Disclaimer: Tite Kubo

Warning: AU, OOC, typo(s), gaje dan abal

Pair: Ulquiorra Schiffer and Inoue Orihime

Genre: Romance/Friendship

Rate: T

.

.

.

Triangle

—ketika cintamu terbagi kepada dua hati

by: Koizumi Nanaho

.

.

.

Capitulo I

Pesadilla

—ketika dia menjadi mimpi buruknya

.

.

.

Ini hanya sebuah kisah tentang seorang pemuda yang memiliki dua cinta. Cinta kepada seorang perempuan yang tidak seharusnya ia cintai dan mencintai seseorang yang akan selalu ia sakiti.

Seharusnya, semua akan baik-baik saja. Jika, gadis yang kedua tidak tertangkap permata hijaunya waktu itu. Jika saja semua itu terjadi, tentu tidak akan ada hati yang tersakiti selain hatinya.

Dan semuanya dimulai pada hari itu. Pada hari senin, tahun kedua seorang Ulquiorra Schiffer menjadi anak SMU.

Ulquiorra tidak suka berbicara. Dia hanya akan bicara seperlunya dan kepada orang-orang yang menurutnya ia kenal. Satu-satunya yang Ulquiorra sukai adalah mengutak-atik ponsel canggihnya.

Kapan pun kalian melihat Ulquiorra, pasti pemuda itu sedang memainkan ponselnya. Dan Ulquiorra sangat jarang mengalihkan pandangannya dari benda mini itu.

Karena sifatnya yang antisosial Ulquiorra hanya memiliki dua teman yang tahan untuk berdekatan dengannya. Karena selain Ulquiorra sering mengabaikan orang, kata-kata yang dikeluarkan pemuda itu pun sangat jujur hingga sering kali menyinggung perasaan orang lain.

Di samping itu karena tatapan Ulquiorra yang tajam mereka semua mengira Ulquiorra adalah tipe pemuda yang sensitif, kalau menyinggungnya maka kau akan berakhir di rumah sakit. Karena alasan itu juga Ulquiorra mulai dicap sebagai anak paling berbahaya dan sedikit orang yang mau mendekatinya kecuali orang-orang yang memliki title sama.

Dan hanya Kurosaki Ichigo dan Grimmjow jeagerjaquez yang tahan dengan sifat Ulquiorra yang itu. Ichigo memutuskan untuk bersekolah di sekolah yang sama dengan Ulquiorra sementara Grimmjow memutuskan untuk mengikuti sekolah pacarnya.

Jadi, bisa dibilang Ulquiorra hanya memiliki Ichigo di sekolah barunya ini. Kedua orang itu selalu terlihat bersama. Ulquiorra juga tidak mengerti kenapa Ichigo suka sekali mengekornya.

Seperti sekarang, Ichigo duduk di samping Ulquiorra sambil mengutak-atik ponselnya juga. Bahkan pemuda itu mengambil semua kelas yang sama dengan Ulquiorra—kecuali musik dan... memasak. Sampai-sampai membuat Ulquiorra muak melihat tampang Ichigo di setiap kelasnya.

"Grimmjow berkelahi lagi." Ulquiorra hanya mengangguk singkat mendengar kabar yang tidak asing di telinganya. "Kudengar karena Nnoitra mengganggu Nel lagi." Ulquiorra kembali mengangguk, kedua orang itu memang tidak pernah akur.

"Grimmjow menyuruh kita ke sekolahnya, sepulang sekolah nanti." Ulquiorra berhenti menekan layar ponselnya dan menatap Ichigo. Ke sekolah Grimmjow? Itu sama dengan masalah.

"Sampai mati pun aku tidak akan ke sana," Ulquiorra menolak dengan sangat tegas. Ichigo sudah menebak. Ulquiorra memang kurang suka dengan sekolahan Grimmjow banyak orang-orang yang tidak ia suka berada di sana—termasuk Grimmjow.

Ichigo langsung bungkam mendengar penolakan itu dan kembali menatap ponselnya. Sekali Ulquiorra bilang tidak, maka tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.

.

xXxXx

.

