Special Thanks untuk yang sudah mereview fic perdana saya di fandom ini—The Center of My World. Salam sayang untuk kalian semua!

Warning: AU, (mungkin)OOC, hint Shonen-ai

Don't like don't read

Ini serius. Kalau anda nggak suka shonen-ai, tolong cari tombol back. Saya nggak mau cari ribut dengan flamer.

Untuk semua yang tidak keberatan dengan sho-ai dan menyempatkan diri membuka fic ini, semoga anda menikmati ceritanya…

.

.

The Sinister Successor

07 GHOST © Amemiya Yuki & Yukino Ichihara

Kapitel 1

~The Hunter and His Target~

.

.

Hutan basrburg di malam hari begitu sunyi. Gelap. Seolah tak ada kehidupan. Bahkan bunyi tarikan nafas mahkluk hidup pun sulit di dapati. Hutan itu seolah mati. Hanya keheningan yang mencekam di tengah gelapnya malam penuh kabut yang samar terlihat keperakan.

Krak

Bunyi patahan dahan dan ranting pepohonan itulah suara pertama yang menginterupsi keheningan yang nyaris sempurna di hutan itu. Bunyi itu ditimbulkan sesosok gadis dengan jubah cokelat kusam yang sudah robek di sana sini. Dagu dan lehernya tampak berlumuran oleh darah. Matanya bersinar dalam cahaya crimson yang tak manusiawi sama sekali. Nafasnya memburu seolah kehabisan waktu. Langkah gadis yang bertelanjang kaki itu begitu cepat, seolah ada sesuatu yang tengah mengejarnya.

Ya. Sesuatu memang mengejarnya.

Atau lebih tepatnya seseorang.

Bunyi gemerisik—tanda seseorang tengah berlari menembus dedaunan dan semak—yang semakin keras dan cepat di belakangnya itu membuat si gadis semakin panik. Tanpa menghentikan larinya, ia sesekali menoleh ke balakang—memastikan jarak yang ia rentangkan cukup untuk membuat si pengejar gagal menangkapnya.

Tapi apa daya jika si pengejar ternyata lebih cepat darinya?

Saat gadis itu sibuk sesekali menoleh ke belakang—memantau keadaan, si pengejar sudah melompat dengan cepat ke depannya—menghadang dengan katana* yang lurus diarahkan kepada target. Mata gadis yang menjadi target itu seketika terbelalak ketika ia mendapati sosok yang ditakutinya—yang menebar teror di hutan Barsburg itu—sudah berada di depannya. Mata yang bercahaya merah sama seperti milik gadis itu memandang penuh ancaman dari arah depan.

Dengan gerakan cepat yang bahkan tak bisa memberi gadis itu waktu yang cukup hanya untuk sekedar menarik nafas sekali lagi, si pengejar telah menghabisi nyawanya. Hanya dalam hitungan detik, luka diagonal menganga lebar dan memuntahkan begitu banyak darah merah kehitaman dari tubuh gadis itu. Menghabisi setiap kehidupan dalam diri gadis itu dalam setiap tetes.

Mata si pengejar yang awalnya terlihat bersinar kemerahan dalam kegelapan hutan perlahan kehilangan sinarnya—adrenalin sudah tak lagi terpacu di detik yang sama saat ia memenangkan permainan. Perlahan namun pasti mata itu terlihat kembali ke warna asalnya. Warna emas gelap dengan sentuhan lembut gradasi warna madu.

Pengejar itu menatap target di hadapannya yang tengah bersua dengan maut tanpa sedikitpun merasakan kegelisahan atau semacamnya. Tak peduli bahkan saat ia melihat jubah malamnya yang berwarna hitam pekat terlihat basah oleh darah yang tengah tertumpah di tanah daerah itu.

Sosok lainnya keluar menghampiri si pengejar. Sesosok kakek tua, namun masih terlihat penuh kuasa dengan sebuah katana bersarung merah disampirkan di pinggangnya. Ia menatap pemuda yang tengah memandangi mayat gadis itu dengan sedikit bangga.

