Catatan: sekali lagi, cerita ini dipesan oleh Eleamaya. "Bikin Luffy jadi orang Brasil dong, kayak Panji gitu," kata dia. "Oh, yaudah," jawab yang nulis sekenanya tanpa pikir panjang. "Tapi tetap percintaan dan kalau ada yang meminta lemon bakalan dibikin lemon loh." Emang susah kalau udah jadi pervert sih. Oia, klo ada komentar atau flame sekalian nggak usah ragu-ragu, sekali lagi pembaca, penulisnya masochist. Nulis surat cinta juga boleh, tapi lewat PM aja, hehehe. Terakhir, selamat membaca yaa, semoga terhibur! O_o

Disclaimer: Eiichiro Oda

Luffy sang Penakluk


Bagian 1 Pencarian Ular

.

.

.

Senyuman wajahnya selalu memancarkan semangat yang seakan tidak pernah akan pudar. Ia selalu bisa membangkitkan semangat setiap orang di sekitarnya. Gerak-geriknya yang lincah menunjukkan bahwa energi yang tersimpan di dalam dirinya seolah tanpa batas. Dengan ceria, Monkey D. Luffy menunjukkan makhluk melata yang terus membelit lengannya ke depan kamera, lalu dibelainya makhluk itu dengan penuh kekaguman.

"Ini Boa Pelangi, atau yang lebih dikenal dengan Boa Pelangi Brasil karena habitatnya di Brasil, terutama di bagian hutan hujan tropis seperti ini. Warnanya merah, oranye menyala, atau coklat mahoni, sesuai dengan lingkungan hidupnya. Ular seperti ini banyak ditemukan di…"

Kakak Luffy, Portgas D. Ace mati-matian mengisyaratkan air. Ia bahkan memercikkan air dari dalam botolnya dengan wajah depresi. Luffy masih terlihat bingung.

"Boa Pelangi banyak ditemukan di tempat, hmmm…"

Ace terpaksa menirukan gerakan berenang gaya anjing kepada adiknya. Luffy pasti paham, pikirnya. Sudah menjadi tugasnya setahun belakangan ini untuk menemani Luffy sebagai asisten pribadi merangkap manajer sekaligus supir, dan terkadang penata kostum. Satu lagi, seperti yang baru saja terjadi, Ace pun terkadang menjadi penunjuk dialog Luffy.

Adiknya Luffy adalah seorang pembawa acara khusus mengenai hewan liar. Kemampuannya untuk menaklukkan hewan liar dan insting alaminya untuk menolong mereka menjadikannya bintang televisi paling terkenal di seluruh Brasil. Rating acara yang ia bintangi selalu melesat dan sukses.

"Ya, ular Boa Pelangi ini banyak ditemukan di daerah berair dan sungai! Meskipun Boa ini termasuk perenang yang handal, tapi ia akan sebisa mungkin menghindari air!"

"CUT! BAGUS LUFFY!" teriak sutradara Nami dengan semangat. Kedua matanya berkilat tajam saat ia mengecek ulang adegan yang baru saja diambil. Nami terkenal sebagai sutradara perfeksionis yang selalu mengulang adegan yang kurang baik selama berjam-jam. Untunglah syuting hari ini berjalan dengan lancar. "Teruskan semangatmu itu, ya!"

Kru yang lain ikut bertepuk tangan dan bersorak riang. Syuting Luffy sang Penakluk hari ini telah selesai. Dengan cekatan mereka membereskan semua peralatan dan sampah yang berserakan saat syuting di antara rimbunnya pepohonan dan semak-semak yang berukuran besar. Beruntunglah karena siang itu matahari bersinar sangat cerah sehingga mereka tidak menggunakan terlalu banyak lampu tambahan. Karena pengambilan gambar dilakukan di daerah hutan lindung, maka sudah menjadi peraturan bahwa tidak boleh ada sampah atau pencemaran disana. Jika ketahuan melanggar maka mereka akan dilarang mendatangi daerah itu lagi.

Luffy sedang asyik membelai ular di tangannya. "Teman baik! Terima kasih atas kerjasamanya hari ini, ya! Lain kali akan kucarikan kodok untuk kau makan!"

