Warning: OOC, typos, amburadul, Shonen-ai…

Don't like don't read

.

Thanks to:

chiko silver-lady, hana-1emptyflower, ArthuriaMariePendragon, Aldred Van Kuroschiffer, LilacLovely12, dan silent readers

.

Maaf, saya nggak tahu nama kakeknya Konatsu, jadi saya karang sendiri. ==v

Saya juga bukan author yang fast update. Jadi maaf untuk keterlambatan ini.

.

The Sinister Successor

Kapitel 3

~Curiosity~

.

.

"Konatsu, kau tidur?" Allan Warren—kakek Konatsu mengetuk pintu kamar cucunya di kediaman besar Warren. Sosok agung dan karismatik itu mungkin satu-satunya yang peduli akan keberadaan si pirang bermata madu yang sejak siang tidak kelihatan. Yang dia tahu, sejak ia menyuruh Konatsu pulang untuk beristirahat sejenak, dia tidak lagi keluar dari kamarnya. Dia sudah menanyakannnya pada para pelayan dan tak satupun dari mereka pernah melihat Konatsu keluar dari kamarnya walau hanya selangkah saja.

"Konatsu-niisama…" Shuri yang mendampingi Ketua Warren juga ikut memanggil kakak sepupu yang sangat dikaguminya itu. Shuri mencoba membuka pintu kamar Konatsu.

"Tidak dikunci, kek…" ujar Shuri pelan.

"Ayo lihat ke dalam, kakek sedikit khawatir karena dia sama sekali tidak menjawab walau sudah kita panggil sejak tadi…"

Shuri dengan sopan membukakan pintu kamar Konatsu dan mempersilahkan Allan masuk lebih dulu ke dalam ruangan.

Kamar Konatsu gelap. Di dalam kamar yang cukup besar itu, hanya terdapat sedikit barang pribadi yang hanya berupa buku-buku. Tergeletak begitu saja di meja kerja. Sisanya sangat biasa dan sama sekali tidak mencerminkan kepribadian pemiliknya seperti sebagaimana seharusnya sebuah kamar.

Hanya satu keganjilan di kamar itu. Jendela besar terbuka lebar. Membuat angin yang bertiup lembut di lantai tiga masuk dan menjadikan suhu kamar nyaris seperti beku. Tirai dua lapis yang tersusun atas tirai berwarna putih gading dan transparan melambai karena tiupan angin. Cahaya bulan yang keperakan masuk dan menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi kamar Konatsu.

"Sepertinya dia tidak ada di sini…" gumam Allan. Dalam hati ia bertanya-tanya, kemana Konatsu pergi. "Dimana dia?"

"Entahlah, mungkin di perpustakaan lantai satu… aku sering melihatnya di sana…" jawab Shuri sambil mengangkat bahu. "Kita coba cari saja dia dulu, Kek…"

Baru saja Shuri mau kembali melebarkan daun pintu dan mempersilahkan Allan keluar dari kamar itu terlebih dahulu, sesosok berambut hitam dan tinggi tegap muncul entah dari mana. Baik Shuri maupun Allan kaget luar biasa melihat sosok tak dikenal itu berdiri di jendela besar yang terbuka. Terlebih ketika melihat Konatsu tak sadarkan diri dalam pelukan sosok itu.

"Ara… aku tidak memperkirakan di kamar Konatsu-ku akan ada orang…" Sosok itu berkata santai seolah kehadirannya di tempat itu bukan masalah besar. Dengan langkah ringan seperti bulu, Hyuuga melewati jendela dan menapakan kakinya di kamar Konatsu.

Baik Allan maupun Shuri terkejut melihat bahwa Konatsu berlumuran darah. Sosok pirang itu masih menutup matanya dengan tenang. Bukan karena kantuk. Sama sekali bukan! Ia sedang memulihkan dirinya sendiri kali ini. Lagipula darah Hyuuga membuatnya mabuk. Tak heran ia bisa sepulas itu walau sejak siang ia sudah terlalu banyak tidur dan Hyuuga tengah berbicara dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan di dekatnya.

"Si-siapa kau?" tanya Shuri terbata.