"Bagus Konatsu…" kakek tua itu menepuk punggung si pengejar berambut pirang emas. "Itulah ketangkasan yang harus ditunjukan seorang vampire hunter dari keluarga Warren. Kau memang cucuku yang paling berbakat…"

Pemuda yang dipanggil Konatsu itu menoleh dan tersenyum hambar pada kakeknya, "Aku tak tahu apa aku pantas menyandang nama Warren. Bagaimanapun setengah darahku berasal dari mahkluk yang sama dengan mereka, kek…"

Kakek tua itu berjengit mendengar perkataan cucunya itu, "Kenapa kau berpikir begitu? Kau ini seorang Warren, Konatsu! Kau ini cucuku!"

Konatsu hanya kembali berbalik memandangi tubuh gadis yang sudah terkapar di tanah tanpa nyawa. Dengan mata emas madunya yang tiba-tiba bersinar sendu ia berkata, "Ayahku adalah salah satu dari mereka. Iya kan, kek?"

Sebetulnya, walau dilontarkan dengan nada bertanya, siapapun bisa menilai dengan jelas bahwa kata-kata Konatsu barusan adalah pernyataan. Mutlak.

Kakeknya pun hanya bisa memandang cucunya dengan pandangan sedih. Apa yang dikatakan Konatsu—bagaimanapun—benar adanya. Cucunya yang satu itu sudah begitu terbiasa mendengar pergunjingan tentang dirinya dan ibunya yang hampir delapan belas tahun ini dalam keadaan mental tak stabil setelah melahirkannya.

Mata kakek tua itu terasa sedikit basah oleh karena air mata kala ia mengingat ibu Konatsu. Anak perempuannya yang sangat ia kasihi. Eve Warren. Sosok Eve yang sangat cantik dan mempesona, yang juga seringkali membuatnya merasa bangga sebagai seorang ayah, anehnya malah membuat hati kakek tua itu dipenuhi keperihan.

"Konatsu…"

"Ayo kita kembali saja, kek…" ajak Konatsu. "Hari sudah menjelang fajar…"

Konatsu menyarungkan katananya dan lekas-lekas membimbing kakeknya ke arah ke luar dari hutan.

Membicarakan keluarga selalu membuat perasaan pemuda beriris amber itu tak tenang. Lebih baik menghindar dibanding harus muncul perpecahan dalam keluarga sendiri, bukan?

Setidaknya sampai ia bisa membuktikan bahwa ia layak untuk nama Warren, ia akan bertahan menghadapi caci maki dan menulikan telinganya terhadap gunjingan yang dilemparkan untuknya dari kerabat-kerabatnya.

Sampai ia bisa membunuh ayah yang belum pernah dilihatnya dan menyeret mayatnya sebagai bukti bahwa ia pantas untuk menyandang nama Warren.

.

.

Konatsu's POV

.

"Keturunan terkutuk!"

"Darah campuran. Darah kotor! Mengapa ketua Warren membiarkannya hidup?"

"Kasihan Eve harus menanggung malu telah melahirkan keturunan iblis seperti dia…"

"Malang sekali, Eve… vampir terkutuk itu sampai menitipkan benih di rahimnya…"

Suara-suara di balik pintu itu begitu keras. Apa mereka pikir pintu tipis ini cukup meredam pergunjingan mereka?

Mereka pikir karena aku masih kecil, aku tak mengerti arti kata-kata mereka itu? padahal aku mengerti sekali. Aku memahami setiap kalimat bahkan sampai ke tiap kata; sehingga rasanya kata-kata itu seperti bilah-bilah pisau yang menyakitkan.

Perih sekali mendengar semua itu

Andai aku bisa menulikan telinga barang sebentar saja.

"Ibu…" air mata turun di pipiku sementara sosok wanita cantik dan lembut itu masih tetap berdiam dengan pandangan mata yang kosong.

