Satu Kisah Ringan

Mommiji Aki

Disclaimer : Clamp School Detective itu buatan CLAMP

Saya hanya fans yang membuat cerita dengan meminjam tokohnya saja

Warning : hints shonen-ai, gaje, labil, membingungkan, gak jelas

Dibuat untuk memenuhi P-FFC 50 Sentences II

Don't Like Don't Read

2011


Biru

Mungkin dua pengurus OSIS SD lainnya tidak tahu kalau Nokoru menyukai warna biru. Karena biru selalu mengingatkannya pada Sekretaris OSIS yang dingin itu.

Akhir

Nokoru sudah kelas enam SD, itu berarti dirinya sebentar lagi akan berada di SMP. Jika saat itu tiba, maka tugasnya sebagai Ketua OSIS SD juga berakhir. Maka yang akan ia rindukan selama setahun awal di SMP adalah kecerewetan Suoh mengenai tugasnya yang terbengkalai. Hanya setahun, karena tahun berikutnya dia akan bisa kembali bersama anak laki-laki judes itu.

Empat

"Kurasa empat cukup. Bagaimana menurutmu, Suoh?" Nokoru mengalihkan perhatiannya pada Suoh yang baru saja mengangkat cangkirnya.

"Mungkin. Memangnya apa yang empat kaichou?" Tanya Suoh sebelum menghirup tehnya.

"Anak nantinya." Sukses membuat Suoh memuncratkan minumannya dengan tidak elit.

Jiwa

Dulu, Suoh tidak menyukai perkataan ibunya yang selalu mengatakan bahwa suatu saat nanti dirinya akan mengorbankan jiwanya demi melindungi seseorang. Tapi setelah bertemu dengan sosok berambut pirang itu Suoh sadar ibunya benar. Dia rela mengorbankan jiwanya demi orang itu.

Bintang

"Wah, bintangnya indah ya, kaichou, Takamura-senpai," seru Akira girang.

"Ya, bagimana menurutmu kaichou?" Nokoru tersenyum. Baginya, orang di sebelahnya saat inilah bintangnya yang paling bercahaya.

Rahasia

"Foto apa itu Kaichou?" Tanya Akira yang melihat selembar foto yang baru saja terjatuh. Nokoru memungutnya dan tersenyum. Fotonya dan Suoh—dimana dia tersenyum menghadap kamera sementara Suoh membuang mukanya. Awal dia dan Suoh berteman—rahasia kecilnya dan Suoh yang Akira tak perlu tahu.

Cinta

Selama ini Nokoru selalu baik pada semua anak perempuan, tanpa ada yang tahu siapa wanita yang dicintainya. Mereka semua tidak tahu, bahkan Nokoru pun tidak mengerti. Tapi yang pasti, dia selalu menaruh perhatian pada Sekretaris OSIS-nya.

Dia

"Untuknya, dia yang duduk di seberang sana. Untuknya, dia yang sedang serius menulis. Untuknya, dia yang tega sekali menyuruhku mengerjakan berkas menumpuk ini. untuknya, dia ya—"

"Kerjakan saja tugasmu tanpa mengeluh!" Seru Suoh yang panas karena sejak tadi disindir oleh ketuanya.

"Mou~ aku kan hanya membacakan puisi untukmu," elak Nokoru yang langsung diam ketika Suoh sudah siap melemparnya menggunakan kursi.

Musik

"Dengar-dengar! Aku baru saja diajarkan cara bermain biola! Kalian dengar ya!" Nokoru tersenyum lebar kemudian memposisikan biolanya di pundaknya—siap memainkannya.

NGEK NGOK NGIIIIING

"Gimana? Gimana?" Tanya Nokoru dengan hebohnya.

"Jelek sekali." Nokoru syok mendengar komentar Suoh.

"Kurasa kaichou tidak berbakat soal biola deh," komen Akira dengan senyum polosnya.

"Ba—bahkan Akira pun…"

Hampa

"Ruang OSIS ini…" Nokoru memperhatikan seluruh ruangan yang biasanya penuh dengan meja, kursi dan dokumen-dokumen bertebaran sekarang lenyap. "Hampa sekali sih, kosong."

