Naruto by Masashi Kishimoto

.

.

Dae Uchiha present

H E—Different

Untuk Semua Reviewers yang minta sekuel, terutama Ana n Malini...:)

©2011

.

.

Warning: AU, T-Semi M, OOC—parah!, Perusakan Image dan Karakter, Typo(s), Miss-typo, dst.

.

.

Enjoy it!—kalau ada perbedaan karakter dengan di Animanga asli, itu adalah kesengajaan... ;)


Aku mendesah. Entah harus kecewa ataupun senang yang kurasakan sekarang. Kulihat kembali papan pengumuman di depanku. Hasil Try Out beberapa waktu lalu.

Peringkat pertama diraih oleh Uchiha Sasuke. Huh. Siapa yang bisa mengalahkan Tuan Perfect seperti dirinya?

Peringkat kedua jatuh pada Nara Shikamaru. Pacar Ino yang selalu menganggap semua hal merepotkan. Dasar jenius pemalas. Walaupun begitu tetap saja aku salut pada prestasi yang diraihnya. Tak perlu repot belajar saja sudah mendapat juara dua (aku sendiri yakin walaupun berantakan dan terkesan berandal, Sasuke pasti belajar di rumahnya. Itu kan hobinya).

Peringkat ketiga diraih Sabaku Gaara, dan yang keempat aku.

Inilah yang membuatku sedih sekaligus senang. Oke, menurutku tak apa jika aku mendapat peringkat empat, tapi siapa sih Sabaku Gaara ini? Apa dia tak tahu kalau aku berusaha keras demi meraih urutan ketiga dalam TO ini? Bikin kesal saja. Dan lagi aku tak mengenalnya. Well, maksudku, siapa yang tak tahu Uchiha Sasuke dan Nara Shikamaru? Juara olimpiade sains internasional, dan juga tampang mereka berdua cukup mencolok di sekolah ini. Tapi Sabaku Gaara? Hum.

Aku menoleh pada Sakura yang berdiri di samping kiriku. Ia jelas terlihat kecewa karena hanya mampu meraih peringkat ketujuh. Disebelah Sakura, Ino tampak tak peduli pada papan pengumuman di depannya, gadis itu tenang-tenang saja saat mengetahu ia mendapat peringkat delapanbelas, dan kini ia malah mulai membenahi penampilannya yang terlihat berantakan dengan sebuah cermin kecil yang selalu ia bawa.

Yah, Miss Gossip, Yamanaka Ino, pasti tahu siapa Sabaku Gaara ini.

"Ino-chan..." panggilku. Argh, kenapa aku selalu tampak kikuk saat berhadapan dengan orang lain sih?

"Ya Hinata?"

"Apa kau tahu siapa orang yang bernama Sabaku Gaara?" tanyaku. Ino memasukkan cermin yang dibawanya ke saku roknya.

"Umm... Sebenarnya, Hinata, orangnya tepat berada di samping kananmu." Ucapnya setengah berbisik.

Ups.

Aku menoleh dengan takut-takut. Mukaku pasti merah. Akhh... kenapa aku membicarakan orang lain saat orang itu berada tepat disampingku?

Dan aku melihat rambut berwarna merah mencolok, kemudian kacamatanya yang tebal, dan kemeja yang dimasukkan rapi (terlalu rapi, sebenarnya). Ini... Sabaku Gaara? Benar-benar tampang seorang kutu buku yang ermm... culun. Aku cepat-cepat menunduk saat ia balas menatapku. Ketahuan!

Tapi orang itu langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Kutatap punggungnya yang menjauh. Uh.

"Jadi itu dia ya Ino..." kataku masih menatap sosoknya.

"Hu-um. Dia itu tidak mencolok, tidak tampan, tidak kaya, dan biasa saja. Hanya saja kebetulan ia bersepupu dengan Akasuna Sasori—kau tahu kan? Ketua klub drama yang imut itu. Lalu, jangan tanya aku tentangnya. Ia pendiam dan jarang bicara, sedikit mempunyai teman, dan tertutup. Tak ada yang tahu dimana dia tinggal, dan bagaimana latar belakangnya." Dan Ino pun mengakhiri tugasnya sebagai Miss Gossip dengan baik.

Hah, bahkan Ino-pun tak tahu apapun tentangnya.

Tapi, kenapa aku merasa aku pernah mengenalnya ya?

.

.

.

Aku melangkah semakin cepat, merapatkan mantel yang kupakai. Sial. Dingin sekali. Dan rok dengan panjang beberapa centi di atas lutut yang diberikan oleh Ino sama sekali tak membantu. Aku berharap bisa cepat sampai rumah dan tidur berselimut.