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku…"

Hanya ada keheningan.

"…apa kau menyesal melahirkanku, bu…?"

.

Piyamaku tahu-tahu sudah basah oleh peluh. Sementara aku mengerjapkan mata beberapa kali sambil mengatur kembali irama nafas yang semula memburu.

Mimpi yang buruk sekali. Membuat perasaan tak enak saja.

Kumiringkan tubuhku ke samping dan kupandang jam meja yang kuletakan di sisi tempat tidur. Pukul tiga pagi kurang dua puluh menit. Dari jendela bisa kulihat langit masih gelap, surya belum menunjukan dirinya. Aku tak begitu suka bangun di tengah dini hari seperti ini.

Alasannya sederhana saja. Karena rasa haus yang tiba-tiba seringkali menyerang di jam-jam seperti ini.

Bukan berarti pada siang hari dahaga yang menjadi bagian dari insting vampir ini reda, akan tetapi suasana malam yang sedikit misterius selalu punya daya tarik sendiri bagiku untuk melakukan perburuan. Rasanya berburu dengan memanfaatkan insting diriku yang lain terasa lebih menggairahkan.

Pandangan mata yang tak terbatas pada kuantitas cahaya, penciuman untuk mengincar target tanpa dengan akurasi luar biasa, dan darah sebagai hasilnya. Benar-benar memacu sisi liar dalam insting vampirku.

Aku menyerah pada tuntutan untuk membasahi kerongkongan ini dengan cairan yang bukan sekedar air. Dalam keadaan begini aku tak punya pilihan lain.

Kubuka jendela besar di kamarku tanpa menimbulkan suara. Hm… Kadang tinggal dengan para hunter yang pendengarannya sudah begitu terlatih agak sulit juga. Apalagi setengah darahku berasal dari kaum yang mereka benci.

Tanpa peduli dengan ketinggian jarak antara kamarku yang ada di lantai empat dan tanah, aku melompat. Dengan kaki yang tak beralas, aku mendarat dengan lincah dan ringan ke atas tanah yang terasa agak basah oleh sentuhan embun menjelang fajar. Kuhirup udara pagi buta sebebas-bebasnya—begitu menyegarkan. Walau aku kadang ingin sekali mengutuki bagian vampir dalam diriku, namun tak kupungkiri kadang kelebihan fisik macam ini membuatku jauh lebih bergairah untuk mengeksplorasi alam bebas.

"Saatnya berburu…"

.

.

Normal Pov

Gelap masih menyelimuti. Kabut belum turun. Suasana hutan sunyi dini hari itu tak ubahnya seperti ketika ia dalam peluk malam. Mencekam.

Bau darah tercium samar. Menghancurkan harmoni wangi segar embun dan pepohonan hijau. Tentunya bau amis itu akan sangat menggangu penciuman manusia pada umumnya, namun tidak bagi Konatsu. Tentu saja. Bau amis itu berasal dari hasil kerjanya.

Tubuh hewan kecil dengan telinga panjang itu tergolek tanpa nyawa ketika pemuda itu telah menyelsaikan kegiatannya. Dari sudut bibir Konatsu, sekilas tampak aliran darah merah mengalir. Sementara cahaya merah di kedua irisnya perlahan menghilang, tanda bahwa jiwanya sudah tenang dan dahaganya terpuaskan—walau hanya sedikit saja.

Ada sedikit rasa bersalah terpancar dalam mata yang telah kembali ke warna aslinya itu. Kepedihan karena harus mengorbankan nyawa mahkluk lain hanya untuk memuaskan keinginannya akan intisari kehidupan.

Ya. Itu adalah rahasia kecilnya sejak dua tahun lalu. Beberapa kali dalam sebulan, Konatsu akan menyelinap ke luar Mansion Warren untuk berburu. Kakeknya yang paling disayanginya pun tak tahu menahu mengenai hal ini. Sejak dua tahun lalu itu pula, Konatsu menyerah untuk memerangi karakteristik alaminya sebagai pemburu darah. Dahaga adalah salah satu kelemahan yang harus diajaknya bersahabat jika ia masih mau tetap bertahan hidup dengan segala kewarasannya.

