya dan terlihat Nagihiko tengah menopang tubuhnya, "Nagi…"

"Sebaiknya kita keruang kesehatan dulu. Sensei, saya minta izin membawa Hinamori-san ke ruang kesehatan," pinta Nagihiko.

"Ah~ baiklah. Silahkan, Fujisaki-san. Sepertinya Hinamori-san terlihat lemah sekali," ujar sensei yang mengajar.

"Sensei, saya juga minta izin membantu Fujisaki-kun," pinta Tadase.

"Watashi mo!" ucap Rima juga.

"Baiklah, terserah kalian."

"Go-menasai… minna," ucap Amu lemah.

.

"Hn… 38.4˚ derajat celcius. Ini sangat tinggi," ucap sang dokter sekolah melihat hasil termometer Amu.

"A-apa Amu baik-baik saja?" tanya Rima.

"Daijobu. Sebaiknya Hinamori-san pulang lebih awal dan istirahat dirumahnya," kata dokter itu seraya kembali ke tempat duduknya.

"Gomen ne minna. Aku merepotkan kalian," ucap Amu lemah.

"Sebaiknya Amu-chan pulang dan istirahat saja," pinta Nagihiko. Amu mengangguk lemah.

"Anominna. Bisa tinggalkan kami berdua? Ada yang ingin kubicarakan berdua dengan Amu-chan," pinta Tadase angkat bicara.

Rima dan Nagihiko saling berpandangan dan menatap Tadase, "Baiklah. Tapi cuma sebentar saja, ya? Karena aku yang akan mengantar Amu-chan pulang nanti," kata Nagihiko.

"Kenapa harus kau yang mengantar Amu pulang? Aku juga bisa," ujar Rima tidak terima.

"Karena aku akan memakai 'Chara Nari' agar lebih cepat mengantar Amu," kata Nagihiko santai.

"Itu berarti kau akan menggendong Amu ala bridal style kan?" ujar Rima menatap tajam tidak terima Nagihiko menyentuh Amu tersayangnya.

"Ehehehe… eto…" Nagihiko merinding ditatap tajam oleh Rima.

"Sudahlah, minna. Biar adil, kita semua mengantar Amu-chan pulang. Ya?" tawar Tadase.

"Baiklah. Asalkan bukan Nagihiko sendirian yang mengantar Amu pulang," ujar Rima cuek seraya keluar dari ruang UKS.

"Chotto, Rima-chan!" Nagihiko mengikuti Rima keluar.

Hening sejenak. Tidak ada yang mulai angkat bicara hingga salah satu Shugo Chara Amu angkat suara.

"Apa kami juga perlu keluar?" tanya Ran.

"Tidak perlu," jawab Tadase.

Para Shugo Chara Amu menghela nafas lega.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Tadase-kun?" tanya Amu.

"Amu-chan, jangan-jangan… kau demam karena… memikirkan Ikuto-niisan. Benarkan?" tebak Tadase.

DEG!

Amu reflek memalingkan wajahnya. Tidak ingin berkata apapun karena itu benar.

"Amu-chan…" Daiya dan lainnya menatap Amu dengan tatapan khawatir.

"Aku tau bahwa kau pasti merindukan Ikuto-niisan, tapi, jika kau begini terus, semua bisa khawatir dengan kondisi fisik maupun mentalmu," ujar Tadase. Para Shugo Chara juga menyetujui ucapan Tadase.

"Tadase-kun…" Amu menatap Tadase dengan mata berkaca-kaca, "Aku tau itu. Aku hanya tidak bisa menerima saja bahwa Ikuto pergi tanpa memberi kabar satupun padaku. Aku hanya teringat masa-masa waktu dulu saja."

Tadase menatap Amu sedih. Ia tidak ingin melihat Amu terpuruk.

"Amu-chan…"

"Baiklah. Sepertinya aku harus siap-siap pulang sekarang," Amu mencoba bangun dari tempat tidurnya.

"Amu-chan! Jangan bergerak dulu. Akan kupanggilkan Fujisaki-kun dan Mashiro-san untuk membantumu," kata Tadase menidurkan kembali Amu dan seraya keluar memanggil Nagihiko dan Rima.

"Arigatou, Tadase-kun."

.

.

Bruk!

Amu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur miliknya. Ya. Kini dia ada di rumahnya.

"Amu-chan, kau tidak apa-apa? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Nagihiko. Kini mereka bertiga ada di kamar Amu sekarang.

"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengantar," ucap Amu tersenyum lemah.

"Apa perlu aku menyelimutimu?" tawar Rima.

"Arigatou, Rima. Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Amu pelan.

"Tapi, Amu…"

"Aku bisa sendiri, Rima. Bukankah kalian masih ada jam pelajaran lagi? Sebaiknya kalian cepat-cepat kembali. Aku… tidak apa-apa. Masih ada Mama yang merawatku," ujar Amu lemah.

"Kalau begitu, kami pamit dulu, Amu-chan," kata Tadase.

"Ya. Berhati-hatilah kalian," pesan Amu.

