Ok! Ini chapter 2-nya. Selamat menikmati. ^^

Happy reading minna-san and here we go! XD

Disclaimer:

Sampai kapanpun Ikuto tetap tak bisa kumiliki, hiks… T.T #digampar Amu and Peach-pit

Pair:

Tsukiyomi Ikuto dan Hinamori Amu

Warning:

AR semi AU, gajeness, typoness, lebayness, dwwgl (dan warning-warning gaje lainnya)

Notification:

"Blablabla,": bicara biasa (tanda petik dua)

'Blablabla,': bicara dalam hati (tanda petik satu)

.

I'm Come Back, Amu

By: Yui Hoshina

Chapter 2

.

'Hangat. Siapa? Siapa yang menyentuh keningku? Tangan hangat ini milik siapa? Mama? Tidak. Rasanya tangan Mama tidak sebesar ini. Siapa? Ikuto kah? Mustahil. Itu tidak mungkin. Ikuto tidak ada di sini. Sepertinya aku sempat berhalusinasi bahwa Ikuto berada di kamarku dan tertidur di tempat tidurku. Haahh… sepertinya aku harus menyerah soal Ikuto. Aku lelah menunggu. Menunggu orang yang tidak pernah memberiku kabar sekalipun.'

Amu sedikit membuka matanya. Kepalanya sedikit pusing. Mungkin ini efek demamnya atau karena ia tertidur terlalu lama?

"Ugh…" Amu berusaha untuk bangun tapi, seperti ada sesuatu yang menahannya untuk bangun. Ia merasakan sesuatu yang agak berat menahan tubuhnya atau seperti ada seseorang yang tengah… memeluknya?

Dengan sisa tenaga, Amu mencoba memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada yang berubah. Tapi, kenapa ia merasa ada sesuatu yang sedikit ganjal? Ia merasakan sesuatu berat yang menindih bagian perutnya. Ia pun mencoba memperhatikan di sekeliling tempat tidurnya dan terlihat… seorang pria berambut biru gelap tengah tertidur sambil memeluknya. Eh? Seorang pria?

Let's countdown!

Three!

Two!

One!

"KYAAAAA!" Amu langsung menyingkirkan (baca: menendang) pria itu menjauh dari tempat tidurnya. Alhasil, terciptalah suara 'Gedebuk!' dan 'Itai,' dari pria itu.

"Heeee~? Si-siapa kau?" tanya Amu panik. Suasananya sedikit gelap dan Amu beranggapan bahwa sekarang sudah malam.

"Ck, Amu. Kenapa kau menendangku sih? Aku kira kau sudah mengenalku tapi sekarang kenapa reaksimu seperti melihat seorang hidung belang," keluh Ikuto sambil mengusap-usap kepalanya yang sempat menjadi korban (?) benturan.

"Eh? I-Ikuto?" ucap Amu memastikan.

"Tentu saja, baka. Memangnya siapa lagi," kata Ikuto sambil menoleh pada Amu. Amu terkejut begitu melihat pria di depannya benar-benar Ikuto.

"I-Ikuto! K-kau benar-benar Ikuto?" kata Amu tidak percaya membuat Ikuto sweatdrop.

"Tentu saja ini aku. Aku belum mati, Amu. Kalau kau mau, aku akan menciummu sebagai bukti bahwa aku sudah kembali," goda Ikuto jahil.

BLUSH! Wajah Amu merah padam.

"Ti-tidak perlu. Aku percaya bahwa kau benar-benar Ikuto," kata Amu sambil memalingkan wajahnya yang memerah.

"Benarkah? Padahal aku juga ingin melakukannya," goda Ikuto sambil mendekati Amu perlahan-lahan.

"Ja-jangan mendekat! K-kau mau apa?" tanya Amu gugup.

"Sudah jelas kan. Aku…," Ikuto semakin mendekat dan menyentuh wajah Amu dengan kedua tangannya.

