Haloo.. Aku mako-chan^^ . Author baru di sini.. mohon bantuannya yah… yoroshiku onegaishimasu..

Title : The Prisoner part. 1
Author
: mako47117_
Chapter
: 1 of 3

Pairing : YunJae
Genre
: Romance, crime,
Rating : T
Disclaimer : Yunho and Jaejong belongs to each other XP

Warning : Yaoi, Typo, Abal, geje, Bahasa ngebosenin, banyak majas, dsb.
Don't like? please don't read


.

.

.

Jaejoong mempercepat langkahnya di atas trotoar pinggiran kota. Kelamnya malam mengundang angin gunung untuk berhembus dan menghempas kehangatan yang teradiasi dari tiap jendela yang benderang. Hari pertama musim gugur di tahun ini. Tanpa kehangatan, tanpa cinta, tanpa keluarga. Hanya ada dia, sendirian. Jaejoong melirik iri pada keluarga di dalam jendela itu.

Daun-daun bergemerisik lalu terbawa angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Memaksa Jaejoong bergidik dan melanjutkan perjalanannya. Satu gedung sebelum pertigaan jalan selanjutnya ia berbelok, memasuki gang yang tercipta diantara dua buah gedung yang menjulang. Langkah kaki dan deru nafasnya menyatu dengan suara tetesan air. Membentuk suatu instrument menyeramkan yang mengalun dan menggema diantara kegelapan. Merobek kabut keheningan yang serasa begitu menyesakkan dan menakutkan. Selebaran pengumuman pencarian orang tertempel sembarangan di sepanjang tembok. Memperbesar rasa takutnya. Seolah ribuan mata kini sedang mengawasinya. Udara dingin kian menghujam kulit. Memaksa Jaejoong untuk melangkah lebih cepat. Asap mengepul bersama deru dan desah nafasnya. Di ujung jalan, cahaya terang menyeruak dari jendela-jendela sebuah rumah. Satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan. Keindahan dan kehangatan berpadu dan terselip dalam konstruksi kokoh antara ruang kekakuan dan kegelapan lembab berselimut lumut.

Hawa dingin dan menusuk terhempas oleh gelombang rasa hangat yang lembut menerjang kulitnya begitu Jaejong membuka pintu.

" Omo~ dingin sekali" gumam Jaejoong, seraya melepas mantel dan menggantungnya.

TING! KROMPYANG!

Tiba-tiba Jaejoong membeku pada posisinya. Mendengar suara berdenting dari arah dapur. Apakah ada perampok masuk rumahnya? Pikirnya. Otaknya berputar dengan cepat seraya menyambar piala di depannya, dan berjingkat menuju dapur.

Jaejoong terpaku di ambang pintu dapur yang gelap. Ia mengedarkan pandangan, lalu matanya tertuju pada satu sisi di dapurnya. Pintu lemari es terbuka, menebarkan cahaya remang diantara kegelapan. Mata Jaejoong menangkap siluet sesosok tubuh yang membungkuk memunggunginya , mengobrak-abrik isi lemari elektronik tempat pasokan makanannya tersimpan. Beberapa bahan makanan bahkan tergolek begitu saja di lantai. Ruangan tiba-tiba menjadi terang. Namja itu terdiri karena kaget, masih memunggungi Jaejoong. Kaus dalam dan celana jins yang penuh debu dan noda menempel pada tubuh namja itu. Menonjolkan keindahan lekuk-lekuk tendon di lengannya yang tak berkurang walau tertutup noda dan keringat. Namja itu membalikkan badan. Rambut hitam yang berantakan, jenggot dan kumis tipis membayang di wajah itu. sungguh wajah yang tak asing baginya.

Pupil mata jaejong melebar. Ia ingat. Namja itu adalah buronan polisi beberapa tahun lalu. Namja yang fotonya memenuhi dinding gang… Jung Yunho. Mata Jaejoong menangkap sesuatu di pinggang namja itu. Pistol. Disangkutkan rapi di celananya. Jaejong yang gemetar mundur 2 langkah, tangannya makin erat menggenggam senjatanya –piala lomba menyanyi sekabupaten—

"Berhenti." UcapYunho. Jaejoong membeku.

