Merodine V Presented

"Vocaloid Story 2"

Disclaimer: Vocaloid adalah ciptaan Yamaha dan Crypton

A/N: Akhirnya Vocaloid Story 2 update! Sekaligus dua fic multichap lain, "Ghost Lens" sama "Boysband VS Girlsband". RnR okay?

Warning: Don't like, Don't read


Chapter 1 "New Vocaloid Come"

Hari yang cerah di Crypton. Siswa-siswi mulai bersiap menuju ke sekolah untuk melanjutkan kegiatan rutin mereka. Begitu pula, dengan para Vocaloid.

"Kei-kun! Cepat, cepat!" ucap Miku, menyuruh Keitarou untuk lebih cepat.

"Ya, ya! Aku akan segera datang!" Keitarou menuju ke depan gerbang rumahnya.

"Hihihi... Maaf kalau hari ini kami terlalu bersemangat, ya. Kami sudah tidak sabar dengan kelas baru kita di sekolah tahun ini." ucap Miku dengan senyumnya seperti biasa.

"Apakah mungkin kita semua akan berada di kelas yang sama lagi tahun ini?" tanya Neru.

"Maybe. Tapi, juga ada kemungkinan kelas kita akan diacak nantinya." ucap Keitarou. Wajah para Vocaloid berubah menjadi cemas.

"Sudah, tidak apa-apa. Sekalipun berbeda kelas, kita kan masih dapat bertemu di ruang klub. Iya, kan?" ucap Meiko.

"Betul!" seru mereka semua, kembali bersemangat.

"Sekarang, waktunya berangkat ke sekolah! Cerita baru kita sudah menanti disana!" seru Miku, diikuti sorakan Keitarou dan Vocaloid lain.

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

(Keitarou P.O.V)

Ini adalah keajaiban terbesar dalam hidupku. Aku yang dulu hanya dapat diam di kelas sendirian, tidak punya teman, sekarang malah asik bersama para Vocaloid ini. Sejak pertama kita semua bertemu, tidak banyak yang sudah berubah.

"Aku lebih suka di rumah. Sinyal di rumah Keitarou lebih kuat dibandingkan di sekolah." keluh Neru sambil terus memainkan HP-nya. Aku hanya dapat tersenyum kecil mendengar perkataan Neru. Aku pun menoleh kearah Gakupo yang masih terus membawa samurai ke sekolah, dari dulu sampai sekarang.

"Gakupo, apakah samurai itu sebegitu pentingnya bagimu? Sampai-sampai kau selalu membawanya ke mana pun." aku mencoba bertanya kepada Gakupo.

"Samurai ini bagaikan hatiku. Buktinya, ada nama Megurine Luka di samurai ini. Sama seperti hatiku yang ada nama Megurine Luka didalam hatiku." ucap Gakupo sambil melirik kearah Luka.

"Jangan samakan aku dengan samurai, Gakupo." ucap Luka tanpa merubah ekspresi wajahnya. Aku hanya dapat sweatdrop melihat tingkah mereka berdua sehari-hari.

"Kei-kun, apakah tahun ini akan menjadi seperti tahun sebelumnya?" tanya Miku.

"Maksudmu?" aku bingung mendengar perkataan Miku.

"Apakah kejadian hebat seperti saat di pentas seni tahun lalu dapat terjadi lagi?" Miku memperjelas pertanyaannya.

Aku sungguh mengerti apa yang dimaksud oleh Miku. Bukan. Dia bukan mencari popularitas. Tapi, dia sangat senang apabila banyak orang yang bahagia mendengar nyanyian merdunya. Hati Miku memang benar-benar berbeda dari penyanyi-penyanyi lain sekarang ini. Dia menyanyi hanya untuk menghibur, bukan untuk dirinya. Aku pun tersenyum kepada Miku dan tersenyum,

"Keajaiban dapat terjadi kapan saja, Miku. Mungkin, tahun ini akan ada hal yang lebih besar." ucapku. Ku lihat, senyuman Miku juga kembali terlihat di wajah innocent-nya.

"Ya! Keajaiban dapat terjadi kapan saja!" ucapnya riang. Aku tersenyum kembali kepada Miku. Dia benar-benar hebat menurutku. Hehehe...

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

(Miku P.O.V)

Aku sangat senang saat Keitarou berkata kalau tahun ini, mungkin saja, akan terjadi hal yang lebih besar dari tahun kemarin. Aku penasaran apa yang akan kami lalui lagi tahun ini. Sungguh, rasa berdebar-debar ini membuatku ingin melompat dan melampiaskan kebahagiaanku. Hihihi...