"Ugh…," Amu tidak sanggup untuk melihat wajah Ikuto yang semakin lama semakin dekat dengan wajahnya. Ia kini hanya bisa menunggu waktu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tep! Sentuhan hangat ia rasakan di keningnya.

"Sepertinya demammu sudah turun," kata Ikuto. Ia sedang menempelkan keningnya pada kening Amu untuk mengukur suhu tubuhnya.

"Eh? Demam?" Amu membuka matanya perlahan-lahan dan terlihat wajah Ikuto yang sangat dekat. Itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan rona merah semakin terlihat di wajahnya.

Pessshh! Wajah Amu serasa terbakar dan menguap.

"Hei, kau sedang tidak berpikiran mesum kan? Ero gaki," ledek Ikuto tersenyum jahil sambil melepaskan genggaman tangannya di wajah Amu.

"APA!" teriak Amu kesal plus blushing.

"Kau pasti memikirkan sesuatu tadi. Terlihat dari wajahmu yang memerah," ledek Ikuto sambil menjulurkan lidahnya.

"Aaaargh! Ternyata kau sama sekali tidak berubah! Baka neko sialan!" umpat Amu kesal sambil memukul-mukul Ikuto cukup keras.

"Hei! Itt.. he-hentikan! Sakit," Ikuto berusaha melindungi dirinya dari serangan Amu. Tanpa mereka sadari, para Shugo Chara Amu memperhatikan dari balik telur mereka.

"Syukurlah. Sepertinya Amu-chan sudah terlihat lebih baik, desu~," kata Suu senang.

"Benar," kata Ran dan Miki. Sedangkan Daiya hanya menjawab dengan senyuman dan kini pandangan Daiya mulai terarah pada pintu kamar Amu yang sedikit terbuka.

"Eh? I-itu…" mendengar nada bicara Daiya yang terdengar terkejut, Ran, Miki, dan Suu langsung menoleh ke arah Daiya.

"Ada apa, Daiya?" tanya Ran. Daiya tidak menjawab melainkan mengarahkan tangan mungilnya ke arah pintu. Ran, Miki dan Suu langsung menoleh pada arah yang ditunjukkan Daiya dan terlihat…

"Eeeeh? I-itu kan Ma-mama Amu-chan, desu~," pekik Suu pelan. Terlihat Mama Amu sedikit mengintip dari arah pintu dengan wajah yang tersenyum lembut.

"I-iya. Ta-tapi, sepertinya ia hanya memperhatikan saja. Tidak masuk dalam kamar," komentar Miki.

Bersamaan dengan itu, Mama Amu pun menutup pintu kamar Amu secara perlahan-lahan.

"Sa-sakit. Hentikan, Amu," pinta Ikuto yang masih dalam 'korban penyiksaan' Amu.

"Baka! Baka! Ikuto no baka! Baka! Baka! Hiks…," perlahan-lahan, pukulan Amu mulai pelan dan tergantikan oleh isakan kecil.

"Amu," Ikuto memandang Amu dengan tatapan yang sulit di tebak. Amu masih memukul dadanya walaupun tidak sekeras tadi. Isakan kecil Amu mulai terdengar sedikit keras dengan kepala menunduk yang tidak ingin memperlihatkan sisi kerapuhannya pada Ikuto.

"Baka! Kenapa kau baru pulang sekarang? Kenapa kau tidak pernah memberiku kabar sekalipun? Kau bodoh, Ikuto. Kau menyebalkan. Kau jahat! Jahat!" Amu semakin tidak bisa membendung perasaannya lagi. Ia sudah lelah dalam hal menunggu. Sangat lelah.

Perlahan-lahan, Ikuto memeluknya. Menenangkan gadis berambut pink itu.

"Maaf," hanya kata itu yang terucap dari mulut Ikuto.

"Jahat… jahat… kau sangat jahat, ikuto. Kau membiarkan aku menderita selama 4 tahun ini. Kenapa kau baru muncul sekarang? Aku lelah, Ikuto. Aku lelah menunggumu, hiks…" kali ini Amu mulai menggenggam kemeja Ikuto, menyalurkan rasa kekesalannya dengan memberi sedikit pukulan lagi pada Ikuto.