"Berhenti dan mendekatlah kesini. Kau pasti tahu apa akibat tidak mematuhi ucapanku."

Jaejoong mendekat. Raut ketakutan terpatri di wajah cantiknya. Jantungnya memburu. Apa yang akan ia lakukan padaku? Pikir Jaejoong.

"Apa kau bisa memasak? "Tanya Yunho.

"Eh? Mwo?"

"Apa kau bisa memasak?"

"T-t-tentu saja."

"Bagus. Buatkan aku makanan. " ucap Yunho yang berjalan menuju meja makan tak jauh dari tempat Jaejoong. Jaejoong masih membeku dalam keterkejutannya.

"Oh, god! Please! Apa aku harus mengulang dua kali setiap kali aku berbicara padamu!"

Jaejoong melangkah menuju meja, meletakkan senjatanya yang kalah canggih dengan senjata lawan, lalu menuju lemari esnya. Beribu cara ia pikirkan untuk melarikan diri. Namun semua cara itu bisa di patahkan oleh satu detik letusan senjata Jung Yunho. Semua rencana berakhir dengan kematiannya. Ia menyerah. Bila ia harus mati, ia akan menghadapi kematiaan itu dengan tangan terbuka, tapi ia tidak akan bunuh diri. Ia akan berjuang untuk hidupnya. Setelah beberapa puluh menit, Ia pun menghidangkan masakannya di depan Yunho.

"Hanya itu yang bisa kubuat. Karena hampir seluruh isi kulkasku sudah tidak bisa digunakan lagi."ucap Jaejoong. Yunho mulai makan dengan lahap.

"Hmm… Bacon buatanmu enak.. duduklah."

" Ti-tidak.. aku sedang tidak ingin duduk."

"Kubilang duduk dan makan!" ucap Yunho tegas.

"Bila kamu ingin berdiri karena berencana kabur dariku, hal itu tidak akan pernah berhasil. Dan aku tahu kamu belum memakan apapun. Jadi jangan siksa perutmu dan makan."ucap Yunho sambil memakan baconnya.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku!" seru Jaejoong frustasi. Ia tahu bahwa ucapan orang itu benar. Yunho meletakkan alat makanya perlahan di samping piringnya, lalu menatap Jaejoong.

"Aku hanya ingin menumpang bermalam untuk malam ini. Setelahnya aku berjanji tak akan mengganggumu lagi. Sekarang duduk, dan makanlah."

"Apa menurutmu aku masih bisa makan dalam keadaan seperti ini?"seru Jaejoong.

"Sudah ku bilang aku tidak akan menyakitimu dan akan pergi besok. Lalu kenapa kamu yang malah menyiksa diri sendiri?"ucapnya tenang. Jaejoong terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata itu membuatnya bungkam.

"Memangnya aku bisa mempercayai penjahat sepertimu?"Tanya Jaejoong retoris.

"Hahahaha … tapi aku melihat kepercayaan dalam matamu. Sudahlah, sekarang duduk dan makan."

Jaejoong menuruti Yunho untuk makan. Perutnya benar-benar lapar. Yunho hanya tersenyum lembut. Senyum yang sangat kontras dengan wajahnya yang terlihat liar, namun begitu cocok dengan matanya yang kelam dan hangat.

"Aku harus mandi."Ucap Yunho. Bagus! Ini adalah kesempatan Jaejoong untuk kabur. Begitu orang ini mandi, ia akan kabur dari pintu belakang. Yunho berdiri dan meraih tangan Jaejoong.

"Ayo. Aku butuh mandi sekarang."ucap Yunho lagi. Jaejoong menaikkan satu alisnya.

"Mana mungkin aku meninggalkanmu dan membiarkanmu kabur. Kamu harus ikut dengan ku."

"Mwo!"

.:***:.

Rencana Jaejoong berantakan. Bahkan sekarang ia berdiri di sudut kamar mandi melihat namja itu menyabuni seluruh tubuhnya. Suara detak jantungnya bagaikan perkusi yang diiringi gerimis dari shower. Sesuatu bergolak dalam tubuhnya membuat perasaannya tak menentu. Detak jantungnya memburu. Ia pun membalikkan badannya. Menit demi menit berlalu. Suara shower berhenti.

