Halo! Meskipun saya sedang sibuk ujian-hiatus pula lagi-, inspirasi yang mengalir tetap tidak bisa dibendung, so, this fic is update!


.

Sweet Vanilla
by ariadneLacie

.

Disclaimer

BLEACH by Tite Kubo

.

Warning : OOC, AU, typo(s) de el el, DLDR!

Pairing : HitsuRuki

Genre : Apa yaaa? Inginnya apa hayoo?

.

.

Special fic for Yukio Masaki/kio!


Chapter 3

"Traktir?"


"Apa? Hari ini ada latihan?" tanya Rukia sekali lagi, dengan nada setengah kesal dan tidak percaya.

"Ya. Jam 3 sore. Tapi aku mau menghubungi yang lain dulu sih"

"Jam 3 sore kan satu jam lagi dari sekarang!" seru Rukia gusar sambil memutuskan sambungan telepon. Ia memasukan handphonenya ke dalam tas lalu berbalik menghadap ketiga temannya yang sedari tadi memperhatikannya marah-marah tidak jelas.

"Kenapa, Ruk? Kau tidak jadi pesan es krim? Uangmu ketinggalan?" tanya Ichigo sambil menjijlati ice cream cone vanillanya. Sementara Renji dan Senna yang berada di belakang Ichigo masih menunggu es krim pesanan mereka.

"Tidak. Aku tidak jadi beli es krim, aku harus pulang sekarang," kata Rukia.

"Loh? Jadi kau tidak jadi ikut traktiran Renji hari ini? Tumben!" seru Ichigo heran.

"Yayaya, pokoknya kalian harus mentraktirku di kantin besok sebagai gantinya! Awas kalau tidak!" seru Rukia kesal. Lalu ia pun berbalik dan menelusuri trotoar yang ramai dengan langkah tergesa-gesa. Ichigo hanya memperhatikan sosok Rukia yang perlahan menjauh sambil geleng-geleng kepala.

"Loh? Mana Rukia?" tanya Senna sambil menjilati ice cream cone strawberrynya. Renji menyusul di belakangnya, kali ini membawa ice cream cone vanilla.

"Dia bilang ada urusan penting, jadi pulang duluan. Oh ya, bagaimana jika jatah traktiran dia buat kita saja, Ren?" kata Ichigo santai. Sepertinya dalam kondisi apapun Ichigo selalu mencari untung.

"Oh? Boleh saja sih," jawab Renji. Dan beberapa detik kemudian handphone ketiganya berdering bersamaan.

.

From : Kuchiki Rukia
Kalau kalian sampai menghabiskan jatahku, kujamin itu jadi makanan haram karena aku tidak ikhlaaas!

.

"Yah, kurasa kita tidak bisa mendapatkan jatah lebih kalau begini caranya, ya," kata Senna sambil menatap kedua temannya yang sudah bertampang pucat.


Rukia setengah berlari menuju terminal ojek. Tali tas biolanya ia genggam erat-erat. Matanya melirik jam tangannya lagi, sudah menunjukan pukul tiga kurang lima menit. Rukia mempercepat larinya dan akhirnya sampai ke terminal ojek dengan napas ngos-ngosan.

"Mas, ke jalan xxx ya!" kata Rukia sambil duduk menyamping di ojek tersebut. Lalu sang supir ojek pun mengangguk dan mulai menjalankan motornya.

Setelah sekitar lima menit di perjalanan, akhirnya Rukia sampai. Ia memberikan tiga lembar uang seribu pada si tukang ojek lalu berlari cepat ke dalam rumah yang cukup besar, yang merupakan tempat les musiknya.

Rukia mengedarkan pandangannya ke ruangan putih yang hampir kosong tersebut. Hanya ada sebuah meja resepsionis dan beberapa kursi tunggu. Dan Rukia mulai merasakan keanehan. Di mana anggota yang lain?

Daripada lama menunggu, akhirnya Rukia memutuskan bertanya pada kak Nanao, resepsionis yang berjaga.

"Umm, kak, hari ini latihan orkestra?" tanya Rukia. Kak Nanao, resepsionis berkacamata yang sedang sibuk menulis sesuatu mengangkat kacamatanya dan menatap Rukia.

"Oh, Rukia ya. Dari tadi aku coba menghubungimu, karena latihannya dibatalkan. Maaf ya, jadi hari ini tidak ada latihan," jawab kak Nanao. Lalu ia kembali sibuk dengan tulisannya lagi.