Mata Allan menyipit curiga pada Hyuuga namun Hyuuga tampak sama sekali tidak terpengaruh ataupun takut. Vampir berdarah bangsawan itu malah tampak santai dan menikmati keadaan yang semakin tegang di antara dirinya dan dua vampire hunter di hadapannya.

"Aku hanya orang yang menolong anak manis ini…" jawab Hyuuga dengan nada main-main di suaranya. Dengan sikap cuek seolah tidak ada siapapun lagi di kamar itu, Hyuuga membaringkan tubuh Konatsu di atas tempat tidurnya yang besar dan duduk di sisinya sambil mengusapkan punggung tangannya pada pipi Konatsu. Wajah tidur Konatsu yang manis membuatnya enggan mengalihkan pandangannya sama sekali. Perlahan tangannya menyisiri surai pirang pemuda itu. "Nah, bagaimana? Tak ada ucapan terima kasih?"

Mata Allan yang berwarna madu—sama seperti Konatsu—menyipit memerhatikan penampilan Hyuuga. Mengobservasinya. Rambut hitam gagak, iris safir yang tersembunyi di balik kacamata berlensa gelap, tubuh tinggi dan gagah.

"Kau… Hyuuga?" tanya Allan pelan dengan nada waspada.

Ia memperhatikan tingkah Hyuuga yang begitu posesif pada cucunya itu dan ia tahu, ia tak boleh sembarangan bicara atau mungkin cucunya itu akan selamanya menghilang dari hadapannya. Bagaimanapun, para vampir kelas atas macam Hyuuga, selain memiliki aura dan tingkat kekuatan yang berbeda dengan vampir berstrata biasa, mereka juga nekat melakukan apa saja jika terancam, kekuatan mereka memampukan mereka untuk itu.

"Aku tersanjung. Tidak kusangka ada yang mengenalku…" jawab Hyuuga dengan senyum tersungging di bibir tipisnya. "Nah… darimana kau tahu tentang aku? Ketua Warren yang terhormat…" Hyuuga bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari Konatsu. Tangannya yang besar kini menggenggam tangan Konatsu yang putih dan lebih mungil darinya. Mengagumi dalam hati betapa halus tangan itu, walau ia tahu jelas kedua tangan yang demikian lembut dan terlihat rapuh itu sudah banyak menumpahkan darah.

"Tidak penting darimana aku tahu…" jawab Allan sambil mengepalkan tangan menahan geram.

"Oh ya? Padahal mungkin aku tidak keberatan memberitahu apa saja yang sudah aku dan Konatsu lakukan seharian ini jika kau mau menukarnya dengan memberitahu sumber informasimu…"

"Aku sudah bisa menebak hanya dengan melihat keadaan cucuku…" jawab Allan dingin. Hyuuga hanya terkekeh pelan menanggapinya.

"Begitukah?" tanyanya tak peduli. Dengan santai ia melebarkan kerah pakaian Konatsu. "Aku tidak meninggalkan tanda apapun… tenang saja…"

Hyuuga tersenyum sarkastik. "Walau sepertinya kutinggalkan tanda pun tak mengapa. Mengingat kalian selalu menyuruhnya menutupi jati dirinya."

Allan membuang muka tak suka. Dia tahu sudah lama Konatsu tertekan jika harus menemui orang di luar keluarga Warren. Takut tanda itu terlihat. Takut mempermalukan keluarganya.

Takut. Takut.

Hanya itu emosi yang bisa dirasakannya selama ini jika sudah berkaitan dengan tanda yang menjadi bukti identitasnya sebagai vampir. Ia malu dengan hal itu. Malu menjadi keturunan yang kotor. Keturunan pendosa!

"Aku lakukan itu untuk melindunginya…" bantah Allan. "Konatsu cucuku yang kusayangi. Wajar bukan jika aku melindunginya?"

"Melindungi dengan menyuruhnya mengingkari jati dirinya? Kulihat kau punya definisi yang lucu tentang 'perlindungan', ketua Warren…"

Sinis. Hyuuga menatap dengan tatapan merendahkan. Senyumnya mengejek.