"Maafkan aku, Amu. Maaf," lagi-lagi hanya kata 'maaf' yang terucap oleh Ikuto. Ikuto semakin mempererat pelukannya.

"Tidak akan. Aku tidak akan memaafkanmu. Kau benar-benar membuatku merasa hancur karena meninggalkan sebuah janji. Kau pembohong! Kau pembohong!"

Ikuto tidak menjawab, malah semakin mempererat pelukannya pada Amu.

"Amu-chan…" para Shugo Chara Amu menatap Amu prihatin.

"Sebaiknya kau tidur. Kondisimu masih belum pulih," kata Ikuto sambil mencoba membaringkan Amu.

"Aku… tidak akan memaafkanmu jika kau meninggalkanku lagi. Kumohon… jangan pergi lagi," desis Amu. Ikuto tersenyum mendengar perkataan Amu.

"Aku tidak akan pergi lagi. Karena aku… akan terus bersamamu," ucap Ikuto sambil membaringkan Amu yang berada di pelukannya dan mencium keningnya. Amu mengangkat kepalanya, menatap Ikuto dengan mata yang terlihat sembab.

"Janji?"

"Janji. Jika kau mau melepaskan pelukanmu sekarang."

BLUSH!

Ikuto berhasil membuat wajah Amu merah padam kembali.

"Kau benar-benar tidak berubah. Selalu saja suka menggodaku," keluh Amu sambil mendorong Ikuto pergi menjauh darinya.

"Hei, aku sudah lama tidak menggodamu, jadi aku merindukan masa-masa itu, hehehe…" Ikuto tertawa kecil.

"Gezz… kau memang benar-benar pintar merusak suasana. Ngomong-ngomong, sekarang jam berapa?" tanya Amu. Sepertinya Amu sudah melupakan kesedihannya tadi.

"Jam 6 sore. Sepertinya sudah waktunya makan malam," jawab Ikuto saat melihat jam weker Amu.

"Ooh… begitu ya. Sebaiknya aku mandi dulu," Amu pun mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya tapi saat ia mencoba berdiri…

"Ugh…" tubuh Amu terlihat oleng dan hampir terjatuh.

Greb!

Beruntung Ikuto berhasil menangkapnya dan Amu tidak harus mencium lantai.

"Sepertinya kau masih belum sehat betul. Lebih baik kau istirahat saja," pinta Ikuto mencoba kembali membaringkan Amu.

"Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus istirahat agar kondisimu pulih. Mengerti?" perintah Ikuto tegas plus khawatir.

"Ugh… iya, iya. Kau seperti seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya saja. Ups…" wajah Amu merah padam begitu menyadari ucapannya barusan. Itu membuat Ikuto menyeringai jahil.

"Hmm… Jadi kau mau menjadi istriku ya?" goda Ikuto lagi. Wajah Amu semakin merah mendengar nada menggoda Ikuto.

"Bukan! Eh, maksudku i- eh, ano, e-eto… akh, sudahlah!" Amu langsung memakai cara efektif yaitu… menutupi dirinya dengan bantal untuk menghindari tatapan jahil Ikuto.

"Kenapa? Kau malu?" Ikuto semakin gencar menggoda Amu. Pemandangan wajah Amu yang memerah karena malu adalah pemandangan yang sangat disukai Ikuto.

"Baka Ikuto!" umpat Amu di sela-sela ia menutupi wajahnya dengan bantal.

"Hehehe… kau benar-benar tidak berubah," ucap Ikuto tertawa kecil. Kemudian, ia pun mempunyai ide untuk menjahili Amu. Yah, walaupun agak extreme sedikit. "Ne, Amu."

"Apa?" tanya Amu yang masih menutupi wajahnya. Ia mengarahkan arah tubuhnya ke samping menghadap tembok kamarnya.

