.

.

.

Disclaimer:

Bleach (c) Tite Kubo

Cover (c) IȻhigo Kurosaki at zerochan

Warning: AU, OOC, typo(s), gaje dan abal, serta panjang

Pair: Ulquiorra Schiffer and Inoue Orihime

Genre: Romance/Friendship/Angst/Hurt-comfort

Rate: T

Catatan: Yang diitalic itu flashback

.

.

.

Triangle

ketika cintamu terbagi pada dua hati

by: Koizumi Nanaho

.

.

.

Capitulo XV

Lluvia

jika aku adalah hujan...

.

.

.

Pagi di kediaman Inoue terasa lebih sepi dari biasanya. Tidak ada bau harum dari dapur yang biasa tercium seminggu belakangan, bahkan tirai yang biasa dibiarkan terbuka saat hujan saja ditutup rapat, sama sekali tidak mengizinkan sinar matahari menelusup masuk untuk mengintip keadaan di dalam kamar apartemen ini.

Si adik yang memang tinggal di sana, memutuskan keluar dari kamar, setelah menyadari berdiam diri dan memandangi pantulan wajahnya terus-terusan tidaklah membuat lingkar hitam di sana membaik. Suara pintunya yang berderit terdengar lebih keras di antara keheningan yang menyeramkan dan kakaknya yang memakan sereal dalam diam.

Halibel tidak terlihat berbeda. Dia masih menguncir tiga rambutnya, menggunakan kaus berwarna putih gombrong favoritnya yang panjang sampai setengah paha dan hot pants yang tertutupi oleh kausnya. Harum mawar menguar dari tubuhnya. Dia terlihat biasa. Cantik seperti biasanya, hanya saja pandangannya menerawang.

Memandangi kakaknya seperti itu, terkadang jadi membuat nyali Orihime ciut. Halibel terlihat terlalu biasa, jadi seolah-olah dia yang berlebihan dalam masalah ini. Diteguk ludahnya dan ia mendekati sang kakak, kursinya ditarik perlahan.

"Aku rasa kita harus bicara." Orihime belum duduk, tangannya masih memegangi punggung kursi dengan tatapannya yang lurus. Halibel mengangkat kepala, tepat sebelum sendok yang berisi sereal itu masuk ke dalam mulutnya. Dianggapnya itu sebagai jawaban iya. "Kenapa Neesan tiba-tiba pulang?" Dipandanginya lama sang adik, tapi ia tidak memberi jawaban melainkan terus memakan serealnya yang tinggal setengah.

Orihime menimbang kepala. Mungkin kakaknya ingin menghabiskan serealnya terlebih dulu. Dia berasumsi. Tahu kan, beberapa orang tidak terlalu suka diajak bicara saat makan. Jadi dia menunggu, sementara kakaknya terus makan tanpa terlihat terganggu dengan kehadiran Orihime yang bahkan masih berdiri.

Kira-kira sepuluh menit setelahnya, Halibel berdiri dengan membawa piringnya ke bak cuci, yang otomatis membuat Orihime memandang bingung. Seperti; lihat gak, sih? Aku di sini lagi ngajak ngobrol Neesan, gitu. Tapi, sang kakak justru terlihat santai dan asyik mencuci piringnya, mengelapnya dan meletakkannya di rak.

Orihime merasa ini sia-sia, hubunganya dan Halibel akan sulit untuk diperbaiki. Dia tahu, hampir mustahil untuk mengajaknya bicara dan tertawa setelah ia mengetahui kebenaran tentang ibunya dan ibu Orihime. Apalagi, kemarin Orihime hampir, hampir melakukan hal itu lagi kepada Halibel.

Orihime melepaskan tangannya dari punggung kursi dan berjalan menuju pintu. Wajahnya kecewa. "Aku pergi, Neesan," lirihnya. Sebuah tindakan bodoh yang seharusnya tidak ia lakukan. Halibel mencuci tangannya tampak tak peduli, melirik saja tidak, seolah-olah adiknya hanya angin lalu.

"Aku membuat perjanjian dengan ayah."

Langkah Orihime terhenti. Otomatis, seolah ada magnet dilantai rumahnya yang menahan tumitnya untuk menjauh dari lantai saat sang kakak mengucapkan kalimat itu.

"Kita memiliki mimpi yang sama. Tapi, harus ada yang tinggal dan membantu ayah mengurus usahanya."

Pembicaraan klasik. Ia memang sudah lama dimintai oleh ayahnya untuk melanjutkan sekolah di Inggris mengambil kuliah bisnis dan melanjutkan perusahaannya, karena kakaknya lebih memilih untuk menjadi penyanyi.

Orihime tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Tapi ia pernah dengar bahwa ayahnya menyuruhnya untuk memikirkan kembali keputusannya sebelum kakaknya menikah.

Seperti baru teringat sesuatu yang luar biasa, Orihime memutar kepalanya. "Neesan, bukannya memutuskan untuk menikahi pilihan ayah dan terus menjadi penyanyi?"

Orihime berani bersumpah ada seringai tipis di sana sebelum wajahnya kembali mengeras. "Ada tawaran lain. Dan kau memang harus tahu."

.

.

.

Kalau ada yang ia syukuri pagi ini adalah, ia terlahir sebagai seorang yang berkulit pucat. Tidak akan ada perubahan yang signifikan saat kau kurang tidur atau sakit jika kau adalah seorang yang pucat. Dan itu, membuat Ulquiorra cukup bersyukur akan fakta itu pagi ini.

Sedikit banyak, kulitnya membantunya untuk menutupi kondisi fisiknya yang memang sedang tidak fit. Tidak tidur semalaman dan memikirkan hal aneh seperti Orihime. Ya, pikirannya masih belum ingin menerima kenyataan hatinya.

Sepasang kaki lain berhenti di depannya, mau tak mau membuat bola matanya bergerak ke atas untuk melihat pemiliknya. Dan ternyata, sepasang kaki ramping itu dimiliki oleh seorang gadis yang membuatnya terjaga semalam.

Orihime berdiri di sana, menunggunya dan seulas senyum tipis terukir. "Ohayou." Sesuatu terasa tidak benar. Tapi kalau mengingat kejadian semalam pun, pasti akan ada yang tidak beres pagi ini. Antara kakak-beradik itu.

Ulquiorra mengangguk dan keduanya berjalan bersamaan menuju kelas. Pemuda itu tidak mengusir, pun mencoba berjalan lebih cepat dan Orihime juga tidak mengeluarkan celotehnya seperti biasa.

Ia terlalu lelah.

Terlalu banyak yang terjadi.

.

.

.

Hasil ujian praktik kemarin telah dipajang di papan pengumuman. Seluruh siswa mengerumuninya seperti lebah. Ada yang tertawa bahagia karena nilainya lebih baik dari temannya, ada yang memandang kosong karena tak ada perubahan pada nilainya, ada juga yang mengerang sebal karena nilainya rendah.

Dan Orihime bisa dikategorikan ke dalam orang yang kedua, karena ia memandang kosong pada nilai ujiannya. Bukan karena nilainya rendah, atau tak berubah justru kebalikannya namanya ada di paling atas dalam ujian memasak.

Harusnya ia senang, ia menggeser posisi Ulquiorra di sana. Ia memenangkan taruhan, ia bisa mendengarkan kisah masa lalu Ulquiorra. Semuanya sempurna, seperti yang ia inginkan. Setidaknya, dulu ia berpikir seperti itu. Orihime mana tahu ketika hal yang diinginkannya itu ada di tangannya, justru menjadi hal yang paling ingin ia enyahkan.