Ular ukuran sedang yang melilit tangan Luffy segera melepaskan diri dan menghilang di balik gelapnya pepohonan. Luffy mengangguk-angguk dengan puas. Seketika Ace sudah berada di belakang Luffy.

"Ah, kau ini… lain kali jangan sampai lupa hal sekecil itu dong. Hampir copot jantungku melihat ulahmu tadi!"

Luffy menatap Ace dengan raut wajah polos. "Yang penting syutingnya lancar!"

Ace menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ingat, pada saat syuting berikutnya aku tidak bisa menemanimu. Kau paham 'kan aku harus segera terbang ke Belanda?"

"Shishishi, aku mengerti, Ace. Kau mau melamar pacarmu, ya? Kemarin aku sempat menguping pembicaraanmu dengan kakek loh!"

Wajah Ace langsung memerah dalam sekejap. Dijawirnya telinga Luffy. "Anak bandel! Mana boleh kau menguping pembicaraan orang dewasa!"

"EEEHH—! Aku ini 'kan sudah 18 tahun Ace! Tiga bulan lagi aku masuk kuliah!"

Ace menatap Luffy dengan seksama. Ia memincingkan matanya dengan sebal. "Aku tidak yakin kau lulus ujian masuk waktu itu. Lagipula kau 'kan tidak suka belajar, bisa-bisanya kau ini mengambil jurusan kedokteran hewan!"

Luffy malah mengorek hidungnya sembari tertawa, "terima kasih atas pujiannya!"

Ace memonyongkan bibirnya dengan sebal. "Aku tidak sedang memujimu, bodoh! Ayo, lekas kita pulang!"

"Pulang? Aku tidak mau, ah! Aku masih mau bermain di sini!"

"Apa-apaan kau?"

"Sewaktu kita melewati daerah sungai tadi, aku sempat melihat ular besar! Warnanya sangat indah dan ukurannya besar, Ace! Aku mau mencarinya dulu!"

Ace menghela napas dengan kesal. Ia tahu kalau Luffy sudah bertekad pasti tidak bisa dihentikan. Selalu seperti itu sejak mereka masih kecil dulu. Ia yang selalu menuruti kemauan Luffy dan melindungi adik kecilnya yang bodoh. Heran, kapan sih Luffy bisa menjadi dewasa?

"Jadi kau mau menginap di sini? Berapa hari?" Ace mengeluarkan catatan dari sakunya. Wajahnya murung. "Syuting berikutnya di Taman Nasional Tijuca, di Rio. Jangan sampai lupa pergi ke sana, ya? Nih, kucatatkan lokasi dan waktunya."

Ace memberikan catatan kecil itu kepada Luffy. Luffy segera memasukkan kertas catatan itu di dalam sakunya. "Beres, Ace!"

"Tsk, ingat, Taman Nasional Tijuca di Rio de Janeiro seminggu lagi! Jangan sampai tidak datang atau Crocodile si sadis itu akan membunuh kita berdua karena melanggar kontrak!"

Ace memperingatkan Luffy soal Crocodile, produser acara Luffy sang Penakluk. Pria itu sangat tegas dan berhati-hati dengan semua modal yang telah ia tanam. Telah banyak aktor dan aktris yang pria itu tenggelamkan dari layar kaca karena melanggar kontrak yang telah mereka setujui. Ace tahu pasti Crocodile akan berbuat hal yang sama bila Luffy dan dirinya berbuat macam-macam dan melanggar kontrak.

Luffy melambai sambil berlari menyeberangi sungai. "Sampai jumpa! Salam untuk Moda!"

Ace langsung tersenyum simpul kala Luffy menyebutkan nama kekasih yang sudah dipacarinya selama 3 tahun. Ia sudah tak sabar ingin menemui Moda. "Ingat, di sini hutan hujan Amazon! Jangan sembarangan memakan buah yang terlihat enak, Luffy!"

"Apa?" Luffy terlihat sedang memakan buah beri liar berwarna hijau di seberang sungai sana. "Yang ini rasanya tidak masalah, Ace!"