"Cepat singkirkan bantal itu. Aku mau bicara," pinta atau perintah Ikuto.

"Tidak mau! Kau pasti berniat menjahiliku lagi. Jangan kira aku akan tertipu oleh tipuanmu lagi."

"Ck. Cepat singkirkan bantal itu, Amu. Aku tidak bisa melihat wajahmu," kata Ikuto mencoba menarik bantal Amu.

"Urusai! Pergi sana!" usir Amu tanpa sadar.

"Ooh… jadi kau mengusirku? Baiklah, aku akan pergi dan tak akan kembali lagi," ujar Ikuto dengan nada PURA-PURA kecewa. Mendengar hal itu, Amu langsung menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya dan berbalik.

"EEEH? Ja-.."

Cup!

Sebuah ciuman mendarat mulus di bibir Amu.

'HIEEEEE?' jerit para Shugo chara Amu begitu melihat adegan kissing season dua.

Ikuto pun melepas ciumannya dan langsung memasang seringai jahil.

"Eeeeh!" Amu langsung menutup bibirnya dan wajahnya semakin memerah.

"I tricked you again," ucap Ikuto tersenyum jahil sambil menjulurkan lidahnya.

"Mou~ BAKA NEKO MESUM!"

.

.

"Ohayou~," sapa Amu saat menuruni tangganya menuju ruang makan.

"Ohayou, Amu-chan," sahut Midori.

"Ohayou, Onee-chan," balas Ami.

"Yo, Amu," sapa Ikuto. Ya, Ikuto. Sejak kejadian tadi malam, Ikuto menginap di rumah Amu (dan secara tidak langsung sudah menjadi sepasang kekasih). Lebih tepatnya, menginap di kamar Amu lagi setelah mendapat persetujuan dari Midori, Mama Amu dan Tsumugu, Papa Amu, yang dengan terpaksa memberi izin.

"Lho, Papa mana?" tanya Amu begitu melihat ada seseorang yang tidak ada di sana.

"Seperti biasa. Lari keliling rumah sambil meneriakkan 'Amu tidur bersama pria? Tidak mungkin!'," jawab Midori watados tanpa menyadari ucapannya yang membuat Amu kembali merona.

"Ugh, aku kan tidak tidur dengan pria. Hanya tidur sekamar saja," ucap Amu blushing. Ya, cuma tidur sekamar karena Amu melarang Ikuto untuk tidur di tempat tidurnya dan Ikuto sendiri dengan terpaksa tidur di lantai hanya berbekal futon dan selimut.

"Kau lupa ya, kita kan pernah tidur bersama waktu dulu," seringai Ikuto jahil.

"URUSAI!" bentak Amu blushing.

"Ara, ara, ayo kita sarapan. Cepatlah Amu-chan. Nanti kau bisa terlambat," kata Midori.

"Haik," jawab Amu.

Ia pun menduduki kursinya di sebelah Ikuto dan mulai memakan roti bakarnya.

"Ne, Ikuto. Apa rencanamu sekarang?" tanya Amu.

"Aku akan kembali ke rumah dan membereskan barang-barangku," kata Ikuto sambil memakan roti bakarnya.

"Ooh…,"

"Kenapa? Kau mau membantuku?" tanya Ikuto.

"Memangnya boleh?"

"Tentu saja. Bagaimana kalau selesai membantuku, kita jalan-jalan ke taman ria?" tawar Ikuto sambil mengedipkan matanya.

"Eh? Mau! Mau! Mau! Tapi…," Amu memandang Midori dengan tatapan meminta persetujuan.

Midori yang merasa ditatap anaknya langsung menjawab dengan tersenyum, "Boleh saja. Asal tidak lewat dari jam 9-10 malam."

"Terima kasih, Mama. Eh? Gawat! Aku berangkat dulu. Sampai nanti Mama, Ami, Ikuto. Ittekimashu!" Amu pun pamit dan seraya berlari keluar dari rumahnya.

"Tolong jaga Amu-chan ya, Ikuto-kun," pinta Midori.

