Naruto by Masashi Kishimoto

.

.

Dae Uchiha present

H E—Different

Untuk Semua Reviewers yang minta sekuel, terutama Ana n Malini...

©2011

.

.

Warning: AU, OOC—parah!, Perusakan Image dan Karakter, Typo(s), Miss-typo, dst.

.

.

Enjoy it!—kalau ada perbedaan karakter dengan di Animanga asli, itu adalah kesengajaan... ;)

.

CHAPTER 6Present

.

Hinata menyandarkan tubuhnya di pagar atap, mendongak dan menarik napas kuat. Atap yang begitu sepi dan angin berhembus sepoi-sepoi selalu membuatnya merasakan sensasi yang menenangkan. Tapi tidak saat ini. Gadis itu membuka matanya, menatap seorang pemuda yang bersandar di pintu atap yang tertutup. Sudah hampir sepuluh menit mereka terdiam di sini, baik Gaara ataupun Hinata sama sekali tak mengeluarkan suara.

"Kudengar Shion pindah."

Gaara menatap gadis itu ketika Hinata membuka suaranya. "Ya. Kemarin dia sudah berpamitan kepadaku."

Karena itukah kau kembali padaku? Hinata menelan kalimat itu dalam-dalam, dan kemudian gadis itu tersenyum. "Kau p-pasti merasa kehilangan."

"Ya."

Jawaban Gaara yang tanpa ragu membuat napas Hinata terasa tersendat.

"Aku mencintainya, Hinata."

Cukup! Hinata berjalan dengan tergesa, berhenti di depan Gaara yang menutupi pintu. "Minggir. A-aku … harus pergi."

Gaara bergeming. Mata hijau samuderanya menatap Hinata dalam dan tegas. "Tidak. Kau harus mendengarkanku. Hinata …, dulu aku hanya dekat dengan dua wanita di hidupku. Ibuku, dan Shion. Dia gadis yang pernah mengisi hari-hariku. Karena itu … Shion sangat berarti untukku."

Hinata menundukkan wajahnya. Hatinya sakit mendengar pengakuan Gaara. Bulir-bulir airmata menuruni pipinya, dengan gemetar Hinata berusaha mendorong Gaara. "Cukup, a-aku … s-sudah cukup me-mendengarnya."

Gaara masih terdiam, membiarkan Hinata berbuat sesukanya. "Aku bahkan hanya diam ketika Shion memutuskan untuk meninggalkanku di hari kematian ibuku. Aku sedih dengan keputusannya, namun karena aku begitu mencintainya, aku memprioritaskan kebahagiaannya, melebihi apapun." Cowok itu memegang pundak Hinata yang bergetar karena gadis itu masih menangis. "Tapi ternyata, kepergian Shion membuatku terluka lebih dari apa yang kukira. Luka yang kuabaikan karena aku menganggap aku masih mencintainya.

Luka yang sembuh karena kehadiranmu, Hinata."

Hinata mendongak, dan terpana. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menatap mata Gaara dan menemukan semua emosi yang selama ini terasa samar-samar di sana. Kesedihan Gaara … sakit hatinya … dan kejujuran dari setiap kata yang diucapkan oleh pemuda itu.

"Aku memang bodoh. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang seperti ini, yang sedalam ini … karena itu, aku berkali-kali menyakitimu." Tangan cowok itu bergerak untuk mengusap airmata Hinata, lalu tersenyum.

Membuat gadis di depannya sekali lagi tercekat akan senyum sendu yang tersungging di bibir Gaara.

"Maafkan aku. Aku benar-benar menyayangimu."

Kali ini, Hinata tak lagi melihat Gaara sebagai seorang Sabaku Gaara yang brengsek, playboy, dan suka bermain api. Hinata melihat Gaara, sebagai seorang cowok biasa yang bersungguh-sungguh, tulus, dan penuh kejujuran. "A-aku …"

Gaara terkekeh kecil. "Hinata, kau sudah benar-benar melihat semua sisiku. Inilah aku, dan aku tidak sempurna. Tapi satu hal yang pasti, jika kepercayaanmu padaku sudah hilang, aku akan membuatmu percaya padaku sekali lagi. Aku takkan melepaskanmu, Hinata."

Hinata merasakan jantungnya berdebar ketika Gaara mencondongkan wajahnya. Refleks gadis itu memejamkan manik ameythst-nya saat Gaara sudah sangat dekat—

—dan mengecup keningnya lembut.

Tuhan … mungkin, jantungku akan meledak saking kerasnya berdetak.

.

.

.