Sampai di sekolah, aku melihat sudah banyak orang melihat ke papan pengumuman kelas yang baru. Aku dan yang lainnya langsung saja berdiri di depannya dan melihat nama kami berada di kelas mana.

"9-C." aku melihat namaku disana.

"9-B. Sial, aku tidak sekelas denga Miku." ku dengar Kaito mengeluh seperti itu. Aku menoleh kepadanya sambil tersenyum dan berkata,

"It's ok, Kaito."

"Hehehe... Kalau kau yang berkata begitu sih, aku percaya deh." ucapnya sambil tersenyum juga.

"Cih, aku sekelas dengan Miku." dengus Neru dengan nada ketus. Aku menoleh kepadanya, tersinggung.

"Kau keberatan, huh? Pindah kelas saja sana." ucapku tidak kalah ketus. Neru memandang kesal kepadaku sambil mengembungkan pipinya, tapi aku menilai itu tadi lucu. Hihihi...

"Apa? Ini tidak dapat dipercaya! Ini kutukan! I-Ini benar-benar buruk!" sekarang, aku mendengar kedua saudara kembarku ini berisik sekali.

"Siapa makhluk kejam yang berani memisahkan aku dengan Len...? Ini kejam..." ucap Rin yang hampir menangis.

"Sial, ini benar-benar di luar dugaan kami. Aku malah berada di kelas 9-C." ucap Len.

"Kagamine Rin... Kelas 9-E, ya? Hmm... Aku juga di kelas yang sama." ucap Keitarou. Tangis Rin langsung berhenti.

"Tidak ada Len, tapi bersama Keitarou. Ah, tidak apa-apalah. Hihihi..." ucap Rin. Aku tersenyum kecil melihat adik kecilku itu.

"Hei, Kagamine Len, duduk bersamaku ya?" ajakku. Tapi, aku juga mendengar Neru berkata demikian. Aku dan Neru pun saling memandang dengan tatapan deathglare. Terasa ada aliran listrik diantara tatapan mata kami.

"Kalau Len bersamamu, dia bisa jadi maniak negi! Itu berbahaya!" ucap Neru. Aku sangat tersinggung mendengar ucapannya.

"Kalau Len bersamamu, dia bisa terkena penyakit handphone addicted, dan menjadi idiot sepertimu!" ucapku lebih keras.

"Cukup. Kalian tentukan dengan gunting, kertas, batu saja." ucap Len melerai pertengkaran kami.

"Setuju!" ucapku dan Neru. Kami berdua pun bermain gunting, kertas, batu. Setelah hitungan ketiga, aku mengeluarkan gunting. Aku lihat, Neru mengeluarkan kertas.

"Hahaha... Aku menang, Akita Neru! Kau memang tidak akan pernah bisa lebih baik dari aku!" ucapku senang. Tapi ternyata Neru mulai menangis.

"Hiks, hiks... Bahkan, demi Len saja aku kalah dari Miku... Hiks, hiks..." ucap Neru pelan. Dia menyembunyikan wajahnya.

Bagaimana ini? Bisa-bisa, setelah ini dia akan menjadi sangat benci kepadaku. Aduh...

"Miku, maafkan aku. Aku rasa, aku akan duduk bersama Neru nanti." ucap Len tiba-tiba. Aku menoleh, menatap Len dengan tatapan sedih.

Tapi, kalau aku pikirkan, ini tentu tidak baik bagi Akita Neru. Aku rasa juga Len lebih senang kalau duduk bersama Neru. Jadi, aku pun membuat keputusan. Aku tersenyum kepada Len dan berkata,

"Baiklah, Len. Aku tidak apa-apa, kok." ucapku. Len mengangguk sambil tersenyum.

"Nah, Akita Neru, kau dengar sendiri kan? Miku tidak apa-apa kalau aku duduk bersamamu lagi di kelas nanti. Sekarang, berhenti menangis." ucap Len, mencoba menenangkan Neru.

"Siapa yang menangis? Hehehe..." Neru bangkit dengan senyuman licik di wajahnya. Tapi, matanya masih agak basah, dan itu membuktikan kalau Neru benar-benar menangis tadi.

"Kau menangis barusan, bodoh." ejekku. Dia kembali menyeka wajahnya dengan lengan seragamnya.