"Itu sudah pasti."

.

.

"Ohayou~!" sapa Amu ceria begitu memasuki kelasnya.

"Ohayou, Amu-chan. Kau sudah sehat?" tanya Nagihiko. Amu mengangguk.

"Hm. Aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuannya kemarin," kata Amu tersenyum riang.

"Sama-sama. Kalau kuperhatikan, kau terlihat sangat ceria, Amu-chan. Pasti ada sesuatu yang terjadi," Nagihiko tersenyum misterius.

"E-eh… cu-cuma perasaanmu saja. Ngomong-ngomong, kemana Rima dan Tadase-kun? Padahal tas mereka ada," tanya Amu heran.

"Ng… Amu-chan, mereka…" Nagihiko sweatdrop dengan pertanyaan Amu karena…

"Kami ada di belakangmu, Amu," kata Rima dari arah belakang Amu. Amu reflek berbalik.

"Eeeeh! Go-gomen, a-aku tidak melihat kalian," ucap Amu menyesal.

"Sepertinya Amu-chan terlihat senang sekali hari ini jadi tidak melihat kami," ucap Tadase.

"E-eh… ano… eto…" wajah Amu kembali merona. Yah~, karena salah satu kebahagiaannya sudah terpenuhi sekarang.

KRIIIING!

Bel masuk pun berbunyi. Amu dan kawan-kawan langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

.

Skip time! Pulang sekolah.

"Amu, bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan? Kau mau?" tawar Rima.

"Gomen ne, Rima. Aku ada janji hari ini," tolak Amu halus.

"Janji? Janji dengan siapa?" tanya Rima penasaran.

"Err… rahasia," ucap Amu.

"Mou~ Amu!"

"Amu-chan, Rima-chan, ayo kita keluar," panggil Nagihiko dari arah pintu kelas bersama Tadase. Sejak kapan?

"Ah~ i-iya," jawab Amu dan Rima bersamaan.

.

Saat Amu dan kawan-kawan berjalan pulang, terlihat dari arah gerbang Seiyo terdapat sekumpulan yang didominasi oleh anak perempuan sedang ramai-ramainya. Sepertinya tengah mengerubungi sesuatu.

"Apa ada yang sedang terjadi di sana, ya?" kata Nagihiko bertanya-tanya.

"Entahlah. Bagaimana kalau kita bertanya saja," usul Tadase.

"Ide bagus," jawab Amu.

Mereka pun menghampiri kerumunan itu dan mencoba bertanya kepada salah satu anak perempuan.

"Maaf, apa yang terjadi di sini?" tanya Tadase.

Anak perempuan itu berbalik dan matanya langsung berubah menjadi bentuk 'Love'.

"Ta-Tadase-sama," ucap anak perempuan itu girang.

"Ya-Yamabuki-san, sedang apa kau di sini?" tanya Amu heran. Ya, anak perempuan itu adalah Yamabuki Saaya.

"Oh, kau Hinamori-san. Kau belum tau ya? Ada pria tampan masuk sekolah ini. Katanya, ia sedang menunggu seseorang. Kyaaaaa~! Dia benar-benar tampan sekali!" jerit Saaya girang. "Ta-tapi, Tadase-sama juga tidak kalah tampan."

'Pria tampan? Mana mungkin dia…'

"Yo, Amu. Akhirnya kau keluar juga."

'DOKI!' jantung Amu langsung berdetak dengan cepat begitu mendengar suara yang familiar.

"EH? I-Ikuto nii-san!" teriak Tadase kaget begitu melihat siapa yang menyapa Amu.

"Yo, Tadase. Lama tidak bertemu," sapa Ikuto. Di belakangnya terdapat sekumpulan siswi yang terpesona pada Ikuto.

"Oooh~,, sekarang aku tau alasannya. Pantas saja tadi Amu-…"

"Urusai!" teriak Amu memotong perkataan Nagihiko. Wajahnya merah padam. Nagihiko dan Rima tersenyum jahil melihat reaksi Amu.

