Yo, Minna-san!

Watashi wa Hujan desu.


Bleach By Tite Kubo

Warning : Typos, Rukia's POV

Rate : Teen (T)


"Terima kasih, Rukia. Kurasa… berkat kau, hujan di hatiku telah reda…"

"Rukia, aku datang untuk menyelamatkanmu… Tenang saja, aku tidak akan mati dengan mudah."

"Ayo kita pulang, Rukia!"

"Jadi… kau tetap tinggal di sini? Baiklah… Sampai jumpa. Terima kasih, Rukia."

"Apa yang akan kau lakukan? Berhati-hatilah…"

"Karena dia… adalah sahabatku yang paling berarti…"

"Dialah yang telah merubah duniaku, aku ada di sini sekarang… kerena dirinya…"

"Diamlah… Kau sangat cerewet. Apa kau menyadarinya?"

"Bodoh!"

"Sialan!"

"RuRukia?"

"Rukia…"

"Rukia!"

"Sampaikan salamku kepada yang lainnya… Selamat tinggal, Rukia…"


Ikatanku Denganmu

*Hujan*

Chapter 2


Awalku berjumpa denganmu—bagai mimpi. Awalku melihat wajahmu, aku merasa bahwa takdir membawaku untuk bertemu denganmu. Aku tak mempercayainya sampai-sampai kedua tangan ini meraih wajahmu.

Kau mirip dengan seseorang. Seseorang yang menitipkan hatinya untukku. Dan kurasa, aku telah menemukan hati seseorang itu dalam sebuah tubuh baru, dan aku merasa… aku harus melindungimu…

*(^_^)*

Ichigo Kurosaki

Aku terkejut mendapati wajahmu yang begitu mirip dengan seseorang. Tapi… kenapa kau tiba-tiba menendangku? Sial! Ternyata kau memang manusia yang sangat sama dengan seseorang itu—seolah mengalami déjà vu. Kau bisa melihatku saja merupakan hal yang teramat menakjubkan. Kenapa aku bisa bertemu denganmu, Ichigo?

Itulah pertanyaan yang hingga kini masih mengendap di hatiku. Karena diriku, kau menjadi seorang shinigami. Kau bertarung untuk menggantikan tugasku melawan Hollow di Kota Karakura. Saat itu kau menolak.

Tapi… setelah kejadian di hari hujan itu, kau berubah dan berkata padaku akan menjadi lebih kuat lagi untuk melindungi semua orang. Aku senang karena akhirnya kau benar-benar mau membantuku tanpa ancaman dariku lagi.

Tapi… aku salah. Karena semua itu… kau menderita. Karenaku kau terluka. Karenaku kau harus bertarung di setiap saat. Dan yang terakhir… karenaku kau hampir terbunuh oleh Nii-sama. Aku tidak bisa menghentikan semua itu.

Aku hanya bisa berteriak, "Ichigo! Ichigo!"

Tapi apa? Aku tak bisa melakukan apa pun untukmu. Aku mengalami kegagalan lagi. Aku tak berhasil melindungimu, Kaien. Kaien? Maaf, aku menganggap dirimu adalah jelmaannya.

Karena kau bagai refleksi untuknya. Kau membuatku menunjukkan sisi terliar dari diriku. Kau membuatku nyaman sehingga aku bebas untuk berekspresi. Kau membuatku tertawa. Kau membuatku ingin selalu di dekatmu. Dan kau membuatku selalu mengkhawatirkanmu.

Kau tahu, Ichigo? Kau sama dengan Kaien. Namun kurasa… kau dan aku lebih terhubung daripada antara diriku dengan dia. Kau membuatku menjadi periang, tak lagi menyendiri dan tak lagi merasa berbeda.

Mereka bilang—aku memiliki kedekatan khusus denganmu? Apa itu cinta, persahabatan, atau pertemanan biasa? Semua itu mengganggu pikiranku saat aku memutuskn untuk meninggalkanmu. Bayang-bayang pertanyaan Chizuru mulai memutar balik di dalam otakku.

"Apa kau menyukai, Ichigo?"

