Catatan: setelah sekian lama males update dan melangkah ke berbagai fandom akhirnya kembali lagi ke sini dan menulis lanjutannya. Emang kebiasaan jelek sih, klo update suka bikin pembaca lumutan. Udah namatin Virtual Villager 1-5 loh, ehehehe. Omong-omong makasih banyak buat yang sudah cape-cape komentar, seneng deh hehehe. Ampe keselek teh waktu baca kalian suka Leonardo de Usoppu atau mengerutkan kening waktu baca komentar aneh soal Ace/Luffy. Okelah, silahkan mau komentar apa juga! Yosh, selamat membaca chapter ini~!

Disclaimer: Eiichiro Oda

Luffy sang Penakluk


Bagian 4 Kejahatan yang Tersembunyi

.

.

.

Malam itu juga dengan wajah gembira Luffy berniat menemui guru sekaligus teman terbaiknya, Silver Rayleigh. Rayleigh adalah salah satu dosen sekaligus peneliti hewan di USP, atau yang lebih dikenal dengan Universitas Sao Paulo, yang telah mendunia reputasinya di bidang kedokteran hewan. Sebenarnya Rayleigh juga yang telah merekomendasikan Luffy untuk masuk ke almamaternya tersebut, tentunya agar mereka berdua bisa lebih mendalami kecintaan mereka terhadap hewan, terutama ular dan berbagai jenis reptil lainnya. Tentu saja semua itu dilakukan Rayleigh tanpa sepengetahuan Garp yang menginginkan cucunya masuk Fakultas Hukum dan Dragon yang meminta Luffy untuk mengikuti jejaknya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Pemuda berwajah segar itu sudah tidak sabar ingin memberitahu Rayleigh perihal ular boa yang telah ia temukan di Hutan Hujan Amazon. Luffy baru teringat bahwa ular boa itu bukan bertelur, tetapi beranak. Dan setelah ia amati berkali-kali, ternyata kedua ular Boa itu pun berbeda jenis. Omong-omong, kenapa sih Luffy baru sadar setelah lewat nyaris seharian penuh?

"Ternyata tidurku bisa jauh lebih menyenangkan saat kau bersamaku, habisnya kau empuk sekali sih!" ajak Luffy sambil menarik Hancock dari tempat tidurnya. Tentu saja sejak siang tadi mereka tidur di ranjang yang sama. "Ayo kita makan malam dulu! Eh, kenapa hidungmu berdarah?"

Hancock menggeleng pelan seraya menghapus sisa darah yang telah mengering dari hidungnya yang mancung sempurna. Selama mereka tidur, Luffy terus memeluknya dengan erat, tidak melepaskannya walaupun sebentar. Bisa dibilang bahwa ia bukannya tidur, tapi pingsan karena mimisan.

"Eh, sebentar!"

Mendadak Luffy menghentikan langkahnya, lalu berbelok dan melangkah ke ruangan lain di kamarnya yang besar. Tangannya tetap menarik Hancock. Pemuda itu membuka pintu dan terlihatlah ruangan yang luas dan tertata rapi dengan apik. Seluruh ruangan dilapisi oleh keramik berwarna merah bata dan perabotan emas berukir naga. Bahkan di samping jendela besar di ujung kanan terdapat pot antik berukiran naga yang agak sedikit retak karena ulah Luffy. Semua hasil perburuan Dragon sewaktu pergi ke India.

"Kalau kau mau buang air kecil kau masuk ke sini, ya!" Luffy berujar dengan ringan dan membuka retsleting celana jinsnya. Penyayang hewan itu sama sekali tidak menyadari kedua mata Hancock membelalak tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. "Buka penutup ini lalu kalau sudah selesai kau tinggal pencet tombol—"

Seluruh darah Hancock langsung naik ke otak dengan kecepatan kilat, dan pandangannya seketika memutih. Mendadak hidungnya kembali berdarah dengan dahsyat.