"Kau juga, Amu," ucap Rima. Bersamaan itu, Tadase, Rima dan Nagihiko keluar dari kamar Amu dan menutup pintunya.

Blam!

Pintupun tertutup dan meninggalkan Amu bersama Shugo Charanya ditengah keheningan.

"Haahh… haahh…" deru nafas Amu terasa panas.

"Amu-chan, daijobu?" tanya Ran khawatir.

"Panas… sekali. Sakit…" Amu mulai mengigau aneh.

"Amu-chan! Huaaaa… bagaimana ini? Amu-chan, bertahanlah, desu~!" pinta Suu panik.

"Daiya, apa yang harus kita lakukan? Kalau begini terus, Amu akan semakin parah!" kata Miki ikutan panik.

"Ano… eto…" Daiya juga ikutan bingung dan panik.

"Daiya, apa yang harus kita lakukan, desu~? Aku tidak mau Amu-chan mati, desu~!" histeris Suu, panik.

"Suu, jangan bilang begitu! Amu-chan mana mungkin mati semudah itu!" teriak Ran tidak terima.

"Tapi…"

"Minna, aku tidak apa-apa. Sebaiknya… bantu aku merapikan selimut ini. Aku… benar-benar tidak sanggup," ucap Amu terputus-putus dengan nafasnya yang semakin panas saja.

"Ba-baiklah, Amu-chan," Ran dan kawan-kawan langsung membantu Amu merapikan selimutnya.

Saat Ran dan kawan-kawan membuka selimutnya…

"He?"

"He?"

Terlihat seorang pria tengah tertidur di tempat tidur Amu dengan lelapnya.

"EEEEEEEHH?" teriak Amu dan Shugo Charanya histeris.

"Ngh…" sang pria itu mulai terbangun karena mendengar teriakan (sangat) keras di dekat telinganya.

'Siapa? Siapa pria ini? Sepertinya aku familiar pada orang ini. Tapi, siapa? Jangan-jangan…'

Amu memberanikan diri untuk menyebut nama yang mungkin benar tebakannya.

"I-Ikuto…"

"He?" Ran dan kawan-kawan kaget mendengar ucapan Amu.

Pria itu terbangun dari tidurnya dan menatap Amu dengan pandangan yang agak mengantuk dan mengucek-ngucek matanya seperti kucing.

"Amu?" tanyanya memastikan.

'Ikuto! Ikuto! Ikuto! Akhirnya, kau kembali. Kau kembali. Iku-.."

Amu terlihat sangat bahagia bertemu dengan Ikuto tapi sepertinya kebahagiaan Amu hanya bisa bertahan sebentar karena pandangannya mulai terasa kabur, ia sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi dan…

Bruk!

Amu ambruk di dada Ikuto dan Ikuto reflek memeluknya.

"Heee… segitu rindunya kah kau padaku sampai memelukku duluan, Amu? Tidak kusangka, selama 4 tahun tidak bertemu, kau bisa berubah agresif seperti ini, hehehe…" tawa pria itu yang tak lain adalah Ikuto. Ia masih tidak tau bahwa Amu sedang sakit.

"Haahh… hahh..." deru nafas Amu semakin pelan dan terasa panas bagi Amu. Itu membuat Ikuto merasa janggal dengan respon Amu.

"Amu, kau tidak apa-apa? Kau kena-… panas," ucap ikuto saat menyentuh kening Amu dan tangannya.

"Amu-chan sedang sakit. Bagaimana ini? Kami takut terjadi apa-apa dengan Amu-chan," kata Ran khawatir.

"Sakit? Sejak kapan?" tanya Ikuto terkejut.

"Sejak tadi pagi. Suhu badannya tinggi sekali. Kami khawatir jika terjadi apa-apa pada Amu-chan, desu~," jawab Suu sedih.

"Benarkah?" para Shugo Chara Amu mengangguk.

"Amu, kau dengar aku? Kalau kau dengar, jawab aku," pinta Ikuto khawatir dan sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Amu.

"Pa-nas… se-sak… aku… butuh air," ucap Amu tersendat-sendat.

"Huwaaaa, Amu-chan! Tunggu, aku akan mengambil air untukmu!" teriak Ran bergegas pergi.

Tok! Tok! Pintu kamar Amu diketuk seseorang dan pintu tersebut perlahan-lahan terbuka.

Krek! Terdengar pintu kamar Amu terbuka. Itu membuat Ran jadi mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Amu-chan," terdengar suara perempuan yang lembut dan keibuan memasuki kamar Amu yang tak lain adalah Hinamori Midori, Mama Amu.

"He? Gawat! Ikuto, kenapa kau tidak sembunyi? Nanti ketahuan Mama Amu-chan," teriak Ran panik. Tapi terlambat, Mama Amu sudah melihat Ikuto tengah memeluk Amu di atas tempat tidur.

"Gyaaaaa! Ketahuan!" jerit Ran, Miki, Suu dan Daiya panik.