Aku tahu, aku salah telah membawamu dalam dunia yang sama denganku. Dan aku menyesal. Kau tahu, Ichigo? kau mampu membuatku menangis di hadapanmu, di hadapan Nii-sama, di hadapan Renji—menunjukkan sisi terlemah dalam diriku.

Aku tak mampu menahan emosi dalam hatiku saat melihatmu terkapar bersimbah darah. Kenapa kau tetap ingin melawan Nii-sama? Hentikan! Kau membuatku semakin gila, Ichigo. Dengan cepat aku menendang tanganmu, memakimu, merendahkanmu dan mengalihkan perhatian Nii-sama secepat yang kubisa.

Tapi… kenapa kau memprotesnya? Lepaskan aku, Ichigo! Kau bodoh! Apa kau ingin mati?

Karena kekeraskepalaanmu itu, aku tak dapat membendungnya lagi. Aku menangis, menangis karena aku harus meninggalkanmu dan kau terus bersikukuh untuk mempertahankanku. Meninggalkanmu dalam keadaaan terluka, dalam keadaan kritis dan aku tak bisa melakukan apa pun selain menangis dan meninggalkanmu.

Aku bersumpah, aku tidak akan berbalik untuk melihatmu. Namun aku tak mendengar suara apa pun lagi darimu—sangat sunyi. Hatiku bergemuruh, apa kau sudah...

Gerbang Komunitas Roh hampir tertutup sepenuhnya. Tapi aku gagal, aku tidak bisa menahannya. Aku menoleh ke belakang dan melihatmu. Aku tak bisa melihat wajahmu, kau menunduk. Apa kau baik-baik saja? Kumohon, tetaplah hidup. Maafkan aku, Ichigo…

*(^_^)*

Setiap saat, aku memikirkan dirimu. Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau hidup tenang di sana? Cih, kenapa aku berharap kau akan menyelamatkanku di sini? Sedangkan tempo hari aku mengancammu mati-matian untuk tak melakukannya.

Saat di jembatan menara Sereitei itu, aku melihatmu melayang di udara. Kedua mataku memantulkan sosokmu yang begitu kurindukan. Aku tidak percaya, aku terkejut, tubuhku mematung dan bibirku kelu.

Kau mendarat tepat di depan tubuhku, saat aku ingin berbicara denganmu, kau tak melihat wajahku dan berjalan ke arah lain. Dan tiba-tiba aku mendengar suaramu. Kau berkata,

"Aku datang untuk menyelamatkanmu, Rukia…" tanpa memandangku sedikit pun.

Kau bodoh! Aku memarahimu, aku mengejekmu dan terjadi pertengkaran kecil di antara kita. Kau masih sama rupanya. Dasar tukang banyak bicara dan cerewet! Tapi di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku senang kau datang, Ichigo. Terima kasih...

*(^_^)*

Hukuman mati akan dilakukan hari ini, Ichigo. Aku merasa lega karena aku sudah tahu bahwa kau akan baik-baik saja di tangan Yoruichi-dono. Aku memejamkan mata, tapi… kenapa bayang-bayangmu masih singgah di otakku? Dan saat itu juga… aku menangis. Tidak! Aku sudah menerima hukuman mati ini dan aku siap!

Saat kurasa bahwa hukuman mati ini berjalan begitu lambat, kubuka mataku, dan… aku melihatmu, Ichigo. Kau… kenapa kau ada di sini? Dan dengan santainya kau berkata, "Yo!" selalu saja seperti itu.

Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau kasihan padaku? Aku tidak butuh belas kasihan darimu. Cepat pergi! Aku sudah siap untuk mati.

*(^_^)*

Di depan rerumputan kediaman Kukaku Shiba itu, kau datang seorang diri. Angin sepoi-sepoi dan langit jingga itu menyambut kedatanganmu untuk menemuiku. Dengan percaya diri kau berkata, "Ayo kita pulang, Rukia!"

Aku terkejut dan tersenyum saat kau mengatakan hal itu. Tapi… di sinilah duniaku, Ichigo. Maafkan aku, aku akan tetap tinggal di sini. Kulihat kau terdiam, kau mengeratkan genggaman tanganmu kemudian menggaruk kepalamu dengan wajah yang aneh.