Sikap malu-malu yang Hinata tunjukkan dengan wajah merona, diiringi tatapan tajam Gaara yang selalu mengekorinya kemanapun gadis itu pergi, cukup untuk membuat Sakura memicingkan matanya curiga.

"Terjadi sesuatu, kan, di antara kalian ketika berada di atap tadi?" todong gadis pink itu ketika mereka di kantin.

Hinata yang duduk di depan Sakura langsung memandang gadis itu dengan gugup. "Ti-tidak! Tidak a-ada apapun, Sakura-chan!"

Sakura tertawa. "Jangan coba-coba membohongiku, Gadis Kecil. Kau terlalu kecil untuk melakukan itu, kautahu?" gadis berambut pink itu mengibaskan rambutnya, "Hmm … aku menunggu tanggal jadi kalian, Hi-na-ta-chan!"

Hinata hanya bisa menundukkan wajahnya yang merona merah karena malu.

.

.

.

From : Gaara

Hinata, bersiaplah. Aku akan menjemputmu setengah jam lagi.

.

Hinata membulatkan matanya. Tadi sepulang sekolah, Gaara memang berkata akan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Dan kini, Hinata tengah termenung di lemarinya yang terbuka dan penuh dengan baju yang mendadak terlihat kusam semua.

Gadis itu mengambil sebuah baju yang dirasanya cocok, mengepasnya, lalu meletakkannya di tempat tidur, kemudian mengambil gaun yang lain. Begitu terus, hingga ketukan di pintu membuatnya terlonjak.

"Ya?"

"Oneesan, Gaara-oniisan sudah menunggu di bawah." Suara Hanabi.

Astaga! Hinata panik seketika. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu menarik sebuah dress berwarna pink lembut dari tempat tidurnya. Dress yang merupakan pilihan pertamanya tadi. Hinata kemudian cepat-cepat menyisiri rambutnya, memakai bedak, lipgloss, dan mascara pada wajahnya dan termenung menatap cermin.

Jantungnya yang tidak berhenti berdebar sedari tadi, kepanikannya mengingat ini adalah pertama kalinya ia berkencan resmi dengan Gaara membuatnya gugup.

"Sampai kapan mau berdiri di sana?"

Hinata menoleh, Gaara bersandar pada kusen pintu, matanya bersinar menatap geli Hinata. Menciptakan semu kemerahan pada pipi sang gadis.

"Aku s-salah kostum?"

Gaara tersenyum main-main, "Tidak juga."

Hinata mengembungkan pipinya, berpikir apakah cowok berambut merah itu sedang berbohong atau jujur. Gaara sendiri memakai celana jeans dan kaos yang dilapisi kemeja, tapi… itu, kan, memang kostum kebanggaan Gaara yang sering dipakainya kemana-mana.

"Ayo."

Ajakan Gaara membuat Hinata tak peduli lagi. Terserahlah mau salah kostum atau tidak. Gadis itu meraih tas selempang kesayangannya dan menyambut uluran tangan Gaara.

.

.

.

"A-aku nggak mau turun."

Hinata cemberut. Gaara ternyata membawa mobilnya berhenti tepat di tepi laut, membuat gadis berambut indigo itu kesal karena ternyata ia benar-benar salah kostum.

Ketika Gaara tak berkata apapun dan turun dari mobil, Hinata menggigit bibir bawahnya. Antara ingin menahan gengsinya dengan tetap berada di dalam mobil, atau mengikuti Gaara keluar. Saat beberapa menit terlewat dan Hinata nyaris menyerah, ketukan di kaca jendela membuatnya menoleh.

Di sana ada Gaara, cowok itu membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya ke arah jemari Hinata untuk menggenggamnya. "Turunlah, Hinata."

Kali ini, Hinata tak ragu untuk mengikuti Gaara. Dan lagi-lagi, gadis itu mendapat sebuah kejutan yang manis. Rupanya Gaara sudah mempersiapkan tikar, peralatan piknik, dan sebuah gitar tepat di depan mobil mereka terparkir.

Hinata duduk di samping Gaara, menekuk kedua lututnya. "Sayang sekali mendung. Kita tidak bisa m-melihat sunset," desahnya.

Gaara tak menjawab, cowok itu meraih gitar dan mulai memetiknya. "Hinata, aku akan menyanyikan lagu untukmu."

