Kawaii no Ikemen chapter 4

Kamichama Karin by Koge Donbo

Warnings : AU, OOC, typo, dll.

.

.

.

Memilih salah satu anggota Kawaii no Ikemen bagi kebanyakan gadis mungkin adalah hal yang sangat mudah. Semua anggota geng paling terkenal se-antero sekolah itu tidak hanya mempunyai wajah yang menarik, tapi juga kecerdasan, aura kuat yang memancar dan harta—abaikan yang terakhir. Tapi tidak bagi Karin. Disukai semua anggota Kawaii no Ikemen bukanlah hal yang menyenangkan seperti yang orang lain pikirkan.

Geng ini berdiri karena Kazune, Jin, Kirio dan Michiru adalah teman bermain semenjak kecil. Mereka pikirr sudah mengetahui sifat dan kebiasaan masing-masing. Tapi ternyata mereka belum mengetahui semuanya. Terbukti, baik Kazune, Jin, Kirio maupun Michiru tidak ada yang mengetahui tipe gadis yang sahabat-sahabat mereka sukai.

Entah sudah berapa keliling Karin mengitari kamarnya yang berukuran 4m x 4m itu. Kadang ia duduk di meja belajarnya, ataupun berbaring di kasurnya hanya karena memikirkan masalah ini. Dulu Karin adalah gadis yang biasa saja, Karin pun tidak tahu kenapa ia bisa masuk sekolah yang bisa dikatakan salah satu sekolah terbaik di kotanya itu, ia gadis dengan latar belakang keluarga yang sederhana. Ayah dan ibunya sudah meninggal karena kecelakaan pesawat ketika ia berusia tujuh tahun dan kemudian bibinya merawatnya. Karin juga bukan gadis yang pintar, ia bahkan selalu menempati ranking bawah di kelasnya, Karin juga bukan siswa cantik yang terkenal dan populer di sekolahnya—setidaknya sampai adegan pertengkaran geng itu menggegerkan sekolahnya. Dan yang pasti, Karin merasa dirinya tidak cantik.

Karin sudah bosan dengan pesan terror yang ia terima di kotak masuk e-mail-nya. Biasanya, ponsel peraknya hanya mendapat satu pesan setiap harinya, itupun dari operator, tapi sekarang bisa sampai lima puluh pesan setiap harinya.

"Kariiiiinnn!"

Karin menghela napasnya. Bibinya mengganggu acara menggalaunya saja. "Iya Bi, aku ke bawah!"

Karin pun turun dari kamarnya. Dilihatnya di ruang tamu, si artis muda yang sedang terkenal saat ini.

"Eh, Jin-senpai!" seru Karin. Karin hanya tersenyum. Manis seperti biasanya, pikir Jin.

"Selamat siang Karin," sapa Jin basa-basi. Karin duduk di kursi seberang kursi yang sedang Karin duduki.

"Selamat Siang Senpai. Darimana Senpai tahu rumahku?" tanya Karin polos.

"Aku mengikutimu ketika pulang sekolah. Hehe," jawab Jin seolah tanpa dosa. "Karin, kau sedang punya waktu luang 'kan? Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ajak Jin. Karin hanya dia seraya mengernyitkan dahinya.

"Aku tunggu lima belas menit untukmu berdandan," ujar Jin memaksa. Karin hanya pasrah dan segera naik ke kamarnya.

"Baiklah," seru Karin pasrah.

.

.

.

Karin turun dari kamarnya. Ia mengenakan dress selutut berwarna pink berlengan pendek. Rambut pirangnya ia kucir dua seperti sepatu balet berwarna senada yang menambah kesan manis dan imut pada dirinya.

"Waw, kau manis sekali, Dewi…," puji Jin. Wajah Karin memerah.

"…."

"Sudahlah ayo kita berangkat," ujar Jin.

"Kita akan pergi kemana Senpai?" tanya Karin. Jin menyeringai.

"Kemana saja asal kau senang Dewi," jawab Jin seraya membukakan pintu mobilnya untuk Karin. Karin menghela napas panjang. Entah ini romantis atau menyebalkan.