"Ya! Aku sudah selesai." Ucap Yunho. Jaejoong berbalik,terperangah. Wajah Jung Yunho benar-benar berubah. Brewok dan kumis tipisnya hilang, kulitnya putih dan terlihat terawat, begitu… tampan(?), walau hanya di balut dengan kaus dalam dan jins milik Jaejoong.

Jaejoong melangkah ke bawah shower. Melepas bajunya satu persatu. Ia melirik Yunho yang bersandar ditembok dengan santai, kedua tangannya bertengger di kantong, dan matanya menatapnya tanpa ekspresi. Jaejoong mengalihkan pikirannya, dan berkonsentrasi menggosok tubuhnya.

.

.

.

.

Suara televisi menggema ke seluruh ruangan. Semua berita mengulas kaburnya Yunho dari penjara . semuanya karena ia telah melakukan pemukulan pada seorang pengacara dan mengakibatkan kerugian pada bar dalam jumlah sangat besar. Namun ia mendapatkan keringanan hukuman dan akan dibebaskan dua minggu lagi sebelum akhirnya ia kabur dari penjara.

"Ja-jadi dua minggu lagi kamu bebas? Lalu kenapa…" gumam Jaejoong tidak percaya.

"Bukan urusanmu." Ucap Yunho. Jaejoong terdiam. Merenungkan apa yang sebenarnya terjadi hingga tawanan ini memilih kabur disaat ia akan bebas….

"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting buatmu… pikirkan saja masalahmu sendiri…"

"Memangnya siapa yang memikirkanmu… huh! percaya diri sekali…" gerutu jaejoong.

"Eh, keren! Bolehkah aku melihatnya?" Tanya Jaejoong melirik borgol yang masih melingkar di tangan Yunho. Satu mata borgolnya terbuka dan menggantung bebas di tangannya. Yunho menyodorkan tangannya kearah Jaejoong yang duduk di karpet di sampingnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari berita di televisi. Jaejoong benar-benar terpesona oleh borgol itu. setiap sentuhan Jaejoong di borgol itu terasa menjalar hingga ke kulit Yunho. Membuatnya tesenyum. Matanya memang melihat televisi. Namun semua indranya berkonsentrasi menanti sentuhan-sentuhan di borgolnya. KLEK! Mereka berdua membeku. Yunho akhirnya menoleh, melihat tangannya yang kini terjerat bersama tangan Jaejoong. Ekspresi ngeri terpancar dari wajah namja cantik itu.

"A-Apa yang kau telah lakukan!" ekspresi yang sama juga tercermin di wajah Yunho. Yunho mengangkat tangannya, otomatis tangan Jaejoong juga terangkat mengikuti tangannya.

"Ku-kunci! Dimana kuncinya?"seru Jaejoong ngeri.

"Apa kau bodoh? Tentu saja aku tidak punya! Kalau ada pasti sudah ku singkirkan sejak pertama kali aku lepas dari tempat laknat itu!"

"M-Mwo ! gawat! Eotteoke?"

Jaejoong begitu kalut. Sedangkan Yunho hanya membenamkan mukanya disalah satu lengannya yang tertopang oleh lutut. Jaejoong ribut memikirkan cara apa yang mungkin bisa mereka lakukan untuk melepaskan borgol itu dari tangan mereka.

"BISAKAH KAU DIAM! KAU HANYA MEMBUATKU TAMBAH PUSING!"teriak Yunho. Jaejoong membeku. Lalu terdiam. Yunho menghela nafas.

"Maaf.. aku membentakmu… Aku sudah melakukan segala cara untuk melenyapkan benda ini. Namun hasilnya nihil." Tambahnya dalam gumaman. Jaejoong terdiam. Memikirkan orang yang duduk di sebelahnya. Ia benar benar tak habis fikir bagaimana mungkin orang sesopan dia melakukan pemukulan fatal? Rasa nyeri mulai terasa di pergelangan tangannya yang diterkam borgol.

"Lalu dimana kuncinya?"

"Di kantor polisi. di tangan komandan hae" gumam Yunho. Jaejoong terdiam.

DONG! DONG! DONG!

Jam classic di ruang tamu berdentang nyaring membuat kedua orang itu terlonjak karena kaget.