"Bukan urusanmu. Kau bahkan tidak akan mengerti kenapa aku melakukannya dan betapa besar keinginanku untuk melindungi cucu kesayanganku. Sungguh kusesalkan ia sampai bisa terlibat dengan kau…"

Shuri yang sedari tadi terdiam mendengarkan pembicaraan antara dua orang di depannya hanya bisa menelan kekalutannya dalam diam. Ia tahu sekali bahwa Konatsu-niisama adalah cucu kesayangan Alan. Cucu dari putri yang paling dikasihinya. Eve. Selama ini tidak pernah ada yang berani terang-terangan di depan kakeknya itu tentang keberadaan Konatsu yang ganjil dan berpotensi merusak reputasi keluarga. Tak heran, kali ini Shuri tegang saat ada yang berani memprotes cara kakeknya itu mendidik Konatsu.

"Jika aku jadi anda, aku lebih memilih membebaskannya…"

"Kau tidak berpikir panjang—sesuai informasi yang kudengar. Kau bisa bilang begitu karena kau tidak dalam posisiku. Tidak menyayangi Konatsu sebagaimana aku mengasihinya… dia cucuku, bagaimanapun juga…"

Baik Hyuuga maupun Allan saling menatap dengan pandangan tak suka pada satu dengan yang lain. Hyuuga bisa melihat kemiripan Konatsu dengan kakeknya di mata keemasan mereka.

Hyuuga tersenyum misterius sesaat sebelum kembali melontarkan pertanyaan yang sama, "Apa yang kau tahu tentang aku? Dan darimana?"

"Kau tidak perlu tahu…"

"Keras kepala…" gumam Hyuuga pelan. "Kalau begitu, kurasa aku tak perlu berlama-lama di sini. Aku juga masih ada urusan…"

Hyuuga membawa tangan Konatsu yang masih ada di dalam genggamannya ke bibirnya dan mengecup punggung tangannya pelan—tak peduli masih ada Shuri dan Allan di ruangan itu.

"Kalau begitu sampai jumpa lagi, Ketua Warren…" Hyuuga menghampiri jendela besar lalu menghilang dalam kegelapan malam.

"Siapa dia, kek?" Shuri baru berani angkat bicara beberapa saat kemudian, ketika Hyuuga sudah benar-benar hilang dari pandangan.

"Hyuuga…" jawab Allan pelan dengan nada sedikit jengkel ketika mengucapkannya. "Salah satu vampir bangsawan darah murni yang tidak bisa kita habisi…"

"Salah satu? Memang masih ada beberapa lagi?" tanya Shuri bodoh.

"Ya, sekelompok kecil yang sebenarnya tidak terlalu mengancam…"

"Bagaimana mungkin tidak mengancam?" ujar Shuri panik. Selama ini ia sudah diberitahu betapa berbeda kekutan vampire biasa dan bangsawan berdarah murni. Pemikiran bahwa yang berdarah campuran saja sudah menyusahkan membuatnya semakin kalut memikirkan kemungkinan kemampuan yang dimiliki para darah murni.

"Tidak apa Shuri… Sudah waktunya kau tahu bahwa para darah murni bukan sesuatu yang bisa kita sentuh begitu saja. Rahasiakan dari yang lain tentang pembicaraan Kakek dan vampir barusan.."

"Tapi…"Melihat wajah tegang kakennya, Shuri tidak bertanya lebih jauh lagi walau—jujur saja—ada keinginan untuk tahu apa kiranya yang dimaksudkan kakeknya itu.

"Nah, yang penting sekarang, kau coba bantu kakak sepupumu itu membersihkan darah itu. Cukup kakek, Konatsu, dan kau yang tahu soal kejadian hari ini. Keributan besar tak pernah menghasilkan apa-apa…"

.

.

Ayanami's Pov

Aku menghempaskan punggung ke bangku di ruang kerjaku yang nyaman. Di luar jendela, tampak bulan purnama besar di langit tak berawan. Gambaran malam yang cukup cocok untuk vampire sepertiku ya?

Suram. Gelap.

Bayangan sosok pirang menawan seorang Konatsu Warren kembali berkelebat dalam ingatanku. Anak itu memang menawan. Matanya yang seperti kristal, rambutnya yang pirang keemasan sempurna dan kulitnya yang putih mutiara. Sungguh seperti malaikat. Aku yakin dia juga akan sangat pantas jika memiliki sepasang sayap putih besar di punggungnya. Sosoknya yang seperti cahaya itu benar-benar rupawan.