"Berhenti berkata begitu, atau aku akan membuat ratusan negi menyumpal mulutmu itu." ucapnya kesal.

"Aku akan menelannya dengan senang hati." ucapku tersenyum. Neru baru sadar kalau ucapannya salah. Itu pun setelah dia berpikir dengan wajah bodoh-nya itu cukup lama.

"Bukan dengan negi, maksudku! Dengan... Ngg... Dengan jeruk!" ucap Neru lagi. Rin langsung melempar Neru dengan jeruk (lagi). Kali ini, tidak menyumpal mulutnya lagi. Hanya berhasil membuat kepalanya benjol (?).

"Rin, buang semua jerukmu itu!" ucap Neru kesal.

"Saat kau mau membuang alat bodoh berwarna kuning-mu itu." ucap Rin sambil menunjuk HP Neru.

"Ku bunuh dulu kau!" ucap Neru.

"Kalau begitu, aku juga tidak akan membuang jeruk-jerukku. Yeee..." ledek Rin. Neru hanya dapat diam.

"Ok lah, Neru. Aku kan sudah setuju kalau kau duduk bersama Len. Jadi, jangan bertengkar lagi, ok?" ucapku sambil tersenyum. Wajah Neru sempat tersipu mendengar ucapanku, tapi dia langsung mengalihkan pandangannya.

"Sudahlah, itu tidak penting." ucap Neru, masih salah tingkah. Aku tersenyum kembali kepada Neru.

Ternyata, cukup lama kami berdebat di depan papan pengumuman itu. Sekarang, sekeliling kami sudah mulai sepi karena yang lainnya sudah menuju kelas barunya masing-masing. Kami pun juga segera menuju ke kelas kami masing-masing setelah mengetahui kelas kami. Aku, Neru, Len di kelas 9-C. Meiko, Kaito, Gakupo, dan Luka di kelas yang sama, 9-A. Aku iri kepada Meiko sebenarnya, tapi lupakan saja lah. Rin dan Keitarou berada di kelas 9-E. Eh, Teto juga deh di kelas 9-E. Sedangkan, Haku sendirian di kelas 9-B.

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

(Haku P.O.V)

Sial sekali... Aku sendirian di kelas baru-ku kali ini. Apakah aku bisa baik-baik saja di kelas ini sendirian tanpa yang lainnya? Uhh... Aku sangat tidak yakin.

Perlahan, aku berpisah dengan saudara-saudaraku dan memasuki ruang kelasku. Setelah Gakupo, Luka, Kaito, dan Meiko masuk ke kelas mereka, perasaan tidak enak mulai muncul di hatiku. Bahkan, saat Miku, Neru dan Keitarou memasuki kelasnya, aku masih belum berani masuk kelas.

"Hei, neechan. Segera masuk." ucap seseorang dari belakangku. Aku terkejut dan tubuhku bergetar. Dengan perlahan dan takut, aku menoleh kepada suara itu.

"Ada apa?" tanyanya saat menatapku. Seorang laki-laki... Sangat mirip penampilannya denganku. Siapa dia sebenarnya?

"Hei, neechan. Kau aneh sekali." ucapnya sekali lagi, menyadarkan aku dari lamunanku. Tunggu... Dia memanggilku neechan?

"Ah, ehm... I-Iya." ucapku dan minggir dari depan pintu. Paling tidak, aku tidak menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam kelas.

"Neechan, masuklah bersamaku." ucapnya lagi. Aku bertambah bingung.

"Apakah... Kau mengenalku?" aku mencoba bertanya.

"Of course, Haku neechan. Aku adikmu, Dell Honne."

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

(Someone P.O.V)

Aku masuk ke dalam kelas dengan malas. Tidak ada yang menarik di sekolah ini. Itu jauh berbeda dari apa yang aku inginkan. Kenapa sih ayah menyuruhku masuk ke sekolah ini? Huh...

Di dalam kelas aku tidak menemukan seorang pun yang menarik bagiku. Pandanganku terus berputar pada seisi kelas yang sangat berisik itu. Tapi, pandanganku terhenti pada seseorang. Orang yang ayah pernah ceritakan kepadaku. Aku pun mendekatinya.

"Hei, kau siapa?" tanyaku sambil duduk di depan meja di hadapannya. Dia menoleh dengan tatapan bingung.

"Kau yang siapa? Baru datang sudah menanyaiku seperti itu. Dasar aneh." ucapnya jengkel, den membuat aku agak kesal juga. Aku langsung mengacak-acak rambut halus anak itu.