What would I do without your smart mouth

Drawing me in, and you kicking me out

Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down

What's going on in that beautiful mind

I'm on your magical mystery ride

And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright

My head's under water

But I'm breathing fine

You're crazy and I'm out of my mind

Cause all of me

Loves all of you

Love your curves and all your edges

All your perfect imperfections

Give your all to me

I'll give my all to you

You're my end and my beginning

Even when I lose I'm winning

'Cause I give you all, all of me

And you give me all, all of you

Hinata menyipitkan matanya ketika lagu itu selesai. "Gaara, sebaiknya k-kau mengaku padaku. I-ini seperti bukan dirimu."

Gaara hanya menatap Hinata tanpa berkata apapun, semakin membuat gadis bermata amethyst itu gemas. Dengan cepat Hinata merebut gitar di pangkuan Gaara.

"O-oke, sembari menunggumu mengaku, a-aku akan menyanyikan sebuah lagu u-untukmu," ujar Hinata, mengulum senyumnya saat Gaara melihatnya dengan tatapan terkejut. Gadis itu mulai memetik senar gitar.

I drove by all the places we used to hang out getting wasted

I thought about our last kiss, how it felt the way you tasted

And even though all your friends tell me you're doing fine

And you're somewhere feeling lonely even though he's right beside you

When he says those words that hurt you do you read the ones I wrote you?

Sometimes I start to wonder, was it just a lie?

If what we had was real, how could you be fine?

'Cause I'm not fine at all

I remember the day you told me you were leaving

I remember the makeup running down my face

And the dreams you left behind you didn't need them

Like every single wish we ever made

I wish that I could wake up with amnesia

And forget about the stupid little things

Like the way it felt to fall asleep next to you

And the memories I never can escape

'Cause I'm not fine at all

Tes. Tes. Tes.

Tepat ketika Hinata menyelesaikan lirik terakhirnya, tetes demi tetes air hujan mulai turun. Iris jade dan amethyst itu bertemu dan melebar, dan Hinata semakin terkejut ketika Gaara melepas kemejanya, menjadikannya alat pengganti payung di atas kepala mereka.

Tawa Hinata meledak seketika.

"Kau harus b-benar-benar me-memberitahuku, Gaa-ra-kun."

Gaara merapatkan tubuhnya demi 'payung dadakan' tersebut bisa melindungi mereka berdua, menghela napas. "Ide Kankurou. Sudah kuduga, ini sangat konyol. Aku tak pernah mau melakukan hal semacam ini sebelumnya."

Hinata tak ingat kapan ia tertawa selepas ini hingga perutnya terasa sangat sakit. Tak pernah dalam mimpi terliarnya sekalipun ia berpikir bisa berada dalam kondisi seperti ini. Berduaan dengan Gaara di tepi pantai, kehujanan, berpayungkan kemeja. Hal yang tak mungkin pernah Gaara lakukan jika cowok itu tak dengan mudah terhasut kakak keduanya. It makes her … feels happy and special.

Ketika akhirnya tawanya bisa dihentikan, Hinata tersenyum lebar. "Kurasa s-sebaiknya kita bereskan ini d-dan masuk ke mobil."

Namun Gaara bergeming, terpaku pada wajah ceria Hinata di depannya. Pandangan Gaara berubah, menatap Hinata dengan cara yang bisa membuat jantung gadis itu berjumpalitan. Tatapan yang membuat Hinata bergerak gelisah. Terutama saat Gaara berkata dengan suara rendah, "Kurasa … kita harus diam di sini sedikit lebih lama."

Dengan kata-kata itu, Gaara mencondongkan tubuhnya, bibirnya menemukan bibir Hinata dan memagutnya lembut.

.

.

To Be Continue

.

.

Author's territory:

Yatta! O-oke, sebelumnya aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena udah nelantarin fic ini, dan lagi, ini pendek banget! (I know! I know!) Tapi, seperti yang sudah kita ketahui bersama (halah) ini adalah anti-klimaks, setelah klimaks bertahun-tahun yang lalu, haha.

Aku harap, ini cukup membahagiakan kalian semua, karena aku sendiri bahagia ketika menulisnya, nyehehe~~ terutama ngebayangin jadi Hinata, bikin degdegan :3

Chapter depan (mudah-mudahan) akan sangat panjang, penuh dengan sweet moments, karena chapter delapan, seperti yang sudah aku rencanain, adalah chapter akhir.

Makasih buat yang nungguin dan mau baca, tanpa kalian, aku ngga bakal bisa selesaiin ini. You're awesome, guys, more than me *pelukcium satu-satu*

Makasih juga yang udah kirim PM, entah facebook atau FFn, thank you guys! Yang review, yang fave, all of you give me a proud even I'm just an amateur author *sigh*

Love you, all.

:D

-dae-