"Amu, wajahmu merah. Kau demam lagi?" tanya Ikuto sambil menyentuh wajah Amu.

"KYAAAAA~!" teriakan siswi-siswi itu semakin keras ketika Ikuto… menempelkan dahinya pada dahi Amu. Otomatis itu membuat wajah Amu semakin merah padam.

"HIEEEE?" Tadase, Nagihiko dan Rima shock dengan wajah merona.

"Le-lepaskan, Ikuto. A-aku tidak demam," bantah Amu sambil melepas sentuhan Ikuto pada wajahnya. Wajahnya benar-benar panas. Bagaimana tidak? Hampir seluruh siswa maupun siswi Seiyo High School yang lewat di sana memperhatikan mereka berdua.

"Hyaaaa~! Dia siapanya Hinamori-senpai? Jangan-jangan kekasihnya. Kyaaaa~! Hinamori-senpai hebat punya kekasih yang tampan dan dewasa!" rentetan komentar siswi-siswi di sana bagaikan mesiu yang siap membakar wajah Amu karena saat ini wajah Amu benar-benar merah padam.

'Ba-baka Ikuto! Ke-kenapa dia datang ke sekolahku sih?'

"TIDAAAAK! Aku kalah lagi dari Hinamori-san! Dia punya kekasih yang tampan dan lebih dewasa. Aku iri," rutuk Saaya. Sesaat kemudian, Saaya merasa ada yang aneh dengan pria di dekat Amu.

"Eh? Kalau kuperhatikan baik-baik, sepertinya wajahmu familiar," komentar Saaya.

"Eh? Familiar? Kau pernah bertemu dengan Ikuto?" tanya Amu yang berusaha melepas pelukan Ikuto di lehernya.

"Ikuto… Ikuto… Ikuto. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Sepertinya… Aaaaargh! Aku ingat! Mustahil! Jangan-jangan kau…" wajah Saaya terlihat pucat ketika mengingat sesuatu. "… TSUKIYOMI IKUTO SANG VIOLINIST JENIUS DARI EROPA!"

"HAAAAA~!" sebagian besar siswa Seiyo High School ternganga. Violinist jenius dari Eropa? Gak salah?

"Sepertinya kata jenius itu sedikit berlebihan," komentar Ikuto sweatdrop.

"K-kau benar-benar Tsukiyomi Ikuto?" tanya Saaya memastikan.

"Hn," jawab Ikuto singkat.

"HEEEEEE! Amu mendapat kekasih seorang violinist terkenal? USO!" Saaya shock mengetahui kenyataannya.

"TIDAAAAK~! HINAMORI-SAN SUDAH PUNYA ORANG LAIN! MANA ORANG ITU TERKENAL DAN DEWASA LAGI!" komentar kecewa plus patah hati para fans boy Amu yang berada di sana.

"AMU-CHAN, SELAMAT YA! BENAR-BENAR MENDAPAT KEKASIH YANG DEWASA DAN TERKENAL. TERNYATA RUMOR WAKTU SD, AMU AKAN MENDAPAT KEKASIH YANG LEBIH DEWASA ATAU TERKENAL ITU BENAR-BENAR TERJADI! HEBAT~!" para siswi Seiyo High School yang pernah menjadi teman sekelas Amu berteriak kegirangan.

Amu yang mendengar itu hanya bisa menunduk malu.

"Ano… sepertinya ada yang salah di sini. Ikuto nii-san, Amu-chan, bisa jelaskan apa yang terjadi?" pinta Tadase bingung.

"Amu, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau sudah jadian dengan Ikuto," protes Rima.

"Eh, ano… eto…" Amu gugup mengatakan hal yang sebenarnya.

"Kami belum jadian kok," ucap Ikuto tiba-tiba membuat Amu sedikit kecewa.

"He? Belum jadian? Lalu apa hubungan kalian?" tanya Saaya yang seolah-olah mendapat angin baru karena saingannya ternyata belum mempunyai pacar.