Jalan yang kulalui sedikit gelap dan itu membuatku meremang. Aku bersumpah dalam hati lain kali aku tak akan melewati jalan ini lagi.

Dari kejauhan, aku bisa melihat nyala dari lampu depan beberapa buah motor sport. Cahayanya menyilaukan. Aku mengerjap.

Arghh! Kenapa aku harus bertemu dengan geng motor? Ck. Pasti mereka adalah siswa berandal di sekolah mereka, yang sudah pasti akan melakukan balapan, dan mungkin pecandu narkoba dan seks bebas.

Aku menghela napas, meyakinkan diri sendiri. Ayolah Hinata... aku melanjutkan langkah berusaha terlihat wajar dan tak mencolok. Aku tak mau diganggu oleh mereka.

Benar saja, ketika aku melangkah semakin dekat, salah satu dari mereka—aku tak tahu siapa—bersiul pelan.

"Ckckck... kaki yang bagus, nona..." ia berseru, cukup keras untuk kudengar.

Jantungku berdebar. Jangan sampai... jangan sampai...

Aku mempercepat langkah, namun kurasakan tanganku ditahan dari belakang oleh seseorang. "Tahan, Sui..."

Aku mendengar seseorang bersuara, membuatku semakin siaga. Orang yang memegang tanganku tak melepas pegangannya, namun ia berdecak pelan.

"Ini untukku, Gaara..."

Tubuhku menegang. Gaara? Rasanya aku pernah dengar... aku membalikkan tubuhku. Kulihat seseorang turun dari motornya yang berwarna merah. Ia melangkah mendekat, sementara cowok berambut biru yang memegang tanganku mengendurkan pegangannya.

"Biarkan saja Gaara, Sui..."

Orang yang memegang tanganku benar-benar melepas pegangannya, kemudian ia melangkah mundur dan kembali ke motornya. Sementara cowok yang turun dari motor tadi berdiri di depanku. Ia lebih tinggi dariku, membuatku mendongak untuk bisa memandangnya.

Dia... benar-benar Sabaku Gaara yang itu!

Tapi penampilannya benar-benar berubah. Celana jeans, dan kemejanya yang acak-acakan membuatnya terlihat... berbeda. Apalagi tanpa kacamata tebal itu. Matanya yang berwarna emerald membuatku sedikit terpesona.

Bagaimana bisa ia berubah dengan begitu drastisnya?

Ia kembali melangkah mendekat, membuatku refleks mundur. Begitu sampai aku merasakan punggungku menyentuh dinding jalan. Ugh.

Ia mengurungku dengan kedua lengannya, matanya tampak tajam dan begitu mengintimidasi. Samar aku menghirup aroma parfumnya, aroma yang sepertinya kukenal. Tapi kapan?

"Hyuuga... Hinata kan?"

Darimana ia tahu namaku?

Ia memperhatikanku dari atas hingga bawah, membuatku merasa risih. "Tak kusangka kau sebegitu liarnya di luar sekolah. Kenapa, hm?" ia tersenyum mengejek, "mencoba menjadi merpati biru?"

Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Oke, aku tahu aku hanya memakai rok yang lumayan pendek, dan tanktop yang dibalut mantel. Tapi ini bukan pakaianku. Ini milik Ino, gara-gara pakaianku basah setelah Ino menumpahiku dengan adonan kue. Tahu apa orang ini, seenaknya menuduh begitu?

Bibirku bergetar marah. Tanpa pikir panjang aku menampar pipinya keras.

"Cih!" ia mendecih pelan, emerald itu menatapku semakin tajam. "Mencoba menyangkal?"

"Kau tak tahu apapun tentangku! Orang luar diam saja!" ucapku setengah membentak. Kuinjak kakinya, lalu tanpa berkata apa-apa aku berlari menjauhi geng motor itu. Samar-samar kudengar gelak tawa mereka.

"Wow, bro! Kau kalah oleh seorang gadis sepertinya?"

"Kenapa tak kau bungkam saja mulutnya dengan ciumanmu?"

"Dasar kau Gaara! Seandainya kau tak menghalangiku, aku pasti sudah menyeretnya dan merobek bajunya!"

Mereka brengsekk!

.

.

.

Aku melangkahkan kaki di koridor sekolah dengan lesu. Kejadian kemarin membuatku bad mood. Siapa yang menyangka seorang Sabaku Gaara adalah anggota (atau bahkan yang terparah adalah ketua) sebuah geng motor yang penuh dengan cowok berandal?

