Disclaimer: Always Kubo Tite's, not mine! *Uki hanya memiliki fanfic gaje ini*

Warning: Romance (g berasa), Drama (g mutu), Humor (garing), Jelek, Salah2 ketik, OOC (bertebaran), Gombalizm

Rated: Uki masih setia pasang T

Try Me!

By

Poppyholic Uki

...

Ah.. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa, pada akhirnya aku tetap bersamanya. Padahal 'Dia' adalah tipe manusia yang kalau bisa, sebisa mungkin kuhindari. Lalu kenapa aku bisa stuck bersamanya? Kalau diingat-ingat lagi, semua ini bermula dari taruhan sederhana yang dilontarkan oleh pemuda tanggung yang masih SMP.

Yup! SMP, tepatnya kelas 2 SMP, saat aku pertama kali bertemu dengannya...

Try Me!: 1st Bet

'Gawat! Bisa-bisanya aku bangun terlambat hari ini! Hari Senin dan jam pertama hari ini matematika! Mana ada PR-nya pula!'

Lengkap sudah kesialanku pagi itu. Aku berlari secepat-cepatnya. Kalau saja aku tidak memaksakan diriku untuk menonton semua video yang kupinjam dari Momo-chan, mungkin aku tidak akan bangun kesiangan. He? Aku tidak pernah kesiangan di hari Senin sebelumnya ya! Jangan samakan aku dengan Ran-chan! Kalau ada yang perlu disalahkan, salahkan saja pesona Tom Cruise yang membuatku betah menatap layar TV.

'Semoga saja Tousen-sensei hari ini sakit perut, diare tiga hari tiga malam! Ahh...! I hate Monday!'

"Kuchiki, kau terlambat!"

"Maaf sensei!"

"Kau boleh masuk. Tapi tulis nama dan kelasmu di sini! Makan siang nanti kau harus mencabuti rumput di halaman belakang! Jika tidak, kukejar kau hingga ke rumahmu! Kau paham?"

"Ya, Sensei"

Dengan malas-malasan kuisi 'buku hitam' itu dengan nama dan kelasku. Bisa-bisanya seorang Kuchiki terlambat di hari Senin. Sampai sekarang, aib itu tidak pernah kuceritakan pada kakakku. Bisa mati aku!

"Sensei, aku sudah boleh masuk kelas tidak?" tanya pemuda di sampingku. Ternyata pada hari itu tidak hanya aku sendiri yang terlambat. Pemuda berambut oranye yang tingginya kira-kira hanya selisih 3 jari lebih tinggi dariku, waktu itu.

Aku yang takjub dengan warna rambutnya yang tidak lazim itu terus menerus menatapnya. Merasa diperhatikan, ia balas menatapku. Kami jadi saling memandang. Hihihi.. itu adalah saat pertama kalinya kami bertemu.

"Ya. Masuklah ke kelasmu. Ingat, jam makan siang kau harus menjalani hukuman! Kau ingatkan, Kurosaki?"

"Yeah.." ia menjawab malas-malasan dan berjalan dengan santai.

'Siapa namanya tadi? Kurosaki? Ah ini dia! Kurosaki Ichigo kelas 2-6. nama yang unik,' kataku dalam hati saat melihat daftar nama para pendosa di 'buku hitam' itu.

"Kuchiki! Kau sudah selesai belum?"

"Y-ya! Sensei!" kataku dengan panik.

"Kalau begitu bergegas masuk ke kelasmu!"

"Baik!"

Yang namanya Kurosaki Ichigo itu ya! Bisa-bisanya dia membuatku mencabuti rumput hampir separuh dari halaman belakang! Tega sekali dia memaksaku, gadis kecil lemah lembut yang rapuh ini untuk mencabuti rumput sama banyak dengan dirinya! Kalau kakakku, dia akan mengerjakannya tiga perempat dari halaman bahkan kalau perlu dia akan mengerjakan semuanya.

'Mana Gentleman's Manner mu!' teriakku sambil mengumpulkan rumput yang sudah dicabut, dalam hati tentunya. Aku berusaha menyelesaikan hukumanku sambil menahan lapar. Karena buru-buru aku lupa membawa bekalku. Benar-benar menyebalkan!

"Akhirnya selesai! Banzai! Banzai!" aku berteriak kegirangan. Kalau sekarang sih, aku malu melakukannya.

"Sudah selesai, Kuchiki?"

'Ck.. datang lagi!'

"Mau apa kau kemari lagi Kurosaki? Bukannya kau sudah selesai duluan?"

"'Ichigo', panggil saja dengan nama depanku," katanya. Usut punya usut, ternyata di kelas 2-6 ada 3 orang yang bermarga 'Kurosaki'. Kurosaki Megumi, Kurosaki Yuuta, dan Kurosaki Ichigo. Aku baru mengetahuinya setelah 2 hari kemudian, tanpa sengaja –tentunya. Sampai sekarang mereka tetap malu jika disebut 'Trio Kurosaki 2-6'.