"Kurasa kita berdua harus tidur. Kita pikirkan ini besok. Besok pasti akan jadi hari yang panjang untuk kita berdua." Ucap Yunho.

"Yah.. Ini pasti adalah hari yang melelahkan bagimu." Ucap Jaejoong. Yunho hanya terdiam mendengar nada perhatian dari Jaejoong.

.

.

.

Malam itu mereka tidur satu ranjang. Mata mereka terpejam namun tak ada satupun dari mereka yang tertidur.. hingga akhirnya Jaejoong terjerembab dalam lelap mendahului Yunho. Di pagi harinya ia terbangun dalam mobil porsche kuning miliknya yang melaju kencang melewati gurun yang gersang. Nyawa Jaejoong masih belum terkumpul. Ia hanya terbengong memandang ke depan. Sepuluh detik kemudian,

"I-ini! Ka-kau bawa kemana aku!"seru Jaejoong. Yunho terdiam di belakang kemudi. Tangannya masih bergerak ke kiri dan ke kanan.

"YA! Bukankah kau bilang kau akan pergi dan tidak akan menggangguku lagi!" seru Jaejoong. Yunho masih terdiam.

"YAAA!" Jaejoong kesal,lalu menarik tangannya yang diborgol. Kemudi oleng. Mobil membelok tajam dan berputar di tempat beberapa kali. Jaejoong terhempas menabrak pintu yang kemudian terbuka lebar karena menahan gebrakan dari tubuhnya. Jaejoong hampir terpental ke panasnya aspal, namun sesuatu merengkuhnya. Menahan badannya tetap di jog mobil. Mobil masih bermanuver sebelum akhirnya berhenti. Yunho terengah. Menata nafasnya agar tetap stabil. Jantung Jaejoong berdebum ria. Hampir saja ia mati terlindas mobilnya sendiri.

"APA KAU GILA! BISA KAH KAU BERFIKIR DULU SEBELUM BERTINDAK? KAU HAMPIR SAJA MENCELAKAI DIRIMU SENDIRI!"Bentak Yunho. Jaejoong hanya terdiam dan terhenyak

"Mian hae.." gumamnya sambil menunduk. Yunho benar. Dia tidak berfikir dulu tadi. Yunho terhenyak dalam-dalam ke jog mobil. Ia benar-benar merasa lelah. Mata rubahnya melirik Jaejoong.

"Apa kau lupa, kau yang memborgolku tadi malam? Tidak ada pilihan selain membawamu…"

"Ta-tapi bukankah tadi malam kau bilang akan mencari car—"

"Sudah tidak ada waktu lagi… aku sudah tidak punya waktu lagi… cepat pakai sabuk pengamanmu!" ucap Yunho. Kembali bersiap mengemudi. Mobil porche kuning itu mundur, sebelum berbelok 180⁰, dan melaju dengan kecepatan hampir maksimal.

Setelah beberapa kilometer, Yunho mengerem mobilnya. Membuat Jaejoong hampir terantuk dasbor.

"Ya!" protes Jaejoong. Lalu menoleh kearah Yunho, dan mengikuti arah pandang namja itu.

"Pemeriksaan mobil…" gumam keduanya.

.

.

.

Seorang polisi menunduk, melongok ke jendela setengah terbuka sebuah Porsche kuning. Seorang wanita cantik berambut lurus dan panjang tersenyum. Wanita yang paling cantik yang pernah ditemuinya, bahkan melebihi istrinya.

"A-ada apa ya pak..?" katanya sambil menahan desahan. Sang polisi terlalu terpesona pada wajah wanita itu, hingga terlambat menyadari sesuatu. Wanita itu berada di pangkuan seseorang.

"Ha-hanya ada pemeriksaan mobil ma'am.. Maaf menggangu sebentar.." kata sang polisi yang kini memerah wajahnya.

" Ma-maafkan kami, suami saya masih mabuk, dan saya baru mendapatkan SIM.. ja..jadi… aduh!"

"Langsung saja! Aku tahu kau berniat menggangu istriku bukan mmph-!" namja itu mengankat wajahnya sekilas lalu wanita itu membenamkan wajah suaminya lagi ke pundaknya untuk menutup mulutnya.

"Kau diam saja. Dia hanya melakukan penggeledahan changi! … sekali lagi maaf pak.. dia masih ma..assshhh..ma-mabuk."

