Author's Note: yah… karena banyak yg minta extra-nya ditambah… maka uki kasih lagi extrax… skalian, ngurangin draft yg gagal… di sini cara pikir ichi lebih dewasa dari extra sblumx, klo ngerasa jelek+pendek, gomen… umm enjoy reading aja deh!

Disclaimer: Always Kubo Tite's, not mine! *Uki hanya memiliki fanfic gaje ini*

Warning: Romance (g berasa), Drama (g mutu), Humor (garing), Salah2 ketik, OOC (bertebaran), Gombalizm

Rated: Uki masih setia pasang T di fic ini

Jujur, aku sangat berterimakasih padanya yang telah memantapkan hatiku saat aku bimbang. Tapi, kalau kuingat lagi, ekspresi Rukia waktu kubilang akan keluar dari Keiou dan ingin ke Musashino terlihat biasa saja. Kupikir Rukia akan marah atau sekedar memberi komentar. Dia diam saja. Sepertinya, bukan hal besar baginya jika aku pergi ke Musashino. Bahkan waktu aku memeluknya, Rukia tidak berkata apapun. Aku kecewa.

Kalau dia suka, dia akan membalas pelukanku kan? Kalau dia tidak suka, seharusnya dia mendorongku, menamparku, menendangku atau memukulku dengan pot bunga di samping pintu masuk kan? Rukia tidak melakukan apa-apa.

Benci.

Aku benci Rukia yang seperti itu. Maksudku, ayolah... Kami kenal sejak SMP dan bahkan berpacaran, meski karena taruhan –tapi aku benar-benar mengharapkannya– sejak SMA. Setidaknya kan dia bisa menamparku waktu itu!

Aku kalah dari Renji.

Teman kecilnya yang beralis aneh, hibrida antara monyet dan nanas. Menyebalkan!

Waktu itu aku mengajak Rukia SEORANG buat menonton pertandinganku, tak lama setelah aku masuk Musashino. Dan aku berencana mengajaknya makan malam setelahnya, layaknya orang pacaran. Tapi begitu aku sudah memasuki shajo, aku bisa melihat Renji di sebelahnya. Untuk apa Rukia mengajak Renji? Aku tahu Renji suka pada Rukia sejak lama. Orihime? Itu cuma dalih Renji, aku tahu itu. Tahu darimana? Jelas saja aku tahu, bukan, sangat tahu. Aku juga laki-laki! Renji mungkin bisa mengecoh Rukia, tapi tidak denganku.

Mungkin cuma Ishida yang tahu, saksi mata, waktu aku –yang masih memakai keikogi– berlari tergopoh-gopoh menyusul Rukia yang pergi bersama Renji setelah pertandingan. Aku tidak bisa berlari lagi waktu kulihat Renji menggenggam tangan Rukia, senyum Rukia saat itu tidak bisa kulupakan.

Curang.

...

Try Me! Reverse : There's No Fair Play in Love

Satu tahun.

Dua tahun.

Tiga tahun.

Bisa kalian bayangkan aku, Kurosaki Ichigo, selama tiga tahun tidak bertemu Kuchiki Rukia? Sejak melihat senyum Rukia saat itu, aku sadar bahwa terlalu banyak laki-laki di sekitarnya. Dan Rukia terlihat baik-baik saja dengan hal itu. Oke, aku akui, aku pengecut... Mendadak jadi pengecut. Senyum Rukia itu seperti trauma yang membekas di ingatanku. Rukia tidak pernah tersenyum seperti itu padaku.

Tidak pernah!

Lalu aku melarikan diri dalam peranku. Yah... aku tidak benar-benar mundur sih. Dari mata-mataku, Matsumoto yang terkadang mengirimiku e-mail, aku tahu hal-hal yang terjadi di sekitar Rukia –seperti jumlah goukon yang didatanginya– Dan masih , kalau bisa, mengiriminya e-mail. Setidaknya aku menunjukkan kalau aku masih hidup. Lucu. Selama tiga tahun terus-menerus memerankan banyak peran, bertemu banyak orang, pergi ke berbagai tempat, mempelajari naskah , dan mendengar macam-macam cerita yang melatarbelakanginya, membuat aku sampai pada sebuah kesimpulan: melepaskan Rukia.

Sejak awal memang salah, kami pacaran –dan berlangsung begitu lama– karena mematuhi taruhan itu. Permainan anak-anak. Tidak pernah terlontar kata-kata 'cinta' diantara kami, pengecualian untukku. Seolah status ini hanya main-main.

Kalau aku membandingkan senyum itu –senyum untuk si nanas– dengan bagaimana sikap Rukia denganku, aku bisa menyimpulkan kalau Rukia tersiksa karena aku. Mungkin dia ingin putus, tapi tidak enak dengan ku? Aku tidak tahu. Jadi, hanya aku yang gembira dengan status kami ini. Aku merasa bersalah karena selama bertahun-tahun hanya aku yang merasa bahagia, aku tidak memikirkan baik-baik perasaannya. Lalu, sudah berapa lama aku menyita waktunya? Apa Rukia menangis diam-diam gara-gara hubungan kami? Memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan itu membuatku seperti dihakimi.