Mengingat namanya saja membuatku kesal.

Aku menuju loker dengan ogah-ogahan, kelas bahasa Inggris akan mulai lima menit lagi. Dengan keadaan begini, aku tak yakin bisa mengikuti pelajaran dengan baik, namun aku tak mau bolos.

Kubuka pintu lokerku, dan mendapati setangkai bunga aster merah beserta secarik kertas disana.

Aku tak tahu kau suka bunga apa, tapi maaf.

SG.

Siapa? Aku menoleh ke kanan kiri, namun koridor sudah sepi. SG? Aku mengingat-ingat. Shino? Bukan. Sakura? Sudah pasti bukan. Ino, Tenten, Matsuri. Seingatku tak ada temanku yang berinisial SG. Bahkan Kiba pun tidak. Jadi siapa?

Apakah... Sabaku Gaara?

Tidak. tak mungkin cowok sepertinya...

"Hai."

Aku mengangkat wajah dari kertas itu. Kulihat wajah cowok yang baru saja kupikirkan.

"Sabaku-san?"

"Hn. Jadi... kau mau memaafkanku?" ia bertanya, nadanya melunak.

"Umm... ya." Jawabku ragu. "Mungkin..." tambahku lagi. "Untuk apa kau meminta maaf?"

"Untuk mengejekmu, mungkin?"

Hal itu langsung mengingatkanku pada tadi malam. Kulihat lagi penampilannya. Ia sudah menjadi Sabaku Gaara yang biasa, dengan kacamata dan penampilan culun itu.

"Aku baru tahu kau... anggota geng motor."

"Ketua, kalau boleh kutambahkan." Jawabnya ringan, seakan kita sedang membahas cuaca hari ini.

"Kau serius?" tanyaku tak percaya.

Ia menyeringai kecil. "Don't judge the book by its cover." Ucapnya.

"Kau tak tampak layaknya orang yang seperti itu," aku membela diri. "Dan lagi, kau... berbeda." Aku menarik napas, kembali menghirup aroma parfum yang ia pakai. Lagi-lagi aroma itu tak asing bagiku. "Jadi... kau cowok berandal?"

"Ya."

"Perokok?"

"Ya." Jawabnya, "kau tahu, karena pergaulan."

"Apakah kau juga minum minuman keras?" tanyaku semakin tak percaya. Sabaku Gaara... benar-benar berbeda.

"Ya."

"Kalau begitu... kau pecandu narkoba dan seks bebas?" tanyaku lagi.

"Tidak. aku tahu batas, Hyuuga."

"Um... baiklah." Well, setidaknya ia bukan penganut seks bebas. "Jadi... kenapa kau... mengatakan kalimat kasar seperti itu padaku?"

"Teman-temanku tidak sepertiku. Beberapa dari mereka penganut seks bebas. Termasuk Suigetsu. Kenapa aku melakukan itu padamu? Aku tak mau melihatmu diperkosa olehnya malam itu."

"Apa kau... sama sekali tidak pernah..."

"Umm... yeah, jujur. Aku pernah. Namun tidak sesering Sui atau Sasori."

Aku menunduk. Entah kenapa kalimat Gaara terdengar menyakitkan. Kenapa dia bisa bilang dengan sebegitu mudahnya? "Kenapa kau mengatakan kau bukan penganut seks bebas kalau begitu?"

Gaara kembali menyeringai. "Karena aku selalu memakai kondom saat melakukannya."

Mataku menyipit. Sial. Tapi tiba-tiba aku teringat kalimatnya. "Sasori... Sasori-senpai?" tanyaku tak percaya.

"Hn. Jangan salah. Walau dia imut dan termasuk kecil, dia hebat lho."

Blushh.

Arghh! Kenapa cowok itu mengatakan semuanya dengan mudah?

.

.

.

"Hinata... kau... dekat dengan Gaara ya?" tanya Sakura sewaktu aku membereskan tasku setelah pulang sekolah.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak aku pertama kali mengobrol dengan Gaara dan mengetahui sisi tersembunyinya—yang tetap masih menjadi rahasia.

"Ya, kenapa?" tanyaku, memakai tas selempangku di pundak.

"Ahh... tidak. Hanya saja, kurasa... dia bukan cowok baik-baik." Sakura menghela napas. "Sebenarnya... kemarin... aku melihatnya bersama... sebuah geng motor. Kurasa... ia... salah satu anggota geng itu."

Ketua, aku mengoreksi dalam hati. "Umm... mungkin kau salah orang, Sakura-chan..."