Andai saja Hyuuga tidak mengganggu tadi…

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana leher putih Konatsu itu tampak begitu lezat. Cairan merah mengalir di sana dan membuat rasa haus timbul seketika. Itu membuatku bertanya-tanya apa mungkin darah Konatsu itu sama seperti darah dai salah satu orangtuanya?

[Tok. Tok.]

"Siapa?" sahutku malas sambil memutar bangku dan mengalihkan mataku ke arah pintu masuk. Sebetulnya tanpa perlu bertanya pun aku tahu. Teito sudah mengabarkan tentang ini sebelumnya.

Hyuuga sudah pulang.

"Aku…" suara berat pria berambut hitam yang selama ini mengaku setia padaku terdengar. Pintu terbuka pelan dan dia masuk.

Dia tampak serius kali ini. Tidak seperti biasanya, dan ia bahkan masih belum mengganti pakaiannya yang ternoda darahnya sendiri.

"Kau tahu bahwa penampilanmu kali ini agak tidak pantas untuk datang menemuiku?" tanyaku dengan nada tenang. "Hyuuga…"

"Apa kau pikir aku peduli akan hal itu sekarang?" tanya Hyuuga dengan nada gusar yang begitu kentara.

Aku tersenyum penuh arti padanya dan beranjak dari tempatku duduk. "Bocah Warren itu benar-benar hebat. Ia bahkan bisa membuat sikapmu padaku berubah begitu cepat…"

"Sepertinya kau tahu bahwa aku kemari untuk membicarakan dia…"

Aku dan Hyuuga saling menatap tajam satu sama lain. Menyebalkan. Kalau saja dia tahu Konatsu itu adalah…

"Aya-tan, aku mau minta penjelasanmu tentang semua ini. Kau menyebut tentang ayah dari Konatsu bukan?"

"Apa gunanya bertanya saat kau sendiri sudah melihat semua memori anak itu, Hyuuga? Atau kau memang sebodoh itu?"

Hyuuga mendecak kesal. "Jangan main-main! Aku serius!"

Aku mencoba meneliti keseriusan di mata Hyuuga.

Dia memang tidak main-main. Aku bisa pastikan itu.

"Aku menolak untuk memberitahu soal itu sekarang. Bagaimana mungkin kau tahu lebih dulu dibanding anak itu sementara yang kujanjikan informasi adalah dia?"

Hyuuga tampak semakin kesal karena aku berkelit dengan sempurna. Dengan kasar ia menggebrak meja dengan kepalan tanggannya—menimbulkan bunyi derak kayu yang begitu keras. Iris safirnya tampak penuh dengan emosi. Aku mempertahankan ketenanganku.

"Kau benar-benar licik…" desisnya. Hyuuga berbalik ke arah pintu dengan cepat. Sepertinya ia jengkel sekali.

"Hyuuga…" Aku memanggil dengan nada datar.

"Apa lagi?"

"Satu hal yang bisa kuberitahu. Kau juga mengenal orang yang kumaksud itu…"

Dan kau pasti kaget saat tahu siapa orang itu.

.

.

Normal Pov

Pemuda pirang itu sedikit bingung mendapati dirinya sudah ada di atas kasurnya sendiri di kamar yang sangat dikenalnya. Pertanyaan mengapa ia bisa berada di sana berkelebat di pikirannya yang sedikit terasa kabur dan melayang.

"Kenapa…?"

"Konatsu-Oniisama? Sudah bangun?"

Konatsu menoleh dan mendapati sepupunya—Shuri—berdiri di ambang pintu membawakan nampan makanan. Senyum tak wajar dan agak dipaksakan terlukis di wajah Shuri.

"Oniisama…"

"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Konatsu langsung pada sasaran. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana teakhir Hyuuga menghisap darahnya dengan rakus dan langsung kehilangan kesadarannya. Ia tak mungkin bisa pulang sendiri dalam keadaan kepayahan seperti itu bukan? Jadi seharusnya ada penjelasan bagus bagaimana ia bisa berada di kamarnya sendiri saat tersadar. Bahkan dengan pakaian yang sudah berganti bersih tanpa noda darah sama sekali.