"Sa-saya mengerti no-maksud saya nyonya.. boleh kah saya melihat sim anda?"

"ada di belakang.. tapi saya pikir saya tidak bisa mengambilnya sendiri.. Ya! Ya! Chagi! sakit! Hentikan itu!"

"Kau masih membelanya! Lihat saja! Akan kulaporkan atasannya karena menggodamu saat bertugas!"

"Nyo-nyonya, tidak perlu.. aku percaya padamu.. silahkan lanjutkan perjalanan anda.. saya sarankan jangan melaju terlalu kencang.." ujar si polisi kalang kabut.

"Jeongmal yo? Really? Terima kasih ya pak.. that's very kind of you.."

"Suami anda sangat tampan nyonya, tapi menurut saya dia terlalu posesif" Jaejoong hanya tersenyum menanggapi ucapan si polisi. Mobil Porsche kuning itupun melaju perlahan meninggal kan TKP.

.

.

.

Angin berhembus menghantarkan hawa panas ke seluruh benda yang dilewatinya. Sang surya benar-benar berkuasa diatas kepala, dilatari langit yang begitu jernih dan cerah tanpa awan yang menggantung. Menantang siapapun yang menengadah menatapnya. Di sini, di gurun ini, tidak ada yang mampu menghalangi sinar dan panas benda luar angkasa itu. Bahkan musim sekalipun. Dedaunan kering di tengah jalan berputar dipermainkan angin hingga akhirnya hancur terlindas benda bulat dan hitam yang menggelinding dibawah mobil. Sebuah Porsche kuning melaju kencang di jalan beraspal yang membelah gurun. Dua orang namja duduk menempati dua jog di depan. Tangan mereka terborgol satu sama lain. Mereka sudah tidak mempersoalkan hal itu lagi –setidaknya untuk saat ini—karena ada hal lain yang mengalihkan perhatian mereka.

"Hahahaha.. kau lihat wajah polisi itu tadi? Tapi aku heran bagaimana bisa barang-barang ini bisa tersimpan di mobilmu.."

"Hey, tolong jangan berpikir yang bukan-bukan! Ini untuk pesta perusahaan. Mereka kekurangan wanita, dan memaksaku memakainya. … Yang lebih mengenaskan, Bahkan aku lebih banyak berdansa daripada wanita sebenarnya."

"Hahaha kuakui kau memang sangat cantik chagiya… hahha"ucap Yunho sambil mengemudi.

"Mwo ya…"gumamnya sambil mengerucutkan bibir. Tiba-tiba Jaejoong teringat sesuatu. Ia menajamkan pandangannya, dan menoleh cepat kearah Yunho.

"Kenapa kau tadi benar-benar melakukannya! Bukankah kita hanya berpura-pura? Benar-benar memalukan! Lihat! Bahkan bekasnya masih tertinggal. Isssh! Eotteoke! … Ya! Bisakah kau berhenti tertawa! "

"Hahaha… apa kau pikir kau aktris yang hebat? Kau benar-benar tidak pandai berbohong chagia… aku hanya sedikit melakukan improvisasi untuk membantumu…hahaha"

"Hey! Bisakah kau berhenti memanggilku chagi! Menyebalkan sekali! Urgh! Kenapa juga aku masih memakai wig dan baju ini.." Jaejoong memakai tangan yang terborgol untuk meraih wig yang menutupi kepalanya, namun Yunho menarik tanganya untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal hingga tangan Jaejong tertarik kembali. Jaejoong kembali meliriknya dengan lirikan maut. Yunho menoleh ke arah Jaejoong, berpura-pura polos.

"Wae?" tanyanya dengan wajah tidak berdosa. Jaejoong menggembungkan wajahnya dan berbalik menatap jendela. Mengurungkan niatnya untuk melepaskan wig yang dia kenakan.

Sebuah mobil melaju mendahului mereka. Mobil berwarna hitam kusam. Bukan mobil mewah yang mengandalkan kecepatan, melainkan mobil tua yang menonjolkan kekuatan. Tipe satu-satunya mobil yang mampu bertahan dalam tabrakan beruntun yang mematikan. Sangat mengherankan bila mobil model tersebut bisa melaju mendahului mobil Jaejoong yang lebih baru. Hanya satu orang yang mempunyai mobil model tersebut.