"Loh? Kaichou tidak ingat?" Kata Akira. "Kan kaichou yang menyuruh semua barang-barang di sini dibuang."

"Kapan aku mengatakannya?"

Mungkin

Mungkin kalau dulu bukan karena ulah para fansgirl yang meminta foto dirinya dan Suoh bersama, mereka tidak akan bertemu. Mungkin kalau dulu bukan karena acara penculikan itu, dirinya dan Suoh tidak akan berteman.

Mungkin jika hal itu tidak terjadi… Nokoru sendirilah yang akan memikirkan cara agar dirinya dan Suoh bertemu dan berteman.

Pencuri

Mengambil milik seseorang tanpa izin memang perbuatan yang buruk. Tapi hal itu bisa Nokoru maafkan dengan mudah kalau pelakunya adalah Suoh… yang telah mengambil hatinya tanpa izin.

Dingin

Suoh boleh bertampang dingin pada siapapun dan bersikap dingin pada siapapun. Tapi di hadapan Nokoru, sikap dingin itu mencair karena kehangatan Nokoru untuk Suoh.

Hancur

Nokoru dapat melihat kalau Suoh dan Nagisa begitu serasi. Tampak begitu cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Suoh pun juga terlihat begitu bahagia, tapi dia bohong kalau mengatakan hatinya tidak hancur melihat kedekatan dua sejoli itu.

Diam

"Imonoyama-san. Takamura-san dan Akira-chan katanya sudah memiliki pasangan masing-masing. Apakah anda juga mempunyai pujaan hati sendiri?" Tanya salah satu fans Nokoru.

Nokoru hanya tersenyum kalem dan diam tanpa ada niat untuk menjawabnya.

Malam

Kalau pasangan siang yang begitu hangat adalah malam yang terasa dingin. Maka Matahari itu adalah Nokoru dan malamnya adalah Suoh.

Matahari

Suoh memang dingin dan jarang tersenyum. Sebut saja dia pangeran es, tapi es itu pun cair jika sudah berhadapan dengan sang surya yang selalu berhasil membuatnya tersenyum—Nokoru.

Kenapa

Jangan tanya kenapa Nokoru selalu saja menghindari tugas-tugasnya. Jangan tanya kenapa Nokoru kebal terhadap omelan-omelan Suoh. Jangan tanya kenapa Nokoru senang sekali menggoda Suoh.

Karena jawabannya sudah jelas. Nokoru tidak pernah bosan melihat berbagai macam ekspresi anak laki-laki itu.

Kunci

"Kasus! Bagaimana mungkin ruang OSIS bisa terkunci padahal kita meninggalkannya tanpa menguncinya?" Ucap Nokoru dengan gaya khasnya. Suoh melipat kedua tangannya dan berfikir. Memang mengherankan bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.

"Kaichou! Takamura-senpai, kenapa hanya berdiri di luar?" Akira yang baru datang memperhatikan dua kakak kelasnya yang berdiri di luar ruangan.

"Akira! Ini gawat!" Nokoru memegang bahu Akira dengan ekspresi serius. "Kasus! Pintu Ruang OSIS terkunci begitu saja!" Akira mengerjapkan matanya kemudian merogoh saku celananya.

"Tentu saja terkunci," Akira menunjukkan kunci ruang OSIS. "Kan tadi kaichou yang menyuruhku menguncinya."

"Eh? Be—benar juga! Hahaha," Nokoru bertolak pinggang dan tertawa gugup. Suoh menahan dirinya untuk tidak memukul kepala ketuanya itu.

Hujan

"PELANGI!" Seru Nokoru tiba-tiba, mengagetkan Suoh dan Akira yang tadi sedang mengerjakan tugasnya.

"Apa? Pelangi? Dimana kaichou?" Tanya Akira menghampiri jendela dan memperhatikan langit. Jangankan pelangi, awan saja tidak ada. "Tidak ada kaichou," Akira menoleh pada Nokoru yang sibuk dengan ponselnya.