"Hehehe... Maaf, maaf." ucapku sambil nyengir. Dia malah menatapku dengan tatapan yang lebih kesal sekarang ini.

"Pergi kau dari depanku." ucapnya pelan dan lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela kelas. Aku malah duduk di sampingnya sekarang.

"Kau Hatsune Miku, kan?" tanyaku sambil tersenyum ramah. Tapi, dia menjawab hanya dengan sekali mengangguk saja. Sepertinya, dia benar-benar kesal olehku.

"Ok, Hatsune Miku. Aku minta maaf atas perlakuan usilku barusan. Wajar kalau seorang kakak melakukan itu kepada adiknya yang selama ini selalu ingin ditemui oleh kakaknya ini." ucapku. Dia kembali menatapku sekarang.

"Kakak? Sejak kapan aku punya kakak?" tanya Miku dengan tatapan polosnya. Tatapan inilah yang membuat aku selalu ingin mengusilinya. Aku mencoba menahan perasaan ini, tapi aku sudah tidak tahan dan lalu mencubit kedua pipinya.

"Aew... Lephaskhann... Fffu..." ucapnya. Aku tertawa-tawa melihat Miku seperti itu. Aku pun melepaskan kedua pipinya.

"Itu hukuman karena tidak mengetahui kakakmu ini sebenarnya siapa. Tega kau, Miku." ucapku. Miku kembali memasang wajah kesal.

"Tidak dapatkah kau berlaku biasa saja dan jangan pernah menyentuhku lagi? Sekarang, perkenalkan saja dirimu, baru aku bisa mengerti ucapanmu." ucap Miku jengkel.

"Baik. Aku adalah salah satu Vocaloid baru ciptaan Crypton Yamaha Corporation. Ayah bilang, aku adalah kakakmu, dan aku percaya saja." ucapku.

"Tunggu! V-Vocaloid baru?" Miku menjerit histeris, bukan, terkejut maksudku.

"Eww... Suaramu tinggi sekali, Miku." aku menutup telingaku, mencoba mengejek Miku.

"Maafkan aku..." ucapannya menjadi halus kembali. Dia ini adik yang lucu. Hehehe...

"Lalu, namamu siapa?" tanya Miku.

"Aku? Hatsune Mikuo."

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

(Teto P.O.V)

Aku masuk kedalam kelas bersama Rin dan Keitarou. Mereka berdua sangat akrab, aku rasa aku harus duduk sendirian lagi tahun ini. Tapi, begitu aku memasuki ruang kelasku, hatiku mulai berdebar-debar. Aku melihat seorang lelaki dengan warna rambut dan mata sama persis denganku. Dia duduk di barisan paling depan sambil membaca buku.

"Teto, kau kenapa bengong begitu?" tanya Rin yang ternyata dari tadi memperhatikan aku.

"Ah, tidak apa-apa." ucapku.

Sepertinya laki-laki itu sadar dan lalu menatapku. Pandangannya membuat aku lebih tidak dapat bergerak lagi. Aku hanya terdiam, dengan wajah yang memerah karena hatiku yang sangat berdebar-debar.

"Kasane Teto kan?" tanya laki-laki itu. Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya. Dia tersenyum ramah kepadaku.

"Sini, duduk bersamaku." ucapnya dan mengajakku duduk bersamanya. Saat aku menoleh, Rin dan Keitarou sudah mendapat tempat duduk untuk mereka duluan. Jadi, aku putuskan untuk duduk di sampingnya.

Perlahan, aku menempatkan diriku di sampingnya. Dia tersenyum kepadaku, tapi kemudian kembali membaca bukunya. Tapi, tetap saja. Aku terus-terusan berdebar-debar saat berada di sampingnya. Sungguh, perasaan apakah ini?

"Hei, kau kenapa diam terus?" tanya laki-laki itu. Dalam hatiku aku berkata, ajak aku bicara, please!

"Hahaha... Kau lucu, Kasane Teto." dia tiba-tiba tertawa sendiri.

"Ah, maaf..." ucapku pelan. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini sebenarnya. Bisa saja aku pingsan saat ini karena hatiku memaksaku untuk bicara dengannya. Sementara, sisi hatiku yang lain hanya dapat diam saja.

"Hei, aku lupa memperkenalkan diriku, ya?" dia bertanya lagi. Aku menatapnya dan melihat dia sudah menjulurkan tangannya. Aku pun menyentuh tangannya yang hangat.