"Hei, ada apa denganmu?" Luffy dengan cekatan langsung memegangi Hancock sebelum wanita itu terjatuh ke lantai. "Yaahhh! Celanaku kena cipratan deh!"

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

"Bukankah kau baru pulang tadi siang, lebih baik kau beristirahat saja dulu." Tuan Besar Garp berkomentar sambil mengorek hidungnya dengan kelingking. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hancock yang pucat pasi kekurangan darah. Mendadak senyum nakal menghiasi wajah kakek tua itu. "Bagaimana kalau kau mengerjakan sesuatu yang lebih penting malam ini?"

"Heh?" Luffy masih terus mengunyah daging besar di hadapannya. Jarang sekali Garp menyuruhnya istirahat, apalagi kakeknya itu tahu bahwa ia paling susah disuruh berdiam diri di rumah.

"Membuat cucu buyut misalnya."

Dadan yang tengah memotong-motong buah di hadapan Garp langsung mengiris lengannya sendiri saking kagetnya. Dengan dramatis dia berteriak, "APA MAKSUD TUAN BESAR DENGAN BICARA BEGITU? TUAN MUDA KAN BARU BERUSIA 18 TAHUN!"

"Shishishi…" orang yang bersangkutan malah tertawa seolah tidak mempermasalahkan hal sepenting itu, sementara Hancock yang tidak mengerti hanya tersenyum malu-malu karena merasa diperhatikan.

"KENAPA TUAN MUDA MALAH TERTAWA SIH?" Dadan heboh berteriak-teriak sambil mengelap noda darah di tangannya. Darahnya sulit berhenti. "SEANDAINYA ADA TUAN BESAR DRAGON DI SINI…"

Bayangan besar mendadak berada di belakang Dadan, menyelubungi tubuh pelayan wanita yang cerewet dan galak itu dengan sempurna. Dengan suara datar Kuma berbisik di telinga Dadan, "Tuan Besar Dragon waktu itu sedikit lebih tua dari tuan muda sewaktu tuan muda lahir."

"EEHHHHHH?" Dadan langsung heboh sendirian. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu berapa umur Tuan Besar Dragon sekarang. Dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tato yang menghiasi setengah dari wajahnya, Dragon memang terlihat jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya. Lagipula, tidak pernah ada pesta ulang tahun di keluarga Monkey.

"Aku sih tidak masalah, tapi malam ini aku sudah terlanjur berjanji untuk segera datang ke rumah Rayleigh, kek." Luffy mengangguk-angguk. "Malam besok sajalah."

"Bwahahaha, itu baru cucuku!"

Dadan sukses jatuh pingsan dengan mulut berbusa sementara diam-diam Kuma berlatih kata-kata yang akan diucapkan oleh tuan mudanya sewaktu upacara. Kuma selalu menyukai bagian selalu bersama baik susah dan senang, itu potongan kesukaannya.

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Dengan susah payah Sanji berlari menuju pintu gerbang yang terkunci rapat-rapat. Ia benar-benar merasa terjebak dan tertipu mentah-mentah. Dengan semua dekorasi yang manis dan indah di Mansion Momoiro, terutama semua bunga berwarna merah muda, ungu, dan pastel lembut yang sempat diliriknya di pintu gerbang tadi, semula ia berpikir bahwa mansion itu adalah mansion khusus yang menerima gadis-gadis cantik. Namun apa daya, yang ia lihat hanyalah para pria setengah setan dengan dandanan ekstra tebal dan bulu kaki yang tidak tercukur.

Mansion. Itu. Dipenuhi. Oleh. Waria.

"Kenapa aku tidak boleh keluar dari sini? Kau pikir aku mata-mata?" Sanji berteriak dengan histeris. Ia semakin histeris karena pintu gerbang itu tak bisa terbuka sekalipun ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya. "Dibayar berapapun aku takkan sudi memasuki tempat semacam ini! Keluarkan aku dari sini!"