Pemuda di sebelahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya perubahan ekspresi atau terkejut dengan apa yang dilihatnya. Karena ia tahu, itu adalah pilihannya. Pilihannya menambahkan garam pada masakannya yang telah sempurna. Pilihannya untuk mengacau. Pilihannya untuk mengalah. Justru yang ingin ia tahu adalah apa yang akan dilakukan oleh gadis di sebelahnya.

Masihkah ia akan bertanya?

"Aku menang." Ulquiorra melirik si gadis yang telah membelokkan tubuhnya. "Saat pulang nanti, tunggu aku di parkiran, ya? Ja nee, Ulquiorra." Belum ia mendengar jawaban Ulquiorra, tapi Orihime sudah menghilang di balik kerumunan. Menurutnya, pemuda itu pastilah akan menunggunya dan harga dirinya terlalu tinggi untuk mengiyakan.

Dia sudah mulai memahami rupanya.

Napasnya dihela.

.

.

.

Halibel menyesap tehnya sambil menonton berita bisnis siang ini. Di layar kaca muncul wajah tak asing di sana. Dua orang laki-laki sedang berjabat tangan. Laki-laki yang pertama terlihat sudah memiliki umur yang banyak, terlihat dari warna rambutnya yang mulai memutih, sementara lelaki yang satunya terlihat masih muda, seperti hanya berbeda beberapa tahun darinya.

Ya, laki-laki tua di sana adalah ayahnya, sementara yang satunya lagi adalah calon—

Drrt. Drrt.

Halibel meraih ponselnya, nama sang ayah tertera di sana. Bukan telepon, hanya sebuah pesan singkat yang mengingatkan bahwa waktunya tidak terlalu lama lagi.

Halibel melempar ponselnya ke sisi sofa yang berlawanan. Kepalanya disandarkan dengan lengan yang menutupi kedua mata.

"Yeah, kau benar. Seperti yang kau ketahui, aku akan menikah. Harusnya menikah dengan Coyote. Tapi, dia memberimu penawaran lain. Jika aku bisa meyakinkanmu untuk mengambil kuliah bisnis, aku bisa bebas, bebas menyanyi dan menikah dengan orang pilihanku. "

Orihime menundukkan kepala. "Dan itu… Ulquiorra?"

Halibel tak bersuara, justru itu yang membuat semuanya terdengar nyata dan serius. "Tapi, seperti yang kau tahu, Ulquiorra mulai goyah karena dirimu." Tatapan matanya menunjukkan ketidakpercayaan. "Dia hanya belum ingin mengakuinya."

"Itu artinya… Neesan ingin melepaskannya? Dengan menikahi Coyote-san, Neesan tetap bisa menyanyi, kan?"

Tatapannya menajam. "Jadi, kau rela melepaskan mimpimu demi Ulquiorra?" Orihime tersentak. "Aku tahu dengan pasti apa rasanya menikahi seseorang yang tidak dicintai. Kau ingin membuatku mengulangi perkataanku dulu?"

Buk.

Tas tangannya terjatuh dan kepalanya menunduk lebih dalam. "Ma-maaf, Neesan."

Halibel memutar tubuhnya dan melirik Orihime. "Pergilah dan pikirkan baik-baik. Aku juga ingin tahu apakah Ulquiorra bisa lepas dariku."

Orihime buru-buru mengambil tasnya. "Aku pergi, Neesan." Dan pintu rumahnya ditutup.

Halibel bangkit dari sofa dan mematikan tv. Ia meraih mantelnya dan kunci mobil. Kemudian keluar dari apartemen.

.

.

.

Orihime melambaikan tangannya pada Hinamori yang baru saja memberinya ucapan selamat karena ia menduduki posisi pertama dalam ujian memasak kemarin, yang ditanggapi Orihime dengan senyum malu. Dan setelah Hinamori meninggalkan kelas, senyum itu pudar dari wajahnya. Ia menarik risliting tasnya dan pandangannya dialihkan ke luar jendela.

Tasnya diselipkan di lengan dan ia mulai berjalan menuju parkiran. Sejujurnya, kalau ia mengingat pembicaraannya dengan kakaknya pagi ini, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika ia bertemu Ulquiorra di parkiran nanti.

Jelas, ia tergoda dengan tawaran untuk mendekati Ulquiorra, meyakinkannya kalau yang ia sukai itu Orihime seorang. Haruskah ia menanyakan masa lalu pemuda itu? Sementara ia sudah tahu dengan sangat jelas siapa wanita di piguranya? Haruskah ia bertanya tentang bagaimana mereka berdua bisa bertemu dan menyadari betapa luar biasanya kisah cinta mereka?

Padahal, Orihime akan merasa jauh lebih senang kalau seandainya Ulquiorra pura-pura lupa dan dia juga pura-pura tidak tahu kenyataan hubungan pemuda itu dan kakaknya. Dengan begitu, setidaknya ia bisa kembali seperti dulu dengan Ulquiorra.

Pandangannya tertuju pada Ulquiorra yang bersandar pada mobilnya sambil juga tengah menatapnya, dengan kedua tangan di kantung celana. Tanpa ponselnya. Orihime memelankan langkahnya. Sengaja melamatkan.

Itu yang dia tunggu dari entah kapan. Saat di mana, Ulquiorra menunggunya dengan hanya sepasang mata yang terfokus padanya, tanpa memandangi ponsel yang mungkin di layarnya terdapat foto kakaknya. Setelah ia akhirnya mendapatkan perhatiannya, apakah ia harus melepaskan pemuda ini?

Orihime berdiri di depan Ulquiorra. Permata abu itu memandang lama emerald di depannya. "Kita ke pusat kota, ya? Ngomongnya sambil jalan aja." Emerald itu terlihat lebih menyelidik dan sebuah kerjapan mengiyakan segalanya.

"Masuklah." Ulquiorra menggerakkan dagunya ke arah kiri, yang menandakan ia setuju. Orihime tersenyum dan berjalan menuju pintu di sebelah kiri. Tapi, ia tidak membukanya. Ulquiorra yang sudah membuka pintu mobilnya menatap Orihime yang belum bergerak. "Kenapa?"

Orihime menaikkan alisnya, seolah menunjuk pintu itu. Ulquiorra tak bergerak, ia malah ikut mengerutkan alisnya dan menatap bingung kelakuan Orihime. "Mou, bukankah seharusnya laki-laki membukakan pintu untuk perempuan?" Orihime mengembungkan pipinya.

Ulquiorra mendengus dan menutup pintunya kembali, kemudian berjalan mendekati Orihime. Terkejut itu pasti. Ia kira, Ulquiorra akan menolaknya, dan mengatakan bahwa itu tak berguna, memalukan, atau buka saja sendiri atau kutinggal. Tapi, yang terjadi adalah...

Ulquiorra membukakan pintu untuknya.

"Dasar kekanakan."

Orihime tertegun untuk beberapa detik, rasanya ingin menangis. Kalau apa yang dikatakan oleh kakaknya adalah benar, apa ia rela melepaskan Ulquiorra yang mulai menyukainya?

Rasanya akan sulit.

.

.

.

Saat mereka tiba di pusat kota, hari semakin mendung. Orihime meminta Ulquiorra untuk memarkirkan mobilnya di pinggir jalan Shibuya. Karena ia serius dalam ucapannya. 'Ngomongnya sambil jalan aja.' Jadi mereka berdua akan berjalan bersama di tengah kerumunan Takeshita street.

Niat dari acara ini memang adalah ngomong sambil jalan, tapi yang terjadi justru kebalikannya ketika Orihime mencium aroma manis dari sebuah café. "Sambil beli es krim, ya?" Tanpa persetujuan Ulquiorra ia langsung menarik pemuda itu menembus kerumunan dan mengantri untuk mendapatkan sebuah es krim. "Ulquiorra mau rasa apa?"