"Komandan hae…"gumam Yunho. Jaejoong mengalihkan pandangannya kearah Yunho lagi.

"Maafkan aku Jaejoong -sshi… aku harus memintamu untuk berakting lagi…" katanya seraya mempercepat laju mobil.

Mobil tua komandan hae terparkir di sebuah bar tua. Jaejoong keluar dari mobil diikuti oleh Yunho.

"Kau yakin itu mobil komandan hae?"

"Ya. Aku yakin. Aku begitu mengenal orang itu… kau siap?"

"N-Ne…"

Mereka berdua pun melangkah menuju sebuah bangunan semi permanen yang sudah reyot. Bagi tempat ini, siang dan malam tidak ada bedanya. Begitu langkah memasuki ruangan, tubuh-tubuh seolah ditelan kegelapan dan kabut asap yang menyesakkan. Bar ini benar-benar penuh pengunjung. Jaejoong dan Yunho mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong. Mereka harus cepat. Sebelum seseorang menyadari bahwa tangan mereka berdua terjerat oleh borgol. Yunho menemukannya. Meja kosong disudut bar, tempat tergelap dari semua tempat dari bar itu. Alis Jaejoong terangkat sebelah. Berulang kali ia bolak balik menatap meja itu dan Yunho.

"Yaa! Aku mengingatkanmu. Kau sudah berjanji tidak akan benar-benar melakukannya lagi kan?"bisik Jaejoong. Matanya kini melebar, antara takut dan tidak percaya. Yunho hanya mengangkat bahu sambil tersenyum simpul dan duduk di kursi dekat tembok. Jaejoong yang terjerat bersamanya akhirnya ikut duduk di kursi itu. Matanya beredar ke sekitarnya dengan ngeri.

"YAA! Kau sudah berjanji padaku tidak akan benar-benar melakukannya." Jaejoong benar-benar kalut sekarang.

'Namja ini lucu sekali. Seperti robot boneka di taman bermain yang bila kau isi uang, ia akan bergerak sendiri. Dan kau tidak akan pernah bosan untuk melihatnya'. Pikir Yunho mengulum senyum.

"Kita lihat saja nanti.. semuanya tergantung aktingmu, chagi…."canda Yunho.

"Mwo ya.. kau mengerjaiku lagi.."

"Pelayan akan segera datang. Kau masih ingat apa yang kukatakan tadi?".

Jaejoong mengangguk. Pelayan itu yang nantinya akan membawa komandan hae bergabung dengan mereka. Yunho memindahkan rambut panjang Jaejoong yang menjuntai dipundaknya ke punggung dengan cepat dan lembut.

"Kau tidak boleh salah Jaejoong-sshi. Semua orang disini akan melakukan apapun hanya untuk mendapatkan kepalaku." Bisiknya sambil meletakkan kepala ke bahu Jaejoong.

"Ya..aku tidak akan membiarkan kepalamu hilang sebelum borgol laknat ini hilang dari tanganku."jawab Jaejoong dalam bisikan juga. Yunho terdiam mendengar jawaban Jaejoong.

"Kalian mau pesan apa?"Tanya seorang wanita yang kelihatanya berumur dua puluh tahunan.

"Delapan gelas bir… dan satu fuit punch"jawab Jaejoong.

"Delapan? Hanya untuk dia saja?" Tanya wanita pelayan itu.

"Yah.. dia sedang ada masalah-"ucapan Jaejoong yang langung terhenti. Yunho kini melingkarkan lenganya ke leher itu dan menyembunyikan wajahnya. Terisak. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Mata Jaejoong membelalak. Bahunya terasa basah. Isakkannya terdengar memilukan.

"Bi-bisakah anda cepat sedikit?" ucap Jaejoong panik. Wanita itu pun beranjak pergi dengan terburu-buru.

"Hey, dia sudah pergi.. sudah... ada apa denganmu? Ini melenceng dari rencana kan?" bisik Jaejoong. Bahu Yunho masih bergetar di pelukan Jaejoong. Dada Yunho serasa meledak.

Tak lama kemudian wanita itu datang. Bersama komandan hae.. komandan itu tidak seperti bayangan Jaejoong. Dia terlihat ramah dan baik.