Ace tidak tahu harus berbuat apa lagi. Rasanya menasihati Luffy jauh lebih mustahil daripada menemukan kelinci di bulan atau mencegah Napoleon pergi berperang. Adiknya itu selalu saja membuatnya khawatir. Akan tetapi Ace tahu kini sudah saatnya untuk membiarkan Luffy mandiri. Ya, sudah waktunya Luffy mandiri. Dengan senyum lebar di wajahnya, Ace berbalik menuju jalan kecil berbatu yang menuju ke arah luar hutan. Luffy, semoga beruntung!

Luffy memasukkan beri hijau liar yang baru ia temukan tadi sebanyak mungkin di kantungnya. Tidak buruk sebagai makanan tambahan sebelum ia melihat hewan berdaging lezat. Luffy terus menyisiri hutan, tidak sabar untuk mencari ular yang telah ia lihat dan menarik hatinya. Ia ingin sekali melihat ular jenis macam apa dan habitat asli ular tersebut. Ia tidak sadar ia akan menemui banyak masalah di kemudian hari.

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Hari itu langit terlihat bersinar begitu cerah. Bunga-bunga bermekaran dengan indah di dalam sebuah lembah yang gelap dan terpencil di tengah kerimbunan hutan hujan Amazon. Tempat itu tidak pernah terjamah dari luar selama berabad-abad. Para penghuninya biasanya pergi ke luar bila mereka membutuhkan sesuatu, akan tetapi pendatang tidak pernah ada dan takkan pernah diizinkan masuk. Terutama mereka, para pria. Suku Kuja di tengah lembah hutan yang berbahaya semuanya adalah para wanita yang kuat dan hebat. Tidak ada satu pria pun di dalam suku mereka.

"Hari ini lagi-lagi membosankan…" Boa Hancock mengeluh panjang pendek tak karuan. Hatinya sebal sekali karena Salome, ular peliharaannya, yang diperintah untuk mencari mainan baru malah menghilang entah kemana. Akhir-akhir ini Salome memang selalu menghilang.

Boa Marigold sadar akan kemuraman hati kakaknya. Ia segera berseru dengan suara tinggi, "ya, apa kakak mau ikut berburu di luar? Kita semua membuat taruhan yang menyenangkan, kak! Siapa saja yang bisa memburu babi liar terbanyak sampai matahari tenggelam akan mendapatkan hadiah yang menarik!"

Hancock kembali menghela napasnya dengan putus asa. "Apa maksudmu? Selama bertahun-tahun aku selalu memenangkan setiap taruhan dan mendapatkan hadiah. Lagipula hadiah macam apa itu? Busur Legendaris Nenek Nyon, Sarung Bantal buatan Nenek Nyon, Foto Nenek Nyon 30 tahun lalu dan barang-barang tidak berguna semua…"

"Kecuali barang yang satu itu 'kan, kak?" Boa Sandersonia ikut campur dalam pembicaraan Hancock dan Mari. "Kakak selalu membaca barang yang memiliki gambar percintaan antara kita dan makhluk sejenis yang memiliki jamur di antara kakinya. Apa itu namanya…"

Wajah Hancock seketika berubah menjadi semerah tomat. "APA MAKSUDMU?"

"Mereka itu pria, Sonia. Makanya jangan suka bolos pelajaran Mengenal Gender dan Bahasa Asing." Mari tertawa pelan sambil terkikik, "benda kesukaan kakak itu namanya apa, ya? Komik atau bukan, ya? Atau majalah?"

"Benar! Kau benar Mari! Iya! Pria! Mereka kan kita butuhkan untuk membuat bayi, ya?" Sonia terkikik senang. "Aku mulai berpikir kakak ingin memiliki bayi…"

"HENTIKAN PEMBICARAAN KALIAN! BAIKLAH! AKU SETUJU UNTUK BERBURU!" suara Hancock menggelegar di seisi istana.

Hancock dan kedua adiknya adalah putri dari suku Kuja, prajurit wanita Amazon Lili. Karena kemampuan Hancock dan adiknya yang luar biasa, dua belas tahun yang lalu Hancock diangkat menjadi ratu suku Kuja. Tahun ini usianya menginjak 30 tahun. Seharusnya di umurnya yang sedemikian matang Hancock sudah harus keluar suku untuk sementara dan memiliki bayi, akan tetapi karena sikapnya yang dingin dan rasa kepeduliannya yang sangat minim, maka Hancock menolak hal-hal begitu.

"Nah, begitu dong kak!"