Darah binatang ataupun darahnya sendiri adalah pilihan sumber yang bisa digunakannya sebab ia tak pernah ingin menyakiti manusia. Selain itu, jika ia menghisap darah manusia, apa jadinya reputasi keluarga Warren?

Namun, mengigit diri sendiri adalah pilihan yang tak mengenakan dan tak pernah diambil Konatsu. Membayangkannya saja ia enggan. Oleh karena itu, ia menjalani kehidupan rahasianya begitu.

Konatsu mengira perburuan itu akan menjadi sama seperti perburuan-perburuan sebelumnya. Sampai ketika sebuah suara berat lelaki dewasa menyapanya…

"Halo… Wah, tak menyangka akan bertemu teman sebangsa di jam-jam ini…"

Suara itu sukses membuat Konatsu terlonjak kaget. Dengan segera sepasang mata amber indah itu menelisik ke segala arah—mencari sumber suara itu. ia tertegun ketika ia melihat sosok rupawan berambut hitam dengan jubah panjang sedang bersandar di dahan atas sebuah pohon besar. Sosok itu menebar senyum menawan yang seolah menyimpan rahasia. Well, alasan keberadaanya di tempat itu sendiri adalah rahasia pertama yang membuat Konatsu ingin menyingkapnya sesegera mungkin.

"Siapa?" tanya Konatsu defensif. Matanya menyipit curiga menatap sosok berambut hitam pendek itu.

Sosok itu hanya tersenyum, sebelum melompat turun dengan langkah lompat yang sama ringannya seperti yang dilakukan Konatsu sebelumnya.

"Hyuuga…" jawabnya singkat dengan nada riang. "Kau sendiri? Aku belum pernah melihatmu…" kata sosok itu sambil berjalan mendekat.

"Jangan dekati aku! Vampir!" tegas Konatsu galak.

"Kau sendiri vampir kan?" tanya Hyuuga ringan, tanpa beban. Senyum tersungging makin lebar di bibir tipisnya. Kata-katanya yang merupakan fakta tak terbantah itu sukses membuat Konatsu diam tanpa bisa memberikan argumen perlawanan. Walau sikap waspada dan gestur tubuh defensif penuh curiga masih dipertahankannya.

"Aku berbeda dengan kalian… Aku tak minum darah manusia," kata-kata pembelaan diri itu keluar saat Konatsu tak tahu lagi harus menajwab apa.

"Aku tak peduli darah apa yang kau minum, yang jelas kita sama-sama pemburu darah…" senyum yang senantiasa terlukis di bibir pria berambut hitam itu lama-kelamaan membuat Konatsu kesal. "Lalu apa kau tahu, aku juga lebih suka minum darah vampir dibanding darah manusia. Apalagi vampir yang masih sangat muda sepertimu…" sambungnya dengan seringai predator lapar.

Seringai itu membuat Konatsu bergidik. Ia tahu pria bernama Hyuuga yang beridiri di hadapannya itu berada di level yang berbeda dengan vampir-vampir yang diburunya tapi seberapa berbahayanya itu yang tidak ia ketahui.

"Jangan mendekat!" sergah Konatsu keras ketika disadarinya jarak antara dirinya dan Hyuuga tinggal beberapa langkah lagi. Ada rasa takut dan sedikit gentar.

"Hie… Kenapa? Takut?" tanya Hyuuga masih dengan seringainya. "Kau harus lebih santai… hem… Siapa namamu tadi?"

"Namaku bukan urusanmu!"

"Begitukah?"

Dalam gerakan cepat yang hanya bertempo beberapa detik, Hyuuga sudah berada di belakang Konatsu. Hyuuga merengkuh tubuh Konatsu dari belakang dengan kasar, menyentak kepala pemuda itu ke samping, dan mengarahkan sepasang taringnya yang tajam ke leher Konatsu yang putih pucat.