Seketika Rukia merasa melihat semangkuk ramen pecah dalam pikirannya. Kenapa ia harus meninggalkan traktiran ramen Renji demi latihan yang sebenarnya tidak jadi?


Dengan ekspresi look-at-me-and-I-will-kill-you, Rukia keluar dan duduk di salah satu bangku di depan pintu. Ia mencari-cari handphone di tasnya dan mendapati 10 misscall dari kak Nanao. Dan misscall itu sekitar 50 menit yang lalu, ketika Rukia baru saja meninggalkan Ichigo, Renji dan Senna. Ia menyesal tidak merasakan getaran handphonenya tadi.

"Baka..." gumam Rukia. Tetapi gumamannya lebih terdengar seperti desisan yang menyeramkan. Rukia pun bangkit dan menyampirkan tas biolanya di bahu, lalu berjalan cepat masih dengan ekspresi look-at-me-and-I-will-kill-you.

Jarak tempat les dan rumahnya cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi Rukia sama sekali tidak memiliki mood untuk naik ojek. Lagipula memang tidak ada terminal ojek di sekitar tempat lesnya.

"...kia!"

Rukia memperlambat langkahnya. Ia merasa mendengar sebuah suara yang tidak asing memanggil namanya.

"...Rukia!"

Suara itu memanggil lagi.

Ah, sudahlah. Sepertinya Rukia tetap tidak peduli siapapun itu. Ia pun kembali mempercepat langkahnya.

Drrt. Drrt. Drrt.

Handphone di genggaman tangan Rukia bergetar. Ia melihat layarnya dan membaca deretan nomor yang ada di layar handphonenya. Nomor tidak dikenal. Siapa?

"Halo?" jawab Rukia.

"Rukia? Rumahmu jauh kan? Kau mau langsung pulang begitu saja?"

Rukia terdiam sebentar. Ia mengenal suara ini. Suara Toushiro, kan?

"Toushiro?" tanya Rukia, memastikan.

"Ya, ini Toushiro. Aku di belakang,"

Rukia mengernyit dan menoleh. Dilihat seseorang sedang melambaikan tangan dari kejauhan sana. Sepertinya dari depan tempat lesnya tadi. Kenapa Toushiro bisa ada di sana?

"Oh. Terus kenapa kalau aku pulang?" tanya Rukia tidak mengerti. Memangnya apa urusan Toushiro?

"Tadinya mau aku antar pulang,"

"Hah? Diantar jalan kaki?"

"Nggak, lah. Aku naik motor loh. Tunggu di sana, jangan kemana-mana."

Sebelum sempat menjawab, Toushiro sudah memutuskan sambungan telepon. Sosoknya pun menghilang ke dalam tempat les. Rukia tidak punya pilihan lain selain menunggu.

Kurang dari 5 menit, Rukia mendengar suara motor mendekati dirinya. Dilihatnya seseorang yang memakai helm hitam dengan mengendarai motor bebek mendekati dirinya.

"Ayo, naik," kata orang itu sambil membuka kaca helmnya. Ternyata itu Toushiro.

"Wah, kukira kau naik motor keren, semacam motor gede gitu," komentar Rukia sambil duduk menyamping di atas motor.

"Maaf deh, yang penting kan dianter," kata Toushiro sambil menutup lagi kaca helmnya. Motor pun mulai melaju perlahan.

Toushiro mengendarai motor pelan-pelan. Mungkin karena Rukia duduk menyamping, ia takut Rukia kehilangan keseimbangan atau ia yang kehilangan keseimbangan.

Dan setelah melalui perjalanan yang cukup lama tanpa berbicara sepatah kata pun, mereka pun sampai di depan rumah Rukia.

"Hmm, terima kasih ya," kata Rukia sambil turun. "Kau tidak mau masuk dulu?"

Toushiro menggeleng pelan lalu Rukia mengangguk. Dan tanpa sepatah kata pun—lagi—Rukia berbalik dan membuka pintu pagar rumahnya.

"Hei, aku memang tidak mau masuk, tapi mau menemaniku makan tidak?" sahut Toushiro tiba-tiba. Samar-samar Rukia merasakan jantungnya seperti tersentak, lalu ia merasa membeku sebentar. Pikirannya dipenuhi berbagai macam pertimbangan, tetapi ia merasa tidak mau menolak. "Tenang, harganya murah loh, dan dijamin mengenyangkan. Tokonya milik kenalan ayahku, Japan Curry."