"Kopi, saja."

"Pahit sekali. Bibi, berikan aku dua es krim yang satu rasa keju, yang satu rasa cokelat." Orihime tersenyum lebar pada Ulquiorra sementara si pemuda memandangnya horor. Dan pandangan itu semakin menjadi-jadi, saat es krim berwarna cokelat itu ada di tangannya.

Orihime menahan senyumnya saat melihat Ulquiorra tidak mau menyentuh es krimnya, sementara ia asyik menjilati es krim di tangannya. Menggoda? Sebut saja begitu. Ulquiorra menyadari pandangan mengerjai itu dan tanpa ba-bi-bu, ia menarik kepala Orihime ke arahnya dan ia menjulurkan lidahnya hingga menyentuh sudut bibir Orihime yang terdapat sisa es krim di sana. Dan, tentu saja...

"Punyamu lebih enak."

...Ulquiorra menjilatinya.

Orihime membatu di tempatnya, terkejut, dan mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Tapi semua itu dibuyarkan kala bahunya diguncang pelan oleh Ulquiorra. "Kau oke?" Gadis itu tersadar dari lamunan dan buru-buru wajahnya dialihkan, sementara Ulquiorra menjilati bibirnya sendiri. Gantian, sekarang ia yang menggoda. Jantung Orihime semakin berdegup kencang saat melihatnya dengan segera wajah sang gadis tertunduk merah. "Mau ke mana lagi?"

Orihime tersentak dan dengan gagu ia menunjuk ke arah lain, yang ia sendiri tidak yakin itu tempat apa. Keadaan keduanya menjadi canggung untuk beberapa menit dan kembali mencair saat Ulquiorra dengan sengaja menyodorkan boneka sadako pada Orihime yang dianggapnya lelucon, padahal Ulquiorra sebenarnya ingin menakuti, dengan harapan gadis itu akan teriak kemudian mengembungkan pipinya, kemudian-ah, sudahlah.

Situasinya kembali menyenangkan. Mereka keluar dari satu toko ke toko lain. Berfoto dengan seseorang yang sedang melakukan cosplay. Walau pada awalnya Ulquiorra menolak habis-habisan, tapi pada akhirnya, sosoknya tetap muncul dalam foto langsung jadi itu.

"Kita dapat dua nih. Satu untuk Ulquiorra dan satu untukku." Orihime menyodorkan satu foto ke tangan Ulquiorra dan foto miliknya sendiri ia simpan di dalam dompet.

Ulquiorra memandangi foto di tangannya, wajahnya terlihat jauh lebih dingin dan ia memandang ke arah lain, sementara Orihime menggamit lengannya dan merapatkan tubuhnya dengan sebuauh senyum bahagia terukir di sana. Tidak buruk, pikirnya.

Tiba-tiba saja, sebuah tangan hangat menggenggam tangannya dan saat Ulquiorra mengangkat kepala, surai oranye itu memenuhi retinanya. "Ayo," ajaknya. Ulquiorra menatap tangan mereka yang bertaut yang akhirnya baru ia sadari, tangan itu sudah ada dalam genggamannya sejak mereka tiba di sini.

.

.

.

Akhirnya, keduanya memilih untuk memasuki toko pakaian Lolita. Penasaran katanya.

Orihime mencoba satu pakaian dan saat ia keluar dari kamar pas ia memandang Ulquiorra dengan pandangan polos dan berkaca-kaca. Wajahnya bersemu merah. "U-Ulquiorra-kun," panggilnya manja. Ulquiorra menutup mulutnya dan langsung keluar dari toko, yang disusul oleh pecahnya suara tawa Orihime.

"Lucu, kan, tadi? Ulquiorra harusnya memfoto aku dulu baru kabur."

"Aku tidak mau. Yang tadi itu mengerikan."

Orihime tersenyum dan ia melirik jamnya. "Baiklah, sudah hampir tiba saatnya pulang, nih. Cari kenang-kenangan, yuk?"

"Apa lagi? Foto tidak cukup?"

"Cukup sih, tapi kan akan lebih seru kalau kita membeli sesuatu yang sama yang selalu kita pakai bersama, jadi kita bisa terus ingat pada hari menyenangkan ini."

"Terserah."

"Roger." Dan, Orihime kembali menarik Ulquiorra melangkah. Ia menyarankan untuk topi saja, tapi Ulquiorra langsung menolaknya karena ia sangat jarang menggunakan topi dan itu baginya PR. Cover ponsel menjadi pilihan kedua tapi ditolak oleh Orihime karena ponselnya masih berbentuk flip. Gantungan ponsel yang berikutnya, dan Ulquiorra langsung menolak keras dengan komentar jujurnya.

"Menjijikkan."

"Ah…" Orihime mendesah, menyerah. Apalagi yang harus mereka beli? Kalung? Cincin? Itu terlalu intim seolah-olah mereka sudah menjadi sepasang kekasih saja.

"Sudah, foto saja cukup, kok. Foto ini nanti akan aku simpan di dompetku, aku masukkan ke dalam ponsel, aku perbanyak, aku pajang di kamarku, di ruang tamuku, di dalam mobilku, bahkan di kamar mandiku agar aku tak akan lupa. Apa itu cukup?"

Orihime mengangguk pelan. Pasrah. Walau sebenarnya ia menyukai Ulquiorra bahkan berpikir seperti itu untuknya dan sejujurnya ia juga tahu bahwa itu hanya omongan belaka, tapi ia cukup terhibur karenanya. Orihime berjalan lunglai mengikuti Ulquiorra tapi langkahnya terhenti saat ia menemukan sebuah gelang perak yang biasa tapi sangat menarik perhatiannya.

Ulquiorra menoleh ke belakang dan menemukan Orihime sedang memandang sebuah gelang di tempat perhiasan pinggir jalan. Dibawa tungkainya mendekati si gadis bersurai oranye. Kepalanya dilongokkan, dan terpantulah gelang perak di permata emeraldnya. "Kenapa? Kau mau?"

Wajah Orihime memerah dan ia buru-buru berdiri. "Tidak. Bukan apa-apa. A-ayo," kilahnya. Toh, Ulquiorra mana mungkin mau memakai gelang itu. Orihime berjalan lebih dulu karena terlalu gugup, tanpa ia sadari Ulquiorra sebenarnya masih berdiri di sana dan memandangi dua gelang itu sambil merogoh kantung dan menyerahkan beberapa lembar uang ke pemilik kios itu.

.

.

.

Setelah mereka membeli takoyaki dan akhirnya benar-benar memutuskan untuk menuju parkiran, Orihime berseru, "Ah! Aku lupa, aku masih ingin ke suatu tempat. Tempat terakhir, aku janji ini yang terakhir. Ayo!"

Ulquiorra memandang bingung, tapi akhirnya ia tetap mengikuti langkah gadis itu. Mereka berdua berjalan lebih cepat dari biasanya, sambil Orihime bercerita, dulu saat ia kecil ia sering dibawa oleh ibunya ke sana. Jadi, ini seperti semacam kebiasaan untuknya kalau berada di daerah sini, ia harus mengunjunginya.

Dan mereka berdua berhenti di depan sebuah torii. Orihime tersenyum lebar. Pandangannya melembut, teduh dan penuh nostalgia. "Meiji Jingu. Sudah lama sekali sejak terakhir aku ke sini. Ayo, Ulquiorra."