Apakah kau ingin aku ikut bersamamu, Ichigo?

*(^_^)*

Sejak itu dan beberapa kejadian yang mengancam diriku—entah kenapa kau menjadi lebih overprotektif kepadaku. Kau selalu mengkhawatirkanku. Melarangku untuk bertarung padahal aku sudah mendapatkan kekuatan shinigamiku lagi. Kau berubah menjadi aneh, Ichigo. Dan pandanganmu menjadi berbeda saat bertatapan denganku.

Aku mendengar kau gagal melawan para Espada. Dan aku juga mendengar bahwa kau kecewa akan hal itu. Aku datang dan mengambil perhatianmu dengan kemunculanku di jendela sekolah. Renji, Kapten Hitsugaya, Wakil Kapten Matsumoto, Madarame-san, dan Ayasegawa-san juga mengunjungimu namun tak seperti diriku sekarang.

Aku menyapamu dan melihat wajahmu. Wajahmu aneh, Ichigo. Dan itu membuatku ingin segera menendangnya. Kutampar berulang kali dan kujambak rambutmu untuk memaksamu mengikutiku.

Aku menyuruhmu bertarung di hadapanku. Aku tak tahu, seolah mengerti apa yang kau rasakan, tanpa sadar aku sudah berbicara panjang lebar untuk membuatmu kembali bersemangat. Dan tanpa sadar aku mengucapkan bahwa kau harus menjadi lelaki yang ada di dalam hatiku.

Kau terlihat terkejut saat aku mengatakannya. Namun sungguh ajaib, kau berhasil mengalahkan Hollow itu dan kembali menjadi Ichigo yang sebelumnya. Aku bahagia untukmu, Ichigo. Dan kumohon, jangan membuatku mengkhawatirkanmu lagi.

*(^_^)*

Renji Abarai

Kau adalah sahabatku sejak kecil. Dan kau memiliki sifat yang sangat keras kepala dan selalu mengutamakan emosi dari pada memberi kesempatan lawanmu untuk berbicara. Aku selalu merasa bahwa kau selalu memperhatikanku, mengikutiku dan berusaha untuk tetap disampingku. Aku benarkan, Renji?

Kau berusaha mati-matian untuk menjadi wakil kapten batalion ke-6 untuk selalu dekat denganku. Karena Nii-sama adalah pemimpin di sana.

Aku tahu kau marah saat mengetahui bahwa orang yang bernama Ichigo itulah yang menyebabkanku harus menerima hukuman mati di Komunitas Roh. Dan kau ingin membunuhnya.

Tapi… syukurlah, sekarang kalian berteman baik. Mungkin bisa juga dikatakan teman yang paling sering bercekcok mulut setiap kali bertemu. Apa kalian tahu? Aku terganggu dengan itu.

Kurasa kau tahu kedekatanku dengan Ichigo perlahan mulai menyaingi kedekatanmu denganku. Maka dari itu setiap kali misi di Karakura di turunkan, kau menjadikannya alasan untuk menemuiku, dan kau memang sengaja ikut dalam setiap misi di Karakura.

Tenang saja Renji, aku tidak akan melupakanmu sebagai orang pertama yang menjadi sahabatku. Bukankah awalku menjadi Shinigami adalah bersamamu? Dan kau sudah kuanggap sebagai sahabat terdekatku.

*(^_^)*

Ikatanku Denganmu

Mereka berdua memiliki tempat yang istimewa di dalam hatiku. Bukan hanya Ichigo melainkan juga Renji. Sungguh bahagia memiliki sahabat lelaki seperti mereka. Selalu melindungiku dan berusaha membuatku tetap ceria.

Renji yang selalu mengikuti jejakku, baik itu menentang atau pun melanggar titah Komunitas Roh. Kau mempercayaiku rupanya. Dan kau rela menemaniku ke Hueco Mundo untuk membantu Ichigo. Kau juga berjerih payah mengalahkan Nii-sama, menentang kaptenmu sendiri untukku.

Bekerja sama dengan rivalmu untuk menolongku dan juga menjatuhkan harga dirimu untuk memohon kepada Ichigo hanya demi keselamatanku. Sungguh, aku beruntung memiliki sahabat sepertimu, Renji. Terima kasih...