Pernahkah kalian mendengar kata bully? Atau bahkan kalian pernah mengalaminya sendiri? Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar korban bully? Apakah seseorang yang tidak modis dan memakai kacamata tebal?

Salah. Tidak semua korban bully adalah orang yang tidak sempurna seperti ciri-ciri orang di atas. Seseorang yang memiliki paras cantik dengan tubuh proposional juga bisa menjadi salah satunya.

Inoue Orihime—nama gadis yang daritadi kita bicarakan—memejamkan mata. Jelas sekali bahwa dia sedang kesakitan sekarang. Sebuah tangan panjang mencengkram seragam Orihime.

"Kau merebut pacar Cirucci-chan, kan?" Orihime menggeleng keras. Dia takut membuka matanya, dia tidak ingin melihat sorot mata kebencian itu ditujukan secara sempurna untuknya.

BUK!

Tangan gadis itu meninju batang pohon di samping kepala Orihime. Jantung gadis itu langsung berloncatan antara kaget dan takut menjadi satu. "Jangan berbohong padaku!"

"Ah!" Orihime meringis. Kepala bagian belakangnya terasa sakit. Rupanya, gadis bernama Apache itu tengah menjambak rambut panjangnya. Gelak tawa langsung tertangkap oleh indera pendengaran Orihime. Tampaknya, mereka senang jika Orihime mengerang kesakitan.

"Dasar murahan!"

PLAK! BUK! "Aw." Orihime memegangi pipinya yang memerah. Orihime menatap keempat orang yang berdiri di depannya sambil melipat tangan di depan dada dan menatapnya sinis.

"Dengar, ya, Ori-hi-me-chan, kami tidak buta! Jelas sekali kami melihat kau berjalan dengan Ishida-kun waktu itu." Apache membungkukkan badannya dan mengapit rahang Orihime dengan kasar. "Well, karena kita teman, kita harus berbagi perasaan masing-masing. Jadi, KAU HARUS MERASAKAN APA YANG DIRASAKAN CIRUCCI-CHAN!"

Apache menghentakkan tangannya hingga kepala Orihime terdorong ke belakang. "Sampah!" Orihime menggenggam rumput di bawahnya, tidak pernah ia menginginkan kehidupan SMA yang bagaikan neraka—nantinya.

"Menjijikkan!" Orihime semakin memejamkan matanya erat-erat. Air matanya seakan ingin jatuh saat itu juga. Bagaimana mereka bisa seperti itu kepadanya? Padahal tahun lalu mereka tertawa bersama-sama.

"Pengkhianat!" Satu-persatu dari mereka mulai pergi meninggalkannya dengan hujatan bersama mereka. Saat Orihime merasakan tidak ada siapa pun lagi di depannya ia mulai menangis.

Jika saja, Tatsuki masuk ke sekolah yang sama dengannya. Hal seperti ini pasti tidak akan terjadi.

Tapi dia tidak boleh bergantung pada Tatsuki terus menerus.

.

xXxXx

.

"Ah!" Ichigo mengangkat kepalanya saat mendengar suara ringisan itu. Matanya menyipit menatap sekumpulan orang-orang yang mengerumuni satu orang yang bersandar di batang pohon.

Ichigo melirik Ulquiorra yang masih terpaku pada ponselnya dan tidak ada ciri-ciri akan menanggapi suara ringisan itu. Ichigo menyikut lengan Ulquiorra. "Ada yang di-bully, tuh."

"Biarkan saja," jawab Ulquiorra tak acuh. Ichigo menekan bibirnya ke dalam dan mengikuti kata-kata Ulquiorra untuk mengabaikan gadis itu. Tapi rintihan dan debaman terus mengusik telinganya.

"Cukup!" Ichigo tiba-tiba berteriak dan berdiri dari posisinya. Tapi walaupun begitu, Ulquiorra tetap tidak menghiraukannya. "Aku akan menghentikan mereka."

Ulquiorra tidak peduli.

Ichigo mengambil langkah cepat untuk mendekati gadis berambut yang hampir sama dengannya itu. "Ichigo!" dan secepat itu juga langkahnya terhenti ketika dipanggil oleh pemuda yang berdiri tak jauh dari Ulquiorra.