Jaejoong berdiri, begitu juga Yunho. Berlari bergandengan dan menabrak komandan hae. Berusaha mencuri kunci yang tersampir di kantongnya. Mereka berempat terjerembab dan terjatuh. Tangan Yunho beraksi merogoh kantong komandan Hae namun kunci itu tidak ada. Ada dimana kunci itu? Mereka semua berdiri.

"Maafkan kami ahjussi.. kami sedang terburu-buru. Ini, dompet anda terjatuh.." Jaejoong menunduk memberi salam lalu berlari menyeret Yunho yang membeku di tempat.

.

.

.

Roda bergulir cepat di aspal hitam dan panas. Yunho frustasi. Tidak tahu lagi ia harus berbuat apa. Matanya lurus menatap depan. KLEK! Sang surya yang tadi berjaya di puncak mulai tergelincir kesudut empat puluh lima derajat. Mungkin sudah jam tiga, pikir Yunho. Tiba-tiba sebuah kunci terjatuh dan menggantung pada sebuah tali di depan mukanya. CHIIIIITTT. Tubuh Jaejong menubruk dasbor.

"Mi-mian..! gwaenchanna?" Tanya Yunho.

"gwaenchanna apanya! Aigoo.. sakit sekali."

"Ba-bagaimana kunci itu ada padamu? Tadi—"

"Aku mengambilnya lebih dulu. Balas dendam. Siapa suruh mempermainkanku. Bukan kau bilang akan berpura-pura memperkosaku saat mabuk, lalu saat komandan itu datang kita kabur. Huh kau sudah membuatku galau tadi."

Yunho meraih kunci, dan membuka borgol di tangannya. Di putarnya lengan itu didepan wajah. Hari sebentar lagi malam. Ia tidak boleh membuang buang waktu. Waktunya semakin sempit . Tidak ada pilihan lain.

"Mian, setelah ini, kau resmi aku Sandra Jaejoong-sshi" ucapnya sambil menodongkan revolver miliknya ke arah Jaejoong. Jaejoong terduduk membeku. Mulutnya terbuka, Matanya membelalak menatap namja itu.

"Pakai borgol ini, cepat!" ucap Yunho. Jaejoong masih mematung tak percaya.

"Aku bilang cepat! Jangan sampai aku menembak kakimu hanya untuk memaksamu memakainya."

Jaejoong menelan ludahnya. Lalu meraih borgol di tangan Yunho. Yunho melihat garis merah di tangan Jaejoong, bekas borgol sebelumnya. Matanya melirik ke belakang kearah baju pria Jaejoong, secepat kilat ia mengambil dan merobeknya sedemikian rupa.

"Lilitkan ini di borgol. Tolong lakukan dengan cepat! Sudah tidak ada waktu lagi!"

Kini kedua tangan Jaejoong terborgol. Matanya menatap Yunho dengan pandangan tak percaya, menuduh, dan kecewa menjadi satu. Yunho mengamankan senjatanya dan menyimpannya lagi dipinggang. Sedangkan kunci bertali itu di belitkannya ke pergelangan tangan yang jauh dari tempat Jaejoong duduk.

Pedal diinjak dalam-dalam hingga menimbulkan suara berdecit yang memekakkan telinga disertai derum mobil yang berpacu berusaha mengejar sang waktu. Jaejoong terdiam. Ribuan pertanyaan bergaung di kepalanya. Namun ia tidak akan melakukannya. Ternyata orang ini benar-benar penjahat. Ia telah salah mengira namja malang ini hanya orang baik yang terperosok dalam kubang fitnah. Ya.. ia salah. Namja ini, Jung Yunho adalah penjahat cerdik dan bermulut manis dan pandai merangkai kata-kata. Penipu. Bahkan sejak awal tidak ada satu pun janji dari mulutnya yang terpenuhi. Jaejoong membodohkan diri sendiri.

Laju mobil melambat, kemudian terhenti di pinggir jalan. Yunho menggebrak kemudi.

"Shitt! Aku lupa mengisi bensinnya." Seru Yunho. Ia membanting punggungnya ke jog dan menghela nafas panjang. Lalu menolehkan wajahnya ke Jaejoong yang sedang memandang kaca dan tersenyum.