"Aa." Gemuruh mulai terdengar begitu keduanya memasuki kuil. Orihime berdiri di depan lonceng, memejamkan mata dan menempelkan kedua tangannya kemudian ia melakukan tepukan tiga kali. Ulquiorra memandangi Orihime dari samping, ia tidak terlalu sering untuk pergi ke kuil, pun ia tidak terlalu ingat berapa kali ia memanjatkan doa pada Tuhan. Yang rasanya tidak pernah, eh?

Tapi, ia menjadi penasaran saat melihat Orihime begitu khusyuk dan damai saat memanjatkan doanya. Dan begitu matanya terbuka, ia menggoyangkan loncengnya. "Apa yang kau minta?" Ulquiorra pensaran.

"Eh?"

"Hm… rahasia." Ia terkekeh geli.

"Terserah, sih," jawabnya angkuh. Orihime hanya tersenyum geli dan berjalan untuk menulis permohonannya di atas sebuah papan. Orihime memberi satu untuk Ulquiorra tapi langsung ia tolak. "Tidak."

"Ayolah, tidak ada salahnya, kan?" Ulquiorra menggeleng dan tetap menolak. Egonya besar, ya. Orihime mengangkat bahu dan menulis miliknya. Ulquiorra melirik, tapi Orihime buru-buru menutupinya. Melihat hal itu, Ulquiorra jadi tertarik untuk ikut mengisinya juga.

Orihime menahan senyumnya dan saat ia mencoba untuk melihat permohonan Ulquiorra, pemuda itu langsung menutupinya dan keduanya jadi seperti lomba menulis permohonan. Begitu selesai, keduanya ingin menempel permohonananya bersama-sama, tapi karena tidak ingin diketahui oleh masing-masing, keduanya berpencar untuk mencari tempat yang pas bagi kepunyaannya sendiri.

Orihime dan Ulquiorra menatap permohonan mereka dan akhirnya memutuskan untuk pulang. "Oke, aku sudah puas, ayo pulang. Terima kasih sudah menemaniku, Ulquiorra. Semoga kita bisa kembali lagi ke sini, ya."

"Hn."

Orihime tersenyum simpul. Lamat-lamat, tangannya digerakkan mendekati tangan pemuda itu yang bebas kemudian mengaitkannya dan menggenggamnya. Ulquiorra terkejut tapi ia tidak menarik tangannya menjauh yang terjadi adalah, genggaman tangan itu semakin erat.

CTAR!

Kilat menyambar dan hujan turun perlahan. Rintik-rintik air mulai membasahi lantai yang mereka pijak. Keduanya berhenti melangkah, terkejut dan buru-buru berlari untuk berlindung di bawah pohon rindang. "Akhirnya hujan juga."

"Kau bersyukur?" Ulquiorra menanggapi sambil menepuk bajunya yang sedikit lembab. Suara gadis itu tentu nampak tenang tanpa embel-embel nada kesal maupun umpatan.

"Kau tidak tahu hujan itu berkah? Saat hujan itu jangan mengutuk atau hujan nanti akan semakin brutal dan deras loh," Orihime berkata dengan wajah serius.

Ulquiorra mendengus. "Naif sekali."

"Ta-tapi, a-aku be-benar." Ulquiorra melirik Orihime. Gadis itu tidak biasanya untuk gagap. Ralat, gadis itu terbiasa gagap jika Ulquiorra melakukan hal-hal yang bisa membuat gadis itu memacu jantungnya lebih cepat dari biasanya. Tapi, sekarang? Tidak tuh, keduanya berdiri dengan jarak. Dipandanginya gadis itu dari atas sampai bawah dan menyadari bahwa Orihime sedang menggosok-gosok lengannya.

Ah… gadis itu kedinginan.

Ulquiorra membuka jaketnya. "Benar apa? Benar-benar kedinginan?" katanya sambil menempelkan jaketnya pada bahu Orihime. Si gadis berusurai oranye itu terkejut dan abu miliknya langsung bertabrakan dengan emerald si pemuda. Mencari apa saja yang bisa ia tangkap. Ketulusankah? Kasih sayang, kah? Mengabaikan fakta bahwa harusnya ia tidak lagi menaruh harap.

Ulquiorra berdiri di depan dara Inoue itu, dengan satu tangannya memegang tangan kanan Orihime dan tangan yang satunya merogoh saku. Sebuah benda bundar keperakan keluar dari sana, benda yang tadi dipandangi Orihime di toko perhiasan pinggir jalan.

Benda bundar itu Ulquiorra lingkarkan di pergelangan tangan Orihime. Dan setelah selesai, lengan kemeja di tangan kanannya ia gulung sehingga menampakkan benda yang sama dengan yang dipakai sosok di depannya. "Apa ini cukup sebagai kenang-kenangan?"

Orihime menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Terharu, terkejut, campur menjadi satu. "Tapi, kapan? Aaah." Orihime teringat saat Ulquiorra terlambat menyusulnya tadi, sebelum mereka tiba di kuil. Pandangannya melembut. Hatinya tersentuh. Pertahannya melemah. Ia mulai goyah.

"Kau tunggu di sini, aku akan mengambil mobil." Ulquiorra buru-buru bersuara sebelum mendengar respon Orihime.

"Tung—" dia terlambat, Ulquiorra sudah berlari menembus hujan. Orihime memandangi punggung Ulquiorra yang perlahan mengabur. Pegangannya pada jaket si laki-laki pun mengencang. Pilihan itu akan datang padanya, dan ia harus memilih. Haruskah ia membuat kesalahan sama seperti ibunya? Atau... haruskah ia merelakan Ulquiorra dan menebus kesalahan ibunya?

Kakinya diayun, dibawa menjauhi pohon rindang yang menutupi kepalanya. Tetes-tetes air hujan itu berjatuhan di atasnya, membasahi wajah dan pakaian. Kemudian, tangannya direntangkan dengan kepala yang menengadah. Bibirnya dibuka, membuat celah kecil dan ia mengizinkan tetes-tetes air itu masuk ke dalam mulutnya.

Membiarkan dirinya basah, mendinginkan kepala sambil tangannya yang gemetar meraih ponsel lalu menekan sebuah nomor. "Ha...lo?"

.

.

.

Ulquiorra memarkirkan mobilnya di bawah tangga dan keluar dari sana dengan sebuah payung yang telah terbentang. Terburu ia memacu langkahnya, dan ketika ia hampir menyampai puncak terkejutlah ia melihat Orihime berdiri di atas sana, hujan-hujanan dengan wajah pucat dan kaki yang gemetar.

Iris keabuan itu menatapnya sendu.

"Aku meminta hadiahku, sekarang." Suaranya lirih, gemetar dan lemah. Keduanya saling bertatapan, yang satu nampak damai, sementara yang lain tampak bingung meski ketenangan masih terpancar dari emeraldnya.

"Aku akan menceritakannya di mobil." Ulquiorra kembali melangkah naik, namun Orihime mengambil langkah mundur yang membuat si pemuda bersurai gelap itu kembali berhenti.

"Aku ingin mendengarnya, sekarang, di sini." Suaranya terdengar lemah namun dari sorot matanya, sangat terlihat kalau gadis itu tidak akan mundur sampai ia mendapatkan yang ia ingin, meskipun keduanya sama-sama tahu tubuh gadis itu tidak bisa bertahan lebih jauh lagi. Dilihat dari kondisi bajunya, gadis ini pasti sudah hujan-hujanan sejak tadi Ulquiorra meninggalkannya. Dan, jika pemuda itu peduli pada sang gadis, ia harus menurutinya dan menyelesaikannya secepat mungkin. Tunggu, Ulquiorra peduli padanya?