"Dia…" Ikuto kembali memeluk Amu dari belakang membuat Amu blushing lagi, "… calon istriku."

"Calon…"

"Istri?"

"NANIIIIIII? CALON ISTRI?" teriak semua orang yang berada di sana, shock. Hinamori Amu sudah di lamar secara tidak langsung di hadapan para siswa-siswi Seiyo? Bohong!

"Tidak… mungkin. Ternyata Hinamori-san sudah melangkah terlalu jauh dibandingkan diriku. Aku… kalah," Saaya shock berat.

"Cho-chotto, Ikuto. Apa maksudmu calon istri? Seingatku aku tidak pernah mendengar rencana itu," protes Amu yang wajahnya semakin memanas.

"He? Kukira kau setuju. Bukankah kau yang melamarku duluan?" ujar Ikuto polos.

"HE? HINAMORI-SAN YANG MELAMAR DULUAN?" teriak Saaya tambah shock.

"A-Amu-chan," Tadase dan Nagihiko memandang Amu dengan tatapan shock.

"Ja-jangan percaya! Aku tidak pernah melamar Ikuto! Dia bohong!" kilah Amu. Wajahnya sudah merah padam lagi. Semoga saja rona merah itu tidak permanen di wajah Amu.

"Ikuto nii-san, kau bohong ya?" tanya Tadase.

"Menurutmu?" tantang Ikuto.

"Eh?"

"Mou~ dasar… BAKA NEKO PERVERT!" Amu langsung membanting (?) Ikuto yang tengah memeluknya dan langsung menyeretnya keluar dari Seiyo.

"…"

"…"

"…"

Hening.

"A-apa yang barusan terjadi?" ucap Rima heran. Pemandangan Ikuto yang dibanting Amu dan di seret pergi benar-benar di luar nalar dan logikanya.

"Hotori-kun, kau tidak apa-apa Amu-chan bersama Ikuto?" tanya Nagihiko yang mengetahui bahwa Tadase menyukai Amu.

"Eh? Kau barusan bilang apa tadi, Fujisaki-kun?" tanya Tadase yang sepertinya baru membuka ponselnya.

"K-kau sedang apa?" tanya Nagihiko bingung.

"Membaca e-mail dari Lulu," jawab Tadase santai.

"Lulu? Lulu Domorselle Yamamoto maksudmu?" tebak Nagihiko.

"Ya," jawab Tadase sambil tetap mengotak atik ponselnya. Sepertinya tengah membalas.

"Sejak kapan kau mulai berhubungan dengan Lulu-chan? Sejauh mana hubungan kalian?" tanya Nagihiko penasaran.

"Err… sebenarnya… aku dan Lulu sudah jadian sejak sebulan lalu," jawab Tadase sedikit blushing.

"Uso!" Nagihiko tidak percaya.

"Su-sudah dulu ya. Aku mau menjemput Lulu di bandara. Matta ashita, Fujisaki-kun," Tadase langsung pergi secepat kilat.

"Mu-mustahil! Aku tidak percaya bahwa Tadase berpacaran dengan Lulu Domorselle Yamamoto," ucap Nagihiko shock.

"Ayo kita pulang, Nagihiko," kata Rima.

"Haik," jawab Nagihiko lemas.

.

.

"Ikuto, apa maksudmu dengan calon istri!" tanya Amu marah. Mereka berdua sekarang ada di taman tempat pertama kali Amu menemukan Ikuto yang tengah memainkan biolanya.

Ikuto tidak menjawab melainkan mulai merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.

"Karena aku… ingin 'mengikatmu' dengan ini," kata Ikuto sambil membuka kotak kecil itu dan terlihat sebuah cincin perak yang terukir sangat indah.

"I-Ikuto… a-apa maksudmu?" tanya Amu bingung dan sedikit shock.

"Kau tau apa maksudku. Apakah kau… mau menikah denganku?" lamar Ikuto tiba-tiba.

DEG!