Seketika Rukia berputar dengan mata berbinar. Kare Jepang! Sudah lama ia ingin makan itu, tetapi ia tidak pernah punya waktu untuk memasak. Atau paling tidak ia malas berbelanja. "MA—Oke," jawab Rukia. Buru-buru menutup mulutnya yang hampir berseru kegirangan.

"Baiklah. Nih, pakai helm. Ayo cepat naik," kata Toushiro sambil menyodorkan sebuah helm putih pada Rukia. Rukia memakainya dengan antusias lalu naik dengan duduk menyamping lagi.

"Toushiro, apa kau keberatan jika aku duduk menghadap ke belakang?" tanya Rukia.

"Boleh saja," jawab Toushiro datar. Rukia membelalak kaget. Toushiro adalah orang kedua setelah Ichigo yang mengizinkannya duduk menghadap ke belakang saat naik motor.

"Kau serius? Pernah membonceng orang dengan posisi seperti itu sebelumnya?" tanya Rukia lagi.

"Belum," jawab Toushiro. Rukia semakin terheran-heran dengan pangeran penguin kutub ini.

"Oke, aku pindah posisi duduk ya," kata Rukia. Ia pun turun lalu naik dengan posisi membelakangi Toushiro.

"Sudah?" tanya Toushiro.

"Hmm," jawab Rukia.

Setelah itu Toushiro pun melajukan motornya pelan.

Untuk beberapa saat, Rukia menikmati angin sepoi-sepoi selagi motor tersebut melaju perlahan. Tetapi setelah berbelok sekali di tikungan, Rukia merasa motor tersebut bertambah kecepatannya. Semakin cepat, cepat, cepat...

Ini rasanya seperti menaiki roller coaster.

Rukia merasakan berbagai pasang mata yang berada di jalan memandang ke arahnya dan Toushiro. Tentu saja, duduk menghadap ke belakang di motor itu sangatlah tidak lazim. Dan cukup berbahaya. Tetapi ia sangat menikmatinya, sampai Toushiro tiba-tiba berbelok di sebuah tikungan yang membuatnya agak kehilangan keseimbangan.

"Ah!" pekiknya kaget. Ia segera memegang jok motor kuat-kuat. Biolanya yang masih tersampir di punggungnya membuat keseimbangannya semakin goyah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Toushiro. Rukia membenarkan posisi tas biolanya lalu mengangguk dan bergumam 'ya'.

"Sampai," kata Toushiro. Motornya berhenti dengan mulus. Dalam hati Rukia merasa agak kecewa sedikit.

Rukia pun turun lalu membuka helmnya. Ia berputar dan melihat sebuah kedai kecil dengan tulisan 'Japan Curry' dalam ukuran besar di atapnya. Samar-samar Rukia dapat mencium aroma kare yang menyengat dari dalam.

"Ayo masuk," kata Toushiro.

"Tenang, aku yang traktir," lanjut Toushiro. Rukia tersenyum lebar mendengar kata 'traktir' lalu berjalan duluan mendahului Toushiro. Toushiro hanya menaikan sebelah alisnya lalu mengikuti Rukia.

Ketika kedua kakinya menginjak lantai kedai, impresi yang Rukia dapatkan ketika ia memasuki kedai tersebut adalah, oh tidak.

Kedai tersebut memang nyaman, lantainya terbuat dari kayu, terdapat jendela-jendela besar yang membuat kedai tersebut terang, dan meja-meja berbentuk kotak yang memenuhi ruangan ditata dengan rapi. Tempat tersebut juga tidak terlalu ribut, dan dipenuhi dengan wangi kare yang sangat menggugah selera. Tapi... di sudut kedai... Rukia melihat Renji, Ichigo dan Senna sedang makan dengan semangat.

Kenapa mereka ada di sini? Bukankah mereka ingin makan ramen? Dan apa yang akan mereka katakan jika mereka mendapati Rukia, berdua dengan Toushiro, sekarang, makan kare, di sini?

"Kenapa?" tanya Toushiro. Rukia hanya terpaku di tempat. Toushiro melihat ke sudut ruangan dan mendapati Ichigo, Senna dan Renji di sana. "Oh, ada temanmu, ya?"

"Hmm..." Rukia hanya menggumam tidak jelas sebagai jawaban. Tidak mungkin ia menjawab, 'ya, dan aku tidak mau kita terlihat hanya berdua saja di sini.' Atau 'ya, karena itu aku akan makan dengan mereka saja ya!' Oh, Tuhan.