"Ada apa, Mizuiro?" Ichigo menatap aneh Keigo yang sedang memberontak untuk menghambur ke arah Ichigo namun ditahan oleh Sado. Ichigo berusaha mengabaikannya.

"Ada pertandingan bola antar kelas."

"Oh!" Ichigo berseru senang dan bersemangat. "Aku ikut! Aku duluan, ya, Ulquiorra!" Ichigo segera berlari ke arah tiga orang itu dengan semangat membara. Melupakan gadis yang jauh di dasar hatinya menunggu pertolongan orang yang lewat.

Dan Ulquiorra tetap tidak peduli.

Sebenarnya, Ulquiorra mendengar semua rintihan itu, ayolah, dia belum tuli. Tapi ini kan urusan perempuan, kalau dia ikut campur, bisa-bisa masalahnya semakin runyam. Dia tidak suka hal yang merepotkannya.

Beberapa menit setelah Ichigo pergi, suara rintihan itu tak lagi terdengar dan suasana taman belakang kembali tenang seperti seharusnya. Betapa nyamannya kesunyian itu.

Ulquiorra menguap dan menekan icon silang di sudut kanan atas layar ponselnya sehingga aplikasi game yang daritadi dia mainkan tertutup. Ulquiorra menggeser-geser layarnya dan menatap icon sebuah akun jejaring sosial yang dilambangkan dengan huruf t.

Ulquiorra menatap lama icon itu, kemudian memilih untuk menekannya. Ulquiorra membolak-balik page mention-nya. Mention-nya penuh dari dua jam yang lalu oleh ocehan Grimmjow tentang betapa menyebalkannya Nnoitra dan mention sampah itu ditanggapi oleh Ichigo dengan semangat.

Buru-buru Ulquiorra menekan tombol option dan memilih 'jump to top' untuk men-skip sampah-sampah barusan. Ulquiorra berniat menutup aplikasi yang itu juga namun tiba-tiba sebuah mention dari seseorang menarik perhatiannya.

Hei, Ulquiorra bulan depan aku akan mengadakan konser di Tokyo. I can't wait to see you... asap.

Ulquiorra melirik waktu pengirimannya, 30 menit yang lalu. permata emerald-nya beralih ke avatar si pe-mention. "Dia tidak berubah," komentarnya sambil memandangi rambut kuningnya yang tergerai panjang dengan piano di depannya.

Dan kali ini, Ulquiorra peduli.

.

xXxXx

.

Ulquiorra merenggangkan tubuhnya sejenak dan mangajak kakinya meninggalkan taman. Sebentar lagi kelas akan dimulai. Jam seperti ini berarti kelas yang akan Ulquiorra masuki adalah... memasak.

Ulquiorra tidak mengerti kenapa dia bisa masuk ke dalam kelas konyol itu. Ini semua gara-gara kakaknya, kalau saja dia tidak mengancam akan menarik semua fasilitas yang ia berikan, sampai mati juga Ulquiorra tidak akan mengambil kelas ini.

Bukankah aneh sekali kalau pemuda bertampang menyeramkan itu masuk ke dalam kelas seperti... memasak? Walaupun banyak juga laki-laki lain seperti Ishida. Tapi, tetap saja.

Ulquiorra mencoba mengambil sisi positifnya, di kelas itu Ichigo tidak akan menampakkan hidungnya, dia lebih memilih kelas bahasa. Sementara Ulquiorra yang sudah sangat menguasai bahaa merasa tidak perlu mengambil jurusan yang cukup kerena itu alih-alih memasak.

Ulquiorra menyadari keberadaan gadis itu yang masih duduk di rerumputan sambil menunduk. Kalau Ulquiorra menjadi dia, lebih baik pindah sekolah kalau mentalnya seperti itu, kalau ingin tinggal, jangan lemah.

Ulquiorra tetap pada pendirian pertamanya, 'biarkan saja' jadi dia terus berjalan, seolah-olah tidak ada siapa pun di sampingnya saat itu. Namun tiba-tiba kakinya terasa berat. Ulquiorra benci sekali kalau seandainya penyebab terhalang kakinya adalah gadis itu.