Sakura tampak ragu. "Yeah... mungkin aku hanya salah orang..." ia terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, Hinata... kau tahu kan, bagaimana anggapan orang tentang geng motor?"

"Yeah, aku tahu..." ucapku.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah dalam diam.

"Kau menunggu Sasuke, Sakura-chan?"

"Iya," Sakura menjawab. Tapi kemudian ia menuju perpustakaan yang berada di samping gerbang. "Aku ke perpustakaan dulu, Hinata. Kau hati-hati ya!"

"Ya," balasku, tersenyum kecil. Aku berhenti berjalan saat sebuah motor sport berwarna merah berhenti di sampingku.

"Naiklah."

Suara yang datar itu membuatku tanpa ragu menaiki motor milik Gaara. Aku juga tahu kalau Gaara membawa motor kesayangannya ke sekolah. Saat kutanya mengapa tak ada yang tahu, ia hanya menjawab, "datang pagi dan pulang paling sore."

"Jangan ngebut!" teriakku diantara deru angin ketika Gaara memacu kecepatannya hingga seratus kilometer per jam.

.

.

.

"Kenapa kau membawaku kesini?" protesku, mengerucutkan bibir.

"Temari-nee ingin bertemu denganmu." Gaara menjawab singkat, kemudian melangkah memasuki sebuah rumah mewah—rumahnya.

Aku mengikuti dengan setengah hati, namun perasaan kesalku segera hilang saat aku melihat sesosok wanita tersenyum hangat dan menghampiriku. Ia memberikan pelukan singkat padaku.

"Hinata-chan... aku merindukanmu..." ucapnya, tersenyum senang.

Sabaku Temari, kakak tertua dari Gaara adalah seorang penyanyi terkenal yang sedang naik daun.

"Kata Gaara, Neechan sedang ke Paris. Aku juga kangen Neechan." Jawabku. Temari-nee tersenyum dan mengajakku masuk, sementara Gaara sudah masuk dari tadi.

"Umm... yeah, begitulah." Temari tersenyum. "Oh ya, Hinata, sudah sejauh mana hubunganmu dengan Gaara? Apa dia sudah menembakmu?" tanya Temari-nee sambil mengerling kecil.

Aku mendesah. "Belum." Kataku seadanya.

"Lalu... —maaf sebelumnya jika aku menyinggungmu—apa dia sudah... menyentuhmu?" Temari-nee mengecilkan volume suaranya.

Aku membeku.

Me-menyentuh?

Aku menggeleng pelan. Yang benar saja? Mana mungkin Gaara melakukan itu padaku. Lagipula, aku benci seks bebas.

Temari-nee tampak kecewa mendengar jawabanku. "Apa ia pernah menciummu?"

Aku menggeleng lagi.

Temari-nee mendesah keras. "Ini aneh. Bagaimana mungkin Gaara tahan untuk tidak menyentuh atau sekedar mencium gadis secantikmu?" serunya putus asa.

"Temari, jangan mendesak Hinata." Sabaku Kankurou berkata dari atas tangga, kemudian ia meluncur ke bawah pada pegangan tangga.

"Hinata, jangan hiraukan Temari. Gaara sudah pasti ingin menjaga gadis yang ia cintai, kan?" ucap Kankurou-nii. Sedikit menenangkanku. Tapi... apa benar Gaara melakukan itu karena ia mencintaiku? Bukan karena aku memang tak ingin disentuhnya?

Aku menghela napas. Ya, aku mencintai Gaara. Karena sikapnya kepadaku. Karena hanya ia yang benar-benar mengerti diriku—dibalik semua kata-katanya yang terkadang dingin itu. Temari-nee dan Kankurou-nii sudah tahu, namun aku melarang mereka memberitahu Gaara. Bagaimana jika aku ditolaknya?

Aku memang tidak secantik ataupun seseksi Ino.

Kenapa Gaara membuatku berharap?

"Temari, kau membuat Hinata sedih."

Aku tersenyum menenangkan mereka berdua. "Sudahlah, aku tidak terlalu memikirkannya kok." Jawabku.

.

.

.

Setelah makan, aku menuju kamar Gaara. Kami banyak menghabiskan waktu disana, entah untuk mengobrol atau bermain game. Kubuka pintu kamar Gaara tanpa ragu, dan kulihat kamar itu kosong. Mungkin Gaara sedang di kamar mandi.

Aku duduk di ranjangnya ketika mendengar ponsel Gaara berbunyi. Sebuah e-mail. Dari Matsuri. Siapa? Gaara jarang sekali menyembunyikan apapun dariku.