"Ah, Hitsugaya-kun?"

Rukia dan Toushiro menoleh bersamaan. Mereka mendapati seorang wanita berusia 30 tahun-an dengan rambut hitam dikepang di depan tersenyum ke arah mereka. Toushiro balas tersenyum, sepertinya ia mengenali wanita tersebut.

"Selamat sore, Unohana-san," sapa Toushiro. Wanita yang ternyata bernama Unohana tersebut tersenyum lagi. Rukia pun membalas senyumannya, meskipun ia tidak tahu senyuman tersebut ditujukan untuk siapa. Lalu Unohana menunjuk ke arah tangga dan berjalan ke sana.

"Sepertinya di atas masih ada kursi kosong," kata Toushiro sambil menarik tangan Rukia. Rukia hanya mengangguk dan mengikuti Toushiro, meskipun ia tidak yakin apakah meja di lantai bawah memang sudah penuh semua.

Mereka menaiki tangga kayu tepat di belakang Unohana. Setelah itu mereka sampai di ruangan yang lebih kecil dari ruangan di bawah, dengan beberapa meja yang sudah terisi. Tetapi, masih tersisa satu meja untuk dua orang yang kosong di samping jendela yang menghadap ke jendela. Rukia merasa melihat tulisan reserved di meja tersebut, tetapi tulisan tersebut tiba-tiba menghilang ketika ia mengalihkan perhatiannya sedikit untuk menanggapi perkataan Unohana.

"Silahkan, meja di sana masih kosong, Hitsugaya-kun," kata Unohana.

"Terima kasih Unohana-san. Sampaikan salamku pada Ukitake-san ya," kata Toushiro. Unohana kembali tersenyum lalu menuruni tangga lagi. Sepertinya Ukitake-san adalah kenalan ayah Toushiro yang ia sebutkan tadi.

Toushiro menarik tangan Rukia lagi. Rukia hanya menurut dan mengikuti Toushiro, lalu duduk di bangku yang ditarikan Toushiro. Tas biolanya ia senderkan di dinding di sampingnya. Sementara Toushiro duduk di kursi di depan Rukia. Toushiro menyingkirkan hiasan lampion kecil di tengah meja ke samping lalu menerima menu yang diberikan seorang pelayan.

"Kau mau pesan apa?" tanyanya.

"Terserah saja, yang penting enak. Oh, kalau bisa pedas," kata Rukia. Toushiro menatap Rukia sebentar lalu menyodorkan menunya ke arah Rukia.

"Mungkin akan lebih enak jika kau baca dulu menunya daripada memberikan penjelasan abstrak seperti itu," kata Toushiro. Rukia mendengus kesal lalu mulai melihat-lihat menu yang tersedia.

Menu yang tersedia di sana mayoritas kare. Tentu saja, ini kan restoran kare. Tetapi varian kare yang bermacam-macam membuat Rukia bingung harus memilih yang mana. Lagipula kare terlezat yang pernah ia makan adalah kare buatan kakaknya, Byakuya, yang entah kare jenis apa itu.

"Ada saran?" tanya Rukia. Ia menyodorkan menunya kembali ke Toushiro.

"Sampai saat ini favoritku sih kare spesial extra pedas. Mungkin kau mau coba," kata Toushiro.

"Baiklah, itu saja. Minumannya... ada yang berbau vanilla tidak?"

"Ada, Vanilla Tea atau Milkshake Vanilla. Mau yang mana?"

"Vanilla Tea."

"Ada porsi secangkir besar untuk dua orang. Kau mau coba?"

"Berdua? Tidak usah, mungkin kau mau yang lain, kan."

Toushiro tampak menimang-nimang sebentar. Tetapi akhirnya ia mengangguk sedikit lalu memanggil pelayan. Toushiro jadinya memesan Matcha.

Setelah itu mereka tidak berbicara sama sekali. Rukia tidak ada topik untuk dibicarakan, jadi ia hanya memandang pemandangan di luar. Pemandangan dari jendela sini cukup bagus, pemandangan kota yang tentram. Sementara Toushiro sibuk memainkan handphonenya. Melihat handphone, Rukia jadi penasaran darimana Toushiro tahu nomor handphonenya.

Nomor handphone?

Tunggu, jika dipikir-pikir lagi, Toushiro memang aneh. Ia sengaja mengantarkan Rukia sampai ke rumahnya. Ia tahu nomor handphonenya. Ia menawarkan untuk mengantarnya pulang. Dan ia mentraktirnya kare. Sebenarnya apa tujuan Toushiro?