"I-itu…" Kebingungan tampak jelas di mata Shuri yang berwarna turquoise.

"Jawab aku!"

Mata amber Konatsu menatap tajam pada Shuri. Ia menginginkan jawaban yang jelas. Shuri sedikit gentar akibat tajam dan dinginnya tatapan dari mata Konatsu. Ia tidak terbiasa mendapat tatapan tajam seperti itu. apalagi, yang ia tahu, Konatsu lebih sering berjalan dengan tidak menatap mata siapapun di keluarga Waren karena ia tidak ingin melihat penghinaan dan kejijikan keluarganya sendiri terhadap keberadaan dirinya.

"Kalau soal itu, sebaiknya kita bicarakan nanti, Konatsu…"

Konatsu tersentak ketika mendapati Allan sudah berada di kamarnya. Dengan pose melipat kedua lengannya di depan dada dan pandangannya yang terfokus pada cucu kebanggaanya itu, terlihat jelas bahwa Allan sedang tidak ingin dibantah saat itu.

"Jangan menekan sepupumu sendiri seperti itu. Shuri tidak tahu apa-apa. Sebaliknya…"

Tatapan tajam Allan kembali membangun atmosfer tegang di ruangan. Konatsu merasakan sedikit penyesalan tebit di hatinya berkenaan dengan hal tersebut.

"Kau sebaiknya mempunyai alasan yang bagus untuk semua yang sudah terjadi. Beserta detil kejadian yang kakek tidak ketahui."

"Kakek… aku…"

"Banyak waktu untuk berbicara siang nanti, Konatsu. Tugasmu sekarang adalah memastikan sendiri bahwa kondisimu baik-baik saja…"

.

.

Konatsu's POV

Sial!

Aku tidak membayangkan akan jadi seperti ini keadaannya.

Aku benar-benar bodoh. Urusanku dengan pria bernama Ayanami itu belum selesai sama sekali dan aku sudah kembali terperangkap dengan Hyuuga kemarin. Dasar pengganggu. Apa hubungan Hyuuga dan Ayanami? Apa mungkin Ayanami disuruh Hyuuga untuk menarikku ke tempat para vampir? Dasar picik! Orang gila satu itu!

Sekilas kupandangi kakek yang masih berdiri di depan pintu menunggu jawaban dariku.

"Ya, kek…" kataku terpaksa. Aku sudah tak punya jalan keluar lagi sepertinya. "Akan kujelaskan nanti… Kakek atur saja…"

Anggukan puas dari kakek membuatku tahu bahwa untuk sementara paling tidak aku bisa menarik nafas lega. Agak sedikit miris sebetulnya melihat kakek membalikan punggung menginggalkan ruangan dengan kekecewaan terhadapku. Aku tahu dia kecewa. Aku sangat mengenalnya.

Penyesalan itu timbul sekarang. Aku jadi membenci diriku sendiri. Padahal kakek sudah susah payah merawatku menggantikan posisi ibu, tapi aku malah membuatnya marah. Aku benar-benar menyedihkan.

Tapi…

Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan menyerah sampai sini. Aku sudah betekad aku akan menemui pria yang menyakiti ibu.

Ayah.

Lihat saja. Mungkin kali ini aku melakukan kesalahan. Tapi untuk yang berikutnya kupastikan aku akan mendapatkan kejelasan mengenai ini semua. Aku pasti akan menyeret "orang itu" ke hadapan kakek dan Ibu! Aku tidak akan gagal untuk yang kedua kalinya.

Tapi ini artinya…

Aku harus menemui Ayanami sekali lagi!

.

.

Aku mengetuk pelan dan sopan pintu dari kantor kerja kakek. Ugh, rasanya aku sudah tidak punya kepecayaan diri lagi untuk menemui kakek. Cucu kebanggannya malah jadi mempermalukannya dengan membiarkan dirinya menjadi makanan dari Hyuuga, lintah sialan itu! Aku sungguh bersyukur kakek sudah menyuruh Shuri tutup mulut tentang ini. Entah apa jadinya jika kerabat yang lain tahu kalau aku…

"Masuklah…"

Suara kakek terdengar begitu berwibawa. Begitu sabar. Inilah yang membuat keharusan menghadapinya dan mempertanggungjawabkan segalanya jadi lebih sulit. Andaikan saja ia langsung memarahi dan mencaci maki diriku mungkin semua lebih mudah. Tapi aku tahu kakek tidak akan begitu. Dia selalu pengertian. Dan hanya dia yang peduli padaku. Ini membuatku semakin merasa bersalah.