Bahunya dirileks-kan dan tubuhnya ditegapkan, sebelah tangan menyusup di balik kantung celana. "Jadi, apa yang ingin kau ketahui tentangku? Aku yakin, kau sudah tahu siapa sosok perempuan di pigura itu." Ditatapnya lekat.

Bibirnya bergetar lalu tangannya dikepal, sepasang kelopak matanya mengerjap sebelum akhirnya ia berujar mantap. "Semuanya. Beri tahu aku semuanya… tentang kalian." Ulquiorra sudah menebaknya. Tapi janji adalah janji. Tentu ia pasti akan menepatinya. Napasnya ditarik dalam lalu dihembus secara perlahan. Keplanya menengadah, mencoba mengingat saat-saat di mana ia bertemu dengan Tia Halibel.

"Aku bertemu dengannya sekitar lima tahun lalu. Saat aku masih di sekolah dasar tahun terakhir. Saat itu dia sudah SMA tahun pertama. Kami tidak bertemu secara kebetulan, tentu saja. Dia ada di tempat kursus pianoku. Di sana kami tidak dipisahkan berdasarkan umur, tapi kami dikelompokkan sesuai bakat." Ulquiora mengambil jeda, ia rasa Orihime sudah tahu kelanjutannya. "Dan aku satu kelas dengan kakakmu."

Petir membelah udara dan cahaya kilat di balik punggungnya. Orihime menahan napas. Lima tahun, waktu itu di mana dia? Ah, dia masih tinggal di London bersama ayahnya.

"Aku adalah satu-satunya murid sekolah dasar yang ada di sana dan tentu menarik perhatian semua orang. Kecuali... kakakmu." Kepala dengan puncak oranye itu perlahan menunduk. "Semua orang memuji permainanku, walau aku tahu sebenarnya ada cacat di sana, tapi karena aku masih kecil, mereka meremehkanku dan menganggap itu hal yang dimaklumi karena faktor usiaku. Tapi, dia berbeda, dia mengkritik setiap permainanku. Hanya satu pujian yang pernah ia lontarkan padaku, dan itu sama sekali bukan karena permainan pianoku tapi karena suaraku. Mengesalkan, bukan?"

Orihime mengukir senyum tipis. Siapapun pasti akan langsung terusik begitu mendengar suara Ulquiorra dan kakaknya yang memiliki suara merdu pasti akan langsung tertarik, sama saat pertama kali ia mendengarnya.

Betapa ia dan kakaknya memiliki ketertarikan yang sama. Bahkan jika dipikir dengan hubungan darah mereka.

"Sejak itu kami mulai dekat. Aku mengenalkannya ke Grimmjow, yang saat itu ingin membentuk sebuah band dan mencari vokalis. Grimmjow setuju, dan dari situ kami berlima mulai akrab. Sampai, saat Grimmjow mempersiapkan semuanya untuk debut, Tia memutuskan untuk kuliah di luar negri, Juliard, dan Grimmjow marah besar. Kau tahu kelanjutannya." Band Grimmjow vakum, ia tahu itu.

"Lalu? Kapan tepatnya kau menyukai kakakku?" Bulir abu itu dialihkan.

"..."

Hening menjadi jawaban. Suara rintik hujan menyelimuti keduanya yang tampak terbelunggu oleh pemikiran masing-masing. Sama berisiknya dan masih sama jelasnya dengan yang sebelum-sebelumnya, sengaja menjadi melodi dari terbongkarnya kisah yang tak seharusnya Orihime gali semakin dalam.

"Sebelum ia menegurku, dia bahkan sudah menghipnotisku dengan permainan pianonya yang biasa saja dan suaranya yang luar biasa."

Orihime memejamkan mata, ia sudah menebak jawaban macam ini yang akan ia terima. Kakaknya punya banyak sekali keahlian, dia cantik, tinggi, tubuh yang bagus dengan kulit eksotik, dan suara yang merdu, dia dewasa, natural. Begitu luar biasa. Begitu bersinar.

"Aku menyatakan cintaku saat ia memutuskan untuk kuliah di Juliard dan hubungan itu terus berlanjut sampai..." ucapannya sengaja dipotong sembari ia menaiki satu-persatu tangga di hadapannya, hingga berselang tiga anak tangga, pemuda dengan tampang stoic itu berhenti.

"...aku bertemu denganmu," Ulquiorra membisik dan menatap Orihime yang juga refleks mengangkat kepala ketika kata terakhir itu diucapkan. Tangannya dijulurkan mengusap pipi yang terasa membeku.

"Perempuan ceroboh, lemah, cengeng, berisik namun berhasil membuatku gila. Aku baru pertama kali merasakan perasaan aneh ini. Aku tidak mengerti dan belum menemukan jawabannya. Jadi, sampai aku mengerti, jangan jauh-jauh dariku."

Orihime terkejut mendengarnya. Terutama di bagian gila yang diucapkan Ulquiorra dengan nada frustasi namun ada sedikit senyum di sana. Orihime mengerjapkan mata dan tersenyum. Ia tahu bahwa inilah saatnya ia mengatakannya, menyeruakan suaranya sejelas dengan rinai hujan yang tidak mengecil. Tangannya merayap ke atas, menempel di atas tangan si pemuda kemudian ia tertawa kecil, hingga uap-uap napasnya bisa ia lihat menari di depan mata.

Gemetar pada bibir ia abaikan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menghasilkan suara gagap karena kedinginan. "Kalau begitu, aku bantu kau memutuskan. Kau bisa melupakanku sekarang," Orihime berkata halus. Nadanya tenang, terlebih ekspresi pada wajahnya yang benar-benar damai. Dilihat dari manapun, sudah jelas bahwa perkataan barusan berbeda dari perkataan penuh emosi semalam, melainkan perkataan yang sudah dipikirkan.

Tangan yang menempel di atas tangan Ulquiorra itu perlahan menggenggamnya, lalu mengajak tangan itu untuk menjauh dari pipinya. Namun, sebelum Orihime berhasil menarik tangannya, buru-buru Ulquiorra menggenggam tangan sang gadis, menahannya menjauh. "Aku sudah bilang, kan? Jangan—"

"Aku tahu. Tapi, aku berusaha untuk move on. Kau harus sadar, Ulquiorra, yang kau cintai itu, kakakku, kau hanya melihatku sebagai sesuatu yang baru, asing, seperti permainan limited edition yang ingin kau dapatkan karena berbeda dari yang lain. Itu bukan cinta," ia memotong.

Pandangannya teralih pada kedua tangan yang masih bertaut, genggamannya terasa keras, posesif, benar-benar melarangnya untuk menjauh. Pandangannya sendu. Ini yang selalu ia harapkan, matanya berkaca-kaca, ia hampir menangis, hampir, hampir. Tapi, ia buru-buru mengedipkan matanya berkali-kali, menahan air matanya, menahan perasaannya. Dan dengan satu tarikan napas, ditariknya tangan itu perlahan namun pasti untuk keluar dari genggaman Ulquiorra.

Ia kembali menatap pemuda di depannya. "Tapi, aku senang, setidaknya aku pernah membuatmu gila, eh?" Orihime terkekeh geli. Menghasilkan kepulan uap yang menari abstrak di depan wajahnya.

Ulquiorra membatu, pandangannya masih terarah pada tangannya yang berada di udara, menggenggam kosong. Rasa dingin langsung menyergapnya. "Kau mulai tidak masuk akal. Kau menyukaiku, kau yang mengatakannya."

"Tentu. Aku memang menyukaimu. Aku sangat menyukaimu sampai rasanya aku sulit bernapas, aku sangat ingin memelukmu sampai-sampai rasanya aku ingin menyembunyikanmu saja. Aku sangat mencintaimu sampai-sampai kehadiran kalian hampir menyesakkan. Tapi, itu tidak berarti kau juga menyukaiku. Kau yang bilang, kau mencintai kakakku lebih dari apapun. Jadi, kembalilah ke akal sehatmu."