Mendadak Rukia merasa wajahnya merona sekarang. Jangan-jangan Toushiro...

"Silahkan pesanannya!"

Rukia buru-buru menoleh dan mendapati sepiring kare kental berwarna merah terhidang di depannya. Rukia dapat mencium aroma kare lezat beserta aroma pedasnya. Sungguh menggiurkan. Sekejap ia sudah melupakan apa yang barusan ia pikirkan.

"Itadakimasu!" gumamnya senang. Ia pun meraih sendok dan mulai menyuapkan sesendok penuh kare. Rasa pedas langsung menjalari mulutnya begitu ia mengunyah kare tersebut. Rukia tersenyum girang, kare tersebut sungguh lezat.

"Enak, kan?" tanya Toushiro. Rukia mengangguk semangat. "Baguslah," katanya, masih dengan wajah datarnya.

Sepanjang makan, Rukia mulai berbicara banyak hal. Sepertinya ia sudah tidak canggung lagi dengan Toushiro, ditambah lagi kare ini membuatnya merasa sangat senang. Toushiro pun menanggapi obrolan Rukia dengan 'cukup' semangat. Meskipun sepertinya sifat dinginnya tidak meleleh semudah sifat dingin Rukia.


Matahari sudah terbenam sepenuhnya ketika Rukia mendudukan dirinya di atas motor Toushiro. Ia duduk menghadap ke belakang lagi, dan Toushiro tidak tampak keberatan. Lagipula Toushiro hanya menanggapi 'harus duduk menghadap ke depan saat dibonceng di sepeda motor, tidak ada aturan seperti itu, berarti kita tidak melanggar aturan.' disaat Rukia bertanya tentang kenapa ia biasa saja membonceng Rukia seperti itu.

Mereka sudah hampir sampai ke rumah Rukia ketika Toushiro memulai percakapan.

"Ternyata kau memang tidak sedingin apa yang orang katakan," kata Toushiro. Rukia mengangkat sebelah alis begitu mendengar komentar yang tidak disangka-sangka itu.

"Rasanya kau sering kali membicarakan hal ini," kata Rukia. "Tapi, benarkah? Memang kenapa?" tanya Rukia.

"Hmm, tidak. Aku hanya penasaran saja seperti apa sifat orang yang sama-sama memiliki julukan aneh semacam 'pangeran penguin kutub'," kata Toushiro.

"Oh? Jadi aku ini bahan eksperimen?" kata Rukia dengan nada bercanda. Tapi Toushiro tidak menanggapi apa-apa selama sekitar satu menit, dan Rukia merasa tidak enak dengan kondisi ini.

"Tidak juga," jawab Toushiro. "S-"

"Oh, dan kau juga tidak sedingin pangeran kutub, kok," kata Rukia. Ia merasa ia menyela perkataan Toushiro, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut tentang itu. Dan mereka kembali terdiam.

"Sampai," kata Toushiro, memecah keheningan. Rukia pun turun setelah motor Toushiro berhenti total, dan mendapati lampu dalam rumahnya sudah menyala. Berarti Byakuya sudah pulang.

"Terima kasih atas traktirannya, ya. Sampai besok!" kata Rukia sambil menyerahkan helmnya pada Toushiro. Setelah itu ia langsung membuka pagar rumahnya dan masuk.

Toushiro menggantungkan helm bekas dipakai Rukia di motornya, lalu memakai helmnya sendiri sambil bergumam 'sama-sama.' Dan dalam hitungan detik ia sudah menggas motornya menjauhi kediaman Kuchiki.

Sementara dari salah satu jendela di rumah Rukia, sepasang mata abu-abu memandang motor yang menjauh itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


To be Continued


Huehehehe. Maaf jika tidak memuaskan, tapi chapter ini termasuk lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya loh! Dan, oh...

maap, karena udah lama ga update, saya jadi lupa review udah dibales ato beluum _

Oke, tapi, thanks for the review :

Krad Hikari vi Titania, Ficchii, Yukio Masaki, tatsu adrikov galathea, Riruzawa Hiru15, Airin Aizawa, Jee-zee Eunry, Kana Yuki, Kujo Kazuza Phantomhive, Shizuku Kamae

.

And, you, mind to review(s)?

.

Sincerely, ariadneLacie. Seorang siswa yang sedang stress menghadapi ujian.