"Ah~ Amu-chan! Apa yang terjadi?" Midori langsung menghampiri Ikuto dan Amu. "Ikuto-kun, apa yang terjadi pada Amu-chan?"

Reaksi pertanyaan dari Mama Amu membuat para Shugo Chara terbengong-bengong. Kenapa reaksi Midori seperti ini? Apa dia tidak heran melihat ada pria di kamar putrinya dan tengah memeluk putri kesayangannya?

"Chotto… apa… yang sebenarnya terjadi?" Miki bertanya-tanya.

"Sepertinya Amu pingsan. Tubuhnya panas sekali," lapor Ikuto tanpa ada rasa gugup karena ketahuan. Tapi, kenapa Ikuto tidak gugup?

"Baiklah. Tolong jaga Amu-chan sebentar, Ikuto-kun. Aku akan mengambil obat untuk Amu-chan," kata Midori seraya keluar dari kamar Amu.

Blam! Pintu kamar Amu tertutup.

Siii~ng! hening sesaat. Para Shugo Chara masih terheran-heran.

"Apa… yang sebenarnya terjadi? Kenapa reaksi Mama Amu-chan seperti itu?" ucap Daiya heran sambil melirik Ikuto.

"Ah, aku lupa bilang, ya? Sebenarnya, karena tidak mau membohongi Mama Amu terus-terusan, aku datang secara terang-terangan. Karena niatku mencari Amu tapi Amu masih sekolah, jadi Mama Amu menyuruhku untuk menunggu di kamar Amu. Sebenarnya aku ingin memberi kejutan tapi tidak tahunya, aku ketiduran," jelas Ikuto panjang lebar.

Ran, Miki, Suu dan Daiya dibuat ternganga dengan penjelasan Ikuto yang panjang.

"Ikuto, sejak pulang dari Eropa, kau jadi banyak bicara ya," komentar Ran.

"He?" wajah ikuto sedikit merona. Benar-benar beda dari karakter yang biasanya.

Klek! Pintu kamar Amu kembali terbuka dan menampakkan Midori yang membawa obat dan baskom yang berisi air hangat untuk mengkompres Amu. Tidak lupa dengan handuk kecil berwarna putih.

"Ikuto-kun, tolong baringkan Amu-chan dan bisakah kau keluar sebentar? Aku mau mengganti baju seragam Amu-chan," pinta Midori.

"Ah, baiklah," Ikuto pun membaringkan Amu dan ia sendiri keluar dari kamar Amu.

.

Setelah beberapa menit kemudian, Midori keluar.

"Bagaimana dengan Amu?" tanya Ikuto khawatir. Ia seperti sedang menanyakan istrinya yang sedang melahirkan saja pada seorang suster. =.='

"Amu-chan baik-baik saja, Ikuto-kun. Sebaiknya tunggu dia sadar dan meminum obatnya saja," kata Midori.

"Huft, syukurlah. Ano… bolehkah aku minta tolong sesuatu?" tanya Ikuto dengan nada serius.

"Eh?"

.

Blam! Pintu kamar Amu tertutup dan Ikuto menghampiri Amu yang sedang tertidur.

"Ikuto, apa Amu-chan akan baik-baik saja, desu~?" tanya Suu.

"Tenang saja. Amu akan baik-baik saja setelah dia meminum obatnya," kata Ikuto.

"Tapi, bagaimana caranya dia meminum obatnya? Sekarang saja Amu-chan tidak terbangun sama sekali dari tadi," ujar Miki. Ikuto terdiam.

"Biar… aku yang meminumkan obatnya," ucap Ikuto.

"HE?" para Shugo Chara Amu shock.

Ikuto mengambil obat yang berada di meja. Ia memasukkannya ke dalam mulutnya dan juga air, dan… lanjutannya silahkan bayangkan sendiri.

"Gyaaaa~! Ciuman asli, desu~!" pekik Suu blushing melihat adegan Ikuto yang tengah mencium Amu, atau lebih tepatnya sedang meminumkan obat Amu.

"U-uwooo…" Ran, Miki dan Daiya hanya bengong melihat adegan itu dengan semburat merah menghiasi wajah mereka.

Ikuto pun melepas 'ciumannya' dan beralih menatap Shugo Chara Amu yang tengah blushing berat.

"Kalian kenapa? Jangan bilang bahwa kalian juga ikut-ikutan demam," ujar Ikuto heran.

"B-betsuni, ehehehe… (desu~)" jawab Ran, Miki, Suu, dan Daiya kompak.

Ikuto hanya bisa sweatdrop melihat tingkah aneh para Shugo Chara Amu.

.

.

To be continue

Yak! Potong di sini. Tenang aja. Nih fic Cuma sampai twoshot aja kok. Dan sisanya udah selesai. Tergantung review kalian jika ingin fic ini di update.

Keep or delete?

Terima saran, kritik, pujian (maunya), maupun flame. Khusus flame yang di dapat, akan saya gunakan untuk membakar Yamabuki Saaya, kekekeke… (Saaya: "Jangan bercanda!" DX)

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v