Rasa sakit tak tertahankan menyerang saraf-saraf di leher Konatsu. Sensasi aneh menjalari tubuhnya saat Hyuuga menghisap keluar darah dari dalam tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa seperti meleleh dan tubuhnya panas. Kakinya terasa lemas hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya. Bahkan rasa lemas itu tak hilang sampai Hyuuga menyelsaikan urusannya menghisap darah vampir muda itu.

Hyuuga baru kali itu mengecap rasa darah yang begitu nikmat. Tak peduli berapa jumlah korbannya sebelum ini. Darah Konatsu kaya akan rasa dan harumnya begitu memikat. Rasa itu sepeti candu. Membuatnya ketagihan dan enggan berhenti. Namun, ia tahu hal itu harus dihentikan atau vampir muda di hadapannya itu akan mengalami hal yang fatal.

"Apa yang kau…?" tanya Konatsu terputus-putus ketika akhirnya Hyuuga melepaskannya. Ia kini terduduk di atas rerumputan basah. Tangannya menutupi luka dari bekas gigitan Hyuuga yang sedang dalam proses penyembuhan yang kecepatannya tidak manusiawi. Walau begitu, entah mengapa luka bekas taring Hyuuga memerlukan waktu yang lebih lama di banding luka lainnya yang pernah dialami Konatsu. Faktor karena Hyuuga itu juga vampir mungkin? Siapa yang tahu?

Mendengar pertanyaan Konatsu dan melihat ekspresinya yang galak—menunjukan kemarahan dengan gamblang, Hyuuga hanya tersenyum misterius.

"Kau vampir dengan darah paling enak yang pernah kucicipi…" jawab Hyuuga akhirnya. Jawaban itu dilontarkannya dengan begitu santai sambil menjilati jari-jarinya yang terlumuri darah Konatsu. Diangkatnya dagu Konatsu yang tengah terduduk lemas itu untuk bisa ia lihat ekspresinya. Hyuuga menurunkan kacamata berlensa gelapnya agar bisa melihat Konatsu dengan lebih jelas. Saat amber dan safir mereka bertubrukan, Hyuuga merasa bahwa Konatsu itu begitu… berbeda dengan vampir lainnya. Ada aura yang membedakan Konatsu.

"Kutanya sekali lagi. Siapa namamu?" mata safir itu menatap lekat ke dalam orb amber Konatsu. Menunjukan bahwa ia serius menginginkan jawaban kali ini.

Tak ingin penyerangan Hyuuga berulang, Konatsu menjawab pelan, "Konatsu… Warren…"

"Konatsu Warren?" Hyuuga mengulanginya sekedar untuk meminta kepastian. Namun ia tahu pasti ia tak salah dengar.

Warren.

Sedikit kebingungan berkelebat di alam pikiran Hyuuga. Warren adalah keluarga vampire hunter yang sangat tersohor seantreo Barburg. Klan yang terkenal karena telah melahirkan banyak vampire hunter kelas satu yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Golongan elite yang tak mentoleransi sedikitpun kehadiran vampir yang mengganggu kehidupan di daerah Barsburg. Keluarga dengan reputasi terpandang yng dieluk-elukan seluruh rakyat barsburg sebagai penjaga damai.

Keluarga yang memandang rendah vampir dan meninggikan diri mereka sebagai keluarga yang diberkati raja langit untuk menjadi penjaga manusia.

Tak mungkin ada vampir dalam keluarga itu. Namun ia juga tak bisa meragukan keseriusan yang terpancar dalam pandangan mata Konatsu. Sinar mata pemuda itu begitu jujur. Ia seolah buku yang terbuka di hadapan Hyuuga. Begitu mudah dibaca untuk bisa diketahui apakah ia sedang berbohong atau tidak.