Aku. Bodoh. Kejam. Bajingan. Berengsek.

Karena itu, aku melepaskan kesempatan untuk bertemu dengannya. Rukia layak mendapatkan kebebasannya.

...

Dengan ponsel yang jatuh ke laut –aku, dengan kesadaran penuh tanpa paksaan dari siapapun, telah melempar ponselku ke laut– aku bisa menahan diriku untuk tidak menghubungi Rukia. Ponselku yang baru tidak menyimpan nomor ponsel Rukia karena aku sengaja tidak mem-back up datanya. Aku berpikir jika aku menghubunginya, aku akan mencengkeram Rukia hingga jiwanya. Aku takut sisi posesifku kembali ada. Aku takut pada diriku sendiri.

...

Tapi aku kalah. Perasaanku pada Rukia menghabisiku perlahan dari dalam. E-mail dari Matsumoto seperti menarik pelatuk dalam otakku. Rukia dilamar orang lain. Pria yang dikenalkan oleh seniornya, bukan Renji.

Sesaat aku lega, dia bukan Renji, lalu detik berikutnya aku panik. Aku tidak pernah tahu orang ini sebelumnya. Aku tidak tahu bagaimana wataknya, aku tidak tahu bagaimana perlakuannya pada Rukia, aku tidak tahu bagaimana perasaan Rukia padanya. Aku benar-benar tidak memiliki satu petunjuk pun. Aku takut.

Aku takut Rukia dibawa ke tempat yang tidak bisa kujangkau. Bodoh. Padahal aku sudah bertekad untuk siap jika Rukia ingin putus dariku dan bersama orang lain. Cukup satu kata darinya, dan aku akan benar-benar melupakannya. Begitu pikirku dulu.

Tapi ternyata aku tidak bisa.

Salah besar jika kalian berpikir kalau aku akan langsung menemui Rukia. Salah. Kau tidak akan menang jika maju ke medan perang tanpa persiapan. Rencana harus dipersiapkan dengan matang, harus teliti dan hati-hati. Kenali medan perang dan awasi keadaan, pastikan senjatamu telah siap. Aku seperti harimau yang mengendap-endap untuk menerkam mangsa. Mangsaku bukan kelinci ataupun rusa, tapi Rukia.

...

"Kau ini. Ada waktu untuk menghubungi Ran-chan, tapi tidak pernah menghubungiku."

"Hei, jawab saja! Ada yang berhasil tidak? Atau meski sudah ikut goukon berkali-kali, kau tidak laku-laku juga?"

"Cerewet! Ada kok! Mau lihat fotonya?"

"Tidak usah. Buat apa aku melihat foto cowok? Bikin merinding."

"Cih. Kau sendiri bagaimana? Sudah berapa model yang kau gaet?"

"Itu ga penting. Minggu ini ada waktu luang?"

"Hah?"

"Kuanggap kau punya waktu. Jam 9 pagi kutunggu di Hachiko. Jangan lupa ya!"

"Hei!"

Seolah tidak terjadi apa-apa, aku muncul di depannya, mengajaknya bicara dengan santai. Seolah-olah bertemu dengan teman lama. Sekedar basa-basi untuk membuat Rukia menginjak medan perang yang kusiapkan. Dengan mulut manisku, aku mengajaknya kencan. Menonton film di bioskop, klasik. Dari rekan kerjanya, Nozomi –entah siapa nama lengkapnya– aku sebenarnya tahu kalau Rukia ada janji dengan laki-laki itu. Aku harus menipiskan –kalau bisa, menghapuskan– pengaruh laki-laki itu pada Rukia, membawanya untuk berbicara tanpa terganggu siapapun. Dan terlihat wajar, sehingga Rukia menurunkan penjagaannya. Dan aku berhasil.

"Rukia..." Kugenggam tangannya. Cahaya bioskop remang-remang, orang-orang tidak akan memberi perhatian pada kami.

"Apa?"

"Kau ini tidak mendengarkanku ya? Ya sudah." Umpan pertama. Aku tidak benar-benar berbicara padanya sebelumnya, hanya untuk mengalihkan pikirannya, membuat Rukia fokus padaku.

"Apa sih? Kau menggenggam tanganku untuk kamuflase? Takut ya?" Ya, takut Rukia tidak terjebak olehku.

"Film ini sih mananya yang seram? Bodoh." Umpan kedua.

"..."

"..."

"Kau yang bodoh."

"... Eh Rukia, aku sudah lama memikirkan ini." Umpan ketiga. Rukia masih tidak sadar.

"Apa?"

"Bagaimana kalau kita akhiri taruhan ini? Em... Maksudku taruhan kenapa kita pacaran dulu itu."

"... Benar juga. Sudah lama sekali ya?"