Jantung Amu berdetak tidak karuan. Ikuto melamarnya? Apakah ini mimpi?

"Ja-jangan bercanda. A-aku masih 16 tahun," elak Amu gugup.

"Tidak masalah. Aku akan menunggumu sampai kau lulus kuliah. Apakah kau… mau menerimanya?" tanya Ikuto memandang Amu begitu lembut.

"A-aku… aku…"

"Doushite, Amu-chan?" tanya Ran.

"A-aku… aku…"

"Kenapa kau malah bingung, Amu-chan? Kau pasti sudah tau jawabannya kan?" kata Miki.

"A-aku…"

"Amu-chan, apa jawabanmu, desu~?" tanya Suu.

"Mou~ kalian benar-benar tidak membantu! Diamlah sebentar," keluh Amu.

Daiya mulai mendekati Amu dan terbang di hadapannya.

"Amu-chan, tenanglah. Tenangkan pikiranmu sejenak," ucap Daiya.

"Daiya…"

"Kau harus percaya kata hatimu. Seperti kau mempercayai cahaya yang ada dalam dirimu," ucap Daiya tersenyum lembut.

"Daiya…" Amu pun mencoba memejamkan matanya. Memikirkan jawaban yang pas untuk semua itu. Melihat ke dalam dirinya apakah kata yang pantas diucapkan untuk sekarang.

Amu pun mulai membuka matanya perlahan-lahan dan melihat Ikuto yang tengah menanti jawabannya. Amu tersenyum lembut seraya berlari ke arah Ikuto dan memeluk pemuda itu.

GREB!

"A-Amu," Ikuto terkejut dengan tindakan tiba-tiba Amu.

"Kau pasti tau jawabanku sekarang. Jangan paksa aku untuk mengatakannya, karena aku…" Amu menatap Ikuto dengan lembut dan sedikit rona merah yang menghiasi pipinya membuatnya terlihat manis, "…ingin selalu bersamamu."

Ikuto tersenyum lembut mendengar ucapan Amu dan memeluknya erat.

"I'm Come Back, Amu."

.

.

Owari

Nyaaa~ akhirnya tamat juga. XD

Gomen ne kalo akhirnya malah gaje banget, nyehehe…

Sepertinya ada pair baru nongol di sini yaitu Tadase dan Lulu. Biar semua dapat pasangan gitu. ^.^ #plak

Ok! Pembalasan review dimulai! XD

Rizuka Hanayuuki: Waah~ makasih dah dibilang keren. Yak! Ini dah di update! ^^

Crimson flame: Ok! Ini sudah di update. Sudah cukup cepatkah? ^^

Violet: yak! Ini dah di update! XD

Ikuto: Hahaha… itu bukan bagian dari rencanaku karena Ikuto (Shugo Chara) baru pulang dari Eropa. Kebayangkan gimana capeknya naik pesawat sampai beberapa jam? Ya pastilah tepar duluan. Aku lebih suka membuat Ikuto jadi jahil plus agak agresif daripada romantis. Tapi, chapter ini cukup romantiskah? ^^

Victorique Utau Hanna Sanamori: Kau tidak salah orang lagi kan? Ntar dikira cowok lagi. =_=' #sweatdrop

.

.

SPOILER! NEW PROJECT AMUTO! XD

Sebenarnya karya ini sudah kubuat duluan sebelum I'm Come Back, Amu publish. Tapi, berhubung feel I'm Come Back, Amu lebih kuat, jadi fic yang sudah kutulis itu aku undur lagi.

Jadi, apa ada yang bersedia menunggu, membaca maupun mereview project baruku? ^^

Rencana judul fic ku itu yaitu… DANCE AND VIOLIN. Hohoho… ada yang berminat baca? ^^b

.

IFA DATANG! IFA DATANG!

AYO DUKUNG FIC INI SEBAGAI KATEGORI ROMANCE ATAU DRAMA!

AYO RAMAIKAN FANDOM SHUGO CHARA INI! XD #dikeroyok reader karena berisik

.

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v