"Kenapa datang lagi, Ichigo?" dalam hati aku geli sendiri saat pertama kali memangil dengan nama depannya. Kami kan belum lama kenal.

"Nih," ia menyodorkan dua buah roti yakisoba dan sekotak susu melon padaku.

"Hah?"

"Che, di kantin sudah habis. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa."

"Eh, ma-mau kok. Terimakasih."

"Tak perlu."

Ia duduk-duduk di bawah pohon ginko. Sepertinya ia akan bolos pelajaran berikutnya. Aku menghampiri keran air yang tak jauh dari situ untuk mencuci tangan. Sebelum makan harus cuci tangan dulu kan? Saat aku sudah menghabiskan separuh dari roti yakisoba yang kedua, Shiba-senpai, senpai yang diam-diam kukagumi *waktu itu lho!* datang menemuiku.

Waktu itu hatiku berdebar-debar tidak menentu. Siapa sih yang tidak akan berdebar hatinya kalau pujaan hati datang menemui?

"Kuchiki-chan, bisa bicara sebentar?" tanyanya.

"Ya, senpai?"

"Begini, sebenarnya dari dulu aku selalu memperhatikanmu."

"Maksud senpai?"

"Maksudnya, aku menyukaimu Kuchiki-chan. Mau jadi pacarku?"

'KYAA-AA!' teriakku dalam hati.

"E-eh?" aku pura-pura bodoh.

"Rukia, bolehkan kupanggil begitu?"

"Y-ya."

"Rukia, mau kan jadi pacarku?"

"Tapi-"

"Tidak perlu jawab sekarang. Besok saat jam istirahat kutunggu di perpustakaan. Aku menunggu jawabanmu. Sudah ya, Rukia-chan?" Shiba-senpai kembali ke kelasnya.

"Keren! Kyaa! Bagaimana ini? Aduh harus bagaimana?" teriakku kegirangan. Please deh aku malas untuk mengingatnya.

"Kyaa! Ran-chan! Aku 'ditembak' Shiba-senpai!" aku berteriak pada Ran-chan yang ada di lantai 2.

"Apa! Yang benar Rukia-chan? Kyaa!" Ran-chan balas teriak. Kami saling bersahutan seperti tinggal di hutan. Aku benar-benar malu atas tingkahku waktu itu. Kok bisa aku bertingkah memalukan seperti itu?

"Kau tidak akan membalas perasaannya."

Aku langsung menoleh. Rupa-rupanya Ichigo mendengar pembicaraanku dengan Shiba-senpai.

"Apa maksudmu?"

"Aku berani menjamin. Kau tidak akan jadian dengannya."

"Oh ya~?"

"Ya."

"Apa buktinya?"

"Belum ada. Mau taruhan?"

"Siapa takut!"

"Taruhan 2 buah roti kare, kau akan menolak Shiba-senpai setelah tahu busuknya dia!"

"Apa? Jika aku berhasil jadian dengan Shiba-senpai, kau harus menggunduli rambutmu! Dan kau harus meminta maaf pada Shiba-senpai di lapangan! Akan kubuat kau menyesali taruhan ini!"

"Try me.."

"Dasar sombong!"

"Deal?"

"Deal!"

Mungkin tak seharusnya aku berkata demikian padanya. Jika kuingat-ingat lagi, sungguh malu aku! Apalagi dia senang sekali menggodaku dengan nostalgia saat taruhan kami dulu.

"Apa-apaan yang namanya Kurosaki Ichigo itu! Baru kenal sudah berani bicara seperti itu! Memangnya siapa dia? Dewa? Bah! Lihat saja nanti!"

Aku merutukinya sambil 'menghajar' bantal kesayanganku.

"Rukia? Kau tidak mau sekolah hari ini?" rupanya kakakku sudah ada di depan pintu kamarku.

"Tunggu sebentar Nii-sama."

"Cepatlah jika ingin kubonceng."

Uhh.. Kakakku itu benar-benar kakak nomor 1 di dunia. Meski galaknya minta ampun. Siapa yang tidak suka dibonceng sepeda sampai sekolah oleh kakak tersayang? Hahaha.. sampai sekarang pun aku masih ingat rasanya diantar ke sekolah naik sepeda.

"Jadi bagaimana Rukia-chan?" tanya Momo.

"Aku akan menjawabnya saat istirahat nanti."

"Kalian janjian dimana? Di kelas 3-4?"

"Tidak mungkinlah."

"Terus dimana dong?"

"Di perpustakaan. Jangan coba-coba ngintip ya!"

"Jadi kau yakin bisa menang taruhan dengan anak 2-6 itu?"

"Yakin dong!"

"Kuchiki! Hinamori! Kalian mendengarkan? Sepertinya asyik sekali. Boleh saya tahu apa yang kalian bicarakan sambil bisik-bisik?"

"A-ah bu-bukan apa-apa kok, Sensei."

"Benar?"