Dan begitu ia putar kepalanya. Bingo! Gadis itu penyebabnya. Ulquiorra melemparkan tatapannya yang paling dingin. "Apa?" Orihime melepaskan tangannya dari pergelangan kaki Ulquiorra dan mengangkat kepalanya.

"Ano, sekarang jam berapa, ya?"

Ulquiorra bisa melihat pipinya yang memerah karena tamparan keras orang-orang tadi. Tapi, apa pedulinya Ulquiorra?

Ulquiorra menarik lengan kemejanya dan menunjukkan jamnya ke hadapan gadis itu. Orihime mengangguk ketika mendapatkan jawaban yang ia inginkan dan Ulquiorra menarik tangannya.

"Terima kasih." Orihime membungkuk singkat dan tersenyum. Ulquiorra berbalik dan melambaikan tangannya. Bagaimana bisa dia dapat tersenyum seperti itu? Padahal dia baru saja mendapat kelakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.

Dan ngomong-ngomong, rasanya Ulquiorra pernah melihat gadis itu. Tapi di mana, ya?

.

xXxXx

.

Kelas memasak tenang seperti biasa. Unohana-sensei meminta mereka semua memasak masakan paling gampang, spaghetti. Karena tugas itu sangat gampang, mereka dapat mengerjakannya secara individu.

Namun, di dalam suatu ruangan yang tenang, pasti akan selalu ditempati oleh satu orang yang dapat menghancurkan ketenangan itu. Ya, itulah yang sedang terjadi ketika gadis berambut oranye memasukkan cokelat ke dalam saus spaghettinya.

Kebetulan Unohana-sensei sedang melewati Orihime dan terkejut melihat gadis itu sedang asik memasukkan batang cokelat sambil bersenandung ceria. "Inoue-san! Apa yang kamu masukkan barusan itu?" sontak semua mata tertuju pada Orihime.

Dan semua mata itu termasuk mata milik Ulquiorra yang—secara kebetulan juga—mengambil tempat di sebelahnya. Orihime menggaruk bagian belakang kepalanya sambil tersenyum tanpa dosa.

"Co-cokelat, Sensei."

Semua orang di dalam ruangan itu langsung tertawa mendengar jawaban Orihime termasuk Cirucci yang mengambil tempat di samping Ishida. Orihime tersipu malu. Dan Unohana-sensei menggelengkan kepalanya takjub.

"Masakanmu tidak bisa aku nilai, kalau mengulangnya waktumu tidak akan cukup. Aku tunggu hasil kerjamu lusa, dan bagi kalian yang sudah selesai segera kumpulkan."

Unohana masih sibuk menggelengkan kepalanya dan mengecek satu-persatu muridnya, barangkali ada juga yang memiliki selera aneh seperti Orihime.

Ulquiorra mengamati ekspresi sedih Orihime dari ekor matanya dan meneruskan masakannya yang tinggal platting.

Orihime mengambil sendok kecil di dekatnya dan menyedok saus itu dan memakannya. Orihime merasa tidak ada yang aneh, menurutnya ini sangat lezat. Kemudian dia menyedoknya lagi, dia melirik ke arah kananya yang menatapnya dengan pandangan meledek.

Tidak mungkin Orihime memintanya, pasti dia akan ditertawakan atau mungkin dia sengaja memuji masakan Orihime. Kemudian dia melirik seseorang di sebelah kirinya, yang sedang sibuk menata pirinya dengan serius.

Orihime tersenyum, sosok yang tadi memberitahunya tentang jam, mungkin dia bisa diandalkan.

"Ano, bisa tolong kaucicipi ini?" Orihime menyodorkan sendok kecil itu ke hadapan Ulquiorra. Ulquiorra mengangkat kepalanya dan menatap Orihime dengan ekspresi datarnya.

Ulquiorra menghela napas dan mengambil gagang sendok itu. Dia mencicipinya sedikit kemudian sisanya langung ia buang ke tong sampah. Iris abu Orihime membola. "Menjijikkan."

Jleb.

Hatinya seperti tertancap anak panah. Tepat sasaran.