Sesosok waria dengan dandanan super tebal dan kostum gelap dengan rambut afro ungu besar muncul dari dalam. Wajahnya terlihat angkuh dan menyebalkan. "Ike bukan anak kemarin sore, pasti yey ingin mencuri cara terbaru untuk memasak cabbage strudel khas ike, bukan?"

"Cabbage strudel?" Sanji langsung tertegun. Cabbage strudel adalah masakan penutup khas Hungaria yang belakangan ini sangat digemari oleh berbagai penikmat kuliner di Perancis. Nami istrinya pun sangat menggemari masakan ini. Mendadak sekelebatan kejadian dua bulan lalu kembali muncul dalam otaknya.

"Kubilang aku mau cabbage strudel, tapi kau malah seenaknya menggoda pelayan dan membelikanku cabbage waffle! Pokoknya belikan aku lagi, dan jangan berani-berani kau memakai kartu kredit bersama kita! Pakai uangmu sendiri!" wajah marah istrinya tetap terlihat sangat cantik menggoda. "Cepat sana pergi, apa lagi yang kau tunggu!"

Sanji berani bertaruh bahwa tadi Nami benar-benar memesan cabbage waffle, namun ia tak ingin berdebat. Dengan setengah putus asa Sanji berlari membelikan masakan yang dipinta oleh istrinya. Namun ia masih juga memperoleh hardikan.

"Rasa cabbage strudel ini berbeda, aku tidak mau makan ini! Pokoknya cari lagi!"

"Tapi, mademoiselle, ini cabbage strudel yang bahkan lebih enak dari masakanku, kenapa…" Sanji menggigit rokok di bibirnya dengan rasa bingung. Kenapa, kenapa sih wanita hamil suka seenaknya?

"Kalau begini kau harus mencari resep cabbage strudel walau harus pergi ke ujung dunia sekalipun!"

Sayangnya, ketika dia kembali istrinya sudah pergi dengan alasan dia telah selingkuh dan demi membuat serial televisi terbaru Luffy sang Penaluk.

"Aku ini koki yang bermartabat dan berharga diri, untuk apa aku mencuri resepmu? Tadinya aku ingin menginap di sini karena mau menunggu sampai Luffy si bocah tak tahu diri itu kembali syuting dan menemui Nami istriku tercinta, tapi karena—karena takut dengan kalian semua lebih baik—"

"Ohhhhh~! Temannya Luffy~!" mendadak waria itu berubah sikap. "Kenalkan, ike ini Emporio Ivankov, pemilik Mansion Momoiro ini. Maafkan kecurigaan kami, habis yey seksi sih~! Boleh deh kalau yey mau menginap di sini gratis, tapi sebelumnya ike mau konfirmasi silang dulu ke mansion sebelah ya~!"

"EEEEHHHHHHHHHHHHHHHHH?" Sanji langsung gemetar tak karuan. "Ti-tidak, aku tidak mau menginap kok, aku mau pergi, bisa tolong buka pagarnya?"

"Ahhh, jangan suka malu-malu begitu~! Candy boys, seret dia ke dalam~!"

"TIDAAAKKKK!" Sanji berteriak luar biasa histeris. Ia sangat takut dilecehkan, diculik, diperlakukan tidak senonoh sewaktu tidur oleh para waria itu. Maklum, phobia waria Sanji sudah level akut. "LEEEPPPPAAAASSSSSKAAANN AKUUUU!"

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Luffy membawa Hancock ke kamar Ace yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Sebenarnya ia tidak mau sih mengerjakan hal yang merepotkan begitu, tapi Dadan terus saja menyuruhnya untuk menganti kostum Hancock yang amat sangat seksi dan terbuka.

"Kau mau pergi ke rumah kakek tua yang mesum itu bukan, tuan muda? Bukankah lebih baik jika wanita ini berganti pakaian?" Dadan mengikuti di belakang mereka. Kamar Ace sama besarnya dengan kamar Luffy, namun jauh lebih bersih dan apik. Semua pakaian dilipat dengan rapi, tempat tidur dan bantal selalu harum, dan foto kekasihnya Moda terpajang di meja sana.