"Oh iya Karin, mulai dari sekarang aku akan memanggilmu Dewi," ujar Jin. Karin kaget. Dewi? Apa maksudnya? Pikir Karin.

"Dewi?"

"Iya Dewi. Karena kau cantik seperti Dewi. Ah, pokoknya aku akan memanggilmu Dewi. Kau tidak keberatan kan?" tanya Jin.

Wajah Karin memerah. Baru kali ini ia dipuji seperti itu. Apalagi ini adalah seorang Jin Kuga, artis tampan idola para gadis di negerinya.

"Kau diam, berarti itu jawaban 'iya'."

Mereka pun sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran romantis yang sengaja dibooking oleh Jin. Karin merasa risih lama-lama, ini bukanlah tempatnya, ini mungkin restoran paling mewah yang pernah ia kunjungi.

"Silakan duduk, Dewi!" seru Jin.

Karin pun duduk dengan canggung. Entah senang atau apa tapi ini kelakuan Jin ini benar-benar romantis.

.

.

.

Karin melangkahkan kakinya dengan tidak semangat hari ini. Selain karena ia akan mengikuti remedial matematika, bahasa Inggris juga akan ulangan hari ini. Dua mata pelajaran yang menjadi momok yang menakutkan bagi Karin. Kalau boleh memilih, Karin lebih memilih lari 10 keliling lapangan upacara dan lapangan olahraga daripada harus seperti ini.

Awalnya, Karin berjalan biasa saja, tapi entah mengapa nalurinya berkata kalau banyak siswi yang memandangnya tidak suka bahkan memberikan death glare kepadanya. Ada apa ini? Pikir Karin.

Karin tidak habis pikir, mengapa banyak orang yang menatapnya aneh dan tidak suka? Apa ia mengenakan pakaian yang aneh hari ini? Atau ada upil di hidungnya? Atau ada tulisan di belakang punggungya? Karin pun memeriksa pakaiannya, hidungnya, matanya dan punggungnya. Tidak ada yang aneh.

"Ohayou Karin," sapa Miyon.

"Ohayou Miyon. Kau bisa merasakan sesuatu tidak?" tanya Karin seraya berbisik. Miyon hanya mengernyitkan dahinya.

"Sesuatu yang aneh?"

"Iya dengan aku. Dari tadi aku masuk gerbang sekolah, orang-orang memerhatikanku," ujar Karin.

"Aku mana tahu, aku juga baru datang," sahut Miyon. Keduanya berbincang-bincang menuju kelas, sampai Yuki menghampiri keduanya seraya berlari.

"Karin, kau baik-baik saja?" tanya Yuki yang masih mengatur napasnya.

"Yuki, sebenarnya ini ada apa? Ada apa dengan orang-orang?"

"Apa kau tidak melihat acara gossip tadi pagi?" tanya Yuki dengan napas yang terengah-engah.

"Gosip? Gosip apa?"

Yuki menghela napas. "Karin, kau kemarin berkencan dengan Jin Kuga?"

"Eh?"

"Dengar, sekarang sedang panas gossip Jin Kuga berkencan dengan seorang gadis, dan di situs pribadinya Jin Kuga mengaku kalau gadis itu adalah kekasihnya. Dan kau tahu siapa gadis itu?" tanya Yuki. Karin dan Miyon menggeleng.

"Gadis itu kau, Karin!"

Bagai disambar geledek di siang bolong Karin hanya bengong. Begitu juga Miyon.

"Aku harus bagaimana?" tanya Karin nyaris menangis. Kedua sahabatnya hanya menggeleng prihatin.

.

.

.

"Sialan si Kuga itu! Apa maksudnya?" tanya Kirio pada dirinya sendiri ketika ia membaca berita gossip di ruang OSIS melalui laptop-nya. Ia benar-benar heran kepada Jin Kuga. Mengajak Karin kencan dan menyuruh supir pribadinya mengambil foto mereka dan menguploadnya ke situs pribadi Jin dan mengaku Karin adalah pacarnya. Apa maksud dari semua ini?