Batinku bergejolak. Haruskah aku membacanya?

Aku menimbang-nimbang.

Tidak.

Bagaimanapun, Gaara juga pasti punya privasi yang tidak ingin kuusik. Aku meletakkan ponsel itu kembali, dan berbaring di ranjang Gaara. Aku mengantuk sekali...

.

End Of Hinata's POV

.

Gaara keluar dari kamar mandi, mengusap-usapkan handuk pada rambutnya yang basah. Ia melirik ranjangnya, mendapati sesosok gadis tengah tertidur disana, masih berpakaian seragam sekolah lengkap. Gaara mengambil T-shirt dan celana jeans dari lemarinya, kemudian memakainya tanpa suara. Diraihnya ponsel yang terletak di meja samping ranjang.

New e-mail received.

Matsuri

Gaara menghela napas. Kembali dipandangnya sosok yang tengah tertidur itu. Apakah... Hinata tahu?

.

.

.

Hangat... Hinata merasakan kehangatan yang berbeda. Kehangatan ini... ia merasa deja vu. Kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyapu bibirnya. Ia mendesah pelan. Ya... ia masih ingat betul. Sensasi ini...

Sama seperti sensasi saat malam pesta dansa itu.

Sensasi dari pemuda itu.

Hinata enggan membuka matanya yang masih terasa berat, membiarkan sensasi itu merasuki tubuhnya.

Ia merasakan sepasang tangan menarik pinggangnya mendekat, sama seperti malam itu. Namun ciumannya semakin berbeda, meski rasa bibir itu sama. Ciuman ini... seperti memburu dan... panas?

Dan kehangatan itu lenyap.

Awalnya Hinata diam saja, masih memejamkan mata. Namun gadis itu merasakan kehilangan. Ia mengerjapkan mata, dan mendapati Gaara sedang asyik dengan laptopnya, bermain game seperti biasa. Ah, ia tertidur.

Tapi mengapa sentuhan itu terasa nyata?

"Gaara?"

"Hn." Gaara mengalihkan pandangan dari laptopnya. Menatap gadis indigo itu dengan tatapan yang biasa.

Entah kenapa wajah Hinata memerah. Gaara seratus kali lebih tampan dengan pakaian biasa.

"Apa aku... tertidur lama?"

"Hm. Yeah, lumayan."

Hinata melirik jam dinding, terkesiap melihat jarum jam yang menunjuk angka tujuh. Oh, tidak!

"A-aku harus pulang!" ucapnya panik.

"Aku sudah menyuruh Temari-nee memberitahu ayahmu kalau kau menginap disini." Jawab Gaara.

Hinata langsung menghembuskan napas lega.

Ia jarang menginap di rumah Gaara, namun ayahnya mengizinkan karena ternyata Sabaku Rei, ayah Gaara, adalah sahabat ayah Hinata sejak SMP. Lagipula, Hiashi yakin Hinata akan baik-baik saja di rumah pemuda itu.

"Mandilah, aku akan meminta pelayan menyiapkan baju Temari-nee." Kata cowok itu lagi, melanjutkan permainannya yang tertunda.

"Baik."

.

.

.

Setelah mandi, Hinata mendapati kamar Gaara kosong. Ah, cowok itu selalu mengerti kapan Hinata memerlukan privasi. Hinata segera memakai baju yang telah disiapkan di tempat tidur Gaara, kemudian ia mengecek ponselnya.

2 e-mail received

Hinata membuka e-mail itu.

From: Hanabi

Ini tidak adil! Kenapa Hinata-nee selalu diizinkan menginap di rumah cowok brengsek itu? Aku curiga padanya!

From: Sakura

Hinata, aku kerumahmu ya!:)

Hinata menegang melihat e-mail dari Sakura. E-mail yang dikirim jam enam sore tadi. Jadi... Hanabi pasti memberitahu kalau Hinata menginap di rumah Gaara pada Sakura?

.

.

TBC

.

.

Next Chap:

"Hinata, kau sudah melakukan apa saja dengan Gaara?"

Tubuh gadis itu menegang melihat adegan di depannya. Dadanya nyeri, dan sakit...

Gaara yang kini duduk bersandar pada dinding, memandang langit yang jernih.

"Aku memang brengsek..."

.

.

A/N: Halo! Fic baru lagi! Mungkin cuman twoshoot atau threeshoot, jadi gak bakal banyak-banyak...

Aku tahu chapter ini dikit, selanjutnya pasti lebih banyak lagi!

Yosh, review, please?