"Namaku Kasane Ted. Salam kenal." ucapnya ramah. Aku tersipu kembali. Sungguh, aku rasa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

"K-Kasane Teto." ucapku pelan, mencoba memperkenalkan diriku.

Kali ini, dia melakukan sesuatu yang sangat jauh dari pikiranku. Tiba-tiba saja dia menggenggam tanganku dengan erat dan menatapku dalam-dalam. Aku menahan nafasku sesaat saat dia mulai berkata,

"Kalau kau terganggu olehku, aku akan pergi sekarang, Kasane Teto." ucapnya. Aku terdiam. Itu bukan maksud dari tingkah laku aku barusan. Aku justru menyukaimu, Ted!

"Maaf... Bukannya aku terganggu, tapi... Aku rasa aku belum terbiasa." ucapku, mencoba untuk tersenyum manis. Saat aku melihatnya kembali, kini wajahnya yang tersipu.

"T-Ted?" panggilku. Dia tersadar dari lamunannya. Apa yang dia pikirkan barusan? Apa dia juga menyukaiku?

"Baik, aku rasa kita hanya belum terbiasa saja. Jadi, aku harap kita bisa menjadi sahabat baik ya, Teto." ucapnya.

"Ya." aku menjawabnya sambil tersenyum kepadanya. Mungkin, ini sudah waktunya aku mengenal lebih dekat pada yang namanya cinta.

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

(Normal P.O.V)

Kelas 9-B

Di kelas 9-B, suasana kelas jauh lebih ramai daripada kelas lainnya. Siapakah yang membuat kelas itu jadi super berisik?

"Sudah ku bilang, Kaito! Miku itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kakakku, Meiko! Masa sih kau masih saja memilih anak itu?"

"Kaito, itulah akibatnya kalau kau menjadi playboy! Sekarang tanggung jawab! Siapa yang akan kau pilih sebagai pendampingmu?"

"Eh?" Kaito hanya dapat sweatdrop mendengar kata-kata teman-teman barunya itu. Meito, laki-laki yang mengaku adik Meiko. Dan Akaiko, gadis yang mengaku adiknya Kaito.

Sementara Kaito dihajar oleh pertanyaan beruntun dari Meito dan Akaiko, Meiko sedang ditahan-tahan oleh Gakupo untuk tidak memukul Meito. Sedangkan Luka sedang asik dengan orang yang baru dikenal olehnya, Megurine Luki.

"Luka, mungkin suatu hari kau bisa jadi seorang istri yang baik dengan potensi-potensimu itu. Kau benar-benar luar biasa." puji Luki.

"Hahaha... Thanks." ucap Luka sambil tersenyum hangat. Gakupo yang melihatnya langsung cemburu.

"Tidak ada orang yang boleh dekat dengan Megurine Luka selain aku!" ucap Gakupo marah dan menuju tempat duduk Luki.

Sementara itu, Meiko yang baru saja lepas dari Gakupo langsung mengambil kursi dan melemparkannya pada Meito.

"Jangan ganggu, Kaito!" ucap Meiko marah seperti iblis. Meito pun langsung K.O dalam sekali pukul.

"Kau juga, perempuan aneh yang mengaku-aku sebagai adiknya Kaito! Siapa kalian sebenarnya?" tanya Meiko yang titik emosinya sudah berada sampai di puncak.

"Kami? Vocaloid baru." ucap Luki, Akaiko, dan Meito.

"Eh?" tanya Meiko.

~('. '~) (~' .')~ ~('. '~) (~' .')~

Mikuo: Akhirnya gue dapet peran! *joget2 caramelldansen*

Ririn: Next chapter Miku kena sial, hihihi :D

Miku: Sial paan nih? ==

Mikuo: *nyerobot* YANG PENTING GUE DAPET PERAN! #digaplok negi sama Miku

Ririn: Liat aja next chapter ah~

Yamigawa: Mending minta review sono. Kalau nggak gue lanjutin "Ghost Lens" aja ah.

Miku: *pundung* yaudah deh... Kawan-kawan yang unyu dan baik hati please review ya dengan mengetik REG spasi REVIEW kirim ke seluruh kontak di HP anda.

Yamigawa: Ngaco!

Ririn: Review tetep ya~ :D Akhir kata, R-E-V-I-E-W-!

Mikuo: GUE DAPET PE- #kicked