'Tok! Tok! Tok!'

"Masuk!" seru Kirio. Kirio membenarkan letak kacamata bingkai hitamnya.

"Ada apa kalian kemari?" tanya Kirio sinis. Michiru dan Kazune hanya bertukar pandang.

"Kau belum tahu gossip terbaru tentang artis sekolah kita itu?" tanya Kazune. Kirio masih enggan menatap mata kedua sahabatnya.

"Gossip tentang Karin-chan. Ya ampun, bagaimana ini? Hancur sudah harapanku," jawab Michiru sedikit berlebihan.

"DIa itu benar-benar licik. Kalau begitu caranya, itu tidak bisa dimaafkan. Ini bukanlah persaingan yang sehat," kata Kirio. Kedua sahabatnya menyetujuinya.

"Jin sudah keterlaluan. Sepulang sekolah kita berkumpul di rumahku!" perintah Kirio. Ia pun meninggalkan ruangannya diikuti kedua sahabatnya.

.

.

.

"Miyon, Yuki, apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku sudah mendapat sembilanpuluhsembilan e-mail dari fansnya Jin Kuga. Aku takut, hiks…," ujar Karin kepada kedua sahabatnya. Miyon dan Yuki hanya menatapnya prihatin. Mereka tidak pernah menyangka Karin—sahabat mereka yang biasa saja—tiba-tiba menanjak popularistasnya karena geng Kawaii no Ikemen.

Teman satu kelas Karin bukannya ikut prihatin malah menatap Karin sebal. Ada yang sebal karena tangisan Karin, ada yang sebal karena gossip Karin berpacaran dengan Jin Kuga artis kesayangan mereka, tapi ada juga teman satu kelas Karin yang menyeringai senang karena itu artinya Karin tidak akan berpacaran dengan Kazune, Michiru atau Kirio—merekalah Kazunese, Michirian dan fans Kirio.

"Ohayou Karin, Miyon, Yuki," sapa Himeka.

"Ohayou Himeka," sahut Miyon.

"Karin, kenapa Karin menangis?" tanya Himeka lembut. Mereka pun menceritakan semuanya kepada Himeka. Himeka mengerti, karena kakaknya juga termasuk satu dari empat anggota geng itu yang menyukai sahabatnya.

Himeka memutar otaknya, berpikir keras. Apakah jika melaporkan ini kepada Kazune semuanya akan baik-baik saja?

.

.

.

Jin Kuga merasa kebingungan ketika ketiga sahabatnya memaksanya untuk 'rapat' di rumah Kirio seperti biasa. Ia hanya menghela napas panjang ketika Kazune yang bicara. Kalau Kazune sudah bicara, berarti urusan ini bisa sangat serius. Lelaki berambut hitam itu pun terpaksa membatalkan acara pemotretannya. Dan tentu saja ini membuat agensi-nya kecewa.

"Kalian ini sebenarnya ada apa? Aku seharusnya ada pemotretan hari ini," keluh Jin seraya menyandarkan kepalanya ke belakang kursi belajar Kirio.

"Kau juga harus tahu, demi 'rapat' ini aku harus membatalkan rapat OSIS. Dan semuanya karena kau, Jin!" ucap Kirio seraya menunjuk wajah Jin dengan telunjuk kanannya tepat di hidung Jin. Jin hanya mengernyitkan dahinya.

"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Jin—lagi.

Hening, tak ada yang menjawab. "Kalau begitu aku pulang saja," keluh Jin. Jin beranjak dari tempat duduknya. Nyaris saja ia pergi, namun tangan Michiru yang sedari tadi diam saja menahannya.

"Duduklah," perintah Michiru.

"Kau membuat persaingan ini tidak sehat," ucap Kazune dingin tanpa menatap atau melihat wajah ketiga sahabatnya.

"Maksudmu?" tanya Jin.