Luffy langsung mengangguk-angguk setuju sambil terus mengacak-acak pakaian Ace. Bukannya ia tidak mau meminjamkan pakaiannya sendiri, tapi ukuran tubuh Hancock jauh lebih besar dari ukurannya. Apa boleh buat terpaksa deh meminjam punya Ace yang lebih besar. "Iya juga, Rayleigh 'kan genit."

"Kenapa kau membawaku ke sini? Apa yang kau lakukan?" Hancock dengan bingung menatap Luffy, tak lama wajahnya yang cantik itu merona malu-malu. "Ah, apa maksudmu aku harus berganti baju?"

"Dapat juga nih!" Luffy menarik kaus putih dan jins hitam milik Ace dengan kasar, membuat pakaian lainnya jatuh bertebaran di atas lantai. "Ah, kalau hanya ganti baju tanggung rasanya! Kita mandi bersama dulu, yuk!"

"Eehh?" Hancock kaget ketika Luffy kembali menggenggam tangannya dengan erat lalu membawanya ke luar dari sana. "Apa maksudmu? Mandi?"

"TUAN MUDAAAA!" Dadan kembali histeris, tidak menyangka bahwa Luffy yang terlihat sangat naïf dan kekanak-kanakan itu ternyata menyimpan potensi mesum yang kasat mata.

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Dengan lembut Ace menyapu hidung mungil milik kekasihnya, lalu perlahan jemarinya turun dan menyentuh bibir dan dagu Moda. Wajah tidur Moda memang terlihat sangat mengemaskan. Rambut pirangnya yang halus dan lembut selalu enak untuk dibelai. Bibir tipis dan menggoda itu selalu saja membuat salah tingkah. Ah, Moda memang sangat cantik dan imut, pikirnya senang, walau kadang ada kerugian tersendiri ketika mereka pergi berdua. Selalu saja dia yang disalahkan karena Moda terlihat sangat jauh lebih muda dari umur yang sebenarnya. Rasanya sangat tidak enak ketika masuk ke berbagai tempat wisata dan terus ditatap dan disalahkan, seolah-olah dia seorang pedofil, penyuka anak di bawah umur, penjahat kelamin.

Kedua mata besar itu mendadak membuka dan mengerjap pelan. Moda langsung tersenyum ketika menyadari wajah Ace yang terbakar oleh malu ketika mata mereka bertemu. "Ace, kau tidak tidur? Penerbangan kita masih beberapa jam lagi bukan?"

"Hmmm." Ace langsung membuang muka ke samping. Tentu saja ia tahu apa yang sedang dibicarakan Moda. Masih 5 jam lagi sebelum pesawat mereka mendarat di Bandara Internasional Guarulhos, Sao Paulo. Moda tersenyum melihat ulah pacarnya itu. "Kau tidur saja lagi, Moda."

Moda meraih lengan Ace yang besar dan memeluknya. "Apa sih yang kau takutkan? Kau boleh menyentuhku sesukamu, Ace." Wajah Ace semakin memanas. Moda langsung menambahkan api ke dalam bara itu. "Ace, aku ini milikmu, bukan?"

Kalau ada satu hal yang bertolak belakang dengan penampilan Moda, sudah pasti keberanian gadis itu ketika menggodanya. Rasanya Ace tidak bisa menahan diri lagi. Ya, ia sudah tidak lagi sanggup menahan dirinya. Ia langsung berbalik dan mencium gadis mungil itu.

"Ace—"

Ace mengecup lembut bibir Moda, dan merasakan betapa dingin bibir gadis itu. Kedua tangannya meraih tubuh Moda dan menariknya ke pelukannya. Moda membalas ciumannya, dan mengalungkan kedua tangannya di sekeliling leher Ace. "Ace, kita akan hidup bahagia, bukan?"