"Karena kita memulainya karena taruhan, bagaimana kalau kita akhiri dengan taruhan juga?" Umpan keempat.

"Boleh." Oh? Kau serius mengatakannya Rukia?

"Kalau film baruku nanti menang di Festival Film Cannes, kita putus. Bagaimana?" Trik pertama dijalankan.

"Yakin filmnya masuk nominasi?"

"Tentu saja!" Kau tidak tahu apapun sayang.

"Percaya diri sekali. Kalau tidak menang, berarti hubungan ini masih berlanjut dong?"

"Yup!"

"Kalau begitu filmmu harus menang! Kalau tidak awas saja nanti!" Tentu saja film itu akan menang, aku sudah berusaha sekuat tenagaku.

'Tidak masalah bagiku, kau jangan senang dulu.'

"Masih ada lagi." Kugiring dia menuju jebakan berikutnya.

"Apanya?" Rukia bertanya. Kuakui wajah tanpa-tahu-apa-apa milik Rukia begitu menggemaskan.

"Kalau nanti aku menang sebagai aktor terbaik, mm... Kita menikah!" Kita lihat, apa Rukia terjebak trik kedua yang kulancarkan padanya.

"Memangnya bisa?"

"Siapa tahu?" Kugiring pikirannya.

"Kenapa malah bertaruh hal itu sih?"

"Kenapa? Seru kan? Tentu saja supaya tidak ada pihak yang melarikan diri, bagaimana kalau kita buat jaminan?" Umpan kelima.

"Jaminan?"

"Iya, jaminan. Kau saja yang tentukan, Rukia."

"Mmm... Kalau begitu, kita tulis nama dan tanda tangan di formulir pendaftaran pernikahan. Bagaimana?" usulnya. Bingo!

"..." Rukia memakan habis semua umpannya, dan menginjakkan kakinya di atas ranjau. Jauh lebih baik dari perkiraanku. Tidak, melampaui harapanku.

"Takut? Kalau begitu, tidak jadi saja."

"Oke. Siapa takut?"

"Deal?"

"Deal!" Rukia tertangkap.

'Kau polos sekali, Rukia. Ini bukan taruhan sederhana yang biasa kau mainkan.'

...

"Bibirmu berdarah, Kanzaki," komentar Urahara-san.

"Oh." Aku menjatuhkan diriku di atas sofa lobi utama kantor manajemenku. Oleh karena itu Urahara memanggilku dengan nama panggungku.

"Dihajar siapa?" tanyanya lagi. Kali ini Urahara-san ikut duduk di sebelahku.

"Kakaknya."

"Apa kau dihalangi oleh kakaknya? Bagaimana dengan kakeknya? Apa dia memberimu restu?"

"Yah... cukup alot sih, tapi aku dapat restu mereka."

"Ayahmu?"

"Tidak usah ditanyakan. Dia harusnya bersyukur bahwa anaknya bukan penyuka sesama jenis."

"Fufufuffufu..."

"Urahara-san, apa aku bisa mendaftarkan ini secepatnya?" kuserahkan amplop itu padanya.

"Apa ini?"

"..."

"..."

"..."

"Kanzaki-san, kau tahu ini apa?"

"Formulir pendaftaran pernikahan. Memangnya apa?"

"Ini-"

"Tanda tangan asli kok. Aku tidak memalsukannya."

"Aku tahu, tapi apa Rukia-chan-"

"Bisa kau daftarkan? Agak riskan kalau kami berdua yang pergi. Kau tahu kan, fans, media, bla-bla-bla..."

"Yah... Mereka makin ganas belakangan ini. Oke."

"Terimakasih."

"Tidak perlu- Ah! aku mau menemui pihak sponsor? Apa kau mau ikut?"

"Tidak. Dengan wajah begini, pasti akan heboh." Aku menunjuk mukaku sendiri.

"Memang. Ya sudah, aku pergi dulu."

"Ya."

Aku membetulkan posisiku di atas sofa agar nyaman. Aku ingat, kakaknya juga memberi cedera di bahuku. Ck, galak sekali. Urahara-san tidak tahu kalau Rukia sendiri tidak tahu formulir itu segera kudaftarkan. Licik? Ya. Jahat? Ya? Berengsek? jelas, aku sudah memastikan bahwa Rukia tidak akan lepas dari tanganku.

Curang?

Rukialah yang terlebih dulu curang padaku. Dia dengan sadisnya mencuri hatiku dan menanamkan sosoknya pada otakku, bahkan hal itu terjadi sebelum kami melewati garis startnya. Rukia Kuchiki adalah virus ganas. Parasit kejam yang menggerogoti pikiran dan memenuhi hatiku sampai tidak ada ruang yang tersisa. Dia memakanku dari dalam. Tanpa sadar, aku sudah sekarat karenanya. Wajar jika aku berbuat begini padanya kan?

Kalian tahu? Tidak pernah ada permainan jujur dalam cinta. Yang ada hanya mengalahkan dan dikalahkan, dan kali ini aku tidak akan kalah darinya.

...

RnR