"Warren? Keluarga vampire hunter itu?" tanya pria berambut raven itu lagi. Matanya menunjukan ketertarikan kali ini. Vampir yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga vampire hunter? Menarik bukan? Membuatnya bertanya-tanya apa ada konspirasi di balik semua hal tersebut. Sekiranya tak ada pun, apa maksud keluarga Warren mempertahankan eksistensi vampir muda di hadapannya itu sudah cukup menarik minatnya.

Sambil tersenyum misterius, Hyuuga mengacak rambut emas terang Konatsu. Konatsu dengan segera menepis tangan Hyuuga dengan kasar.

"Jangan sentuh aku!"

"Haha… galak sekali… Bye, Konatsu, sampai ketemu lain waktu," itulah kata-kata terakhir Hyuuga sebelum sosoknya menghilang di balik bayangan hutan.

Fajar datang. Konatsu menyipitkan matanya melihat sang surya yang tengah menyingsing di timur langit. Matahari tak melukai vampir, hanya melemahkan mereka sedikit saja. Membuat mereka tak bisa mengeluarkan semua potensi fisik dan psikis mereka ketika bertarung. Di siang hari, membedakan vampir dan manusia pun sulit. Mereka berkamuflase dengan begitu sempurna di tengah-tengah manusia saat siang menghampiri dan surya berjaga di langit.

Saat malam menjemput barulah tanda-tanda kehadiran mereka begitu jelas. Di waktu kegelapan menguasai langit, nafsu membunuh mereka sulit ditutupi dan itu cukup jelas terasa dan membedakan mereka dari manusia pada umumnya—walau itu hanya bisa dideteksi oleh mereka yang berbakat sebagai vampire hunter. Itulah yang dimanfaatkan vampir hunter untuk melacak keberadaan mereka selain tanda otentik lain berupa tato darah yang pasti ada di salah satu bagian tubuh vampir.

Tanda bahwa mereka adalah mahkluk yang bukan manusia dan dikutuk oleh raja langit.

Konatsu sendiri memiliki tato darah itu di tengkuknya. Tak heran keluarga Warren selalu memerintahkannya menutupi tanda itu dengan jubah kerja hunter yang berkerah tinggi. Semua fakta bahwa ia adalah keturunan campuran adalah rahasia besar keluarga Warren.

"Sial… Aku harus kembali ke rumah…" desis Konatsu pelan sambil masih menahan sakit di bagian luka yang terasa berdenyut terus menerus.

.

.

Konatsu memandangi wajahnya di hadapan cermin wastafel. Ia sudah selesai membersihkan diri dan membasuh wajahnya agar lebih segar pagi itu. Bagaimanapun, kejadian sebelumnya benar-benar buruk dan sukses menuntunya pada mood jelek pagi ini. Pria bernama Hyuuga itu benar-benar mengesalkan. Mana luka bekas gigitannya berbekas begitu jelas pula, entah kapan tanda itu akan hilang.

Konatsu memandangi dua luka kecil di leher putih dan jenjangnya dengan tatapan gusar. Dalam hati ia mengutuki pria yang memberikan bekas luka itu. Yah, tapi ia tak perlu terlalu khawatir bekas itu terlihat orang. Bagaimanapun ia terbiasa menutupi lehernya yang menjadi tempat tato darah yang membuktikan bahwa ia vampir dengan baju-baju berkerah tinggi.

Dengan tatapan kosong dipandanginya refleksi setengah tubuhnya yang terpantul di cermin. Di hadapan benda pantul itu, Konatsu menelusuri bayangan dirinya sendiri dalam keadaan setengah polos. Untuk seorang vampire hunter, Konatsu tidak memiliki bekas luka satupun ditubuhnya; tak pernah ada luka yang tak bisa sembuh dan meninggalkan tanda sebelumnya. Hanya bekas luka dari Hyuuga itu yang menjadi sedikit cacat dari keseluruhan kulitnya yang putih bak mutiara.