Ulquiorra menyerahkan sendok itu ke tangan Orihime dan mengambil sendok kecil miliknya sendiri. Ulquiorra menyedok sausnya yang berlebih. Ulquiorra menyodorkan sendok itu ke tangan Orihime. Orihime mengerti maksudnya dan mencicipi saus itu.

Kemudian permata abunya langsung berbinar. "Ini menakjubkan, Schiffer-san!" seru Orihime senang. "Bagaimana kau bisa membuatnya? Dan berbeda jauh dengan punyaku, tapi punyaku juga enak kok. Nee, Schiffer-san, siapa yang mengajarimu? Ibu—"

"Sensei!" Ulquiorra mengangkat tangannya dan mengangkat piring spaghettinya ke meja Unohana-sensei. Setidaknya, menghentikan pertanyaan-pertanyaan konyol gadis itu.

Setelah mengumpulkan makanan miliknya, Ulquiorra segera keluar kelas. Orihime hanya memandangi sendok di tangannya dengan tatapan bingung.

.

xXxXx

.

Ulquiorra membanting pintu lokernya dengan kasar, sampai-sampai mengundang tatapan ngeri dari orang sekelilingnya. Apa-apaan gadis itu? Mereka bahkan tidak saling kenal tapi dia sudah sok akrab begitu!

Ulquiorra menempelkan dahinya ke punggung loker.

Ulquiorra tidak ingin ada di dekat gadis itu lagi. Bencana! Dia bisa menghancurkan dunia tenangnya. Ulquiorra menarik napas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat, menyingkirkan energi negatif yang memenuhi dirinya.

Kemudian, Ulquiorra kembali membuka lokernya dan mengambil buku untuk kelas berikutnya. Kelas yang paling ia senangi namun di saat bersamaan menjadi kelas yang paling ia benci, musik.

"Schiffer-san!"

Buk!

Buku-buku di tangan Ulquiorra langsung berjatuhan. Baru saja dia bersumpah tidak ingin dekat-dekat dengan gadis itu lagi, tapi malah dia yang menghampirinya.

"Hah... hah... hah..." Orihime mengatur napasnya sejenak dan Ulquiorra memungut buku yang berjatuhan itu. "Ini, barang-barangmu, tadi kau meninggalkannya begitu saja, jadi aku membereskannya untukmu, nih." Orihime menyodorkan satu kantong ukuran sedang ke tangan Ulquiorra.

Wlaupun tidak suka, tapi Ulquiorra cukup berterima kasih. Dan dia tidak akan mngucapkan kata itu. Ulquiorra mengambil kantong itu dan memasukkannya ke dalam loker dan bersiap menutup lokernya.

"Wah, aku tidak sadar kalau loker kita bersebelahan." Orihime memasukkan kuncinya. Dan Ulquiorra membatu di tempat.

Apa... katanya? Ber...sebelahan?

"Schiffer-san, sekarang kelas apa?"

Ulquiorra tidak mau menjawab. Dia sibuk memikirkan cara untuk memindahkan lokernya sejauh mungkin dari jangkauan Orihime. Mungkin dia harus menghadap kepala sekolah, sepulang dia nanti.

"Tidak perlu menjawab, sehabis ini kita sekelas lagi kok, di kelas musik."

CTAR!

Itu adalah suara yang muncul di kepala Ulquiorra begitu mendengar ucapan Orihime. Apa maksudnya semua ini? Kenapa tiba-tiba gadis... aneh ini masuk ke dalam hidupnya?

Ulquiorra shock di tempat. Rasanya dia ingin mencakar-cakar pintu lokernya jika tidak mengingat reputasinya di sekolah ini.

Mungkin Ulquiorra harus mulai memikirkan untuk pindah ke sekolah Grimmjow.

"Mari kita berteman, Schiffer-san!"

Brak!

Ulquiorra membanting pintu lokernya lagi.

Atau mungkin, Ulquiorra harus memikirkan cara memotong pita suara gadis itu biar tidak berkicau lagi seperti ini.

Orihime terkejut dan menutup lokernya sendiri. Ulquiorra menatapnya dingin dengan aura kelam di sekitarnya dan kelelawar kecil berterbangan dari belakang punggungnya—walau itu hanya imajinasi Orihime semata.