Ace sesaat menarik diri dan menatap Moda, sebuah senyum tersungging di wajah tampannya yang berbintik-bintik. "Tentu saja, aku akan membahagiakanmu."

"Fufufu… masa muda memang sangat menyenangkan. Seluruh dunia terasa milik berdua saja." Seorang turis yang tengah mengenakan kacamata dan syal berbulu dengan warna merah jambu berkata dengan suara menggoda dari seberang kanan keduanya. Pria itu membuka kacamatanya, menunjukkan seringai bak serigala saat menatap Ace dan Moda. "Aku sangat menyukai pasangan kawin lari seperti kalian."

"Jangan ikut campur," Ace memperingatkan pria tak dikenal itu, dan langsung mempererat pelukannya. Ia dapat merasakan firasat yang sangat buruk. Pria itu bukan orang biasa, ada sesuatu yang berbahaya yang terpancar dari dirinya. "Ini bukan urusanmu."

"Fufufu, benarkah?" Pria itu kembali berkata, "aku berharap sebaliknya."

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Mansion yang dihuni oleh Rayleigh terletak di Avenida Paulista, masih di kawasan Pinheros, Sao Paulo. Kawasan yang dikelilingi oleh banyak bank dan perkumpulan politik, sekaligus tempat belanja kaum elit di Sao Paulo. Sebenarnya bisa dibilang mansion itu mansion yang dipinjamkan oleh Dragon untuk Rayleigh, karena Rayleigh belum sempat membeli rumah selama ia tinggal di Brasil. Peneliti berkebangsaan Inggris itu lebih suka memasuki hutan, rumah judi atau klub malam di waktu luangnya. Tentu saja, dengan izin dari istrinya tercinta, Shakuyaku.

Luffy dan Hancock muncul menjelang tengah malam, yang justru waktu yang sangat tepat. Rayleigh memang pria malam yang biasa tertidur di siang hari. Dengan senyum lebar Luffy masuk ke dalam, membawa Hancock di sisinya. Kedua mata Rayleigh seketika langsung terbuka lebar, terpana melihat wanita seksi yang cantik memesona bak model yang kini melangkah masuk bersama muridnya.

"Bukankah dia salah satu anggota Amazon Lily?" Rayleigh berucap pelan. Seketika teringat oleh beberapa petualangannya sewaktu menjelajahi Amazon. "Bagaimana dia bisa bersama denganmu?"

"Rayleigh kenal Hammock?" Luffy berseri-seri sambil menatap Hancock. "Seorang kenalanku bilang dia mau bunuh diri, jadi kubawa saja bersamaku."

"Oh, ya?" Rayleigh membetulkan letak kacamatanya. "Namaku Rayleigh, aku percaya dulu kita pernah bertemu sewaktu terjadi pencurian hewan liar di Hutan Hujan Amazon, kira-kira tiga atau dua belas tahun lalu, nona Amazon yang cantik."

Hancock luar biasa terkejut saat mendengar ada orang yang bisa berbicara dengan bahasa yang sama dengannya, apalagi pria itu juga tidak asing lagi. "Kau bisa bicara dengan bahasaku? Ah, menyenangkan sekali!" Mendadak wajahnya berubah. "Bukan berarti aku menyukaimu, ya. Yang kusukai hanya Luffy seorang."

Rayleigh langsung tertawa. "Luffy, boleh juga pacarmu ini."

Hancock mendengus pongah, lalu menatap Luffy dengan penuh cinta. Luffy kembali mengangguk pelan lalu menyondorkan foto yang telah ia ambil di Hutan Hujan Amazon, foto kedua ular boa yang membuatnya penasaran.

"Lihat ini Rayleigh, ular boa yang berbeda bisa bersahabat!" Luffy berkata. "Aku baru tahu boa bisa bertelur, memangnya—"

"Bagaimana bisa Boa Pasir Kenya yang biasa hidup di Afrika berada di Amazon?" Rayleigh langsung mengerutkan keningnya. "Dan kenapa boa langka ini bisa melindungi boa lain yang berbeda jenis?"