Pelan aku membuka pintu, namun begitu, bunyi derit dari daun pintu yang tebal dan berat tetap terdengar.

"Kek…"

"Duduklah Konatsu. Buat dirimu senyaman mungkin. Kakek tidak marah…"

Penjelasan yang begitu lembut dan runtut serta tangan yang ramah menyambut dan membimbingku ke tempat duduk itu membuatku bersyukur bahwa walau aku tidak mendapatkan pengakuan dari keluarga Warren yang lain, namun tetap ada yang mau menerimaku apa adanya begini.

Setelah aku duduk di depan sofa tamu di ruang kerja kakek dengan kakek duduk di sofa sebrangnya, aku memulai pembicaraan. Ya, lebih baik aku jujur kan?

"Kek, soal semalam..." aku mencoba memantapkan hati sebelum akhirnya melanjutkan, "Bukannya aku mau berahasia terhadap kakek, hanya saja ada sesuatu yang ingin kau ketahui…"

Dengan sepasang bola mata yang seolah mengetahui segalanya, kakek memperhatikanku dan hanya mengungguku melanjutkan.

"Dan ada vampir yang menawarkan infomasi padaku…"

"Apa yang ingin kau ketahui Konatsu? Apa yang memangnya bisa diberitahukan oleh Hyuuga saja?"

Tunggu! Kakek mengenal Hyuuga?

"Hyuuga? Kakek mengenal vampir bernama Hyuuga?" tanyaku bingung.

"Ceritanya akan panjang. Kau tidak perlu tahu, Konatsu…" jawab kakek dengan nada datar. "Jadi… Informasi apa yang ditawarkannya padamu?"

"Tapi yang menawari aku informasi bukan Hyuuga, kek!"

Mata kakek melebar tak percaya. Sepertinya ada salah komunikasi di sini. Kenapa juga kakek mengira aku mendapatakan infomasi darinya?

"Ta-tapi… kemarin yang mengantarmu pulang…?" kakek bicara terbata-bata.

Hyuuga mengantarku pulang? Lelucon macam apa ini? Yang terakhir bersamaku memang sepertinya dia, tapi…

"Sebaiknya kakek dengarkan aku dulu…"

.

.

Setelah menyingkat cerita panjang bagaimana seorang vampir bermata ungu bernama Ayanami mendatangiku dan menjanjikan informasi mengenai ayah, dan bagaimana ia membawaku ke kastil kediaman para vampir yang medan perjalanannya saja sulit ditembus manusia biasa. Tentu saja aku juga jujur mengakui bahwa kesadaranku sempat hilang dan begitu sadar malah Hyuuga yang kutemui.

Kakek agak sedikit kaget ketika aku menyinggung soal ayah tapi aku tak mau menyembunyikan apapun darinya lagi. Itu membuatku merasa bersalah. Aku tak mungkin membalas semua kebaikan kakek padaku selama ini dengan kebohongan kan?

"Jadi begitu…?"

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban. Sudahlah. Biar saja kakek tahu bahwa keinginanku menemui orang yang seharusnya kupanggil ayah belum pudar sedikitpun. Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin balas dendam padanya karena telah membuat ibu menderita. Sudahlah. Tak perlu menambah kekhawatiran kakek.

"Konatsu…"

"Ya?"

Aku dapat menangkap sekilas keraguan di mata kakek sebelum akhirnya ia berkata, "Selama ini kakek berusaha untuk memberimu kebebasan dan membiarkanmu bertindak sesuka hati, Konatsu. Hanya saja… Kakek mohon untuk kali ini… tolong jangan pernah mencari ayahmu lagi…"

.

.

Ayanami's Pov

Masih segar dalam ingatanku tentang dia. Sosok yang kukira memahamiku lebih dari siapapun. Sosok yang juga di detik yang sama menyakitiku entah dia memilih atau tidak untuk melakukan itu.