"Apa maksudmu memberitahukan kepada media kalau Karin adalah kekasihmu? Itu sama sekali tidak adil. Okelah aku berani bersaing denganmu. Tapi kalau seperti ini, kau telah melakukan pelanggaran, ibarat sepakbola kau melakukan diving keras, untungnya aku tidak memberimu kartu merah," jawab Michiru.

"Apakah itu salah? Lagipula Karin menikmati kencannya denganku," lawan Jin. Kirio menggebrak meja belajarnya.

"Bukan masalah kencan atau pergi berdua, bodoh! Ini masalah keselamatan Karin dari media. Dan kau tahu ini juga menyangkut masalah keselamatan persahabatan kita."

Semua terdiam mendengar perkataan Kirio seolah membenarkannya. "Dan kau tahu? Perbuatanmu itu seperti pengecut. Karin menerima puluhan—bahkan ratusan e-mail terror dari penggemarmu, bagaimana kalau Karin diculik atau dibunuh oleh penggemarmu? Dasar lelaki tidak berpikiran panjang!" cela Kazune. Darah Jin sudah naik, ia tidak terima perkataan Kazune dan segera bangkit. Dengan penuh amarah, Jin menarik kerah baju Kazune. Mata hitamnya menatap tajam mata Kazune.

Tangan Jin terkepal, berniat melayangkan pukulan ke arah wajah Kazune namun Michiru menahannya. "Bersikaplah dewasa Jin. Kazune benar!" seru Michiru. Jin melepaskan cengkramannya.

"Maaf," ujar Jin.

"Sudahlah, kita perlu membicarakan ini dengan otak yang tenang dan pikiran yang dingin. Tidak akan pernah selesai masalah kita kalau seperti ini," ujar Kirio bijak. "Kalau perlu, kita bicara berlima bersama Karin. Biarkan ia memilih satu di antara kita, dengan perjanjian jika seseorang di antara kita ia pilih, yang lain tidak boleh kecewa, saling membenci, apalagi membuat persahabatan kita bubar," lanjutnya.

Baik Jin, Kazune maupun Michiru terdiam mencerna perkataan Kirio seolah membenarkannya.

"Aku setuju," ujar ketiganya bersamaan.

TBC

Aduh maaf! Saya juga kaget pas liat review udah banyak banget dan ternyata udah hampr dua tahun saya mengabaikannya fanfic ini. Saya kaget pas buka akun fanfic ternyata review yang tadinya belasan udah nyampe 30. Kalau gak dilanjutin saya ngerasa berdosa, dan sekarang saya lanjutin. Gimana? Apa terkesan maksa atau gimana?

Review ya!

Oh iya, terimakasih untuk teman-teman yang mengomentari cerita saya melalui kolom review akan saya balas:

Sakura Haruno : iyakah kayak BBF? Tapi aku gak pernah nonton BBF jadi gak tau, hehe. Makasih reviewnya

Berliana, Karin-chan, Ayu Haryati, : Siapa ya? Kasih tau gak ya? Tunggu di chapter depan ya . Makasih reviewnya

Umroeh, Dci, RevmeMaki, Miyon Kuze, Dila, Chang Mui Lie, Azusa: Ini diterusin makasih reviewnya

Guest, Hanazawa Maryam: Ini udah update makasih reviewnya. Kalau ada nama karakter di Naruto itu cuma pelengkap aja kok, hehe. Selain karena emang agak nyambung tentang serangga "?" juga karena chara K.K agak sedikit, jadi aku selipin deh, hehe

KK Lovers, Luna-chan, , Ummu Syauqi : Hehe, terimakasih . maaf ya update-nya lama, tapi chapter depan semoga tidak lama, terimakasih reviewnya Hehe, IngsyaAlloh chapter depan gak bakal makan satu-dua bulan buat update.

Lopelope Kazune: Kurang lebih lelaki yang tampan dan imut. Maaf kalau salah, aku cuma tau dikit tentang bahasa Jepang sih, hehe. Tapi, makasih reviewnya.

Terimakasih sekali lagi untuk review dan dukungannya. It really helps. Semoga kalian tidak bosan dengan fanfic ini. Tetap review ya