Ulquiorra naik ke dua anak tangga tersisa, memotong jarak antara keduanya. Orihime mengambil langkah mundur, kembali memperlebar jarak sebelum Ulquiorra berhasil menjulurkan tangan dan menggapainya lagi. Ulquiorra tersentak memandangi sosok Orihime yang kian jauh. Dipandangnya kedua bulir abu itu lekat. "Kau yang kembali ke akal sehatmu. Apa maksudmu aku juga sebenarnya tidak mencintai Tia karena aku menyukainya karena memperlakukanku berbeda? Hm?"

Kepala si gadis menggeleng kuat. "Tidak, kau bilang kau sudah menyukainya bahkan sebelum ia menegurmu. Kau harus melepaskanku. Kau tidak mencintaiku. Aku yang mencintaimu. Kau mencintai kakakku dan begitu juga kakakku. Kau bisa berhenti memikirkanku sekarang." Sang gadis menekankan kata aku di sana, menegaskan bahwa dalam hubungan ketiganya yang mencintai di sini hanya Orihime seorang sementara sisanya saling mencintai. Ia yang mengintervensi. Ia yang seharusnya pergi.

Orihime melangkah maju mendekati Ulquiorra, hingga ia ikut berada di bawah payungnya. Pandangannya lembut dan sendu. Tangannya melepaskan jaket milik si pemuda yang melindungi bahunya dan kembali mengistirahatkan jaket itu di bahu pemilik yang sebenarnya. Ulquiorra masih mengunci mulut dengan pandangan yang tak lepas dari iris abu di sana. Orihime menjulurkan tangannya, mengusap pipi kanan Ulquiorra dengan tangannya yang sedingin es dan seputih kapur.

"Karena aku juga... akan berhenti memikirkanmu. Aku..." napasnya ditarik. "...merelakanmu, sekarang."

Bibirnya terbuka ingin membalas, namun suaranya tercekat kala menyadari sosok lain berjalan melewatinya dengan sebuah payung di sana. Emeraldnya bergulir yang langsung bertemu pandang dengan iris keemasan yang memandangnya remeh. Pemuda berkepang itu berdiri di samping Orihime, menyodorkan payungnya, agar si gadis melompat masuk untuk berlindung di bawahnya dan barulah ia memberinya jaket kering, membungkus tubuh kedinginan Orihime. Bekas pukulannya masih membiru di pipi sang pendatang baru dan sudut bibir sebelah kanan laki-laki Vega itu ditutupi dengan band-aid. Tapi, meski begitu ia masih sempat melempar seringai tipis pada Ulquiorra.

"Sampai betremu di sekolah, Schiffer-kun."

Dan gadis bersurai oranye itu berlalu. Pergi bersama pemuda lain yang hampir ia rusak wajahnya dengan lebam. Ada yang aneh di hatinya, sesak, tidak senang, bahkan sebagian tubuhnya ingin berbalik dan menonjok pemuda itu saat itu juga, tapi ia tak bisa. Rasanya ia seperti habis diputusin, yang padahal hubungan keduanya saja tidak pernah dimulai. Aneh. Dan itu menghalanginya bertindak, sekarang.

.

.

.

Ggio berdiri di depan mobilnya yang sengaja diparkir agak jauh dari mobil Ulquiorra. Sang pemuda berkepang masih berdiri di luar dengan payung di tangan, sembari menunggu Orihime selesai mengganti pakaian. Pakaian pinjaman milik sepupunya tentu.

Tok. Tok.

Ggio menoleh dan menemukan sosok itu sudah berbalut rapi dengan jaket dan celana jeans kering dan rambut yang sedang dilap oleh handuk kering. Senyumnya terulas dan barulah ia melangkah masuk. "Maaf merepotkanmu, Ggio-kun."

Mesin mobilnya dinyalakan. "Nah, jangan sungkan." Tangannya dikibas pelan lalu ia mulai membawa mobil itu menjauh dari area kuil. Keduanya sama-sama diam. Orihime memeluk lututnya, dengan handuk putih menutupi puncak kepalanya. Ia bersandar pada pintu mobil dengan pandangan sendu.

"Dia bilang, aku membuatnya gila." Suaranya mengalun lembut, sedih, lemah, bahkan jika didengar lebih baik ada gemetar di sana. Ggio membisu. Mobilnya masih melaju menembus hujan, menemani gadis di sebelahnya ini dalam senyap, karena diam-diam bahu kecilnya bergetar samar dan suara isak tangis mampir ke telinganya.

"Aku bisa... bisa membuatnya melihatku. Sedikit lagi..." Pelukannya dipererat dan kepala sang gadis tenggelam di antara lutut. Menangis di sana. Menumpahkan segala yang tadinya ia tahan ke dalam sebuah isak tangis yang diredam, kemudian makin lama seiring dengan dikuatkannya kepalan tangan, sang gadis itu mengerang, meraung dalam kesunyian.

Seolah berlomba dengan hujan, siapa yang menghasilkan harmoni paling memilukan di sore ini.

.

.

.

Tuuuuuut

Nada dering terdengar bersisian dengan suara hujan yang masih menjadi latar suara. Sosok itu harus tahu, meski apa yang ada dalam kepala pemuda itu tidak seutuhnya tertuju pada sosok perempuan yang akan mengangkat teleponnya.

Trek

"Halo."

Suara seorang perempuan terdengar dari seberang sana. Suara sosok perempuan yang tebal, dan sama dinginnya dengan hujan namun begitu merdu jika bernyanyi. Untuk beberapa saat Ulquiorra hanya menghembuskan napas.

"Sudah selesai. Dia mundur, dan aku kembali padamu."

"..."

Hening. Tidak terdengar sahutan dari lawan bicaranya.

"Tia?"

"Kau ingat apa yang kau katakan saat memintaku menjadi kekasihmu waktu itu?"

Sang laki-laki diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Ya," dengan tegas. Ia tahu apa akhir dari pembicaraan ini.

"Kalau kau—"

"—Mencintaimu, Tia Halibel. Bahkan jika kau bilang tidak."

Ulquiorra memotongnya, menyelesaikan kalimat yang ingin Halibel perjelas dan tekankan pada laki-laki itu. Ulquiorra paham, sebabnya ia putuskan untuk ia saja yang melanjutkan, menyiratkan bahwa ia masih ingat dan masih berperasaan begitu pada perempuan di seberang sana.

Keduanya terdiam. Hanya terdengar rintik hujan dari sisi Ulquiorra sementara dari sisi lawan bicaranya hanya terdengar jarum jam yang menetak beraturan.

"Jangan lupakan itu."

Trek

Tut tut tut.

Telepon ditutup dan tangan yang menyaggah ponselnya merosot turun, berbarengan dengan dilepasnya gagang payung yang sedari tadi ia pegang, melepaskan satu-satunya benda yang melindungi tubuhnya dari hujan. Dengan segera rintik-rintik hujan menetes di atas wajahnya. Kepalanya menengadah dan matanya memejam.

Ia masih ingat dengan cintanya dengan Halibel dan keduanya sudah kembali sebagaimana seharusnya. Ia di jalan yang benar. Ini kehidupan normalnya. Tapi, tidak, ia merasa ada yang salah, ada yang kurang dan ada yang tidak berada sesuai pada tempatnya.

"...Onna..." gumamnya parau. Tangannya dijulurkan lalu dibuka agar telapak tangannya dan menangkap tetesan air hujan. "...Jika aku adalah hujan..."