"Damare, Onna."

Beberapa orang di sekeliling mereka berdua menghentikan aktivitas mereka dan menunggu saat-saat Orihime dikirim ke rumah sakit oleh Ulquiorra. Orihime mengedipkan matanya beberapa kali kemudian tersenyum lebar.

"Ayo kita ke kelas bersama-sama!" ajaknya dengan nada ceria dan bunga-bunga bermekaran di sekitarnya—walau itu hanya imajinasi orang-orang di sekitar mereka.

Untuk pertama kalinya, Ulquiorra ingin bolos dari kelas musik. Atau lebih buruk lagi, dia menginginkan keberadaan Ichigo di dekatnya sekarang.

Ini benar-benar mimpi buruk buatnya.

.

xXxXx

.

Sepertinya, Ulquiorra harus mengecek kalender hari ini. Kenapa dia begitu sial hari ini? Setelah bertemu iblis berwajah malaikat seperti Orihime lalu Yoruichi-sensei—guru musik mereka—memutuskan untuk mengambil nilai tes vocal mereka masing-masing.

Ini sama saja menggali kuburannya sendiri. Benar, kan, harusnya Ulquiorra membolos saja hari ini. Sekarang yang bisa dia lakukan hanya menunggu gilirannya tiba.

Satu-satunya hal yang ia senangi dari kelas musik adalah pelajaran musik instrumen, Ulquiorra sangat mahir dalam memainkan musik instrumen terutama piano.

Hanya karena itu dia memilih kelas musik. Selama ini, dia selalu tahu kalau gurunya akan mengambil tes vocal dan dia bisa bolos dengan gampang. Tapi kali ini? Gara-gara si Orihime itu, Ulquiorra terpaksa terjebak di sini sekarang.

"Schiffer-san, doakan aku, ya?"

Ulquiorra tidak peduli. Kalau perlu Ulquiorra ingin memantrai Orihime agar suaranya sumbang—itu dia! Sumbang! Melihat kepribadian Orihime yang ceroboh, mungkin, suaranya...

Ulquiorra menajamkan pendengarannya.

Orihime membuka mulutnya dan mulai menyanyi.

"Asa kara genki ni seaezuru tori. Mo nande mo "okiru!" Tte naru. Mezamishi mo mebokete miageru mabu shiisora mo itsumo aisatsu suru hito mo*~"

Ulquiorra mengangkat kepalanya. Suaranya indah sekali. Sepertinya kali ini Ulquiorra harus menyembunyikan wajahnya dari Orihime. Ini benar-benar skak mat buatnya.

Setelah Orihime selesai bernyanyi namanya dipanggil oleh Yoruichi-sensei. "Berjuang, Schiffer-san!" Orihime menyemangati. Dan Ulquiorra melemparkan padangan 'ini-semua-gara-gara-kau' ke arahnya.

Ulquiorra membuka mulutnya.

"Jujun no koudou de fumikande. Sekai hedo ga deru hodo no gomi no nioi**..." dan dinyanyikan dengan nada datar.

"Ah!"

Semua orang langsung menutup telinganya termasuk Yoruichi-sensei. Oh, kecuali Orihime. Dia mendengarkan suara Ulquiorra dengan tampang kaget namun dia tidak menutupi telinganya seperti yang lain.

"Cu-cukup, Schiffer!" ujar Yoruichi-sensei menghentikan Ulquiorra, sebelum ada kaca jendela yang pecah karenanya.

Ulquiorra berhenti bernyanyi dan duduk di bangkunya, di samping Orihime. Orihime tak henti-hentinya memandangi Ulquiorra. "Apa? Kalau mau tertawa, tertawa saja!" Ulquiorra mengalihkan pandangannya.

Orihime menggeleng. "Suaramu terdengar begitu murni," kata Orihime sambil tersenyum cerah. Ulquiorra memutar kepalanya lagi dan memandang iris abu gadis itu.

"Kenapa aku harus tertawa mendengar suara yang begitu murni?"

Kenapa gadis ini bisa mengucapkan hal yang sama dengannya?