Sebenarnya, tanpa sepengetahuan semua anggota sukunya, Hancock lumayan sering pergi ke dunia luar dan menemui banyak pria. Sayangnya perilaku mereka sangat menjijikan dan terlalu memuja kecantikannya. Pernah para pria itu memperebutkan dirinya sampai saling membunuh satu sama lain. Itu membuat dirinya gusar. Hancock sangat kecewa dan kesal dengan ulah para pria yang sangat berlawanan dengan tokoh kesukaannya di komik miliknya. Ya, mungkin suatu saat ia akan bertemu dengan pria impiannya…

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

"Waduh, tidak tahu sampai kapan harus terus berjalan, nih? Rasanya di sana ada bau yang enak…" Luffy mengandalkan semua indera penciumannya demi mendapatkan makanan lezat. Ia sangat kaget ketika mendapati dirinya sedang memandang potongan besar daging babi hutan liar. Wangi harum yang luar biasa membuai hidung dan kelembutan serta kelezatan panganan di hadapannya membuat Luffy tidak berpikir panjang.

"MAKAANN!" teriak Luffy sembari menyerang makanan yang ada di hadapannya. "LEZAAAAT!"

"Oh, enak ya?"

"Ebnak banmget nigh! Hmmm…"

Mendadak seorang pria melancarkan tendangan maut ke wajah Luffy. Beruntunglah Luffy mampu menghindari tendangan telak itu. Ia langsung meloncat setinggi-tingginya ke pohon terdekat. Namun sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga, apalagi jika pohonnya terus ditendang berkali-kali dengan kekuatan tendangan yang luar biasa.

"Apa-apaan sih! Aku jadi susah makan nih!" Teriak Luffy kesal. "Bagi sedikit 'kan tidak membuatmu susah!"

"Hei! Turun kau brengsek! Yang kau bawa itu menu utama masakanku! Seenaknya langsung menyambar makanan orang lain!"

"Oh?" Luffy mengerenyitkan keningnya. "Maaf deh!"

Dengan ketangkasan bagai monyet, ia melompat turun dari pohon dengan potongan daging yang sudah nyaris tak tersisa. Luffy segera meminta maaf. "Aduh, maaf, tapi aku benar-benar lapar dan tadi kulihat tidak ada orang di sekitar…"

"Aku sedang memasak sop di belakang daging itu, bodoh! Masa tadi kau sama sekali tidak melihat aku, sih?" Pria berambut pirang itu terlihat sangat kesal. "Hah… benar-benar hari yang menyebalkan…"

"Kau nampak tidak asing!" Luffy berteriak senang. "Rasanya aku sering melihatmu…"

Pria pirang yang sedang menyalakan rokoknya itu tersenyum bangga, "Tentu saja! Apa kau tidak punya televisi di rumahmu? Apa kau tidak pernah menonton Sanji le Cuisinier?"

"Aaah…" Luffy membuka mulutnya lebar-lebar. "Sanji…?"

Sanji menunggu reaksi Luffy. Lagipula siapa yang tidak pernah menonton acara memasaknya di televisi? Itu 'kan acara yang mendunia!

"Aku tidak pernah nonton tuh!" lanjut Luffy sambil tertawa. "Namamu agak aneh ya!"

Sanji langsung terjatuh saking syoknya. Apa-apaan bocah ini?

"Memangnya apa yang kau lakukan di sini, Sanji?"

"Huh! Ini semua gara-gara mademoiselle Nami…" Sinar di kedua belah mata biru Sanji mulai meredup. "Tega-teganya ia menduakan cinta sejatiku yang setinggi langit ketujuh dan seluas semesta ini dengan proyek barunya itu!"

Luffy mendengarkan penjelasan Sanji sambil mengorek lubang hidungnya.

"Kau bisa serius tidak sih?"

"Aku sedang mendengarkan kok." Luffy mengelak sambil melemparkan kotoran hidungnya ke atas. "Teruskan saja."