"Aku tahu. Makanya aku ingin menelepon pusat cuaca untuk menurunkan hujan agar pelanginya muncul."

Hitam

"Yah, kaichou kalah lagi!" Sorak Akira mengambil kuas tinta dan mencoreng wajah Nokoru diikuti Suoh. "Hmpf—kaichou, wajahmu jadi hitam sekali, berapa kali sudah kau kalah?" Tanya Akira menahan tawanya. Nokoru yang dari tadi kalah bermain kartu harus rela wajahnya dicoreng dengan tinta, tapi ini kekalahannya yang entah keberapa sehingga wajahnya sudah penuh dengan tinta.

"Akh! Siapa yang mengusulkan mencoreng wajah kalau kalah sih!" Protes Nokoru kesal wajahnya telah hitam sepenuhnya.

"Kaichou sendiri!" Jawab Suoh dan Akira spontan.

Biskuit

"Wah, seperti biasanya. Kue buatan Akira memang yang terenak. Biscuit ini juga," puji Nokoru mengunyah kuenya lahap.

"Terima kasih, aku senang kalau kaichou dan Takamura-senpai suka," kata Akira senang. Nokoru mengambil satu lagi biscuit di atas piring.

"Wah, bentuk kucing yang bagus," ucap Nokoru riang.

"Itu kelinci, kaichou."

"…"

Air

"Suoh, kau kenapa?" Tanya Nokoru heran dengan kedatangan Suoh yang basah kuyup. Akira dengan sigap memberikan handuk—entah darimana—pada Suoh. Setelah mengucapkan terima kasih pada Akira, Suoh mulai mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk itu.

"Aku—tercebur di kolam air mancur," Nokoru mengerjap heran, sementara Akira diam. Sedetik kemudian terdengar tawa terbahak Nokoru bergema di ruangan itu.

Curang

"Sebelah mana?" Suoh mengangkat tangannya yang terkepal sejajar bahu dan memandang Nokoru yang tampak berpikir.

"Pasti kiri!" Seru Nokoru yakin. Suoh membuka kedua telapak tangannya dan ternyata koin yang tadi ia lemparkan berada di sebelah kanan. Nokoru syok melihatnya, padahal ia yakin benar koin itu ditangkap Suoh di tangan kiri!

"Nah, sesuai janji, kaichou harus menyelesaikan dokumen-dokumen itu hari ini juga!" Kata Suoh tak mau dibantah. Walau kesal, Nokoru tak mungkin melanggar janjinya sendiri dan mulai mengerjakannya tugasnya.

"Ah, padahal aku juga yakin koin itu ada di sebelah kiri," kata Akira pada Suoh. Suoh menurunkan tangan kirinya dan koin meluncur jatuh dari lengan bajunya. "Ba—bagaimana?"

Suoh meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya dan mengedipkan sebelah tangannya. "Kalau tidak begini, kaichou tidak akan mau menyelesaikan tugasnya," dan dua pengurus OSIS itu tertawa kecil.

Mimpi

"Kaichou," suara Akira membuyarkan lamunan Nokoru. Anak laki-laki jenius itu menoleh pada Bendahara OSIS-nya.

"Ada apa Akira?" Tanya Nokoru kalem.

"Aku hanya ingin memberitahukan kalau kita harus segera pergi ke SMA untuk membahas festival gabungan. Apa yang Kaichou lamunkan tadi?" Nokoru tersenyum misterius kemudian melirik Suoh.

"Mimpi indahku semalam," Suoh bergidik merasakan hawa dingin menerpanya. "Mimpi yang indah."


Untuk tema ke-24 Curang. Itu game lempar koin dan tebak dari HunterxHunter sebenarnya. Waktu Gon, Kurapica sama Leorio ada di rumah pelayannya Killua itu tuh. Kepala pelayan yang namanya Goto (bener gak?) itu kan ngasih game gitu kan? Nah, triknya ya dari situ itu #gak kreatif #dibuang