.

xXxXx

.

"Apa-apaan kalian berdua?" semprot Yoruichi-sensei. "Mungkin ini bukan tugasku, tapi Unohana-sensei memintaku sekalian untuk menegur Inoue. Bagaimana bisa kau memasukkan cokelat ke dalam saus spaghetti? seru Yoruichi-sensei frustasi.

"Dan kau Ulquiorra, nada apa itu? Kau menyanyi dengan nada datar seperti itu? Kau buta nada? Tapi permainan piano-mu sangat menakjubkan. Tapi, suaramu..." Yoruichi-sensei memijat dahinya.

Ulquiorra dan Orihime hanya diam menerima semburan serta teguran kuat dari Yoruichi-sensei. "Katakan padaku, bagaimana cara kalian memperbaiki kekurangan kalian itu?"

"Aku akan menjadi pianis, suaraku sama sekali tidak dibutuhkan, karena yang bekerja tanganku," jawab Ulquiorra angkuh. Yoruichi-sensei melotot.

"SCHIFFER!"

Brak!

Yoruichi-sensei menggebrak mejanya. "Bu-bukan begitu, maksud Schiffer-san adalah di-diaa akan belajar dengan rajin, y-ya, kan?" Ulquiorra memalingkan wajahnya. Kemudian mereka bertiga terdiam.

Yoruichi-sensei sibuk memikirkan solusi bagi mereka berdua, dia sendiri tidak mungkin mengajari Ulquiorra dengan segala keangkuhannya, bisa-bisa dia masuk rumah sakit karena darah tinggi.

Sementara Unohana-sensei mengaku tidak memiliki waktu untuk memberi pelajaran tambahan.

Tiba-tiba Yoruichi-sensei menggebrak meja lagi. "Itu dia! Aku menemukan solusi untuk kalian berdua!" seru Yoruichi-sensei berapi-api. "Schiffer, kau sangat pandai dalam kelas memasak. Dan kau, Inoue, suaramu sangat merdu, bahkan dalam teori nilaimu sangat memuaskan. Bagaimana kalau kalian saling membagi ilmu?"

"Apa?" seru mereka berdua berbarengan.

"Ma-maksudmu kami harus belajar bersama-sama?"

"Tepat sekali."

Yoruichi-sensei mengangguk mantap. Idenya ini benar-benar brilian.

"Tidak mungkin|Aku akan sangat senang sekali," jawab mereka berbarengan namun dengan hasil yang berbeda. Ulquiorra mendelik ke arah Orihime yang tersenyum cerah.

Sepertinya mimpi buruk Ulquiorra akan terus berkepanjangan kalau dia menyetujui hal ini.

.

.

.

Debe Continuar

.

.

.

* : Bleach Beat Collection Inoue Orihime & Kuchiki Rukia - La La La

** : Bleach Beat Collection Ulquiorra Schiffer - Crush Down the World

Dan, bagi yang belum tahu, asap itu artinya as soon as possible.

A/N: yo-ho, minna~~~ aku balik lagi nulis Ulquiorra and Orihime! #nangisbahagia. Setelah sekian lama memilih untuk menulis pair lain, tapi pair yang pertama membawaku ke FBI akan tetap menjadi rumah bagiku. Dan ini multi chapter Ulquiorra and Orihime keduaku. Well, sejujurnya aku buat biar imbang aja sama fic GgioSoi yang udah dua MC aku buat. Masa pair OTP-ku Cuma satu?

Haaah, sudah banyak author baru sekarang yang nulis FBI, dulu pas aku yang nulis masih ada amber, ayano, sara, dkk yang sering nongol di archive FBI ber-pair Ulquiorra and Orihime

Sekarang yang eksis sama Ulquiorra and Orihime pas waktu aku itu cuma si Mey a.k.a relya Schiffer. Dari author baru cuma Melody and MrsGolden yang aku kenal...

Aku harapkan juga, dengan nulisnya lagi di pair kampung halaman, aku bisa berkenalan lagi dengan author UlquiHime yang baru.

Yosh. Yoroshiku minna.

Dan, review?

^(O~O)^