"Sial! Awas saja kalau ketemu lagi…" desis Konatsu jengkel. Mata madunya tampak bercahaya merah sesaat—tanda emosinya tengah bergejolak. Dengan asal-asalan—tak seperti biasanya—dikenakannya kemeja berkerah mandarin warna hitam dengan lengan panjang. Barulah ia keluar dari kamar mandi. Titik-titik air masih menetes perlahan dari rambutnya. Segera setelah keluar dari kamar mandi, ditatapnya jam di dala kamarnya.

"Sudah jam segini…" gumamnya pada dirinya sendiri. "Waktunya mengunjungi ibu…"

Konatsu memutar kenop pintu kamar yang menghubungkan ruang pribadinya dengan ruangan ibunya. Wanita cantik berambut coklat itu masih duduk terdiam dengan pandangan mata kosong seperti biasanya di atas kursi goyangnya. Menatap ke arah luar jendela.

Kadang Konatsu merasa pandangan ibunya seperti tengah menanti sesuatu datang… atau mungkin seseorang? Entahlah, Konatsu tak bisa memastikan sejak ibunya menolak untuk berkomunikasi.

Tampaknya pelayan ibunya sudah mengurus ibunya dengan baik pagi ini—seperti sebelum-sebelumnya. Wanita itu tampak segar dalam baju bersih dan rambut yang beraroma shampoo. Namun meski wanita itu tampak begitu memesona dalam usianya yang sudah tak muda lagi—ia masih tampak sama cantik dan mudanya seperti saat ia melahirkan Konatsu, Konatsu tak bisa tak merasa sedih saat menatapnya.

Bukan karena ia tak mengasihi ibunya. Tentu saja bukan! Jauh dalam lubuk hatinya, satu-satunya pribadi yang ia kasihi selain kakeknya adalah ibunya yang telah membawanya lair melihat dunia.

Lantas mengapa?

Dalam lubuk hatinya juga, Konatsu merasa tak pantas mengasihi wanita rupawan itu. Kadang ia merasa ibunya tentu menyesal telah melahirkannya.

"Pagi, ibu…"

Pagi itu, hanya dengan ditemani kicau burung kecil di taman luar, Konatsu kembali berbicara pada ibunya. Walau hanya secara sepihak. Hanya menceritakan hal biasa. Percakapan antara ibu dan anak lelakinya tentang sepenggal kisah mengenai kejadian sehari-hari.

"Ibu cantik hari ini… seperti biasa…"

"…"

"Aku tak mirip ibu ya? Aku sering bertanya-tanya apa aku mirip ayah?"

"…"

"Kuharap aku tak mirip dia. Kau membencinya kan, bu? Aku tak mau mirip dia jika nanti ibu malah membenciku…"

"…"

"Ibu… Aku sayang padamu…"

Seperti biasanya pula, percakapan singkat pagi itu ditutup dengan ciuman lembut di kening oleh Konatsu untuk ibunya. Walau kadang air mata harus ditahan mati-matian oleh pemuda itu untuk tidak menetes di hadapan wanita itu.

Tidak! Jangan sampai seorangpun melihat kelemahannya. Tidak juga ibunya yang walau tak merespon, namun ia yakini mengerti setiap kalimat yang ia perkatakan.

Ia pengemban nama Warren. Ia tak boleh kelihatan lemah di hadapan orang lain!

Tak seorangpun ia izinkan untuk melihat air matanya.

.

.

.

"Hari ini, anda segar sekali, Hyuuga-san…" sapa seorang pemuda tinggi berambut kebiruan yang sedang membawa… cake tiga tumpuk di tangannya?

Saat itu, Hyuuga sedang duduk di ruang tamu sebuah mansion besar yang agak gelap dan terletak di bagian terdalam hutan Barsburg—bagian yang sulit dicapai karena begitu banyak faktor penghalang di tengah perjalanan. Rasanya hanya vampir saja yang mampu mencapai tempat itu hidup-hidup. Itupun tak semua. Hanya beberapa yang cukup istimewa atau lahir dalam tingkat keluarga bangsawan dan diberkahi dengan berbagai keistimewaan yang unik.