.

.

.

...could I connect with someone's heart, just as it can unite the eternally seperated earth and sky?

.

.

.


Debe continuar


.

.

.

A/N: Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Minna-saaaaaaan, hontou ni gomenasaaaaai orz. Saya tidak berniat untuk update selama ini sumpah. Chapternya sendiri sudah jadi dari entah kapan, tapi saya tidak bernyali untuk mempublishnya karena merasa masih ada yang kurang dari chapter ini. Dan menurut saran seseorang, dulu, katanya, sebaiknya dipendam dulu chapternya kemudian setelah beberapa saat baru dibaca lagi dan voila! saya teringat nasihat itu lalu memprkatikannya sekarang dan voila! dengan sedikit tambahan dan pemangkasan beberapa deskripsi yang teras aneh, akhirnya keberanian saya kembali pulih untuk mempublish chapter ini.

Setelah beberapa kali bolak-balik, kemudian meneliti typo, mudah-mudahan semuanya terdeteksi dan sudah dihilangkan, ya orz. Dan, karena adanya beberapa pemangkasan lalu penambahan, maka, chapter ini agak berbeda dari preview yang saya tampilkan di chapter sebelumnya. Untuk itu, saya minta maaf juga, karena sudah pehape. Orz

Oleh sebab itu, untuk kali ini saya putuskan untuk tidak mengeluarkan preview lagi. Maaaaaf.

Dan karena ini masih suasana lebaran, saya mohon maaf lahir dan batin, ya, semua. Maafkan keleletan saya dalam mengupate fic ini yang semakin parah saja. Hampir setahun orz, maafkanlah saya yang tak sempurna yang imajinasi terbatas dan kosa kata yang terbatas pula dalam merangkai kata ini, sehingga sering mengalami webe. Dan maaf lagi kalo jadinya malah panjang begini orz.

*sungkem satu-satu*

Lalu, lalu, kita ada pergantian coveeer (yay) lihatnya dari bawah ke atas, ya. #plak

Baiklah, mari kita berbalas review (yay)

yoorin matsu: Terima kasih sudah bersabar, Matsu-saaaaaan :") untuk terungkapnya rahasia masih butuh beberapa chapter lagi, mohon ditunggu, ya :") Dan maaf membat menunggu lama, terima kasih atas reviewnya.

Moku-Chan: Memang, egois betul Ulquiorra #heh korban juga, ya, Moku-chan? #brohug iktf, kok, iktf #pukpuk. Muehehehehe, tapi sayang itu yang pertama dan terakhir ada adegan kancing itu #dikeplak. Yosh, terima kasih atas reviewnya dan maaf membuatmu menunggu lama.

mei anna aihina: Sayang sekali, tebakannya salah~ #ditabok tapi meskipun gak ada poemangkasan tetep salah sih #dibuang. Ulquiorra memang selalu keren, dong (yea) tapi, maaaaaf, gak bisa update kilat orz, jadinya malah update super lelet begini orz sekali lagi maaf dan terima kasih atas reviewnya :")

vanillathin: Maaaaaaaf, tidak bisa memenuhi untuk tidak lama-lama updatenya. Orz maaaf sekali. Terima kasih atas reviewnya.

Delfoy: Kyaaaaaaaaaaaaaaaa #diam terima kasih atas koreksinya, untuk italic itu seperti lolos atau mungkin memang sayanya yang lupa orz. Kemudian untuk –nya, oke... itu semacam habit, akan saya coba untuk dikurangi. Dan tanda koma itu selalu jadi kelemahan saya yang kesekian setelah typo orz akan saya terus perbaiki #sungkem. Daaaaaaan, Ulquiorra memang sekseh banget waktu ngerokok itu... saya pun membayangkan hal yang sama. Ggio baik, tapi dia punya peran tersendiri. Jadi naksir gak, yaaaaaa? Nah, lihat saja nanti #sokmisterius A-aku terharuuuu ./. #berguling te-terima kasih, saya akan terus berusaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan di fic ini. Terima kasih sekali atas review dan kritiknya, terima kasih juga kalau kamu masih setia menunggu chapter berikutnya. Maaf atas keterlambatannya. Sekali lagi terimakasih.

Kekasih Gelapmu –D: Kamu gak berakun lagiiiii orz Nangis, mey! Nangis! Karena itu sedih banget ToT Aku selalu menanti ficmu, mey, tapi kabari dong kalu bikin fic, aku kan tidak serajin dulu buka ffn #heh A-aku memang sudah besar ./. Paket komplit, ya. Kan kamu yang mecahin hatiku duluan #loh Terima kasih atas reviewnya, mey #cium

nazumiY: Kyaaa dikecup manja ./. Terima kasih atas reviewnya #balaskecup

aam tempe: #hapusairmatanya jangan menangis, aku jadi terharu ToT Terimakasih atas reviewnya, Am

Eunike Yuen: Waaah... terima kasih ./. Kaaaaan makanya suka males review dari hape, dan memilih jadi sider saja #heh Kegalauan berlipat, ya. Saya sendiri pun setiap mengetik ini juga merasa begitu. Terima kasih atas reviewnya :")

Nyanmaru desu: Tidaaaaak, please don't santai ajalah. Hpnya apa toh? Tapi ini udah setahunan, pasti sudah bener, ya... #telat Untuk hubungan dua kakak-beradik ini akan terungkap nanti, tenang saja, semua ada waktunya :") Untuk nilainya akan terjawab di chapter ini. Terima kasih atas reviewnya :")

Chikal: Maaf tidak bisa kilat, karena ini baru bisa update setelah satu tahun lamanya. Orz Kyaaaaaaa ./. Te-terimakasih jadi malu aku ./. Pe-penulis novel? Masih jauh itu ./. Aku masih belum ada apa-apanya kok, ini, masih banyak typo, salah tanda baca dan sebagainya, tapi terimakasih atas ucapannya dan reviewnya juga.

ariadneLacie: Mohon maaf lahir dan batin lagi, ya :") Waaaaah syukurlah, terkadang suka parno sendiri sih, apakah feelnya maksa dkk. Terima kasih atas reviewnya dan favenya :")

lullabie: Kenapa Tia no comment? Hahahahaha. Saya senyam-senyum loh baca review kamu :") Kemungkinan besar adegan hotnya tidak akan banyak lagi, saya menerawang paling hanya akan ada baku hantam lagi dia satu-dua chapter sementara kissunya, sayang sekali yang kemarin itu yang pertama dan terakhir, mungkin #loh gak yakin juga sih, tapi ragu untuk memunculkannya kembali. Untuk itu semua jawaban dari siapa yang move on sudah ada di chapter ini. Terima kasih atas reviewnya, reviewmu sangat memberi semangat untukku :") Maaf atas update yang super lambat ini.

JelLyFisH: Hehehehehe. Maaf, ini updatenya lama banget. Terima kasih atas reviewnya :")

Hanari: Halo, Hanari~ salam kenal. Terlalu cepat, ya? Wah... gomenasai #catat Semoga chapter yang ini tidak semakin membingungkan, ya orz Terima kasih atas reviewnya, dan maaf atas keterlambatannya

Fayiyong: Mah, mamah kenapa? Rumah tangga kita sudah kembali utuh, jangan galau lagi dong, mah. Mamaaaaaaah #peluk terima kasih atas reviewnya, mah. Teirma kasih. #pelukcium

angelina jolie: Iya, kaaaaaan. Galau bangetlah, mencintai yang tidak seharusnya dicintai terus mencintai yang akan selalu disakiti #promo? Ggio memang masih abu-abu, ditunggu saja penjelasan tujuan kehadirannya di sini. Terima kasih updatenya, dan maaf atas keterlambatannya

crowdstroia: Terima kasih sudah ingin memaklumi, Crowdstroia-san. Maaf tidak bisa update terlalu sering demi mempertahankan feel agar terus bisa mengalir dan bertahan juga pada para reader. :"( Terima kasih atas reviewnya, sekali lagi maaf, ini bahkan updatenya setahunan. Orz Maaf sekali.