"Oh, memang Boa Pasir Kenya bertelur sih… EEEEHHHHHH? Kenapa bisa ada ular dari Afrika nyasar sampai ke sini?" Luffy kaget. "Apa mungkin ularnya menyelinap ke pesawat, ya?"

"Yang benar saja…" Rayleigh tersenyum tipis. "Apa mungkin ada sesuatu yang tengah terjadi di hutan?"

Hancock mengambil foto Salome peliharaannya dan menatap foto itu dengan seksama. "Belakangan ini banyak sekali ular peliharaan kami yang hilang, dan terkadang banyak satwa lain yang datang ke hutan kami. Aku telah memerintahkan Salome, ular yang kau lihat untuk menjaga ular lainnya."

"Begitukah? Apa selain Boa Pasir Kenya yang berada dalam foto kau juga melihat hewan aneh lainnya yang bukan berasal dari Brasil?" Rayleigh bertanya langsung ke arah Hancock. Luffy yang tidak mengerti hanya mengupil dan beranjak ke sisi samping, membuka-buka album lama milik Rayleigh yang tertata rapi di lemari.

"Sejujurnya aku juga melihat jenis monyet yang mirip dengan orang biasa, manusia di sana. Terkadang para anak buahku sering menemukan bangkai hewan lain yang aneh, sepertinya disiksa sampai mati." Hancock menjelaskan panjang lebar. Entah kenapa tapi ia merasa bahwa ia bisa mempercayai pria tua itu. "Apa kau mengetahui sesuatu, hei pria tua?"

Hei, Rayleigh, siapa pria dalam foto ini? Aku pernah melihat dia bersama Crocodile." Luffy menunjuk sebuah foto lama dalam album Rayleigh. Pria itu mungkin saja penyebab semua keanehan ini. Pria yang tega menyelundupkan hewan-hewan tidak bersalah hanya demi kesenangan semata. Si bajingan itu kembali membuat ulah.

Kini semuanya telah jelas, batin Rayleigh. "Hewan-hewan langka yang diselundupkan dan diperjualbelikan secara ilegal… kau telah menemukan bukti yang sangat bagus, Luffy! Kita harus menyelamatkan mereka!"

"Heh?" Luffy mengerutkan keningnya. "Ada apa sih, kenapa mendadak wajahmu menjadi mengerikan begitu?"

Hancock mengangguk dan mencibir saat menatap Rayleigh. "Jangan sombong hanya karena kau tahu sesuatu, pria tua. Katakan, apa yang kau ketahui!"

"Jika semua yang kalian katakan tadi itu benar, maka kita tengah berhadapan dengan kejahatan internasional kelas kakap, yang bisa membahayakan semua hewan di Hutan Hujan Amazon. Luffy, gadismu bilang ada banyak hewan dari berbagai penjuru dunia yang telah ditemukan di Amazon, bahkan ada bekas siksaan di bangkai mereka. Aku yakin bahwa ada sindikat yang tengah beroperasi di sana dan menyelundupkan berbagai hewan. Kita harus kembali berangkat ke Amazon, secepatnya." Rayleigh menjelaskan. Ia menghampiri Hancock dan menjelaskan hal yang sama. Baik Luffy dan Hancock langsung terpana dan mengamuk mendengar hal itu.

"Brengsek! Beraninya mereka!"

"Orang-orang jahanam itu harus dimusnahkan!"

"Semangat yang bagus!" Rayleigh tertawa senang. "Oi, ada satu hal yang harus kuberitahukan kepadamu, Luffy. Kemarin malam Law telah memberitahukanku bahwa kau telah diterima di USP, Fakultas Kedokteran dan Penelitian Hewan."

.

.

.


Oh, kalau ada minat tentang hewan dan reptil, uneg-uneg, atau apalah silahkan langsung tanyakan, tapi login ya. Klo gak login terpaksa gak dibalas. Terima kasih sudah membaca chapter ini, semoga terhibur~!