Atau mungkin pilihan kami hanya saling menyakiti.

Kami bertiga mungkin lahir hanya untuk menyakiti.

Aku. Eve. Dan Yukikaze.

Aku ingat, sepanjang hidupku yang tak terbatas waktu ini, aku hanya bisa benar-benar tulus mencintai mereka berdua. Dan ironisnya baik aku maupun dia teramat mencintai Eve. Dan tak satupun dari kami bisa benar-benar mengkhianati yang lain sampai cinta ini terasa menyakitkan.

.

"Anda lebih tepat untuk Eve-sama, Ayanami-sama…"

.

Suaramu begitu tenang ketika mengatakannya. Tekadmu itu yang kadang membuatku kagum sekaligus kesal padamu. Kau kira aku tidak tahu kau pun mencintainya dengan cinta yang demikian besar.

.

"Hal yang paling membahagiakanku adalah jika orang yang kucintai bahagia… aku ingin kalian berdua bahagia…"

.

Aku ingat sekarang. Kau katakan kau juga mencintaiku seperti kau mencintai Eve. Terima kasih.

Walau sakit di batin ini mungkin tak hilang.

Kenapa kau melepasku dengan senyum? Kalau kau lebih egois sedikit mungkin aku tak akan merasa sesakit ini. Betapa kebaikan bisa menyakitkan. Baru aku tahu sekarang.

Maaf aku menyakitimu…

Juga Eve…

.

"Ayanami, Yukikaze, aku sangat menyayangi kalian…"

.

Kamipun menyayangimu Eve. Sangat mencintaimu.

.

"Pernikahan kalian akan benar-benar luar biasa megahnya bukan? Kalian memang serasi…"

"Terima kasih, Yuki… ah, andai saja aku bisa memilikimu juga… aku akan punya dua suami paling hebat di seantreo jagat…"

"Hahaha… Anda memang pandai bekelakar, Eve-sama…"

.

Yukikaze… betapa dalam aku dan Eve menyakitimu? Beritahu aku!

.

"Sudah waktunya… bagi kaum kita hidup berdampingan bukan, Ayanami? Aku senang sekali…"

"Apa keluarga anda sudah tahu, Eve-sama?"

"Ayah akan memberitahu mereka sebentar lagi, Yuki… ini akan jadi pernikahan politik paling membahagiakan! karena kami tidak merasa terpaksa. Kedamaian dua klan hanya sekedar bonus saja bukan?"

"Baguslah… kapan anda akan memberitahu yang lain soal ini, Ayanami-sama?"

"Belum tahu."

"Jadi ini masih rahasia kita bertiga…"

.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Memori yang sedang kuputar balik ini terasa seperti bilah pisau yang mendera batinku sendiri.

.

"Yuki… kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, Ayanami-sama, Eve-sama… hanya sedikit pusing…"

"Ayanami, apa vampir bisa sakit?"

"…setahuku tidak…"

.

Harusnya saat itu aku sadar ada yang berbeda dari dirimu. Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak menyadarinya?

.

"Yuki!"

"Jangan menangis Eve-sama. Maafkan aku… menjelang hari bahagiamu aku malah mengganggu…"

"Jangan bodoh! Kau harus lihat dirimu sekarang. Jadilah egois sesekali!"

"Ayanami-sama…"

"Kenapa kau tidak pernah katakan soal ini, Yuki? Kau tahu kan aku dan Ayanami selalu ada untukmu?

"Aku…"

.

Aku sangat mengasihimu, Yuki. Begitupun Eve. Kau sangat penting buat kami.

.

"Eve…"

"Ya?"

"Pernikahan kita… Kurasa kita harus bicara… ikut aku sebentar…"

.

.

~To be Continued~

.

.

Yei, akhirnya gantung *dirajam satu fandom*

Wowowowo…

Yukikaze itu mantan begleiternya Ayanami lho, ingat?

Untuk yang selanjutnya saya usahakan cepat deh. Doakan saya dan uts saya ya. Terutama bahasa Indonesia. Serius deh. Gampangan ngarang daripada ngerjain tes bahasa. (siapa juga peduli sama hiponim, hipernim, amelioratif, dll itu… iya ga? *double slapped*)

Yuk, ah mari…

-Yuki-