"Kau senang ya?" kata Yunho tersenyum. Jaejoong mengubah ekspresi wajahnya menjadi ekspresi tidak perduli.

"Apakah kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada dirimu juga kalau mobil ini mogok?" senyum itu masih menghiasi wajah Yunho saat mengucapkannya. Ekspresi Jaejoong berubah kosong.

'Anak ini benar-benar ekspresif =.= menggemaskan.' pikir Yunho sambil membuka pintu mobil segera turun dan membukakan pintu untuk Jaejoong.

"Turun! kita harus berjalan sampai pom bensin." Ucap Yunho.

"Mwo? Itu kan 3 KM lagi?" seru Jaejoong yang akhirnya angkat bicara.

"Lebih tepatnya 4KM lagi. Oh.. menyenangkan sekali bukan?"ucap Yunho pedas lalu menyeretnya turun.

.

.

.

Matahari bersinar tanpa ampun. Awan-awan masih ogah-ogahan melintas di bawah matahari yang begitu congkaknya melapukkan bebatuan hingga menjadi pasir berwarna keemasan yang indah dan tersapu angin yang membelai lembut. Beberapa hewan melata sesekali terlihat melintas diantara rerumputan yang masih perkasa hidup di alam yang kejam itu. dua orang namja terseok-seok berjalan. Dan beberapa saat ekspresi bahagia memantul di wajahnya. Mereka sampai di pom bensin. Yunho mencari jerigen , dan mengisinya dengan bensin. Sedangkan Jaejoong langsung menyerbu toko 24jam yang fullAC yang sedang tutup. Yunho beruntung.

Beberapa menit kemudian, Yunho memasuki toko, mencari keberadaan Jaejoong. Ia tersenyum samar. Jaejoong sedang memakan roti dengan kedua tangan nya yang terborgol di sudut toko. Yunho memegang kedua bahu jaejoong dari belakang, mendorongnya lembut menuju toilet. Jaejoong yang masih menggalakan upaya ngambek dan mogok bicara. Hanya bisa diam dan pasrah sambil mengusung tanda Tanya besar dalam otaknya.

Mereka sampai di depan pintu kamar mandi. Yunho mendorong bahu itu perlahan memasuki toilet yang untungnya bersih itu. Jaejoong berbalik.

"Mian hae Jaejoong-sshi.."gumam Yunho lirih, lalu menutup pintu. Jaejoong hanya terdiam di belakang pintu yang terkunci, namun matanya terbelalak lebar. Yunho berlari, mengambil beberapa makanan dan minuman lalu menjatuhkannya melalui lubang ventilasi.

"Jaejoong-sshi.. aku akan mengambil mobil dan kembali kesini. Maafkan aku.."

Suara derap kaki Yunho menggema diantara kesunyian. Jaejoong masih terdiam. Tidak bersuara sama sekali.

Mobil Porsche kuning itu sudah bangkit, dan melaju menyusuri aspal yang tak begitu panas menit. Waktu yang ditempuh Yunho untuk kembali ke mobilnya. Sekarang ia melaju untuk menjemput tawanannya. Porsche itu berhenti di tempat parkir. Ia harus cepat sebelum si pemilik mengetahui tokonya telah dijarah. Yunho berlari menuju kamar mandi, dan mendapati kamar mandi itu telah kosong. Plastik-plastik bekas makanannya betebaran di lantai. Jendela kamar mandi pecah.

'Kemana namja itu?' pikirnya. Yunho kalut. Tak ada rumah dalam radius puluhan kilometer di sekitar sini. Ia pun berlari ke belakang toko, dan menemukan Jaejoong tergolek bersimbah darah. Luka sobek panjang tertoreh di lengannya bagian atasnya. Bahu Yunho merosot.

.: T B C :.

Terima kasih udah baca ff saya yang agak agak gak jelas... hahaha
dan buat Fairish13, MaxAberu, Mellchaaa, widiwMin, jeje100607 benar-benar terima kasih banyak... ini udah aku repair..semoga gak ada yang salah lagi.. hehehe

bales RCLnya di chap selanjutnya yah... Jeongmal Gomapsumnidaa... Arigatou Gozaimasu... xiexie ni men...