"Haha… Haruse perhatian sekali ya? Beruntung sekali Kuro-chan punya pendamping setia dan perhatian sepertimu…" Hyuuga tersenyum simpul

"Anda terlalu memuji, Hyuuga-san…"

"Memang ada apa sih?" tanya Castor, pria berkacamata dengan wajah lembut yang sedang duduk bersisian di sofa dengan vampir berambut ungu tipis—Labrador—yang juga tampaknya menaruh perhatian pada kata-kata Hyuuga. Pandangannya yang sejak tadi tersita oleh sebuah buku di hadapannya akhirnya tercuri juga.

"Kau harus bagi-bagi cerita, Hyuuga! Benar tidak Kuso gaki?" vampir lainnya yang berperawakan besar yang duduk di sofa lain. Vampir mungil berambut coklat dengan mata emerald itu langsung proter ketika dipanggil kuso gaki oleh si pria kekar.

"Frau! Aku ini punya nama! Teito!" protesnya.

"Sudahlah Teito. Ayo kita dengarkan cerita Hyuuga-san saja…" sambung vampir dengan perawakan sama belianya dengan Teito. Di wajahnya tampak bekas luka. "Hakuren sudah tak sabar mau dengar ceritanya tuh…" sambungnya sambil menunjuk vampir muda lainnya di ruangan itu.

"Tapi, Mikage…"

"Ssh… Kapan mau dengar ceritanya nih?" potong vampir muda berambut pirang panjang dan bermata sebiru safir yang bernama Hakuren.

"Haha… Aku menemukan hal menarik hari ini…" mata Hyuuga berkilat nakal.

"Dan apa yang kau maksud dengan hal itu?" tanya Kuroyuri yang tahu-tahu muncul dari belakang Haruse. "Aku dengar pembicaraan kalian lho…"

"Haha… baiklah. Aku akan cerita, walau mungkin kalian tidak percaya…" Hyuuga tertawa kecil. "Ah, Aya-tan! Bergabunglah dengan kami!" panggil Hyuuga saat dilihatnya sosok pria berambut keperakan melewati ruang tempat ia dan yang lainnya berada

"Apa?"

"Aku ada cerita menarik tentang apa yang kutemukan dini hari tadi… kaupun pasti tertarik, Aya-tan."

"Hm…?"

Hyuuga tersenyum saat menelisik ekspresi wajah teman-temanya yang tampak penasaran. Minus Ayanami yang tetap datar.

"Aku menemukan darah campuran…"

"Itu kan hal biasa. Yang darah murni seperti kita kan sudah jarang sekali. Lagipula mereka lemah. Apa istimewanya?" tanya Kuroyuri dengan mimik meremehkan.

"Haha, yang istimewa, darah campuran satu ini kuat…"

"Bagaimana mungkin?" tanya Castor; tertarik.

"Karena ia lahir di keluarga Warren…"

.

.

~To Be Continued~

.

.

Author's note:

*Katana= pedang jepang yang suka dipake Konatsu itu lho…

Eve jadi mamanya Konatsu? Wew~~ Saya tahu, sepertinya saya salah casting… ya sudahlah *nyengir kuda—digampar*

Wah, OOC *Guling-guling di lantai*… susah sekali yah bikin mereka semirip mungkin dengan karakter aslinya… yah, namanya juga alter universe sih ya *bela diri-plak!*

Black Hawk nyampur sama para pastor? Ya, nggak masalah kan. Kita buat perkumpulan orang ganteng *plak*

Well, Katsuragi nggak saya masukin karena menurut saya vampir itu mahkluk indah yang nggak menua, jadi… bye, Katsuragi-san, lain waktu mungkin…

Soal tato darah, itu bentuknya mirip lambangnya 07 ghost dalam manga itu lho… *wink*

Well, review untuk menyemangati saya?

Salam manis,

-Yuki-