Clarissa Afternoon: Saya juga begitu #plak terima kasih atas reviewnya :")

rheizas ukisaki: Dan sepertinya ucapanmu menjadi kenyataan, karena kali ini fic ini beneran baru update setelah hampir satu tahun lamanya #... Kenapa tidak coba buat satu? :") Terima kasih atas reviewnya dan maaf lagi atas keterlambatannya.

Saya Sendiri: Hahahahaha, rapopo kok :") aku yang harus minta maaf karena baru update sekarang #... Tapi tenang, ini sedang pendinginan kok, adegan hotnya akan dihilangkan sampai beberapa chapter ke depan #spoiler Coba minum susu kalau susah tidur lagi (yay) Wah... terima kasih ucapannya, dan terima kasih atas reviewnya juga :")

Orange-Chan: Apakah ini sudah bisa disebut sebagai romance? Kalau belum, maaf, saya kurang mahir berunyu ria #dihempas Terima kasih atas reviewnya dan maaf atas keterlambatannya

Sayumi Takahashi: Terima kasih sudah dimaklumi dan seperti yang selalu saya bilang fic ini tidak akan didiscontinue-kan hanya saja ya... begini updatenya, saya tak bisa jamin kapan bisa update lagi orz. Terima kasih atas reviewnya

sasusaku loverss: Ggio cocoknya sama soifon #BUKAN tapi karena sering bikin scene mereka berdua di fic ini, saya juga entah kenapa jadi suka Ggio dan Orihime #crack Endingnya? Saya tidak mau memberi harapan kosong, tapi saya tidak berjanji untuk menyelesaikan fic ini dengan super cepat orz maaf sekali dan terima kasih atas reviewnya

SungYeol's: Alasan dia menikah itu dijelaskan di sini, dan meski agak kabur sih, dan meski masih kabur juga disisipkan sedikit tentang bagaimana Ulquiorra dan halibel bertemu, sementara untuk kejelasannya, masih dibutuhkan beberapa chapter lagi. Maaf atas progresnya yang super lelet dan terima kasih atas reviewnya

azoela kuchiki: Waaaaah ./. Aku senang mendengarnya kalau begitu :") Tidak akan setengah jalan, hanya updatenya saja yang butuh perjuangan #dihempas terima kasih atas reviewnya :")

Hel Hazelnut: Ggio memang masih abu-abu, kejelasan perannya akan diuraikan di chapter-chapter mendatang. Ping pong! Benar sekali, dia sengaja ngalah dan benar lagi dia egois. Jajaran kaum elit, memang, terima kasih atas infonya, sebenarnya ini agak mengganjal memang, kayak, masuk akal gak ini orang pada bawa mobil, tapi... hasrat untuk mencantumkan begitu orz Maaf kalau bagian yang ini membuat hazel-san kurang nyaman. Terima kasih atas reviewnya :")

Ajeunx: Waaaah, hampir mirip dengan azoela-san :") terima kasih atas reviewnya :")

Jacqline Emms: Samaaaaa, terkadang suka menempatkan diri sendiri sebagai Orihime sih pas ngetik ini orz. Teirma kasih atas revienwya

Bleachmegafan01: Sayang sekali... sekarang updatenya malah setahun kemudian orz. Terima kasih atas reviewnya dan sekali lagi maaf atas keterlambatannya.

Tentaiki H Funf: Salam kenal, Tentaiki-san :") Kyaaa, gomenasai, tidak ada niatan untuk selalu membully, mengalir begitu saja #heh. Terima kasih atas reviewnya.

Nadia w.m: Terima kasih sudah mau menanti dan terima kasih sekali atas reviewnya. Maaf atas keterlambatan updatenya :"(

Sanchai: Menurutku juga begitu :") Bolehlah, tentu boleh. Sayang sekali ini sudah setahun orz. Terima kasih atas reviewnya dan maaf atas keterlambatannya.

Guest: Sekarang updatenya, guest-san. Terima kasih atas reviewnya dan maaf sekali atas keterlambatannya.

OntokkiRoyLee: Ini sudah diupdate. Maaf atas keterlambatannya dan terima kasih atas reviewnya.

Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q: Ini sudah mantap, Fu. :") Terima kasih atas reviewnya, dan maaf atas keterlambatannya.

CindyWatanabe476: Kyaaaa, sukurlah kalau begitu. Terima kasih atas reviewnya dan maaf atas keterlambatannya, Cin orz

Chensy: Kamu tahu sekali, Chensy-san, saya tidak pede, makanya dipendam dulu orz terima kasih atas reviewnya dan maaf atas keterlambatannya.

Micha: sekarang updatenya. Maaf atas keterlambatannya dan terima kasih atas reviewnya.

Rosi: Sudah diupdate. Maaf atas keterlamabatan dan terima kasih atas reviewnya.

Hanyou Dark: Saatnya Orihime yang menolak! (yea) terima kasih atas reviewnya

Kuro Nami: Sejak galau karena Orihime #krik terima kasih atas reviewnya dan maaf atas keterlambatannya.

Recc: Sekarang updatennya. Terima kasih atas reviewnya.

Rindu: Gomenasaaai, ini bukan suatu yang disengaja agak buat kalian semua menunggu. Maaf sekali. Terima kasih atas reviewnya.

Marisa: Salam kenal, Marisa. Terima kasih atas reviewnya tapi saya masih belum ada apa-apanya, kok. Tapi, terima kasih sekali, saya terharu ./.

Lars Carriedo: Oke~ sudah dilanjutkan ficnya. Terima kasih atas reviewnya

Misca: Sekarang updatenya. Maaf sekali.

Chi-chan Uchiharuno: Oyampun... sampe lupa belajar... lain kali jangan atuh, sayanya jadi merasa gak enak mengganggu (?) Terima kasih atas reviewnya :")

Firanyot: Di sini chapter limabelasnya, terima kasih atas reviewnya dan maaf sudah membuatmu menunggu.

Ryuka Kagare, Red, INOcent Cassiopeia, Ris, : Sekarang updatenya :") Terima kasih reviewnya dan maaf atas keterlambatannya.

siriuslight: Rapopo, kok, kamu sudah baca saja saya sudah bahagia. Terima kasih atas reviewnya dan maaf atas keterlambatannya.

Mitsuo Miharu: Iya, Miharu-san saya rada sibuk belakangan dan webe parah orz. Terima kasih atas reviewnya :")

CENAYANG: Kamu membuat saya penasaran, Cenayang. Terimakasih atas dukungannya.

Black Paper: Setelah ini dia kacau, Black-san. Terima kasih atas revienwya.

R-Daisy: Waaaah, miripkah? Itu faktor ketidaksengajaan orz. Kapan mereka bersatu? Di akhir fic ini, Daisy-san #ditabok Ini sudah diupdate, terima kasih atas reviewnya dan favenya

devilslantern: Sudah dilanjutkan dan terima kasih sudah menunggu.

.

.

Yosh! Terima kasih atas review teman-teman semua serta terima kasih sekali bagi yang sudah menyempatkan diri untuk baca. Maaf sekali atas keterlambatan updatenya.

.

.

Sampai di sini saja perjumpaan kita kali ini~~ Sampai jumpa di chapter berikutnya :")

Lalu?

Review?

.

.