"Ia bilang ia mau berkonsentrasi penuh dengan karirnya di sini, meninggalkan rumah kami yang indah dan sempurna di La Rochelle—sebuah kota indah di pinggir laut, tiga jam dari Paris—semuanya gara-gara bocah penakluk brengsek itu!" Pria Perancis itu menjelaskan panjang lebar. "Padahal seharusnya tahun ini kami menyambut… menyambut pernikahan kami yang genap dua tahun… Ooooohhh, Nami cintaku…"

"Hmm…"

"Seharusnya Nami cintaku manisku akan syuting di sini, hari ini. Tetapi sepertinya aku tersesat. Aku tidak bisa menemukan dia…"

"Jadi kau pria tak tahu diuntung, pria pencemburu gila rokok yang sering dibicarakan Nami waktu mabuk?" Luffy tanpa tedeng aling-aling langsung menuduh Sanji. Mana mungkin Luffy bisa lupa. Biasanya seusai syuting mereka minum-minum di lapangan. Nami selalu mengeluhkan suaminya yang mata keranjang dan mencemburui nyaris semua teman prianya.

Kedua mata Sanji langsung membara karena cemburu dan marah. "APA MAKSUD PERKATAANMU?"

Luffy menyengir tanpa rasa bersalah. "Yah, katanya Nami sih kau kebanyakan memanjakan penggemarmu dan bersikap menyebalkan saat dia bertemu pria lain."

Sanji menarik napas kaget. "Apa? Kapan Nami cintaku berkata demikian? Dewi Aphroditeku tega berkata sebegitu kasar terhadap diriku…"

"Hanya sewaktu mabuk, kok!" Luffy kembali tersenyum lebar.

Sanji mendelik marah, ia menatap Luffy dengan penuh curiga. "Siapa kau? Apa aku mengenalmu? Apa hubunganmu dengan sayangku Nami, hah? Apa kau bosan hidup berani menyebut nama kekasihku tanpa hormat begitu? Lebih baik kita selesaikan dengan pertarungan satu lawan satu…"

"Kurasa kau memang pencemburu," jawab Luffy tegas. "Nami itu sutradaraku! Jika kau mau berkelahi…"

"Ahhh! Jadi kau si bocah penakluk itu? Jadi kau ya sumber masalahnya?"

"Ah! Di sini kau!" mendadak muncul seorang pria berambut hijau metalik di tengah Luffy dan Sanji dari balik kerumunan pohon pisang yang berukuran raksasa. Peluh bercucuran dari tubuhnya. "Kupikir kau tersesat!"

"Kau yang tersesat, dasar pemandu sesat!" Sanji langsung menghamburkan api dari mulut saking marahnya. "Aku membayarmu mahal dan kau tega-teganya membuatku tidak bisa bertemu dengan sayangku Nami hari ini! Kau memang patut mati!"

"Siapa bilang? Aku tidak pernah memandu orang yang menyebalkan sepertimu sebelumnya! Ambil saja euro jelekmu itu! Lebih baik kita berpisah di sini…"

"Beraninya kau…" Sanji melontarkan tendangan telak ke wajah pemandu berambut hijau itu. Gara-gara mereka berpuluh-puluh kali salah arah sejak kemarin, pupus sudah harapan Sanji untuk menemui istri tercintanya.

"DASAR BAJINGAN!" sang lawan pun mengamuk dan menyerang balik.

Luffy langsung bergegas meninggalkan tempat itu. Perutnya sudah kenyang dan rasa penasarannya pun harus terjawab. Lagipula ia tidak tertarik dengan dengan pertengkaran suami Nami dan pemandu alamnya yang beragasan itu.

Jalan setapak yang telah ia lalui kini semakin mengecil dan mengecil. Gelapnya hutan belantara dan segala suara makhluk liar di sana mulai terdengar bersahut-sahutan. Sinar matahari bahkan sudah tidak bisa terlihat lagi. Luffy tersenyum senang karena ia merasa tertantang dengan suasana yang ada. Mendadak Luffy melihat seberkas sinar dalam kegelapan. Itu pasti ular yang telah menarik hatinya! Itu pasti ular misterius itu!

Di tempat yang tidak jauh dari Luffy, Hancock tengah memanggul babi liar hasil buruannya. Ia senang karena ia merasa hadiah kali ini akan menjadi miliknya. Ia terus berjalan ke arah Luffy berada.

.

.

.


Sekali lagi, selamat membaca dan kalau sempat kasih feedback ya!

Bagian kedua akan muncul sesegera mungkin!