"Be-benar kok"

"Kalau begitu, Kuchiki bisa ambilkan peta dunia? Sepertinya saya lupa untuk membawanya. Lalu Hinamori, tolong ambilkan buku-buku yang saya tinggalkan di ruang guru"

"Baik sensei."

Muguruma-sensei paling senang menyuruh-nyuruh anak yang tidak memperhatikan pelajarannya dan sengaja meninggalkan bahan-bahan untuk mengajar supaya kami bisa mengambilnya. Itu juga masih ditambah dengan tugas tambahan sebagai pelengkap hukuman. Yah setidaknya tidak dihukum dengan berdiri di lapangan sambil membawa ember penuh air.

"Jadi kau yakin akan menang taruhan, Kaien?"

"Tentu saja. Si Kuchiki itu tergila-gila padaku sejak kelas 1! Lihat saja uang 3000 Yen kalian akan berpindah ke tanganku."

"Ah sial!"

"Tapi apa kau benar-benar suka padanya?"

"Iya. Apa kau menyukainya?"

"Cuih. Seleraku tidak serendah itu. Siapa yang mau dengan perempuan cebol berbadan kurus yang bagian depan dan belakangnya sulit untuk dibedakan?"

"Hahahaha..."

"Dasar kau ini! Haahahaha.."

"Kasihan dia. Kau tidak boleh bicara seperti itu."

"Hei! Kalau bukan karena taruhan bodoh dengan kalian, aku lebih memilih untuk menembak temannya. Siapa namanya? Matsunaga?"

"Matsumoto."

"Ya. Matsumoto itu. Badannya.. bbeuh"

"Sstt.. jangan keras-keras bicaranya."

"Sssst.."

Terlambat. Aku mendengarnya tahu! Mereka membicarakannya tepat di sampingku yang sedang membawa peta dunia yang besar sehingga mereka tidak melihatku. Aku tidak pernah lupa rasanya. Rasa sakit karena tahu sedang dipermainkan oleh cinta pertamanya. Dan semua itu demi uang 3000 Yen? Sampai sekarang, jika tidak dicegah oleh Momo-chan atau Ran-chan, aku akan langsung menghajar Shiba-senpai begitu melihatnya di acara reuni!

Yang tidak kuingat adalah raut wajahku saat itu. Menurut Momo-chan, wajahku saat itu perpaduan antara ingin tertawa, menangis, marah, dan kecewa.

"Disini rupanya."

Aku mencari Ichigo kemana-mana. Menurut teman sebangkunya, jam istirahat biasanya ia berada di halaman belakang. Saat kudapati, Ichigo sedang tidur-tiduran dibawah pohon ginko. Dia membuka matanya perlahan-lahan.

"Kenapa di sini? Bukannya kau ada di perpustakaan?"

"Nih," kusodorkan 2 buah roti kare, 3 buah yakisoba, 1 buah roti melon dan 2 kotak kopi susu.

"Ini?"

"Aku kalah. Aku tidak ke perpustakaan. Itu sama saja dengan menolaknya kan?"

"Berarti aku menang ya?"

"Yah.."

Aku merenungi betapa bodohnya aku yang sejak kelas 1 suka pada Shiba-senpai, sambil menghabiskan makan siang yang kubeli di kantin. Saat aku hampir menghabiskan roti melon ketiga ku, Ichigo memberiku sekotak susu strawberry.

"Buat apa?"

"Ambil saja. Toh kau membelikanku kopi susu."

"Terimakasih."

"Tak masalah."

"Eh Ichigo, apa kau tahu kalau Shiba-senpai itu-"

"Apa?"

"Tidak jadi."

"Hmm?"

"Ah sudahlah."

3 bulan kemudian, dari teman Ichigo yang bernama Chad, aku baru tahu bahwa ternyata Ichigo sudah tahu taruhan itu dari awal. Ichigo rupanya mendengar pembicaraan Shiba-senpai dengan teman-temannya seminggu sebelum ia bertemu denganku.

Yah itu adalah awal dari segalanya. Sampai sekarang aku masih suka senyum-senyum sendiri jika mengingatnya. Taruhan konyol antara aku dan Ichigo. Waktu itu aku belum sadar akibat taruhan itu, aku jadi terus-menerus berurusan dan bertaruh dengan Ichigo...

"Kalian berdua lagi! Kalian berani terlambat di upacara semester baru! Kalian sudah kelas 3! Apa kalian tidak malu dengan adik kelas kalian?"

"Maaf."

"Maaf sensei."

"Tulis nama dan kelas kalian!"

"Tapi sensei, kami kan belum melihat pembagian kelas kami"

"Benar sensei, aku tidak tahu sekarang aku kelas 3 berapa."

"Kalian ini! Cepat lihat pembagian kelas kalian lalu kembali kemari! Jangan coba-coba kabur!"

"BAIK SENSEI!"

Bersambung..

Ini adalah fic ROMBENG (ROMance BersamboENG) pertama Uki.. Yeee! *niup terompet, nebar-nebarin salju kertas*

Karena ini yang pertama Uki minta saran dan kritik membangunnya ya!

RnR!