*(^_^)*

Kau juga Ichigo. Kau adalah satu-satunya orang yang selalu membuatku cemas. Entah sejak kapan hal ini menjadi kebiasaanku. Aku selalu mengkhawatirkanmu, meneriaki namamu dan berusaha untuk selalu di dekatmu.

Aku merasa bahwa ikatanku dengamu sangatlah kuat. Bahkan aku bisa membaca isi hatimu, aku bisa mengetahui apa yang akan kau lakukan dan aku bisa melihat setiap rasa yang kau sembunyikan.

Aku tak tahu, sejak kapan kau bisa membuatku seperti ini. Sikapmu yang hangat, hatimu yang polos, tingkah lakumu yang kekanak-kanakan di hadapanku dan kesedihan yang kau pendam—semua membuatku ingin selalu memperhatikanmu.

Bahkan saat waktu menakdirkan kita untuk berpisah. Entah kenapa aku tak ingin melihat wajah sedihmu saat kau kehilangan kekuatan spiritualmu sepenuhnya. Aku tersenyum dan mengejekmu agar tak memasang wajah sedih saat berpisah denganku.

Namun aku gagal, selalu saja. Aku tak mampu menahan kesedihan saat kutahu bahwa kau takkan mampu lagi melihat sosokku. Di saat terakhir, sekali lagi aku mengangkat wajahku dan melihatmu dengan tatapan sayu.

Kau berkata, "Selamat tinggal," dan sejak detik itu, aku tahu akan satu hal, ini benar-benar perpisahan kita.

*(^_^)*

Jika aku mau, aku bisa masuk ke dalam gikon untuk bertemu denganmu. Tapi… saat kuingat bahwa diriku yang telah membuatmu terluka, dan terlibat dalam masalah Komunitas Roh, aku mengurungkannya.

Aku sadar duniaku dan duniamu berbeda. Mungkin akan lebih baik seperti ini. Kau dan aku memang harus berpisah. Dan takdir mengatakan bahwa kau akan hidup normal seperti dulu, tak ada lagi Hollow, tak ada lagi Shinigami, tak ada lagi kekhawatiran, tak ada lagi kau dan aku… mungkin aku akan merindukan itu semua…

*(^_^)*

Kudengar kau menjadi pemurung, kudengar kau berusaha untuk mendapatkan kekuatan Shinigamimu kembali. Kenapa kau menginginkan hal itu Ichigo? Cukup, tak jerakah kau setelah pertempuran terakhirmu melawan Aizen?

*(^_^)*

Dan hari itu pun tiba, saat dimana Urahara Kisuke menginginkanku untuk sebuah tugas, yaitu memberimu kekuatan shinigami kembali dengan pedang buatannya.

Awalnya aku ragu, tapi di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin kau bisa melihatku lagi, Ichigo. Aku merindukanmu. Dan saat aku berhasil melakukannya. Kau dan aku kembali.

Kau tak henti menatapku. Aku juga tak bisa lepas memandangmu. Aku terus berbicara namun kau diam seribu kata dan terus memperhatikanku. Apa yang kau pikirkan, Ichigo?

Karena jengkel dan malu, dengan segera aku menendang wajahmu saat kau akan mengatakan sebuah kata dari bibirmu. Aku berharap, mulai dari saat ini, kita bisa bersama-sama kembali seperti dulu. Apa aku boleh mengarapkan hal seperti itu, Ichigo? Karena kita memang memiliki sebuah ikatan, dan ikatan itu adalah…

TAMAT


Hehehe, sebenernya udah Complete, tapi karena ingin mengeksploitasikan perasaan mereka lagi, Saya membuat lanjutannya dengan Isi hati Rukia yang di chapter sebelumnya adalah Isi hati Ichigo. Semoga berkenan di hati Readers.

Banyak yang tanya, Ikatan apa yang dimaksudkan di atas. Readers bisa mengimajinasikannya sendiri-sendiri. Dan apa menurut kalian? Oke, Mohon review! Segala Kritik, Pujian dan Flame Saya terima.